Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih... Chapter 12 sudah siap dan kali ini, tokoh menyebalkan dengan pena bulunya siap muncul. Tahu siapa?
Yang kemarin nebak, Ninismsafitri, Gabby-chann, Syarazeina (hehe kamu Sarah, ya?) Riverhazel13910, coba lihat apa tebakan kalian benar?
Terima kasih buat semuanya! :)
Langsung saja, yuk..
Happy reading!
Hermione mendengar ada seseorang yang mengajak Lily berbicara padanya. Suaranya kalem dan khas perempuan. Sedikit berat seperti wanita yang memang sudah berumur, tapi gaya bicaranya yang cukup cepat membuat Hermione menebak tamuanya memang suka sekali berbicara. Setelah mematikan komponya, ia berniat untuk keluar dan mencari tahu siapa yang datang.
"Siapa yang datang, sayang? Kenapa tak kau suruh ma—"
"Oh hai, Granger! Ups, sorry, maksudku Mrs. Potter. Lancang sekali mulutku ini,"
Sigap, kedua tangan Hermione melingkar di sekitar perutnya. Berusaha meredakan gerakan bayinya yang semakin terasa kuat. "Rita," panggilnya pelan.
"Lama tak jumpa. Terakhir kita bertemu kau masih langsing, tapi sekarang perutmu besar sekali. Aku masih ingat betapa lugunya kau dan Potter dulu. Tapi lihatlah sekarang, ohh..," tunjuk Rita pada perut Hermione, "seorang Harry Potter memang luar biasa," katanya kagum.
Rita Skeeter datang dengan pakaian khas wanita pekerja. Rambut pirangnya tampak lebih kusam seiring bertambahnya usia. Badannya masih ramping meski kulitnya tak sekencang saat belasan tahun lalu. Tidak seperti biasanya, Rita datang sendirian. Tidak ada pena bulu yang terbang di sisi kepalanya. Ya, tentu saja ia datang sendiri. Rita sudah memikirkan bagaimana ia harus berpenampilan saat masuk ke kawasan Muggle.
Sedikit merubah penampilan, kacamata masa kini, blazer hijau dengan rok selutut membuat penampilannya sempurna. Rita mencondongkan tubuhnya lantas membelai pipi kiri Lily. "Kau kau kesulitan, biar aku bantu masuk," katanya sambil mendorong kursi roda Lily masuk. Tangan kanannya mengayun centil dan seketika itu juga pintu tertutup.
"Apa yang kau inginkan? Apa tak puas kau selalu mengejar-ngejar keluarga kami demi memenuhi kolom artikelmu?" Hermione mengambil alih kursi roda Lily menariknya agar menjauhi Rita.
Rita tersenyum. Wajahnya sampai memerah menahan tawanya. Kacamata lebarnya melorot. Sedikit tak terbiasa. "Tenangkan emosimu, Mrs. Potter. Tidak baik untuk bayimu," katanya. Sama sekali tidak menunjukkan rasa tidak enak apalagi rasa bersalah. Rita meraih tangan Lily dan menggenggamnya.
"Publik sudah lama penasaran dengan keadaanmu yang sebenarnya, sweetheart. Ayah dan saudara-saudaramu tidak akan merasa tertekan lagi saat berada di tengah-tengah publik kalau kau mau lebih terbuka denganku sekarang," kata Rita menatap lekat mata coklat gelap kecil Lily. "Kacamatamu kotor, nak," lanjutnya sambil membersihkan lensa kacamata Lily dengan syalnya. Basa-basi kecil.
Rita bersikap layaknya tidak sedang terjadi masalah serius. Santai. "Lalu sekarang apa yang ingin kau perbuat dengan Lily? Kalau ingin wawancara, silakan saja. Kami siap me—"
"Ow, ya. Memang aku akan mewawancara," Rita berhenti latas membuka tas tangannya.
Pena bulu dan note spiral melayang keluar lantas berhenti tak jauh di belakang kepalanya. Terayun-ayun seperti digerakan oleh tangan seseorang. Pena itu menulis sendiri. "Tapi hanya dengan Lily," lanjutnya.
Hermione tidak mengerti dengan maksud Rita yang mengatakan 'hanya dengan Lily'. Rita berdiri tegak, menghadap Hermione semata untuk menghargai nyonya pemilik rumah. "Aku dan narasumberku pasti butuh privasi," tuturnya.
"Tapi itu terkesan mengintimidasi!"
"Tidak ada yang akan terintimidasi di sini. Begitu juga Lily. Aku selalu memperlakukan narasumberku dengan baik," Rite kembali memperhatikan Lily yang masih ketakutan, "kita hanya butuh tempat berdua untuk bicara dari hati ke hati, Ms. Potter. Trust me!"
Rita meyakinkan dengan berbagai cara agar Hermione ataupun Lily mau menerimanya datang. Yang utama adalah Lily, Rita menargetkan Lily harus mau ikut dalam sesi wawancaranya hari ini. Karena jika Lily sudah setuju, Hermione pun tak akan bisa menolak keputusan Lily.
Tiba-tiba ekspresi wajah Rita perlahan melunak. Tidak seperti biasanya, Rita meminta dengan gaya yang cukup serius. Untuk kesekian kalinya, Rita meraih tangan Lily dan menggenggamnya. "Ginny adalah rekanku di Daily Prophet, dan aku tak akan mengecewakannya," bisik Rita.
Lily diam. Pikirannya melayang ke sana kemari. Membayangkan ayah dan kakk-kakaknya selalu menjadi kejaran masyarakat sihir akibat berita tentang dirinya yang tidak jelas. Lily sadar, itu semua karena dirinya. Ia tak mau membuat keluarganya makin terganggu akibat dirinya yang selalu bersembunyi dari dunia sihir.
"Lil—"
"Aku bersedia, Mom. Mungkin ini saatnya mereka semua tahu bagaimana keadaanku sekarang." Kata Lily pasrah.
Hermione mendesah, ia pasrah saja dengan keputusan Lily yang tampak berusaha kuat. "Baiklah, tapi aku mohon padamu, Mrs. Skeeter, jaga perasaan Lily. Aku mohon padamu," pinta Hermione sungguh-sungguh. Rita paham dan bersedia menjaga amanat Hermione untuk menjaga Lily.
Hermione memilihkan kamar Lily di lantai bawah saja sebagai tempat Rita dan Lily saling bicara. Selain membuat Lily nyaman, tempat itu yang paling dekat dengan ruang tamu, tempat Hermione menunggu keduanya selesai.
Rita mempersilakan Lily untuk masuk terlebih dulu. Cukup menggerakkan tuasnya ke depan, kursi roda Lily bergerak perlahan masuk ke kamar. Pintu kamar segera Rita tutup setelah memberikan senyuman khasnya pada Hermione.
Ya, sesi wawancara eksklusif Rita Skeeter siap dimulai. Dengan perintah, 'catat', pena bulu kutip-cepat milik Rita langsung mencatat pertanyaan pertama yang ia lontarkan untuk Lily.
"Aku yakin saat ini kau takut, Lily," kalimat pertama yang Rita ucapkan, "jangan dicatat yang tadi," bisiknya pada si pena.
"Mungkin anda sudah bisa melihatnya sendiri dari ekspresi wajahku, Mrs. Skeeter. Aku tidak bisa menjelaskannya," jawab Lily. Ia menepikan kursi rodanya di dekat jendela. Rita sendiri memilih menarik kursi berwarna merah muda dari samping meja belajar Lily.
Pena bulu Rita menuliskan beberapa kata yang tadi diucapkan Lily.
"Tapi aku tak percaya kalau kau anak yang penakut," skak Rita.
"Maksud anda?" tanya Lily. Ia menegakkan cara duduknya.
"Kau mirip sekali seperti Ginny. Ya walapun jejak ayahmu masih sangat kuat di wajahmu. Aku merasakan kau lebih memiliki jiwa-jiwa pemberani seorang Ginevra. Ibu kandungmu," suara Rita serak, ia terbatuk pelan, "squib, kau sudah bertahan selama ini, Lily. Bagaimana kau mampu mempercayai dirimu sendiri kalau kau kuat.. menjadi berbeda?"
Bulu kuduk Lily meremang. Squib, akhirnya topik itu muncul juga. Ia sadar cepat atau lambat, Rita akan menanyakan tentang dirinya seorang squib. "Aku—" Lily tidak yakin mengatakannya. Pena bulu di depannya mencatat cepat. Mata Lily terpesona dengan pena bulu yang melayang di depannya.
Rita mengamati arah pandangan Lily. Bukan menghadapnya, tetapi sesuatu yang ada di sampingnya. "Ohh Merlin! Kau ini, mirip seperti ayahmu saat pertama kali aku wawancarai. Dia juga sama terpesonannya dengan pena buluku. Sudah, Lily! Jangan hiraukan penanya,"
Lily tersenyum pelan. Ia merasa semakin nyaman bersama Rita. Meski cara bicaranya sangat menyebalkan, Lily mulai santai dengan situasi kamarnya saat ini. "Ehh, tapi maaf, aku tak pernah merasa kuat," jawab Lily.
"Hem, kau tak menyadarinya? Selama ini, ayah dan ibu tirimu itu berusaha menyembunyikanmu dari muka publik. Sejak kau didapati sebagai squib lebih tepatnya. Dan sampai sekarang, kau masih bertahan hidup dengan para Muggle di lingkungan yang begitu asing.. ya, asing, bagiku ini sangat asing," mata Rita berputar ke sekeliling kamar. Memperhatikan laptop, lampu meja, pendingin ruangan, ponsel, sampai mobil-mobil yang tampak berlalu-lalang dari balik jendela.
"Mereka tak pernah menyembunyikanku. Aku suka tinggal di sini. Sejak kecil aku sudah terbiasa dengan para Muggle. Mom kelahiran Muggle, sedangkan Dad besar di lingkungan Muggle. Mereka lebih tahu tentang dunia ini daripada aku dan ini lingkungan yang menyenangkan, khususnya bagi seorang squib. Aku nyaman di sini, Mom dan Dad memilih keputusan yang tepat untukku, Mrs. Skeeter,"
"Tapi.. apa kau tak pernah membayangkan untuk mencoba tinggal di dunia sihir? Benarkah kau tidak sekuat itu? Kau kelahiran penyihir, hanya saja kau tak punya kemampuan sihir. Banyak squib yang tetap tinggal di dunia sihir, Lily, menjadi petugas kebersihan, preman, gelandangan, atau penyihir gila," kata Rita tanpa disaring. Terbuka dan apa adanya. Ia sudah menyalahi janjinya dengan Hermione agar menjaga perasaan Lily.
Dada Lily memanas. Ia kini tahu, bagaimana realitas kehidupan squib di dunia sihir. Jika Mrs. Alba harus dibuang dan bekerja menjadi petugas konsumsi di sekolahnya, banyak squib yang menjadi gila akibat diacuhkan keluarganya sendiri. "Kau malu dengan dirimu saat ini, Lily?" tukas Rita menghantam.
Lily menarik napasnya dalam-dalam, menghembuskannya berat sambil memejamkan mata. "Tidak—" jawab Lily tegas.
"Tidak? Lalu mengapa kau tetap bersembunyi di sini? Dunia sihir terlalu luas jika hanya kau ketahui dari cerita orang tua dan saudara-saudaramu saja, nak," Rita menaikan posisi kacamatanya.
Lily menggeleng, "aku tak sembunyi. Aku hanya tinggal di duniaku. Dunia yang aman untukku bisa tumbuh dewasa. Bersama Dad, Mom, James, Al, dan calon adikku,"
"Nah, calon adikmu. Orang tuamu adalah orang besar, Lily. Nama mereka diabadikan di segala macam objek. Dari yang kecil sampai yang besar. Semua penyihir tahu mereka. Dan kau adalah bagian dari keluarga mereka. Kau menyandang nama besar Potter. Tapi dengan keadaanmu seperti ini, kau membuat mereka merasa terancam. Nama besar mereka terancam. Rusak. Hancur, karena memiliki anak se—"
"Seorang squib. Ya, aku tahu itu. Aku memang membuat keluarga ini malu. Dan adikku nanti akan menjadi kebanggan mereka," Lily naik darah. Ia seolah sedang dipermalukan di depan Rita. Wanita tua eksentrik itu sukses memancing emosi Lily.
Rita menjentikkan jarinya puas, "brilliant. Adikmu akan menjadi kebanggaan mereka. Dan bukankah itu akan semakin mengancam posisimu di rumah ini? mengingat," Rita melihat kaki Lily hingga ke ujung jari, "kau tak bisa berjalan, Lily. Kau semakin jauh dari kata-kata sempurna,"
Lily kini paham, mengapa banyak orang begitu membenci wartawan senior paling terkenal yang dimiliki oleh Daily Prophet ini. "Aku memang lumpuh, Mrs. Skeeter. Aku juga sakit-sakitan. Aku sendiri tak tahu apakah aku bisa bertahan dengan semua ini. Tapi, aku sedang berusaha untuk menjadi diriku sendiri, tanpa memikirkan aku terlahir dari keluarga mana,"
Lily menggerakkan kursi rodanya menuju sisi jendela, mengamati suasana halaman samping rumah yang menghijau akibat rumput-rumput yang tumbuh subur di sana. "Aku memang kuat, dulu.. aku tak mempermasalahkan jika memang aku harus dijadikan objek berita karena aku squib. Tapi, lama kelaman, seiring larangan Mom dan Dad untukku agar tak keluar masuk bebas ke dunia sihir, aku sadar, Mom dan Dad berusaha untuk menjauhkanku dari dunia itu. Sempat merasa malu? Ya, aku mengakuinya. Aku takut mengakui kalau aku seorang squib yang artinya aku bisa dipandang sebelah mata oleh kaum penyihir. Sungguh tidak pantas, sangat tidak pantas," cerita Lily dengan berurai air mata.
"Aku ingin mengakhiri semua ini. Aku lelah melihat Dad, Mom, James, Al, dan semua keluarga Weasley merasa terintimidasi dengan berbagai pertanyaan yang menyudutkan mereka tentang diriku. Aku seperti buronan. Tukang jagal. Pembunuh. Atau jauh lebih nista dari apapun itu. Dan aku harap suatu saat nanti, adik-adikku tak ada yang memiliki nasip yang sama sepertiku."
Rita melipat tangannya di dada. Merasakan kesedihan terdalam dari sosok anak yang belum genap 12 tahun. "Lily, bukankah kau sekarang percaya dengan kata-kataku tadi? Kau kuat, sayang! Kau berani mengungkap segalanya. Rasa sakitmu itu. Semuanya. Aku percaya dengan semangat seorang Ginny, dan kini aku merasakannya kembali di dirimu," Rita mengelus pipi Lily. Kebiasaannya untuk lebih dekat dengan para narasumbernya. Lily menangis.
"Kalau kau bersedia, aku dan Daily Prophet akan berusaha memberikan waktu khusus agar kau mau tampil di depan publik penyihir. Memberikan kejelasan tentang dirimu yang sebenarnya."
"Tampil di depan publik penyihir?" tanya Lily.
Tawaran Rita adalah mengundang Lily dalam konferensi pers mengenai keadaannya setelah diketahui squib. Banyak berita yang simpang siur membicarakannya. Gosip dirinya gila, dibuang, diasingkan, atau lebih parahnya dikabarkan mati terus bermunculan akibat tidak jelasnya keadaan Lily. Begitu pula dengan kabar-kabar yang selalu menyudutkan orang-orang disekitarnya. Khususnya Harry dan anggota keluarga yang lain.
Lily tampak berpikir keras dengan tawaran itu, "lebih cepat kau mengungkapnya, beban masalah ini akan semakin berkurang, Lily," kata Rita begitu dalam.
Suara mobil Harry masuk ke pekarangan. Beberapa menit kemudian, deru mesin mobilnya hilang digantikan langkah kaki yang semakin dekat dengan pintu masuk.
"Aku pulang," Harry masuk sambil melepas jaket. "Hermione? Kau kenapa? Perutmu sakit?" tanya Harry panik melihat Hermione duduk sendirian dengan mata sembab.
Hermione menggeleng, ia menatap pintu kamar Lily tanpa berkata apapun. "Ada apa? Lily dimana?" ujar Harry kembali panik. Namun, tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Rita keluar dengan Lily dibelakangnya. Mata Harry terbuka lebar melihat siapa yang sedang bertamu di rumahnya.
"Rita—"
"Hai, Mr. Potter. Baru pulang dari Kementerian?" sapa Rita buru-buru. Sebelum ia benar-benar keluar, ia sejenak berbalik dari dan menghadap Lily sebelum ia berpamit pulang. "It's oke, aku akan bicarakan dengan mereka," bisik Rita dan Lily mengangguk pelan.
Hermione sempat akan mendekat, namun Lily segera menutup pintu kamarnya sebelum ibu tirinya itu sempat memanggil. "Apa yang sudah kau lakukan pada Lily?" Harry tiba-tiba bertanya.
"Aku hanya mengajak Lily bertukar cerita. Sambil.. tentu saja mewawancarainya juga. Karena itu tujuanku," jawab Rita santai.
"Kau—" Hermione tertahan akibat tarikan tangan Harry. "Jangan melawan, Mione," bisik Harry.
"Ya, kalian tenang saja. Lily hanya syok. Hanya butuh istirahat sebentar. Kalian jangan takut."
Rita memasukkan segala macam perlengkapan wawancaranya ke dalam tas. Membenarkan syalnya dan mengapit tas hijaunya siap pergi. "Kau akan menerbitkannya?" tanya Hermione pelan. Dengan santai dan yakin, ia mengangguk. "Aku harus profesional, Mrs. Potter,"
"Oh, ya. Lily menyetujui tentang usulanku dan Daily Prophet masalah konferensi pers di kantor. Tentang.. Lily mau tampil di depan publik, dan menjelaskan tentang statusnya di sana,"
Deg! Harry dan Hermione saing pandang. Konferensi pers? "Lily bersedia?"
"Benar sekali, Mr. Potter. Lily ingin menyelesaikan semuanya. Ia tahu jika banyak berita-berita negatif yang membicarakannya di luar sana. Ia tak mau membuat nama keluarga kalian tercoreng akibat dirinya. Ahh aku butuh bubuk floo. Aku harus segera ke kantor sekarang,"
Mengakui. Ya, selama ini Harry dan Hermione bersikap tenang dan berusaha menjauhkan Lily dari segala macam hal yang berhubungan dengan sihir. Mereka ingin tidak ada yang bisa mendekati Lily dan membuat ketenangan hidupnya terganggu. Tapi mereka salah, saat mereka semakin menjauhkan Lily dari dunia sihir, isu-isu buruk itu semakin berkembang. Tidak hanya nama keluarga, nama Lily pribadi seolah hancur di tangan para pewarta berita.
Harry menyerahkan gentong kecil berisi bubuk floo kepada Rita. "Kalau sudah siap semuanya, mulai dari waktu dan tempatnya, akan aku informasikan lagi. Ahh—"
Rita mengingat sesuatu. Ia membuka tas jinjingnya dan keluarlah sekalilagi pena bulu dan note kecilnya. "Pertanyaan terakhirku untuk kalian berdua," Rita memposisikan dirinya masuk ke perapian. "Mr. dan Mrs. Potter, masih samakah cinta kalian untuk Lily?" tanya Rita tegas.
Menahan rasa gemuruh yang melanda diri mereka, Harry menggenggam tangan Hermione erat sembari menjawab, "ya, tentu saja," kata Harry.
"Dan semakin besar," tambah Hermione. Wajahnya basah dengan airmata.
Selesai. Seperangkat pena bulu Rita bergerak cepat lantas bersamaan masuk ke dalam tas setelah kalimat Harry dan Hermione sempurna tercatat. "Terima kasih—" jawab Rita. Suaranya lantang menyebut kantor Daily Prohet lantas hilang ditelan asap hijau dari bubuk floo yang ia jatuhkan.
Keeputusan Lily telah bulan. Ia akan menyelesaikan masalah ini, dengan penuh keberanian.
- TBC -
#
Yeahhh selamat malam, Anne berusaha membuat sosok menyebalkan Rita sedikit punya perasaan meski kata-katanya tajam. Susah deh kalau urusan merubah watak si Rita. Hehehe.. cerita belum selesai. Anne masih akan melanjutkannya. Hanya tinggal beberapa chapter lagi, jadi jangan bosen-bosen! Tinggalkan review, ya! Semoga terhibur.
Thanks,
Anne
