Hi, everyone!
Anne akhirnyaaaaa muncul lagi. Lama juga enggak update. Maaf banget, ya. Urusan kuliah lagi sibuk-sibuknya. Jadi baru bisa update lagi sekarang.
Dari semua review, kebanyakan bilang typo Anne meraja lela. Aduhh maaf banget. Iya, Anne akuin, karena selain ngetik malam hari dan diserang kantuk, keyboard laptop Anne rada masalah. Jadi susah pencetannya khususnya di spasi. Maaf banget kalau masih ada typo lagi di chapter ini.
Thanks untuk yang sudah review, syahrazeina, ninismsafitri, riverhazel13910, gabby-chann, kalian semua luar biasa! *peluk Anne untuk kalian* ^_^
Langsung saja, yuk!
Happy reading!
Sampai satu minggu berikutnya, belum ada informasi lanjut tentang Rita yang ingin mengadakan press conference untuk membersihkan nama Lily dan tentunya keluarga Potter. Sejak artikel yang memuat pertemuan eksklusif itu dimuat, banyak sekali muggle — kemungkinan besar penyihir yang menyamar— berlalu lalang tak jelas di sekitar rumah Harry. Mengamati siapapun yang keluar masuk dengan tatapan misterius.
"Aku tak tahu mereka siapa, Mrs. Potter. Aku sempat tanyakan tadi dan dia hanya menjawab mencari keluarganya. Anak perempuan berambut merah. Saat saya jelaskan kalau memang ada anak dengan ciri-ciri seperti itu di rumah anda, tapi bernama Lily, bukan Marta seperti yang ditanyakan. Dia langsung pergi setelah saya yakinkan kalau Lily sedang sakit dan tak bisa keluar rumah. Perempuan itu langsung ijin pergi," tutur Akane beberapa hari lalu.
Seratus persen Hermione yakin, jika orang itu bukanlah Muggle biasa. Ia pun pernah mendapati beberapa orang sengaja memotret kediamannya secara sembunyi-sembunyi. "Aku yakin mereka wartawan dari majalah-majalah sihir, Harry," kata Hermione di sisi Harry. Suaminya itu mencoba memejamkan mata di balik selimut tebalnya.
"Ehem, berarti memang kita harus waspada. Jangan sampai Lily keluar sendirian," jawab Harry masih terpejam. Suaranya masih tegas tanpa ada indikasi mengantuk sedikitpun.
Daily Prophet edisi hari ini tergeletak di meja dekat ranjang. Mata Hermione tidak betah lama-lama jika hanya memandang tumpukan koran sihir itu di atas sana. Dengan satu tangan memegang perutnya, Hermione mencoba meraih Daily Prophet itu sambil memeiringkan badan susah payah. Ia tidak tahu tentang kabar apa yang dimuat hari ini. Sepanjang hari, ia dan Lily sibuk ke rumah sakit. Mulai dari memeriksakan kandungannya sampai mengantar Lily terapi. Tidak begitu repot karena memang semua aktifitas mereka dilakukan cukup di rumah sakit yang sama.
Lagi-lagi, headline seputar Lily kembali dimuat di sana. Ini kali ke tiga setelah awal berita tentang pertemuan eksklusif Rita dan Lily, langsung mendapatkan tanggapan luar biasa dari publik sihir. Beberapa hari kemudian kembali dimuat sebuah artikel yang membahas sejarah 10 nama-nama squib terkenal sepanjang masa yang memiliki cerita hidup beragam. Mulai dari Arabella Doreen Figg atau Mrs. Figg sampai Argus Flich, dan di urutan terakhir tercantum nama Lily Luna Potter sebagai squib muda paling populer abad ini.
Untuk edisi kali ini, berita yang dimuat adalah tentang kondisi aktifitas sehari-hari Lily di rumah dengan mencantumkan judul, Skandal Baru di Balik Pintu Keluarga Potter.
"Daily Prophet berganti jadi majalah gosip?" Hermione heran.
"Sudah dari dulu, kan?" ujar Harry sarkastik. Kini ia bangkit duduk di sisi Hermione. Dagunya diletakkan nyaman di atas pundak kanan istrinya sambil ikut membaca. Hermione beralih memandang wajah Harry bingung karena tiba-tiba saja suaminya sudah ikut duduk memperhatikan kertas di tangannya. "Kebanyakan minum kopi di kantor, honey," ujar Harry tersenyum manis. Hermione menggeleng pelan. Kebiasaan.
Mereka pun kini membaca berita bersama.
Sejak pagi, rumah keluarga Potter tertutup. Tidak tampak aktifitas besar di sana. Menjelang siang, Harry Potter keluar mengendarai mobil Mugglenya menuju persimpangan jalan dan menghilang di tikungan. Sementara istrinya, Hermione Potter, hanya sesekali keluar rumah untuk membuang sampah, menyiram tanaman atau bercanda dengan Muggle wanita bermata sipit.
"Itu pasti Mrs. Marchant," komentar Hermione. Ia kembali membaca.
Lalu kemana Lily Luna Potter? Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari wanita Muggle bermata sipit itu, ia menjelaskan bahwa Lily sedang sakit dan tidak bisa keluar rumah. Benarkah Muggle bermata sipit itu berkata yang sejujurnya? Atau hanya perintah dari Harry Potter maupun Hermione Potter demi menutupi keadaan Lily?
"Dan itu memang Mrs. Marchant," kata Harry tiba-tiba.
Berita terputus dengan keterangan 'baca selanjutnya halaman 13', tepat di bawah foto rumah mereka. Dari hasil gambar rumah yang dimuat di sana, wanita yang diduga sebagai penyihir menyamar adalah pelakunya. Hermione tahu, ia sempat melihat seorang wanita memotret rumahnya dari seberang. "Apa, sih, mau mereka? Kasihan Lily!" gerutuku sambil membuka lembar selanjutnya.
Hermione meringis, merasakan tendangan bayinya tiba-tiba. "Wow, mereka menendang," kata Harry berbisik ditelinganya.
"Mereka sudah semakin aktif. Aku sampai susah melakukan apa-apa. Bahkan bernapas pun susah. Mungin kau bisa tenangkan mereka, Harry? Sebentar saja. Ini sakit sekali," rintih Hermione. Ia lantas membetulkan posisi duduknya.
Harry semakin merapatkan tubuhnya ke punggung istrinya. Kedua tangannya siap memeluk perut Hermione dari belakang, menyelip di sela-sela ketiak. Mengelus pelan disetiap bagian yang terasa tendangan dari si bayi. "Jenggot Merlin, mereka tenang, Harry. Kau hebat,"
"Tentu saja. Mereka anak-anakku. Sudah, lanjut membaca. Sampai halaman berapa tadi?" pinta Harry tanpa melepaskan tangannya dari perut Hermione.
Tepat di halaman 13, kembali dicantumkan foto bergerak yang memperlihatkan Lily sedang berada di halaman depan dengan kursi roda sebagai tempat duduknya. Bermain sendirian dengan Snow, kucing peliharaannya.
Hermione menutupi mulutnya, "mereka mendapatkan foto Lily," Hermione syok.
Lily dikabarkan sakit. Dengan tubuh yang memang terlihat kurus, wajah pucat dan duduk di atas kursi aneh dengan roda besar di kanan dan kirinya, tampak sekali jika fisiknya memang sedang tidak baik. Kemungkinan besar juga, mentalnya pun ikut tidak baik.
"Kurang ajar! Penulis berita ini minta pu— agghh!"
"Are you Ok?" tanya Harry khawatir.
Hermione mengangguk. Perutnya lagi-lagi terasa sakit.
"Sudahlah, tenang. Sebentar lagi masalah ini akan selesai. Lily sudah siap dengan ajakan Rita untuk konferensi pers di Daily Prophet, kan?"
Harry kembali menggerakkan tangannya mengusap-usap perut Hermione. Harry sendiri merasakan betapa kedua calon bayinya sangat aktif di dalam sana. Sebentar lagi ia akan kembali merasakan mengurus bayi setelah lebih dari sepuluh tahun terakhir ia mengurus bayi Lily.
"Ya, tapi sampai sekarang Rita belum mengabari apapun tentang rencananya itu. Lily akan terus menjadi buronan jurnalis sihir sampai semua penyihir tahu sendiri bagaimana keadaan Lily sekarang. Tidak mungkin Lily terus di rumah. Selain di rumah sakit, Lily juga harus ke rumah Mr. Marchant untuk berlatih vokal. Ahh sebentar, besok Lily akan keluar ke rumah Mr. Marchant untuk berlatih lagi. Bukannya tadi pagi kau ingin ikut karena penasaran dengan Lily bernyanyi?" Sedikit kesusahan dengan perutnya yang sudah masuk minggu ke 34, Hermione mengangkat tubuhnya agar lebih nyaman berbaring.
Harry mengerang pelang ketika tangan istrinya mengacak-acak rambutnya. "Tidurlah, Mr. Potter!" seru Hermione.
"Ya sudahlah, aku lelah. Aku ngantuk, biar aku sendiri yang menemani Lily be—" bukannya melanjutkan keluhannya pada Harry, ia kini merintih merasakan sesuatu yang hangat dan menggelikan di lehernya, "agghh, Ha-Harry—"
"Ya?" goda Harry disela-sela bibirnya mengecup rata area leher istrinya. Hermione sukses mendesah akibat kelakuannya itu. Membiarkan Hermione hanyut dan memberikannya akses luas padanya agar melakukan lebih. Hermione kalah.
Mata Hermione terpejam, napasnya makin tersengal. Satu tangannya meremas seprai dan satu tangan yang lain ia letakkan di atas perutnya. "Hanya ciuman selamat tidur. Aku belum ngantuk, sayang. Sebenarnya.. ahh tidak. Aku tak tega meminta lebih. Ya, mungkin bukan sekarang, kata dr. Sophia bagus juga, kan, untuk proses kelahiran nanti," tangan Harry menyelinap nakal ke balik baju hamil Hermione dan hampir menyentuh area depan badannya dari dalam.
"Ka-kalau.. ka.. kau benar-be.. benar melakukannya, akan a-aku bunuh kau, Potter!" mengancam di saat badannya memanas seperti itu memang sangat sulit bagi Hermione. Lebih terkesan memaksakan sesuatu yang tak mungkin, batinnya kesal.
Tiba saat tangan Harry menyentuh permukaan perut besarnya, cedutan pelan terasa tepat di telapak tangan bagian bawah Harry. Hanya sekali, tapi sangat terasa. "Agghh—" pekik Hermione lantas memeluk perutnya.
"Wow, kencang sekali mereka menendang! Aku merasaknnya, mereka marah?" kata Harry terpukau. Ia pun menjauhkan kepalanya dari leher Hermione dan beralih ke depan perut. Tanpa menggunakan kacamata, Harry tersenyum dengan mata menyipit kepada Hermione.
Hermione menyunggingkan senyuman terindahnya. "Lihat, mereka marah karena kelakuanmu tadi, Harry. Sakit," keluah Hermione mengelus-elus area perutnya yang baru mendapat tendangan sang bayi. Berusaha membuat mereka tenang di dalam rahimnya.
"Ahh kalian cemburu dengan Mom? Kalian mau dicium juga?" tanya Harry. Tangannya menaikkan atasan Hermione sampai perut bulat besar istrinya itu terekspose jelas di depan matanya.
Harry mengelusnya terlebih dahulu, mengamati ukuran perut di depannya yang memang sangat besar dibandingan tiga kehamilan Ginny terdahulu. Ya, tentu saja berbeda. Di dalam sana, ada dua calon Potter sekaligus. Tidak sampai dua bulan lagi, dua generasi Potter selanjutnya akan lahir. Sekali lagi, dua sekaligus.
"Mungkin ini kepalanya," kata Harry lalu mencium tepat dimana tangannya merasakan ada gundukan menonjol di bagian bawah perut kiri. "Ini mungkin juga," ujarya lagi ketika menemukan hal yang sama di bagian kanan. Harry kembali menciumnya.
"Nah, kalian sudah kebagian? Jadi, sekarang giliran Dad yang—"
"Eits, no.. ini sudah malam. Aku sudah sangat lelah, dan sekarang aku hanya ingin bernapas tenang dan tidur nyenyak walaupun itu susah. Tidak ada tapi-tapian,"
Harry cemberut, moodnya sudah rusak seiring Hermione kembali memposisikan dirinya untuk tidur. Tiba-tiba Hermione terbatuk pelan. "Ow—" desah Hermione tak suka.
"Nah, mangkanya jangan marah-marah. Sampai batuk-batuk, kan? Ehh kenapa bangun lagi?" tanya Harry. Hermione kembali bangun dan berdiri dari ranjang. Ia berjalan keluar kamar sambil memegangi perut bawahnya.
"Ke toilet," jawab Hermione singkat.
"Bukannya kau tadi dari toilet?"
Hermione mengangguk pelan. "Ah ha, gara-gara batuk. Mereka menekanku—"
"Ngompol lagi?" Harry nyengir dan kilatan amarah muncul di mata Hermione.
Pintu dibanting dan tinggallah Harry terbahak sendiri di balik selimutnya.
Pagi ini Lily lebih segar dengan model rambut barunya. Akibat operasi lalu, rambut Lily kini pendek. Entah karena efek obat yang ia konsumsi atau kurangnya perawatan, rambut merah Lily sangat susah diatur. Kusut dan rapuh. Kemarin, setelah dari rumah sakit, Hermione mencoba keahliannya yang lain untuk bermain dengan gunting.
"Saat pelarian dulu, Mumlah yang memotong rambut Dad dan membersihkan jenggotnya. Jadi, Mum sudah punya pengalaman dalam memperbaiki model rambut,"
Tidak banyak bagi Hermione untuk mengubah tatanan rambut Lily. Sebelum dirapikan, rambut merah Lily tampak seperti model rambut gondrong Harry ketika di Hogwarts dulu. Dan sekarang paling tidak Hermione akan merapikan saja beberapa bagian rambut yang tidak rata. "Seperti rambut Dad saja, Mum!" pinta Lily. Bagian lehernya melingkar handuk yang pasangkan Hermione agar nanti rambut yang jatuh tak mengotori pakaian Lily.
"Yups, itu sangat mudah,"
Ya, sama seperti model rambut Harry, hanya saja Lily memiliki poni yang cukup terlihat di bagian depan. "Padahal merapikan saja, tapi rambutmu sebanyak ini yang terbuang. Tebal mirip rambut Dad," goda Hermione. Ia menyisir hasil akhir potongannya. Lily tersenyum di depan cermin. Puas.
"Terima kasih, Mum. Kau—"
"Aku sudah terlalu banyak beriku ucapan terima kasih. Itu sangat indah, sayang. Mum sangat mencintaimu,"
"Me too, maafkan aku kalau selama ini membuatmu terluka, Mum. Aku tak pernah memandang dari mana cinta yang selama ini aku dapatkan. Aku tak tahu harus menjadi seperti apa jika kau tak ada. Mungkin aku sudah seperti banyak squib yang lain—"
"Cukup Lily," telunjuk Hermione menahan pergerakan bibir Lily, "Mum mencintaimu apa adanya. Membuatmu merasakan kalau kau tak sendiri, sayang. Mum tak mau membuatmu sedih," ungkap Hermione emosional. Ia senang jika Lily mau kembali menerimanya. Bahkan jauh lebih baik.
"Morning, sweetie," Harry turun dari tangga dan menghampiri Lily yang sibuk menulis di atas kertas. Ia mengecup dahi Lily pelan.
"Morning, Daddy," jawab Lily.
"Ahh, kau masih menulis lagu? Benarkah, kata Mum kau sedang ikut lomba cipta lagu?"
Lily mengangguk, "iya, Mr. Marchant yang mengajakku beberapa bulan yang lalu," Lily melanjutkan menulis liriknya.
"Bernyanyi juga?" Harry penasaran.
"Ahh—"
Tiba-tiba pandangan Harry teralih dengan sosok berperut besar muncul dari balik pintu toilet dengan wajah memerah. Keringat yang keluar membasahi area wajah hingga bagian punggung. "Hermione, kau tak apa?" panggil Harry.
Lily meletakkan pensilnya dan mengikuti arah pandang Harry. "Mum?"
"Aku tak apa, Harry. It's OK, Lily. Tadi seperti ingin pup. Tapi bukan, hanya kontraksi ringan," Hermione menyeka keringatnya. Ia menerima uluran tangan Harry yang siap menuntunnya untuk duduk.
Kedua ayah dan anak itu kembali lega mengetahui masalahnya tidak serius. "Ayo, sayang. Ini sudah hampir jam sembilan. Nanti kau ditunggu Mr. Marchant," pinta Hermione membantu Lily membersihkan alat tulisnya.
"Oke, Mum. Ayo—"
Suara kepakan burung sempat menahan Harry mengikuti Hermione dan Lily yang berlalu keluar dari rumah. Ada burung hantu berwarna coklat kehitaman bertengger di kusen jendela dekat dapur. "Pergilah dulu, nanti Dad susul," pinta Harry membiarkan Hermione dan Lily pergi terlebih dahulu.
"Baik, Lily. Revisi liriknya bagus sekali. Kau sudah paham semuanya, kan?"
"Sudah, Mr. Marchant,"
Lily kembali mengambil kertas berisi lirik yang baru saja ia tulis ulang beberapa menit lalu. Lagunya sudah siap. Itu adalah projek kompetisi cipta lagu yang sedang digarapnya dengan Mr. Marchant. Semua sudah siap, tinggal menunggu merekam suara Lily saja.
"Selamat pagi!" Harry muncul dari pintu depan bersama Lucky. "Ada Mr. Potter," serunya.
Mr. Marchant menyalami tangan Harry dan mempersilakan untuk duduk di samping Hermione. "Akhirnya datang juga. Kalau begini, kan, enak kumpul semuanya," kata Mr. Marchant girang.
"Iya, saya juga penasaran apa benar Lily bisa bernyanyi, saya tak percaya, Mr. Marchant!"
Semua orang tertawa dengan ulah Harry yang menggoda Lily siap di depan microphonenya. Jill menyikut Lily pelan karena terlalu bahagia melihat sahabatnya digoda habis-habisan. "Anda lihat saja sendiri sebentar lagi. Ayo, semua diposisi masing-masing. Jangan lupa kertas liriknya. Jangan sampai lupa bagian kalian."
Up up up.. semua orang bergegas menuju microphon masing-masing dan memasang headphone ke telinga mereka. Semua berdiri kecuali Lily yang tetap duduk di kursi rodanya. "Semua ikut bernyanyi?" tanya Hermione. "Anda juga, Mrs. Marchant?" ulangnya.
"Ya, lagu ini tidak bisa dinyanyikan Lily sendirian kalau langsung. Harmonisasinya akan kacau, dan Lily bisa-bisa keteteran. Kita saja sudah menghilangkan part rapnya—"
"Rap?" Harry menyela.
Akane mengangguk, tersenyum lantas berkata, "kami tidak ada yang bisa rap. Ernest bisa tapi dia harus mengatur rekamannya. Sedangkan ini kita rekaman live, Mr. Potter," katanya pada Harry.
"Nah, apakah anda bisa bernyanyi, Mr. Potter? Mungkin bakat bernyanyi Lily datang dari anda?" Mr. Marchant menyerahkan selembar kertas lirik pada Harry. Upgrade U, itu judul yang tercetak tebal di bagian atas.
Harry tersenyum membacanya. Itu salah satu lagu favoritnya. "Suami saya biasa bernyanyi di kamar mandi, Mr. Marchant. Suaranya enak juga. Tapi setahu saya, suaranya lebih ke opera. Klasik. Tidak tahu kalau dia juga suka RnB," kata Hermione.
"Wow, berarti benar bakat Lily menurun dari Anda. Penyanyi terkenalpun banyak yang berawal dari penyanyi kamar mandi, Mr. Potter," kini giliran Harry yang jadi bahan tertawaan mereka, "begini, kalau anda tahu dan suka lagu ini, paling tidak anda bisa mengikuti lagunya. Cobalah mengisi bagian part rapnya, Mr. Potter. Musiknya tetap seperti aslinya jadinya mudah diikuti,"
Mendapat semangat dari banyak orang, Hermione yang mendorongnya untuk mencoba dan Lily yang tampak ikut memohon membuat Harry menyerah dan mau ikut.
Harry mendapatkan microphonenya dan mengenakan headphone. Ia diposisikan berdiri tidak jauh dari posisi Lily. Dalam hitungan ke tiga, musik berputar. Untuk bagian Harry, Ernest meminta Harry cukup mengisi suara di bagian rap saja. Untuk awal tidak perlu.
"Mengapa memilih lagu ini, Mr. Marchant?" tanya Hermione di sisi Ernest, ia lantas menjawab, "ini saya pilih selain untuk melatih Lily bernyanyi lagu RnB, juga untuk melatih bicaranya setelah suaranya sempat hilang dulu,"
Ya, Ernest sengaja memilih lagu bertempo cepat agar Lily kembali lancar dalam berbicara. Kata-kata yang padat dan rapat dalam satu ketukan ikut melatih lidah, bibir serta napas Lily untuk bekerja lebih optimal. "Dan seperti yang anda lihat di latihan-latihan sebelumnya, Lily bisa menyanyikannya," kata Ernest penuh keyakinan.
Harmonisasi antara Akane, Jill, dan Lucky yang menjadi backing vocal Lily sangat cantik mengingat suara mereka saling bersahutan tepat pada bagian masing-masing. Hermione dan Harry mengamati Lily ketika bernyanyi. "Di begitu lepas saat bernyanyi," batin Harry.
"Konsentrasi bagian anda, Mr. Potter. Sebentar lagi,"
Setelah bagian Lily, suara Harry masuk dengan melafalkan kata-kata cepat namun bernada. Semua terpanah dengan apa yang sedang Harry lakukan. "Harry!" batin Hermione tidak percaya jika. "Ini rupanya sumber bakat Lily, Mrs. Potter!" bisik Ernest di samping Hermione.
Hampir saja Lily melupakan partnya setelah Harry selesai. Untung saja, Lily bisa menyiasati napasnya karena terlalu terpukau dengan suara merdu ayahnya. Meski dengan posisi duduk, Lily bernyanyi dengan nada tinggi yang cukup stabil.
Lagu selesai, dan semua bersorak girang. Harry berlarik dan memeluk tubuh Lily saking bahagianya. "Wow, kau hebat, Lily!" kata Harry setelah mencium hidung putrinya. Kacamata mereka sampai bertabrakan.
"Dad juga, suara Dad keren!" tutur Lily sama bangganya.
"Baiklah, mungkin kau harus minum dulu, Lily, sebelum melanjutkan rekaman yang sebenarnya," Mr. Marchant beralih masuk ke studio rekamannya. Menyalakan beberapa alat yang penuh tombol dan tuas-tuas berwarna-warni dengan keterangan-keterangan pemrograman tentang musik.
Lily tampak yakin dengan ajakan rekaman selanjutnya. "Ada lagi?" tanya Hermione.
"Yups, ini yang akan diikutkan lomba nanti, Mrs. Potter. Harus ada demo lagu yang akan dikirimkan untuk dilakukan penjurian. Dan Lily harus menyanyikannya," Akane mengeluarkan air putih untuk semua orang yang baru selesai bernyanyi.
"Oh, ya, pantas kalian bingung," Ernest kembali keluar dan menyerahkan dua lembar kertas kepada Lily. "Jadi, ada kompetisi mencipta lagu untuk remaja. Dan saya yakin memberikan kesempatan ini untuk Lily. Ia menciptakan sendiri lagunya. Semua musik sudah direkam sebelumnya. Bahkan putra sulung kalian ikut membantu memainkan instrumen gitarnya. Dia juga punya bakat musik yang hebat. Skill gitarnya saya acugi jempol,"
James, sejak liburan ia memang sering ikut menemani Lily setiap berlatih vokal bersama keluarga Mr. Marchant. Al pun ikut, namun putra kedua Potter tidak banyak berkomentar saat mereka ditanya apa yang dilakukan ketika menemani Lily berlatih.
"Dan sekarang, kita siap merekamnya."
Lily dituntun masuk ke dalam ruang rekaman. Ia didorong menuju depan microphone oleh Hermione. Namun, tiba-tiba Jill bertanya, "apa tidak sebaiknya Lily bernyanyi dengan tidak duduk, Dad?" tanya Jill pada Ernest.
"Lagunya butuh olah napas yang baik. Kalau Lily tetap duduk, bisa saja keteteran," kata Jill menambahkan.
Semua saling pandang. Benar juga apa kata Jill. Rekaman ini tidak main-main. Semua harus baik. Dan memilih Lily untuk rekaman dalam posisi berdiri akan mempermudah Lily dalam mengolah pernapasannya. "Benar, aku berdiri saja," pinta Lily.
"Tapi—"
"Aku bisa pegangan, Mum. Kakiku sudah lumayan kuat, aku yakin,"
Hermione meminta persetujuan Harry sebelum ia menarik kursi cukup tinggi agar Lily mendapat pegangan untuk menahan tubuhnya. "Bersiaplah, Lily," kata Ernest mulai menghitung mundur. Musik pembuka pun terdengar.
"Pertama kali saya mendegar Lily bernyanyi lagu ini, saya merinding. Saat saya tanya apa inspirasinya sampai bisa membuat lagu ini, dan dia menjawab.. anda, Mrs. Potter," Akane menyerahkan kertas lirik lagu karya Lily.
Hermione membaca bait demi bait lagu itu. When I Look at You, judul yang dipilih Lily untuk lagunya. Harry memandang Hermione penuh kebanggaan. Mereka kembali mengamati Lily bernyanyi.
I see forgiveness, I see the truth.. You love me for who I am, like the stars hold the moon..
I'm not alone..
Lily sukses memainkan perasaan mereka yang mendengar suaranya. Terutama Hermione, ia menangkap beberapa bait yang ia ingat, itu kata-kata dan janjinya pada Lily. Mencintainya apa adanya. Hermione bak ikut mengalir dalam lantunan suara Lily.
Lagu mulai masuk dalam bagian bridge.. Lily mengambil nada cukup tinggi.
All I need every breath that I breathe.. Don't you know you're beautiful..
Apa yang kini Hermione rasakan penuh dengan luapan emosi. Bahagia, haru, sedih, bangga, semuanya. Lily seolah mencurahkan semua perasaannya terhadap dirinya dalam lagi itu. Hermione sukses menangis. Harry berusaha menenangkan istrinya dengan menggenggam tangan Hermione erat.
"She's wonderful!" bisik Harry dan Hermione mengangguk puas.
Harry, Hermione dan Lily pulang dengan keadaan puas. Baru saja mereka menyaksikan betapa cinta semakin indah jika diucapkan dengan penuh ketulusan. Lily sudah melakukannya. Dengan lagu, ia mampu mencurahkan semua perasaan cintanya pada Hermione.
"Aku semakin tenang dengan semua ini. Aku yakin kalau aku bisa bertahan dengan keadaan ini, Mum, Dad!" Lily bercerita penuh optimisme sepanjang jalan. Harry mendorong kursi Lily dengan linangan airmata. Ia takut jika mengatakan 'iya' pada Lily disaat batas waktuputrinya semakin dekat.
Tangan Hermione terus menggenggam tangan kurus Lily.
"Oh, ya. Tadi bukannya ada burung hantu yang ke rumah, ya?" tanya Hermione sesampainya di rumah. "Ada apa? Burung milik siapa? Aku tak pernah melihatnya sebelumnya,"
"Dari Rita Skeeter," ujar Harry lantas membuat Lily menahan napasnya.
Hermione hanya bisa diam berusaha terlihat tenang di dekat Lily. "Acara konferensi pers untuk Lily diadakan lusa, sore hari. Dan aku sudah menghubungi Teddy untuk ikut membantu kita di sana. Kebetulan Teddy beberapa hari ini ditugaskan untuk keamanan acara-acara besar. Dia bertugas juga di Daily Prophet untuk acara Lily lusa." Harry menyerahkan perkamen kiriman Rita pada Hermione agar membacanya.
"Ya, benar. Lily kau—"
"Aku siap, Mum. Sangat siap!" Wajah pucat Lily mengembang dengan senyuman menyakitkan.
- TBC -
#
Hehehe.. mungkin ada bagian di awal yang seharusnya masuk rate M, maaf untuk yang belum cukup umur. Ini sebenarnya tantangan dari teman Anne buat menyelipkan sedikit sesuatu yang benar-benar akan menggambarkan Harry memiliki sisi 'kemesuman' yang cukup besar. *tolong yang itu disensor* Ya, mengingat karena Harry punya anak dengan Ginny cukup banyak dengan jarak yang nggak jauh. Ada alasan membuat karakter Harry dewasa begitu. Itu alasan teman Anne buat tantangan seperti ini.
Oke, selain itu Harry Anne buat bisa ngerap. Yup, karena Anne tahu kalau Daniel Radcliffe jago banget sama yang namanya ngerap, suaranya kalau nyanyi juga keren. Anne punya beberapa lagunya dari album soundtrack broadway yang ia mainin sekaligus nyanyikan soundtracknya. Kalian sudah pada tahu, kan? Nah, Anne jadi enak saja kalau mau bayangin Harry bisa ngerap. Yang belum tahu, bisa cari videonya Daniel di YouTube :)
Untuk lagu Upgrade U itu lagunya Beyonce sama Jay-Z, kalau When I Look at You itu lagunya Miley Cyrus. Informasi saja, Anne suka banget nyanyiin lagu-lagu ini.
Sudah dulu, ya. Anne besok kuliah pagi. Tinggalkan review kalian. Terima kasih atas perhatiannya, ini belum selesai.
Thanks,
Anne x
