Hi, everyone!
Anne muncul lagi dengan chapter 14. Maaf lama lagi. Ya begitulah, urusan banyak. Jadi mungkin akhir-akhir ini Anne akan agak lama updatenya, tapi tenang.. Anne akan berusaha untuk tetap update kilat. Jangan sedih, ya! :)
Balas review dulu, ya. Lama nggak balas personal.
Ninismsafitri: Maaf, ya. Urusan kuliah maksa buat fokus. Bentar, ya, adiknya Lily masih seneng di perut. Hehehe konferensi persnya di chapter ini. Thanks :)
Gabby-chann: Hahaha, Harry suka nyanyi-nyanyi kece di kamar mandi. Aduhh maaf kalo sampe lumutan. *lebay, ih* Ini udah aku update lagi. Thanks :)
Syarazeina: Tantangannya berhasil, ya. Aku kesusahan kalau buat yang rate M. Bayangannya belum banyak. Maklum masih kecillll *kecilnya segini besarnya seberapa* Nah, coba deh nonton Daniel ngerap. Keren parah. Kalau Harry? Emmm ya anggap saja kayak Daniel. Adiknya masih anteng di perut. Bentar lagi, kasihan juga sama Mione perutnya nanti kebesaran.. :)
Baiklah, langsung saja, yuk! Oh ya maaf kalau masih banyak typo. Anne ngetiknya pakai ngantuk! :)
Happy reading!
"Bagaimana dengan Vigor?"
"Vigor?"
Harry mengernyit menimbang lagi usulan Hermione. Usulan kelima setelah Gale, Fane, Gavyn, dan Deriel. Mereka harus saling berteriak mengingat Harry sedang sibuk membersihkan jenggotnya di kamar mandi sementara Hermione duduk bersandar di ranjang kamar mereka.
"Ah ha, terdengar hebat, bukan?" kata Hermione sambil melanjutkan membaca lembar buku berjudul Nama-Nama Indah dan Hebat untuk Buah Hati Tercinta, yang baru ia beli. Di lembar selanjutnya mulai masuk ke bagian nama-nama berawalan huruf W.
Suara air kran memancar deras semakin menyamarkan suara Harry dari kamar mandi. Hermione memilih membaca nama-nama lain sebelum Harry kembali masuk ke kamar dengan wajah lebih fresh. "Atau kau ingin memberi nama mereka dengan nama orang-orang yang kita kenal lagi?" Hermione menutup bukunya. Harry masuk.
"Ahh aku rasa tidak. Kali ini aku ingin lebih kreatif untuk menamai anak-anakku," Harry mengecup perut Hermione cepat, mengucapkan selamat pagi kemudian duduk di sisi Hermione dengan senyuman terindahnya.
Mereka sampai tertawa. Untuk urusan nama, Harry memang tidak kreatf. "Sebenarnya aku sudah memikirkan nama-nama untuk mereka berdua. Kita butuh stok banyak untuk nama laki-laki dan perempuan. Paling tidak dua untuk laki-laki dan dua untuk perempuan,"
Sejak diketahui mengandung janin kembar, sampai di beberapa pemeriksaan selanjutnya, jenis kelamin kedua calon Potter kecil itu belum juga diketahui. Meski posisi keduanya di dalam rahim Hermione sangat bagus, kedunya seperti malu-malu untuk menunjukkan apa yang bisa dikenali dr. Sophia untuk menebak gender mereka.
Lelah karena tidak pernah berhasil mengetahuinya, Harry dan Hermione sepakat untuk tidak mencari tahu lagi dan memilih menjadikan kejutan saat keduanya lahir. "Aku sempat berpikir untuk memilihkan nama yang berawalan dengan huruf H. Ya, H," tutur Harry kini membuka buku yang sudah Hermione letakkan di sisi bantal.
"Kenapa huruf H?"
"Karena namaku dan namamu sama-sama berawalan dengan huruf H." Harry menutup lagi buku di tanganya, "kita bisa menamai mereka Hamish atau Halbert untuk laki-laki, atau Hailey atau Hilda untuk perempuan. Terdengar kuat juga, bukan?" mata Harry berbinar. Puas.
"Or Hedwig?" usul seseorang dari balik pintu kamar. "Tapi kalau perempuan aku ingin namanya dari nama bunga, sama sepertiku," Lily memajukan kursi rodanya.
"Lily? Kok bisa di atas? Kau bi—"
"Aku yang membawanya naik, Uncle.. Hi, semua, morning!"
Teddy menyusul Lily masuk dari belakang. Saat melihat sang anak baptis datang, Harry bangkit dari atas ranjang langsung memeluknya. Sepagi ini Teddy sudah mampir. "My boy, kenapa kau datang, bukannya—"
"Bagaimana sih, Uncle? Tak suka, ya, aku mampir?" Teddy cemberut. Rambutnya berubah kelabu. Hermione dan Lily sampai terbahak, bahkan Hermione merasa kembali 'basah' karena terlalu kuat tertawa. Semakin tua usia kehamilannya, semakin sering pula ia kencing di celana tanpa bisa ditahan lagi.
"Bukan begitu, Ted. Tumben pagi-pagi kau sudah datang. Sekalian ikut sarapan bersama, yuk," Hermione pelan-pelan bangkit. Ia meringis merasakan tendangan di perutnya.
Teddy mengangguk, "itu dia yang aku cari, Aunty!" serunya bahagia.
Di dapur, Hermione sibuk dengan berbagai macam bahan untuk membuat omelatte. Memasukkan telur, susu, serta bumbu-bumbu dalam satu bowl berukuran sedang dan mengocoknya. Sementara di sisinya sudah siap berbagai potongan daging asap, paprika, jamur, dan parutan keju. Saat ia memarut keju di meja dekat bak cuci piring, tiba-tiba sesuatu yang menekannya dari dalam terasa menghentak dan menyakitkan.
"Oughh!" pekik Hermione. Tangannya sigap memegang perut bawahnya.
Beberapa menit kemudian, Teddy masuk ke dapur dan mendapati Hermione membungkuk kesakitan di sana. "Aunty, Mione, kau tak apa? Perutmu sakit?" tanya Teddy panik.
"Aku panggil Uncle Harry, ya!"
"Tak perlu, Ted. Masih kontraksi ringan. Sebentar lagi juga reda. Aagghh—" Hermione mengerang lagi. Sejak semalam, ia sudah merasakan kontraksi yang teratur meski masih dalam hitungan beberapa jam jarak antara satu kontraksi dengan kontraksi lainnya. Ia merasa belum yakin waktunya untuk
Rambut Teddy kembali berubah warna, kali ini orange. "Kau tampak tersiksa sekali, Aunty? Biar aku yang membuatkan omelattenya. Kau duduk saja." pintanya namun Hermione menolak.
"Aku masih kuat, Ted. Ini sudah membaik. Biar aku lanjutkan sendiri,"
Hermione kembali mengambil pengocok telurnya dari tangan Teddy, namun putra Remus itu menolak. "Biar aku membantumu, kita kerjakan berdua, Aunty," mohon Teddy dan Hermione mengangguk.
Bangku yang sempat disingkirkan karena Lily kini tak lagi menggunakan kursi di ruang makan lagi kembali di masukkan. Untuk siapa? Tentu saja untuk Teddy. Lily tetap nyaman di atas kursi rodanya.
Teddy mengkosongkan isi gelas berisi susunya. Menyesapnya sampai habis dan ditutup dengan badannya yang bergerak-gerak seperti tersetrum. "Biasa saja, Ted," seru Lily, omelletenya belum habis.
"Kau sudah dua puluh tahun, tapi sikapmu masih.. oh Merlin! Bahkan kau sudah bergabung dengan Auror, Teddy!" Harry meletakkan gelasnya.
"Kau tenang saja, Ted. Bahkan sang kepala Auror pun biasa manja kalau tak pakai seragamnya, Ted," Hermione mencondongkan badan ke dekat Teddy, "aku berani bertaruh," bisiknya. Pelan tapi Lily dan Harry mampu mendengarnya dengan jelas. Harry mendapat serangan balik.
Meja sampai bergetar akibat pukulan tangan Teddy terlalu bersemangat tertawa. Harry hampir gila dijadikan bahan tertawaan Teddy dan Lily sekaligus. Tapi tak apa, sesuatu yang jarang sekali terlihat diwajah Lily kembali muncul. Lily tertawa. Lily begitu bahagia pagi ini. Wajahnya pun tampak cerah dengan lipstik nude cenderung pink milik Hermione, menyamarkan bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.
"Besok, aku ada di kantor Daily Prophet sekitar satu jam sebelum acara berlangsung, Uncle. Dan semua draft acara sudah aku dapat dari hari kemarin. Aku membawa copyannya untukmu. Itu alasan sebenarnya aku kemari selain minta sarapan gratis," kata Teddy sambil menahan tawanya.
Lembaran bertuliskan Draft Acara Konferensi Pers Spesial Daily Prophet bersama Lily Luna Potter tercetak sebagai judul pembukanya. Tepat di bawah judul didiskripsikan keterangan tempat, waktu, moderator yang ditulis jelas nama Rita Skeeter, panelis dengan nama Lily dan keluarga Potter, siapa saja media yang diundang sampai tujuan apa acara itu diadakan.
Pada keterangan selanjutnya dipaparkan lebih jauh dalam bentu tabel yang bertuliskan susunan acara sampai detail lain mengenai tamu dan aturan-aturan lainnya. "Mereka membuatnya sampai seperti ini," komentar Harry lantas menunjukkannya pada Hermione.
"Rita yang akan menjadi moderatornya," kata Hermione.
"Tentu saja, selain Lily, dialah bintangnya," ujar Teddy sembari melirik ke arah Lily. "It's Ok, Lils. Semua akan baik-baik saja. Aku akan menemanimu besok," Teddy meraih tangan Lily dan mengelusnya. Lily sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. Sejak kecil di antara anak-anak Harry, ia paling protektif terhadap Lily. Si bungsu itu membuatnya menemukan sosok adik yang selama ini tak pernah bisa ia dapatkan dari orang tuanya sendiri.
Teddy sangat menyayangi Lily. Lily pun merasakan hal yang sama.
"Kalian semua akan bersamaku?" tanya Lily mulai merasa khawatir.
"Always, Lily!" Hermione mengangguk tegas.
"Semua.. sudah.. rapi,"
Satu persatu pakaian yang dikenakan Lily diperiksa oleh Hermione. Rok selutut putih bermotif bunga-bunga biru ditata rapi hingga menjuntai lima senti dibawah lutut, kaus biru muda bergambar bunga di bagian dada disamarkan dengan jaket biru berbahan woll buatan Molly. Rambut merah Lily hanya tampak mencuat sedikit dibalik headband rajutan yang juga buah karya Molly, neneknya sendiri. Selain mempercantik dirinya, headband itu sengaja ia pakai untuk menyiasati rambutnya yang pendek dan bekas operasi di bagian dahi dan belakang kepalanya yang sangat terlihat.
Dengan jari telunjuknya, Hermione memasukkan anak rambut Lily yang tampak keluar di sekitar telinganya. "Sempurna, kita tinggal tunggu Dad membuka temboknya," ujar Hermione. Lily mengangguk dan kembali memperhatikan Harry di depan tembok dengan susunan batu bata yang cukup besar.
Ada gerakan mengetuk ketika Harry selesai mendengarkan pesan potranus yang datang ke hadapannya. Lily kenal potranus itu. Tidak lain itu milik Teddy. Rangkaian pola ketukan menjadi kunci membuka tembok besar itu. Dengan perlahan bagian besar tembok bergerak menyebar. Menciptakan cela-cela bercahaya. Suara bising dari orang-orang berbicara mulai terdengar. Diagon Alley menyapa.
Harry datang. "Semua sudah siap. Teddy berpesan agar kita lewat jalan belakang untuk menghindari orang-orang melihat kita di sana. Ron juga sudah sampai," pesan Harry. Hermione mengangguk paham. Segera kemudian Harry merunduk mendekatkan kepalanya kepada Lily, "jadilah berani, Dad tahu kau kuat, sayang. Tetaplah tenang, karena kami selalu bersamamu." Harry mengecup dahi Lily.
"Aku akan jalan lebih dahulu, saat sampai di tikungan kalian langsung berbelok, aku akan menutupi kalian dari orang-orang. Mione!" Panggil Harry. "Sudah jelas?" tanyanya ulang.
Hermione hanya mengangguk. Tangannya sejak tadi meremas dress hamilnya kuat-kuat. Kontraksi semalam terasa lagi. "Ya, paham," jawab Hermione berusaha tenang.
Mereka lantas bergerak masuk ke area Diagon Alley. Ada satu jalan pintas sihir di mana tidak banyak penyihir tahu selain para tamu spesial yang akan diundang oleh Dialy Prophet sendiri. Di pertengahan jalan, tampak Ron dan Teddy sedang berdiri di dekat sebuah pintu. Mungkin hanya ada satu pintu saja di sana. Tidak ada yang bisa melihatnya jelas karena gelapnya jalan, Harry dan Hermione sampai menggunakan tongkatnya untuk sumber cahaya.
"Akhirnya kalian sampai juga," kata Ron.
"Tepat waktu, kan?" ujar Harry, ia mengangkat kursi roda Lily agar naik ke anak tangga menuju ujung pintu. Ron mengangguk.
"Tepat waktu, sangat tepat waktu. Tapi antusias para wartawan itu melebih ketepatan waktu kalian, Uncle," Teddy membukakan pintu dan membantu mendorong kursi Lily.
Harry dan Hermione saling pandang. Tidak ada yang salah, mereka datang sesuai waktu yang ditentukan oleh Rita di suratnya beberapa hari lalu. Tangan Harry menuntun Hermione yang tampak kurang baik. "Perutmu sakit? Mione, katakan saja kalau kau tak kuat," bisik Harry.
"Tidak, Harry. Hanya kontraksi kecil saja—"
"Tapi aku melihatmu kesakitan sejak semalam, Mione. Aku takut kau akan melahirkan sekarang. Kita bisa batalkan konferensi pers ini kalau—"
Hermione menahan pundak Harry, suaranya lantas memelan, "kalau kau benar-benar akan melahirkan sekarang," lanjut Harry lebih pelan. Mereka sedang berada di belakang ruang konferensi pers yang sudah penuh oleh jurnalis-jurnalis berbagai media penyihir. Itulah mengapa Ron dan Teddy tampak lega ketika Harry, Hermione dan Lily sampai di sana. Banyak yang sudah menunggu mereka.
"Harry, bahkan belum genap 9 bulan," elak Hermione. Kembali ia merasakan tendangan di bagian perutnya. Pinggul bawahnya seperti tertekan sesuatu yang berat.
"Kau lupa apa kata dr. Sophia? Kelahiran pada kondisi kehamilan kembar jauh lebih cepat dibandingkan kehamilan bayi tunggal. Mione, kau bisa saja melahirkan kapan saja," tangan Harry bergerak meraba perut Hermione dan mengelusnya pelan.
Bayi-bayinya menendang tepat di bawah telapak tangan Harry.
"Aku baik-baik saja. Aku akan bilang kalau aku akan melahirkan. Please, tetap berkonsentrasi dengan acara ini. Kasihan Lily. Kita harus masuk, Harry," Hermione memohon. Tubuhnya mulai bisa dikendalikan lagi. Rasa sakit itu perlahan hilang. Hermione kembali tenang. Ia yakin belum waktunya untuk melahirkan. Dirinya sudah menghitung berapa lama jeda kontraksinya terasa. Dan itu masih sangat jauh sekali.
Seorang wanita mendatangi Harry dan Hermione agar segera masuk ke ruang acara. "Mr. dan Mrs. Potter segera masuk dan menempati bangku di dalam. Mrs. Skeeter akan segera memulai," pesannya. Harry dan Hermione lantas mengangguk, bersiap untuk menghadapi pertanyaan apapun di sana.
"Baiklah, sesuai dengan jadwal, keluarga Potter sudah hadir di sini dan tentu saja bintang utama acara konferensi pers ini diadakan pun juga telah hadir," suara menyebalkan Rita menghentak kesadaran Lily, membuyarkan lamunannya tentang apa yang ada di balik partisi yang menutupi ruangan acara di depannya.
Jemari dengan kuku-kuku kecil sedang mengusap pipinya dari belakang. Lily merasakan semangat di balik usapan itu. Ia melirik Harry di belakangnya. Menggenggam jemari itu dan mengangguk yakin. "Kita hadapi bersama, sayang," bisik Harry kemudian mengecup dahinya.
Satu tarikan napas dalam dan menghembuskannya perlahan, Harry mendorong kursi roda Lily memasuki ruang. Kilatan cahaya dan suara jepretan kamera menyambut kemunculan mereka. Semua pewarta berdiri dari bangkunya. Mengaktifkan kamera mereka dan membidik tepat di wajah Lily.
Tidak ada kesan takut di wajah Lily. Ia tidak segan-segan menatap sorot kamera yang terus mengambil gambarnya tanpa henti. "Aku tak perlu takut.. aku harus kuat," semangatnya dalam hati.
"Selamat datang untuk Mr. Harry James Potter, Mrs. Hermione Jean Potter dan tentu saja.. si cantik Lily Luna Potter. Kami sangat merindukanmu, love," sapa Rita untuk pertama kali. Kilatan cahaya kamera kembali bersahutan. Lily mengangguk.
Rita mempersiapkan sesuatu di meja di hadapannya. "Untuk teman-temanku para media yang terhormat, silakan mempersiapkan pertanyaan kalian setelah sesi saya menjelaskan perkara utama yang menjadi point terselenggaranya konferensi pers ini selesai saya paparkan, jelas?" seperti mengomando para jurnalis muda, sebagai senior Rita tak ragu menyuruh ini itu untuk para juniornya di bidang media berita.
"Bersama saya Rita Skeeter, dari pihak Daily Prophet sebagai moderator, akan memaparkan apa maksud dan tujuan acara ini berlangsung. Saya nyatakan konferensi pers ini dimulai," sejenak Rita menghadap pena bulunya yang melayang di sisi kirinya, menerima secarik kertas dari note kecil yang ikut melayang penuh dengan tulisan dari si pena bulunya.
Rita kemudian membacakan beberapa hal mengenai kondisi Lily, berita simpang siur tentang kondisi Lily sampai gosip-gosip tak sedap dari keluarga Potter dan mereka yang dekat. "Kurang lebih setahun, Lily Luna Potter tak muncul di hadapan publik sihir. Menghilang, sejak 1 September tepat dimana perhitungan kita tentang si bungsu Potter.. segera memasuki tahun pertama di Hogwarts. Namun, tidak ada, dan bergantilah berita keberangkatan para murid ke Hogwarts yang selalu menjadi headline banyak media dengan berita baru tentang.. Lily Luna Potter seorang squib,"
Lily menelan ludahnya susah payah. Masih tetap tenang, ia kembali mendengarkan Rita berbicara tanpa sedikitpun melihat kearah wanita tua itu. "Dan hari ini pula, kami –tentu saja dengan usahaku, Daily Prophet mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi berbagai kabar buruk yang terus menjadi perbincangan di banyak kalangan penyihir. Untuk membuka sesi pertanyaan, saya akan meminta Mr. Harry Potter sebagai orang tua Lily untuk menjelaskan singkat terlebih dahulu bagaimana kondisi Lily sebelum rekan-rekan media mengajukan pertanyaan lebih jauh. Silakan," Rita menyerahkan waktu kepada Harry mengambil alih konferensi persnya.
Harry menarik ujung jas hitamnya dan memperbaiki posisi duduknya. "Terima kasih atas kesempatan ini untuk semua pihak yang telah membantu. Mrs. Rita Skeeter dan tentu saja Daily Prophet, dan semua rekan-rekan media yang bersedia hadir. Jadi memang benar, apa yang selama ini menjadi perbincangan hangat oleh banyak penyihir. Mengenai putri saya," Harry melirik Lily yang terus diam, "Lily, benar seorang squib,"
Kembali suara kilatan cahaya kamera berbaur dengan suara bisik-bisik ramai para tamu yang hadir. Bahkan penyihir lain yang sedang berada di Diagon Alley ikut masuk dan melihat jalannya konferensi pers. "Dimohon semuanya tenang," teriak Rita garang.
"Dan selama ini, Lily masih dalam keadaan baik-baik saja." Tutur Harry langsung disambut dengan acungan tangan para jurnalis untuk mengajukan pertanyaan mereka.
Segera, mungkin Rita mengambil alih kembali masanya, "tenang, baiklah rupanya kalian semua sudah tidak sabar. Jadi langsung kita buka saja sesi tanya jawabnya. Saya sudah melihat yang lebih dulu mengangkat tangannya tadi. Silakan untuk anda yang di tengah, yak.. anda yang pakai jubah hijau," tunjuk Rita pada seorang jurnalis wanita.
"Saya Karen dari majalah mode penyihir ingin menanyakan tentang maksud dari 'baik-baik saja', Mr. Potter. Sejak Lily masuk ke ruangan, ia tidak berjalan seperti yang lain. Tapi duduk dengan kursi aneh beroda dengan tombol anehnya itu. Apa ada masalah dengan kakinya? Atau hanya gaya masa kini di dunia Muggle?" tanyanya aneh. Sangat terlihat sekali dari mana latar belakang ia bekerja.
Rita mendengus kesal, petanyaan pertama yang tidak berbobot. "Dasar jurnalis muda," batinya. "Silakan, Mr. Potter bisa dijawab," Rita menyerahkan kembali kepada Harry.
"Itu bukan gaya, tapi memang Lily mempunya masalah dengan kakinya. Lily tidak bisa berjalan akibat kecelakaan bus yang dialaminya beberapa bulan yang lalu,"
Riuh suara komentara lagi-lagi membuat suasana berisik. Karen kembali berdiri, "kecelakaan? Lalu bagaimana kondisi Lily? Itu artinya saat ini ia tidak baik, Mr. Potter," tanyanya lagi.
"Ya—" potong Lily tiba-tiba. Harry terkejut bukan main, Lily akhirnya bersuara, "saya memang sedang tidak dalam kondisi baik, namun saya yakin merasa baik. Itu juga mengapa saya semakin susah ditemukan. Saya sempat mengalami koma,"
"Koma?" ulang Karen. Penyihir tak tahu istilah itu.
"Sederhanyanya tidak sadarkan diri dalam waktu tertentu dan keadaan yang.. cukup rawan," sambung Hermione. Sudah saatnya ia membantu Lily.
Satu orang kembali bertanya, "dari kabar yang sempat beredar bahwa ada konspirasi untuk menyembunyikan keadaan Lily dari publik sihir, apakah kecelakaan itu juga hasil dari konspirasi keluarga?" tanya seorang jurnalis laki-laki berambut hitam.
Lily menggeleng, "tidak ada konspirasi apapun yang dilakukan oleh keluarga saya untuk menyembunyikan saya dari mata publik. Murni semuanya datang karena kecelakaan. Tanpa ada sangkut paut dari siapapun. Mereka, keluarga saya, selalu berusaha untuk melindungi saya dari masalah-masalah ini," suara Lily tegas tanpa ragu.
"Melindungi, tapi mengapa harus menjauhkan anda dengan para media, Ms. Potter?"
Harry menyela. "Orang tua tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Menjauhkan Lily dari media sihir untuk sementara waktu adalah cara yang tepat disaat mental Lily sedang tidak stabil. Kami tahu bagaimana posisi Lily saat itu. Dan demi kondisi Lily sendiri, kami sepakat untuk tidak mendekatkan Lily dengan dunia sihir demi meminimalisir munculnya berbagai masalah baru," tuturnya.
Satu persatu jurnalis dari berbagai media mengajukan pertanyaan mereka. Dan dengan lancar dan tegas, bergantian antara Harry, Hermione, dan Lily menjawab satu persatu pertanyaan itu. "Saya tetap melakukan aktifitas seperti biasa. Saya menempuh pendidikan Muggle dari rumah dan menghabiskan waktu untuk menekuni hobi baru," cerita Lily menjawab pertanyaan tentang aktifitasnya setelah positif menjadi sebagai squib.
"Sihir tetap akrab di diri saya mengingat siapa Dad dan Mom. Aku tidak bisa memungkiri mereka adalah penyihir. Aku tak masalah," Lily menghapus peluhnya.
Hampir satu jam konferensi pers berjalan. Waktu batas akhir acara sudah hampir sampai. Rita bergegas menghentikan sesi tanya jawab dan menyudahi acara yang dipandunya. "Mengingat waktu kita hampir selesai, saya mempersilakan satu orang saja menyampaikan pertanyaannya pada panelis kita. Terakhir dan kali ini saya membuka kesempatan pada siapapun itu. Tidak hanya dari para jurnalis, tapi penyihir yang ikut menyaksikan acara ini juga boleh. Silakan angkat tangan dan sampaikan pertanyaan anda," kata Rita mempersilakan siapapun yang hadir untuk mengajukan pertanyaan terakhir.
Karena terlalu banyaknya pertanyaan yang sudah disampaikan oleh para pewarta berita, tidak ada satupun yang mengangkat tangannya dan bertanya. Sampai pada saat Rita menghitung mundur memberikan kesempatan terakhirnya, seseorang berpakaian hitam dengan jaket kulit mengkilat di badannya. Hermione tertegun melihat siapa yang mengangkat tangan di barisan belakang. "Dia—"
"Saya ingin bertanya kepada Ms. Potter. Setelah semua pemberitaan tidak jelas dan gosip-gosip menyudutkan tentang kondisi anda dan keluarga beredar di berbagai media, yang saya tanyakan cukup sederhana. Secara singkat, apa yang bisa anda katakan untuk menjawab semua berita-berita itu?" tanya si pria berjaket kulit.
Lily diam sejenak. Memandangi semua orang yang penasaran dengan kata penutup darinya. Lily menghembuskan napasnya lebih tenang, memandang Harry yang mengangguk padanya.
Terlintas satu kalimat yang selama ini ia pendam setiap ia mengingat keadaanya.
"Aku masih bernapas dan.. aku masih hidup,"
Rita segera menutup acara dan mempersilakan Harry, Hermione, dan Lily kembali masuk ke dalam tanpa mempedulikan para pewarta berita terus memburu mereka dengan pertanyaan tambahan dan serangan sorot kamera. Lily memeluk Harry begitu erat sesampainya mereka di ruangan redaksi. "Well done, Lily!" seru Harry bangga pada putrinya.
"Kau hebat, sayang!" tambah Hermione ikut memeluknya meski sebentar. Perutnya kembali sakit.
Ron dan Teddy ikut bergabung dengan Harry dan yang lainnya. Teddy langsung memeluk Lily dan menciuminya senang. "Kau hebat Lily, apalagi dengan jawaban terakhirmu dari pertanyaan yang diajukan Orsino Thruston tadi—"
"Orsino?" Harry terkejut. "Pria berjaket hitam itu Orsino Thruston?"
"Drummer The Weird Sisters, ya, aku melihatnya," kata Hermione. Harry memandangnya tajam.
Rita masuk dan memberikan minuman untuk mereka. "Kebetulan Mr. Thruston baru saja selesai menjalani wawancara dan pemotretan untuk rubrik profil penyihir. Dia sedang ada projek musik baru di luar Weird Sistersnya," kata Rita. Ia sangat tahu karena ia sendiri yang mewawancari Orsino sebelum konferensi pers Lily.
"Benar sekali, dan saya ingin mengajak serta Lily,"
Orsino masuk dengan menggulung secarik kertas di tangannya. Ia mendekat ke sisi Hermione. "Ugh!" Pekik Hermione merasakan tendangan bayi-bayinya begitu melihat Orsino. Ia masih mengagumi drummer itu sejak ia kecil. Dan kini ia beradapan langsung.
"Ehem—" Harry berdehem membuyarkan lamunan Hermione di masa-masa masih begitu mengagumi pria itu. Hermione kini menunduk menatap perutnya sambil tersenyum getir.
"Selamat sore, Mr. Potter. Saya tidak menyangka jika Lily begitu kuat menghadapi masalah ini. Saya salut dengannya," kata Orsino menyalami Harry.
Harry tersenyum dan menerima tangan Orsino hangat. "Saya pun bangga dengan putri saya. Dia luar biasa," jawab Harry. Dahi Lily ia kecup sekali.
"Jadi, saya tadi menyimak seluruh konferensi pers, dan mengetahui kalau Lily ternyata suka menyanyi. Dan," Orsino menyerahkan kertas yang ia bawa kepada Lily. "Sejak tadi, saya sempat memikirkan Lily bisa saya ajak untuk dalam projek saya. Begini, saya sedang memproduseri beberapa penyanyi baru untuk saya ajak menggarap album bersama. Dan kertas itu berisi lirik yang baru saja saya tulis. Hanya 20 menit namun saya rasa ini sudah cukup kuat menggambarkan kondisi Lily sesuai yang dijelaskan sepanjang konferensi pers."
Lily membuka kertas yang ia terima. Bait demi bait bertuliskan kata-kata yang indah. Diksi yang cantik memuat makna dalam tentang dirinya. "Alive?" baca Lily.
"Nanti akan saya kirimkan bentuk demonya melalui jalur Muggle. Pelajari dulu lagunya, Lily. Aku akan segera menghubungimu lagi untuk mencari tahu kepastiannya,"
Semua tampak senang, Lily akan mendapatkan akses besar untuk kembali masuk ke dunia sihir namun dengan kondisi dirinya sendiri. Tanpa perlu takut menjadi tak berguna sebagai seorang squib. "Saya akan pikirkan dulu, sir," jawab Lily.
Lily bisa tidur tenang. Semua masalah di dunia sihir sudah ia atasi dengan selesainya konferensi pers itu. Malam ini ia cepat sekali menuju alam mimpinya. Cukup ditemani oleh Hermione beberapa menit setelah menggosok gigi, Hermione tenang meninggalkan Lily tidur sendiri.
Kini gilar dirinya yang harus segera beristirahat.
Satu demi satu anak tangga Hermione pijak. Tepat di ujung anak tangga, Hermione merasakan sesuatu yang basah di bagian intimnya. Bukan kecing tiba-tiba seperti biasanya. Tapi basah seperti baru saja tumpah, dan banyak sekali.
"Aggh," pekiknya kesakitan. Kontraksi itu muncul lagi dan semakin menyakitkan. Matanya melihat apa yang sebenarnya membuatnya seperti terkencing-kencing. Dan, ya.. seperti ia pikirkan sebelumnya, itu bukan air kencing.
Hermione meraih pegangan pintu kamarnya, membuka pintu dan melihat Harry sedang memeluk guling di balik selimut. "Ha-Harry—" panggil Hermione. Tapi tidak ada respon.
Dengan kekuatan penuh, sebisa mungkin Hermione mengeluarkan suaranya. "Harry!" panggilnya sekali lagi.
Harry perlahan membuka matanya, masih tidak jelas karena tanpa menggunakan kacamata. "Mione, ada apa?" tanyanya. Tangannya sudah berhasil meraih kacamata yang ia letakkan di atas meja. Menatap Hermione dengan rasa kantuk yang masih kuat.
"Harry.. a-aku rasa.. ke-ketuban-ku..sud-sudah pecah!" kata Hermione terbata. Mennujuk piama bagian bawahnya yang basah kuyup. Rasa kantuk itu tiba-tiba hilang. Sontak Harry bangun dan bergegas membawa Hermione ke rumah sakit.
- TBC -
#
Huft.. rasanya Anne balik lagi jadi wartawan. Dulu Anne sempat jadi wartawan beneran di majalah tapi kerjanya cuma setahun. Kontrak. Soalnya masih SMA juga. Ya pengalaman yang keren. Terkadang salut juga Anne sama Rita yang hobi banget cari berita. Hahaha.. tapi ngeselinnya enggak. Maaf sekali lagi kalau ada typo. Anne nggak sempat perbaiki, ini juga sudah malam.
Anne tunggu review kalian. Tunggu chapter selanjutnya, ya! Mau Anne update cepat atau lama lagi? *nantang* ^_^
Thanks,
Anne x
