Hi, everyone!
Anne lama nggak update nih.. maaf, ya. Anne sibuk banget. Nah, untuk kesempatan malam takbiran ini, Anne coba posting chap 11.
Anne juga mau ucapin terima kasih untuk ynag sudah review. Anne sudah baca tapi maaf nggak bisa balas, terima kasih buat semuanya.
Langsung saja, yuk!
Happy reading!
"Aaggghhh—"
"Bagaimana, Mione? Aku sudah bilang, kan, ambil saja bantalku. Tak apa,"
Pertengkaran kecil Harry dan Hermione masih belum usai. Akibat susah tidur, Hermione uring-uringan sejak mereka berdua masuk kamar. Hermione mengeluh sakit pada area pinggang hingga perut bagian bawahnya. Seharian ia hanya bisa duduk, berbaring miring, duduk tegak lagi, dan sesekali berjalan-jalan ringan.
Untuk mengurus Lily ia serahkan pada James dan Al yang tinggal beberapa hari saja di rumah sebelum kembali ke Hogwarts. Dua anak laki-laki itu sudah paham kondisi ibunya. Tapi, namanya juga Hermione, ia susah sekali dilarang. Meski tidak secara langsung membantu Lily yang belum bisa bergerak normal, pekerjaan rumah tetap ia kerjakan sendiri. Hermione merasa ia masih mampu kalau hanya sekadar memasak.
Akibatnya, siang saat Al ingin mengambil minum, ia mendapati ibunya terduduk di kursi dapur memegangi perutnya sambil menutup mata menahan sakit. Al yang panik langsung menghubungi Lavender agar datang ke rumah untuk melihat kondisi ibunya. Sebenarnya Al ingin membawa ibunya langsung ke rumah sakit, tapi Hermione menolak. Ia merasa hanya sakit ringan.
"Kau ini keras kepala, Mione. Aku bilang apa, istirahat! Ini pasti efek kram perutmu tadi siang," Harry bangkit dan mengambil dua bantal yang ia gunakan tidur. Tangannya menyibak selimat yang digunakan Hermione.
Hermione melirik apa yang sedang dilakukan Harry pada kakinya. "Kau mau apa, Harry? Jangan membuat semakin sakit!" protes Hermione. Matanya terbuka dan tertutup menahan sakit.
"Dulu Ginny menggunakan cara seperti ini untuk membantunya saat tidur," Harry mengangkat satu kaki Hermione yang sedang berposisi miring ke kiri, tepat menghadap Harry. Jadi, tentu saja Harry mengetahui bagaimana ekspresi tersiksanya istrinya ketika tidur.
Bantal yang Harry ambil lantas diletakkan di sela-sela paha istrinya. Pelan-pelan ia kemudian meletakkan kembali kaki Hermione di atas bantal itu. "Nyaman?" tanya Harry sangat dekat dengan wajahnya. Hermione tersenyum, 'kau tampan sekali, Harry,' batin Hermione malu-malu.
"Kau memang berpengalaman seperti bidan, Mr. Potter!" ujar Hermione menggoda. Jauh lebih nyaman saat ada bantal yang ia apit di antara pahanya. Cara Harry berhasil.
"Tapi ini masih terlalu kecil perlu tambahan bantal, perutmu besar sekali—"
"A-apa aku sebesar itu?" tanya Hermione disela-sela rintihannya.
Harry diam. Sepanjang ia menangani wanita hamil, pertanyaan dari istri yang menjurus pada bentuk tubuh adalah pertanyaan paling menyulitkan sepanjang sejarah hidup seorang pria. Termasuk Harry. Diamnya Harry berujung pada berpikir tentang dua hal, jujur atau berbohong.
Hermione menilik Harry dari posisinya sekarang tidur. Sedikit terhalang karena perutnya yang luar biasa besar. Tiga puluh minggu, bayi kembar. "Jujur saja, aku tak akan marah,"
Harry menghela napas panjang lantas menjawab, "ya," dengan singkat.
"Ya? Apanya?" koreksi Hermione.
"Kau,"
"Aku? Aku kenapa?"
"Besar—" jawab Harry menyesal.
"Ow,"
Cukup. Rentetan tentang masalah besar atau tidaknya Hermione sekarang berujung pada suara isakan kecil keluar dari mulut wanita terpandai di angkatannya itu. Harry makin menyesal telah mengatakannya. "Ow, please, kau memintaku jujur, kan, sayang," rayu Harry sambil memohon untuk Hermione berhenti terisak.
Mereka saling tidur miring berhadapan dengan tangan Harry mengelus rambut Hermione yang lepek karena keringat. "Berhentilah menangis, maafkan aku," kata Harry menunjukkan sisi tak berdayanya pada perempuan.
"Bukan kau, tapi mereka—"
Hermione mengelus memutar perutnya yang besar. Mata Harry tertuju pada apa yang ditunjuk Hermione. Ya, bukan dirinya yang membuat Hermione menangis. Harry paham selanjutnya ia harus berbuat apa.
Bukannya berdiri, Harry lantas menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Bergerak perlahan menuju bawah dan diam-diam melakukan sesuatu pada perut Hermione. "Ow, apa lagi yang akan kau lakukan, Mr. Potter?" gumam Hermione masih terus terisak.
"Aku sedang meminta mereka tenang, jadi kaupun harus ikut tenang," perintah Harry sok serius.
Hermione hanya bisa diam sembari meremas kuat pinggiran selimut yang menutupi area perutnya ke bawah. Ia merasakan Harry perlahan menaikan pakaiannya. Membelai permukaan kulit perutnya, menggosok pelan tepat di bagian-bagian perut yang tampak timbul-tenggelam tiba-tiba akibat pergerakan bayi mereka. Dan satu lagi, Hermione merasakan bibir Harry menyentuh perutnya.
Suara ciuman bertubi-tubi diberikan rata oleh Harry pada perut Hermione. Sesekali ia juga berbicara lembut sambil terus meminta dua makhluk kecil di dalam perut itu untuk tenang. "Kalian akan bebas sebentar lagi. Kamar kalian sudah Dad persiapkan jauh lebih luas dari perut Mom. Jadi, kalian bersabarlah, jangan bertengar di dalam sana. Kasihan Mom, ia mau tidur. Oke, anak-anak! Kalian harus menurut dengan Dad! Pintar!"
"Kau mengancam mereka?" tanya Hermione. Ia terharu merasakan kedekatan calon bayinya dengan Harry. Dan hasilnya, ya, cara Harry kembali berhasil.
Selimut pun terbuka kembali. Harry muncul di hadapan Hermione sambil melepas kacamatanya. Bersiap untuk tidur. "Aku tak mengancam, sayang, hanya memberikan petuah saja,"
Harry bersiap tidur dengan satu bantal saja, sementara Hermione.. tidur dengan dikellilingi oleh bantal-bantal di sekeliling tubuhnya. Mulai dari kepala dengan bantal lapis tiga, punggung dengan satu guling untuk menyangga, satu bantal di bawah perut, serta dua bantal Harry yang diapit oleh pahanya. "Kau tak apa Harry?" Hermione menyesal membuat tidur Harry ikut tidak nyaman dengan satu bantal.
"Kau jauh lebih tersiksa daripada aku yang harus tidur dengan satu bantal,"
Mereka tersenyum bersama memikirkan betapa susahnya untuk tidur malam ini. "Kau memang suami yang hebat, Harry," ujar Hermione terharu.
"Kau juga hebat, aku mungkin tak sanggup mengandung sepertimu. Aku paling tidak tega melihat wanita yang sedang hamil, entahlah.. rasanya—"
"Ini kodrat wanita, Harry. Aku pun mungkin tak akan kuat kalau kau tak ada,"
Secercah kebahagian itu memang nyata. Dulu mungkin mereka hanya sahabat. Saling melindungi dan bertarung bersama. Satu sisi, Hermione sadar betapa rasa itu muncul kepada sahabat yang sangat ia sayangi. Hanya sahabat, namun rasa itu adalah cinta. Bersabar untuk tidak meminta lebih, Harry harus bahagia walaupun ia harus menangis ketika pria yang ia cintai memilih wanita lain.
Cukup bagi Hermione untuk tetap tulus mencintai Harry meski ia tak berhak mengambilnya dari sisi orang lain. Kesetiaannya memang diuji hingga penantian itu terjawab. Harry kini miliknya, Hermione memiliki cintanya. Cinta yang sekarang dekat. Bahkan bentuk cinta itu kini berkembang, membesar dan bergerak setiap saat.
"Aku sangat mencintaimu, Hermione, sangat amat mencintaimu,"
Harry mendekap Hermione hingga larut dalam mimpi. Semua akan indah pada waktunya, itu prinsip Hermione.
Sambil menyangga punggungnya, Hermione pelan-pelan turun dari tangga. Ia siap untuk ajakan Harry semalam tentang jalan-jalan pagi. Ya, mengingat usia kehamilannya semakin tua, Hermione berusaha membuat waktu khusus untuk olahraga. Menurut pemeriksaan terakhirnya, kandungan Hermione terbilang lemah.
Dr. Sophia mengatakan banyak faktor seperti usia, kehamilan pertama, bayi kembar, sampai faktor psikologi Hermione yang terganggu. Terlalu banyak pikiran, katanya. Oleh sebab itu, Hermione sangat diharuskan untuk menjaga kesehatannya. Ia pun diminta untuk rutin berolahraga ringan seperti jalan pagi. Dengan senang hati, Harry bersedia untuk menemani istrinya untuk hanya sekadar berkeliling kompleks lalu pulang kembali.
Hermione mendapati pintu kamar tamu di lantai bawah terbuka. Sebenarnya fungsi kamar itu kini tak lagi kamar tamu, tapi kamar Lily. Sejak pulang dari rumah sakit, Lily hanya sekali menggunakan kamarnya sendiri di lantai atas. Namun keesokan harinya, Harry berpikir kondisi Lily yang menggunakan kursi roda akan susah jika naik turun tangga tanpa bantuan orang lain. Baik jika ada Harry, James, atau Al di rumah. Hermione seratus persen tidak akan mampu mengangkat Lily, kalaupun mampu, Harry akan siap marah pada istrinya itu. Jadilah, Lily menempati kamar tamu sebagai kamar pribadinya yang baru.
Sekali ayun, Harry membuat kamar baru Lily tampak seperti kamar lamanya di atas dan Lily menyukai itu.
"Lily? Kau di mana, sayang?" panggil Hermione dari balik pintu.
Hermione mendorong pintu kamar itu dan tidak mendapati Lily di sana. berusaha tenang, Hermione melangkah mencoba mencari Lily di dapur, namun tidak ada. Tepat saat Hermione melintasi ia melihat Lily berdiri dari kursi rodanya dengan kaki bengkok. Tangannya yang sudah cukup kuat tampak berpegangan erat di bibir wastafel. Kepalanya menunduk.
"Lil—"
"Jangan kemari, aku mohon!"
Tidak ada yang bisa dilihat Hermione dari balik punggung Lily. Dihantui penasaran, Hermione nekat masuk dan melihat wastafel kamar mandi yang berwarna putih bersih berubah menjadi merah. Bau anyir menyeruak kehidungnya seketika.
"Kau mimisan, Lily. Tapi kenapa sebanyak ini?" kata Hermione panik. Ia manarik salah satu handuk yang tersampir besi gantungan sisi tembok dan membersihkan wajah Lily dari darah.
"Sekarang kau duduk saja, Lily, dan pegang ini untuk menghalau darahnya. Tetap menunduk, Mom akan segera kembali,"
Secepat Hermione berusaha bergerak, Harry pun datang dan mempersiapakan mobil untuk membawa Lily segera ke rumah sakit.
Mimisan posterior dan itu cukup berbahaya. Lily banyak kehilangan darah. Dr. Hans keluar dan meminta ada pendonor yang cocok dengan darah Lily. James dan Al hanya bisa melihat Harry yang lebih dulu mengajukan diri untuk diberikan pada Lily.
"Kau belum makan apapun, Harry—"
"Lebih baik aku ikut sekarat daripada melihat Lily mati, kau tenang saja, Mione,"
Menjelang siang. Semua proses selesai, Harry tampak sangat pucat selepas mendonorkan darahnya untuk Lily. Berjalan gontai dari ruang pendonor menuju ruang rawat putrinya. "Dad," panggil James langsung menuntun Harry membantunya mendekat ke ranjang.
"Bagaimana Lily?"
"Mimisannya sudah berhenti dan Lily boleh pulang besok. Tapi.. kondisi Lily turun drastis, Dad. Menurut dr. Hans, sistem imun Lily sudah runtuh. Otaknya tidak bisa menstimulus tubuhnya ikut melawan. Jauh dari ambang aman," tutur Al menjelaskan apa yang dikatakan dr. Hans padanya tadi.
James bersandar lemas di dinding ruangan Lily. Terisak pelan namun berusaha tegar. James tak pernah merasa takut seperti ini. "Kenapa Mom dan Dad tak pernah bilang kalau usia Lily—"
"Tidak ada yang tahu usia manusia, James." Tukas Harry emosional. "Dokter bahkan bukan Tuhan. Tidak ada yang tahu apakah beberapa bulan lagi Lily meninggal, minggu depan atau bahkan besok. Atau bahkan Dad yang lebih dulu mati? Tidak ada yang tahu jadi jangan bicarakan tentang sisa usia manusia sekarang. Lily masih mampu bertahan. Dad yakin itu." Ya, misteri kematian tidak ada makhluk yang tahu. Tapi untuk Lily, telah dipastikan sebentar lagi.
Keesokan harinya Lily tampak lebih segar. Di ruang rawatnya sepi dibandingkan semalam. Hari ini James dan Al sudah berangkat kembali ke Hogwarts. Harry menitipkan kedua putranya pada Ron dan Lavender. James dan Al meminta Harry untuk tidak mengantar mereka, "Mom dan Dad jaga Lily, kami tak apa berangkat sendiri," kata James bijaksana.
"Kami titip salam untuk Lily, ya, Mom. Kami menyanyanginya," tambah Al dengan mata tergenang airmata.
Tepat pukul 11 siang, Lily sadar. Hermione tersenyum mendapati Lily tersenyum padanya untuk pertama kalinya sejak tragedi mimisan itu. "James dan Al sudah berangkat, ya? Daddy?"
"Mereka sudah berangkat tadi. Mereka titip salam untuk mu. Kata James dan Al, mereka menyayangimu, Lily. Kalau Dad sedang keluar, mempersiapkan kepulanganmu sebentar lagi," Hermione memasukkan beberapa perlengkapan Lily seperti obat dan syal ke dalam tas.
Lily tampak berbinar mendengar ia lebih cepat kembali ke rumah dibandingkan waktu-waktu yang lalu saat ia dirawat berbulan-bulan di sana. Tapi kali ini, ia hanya menginap semalam di rumah sakit. "Berarti aku sudah semakin baik, dong, Mom?" tanya Lily.
"Eem.. ya, kau akan sembuh, sayang!" jawab Hermione. Wajahnya memanas berusaha kuat.
Lily begitu bahagia ia akan segera pulang. Tangannya memegang erat tepian ranjang berusaha untuk menurunkan kedua kakinya. Sulit sekali, kakinya mati rasa. Rasanya jauh lebih berat dibandingkan sebelum ia mimisan kemarin. "Kenapa ini, kenapa kakiku tidak bergerak sama sekali?" batin Lily ketakutan. Wajahnya memucat mengamati kakinya yang kurus. Mengelusnya pelan hanya dari batas paha ke lutut.
"Kenapa, Lily?" tanya Hermione.
"Ahh—" Lily berusaha untuk bersikap wajar dan menyembunyikan ketakutannya pada kakinya, "tidak, Mom. Aku hanya takut kalau Dad tersesat," guraunya sambil tertawa.
Hermione menarik resleting tasnya. Selesai, tinggal membawanya pulang. "Kau bisa turun sekarang. Kursinya Mom dekatkan, ya," kata Hermione. Ia mendorong kursi rodanya lebih mendekat ke ranjang Lily.
Tapi, tidak ada usaha sedikitpun dari Lily untuk turun. Ia tetap duduk di atas ranjang.
Hermione mengamati kaki Lily. Ia mengerti, "tidak bisa?" tanyanya.
"Sama sekali. Mati rasa." Lily mulai menangis.
"It's OK. Kita tunggu Dad kembali."
Lima menit kemudian, Harry muncul sambil menggenggam kunci mobilnya. Senyumnya perlahan hilang saat melihat Lily mengelus kakinya yang masih lurus di atas ranjang. Hermione melihatnya, wanita itu menggeleng.
"Baiklah, Dad gendong kamu sampai mobil. Sudah lama Dad tidak menggendongmu, oke!"
Harry mengangkat tubuh Lily pelan-pelan. Mendekapnya ke dada lantas mengecup dahi Lily. Harry merasakan berat tubuh Lily semakin ringan. Setiap hari ia yang selalu menaikturunkan Lily ke kursi roda atau ke ranjang. Jadi Harry tahu persis bagaimana perubahan berat badan Lily dari hari ke hari.
Di belakangnya, Hermione hanya bisa menangis melihat Harry begitu sayang pada Lily. Ia takut Harry akan kembali merasa kehilangan jika Lily tiada. Sepanjang jalan Lily melesakkan wajahnya di dada Harry. Tangan kirinya menarik krah baju ayahnya semakin erat. Lily menumpahkan semua kesedihannya di sana.
"Daddy akan selalu menjagamu, Lily. Kau jangan takut," bisik Harry membuat Lily semakin kencang menangis.
Hampir satu bulan, pekerjaan Lily hanya berdiam di rumah. Membaca buku atau sesekali berlatih piano dengan Hermione. Lily tampak kesusahan saat harus mengatur nada lagu yang ia mainkan. "Aku tak bisa menginjak pedalnya, Mom," keluh Lily ia menunjuk ke arah kakinya..
"Tak apa, kita berlatih dengan lagu-lagu yang tanpa menggunakan sustain,"
Hermione kemudian membuka-buka semua buku musiknya. Dan hanya beberapa yang ia temukan. Itupun semua lagu sangat sulit dimainkan untuk pemula. Ia sendiri kesulitan, apalagi Lily yang baru belajar.
Tiba-tiba, Lily menarik tuas kursi roda elektriknya mundur, kemudian bergerak menepi ke sudut dinding. "Aku ingin sekolah lagi, Mom," kata Lily pelan.
Kurang lebih setengah tahun Lily absen dari sekolahnya. Akibat kecelakaan itu, Lily tidak diperbolehkan untuk beraktifitas berat seperti bersekolah. "Kapan aku boleh kembali ke sekolah?" wajah Lily memelas. Ada rasa putus asa tergambar jelas di wajahnya.
"Maaf, sayang," Hermione kini duduk di sofa tepat di sebelah kursi roda Lily, "pihak sekolah sudah mengirimkan surat pengeluaranmu sejak dua bulan lalu. Jadi—"
"Aku paham, Mom. Sudah, tak apa. Aku bisa belajar sendiri," ujar Lily. Ia memasang kacamatanya lebih nyaman di depan matanya.
Lily positif dikeluarkan dari sekolah sejak beberapa bulan lalu. Surat resmi bahwa Lily dikeluarkan karena terlalu lama ijin membuat pihak sekolah tidak mau menanggung risiko jika Lily tetap kembali masuk di masa akhir tahun ajaran. Ditambah lagi kondisi Lily yang harus menggunakan kursi roda. Pihak sekolah tidak menerima siswa dengan kondisi cacat. Karena akan beresiko mengganggu siswa yang lain.
Harry dan Hermione pun akhirnya mengerti dengan keputusan sekolah Lily dan menerimanya dengan ikhlas.
"Tapi, Dad bilang ke Mom kalau kau tetap akan melanjutkan pendidikan tapi di rumah, Lily. Kau ingat Aunt Sarah?"
"Istri Uncle Dudley?"
Hermione mengangguk, "dia ternyata praktisi pendidikan yang bergerak di bagian home schooling. Ia punya yayasan yang menyediakan home schooling bahkan salah satu yang terbaik di Inggris. Dad ingin, kau mulai bersekolah lagi, tapi di rumah. Kau mau, Lils?"
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Lily tersenyum lantas memeluk Hermione. "Mom tahu kau punya semangat belajar yang besar, sayang," ujar Hermione.
Sarah Dursley rencananya akan datang beberapa hari lagi untuk melihat keadaan Lily. Pasalnya, Sarah harus melihat dulu kondisi Lily untuk bisa memastikan bagaimana nantinya ia akan mengajar Lily. Sarah sendirilah yang nantinya akan langsung menjadi guru Lily saat sekolah dimulai. Sejak hampir satu tahun, keluarga Dudley dan Harry belum sempat bertemu. Mereka hanya saling berkirim ucapan natal saja tanpa sempat mengunjungi satu sama lain.
Dudley dan istrinya sudah mengetahu keadaan Lily yang squib dan mengalami kesehatan yang menurun. Mereka belum sempat berkunjung karena mengingat putri tunggal mereka, Flo, baru memulai tahun pertamanya sekolah di asrama, sehingga Dudley yang memanjakan Flo ingin selalu mengunjungi putrinya itu di sekolah setiap hari.
Hari ini, Lily hanya sibuk dengan buku catatan sembari memutar beberapa lagu dari playlist ponselnya. Mulutnya terus bergumam mengikuti alunan lagu dari penyanyi-penyanyi favoritnya. Akhir-akhir ini Lily semakin suka dengan musik. Ia sering kali didapati sedang mencorat-coret kertas bertuliskan lirik-lirik lagu karangannya beserta catatan kunci nadanya. Lily sedang belajar menciptakan lagu. Mengakunya pada Harry, ia sedang ingin mengikuti perlombaan cipta lagu remaja. Tapi entah benar atau tidak, Lily belum bercerita jauh.
Bel pintu depan berbunyi. Ada tamu, batin Lily. Suara musik yang ia play tidak kencang jadi suara apapun di luar sana masih mampu ia tangkap dengan telinganya. "Biar aku yang buka, Mom. Nanti capek bolak-balik. Lily bisa kok," cegah Lily saat Hermione keluar suah payah dari dalam dapur.
"Baiklah, hati-hati, ya," pesan Hermione.
Lily memajukan tuas kursi rodanya sampai bergerak perlahan menuju depan pintu. "Sebentar—"
Setelah berhenti tepat di depan pintu, Lily pelan-pelan mencondongkan tubuhnya, menarik pintu depan sampai sosok tamu yang sejak satu menit lalu membunyikan bel terus-menerus itu terlihat. Lily tak percaya dengan siapa yang datang. Dadanya mengembang dengan wajah tercengang.
Lily menarik mundur tuas kursinya, pelan-pelan ia menjauh. Badannya bergetar. Ia sangat kenal siapa yang sedang berdiri di depannya sambil tersenyum. "Akhinya! Apa kabar, Lily Luna Potter?" Bibir Lily bak terkunci rapat. Ia lebih terfokus dengan mengatur napasnya dibanding menjawab pertanyaan itu. Sulit.
"Ibu dan ayahmu pasti mengajarkan etika untuk menghargai tamu yang datang, kan? Kalau iya, kau tak akan membiarkanku terus berdiri di sini seperti sekarang. Bagaimana?"
Dan Lily berusaha untuk berpikir, apa yang harus ia lakukan sekarang?
- TBC -
#
hemm Anne cuna mau bilang cerita ini belum selesai. Anne tunggu review kalian. Dan tak lupa Anne ucapkan selamat Idul Adha buat teman-teman yang merayakannya. Ikut hari apa, nih, lebarannya? Hari ini (Rabu) atau besok (Kamis)? Anne sendiri baru besok lebarannya. Sudah dulu, ya. Tunggu chapter selanjutnya.. :)
Thanks,
Anne x
