Hi, everyone!

Wahhh ini terlalu malam dan lewat tengah malam. Maaf telat! Anne cuma mau bilang terima kasih yang sudah menulis review. Maaf Anne nggak bisa balas gara-gara ngantuk. Hehehe..

Langsung saja yuk!

Happy reading!


Semalaman Harry menemani Lily di atas ranjang rumah sakit sambil terus memeluknya. Malam ia bangun dari koma, Lily mengalami kejang saat tidur. Hermione yang tepat sedang menyantap makan malamnya bergegas meminta pertolongan dokter untuk memeriksa.

Badan Lily terguncang hebat. Hidungnya keluar darah yang tidak sedikit dan terus mengalir. Harry yang baru datang dari Kementerian hanya bisa memeluk Hermione sembari berharap tidak akan terjadi apa-apa dengan Lily. Namun, setelah mendapat pemeriksaan, Lily tidak sedang mengalami kejang biasa. Ada reaksi aneh dari tubuhnya yang tiba-tiba menolak segala obat yang diberikan melalui selang-selang di tubuhnya.

"Ini sangat berbahaya, Mr. Potter. Kita tidak bisa melanjutkan pemberian obat pada tubuh Lily jika tubuhnya terus menolak,"

Oleh sebab itu, Dr. Hans meminta Harry untuk menandatangani surat ijin operasi untuk Lily yang kedua kalinya. "Operasi kali ini tidak seberat operasi pertama. Kami hanya akan mengambil sedikit jaringan di otak Lily," kata dr. Hans.

Operasi Lily hanya berjalanan sekitar satu setengah jam saja. Dan demi kebaikan pemantauan kondisi pasca operasi, Lily ditempatkan di ruang steril yang khusus untuk pasien penyakit dalam sepertinya.

Hermione mendengarkan segala penjelasan dr. Hans ketika hasil akhir kondisi otak Lily telah keluar. Lily mengalami infeksi pada selaput otaknya. Operasi kedua hanya mampu menghambat dan membersihkan beberapa bagian yang lebih rawan. Tim bedah tidak ingin mengambil risiko besar yang bisa mengakibatkan Lily gagal berkembang bahkan mengancam nyawanya.

"Saya tidak tahu apakah Lily kali ini bisa bertahan, saya harap, kehadiran orang tua dan keluarga dapat membuatnya kuat menjalani hari-harinya,"

"Maksud dokter, Lily akan—"

"Semua orang pasti akan pergi, Mr. Potter. Namun untuk Lily, berdasarkan kondisinya saat ini, saya katakan.. Lily hanya bisa bertahan beberapa bulan lagi," dr. Hans menutup map berisi data perkembangan Lily sejak ia dirawat hingga tahap operasi terakhir.

Semua hasil telah menunjukkan bahwa Lily hanya membutuhkan semangat orang-orang terdekat untuk mengantarkannya lebih tenang saat waktunya tiba. Harry dan Hermione mulai paham bagaimana dokter menyampaikan analisisnya begitu sopan dengan memilih mengatakan kata 'pergi' daripada 'mati'.

Hermione menegakkan posisi duduknya. "Saya sedang hamil lima bulan, dokter. Apakah," Hermione menghapus bulir airmatanya yang lolos, "Lily bisa melihat adiknya lahir?" wajah Hermione memerah menyiapkan mentalnya demi mendengar jawaban dokter tentang kapan waktu itu tiba.

Dr. Hans menghela napasnya berat. Menatap Hermione sejenak kemudian menunduk. Ia menggeleng. Tidak bisa lagi ditahan jika airmata itu tetap menggenang, tangis Hermione pecah di dada Harry. Menangisi sesuatu yang sangat menyakitkan, ya.. hidup Lily tidak lama lagi.

"Kau kenapa, sayang? Mau sesuatu?" tanya Hermione di sisi lain Lily.

Lily mengangguk pelan, "aku mau makan pasta, apa boleh?" suara Lily terdengar mengganjal ditenggorokan. Matanya selalu berkaca-kaca merasa panas di sekitar dahi hingga belakang telinga, tepat di bekas operasi keduanya.

"Boleh. Dokter bilang kau boleh makan apapun. Biar Dad belikan di cafe bawah, ya—"

"Biar aku saja, Harry. Posisimu sudah nyaman, kasihan kalau Lily harus berdiri lagi. Kepalanya jangan dulu diangkat-angkat. Biar aku sekalian olahraga, lama tidak jalan-jalan," kata Hermione meyakinkan agar Harry tetap menemani Lily di kamar.

Lily sudah berganti ke kamar sebelumnya. Meski kedua tangan Lily masih terpasang selang-selang yang menyambungkan pada sistem monitor di sisi ranjang, kondisi Lily sudah dirasa cukup kuat untuk menjalani perawatan di ruang biasa. "Hati-hati, Mom," pesan Lily masih bersandar di atas dada Harry.

Sepanjang siang, Lily sering menghabiskan waktu dengan bertukar cerita dengan Harry. Lily mendengarkan cerita-cerita Harry seperti ulah James ketika pesta natal, Al yang hampir berduel dengan Rose karena masalah buku, sampai kondisi Hermione yang sedang berbadan dua. Topik terakhir itulah yang paling membuat Lily tertarik.

Sudah lama Lily menginginkan adik. Ia berkali-kali meminta Hermione dan Harry untuk segera memberinya adik untuk menemaninya di rumah. Yang Lily selalu inginkan adalah saudara perempuan. Menurut Lily, ia sudah cukup memiliki dua kakak laki-laki yang luar biasa jahilnya.

"Ya, Mom dan Dad belum tahu apa laki-laki atau perempuan. Dad juga sebenarnya ingin perempuan, tapi.. apa saja boleh. Asal Mom dan adik bayinya nanti sehat dan selamat," kata Harry dengan wajah bahagia.

Lily meraih tangan Harry dengan susah payah. Tangannya belum begitu cekatan saat digerakan. Sering bergetar dan kaku ketika bergerak. Salah satu efek samping dari Harry cepat-cepat meraih tangan Lily dan memijit perlahan jemarinya. "Dad, apa aku akan terus seperti ini?" tanya Lily tiba-tiba.

"Seperti apa, sayang?" tanya Harry kembali. Ia masih memijat pelan jemari Lily.

Mata Lily tertuju langsung pada monitor yang terus mengeluarkan suara bertempo. "Tidak bisa bergerak bebas. Suara yang belum stabil. Kepalaku juga masih sering sakit sekarang," kata Lily bersedih.

"Kau akan sembuh, sayang. Tidak akan sakit lagi—"

"Ya, mungkin rasanya seperti waktu itu," Lily perlahan menegakkan badannya. Membiarkan Harry menyingkir untuk membantunya kembali bersandar pada bantal.

Lily menerawang kembali apa yang pernah ia alami sebelum ia mendapati dirinya masuk di ruangan steril penuh alat medis lalu. "Aku bertemu dengan Mommy," katanya pelan.

"Mommy?" Harry hampir berteriak. Membuat Hermione yang siap masuk terhenti dan memilih untuk berdiri di pinggir pintu untuk mendengarkan cerita Lily dri luar.

"Tanpa rasa sakit, Dad. Ya, aku sehat. Kalian semua seperti mengantakanku ke Hogwarts. Aku masuk ke Hogwarts Express. Sendirian. Kalian semuanya hanya melihatku masuk dengan wajah sedih. Mungkin kalian terharu, sambil melambaikan tangan,"

Harry mendengar cerita putrinya dengan perasaan yang mulai gerimis. Bertemu Ginny dan pergi sendirian naik kereta? Tiba-tiba pikiran buruk tentang Lily melintas begitu saja di kepalanya.

"Di kereta sepi. Tidak ada satu orangpun di sana, sampai aku mendengar ada yang memanggil 'Lily!' dari salah satu kompartemen, Dad. Suaranya begitu aku kenal, dan saat aku menemukan sumber suara itu," Lily memperhatikan Harry, ia tersenyum lantas berkata, "itu Mommy, Dad!"

Lily terus menceritakan betapa ia bisa menerima semua keadaannya akibat petuah-petuah Ginny tentang kebaikan Hermione di matanya. "Mommy begitu sayang dengan Mom Hermione. Katanya, Mom adalah ibu pengganti yang tepat untukku, James, Al, dan juga istri yang baik untuk Dad. Mommy bilang ia tidak pernah marah harus pergi. Bahkan Mommy bahagia karena telah memilih orang yang tepat. Itu adalah Mom Hermione,"

Mata Hermione berkaca-kaca, ia mendengar betapa Lily sangat menyayangi ibu kandungnya meski telah tiada. "Saat Mommy berdiri dan keluar dari kompartemen, kereta melintasi tempat yang gelap. Ada goncangan yang membuatku sampai susah berdiri. Rasa sakit yang hilang, lantas muncul lagi. Mommy sempat mengulurkan tangan ingin mengajak Lily keluar, tapi.. Mommy memilih untuk meninggalkanku, katanya aku harus memperjuangkan sesuatu. Memperjuangkan apa? Apa kalau sudah selesai, Mommy mau mengajakku bersamanya? Apa begitu, Dad?" Lily terus bertanya tanpa mendapatkan jawaban dari Harry.

Harry hanya bisa diam, berusaha tidak menampakkan kesedihannya di depan Lily. "Kau harus sembuh, sayang. Karena Mommy ingin kau bahagia. Kalau melihatmu sakit, Mommy pasti sedih di sana," ujar Harry berusaha tegar. Ia tidak bisa membayangkan jika Lily benar-benar harus menyusul Ginny.

"Mrs. Potter?"

Dr. Hans mengejutkan Hermione yang tampak menghapus airmatanya. Ia gelagapan sambil berusaha tersenyum getir. "Dokter, mau masuk? Lily sedang bersama Daddynya."

"Ya, tentu saja. Saya ingin menyampaikan sesuatu untuk Lily," kata dr. Hans. Ia tersenyum.

"Menyampaikan apa?"

Namun dr. Hans memilih untuk meminta Hermione untuk masuk bersamaan. Harry dan Lily langsung melempar perhatian mereka ke arah kedatangan kedua orang itu. Harry berdiri lantas menyalami dr. Hans hangat. "Mr. Potter, Lily, saya mau menyampaikan sesuatu," katanya seperti saat dengan Hermione.

"Apa, dokter?" tanya Lily terbata-bata.

"Kau sudah boleh pulang, Lily. Badanmu sudah mulai kuat. Jadi saya sudah siap melepasmu untuk pulang ke rumah," jelas dr. Hans diikuti sorakan gembira dari Lily dan Harry. Hermione mendesah lega karena pikiran buruk yang sempat terlintas ternyata salah.

Dr. Hans berpesan, Lily tetap harus menjalani cek rutin setiap minggunya ke rumah sakit. Lily juga diminta untuk sering melakukan olahraga ringan serta terapi pijatan di tangan dan kakinya.

"Oh, ya, Lily. Tadi saya iseng coba cari lagu-lagu di internet, dan saya menemukan ini," dr. Hans menunjukkan ponselnya yang sedang menapilkan video Lily bernyanyi bersama Mr. Marchant. "Suaramu indah sekali, Lily. Jadi teruslah berlatih untuk mengolah suaramu agar kembali stabil. Jangan memaksa, bernyanyilah lagu-lagu yang santai. Supaya suaramu bisa kembali seperti dulu,"

"Terima kasih, dokter," ujar Lily bersemangat.

Semua persiapan kepulangan Lily hampir beres. Seluruh keluarga sudah menyiapkan sesuatu untuk menyambut Lily kembali ke rumah. Di rumah sakit, Harry mengemasi seluruh pakaian dan perlengkapan obat-obatan Lily untuk segera dibawa pulang. Lily sendiri telah siap mengenakan pakaian santai dengan jaket merah muda kesukaannya.

"Sudah cantik, kita pulang sekarang," seru Harry. Ia menggendong tubuh Lily untuk selanjutnya didudukkan di atas kursi roda.


Welcome Home, Lily tertulis jelas di tembok rumah. Pernak-pernik warna pink menghiasi segala pejuru rumah Harry buah karya para menantu Weasley dan sahabat-sahabat Harry-Hermione. Lily sampai menangis melihat keluarganya begitu menyambut kedatangannya dengan suka cita. Banyak pula hadiah yang diterima Lily dari para paman dan bibi serta para sepupunya yang masih bersekolah di Hogwarts.

"Mereka menitipkan ini semua untukmu, Lily. Nanti saat liburan, mereka akan menemanimu bermain," kata Teddy sambil menyerahkan kado-kado yang ia bawa dari Hogwarts. Titipan dari James, Al, Rose, Hugo dan banyak sepupu yang lain.

Lily tampak ragu ketika melihat salah satu kado bertuliskan 'dari kakakmu yang tampan, James S. Potter'. "aku takut isinya aneh," kata Lily disambut gelak tawa mereka yang sedang berkumpul.

Hanya ada para orang tua di sana. Tentu saja, masih musim sekolah. Lily jadi merasa kesepian di suasana yang ramai. Akhirnya, rasa bosan itu muncul juga. "Sayang, kau mau istirahat?" tawar Hermione dari arah belakangnya. Lily tersenyum pelan. Membenarkan. Ya, lebih baik istrahat di kamar daripada duduk sendirian tanpa tahu mau berbuat apa.

"Mom antar, ya, tapi—" Hermione tampak memberikan kode pada Harry yang sedang berbicara dengan Bill. "Mom tidak bisa mengangkatmu naik, jadi biar Dad yang menggendongmu ke kamar, ya,"

Harry mendekat dan memintakan ijin pada para tamu untuk Lily istirahat di kamarnya. Semua orang mengerti dan meminta Lily untuk langsung beristirahat saja. "Maafkan aku," kata Lily.

"Tidak apa, sayang. Kau memang harus istirahat. Kami sebentar lagi juga akan pulang. Sekali lagi kami ucapkan selamat datang ke rumah lagi, Lily," Lavender dengan centilnya mengomando semua orang agar menyalami Lily dan menciumi gadis cilik itu dari gendongan Harry.

Selesai berpamitan, Lily diistirahatkan oleh Harry di atas kasur di kamarnya. Hermione mengikuti sampai ke dalam kamar. "Istirahatlah, sayang. Dad akan ke bawah dulu menemani para tamu. Dengan Mom, ya—"

Harry keluar dan membiarkan Hermione mendekati Lily. Tidak seperti waktu itu, Lily sudah kembali baik dengan Hermione. "Mom, terima kasih, ya," kata Lily tiba-tiba.

Hermione memposisikan tubuhnya untuk duduk dan bersandar di headboard ranjang Lily. Mengelus rambut Lily yang bergaya seperti rambut pria. Cepak pendek sekali. "untuk?"

"Merawat Lily selama ini. Mom sudah susah payah menungguku selama koma. Padahal Mom sedang mengandung," lirih Lily sambil melihat perut Hermione yang tampak menyembul dari bajunya.

Tahu Lily sedang mengamati perutnya, Hermione meraih tangan kanan Lily dan meletakkannya di atas perutnya. Sebelumnya Hermione membuka atasan pakaiannya sebagian sampai menujukkan perut bulatnya kepada Lily. Mata Lily terbuka lebar saat melihat perut Hermione yang begitu besar. "Semua wanita hamil perutnya akan besar, Lily," kata Hermione memberikan penjelasan pada Lily.

"Apa tak sakit? Eh—" tiba-tiba tangan Lily merasakan ada sesuatu yang bergerak dari dalam perut Hermione. "Dia bergerak!" katanya begitu bersemangat.

"Ya, setiap hari adikmu selalu bergerak di dalam perut Mom. Terkadang terasa sakit, tapi.. rasanya seru, sayang. Menakjubkan!" tutur Hermione berbinar.

Pintu kamar Lily terbuka kembali, Harry masuk dengan membawa beberapa kado Lily yang tertinggal di bawah. "Ya, menakjubkan sekali, sayang. Apa kau sudah pernah mendengarnya?" Harry mengeluarkan tongkatnya dan mengayunkannya tepat ke atas ranjang Lily. Sejurus kemudian, ranjang sempit Lily perlahan membesar dan lebih luas.

"Jadi, kita bisa tidur bertiga di sini. Ehh berempat, dengan adek," ujar Harry langsung mendaratkan ciumannya di atas perut Hermione. "Coba letakkan pelan-pelan telingamu di atas perut Mom, Lily,"

Pelan-pelan, Harry membantu Lily menunduk agar lebih dekat dengan perut Hermione. Setelah daun telinganya terasa menyentuh permukaan kulit Hermione, Lily tersenyum puas. "Suaranya aneh, Dad," kata Lily berkomentar. Tangannya tidak berhenti ia gerak-gerakkan untuk mengelus perut ibunya.

"Soalnya masih di dalam. Nanti kalau sudah lahir, aku akan ajarkan dia bernyanyi bersamaku, bolehkan adik belajar bernyanyi?"

Keluguan Lily membuat Harry tersentuh. Menurut perkiraan dr. Hans, Lily bisa jadi tidak sempat melihat adiknya lahir. Tapi, Harry dan Hermione pun tahu, betapa Lily sangat menginginkan melihat adiknya lahir. "Ya, tentu saja boleh, sayang. Kau akan jadi kakak yang hebat," kata Hermione sambil mengelus pelan rambut Lily yang masih menunduk di atas perutnya.

"Tenang, Hermione! Tenang," Harry bergumam tanpa mengeluarkan suara pada Hermione, memintanya untuk tidak menangis di depan Lily. Rencana mereka untuk menyembunyikan masalah itu dari Lily tidak boleh rusak.

Anak itu tidak boleh tahu tentang usianya. Lily harus bahagia di sisa-sisa waktunya bersama mereka.


James dan Al pulang. Waktu liburan yang tidak lama ingin sekali mereka pergunakan untuk berkumpul dan membangun kehangatan bersama keluarga. Harry bahkan memilih untuk mengambil cuti selama kedua putranya pulang ke rumah.

Pagi ini, Al dan James bersihkeras meminta Harry untuk berlibur ke kolam renang favorit mereka. Salah satu tempat yang menyediakan kolam renang dengan paket keluarga. Mereka menyediakan kolam renang yang disewakan sepenuhnya untuk digunakan privat oleh satu keluarga pemesan.

Biasanya Harry memesan satu kolam renang khusus untuk keluarganya dan keluarga besar Weasley, namun untuk hari ini, hanya keluarganya, keluarga Ron, keluarga George, dan Teddy yang ikut. "Siap-siap, sebentar lagi kita berangkat," perintah Harry kepada James dan Al yang langsung berlari ke kamarnya masing-masing.

Sementara Lily masih tertegun di kursi rodanya. Ketakutan. "Jangan takut, Mom akan temani," bisik Hermione di sisinya.

Ya, Lily menjadi takut dengan berenang sejak kejadian ia nekat terjun ke kolam renang yang hampir membuatnya tenggelam. Berkat Hermionelah, Lily bisa selamat. Sejak saat itu, Lily dilarang keras oleh Harry untuk tidak dekat-dekat lagi dengan kolam renang. Ketakutan Lily pun semakin besar.

Al adalah perenang yang baik. Sejak kecil Harry melatih Al berenang yang begitu tertarik dengan aktifitas air. Berbeda dengan James yang suka dengan gitar, Al lebih tertarik dengan air. Banyak kejuaraan renang ia ikuti dan tidak sedikit ia membawa medali kemenangan sebagai hasilnya. Ia sudah mulai lepas dari olahraga berenang sejak ia masuk Hogwarts. Tidak ada waktu untuknya kembali berlatih rutin seperti dulu.

Dari rumah, Lily sudah memakai baju renangnya di balik baju santai yang dipakai pada lapisan luar. Hermione memakaikannya agar lebih mudah jika ingin langsung berenang. "Aku tidak mau berenang, Al," teriak Lily saat Al memintanya untuk turun ke kolam. James dan Hugo tampak sibuk sendiri berenang-renang kecil di pinggiran kolam.

"Kata dr. Hans, kau harus sering menggerakkan kaki dan tanganmu agar cepat sembuh. Berenang membantumu untuk menggerakan kaki dan tangan secara baik, loh, Lils! Ayo aku temani,"

Al terus merayunya agar mau turun. Sebenarnya Lily ingin mencoba berenang seperti Al yang begitu tampak mudah. Tapi, rasa takut itu masih membayang-bayanginya. Ia memilih duduk di pondokan kecil bersama Hermione.

Tiba-tiba Harry melepas baju Lily dan menyerahkannya pada Hermione tanpa meminta persetujuan Lily terlebih dahulu. Harry sendiri sudah bertelanjang dada dan melepas kacamatanya. "Dad—" Lily berontak.

"Kali ini Dad tidak melarangmu. Kata Al memang benar, kau harus mencoba berenang. Olahraga ini efektif untuk melatih gerak kaki dan tanganmu, Lily," Harry sukses melepas semua pakaian luar Lily dan menyisakan pakaian renang yang sudah ia pakai dari rumah.

Lily menggeleng ketakutan. "Percaya dengan Dad. Dad akan membantumu," kata Harry. Ia melepaskan kacamata Lily dan menyerahkan kembali kepada Hermione.

"Hati-hati, Harry!" pesan Hermione.

"Siap, Mom!"

Harry menggendong Lily dan berdiri tepat di pinggir kolam renang. "Dad, kau mau kita jatuh?"

"Bukan jatuh, sayang. Tapi terjun. Ini akan seru sekali," bisik Harry semakin berdiri di tepi kolam.

Lily memejamkan matanya dan makin mengeratkan tangannya di leher Harry. Lily benar-benar ada di puncak rasa takutnya selama ini. Hermione terus berteriak hati-hati dan meminta Harry agar memegang badan Lily erat-erat. "Pegangan, sayang. Karena dalam hitungan ketiga kita menuju dasar kolam. One.. two.. three!"

Byurrrr!

Beberapa detik kemudian Lily dan Harry kembali muncul ke permukaan masih dengan Lily yang mengalungkan tanggannya di leher Harry. "Huaaaahhh aaaggkkkhhhh... takut.. takut.. takut... tak mau tak mau, Daddy!" teriak Lily. Ia menggosok-gosokan wajahnya di dada Harry untuk membantunya menyingkirkan air dari matanya.

"Tidak apa-apa, kan? Yuk sekarang lepaskan tanganmu, kita latihan pelan-pelan," Al ikut mendekat dan membantu Lily kembali menyesuaikan tubuhnya dengan air.

Dari arah pondok, Hermione tampak kebingungan melihat Lily yang tak mau lepas dari badan Harry. "Kau tak apa, sayang?" panggilnya.

"Lily aman, Mom. Dan Lily siap untuk belajar berenang. Nanti setelah kau bisa menggerakkan pelan kakimu kita naik lagi, sayang!" janji Harry.

Sementara mereka berenang, Hermione memilih untuk memesan makanan untuk keluarganya di kafe yang berdiri di tepi kolam. "Selamat datang, Maam. Mau pesan apa?" si pemilik kafe kecil itu menawari Hermione beberapa menu makanan kecil dan memesan sebagian untuk anak-anak dan orang dewasa lainnya.

"Saya tunggu di sini saja, capek juga kalau bolak-balik, Madam," kata Hermione sambil mengelus perutnya memutar.

Si pemilik kafe mengamati tubuh Hermione, ia baru sadar jika pelanggannya itu sedang hamil. "Sudah anak keberapa? Apa itu kakak-kakaknya?" tanya si pemilik kafe.

"Ahh anak pertama untuk saya, tapi keempat untuk suami saya. Mereka anak-anak kami,"

Sudah semakin akrab, si pemilik kafe rupanya kembali penasaran dengan kandungan Hermione. "Mereka pasti senang sebentar lagi akan punya adik, sudah tinggal berapa bulan lagi, Maam?" tanya wanita bersurai platina itu.

"Kira-kira empat atau tiga bulan lagi. Sabaru lima bulan jalan,"

"Lima bulan? Sebesar ini,"

Hermione tertegun dengan pendapat si pemilik kafe. Mengamati perutnya yang memang sudah tampak membesar. Tapi, menurut Hermione, wanita hamil perutnya juga akan membesar. Tapi, ia sendiri baru merasakan menjadi wanita hamil. Lebih tepatnya belum berpengalaman.

"Saat saya hamil dulu, perut sebesar ini saya sudah tujuh sampai sembilan bulan, Maam. Apa bayi anda besar atau mungkin kembar?"

Degg! Kembar, sama sekali Hemrione tidak pernah memikirkan jika dirinya hamil bayi kembar. Pasalnya, karena terlalu sibuk mengurus Lily, ia tidak sempat melakukan pemeriksaan mendalam tentang kehamilannya. Ia hanya sekali melakukan USG, itupun saat usia kandungannya baru satu bulan.

"Maam, ini pesanannya,"

"Ahh.. iya, terima kasih," balas Hermione. Setelah memberikan uangnya, ia bergegas kembali ke pondok tempatnya menunggu Lily. Sepanjang jalan, Hemione memikirkan tentang pendapat si pemilik kafe itu.

"Kembar?" batinya sambil mengamati bentuk perutnya, "benarkah?"


Dari kolam renang, Harry langsung mengajak Lily untuk cek up rutin ke rumah sakit. Kali ini spesial, James dan Al juga ikut untuk menemani Lily periksa.

"Semuanya baik. Apalagi tangan dan suaramu sudah mulai membaik. Hanya kaki saja, terus latihan, ya!" pesan dr. Hans pada Lily. Pemeriksaan Lily selesai dan menunjukkan hasil yang baik.

Di koridor rumah sakit, Al yang mendorong kursi roda Lily tiba-tiba berhenti mendorong. "Al, kau kenapa?" tanya Lily saat merasakan kursinya berhenti bergerak.

"Mumpung kita di rumah sakit, Dad, Mom, aku penasran dengan calon adik kami," kata Al dengan wajah serius.

James pun begitu. Ia ikut mendekat dan mengatakan minat yang sama, "Mom coba diperiksa dengan alat yang ada TVnya itu. Biar kelihatan adik bayinya dari dalam,"

"Itu USG, James!" koreksi Al.

"Apalah namanya, aku juga penasaran apa aku akan punya adik laki-laki atau perempuan,"

Hermione bingung mengingat jadwal periksanya baru dua minggu lagi. Ia meminta pendapat Harry agar memutuskan apakah mau periksa atau tidak. "Ya sudah, beberapa hari lagi, kan, James dan Al kembali. Mumpung ada di sini, kita ke dr. Sophia saja. Apa salahnya periksa lebih awal," kata Harry memberikan titik terang. Tentu saja ia setuju. Sorak dari ketiga anak itu mengawali langkah baru mereka menuju ke lantai 3, tempat poli kandungan.

"Selamat sore, dokter!"

"Hi, wahh rame sekali, Mrs. Potter. Mr. Potter. Hai Lily! Kau sudah membaik? Nah, ini pasti James dan Al, lagi liburan, ya!"

Basa-basi Harry dan Hermione bicarakan dengan dr. Sophia. Bahkan James dan Al juga ikut menimpali ketika mereka berbicara. Dan tepat saat semuanya sudah semakin akrab, Hermione diminta untuk tidur di atas ranjang periksa bersiap untuk pemeriksaan USG.

"Ini permintaan kakak-kakaknya, dokter. Katanya penasaran dengan adiknya!" ujar Harry menggoda ketika anaknya yang tampak antusias mengamati apa saja yang dilakukan dr. Sophia pada perut Hermione.

Saat Hermione membuka baju bagian perutnya, dr. Sophia mengernyit. Ia melihat Hermione seolah ingin menanyakan sesuatu. "Ada apa, dok?" tanya Hermione.

"Seingat saya, baru 23 minggu, kan?" tanya dr. Sophia dan Hermione mengangguk.

Dr. Sophia lantas menatap James, Al, dan Lily sambil tersenyum misterius. "Ahh.. kalian mau punya adik berapa, anak-anak?" tanya dr. Sophia. Harry masih tidak mengerti apa maksud arah pembicaraan dokter kandungan itu.

"Nah, apa yang saya duga, coba lihat ini," dr. Sophia menunjuk layar hitam yang menampilkan bulatan-bulatan tidak jelas. "Itu apanya?" tanya Lily.

"Yang ini, kepalanya. Kalau yang ini, kepala yang lain,"

"Ke-kepala yang lain?" Harry terbata. Ia membayangkan anaknya memiliki dua kepala seperti makhluk sihir.

"Benar, Mr. Potter. Sekarang coba dengarkan detak jantungnya,"

Suara degupan tidak teratur. Seperti berkejaran satu sama lain. Ya, ada dua detak jantung yang terdengar di sana. "Apa maksud dokter, bayinya kembar?"

"Kau pintar, Lily. Ya, bayinya kembar. Tapi sayang, mereka tampaknya malu-malu. Jadi tidak kelihatan apa keduanya laki-laki atau keduanya perempuan, atau mungkin keduanya,"

Hermione menatap Harry takjub. Apa yang dikatakan pemilik kafe tadi benar. Ia hamil bayi kembar. "Waw... kita akan punya dua adik sekaligus," Lily bahagia luar biasa.

Mereka kembali pulang dengan membawa kabar gembira yang luar biasa. Di rumah, Lily memeluk ibunya dengan kedua tangannya yang tak lagi kaku. "Terima kasih, Mom. Lily akhirnya akan punya adik. Bahkan dua," bisik Lily.

"Iya, sayang. Mom senang mendengarnya. Kau akan jadi kakak yang hebat,"

"Oh, ya, Mom. Selamat ulang tahun," Lily mengeluarkan satu kotak panjang dari balik jaketnya. "Maaf baru bisa mengucapkan sekarang. Waktu itu aku, kan, masih koma. Jadi—"

"Tongkat?" potong Hermione.

Lily mengangguk membenarkan, "Mom harus punya tongkat. Dan ternyata tongkat Mom masih bisa diselamatkan. Aku menyimpan potongan tongkatmu di kamar. Aku meinta Dad untuk membawanya ke toko Ollivander. Katanya, inti di dalamnya masih kuat jadi masih bisa diperbaiki. Ya, mungkin untuk sementara, karena tidak sebaik tongkat yang dulu. Paling tidak Mom punya tongkat untuk cadangan,"

"Terima kasih, sayang,"

Ya, kebahagiaan orang tua adalah disaat orang tua dan sang anak masih menyimpan rasa saling menyayangi.

- TBC -


#

Yahhh spesialultah Hermione!

Anne tunggu reviewnya! Tunggu kisah selanjutnya. Ini belum selesai...

Thanks,

Anne x