Hi, everyone!
Anne sudah update lagi, nih.. Chapter 15 sudah siap, tapi maaf kalau nanggung, ngetiknya kepanjangan dan Anne putuskan untuk berhenti dibagian ini. Jadi chapter 16 masih ada.
Terima kasih buat yang sudah review, ninismsafitri, riverhazel13910, gabby-chann, syarazeina, terima kasih sudah rajin review. Sabar, ya.. adiknya bentar lagi lahir, kok. Coba ikuti kisah Lily nyambut adiknya, yuk, di chapter ini.
Langsung saja! ^_^
Happy reading!
Untuk ketiga kalinya, Lavender menepuk pipi Ron untuk membangunkan suaminya itu. Tidak ada respon hingga lima menit. Lavender tak patah arang, ia mengeluarkan mainan dari laci berbentuk laba-laba lucu dan meletakkannya di pipi Ron. Cara paling ampuh yang ia dapatan dari toko George.
Syuttt! Tangan Ron refleks memegang benda asing yang menempel di pipinya. Dan..
"Bloody hell! Apa-apaan kau, Lav?" Ron memekik ketakutan.
"Won-Won sayangku, kau benar-benar tukang tidur. Ayo, kita ke rumah Harry sekarang!"
Lavender membuka lemari pakaiannya dan mengeluarkan beberapa potong pakaiannya dan pakaian Ron. Menjatuhkannya ke atas ranjang dan bergegas mencari sesuatu yang sekiranya dibutuhkan. "Ada apa ke rumah Harry? Sudah pagi, ya?" Ron melirik ke arah jam di dinding kamarnya. "Gila, ini masih jam 2. Mau apa kita ke sana. Aku tak mau menganggu urusan kamar Harry— ouch!" tepat di mukanya mendarat celana panjang hasil lemparan Lavender.
"Jaga mulutmu! Kita harus melihat Lily," kata Lavender mulai garang.
"Lily? Di sana, kan, ada Harry dan Hermione. Lily kumat lagi?"
Lavender langsung berbalik dan duduk di sisi Ron, membelai pipi Ron lembut sambil berkata, "Lily masih tidur, dan sebelum dia bangun kita harus ke sana segera. Harry dan Hermione tidak ada di rumahnya."
"Tidak ada? Darimana kau—"
Plakk.. Lavender menampar pipi Ron, namun tidak terlalu keras. "Kau benar-benar tak mendengar pesan potranus Harry tadi? Demi celana Merlin, ketuban Hermione pecah, dan Harry membawanya ke rumah sakit Muggle. Mereka tidak sempat membawa Lily juga. Dia masih tertidur. Jadi kita diminta untuk menemani Lily sementara sampai pagi nanti kita mengajaknya ke sana. Jelas?"
Ron hanya bisa memanggut-manggut paham dan langsung bergegas mengambil pakaian gantinya.
"Kau pucat sekali, sayang?"
Suara lembut itu membangunkan Lily dari tidurnya. Kepalanya tiba-tiba sakit. Berat sekali untuk berdiri. Matanya terbuka dan mendapati Lavender sudah berada di sisi ranjangnya. "Aunty Lavender? Selamat pagi," sapa Lily serak.
"Selamat pagi, sayang. Kau mau sarapan dulu atau mandi dulu?" Lavender menawarkan pada Lily dengan menunjukkan pakaiannya dari dalam lemari dan menunjuk ke arah pintu.
"Ahh.. tapi maaf sebelumnya, kenapa Aunty ada di sini? Mom dan Dad?"
"Ow, begini, sayang. Semalam Dad membawa Mom ke rumah sakit—"
"Rumah sakit? Mom kenapa?" tanya Lily panik.
Bukannya menenangkan, Lavender tertawa.
"Mom merasa akan segera melahirkan, sayang. Karena panik, Dad tidak sempat mengajakmu juga karena semalam kamu masih tidur. Jadi Dad berpesan untuk menemanimu sampai bangun. Setelah kau siap, Aunty akan hubungi Uncle Ron di rumah sakit untuk menjemput kita di sini untuk melihat keadaan Mom," ujar Lavender menenangkan Lily. Ia membenarkan rambut Lily yang acak-acakan dengan jarinya.
Badan Lily panas. Dahi Lavender mengkerut, "badanmu panas, Lils. Kau tak enak badan?" tanya Lavender panik.
"Ahh tidak, Aunty. Ini biasa tiap aku bangun tidur."
"Tapi wajahmu pucat, sayang!"
Lavender membantu Lily duduk. "Hanya pusing, sebentar lagi juga hilang. Jangan khawatir. Aku akan mandi dulu," kata Lily. Ia tersenyum mencoba membuat Lavender tidak khawatir.
"Aunty bantu?"
Lily menggeleng, "aku biasa sendiri. Mungkin tolong siapkan bajuku saja, aku tak bisa mengambilnya sendiri," ujarnya dengan mata berair. Rasa sakit itu semakin menyiksa.
"Baiklah, Aunty siapkan pakaianmu. Kalau sudah langsung keluar, ya. Aunty siapkan sarapan. Kalau ada apa-apa atau minta bantuan, panggil Aunty. Oke, sweetie?" Lily lantas mengangguk dan Lavender mengecup dahinya.
Di kamar mandi, Lily mengamati dirinya di depan kaca. Badannya semakin kurus dengan wajah pucat. Lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas seiring ia susah memejamkan mata setiap malam. "Kau tampak menakutkan, Lily!" katanya pada bayangan dirinya di kaca.
"Aaghh—" rasa sakit di bagian belakang kepalanya terasa lagi. Berat dan menusuk.
Lily menangis. ia mencari sesuatu di sisi wastafel dan menemukan handuk kecil tersampir di sana. "Aku mohon jangan sekarang, Tuhan. Aku mohon," batin Lily. Ia menggigit handuk di mulutnya untuk meredam erangannya. Ia tidak mau Lavender atau orang lain mengetahuinya sedang kesakitan.
"Kau harus kuat, Lily. Sebentar lagi kau akan jadi kakak!"
Terus menerus Lily menyemangati dirinya di tengah rasa sakit itu. Saat dirasakan nyeri itu perlahan hilang, Lily bersiap untuk melucuti pakaiannya dan bersiap mandi.
"Bagaimana keadaan Mom, Uncle?" tanya Lily sepanjang koridor rumah sakit. Dibelakang Lavender mendorong kursinya sambil ditemani Ron yang memainkan kunci mobil di jari-jarinya.
"Masih belum, Lils, kau sabar, ya! Sebentar lagi kita sampai di kamar Mom," Ron mengelus rambut Lily.
Berbelok ke bagian berbeda, mereka akhirnya masuk di department of Obstetrics and Gynecology. Bagian rumah sakit itu lebih didominasi oleh wanita dengan perut besar, berjalan beriringan dengan wajah kesakitan sampai suster-suster yang mondar mandir membawa map di tangannya.
Pandangan Lavender tertuju pada sebuah ruangan dengan tirai jendela terbuka. "Hai," panggilnya melambaikan tangan. "Itu mereka," bisik Ron pada Lily.
"Lily," Harry bangit dari kursinya dan memeluk Lily. "Maafkan, Dad, sayang. Kami tidak bisa membawamu juga semalam," kata Harry.
"Tak apa, Dad. Aku paham, lalu bagaimana adik-adikku? Mereka sudah lahir?"
"Belum, sayang. Masih butuh waktu," dan Lily pun mencari tahu dari mana asal suara itu. Hermione tersenyum dari atas ranjangnya. "Mom," panggil Lily. Dibantu Harry, Lily perlahan berdiri untuk bisa meraih tubuh Hermione di sana.
Lily melihat ke bagian perut Hermione. Pakaian khusus yang ia pakai sedikit tersibak, Lily melihat ada sesuatu yang leingkar di perut Hermione. "Sakit?" tanya Lily bingung.
"Ya, begitulah. Namanya juga mereka sedang mencari jalan keluar. Alat ini untuk memantau detak jantung mereka. Kau dengar suara-suara itu? Itu detak jantungnya, sayang. Terhubung dengan layar dan kertas yang terus keluar ini,"
Hermione memperlihatkan perutnya yang dililit oleh sabuk elastis berwarna putih. Sabuk khusus itu merekatkan dua buah benda berbentuk lingkaran berwarna biru yang dipasang di dua bagain perut yang berbeda. Lily latas mengalihkan perhatiannya pada dua monitor di sisi ranjang dan melihat apa yang dihasilkan oleh cetakan kertas yang pelan-pelan keluar dari mesin putih berukuran radio portable.
"Sudah berapa, Mione?" Lavender mendekat.
"Empat cm, semalam baru tiga, tadi terakhir di cek, sudah masuk empat. Sakitnya minta ampun. Apa dulu kau juga begini, Lav?" tanya Hermione sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lavender tersenyum geli, "semua wanita yang akan melahirkan pasti tahu sakitnya bagaimana. Kalau kau tanya mereka—" tunjuknya pada Harry dan Ron, "mereka hanya tahu enaknya proses membuat perut kita besar saja, Mione. Ahhh dasar laki-laki!"
"Bloody hell, Lavender. Laki-lakipun tak akan bisa kalau wanitanya tak mau. Kau tak tahu ada anak kecil di sini!"
Lily hanya bisa ternganga tak paham apa yang dibicarakan oleh paman dan bibinya. "masalah orang dewasa, sayang. Jadi jangan masukkan ke hati," bisik Harry.
"Aduhh sudah Ron, Lav, kalian ini masih seperti anak-anak. Tak malu dengan um— Agghh aouw!"
Semua pertengkaran itu berhenti seketika akibat mendengar teriakan Hermione. Kontraksi kesekian kalinya. Harry bergegas menghampiri Hermione dan membantu istrinya itu untuk sedikit memiringkan badannya dan memijat pelan bagian punggungnya. "Atur napasmu, tenang!" bisik Harry ditengah erangan. Hermione benar-benar merasakan kesakitan itu lagi. Jauh lebih cepat dan semakin sakit.
"Ini sakit, Harry, ouw God!"
Lily yang berada di dekat Hermione memilih mundur. Takut jika ia menganggu ibunya yang sedang kesakitan. Ia panik. "Aunty, Mom—"
"Kau tenang, Lily. Mom pasti kuat. Ia sedang merasakan kontraksi, memang menyakitkan tapi itulah yang harus Mom lewati sampai adik-adikmu lahir. Berdoalah semoga semuanya lancar, ya!"
Lily hanya bisa memeluk tangan Ron yang berdiri di belakangnya. Sekarang Lavender ikut membantu Hermione di sisi ranjang. Ikut menghapus peluhnya dan membantu memijat punggung.
Menjelang sore, dr. Sophia berkunjung ke ruang rawat Hermione. Ia membawa beberapa kantung berisi perlengkapan memeriksa. Ia datang bersama satu asisten wanita yang bertugas mencatat dan membantu mempersiapkan alat-alat.
Lily tersenyum saat dr. Sophia menjabat tangannya. "Wah, kakakny sudah tak sabar, ya?" tanyanya, Lily tersenyum lebar.
"Kontrasi dan detak jantung stabil, dok," koreksi asisten dr. Sophia setelah mengamati data-data yang muncul di layar monitor. Kemudian wanita berambut pirang itu menyerahkan satu kantung bersisi sarung tangan kepada dr. Sophia yang berdiri di sisi kaki Hermione.
"Saya cek dulu, Mrs. Potter. Sudah berapa jauhkah?"
Dr. Sophia memasukkan satu tangannya yang memakai sarung tangan ke balik pakaian Hermione. Sesekali ia melihat ke arah bagian bawah Hermione dan mencari tahu data lama dari sang asisten. Hermione meringis ketika merasakan dr. Sophia mengecek jalan lahirnya, "tujuh cm, cepat sekali. Tapi ketubanya masih butuh dikeluarkan lagi. Belum cukup maksimal," ia memperbaiki selimut Hermione. Melepaskan sarung tangannya dan membuangnya ke sampah.
"Sekarang?" tanya Harry, tangannya menggenggam tangan Hermione erat.
Dr. Sophia menggeleng, "tidak sekarang, Mr. Potter. Nanti saat masuk pembukaan delapan atau sembilan. Kalau memang belum pecah, saya akan lakukan nanti. Memberikan waktu untuk bayinya siap dulu," jelasnya.
Semua yang ada di ruangan mengangguk mengerti, kecuali Lily. Ia sangat asing sekali dengan proses melahirkan. Ini pengalaman pertamanya.
"Sayang, kau pulanglah saja. Mukamu pucat sekali, Dad takut kau kecapekan."
"Aku tak apa-apa, Dad. Tenang saja," jawab Lily pelan. Kepalanya kembali sakit.
Hermione sudah duduk bersandar di ranjangnya"Jangan memaksa, Lily. Oh, ya, bukannya tadi kau mendapat pesan singkat, Harry?"
Harry tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengeluarkan ponselnya dan membuka kotak pesan. "Ah.. iya, tadi Mr. Marchant mengirim pesan pada Dad, kalau pengumuman tentang lomba cipta lagumu sudah masuk taham seleksi akhir. Kemungkinan surat pemberitahuannya sudah dikirim ke rumah. Cobalah cek! Siapa tahu hasilnya bagus," katanya.
"Nah, sudah malam juga, ayo kita pulang, sayang. Kau belum minum obat juga, kan? Tapi bagaimana dengan kalian Harry, Hermione?" tanya Lavender.
"Orang tua Hermione sebentar lagi sampai bandara. Pesawat mereka belum mendarat dari Australia. Rencananya mereka akan langsung kemari. Tak apa, kalian pulanglah, kami titip Lily, ya!" pesan Harry mengantarkan Lily keluar ruangan. "Kembalilah lagi besok," lanjut Harry setelah mengecup dahi Lily.
Lily mengangguk paham. "Sampai jumpa, Dad. Bye, Mom!"
Keesokan paginya, Lily sangat bersemangat untuk menunjukkan surat hasil seleksi lagunya kepada Harry, khususnya kepada Hermione. Lagu yang ia ciptakan untuk Hermione lolos ke tahap final. Dan itu adalah kabar baik untuk kedua orang tuanya.
Sambil menunggu sarapan yang disiapkan oleh Lavender, Lily sedang bermain di halaman samping ditemani oleh Jill. Mereka membicarakan tentang pengalaman menjadi kakak.
"Ahh, awal memang menyenangkan, Lils. Kita akan jadi kakak. Akan ada anak yang lebih muda dari kita. Lucu sekali saat si Lucky bayi, tapi lama-lama.. ia menyusahkanku," Jill membantu Lily menyiram beberapa pot bunga daisy yang ia tanam di sana.
"Menyusahkan bagaimana?"
"Menyusahkan, Mom dan Dad lebih banyak waktu untuk Lucky. Aku ingat bagaimana dulu keluargaku sangat heboh menyambut kelahiran Lucky. Sampai-sampai mereka tak mempedulikanku. Mereka seperti menganggapku tak ada. Sampai dia lahir, semua mainanku diambil alih Dad dan diberikan kepada Lucky. Alasannya, sebagai kakak aku harus mengalah. Bukankah itu konyol?"
Pelan-pelan Lily menyadari apa yang mulai berbeda di dirinya. Apakah mungkin yang dialami Jill juga akan ia alami. Lily tahu, ia akan punya adik. Adik yang sudah sangat lama ia inginkan, yang ayahnya inginkan juga. Pasti ia harus mengalah untuk adik-adiknya nanti, apalagi akan ada dua bayi sekaligus. Ayah dan Ibunya akan terpusat untuk mengurus kedua adiknya.
Dirinya? Lily melihat dirinya yang begitu mengerikan. Kurus dan jelek. Bahkan ia sakit-sakitan. Kapanpun ia sadar bisa saja meninggal. Sakit yang ia rasakan semakin menyiksa, dan Lily merasa ia semakin tak kuat untuk menahan rasa sakit itu.
"Untuk apa Mom dan Dad mengurusiku yang sakit-sakitan ini? Adik-adikku nanti pasti butuh kasih sayang lebih dari mereka, tapi—"
Lily merusak lamunan jeleknya. Mencoba berpikir positif jika orang tuanya masih akan sayang padanya. "Aku masih butuh Mom dan Dad," batin Lily.
"Semoga mereka tak melupakanmu. Itu saja, tapi aku yakin mereka masih menyanyangimu, Lils. Aku pulang dulu, ya. Nanti sore mungkin aku, Mom, dan Dad menjenguk ibumu ke rumah sakit. Bye!"
Jill berlarik masuk kel halaman rumahnya dan menghilang di sana. Tinggallah Lily sendiri. Memikirkan kembali kemungkinan terburuk yang akan ia dapat saat adiknya lahir. "Melupakanku?" Lily tiba-tiba teringat kejadian kemarin, ia ditinggal sendiri di rumah saat ayahnya membawa ibunya ke rumah sakit.
"Bukankah Dad bisa saja berapparate dan membawaku ke sana dengan cepat? Mengapa Dad meninggalkanku dan memilih menitipkanku dengan Aunty Lavender? Ahh no no no.. Apa sih yang aku pikirkan?"
Lamunan Lily pecah setelah suara Lavender memintanya masuk, "sarapan dulu, sayang," teriaknya.
Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Lily terus mengamati surat yang ia bawa untuk ditunjukkan kepada orang tuanya. Mereka pasti akan senang mendengar kabar ia masuk babak final.
Beberapa meter di depan pintu, Lily mendengar suara Hermione sedang berteriak kesakitan dari luar. Kursi rodanya berhenti tepat di bagian sudut pengunjung ruang rawat Hermione. Melihat apa yang sedang terjadi di sana. Banyak orang yang sedang berkumpul.
Lily melihat orang tua Hermione, neneknya, Molly, dan para bibinya dari keluarga Ginny. Semua berkumpul di sana.
"Ini akan terasa sakit, namun tahan, ya. Tetap rileks,"
Dr. Sophia sedang melakukan pemecahan selaput ketuban Hermione. Sejak seharian penuh, ketuban Hermione hanya merembes tidak sampai maksimal. Oleh sebab itu harus dilakukan pemecahan ketuban untuk menghindari resiko buruk pada bayinya.
Sejenak, Harry sempat melihat ke arah Lily ditengah ia memegang lengan Hermione yang terus bergerak-gerak menahan rasa sakit. Teriakan Hermione membuatnya tidak berkonsentrasi dengan panggilan Lily yang menunjukkan suratnya.
Lily lemas. Tidak ada orang yang mempedulikannya di sana. "Jill benar," batinya sedih.
Lily memundurkan kursi rodanya dan tak sengaja menyentuh kaki seseorang, "Uncle George?"
"Hai, Lily! Kau di sini?" tanya George. Lily mengangguk, "aku tak kuat mendengar teriakan wanita yang kesakitan saat proses melahirkan. Aku mau ke toko saja,"
"Ke toko?" ulang Lily. George mengangguk. "Benar, lebih baik aku bermain dengan mainanku di sana, ada boneka baru bisa mengerti perasaan seseorang yang aku juga. Mungkin kau suka, Lily,"
George membiarkan Angelina untuk masuk melihat keadaan Hermione yang terus berteriak. "Ahh boleh aku ikut?" tanya Lily.
"Ow, Merlin, aku akan senang sekali. Mungkin kau akan jadi model promosiku. Kau kan sedang terkenal di Daily Prophet dan majalah lain. Kau bisa aku buat menarik perhatian banyak pengunjung. Tak apa, kan? Kau mau membantu Unclemu ini, nak?" ajak George bersemangat.
Lily tersenyum lebar. Ia mau. "Baiklah kita berangkat," George sudah mendorong kursi Lily namun dicegah.
"Sebentar, Uncle. Aku mau menitipkan ini," Lily menyerahkan surat yang ia bawa pada Angelina, "berikan pada Dad ya, Aunty," pesan Lily.
"Kau yakin mau ikut Uncle George? Tak di sini?" tanya Angelina.
Lily menggeleng, yakin. "Sudah banyak orang di sini, aku tak mau makin menyusahkan mereka saat Mom membutuhkan bantuan. Biar aku membantu Uncle George ke toko," ujarnya.
Kemudian Angelina paham dan mengantar George dan Lily masuk ke dalam lift. Mereka siap berapparate di sana.
"Harry, aku seperti melihat Lily tadi?" tanya Hermione saat banyak tamu yang hadir satu persatu pulang. Tinggal orang tua Hermione yang sedang bercengrama dengan Molly, Ron, dan Lavender, serta Angelina yang masih penasaran dengan alat-alat di dekat Hermione.
Angelina mendegar Hermione mencari Lily di sana. "Oh, iya. Lily memilih ikut dengan George ke toko. Katanya dia takut menyusahkan banyak orang di sini saat kau sedang kesakitan tadi," kata Angelina.
"Oh, Lily. Bahkan aku hanya melihatnya tanpa menyapa tadi. Kasihan Lily," ekspresi Harry berubah. Tiba-tiba pintu terketuk. Ernest, Akane dan Jill masuk sambil membawa bingkisan untuk Hermione.
Harry menyalami Ernest yang datang menjenguk. Sementara Hermione menjelaskan apa saja yang ia rasakan pada Akane dan menjelaskan secara sederhana kepada Jill.
"Oh, ya, saya tak melihat Lily. Di mana calon diva itu? Aku senang sekali dengan pencapaiannya," kata Ernest.
"Pencapaian?" tanya Harry tak mengerti.
"Iya, loh, Lily belum mengatakannya pada anda, Mr. Potter?" sahut Akane.
Harry dan Hermione saling pandang, mereka menggeleng. "Lily, kan, masuk final," jawab Jill lugu. Mereka syok. Harry berasumsi jika kedatangan Lily tadi untuk mengabarinya tentang hasil lombanya. "Saat ia menunjukkan suratnya, Lily sudah tak sabar sekali mengabarkan pada anda tentang hasilnya, Mrs. Potter," kata Jill lagi pada Hermione.
"Ah mungkin surat ini, Harry," Angelina mengeluarkan secarik surat yang diberikan Lily.
Arry membaca surat itu perlahan. Surat itu berisikan hasil seleksi penjurian cipta lagu yang diikuti Lily. Tertera nama dan judul lagu ciptaan putrinya di sana, dengan keterangan lolos final. "Lily pasti ingin memberi tahu ini, tapi kita tak memperhatikannya," bisik Harry pada Hermione.
"Lily pasti kecewa tidak mendapatkan kesempatan bertemu kita tadi," jawab Hermione menyesal.
Harry hanya bisa lemas menyadari kesalahannya pada Lily. Ia sudah melupakan Lily. "Oh, maafkan Dad, sayang," batin Harry sangat menyesal. Situasi seperti itu membuatnya harus ekstra membagi perhatiannya untuk Hermione dan juga Lily. Tapi itu sangat amat sulit.
Boneka bayi perasa yang dijual oleh George laris manis akibat promosi Lily. Semua orang yang penasaran dengan Lily lantas tidak segan untuk membeli boneka itu karena Lily sendiri yang menjelaskan bahwa boneka itu sangat bagus.
"Karena kau sangat bekerja keras hari ini, istirahatlah di dalam. Tidur, dan bawa boneka ini untuk menemanimu. Dia akan jadi teman yang sangat tahu perasaanmu, Lily."
George mengantarkan Lily menuju ruangannya dan membaringkannya di atas kasur yang biasa ia buat tidur. "Aku tak capek, Uncle. Pekerjaanku hanya menyapa pembeli dan mengajak mereka bermain saja. Itu menyenangkan!" kata Lily mengkoreksi.
"Ya, tapi sekarang giliranmu untuk istirahat. Uncle mau menghitung barang-barang yang kosong di bawah. Kalau kau butuh sesuatu, teriak saja, panggul Uncle. Oke!"
Dan Lily pun mengangguk paham. George meninggalkannya sendiri di sana. Bersama boneka bayi perasa di tangannya. Boneka itu cantik sekali, memakai baju warna merah muda, bermata biru, dan berambut keriting warna merah khas Weasley. Lily tersenyum melihatnya.
Boneka ditangannya tiba-tiba tersenyum saat Lily tersenyum. Beberapa saat kemudian saat Lily memikirkan masalah orang tuanya, boneka itu menangis. Dan saat Lily merasakan sakit di kepalanya untuk kesekian kalinya, boneka itu mengerutkan dahinya. Seperti menahan sesuatu.
Dan.. brukk!
Di lantai bawah, George bersiap untuk menutup tokonya. Langit perlahan mulai gelap, sebentar lagi malam. Namun, ketika George ingin mengunci pintu depan tokonya, suara teriakan bayi kesakitan terdengar jelas di dalam tokonya. "Suara anak siapa itu?" tanya George sambil mengamati sekeliling tokonya. Sepi tak ada orang selain dirinya dan..
"Lily!"
George berlari menuju ruangannya. Membuka pintunya dan benar saja.. boneka bayi perasa milik Lily sedang berteriak menangis kesakitan di pelukan Lily yang berbaring. George melihat tidak ada yang aneh dengan diri Lily. "Dia tertidur, tapi kenapa boneka ini menangis kencang seperti kesakitan, ya? Apa sihirnya rusak?" George segera mengambil boneka itu.
"Loh, boneka ini tampak bingung saat aku pengang. Dan memang aku sedang bingung. Berarti boneka ini tidak rusak, jadi—"
Perlahan George membalikkan tubuh Lily yang tidur tertelungkup sambil memanggil pelan nama Lily. "Sayang, kita pul—" mata George terbuka lebar melihat wajah Lily memucat dan hidung yang mengeluarkan darah.
"Lily!"
- TBC -
#
Yeahh Anne belum menyelesaikan kisah ini. Jadi bersabarlah, teman-teman. Kisah ini belum berakhir.. Maaf kalau masih ada typo, ya!
Anne tunggu reviewnya, seperti biasa.
Thanks,
Anne x
