Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih, dengan chapter 16. Oh, ya, ini adalah dua chapter terakhir, ya. Jadi masih ada satu chapter lagi, chapter 17, yang akan jadi chapter terakhir. Jadi, jangan lewatkan chapter 16 ini karena Anne mau munculkan Ginny dan Harry lebih dekat dengan cerita seperti yang sempat Anne posting di IG. Bagaimana kisahnya?
Ninismsafitri: Lily.. tanya dokter Hans saja, ya, di chapter ini.. thanks :)
Gabby-chann: Ya, aku baru nyadar kalau ini chapter terpanjang. Dan words setiap chapternya juga panjang-panjang, updatenya pun paling panjang. Heheh maaf, ya. Lily semakin nggak baik, baca saja kisahnya. Thanks :)
Syarazeina: Nasib jadi kakak, tapi aku nggak tahu jelas bagaimana jadi kakak, soalnya aku adik dan punya dua kakak (mirip Lily). Aku juga mau banget bonekanya, hehehe. Yuk minta bareng-bareng. Ikuti aja ceritanya, thanks :)
Yuks, langsung saja.
Happy reading!
"Lily, bangun!"
"Bangun, sayang. Aunty mohon bangun!"
"Ada apa ini. Oh, God. Sadarkan cucuku,"
Satu persatu suara kepanikan tertangkap di telinga Lily. Ada Molly, Angelina, Ron, dan beberapa orang lain yang tampak bersahutan meneriaki namanya untuk bangun. Tapi itu tidak mungkin. Lily tidak merespon apapun panggilan itu. Semuanya gelap dan menyakitkan. Badannya mati rasa.
Setelah mengetahui Lily tak sadarkan diri, George langsung menghubungi istrinya dan mengabari tentang keadaan Lily. George memilih untuk berapparate ke rumah Ron untuk menunggu Ron menjemput mereka. Akan jadi pertanyaan besar jika banyak Muggle di rumah sakit mengetahui George tiba-tiba muncul ditengah-tengah banyak orang.
"Aku menemukan Lily pingsan saat istirahat di ruanganku." Cerita George kepada Mr. Granger dan Ron yang menjemput mereka. "Aku kembali masuk karena teriakan boneka ini," tunjuk George pada boneka yang ia bawa. Sihir boneka itu sudah dilemahkan.
"Fibrilasi ventrikel, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," Mr. Granger yang pertama kali menangani Lily sesaat mereka sampai. Meski dokter gigi, ia juga menguasai beberapa dasar pemeriksaan darurat pada pasien apapun. "Sedikit percepat laju mobilmu, Ron. Aku akan pertahankan denyut nadinya tetap ada—"
Ron mendelik, "apa? Jadi Lily—"
"Tetap konsentrasi mengemudi, aku akan berusaha mengembalikan napasnya. Semoga masih bisa tertolong. George, bantu sangga badan Lily!"
Mr. Granger dan George duduk dibangku belakang sambil terus mengatur pernapas Lily yang tiba-tiba menghilang. "Bernapas, Lily! Bernapas! Kau bisa mendengarku, nak!" Mr. Granger berteriak-teriak di depan muka Lily dengan keadaan panik. Tangannya terus mencari denyut nadinya dan menekan-nekan dada.
Keadaan Lily semakin darurat sehingga membuat Mr. Granger harus memberinya napas buatan. Sekali dua kali, akhirnya berhasil. Lily kembali bernapas meski detak jantungnya masih sangat lemah. "Hubungi mereka yang ada di rumah sakit untuk segera memanggil dokter yang menangani Lily. Jadi Lily bisa langsung ditangani sesampainya kita di sana," pinta Mr. Granger.
"Baik, sir!" George langsung menghubungi Angelina dan memintanya untuk segera memberi tahu dokter Hans agar siap.
Semua orang yang menunggu kabar kondisi Lily dari dalam ruangan berharap-harap cemas, sampai pintu itu kembali terbuka. Dr. Hans keluar dengan wajah tidak bisa ditebak.
"Bagaimana keadaan Lily, dokter? Saya sempat memberinya napas buatan karena saya tidak mendapati Lily bernapas tadi," tanya Mr. Granger.
"Tindakan CPR anda sudah tepat, Dr. Granger, jadi jantung dan paru-parunya masih bisa diselamatkan," kata dr. Hans membuat Mr. Granger dan semua yang mendengar lega.
Dengan tampang tugu, George bertanya lirih, "apa itu CPR?" tanyanya.
"Lebih sederhananya adalah pertolongan pertama saat pasien kehilangan napasnya. Atau lebih umum disebut napas buatan, sir. Dan keadaan Lily saat ini, harus membutuhkan bantuan alat untuk membantunya bernapas,"
"Alat? Kalau tidak dengan alat itu?" tanya Molly.
Dr. Hans menggeleng, "maksud dokter?" Teddy ikut penasaran.
"Maaf, tapi di mana Mr. Potter? Kenapa tidak ada di sini?" Dr. Hans akhirnya menyadari tidak hadirnya Harry ditengah-tengah mereka.
Angeline menjawab, "Hermione, maksud saya, istrinya sebentar lagi melahirkan. Di rumah sakit ini juga, dokter. Tapi di lantai empat," jawabnya.
"Ohh mungkin Tuhan sudah mengatur semuanya dengan baik—"
"Maksud dokter Hans? Mengatur apa?" Ron frustasi melihat keponakannya sekarat.
Dr. Hans tampak menghembuskan napasnya berat. "Saya memang bukan Tuhan, tapi.. dari lubuh hati yang paling dalam, dengan sangat menyesal, saya katakan jika Tuhan sedang mempersiapkan penganti Lily di dunia ini,"
"Jadi Lily—"
"Jika alat penunjang itu dilepas satu saja dari tubuh Lily, kami tidak bisa menjamin Lily akan bertahan. Tubuh Lily sudah tidak bisa mengatur kebutuhan energinya lagi. Maaf, inilah yang mampu kami lakukan untuk Lily saat ini,"
Semua orang menangis, Molly hampir berteriak meminta dr. Hans mengatakan bahwa penjelasannya hanya omong kosong. "Kami mohon maaf, Madam," ulang dr. Hans untuk meyakinkan sekali lagi.
Mereka kini dinaugi kesedihan yang dalam, Mr. Granger tiba-tiba teringat sesuatu. "Harry harus tahu ini. Dia ayahnya!" katanya menyadarkan semua orang.
"Tapi, dia sedang bersama Hermione. Ini akan mempengaruhi proses melahirkannya jika Hermione tahu," ujar Angelina. Namun Ron memilih untuk dirinya sendiri yang akan memberitahu Harry.
"Akan aku coba bicara padanya pelan-pelan," kata Ron. Ia lantas pergi menuju ruang rawat Hermione.
Pintu ruang 097 diketuk dari luar. Harry yang sedang beristirahat di sisi Hermione langsung mempersilakan tamunya agar masuk. "Ron, darimana saja kau. Lainnya sudah pulang?" tanya Harry. Namun ekspresi Ron membuat Harry bingung. "Ada ap—"
"Ahh aku boleh meminjam Harry sebentar, Mione? Aa-ada urusan yang harus diurusnya di bagian administrasi, tadi pihak rumah sakit memintaku memanggil Harry," kata Ron berbohong.
Harry menatapnya tajam, ia tahu Ron sedang menyembunyikan sesuatu. Untung Hermione sedang tenang karena efek pemberian suntikan penghilang rasa sakit. "Ron—"
"Psttt! Jangan keras-keras, kita bicara di luar," Ron menarik tangan Harry dan mengajaknya keluar.
"Ada apa, sih?" tanya Harry tak suka cara Ron.
"Kau tenang, Harry. Jangan sampai Hermione mendengarmu panik. Aku minta kau tetap tenang saat aku sampaikan kabar ini, janji?" pinta Ron, Harry mengangguk.
"Lily masuk rumah sakit.. lagi. Dan sekarang keadaannya kritis, jauh lebih kritis. Kau harus ke sana sekarang!"
Tubuh Harry langsung lemas, Lily kembali drop dan ia tak tahu apa-apa. "Ayah macam apa aku ini? Di mana Lily sekarang, Ron? Cepat antar aku ke sana!"
Ron langsung menggiring Harry menuju ruang rawat Lily satu lantai di atas. Cukup beberapa menit saja menggunakan lift dan berjalan beberapa meter, mereka sampai di depan ruang Lily. "Itu Harry!" panggil Angelina.
"Dokter Hans? Ada apa dengan Lily? Ada apa sebenarnya?"
"Mr. Potter, saya mohon anda tenang, silakan masuk tapi anda harus berjanji mengontrol emosi anda, jelas? Mari ikut saya," kata dr. Hans meminta Harry mengikutinya masuk ke ruangan steril. Ia sempat melewati Molly yang terduduk di sisi George yang terus menangis. Wajahnya tertunduk sambil memanggil nama Lily di sela isakannya. Semua ini membuat Harry susah berpikir.
Di dalam ruangan itu, Harry diminta untuk memakai pakaian khusus.
Jauh lebih menakutkan dibandingkan saat Lily koma. Alat yang dipasang di tubuh Lily semakin banyak dan beragam. Suara-suara statis terdengar menyakitkan di telinga Harry. Suara itu seolah menghitung bagaimana kerja jantung putrinya yang semakin parah.
"Yang dibutuhkan sekarang adalah Lily mampu survive dengan usahanya sendiri. Kami hanya mampu membantu mempertahankan saja. Tidak lebih—" dr. Hans menepuk pungguk Harry pelan. "Maafkan kami, Mr. Potter,"
Dr. Hans meninggalkan Harry sendirian bersama Lily. Ruangan itu semakin sepi. Lily tak membuka matanya. Badannya dikepung oleh belasan selang dan alat yang menancap di seluruh tubuhnya. Harry tak tega melihat penderitaan putrinya harus terulang kembali.
"Kau tahu, Lily." Harry mencoba tenang. "Dad dulu sangat ingin sekali memiliki anak perempuan, yang mirip sekali dengan Mommy. Tanpa sedikitpun ada yang mirip dengan Dad. Tapi saat kau lahir, Dad senang, sangat senang karena kau mirip sekali dengan Mommy. Walaupun banyak orang bilang, saat kau tersenyum, kau mirip Dad," Harry menghapus airmatanya lantas tertawa.
Harry seperti orang gila berbicara dengan Lily yang tidak mungkin meresponnya. "Mommy sempat bilang kalau seandainya nanti kau lahir dan mirip Dad, artinya kau memang anak Dad. Putri Daddy. Ya, karena kau putri Dad satu-satunya. Kau yang paling kuat, Lily. Keras kepala, mandiri, tidak punya takut. Bahkan kau nekat mendekati Dad saat.. saat Dad bahkan bisa membunuhmu. Dad dulu melukaimu, dan sekarang," Harry melirik ke beberapa monitor di sisi kanan dan kiri ranjang Lily. Harry kembali menangis. "Dad tidak bisa menyelamatkanmu. Aku ayah yang tidak berguna Lily."
Masker yang menutupi hidung dan mulut Harry basah. Ia meraih tangan Lily, menggenggamnya dan mengecupnya berkali-kali. "Sudah cukup Dad kehilangan Mommymu, Dad tak mau kau ikut pergi, Lily. Please, come back to me, sweetheart, please wake up!" Harry terus memohon di sisi Lily. Memanggil putrinya untuk bangun.
Giliran Ron yang masuk mengantarkan Lavender untuk melihat Lily. "Harry, sudahlah—"
"Ron, Lav, aku ingin pergi— sebentar," kata Harry, ia bangkit dari bangkunya.
"Kemana?" tanya Ron.
Harry mengangkat kedua pundaknya. "Aku hanya ingin sendiri, hanya beberapa saat. Semua ini membuatku semakin ingin.. sendiri," Harry berbicara tanpa menatap Ron ataupun Lavender sedikitpun.
Sebelum Ron bertanya lebih, Lavender menyela. Ditatapnya Ron dan menggeleng pelan di depannya. "Pergilah, kau memang membutuhkannya. Tapi ingat, cepat kembali, karena kau sangat dibutuhkan di sini," Lavender lantas mempersilakan Harry untuk keluar.
Di luar, Harry sempat berpesan pada Mr. Granger agar ia cepat diberitahu jika terjadi masalah pada Hermione ataupun Lily. Harry berjalan menuju salah satu lift. Menekan asal angka yang tertera di sisi pintu. Tidak penting ia menuju ke lantai berapa, ia hanya ingin sendiri di dalam lift, mensabotase kamera CCTV dan berapparate tanpa ada orang yang tahu.
Wuss! Harry kini berdiri di depan Pensieve di ruang kerjanya. Rumahnya sepi. Semua dikunci. Tidak ada orang yang akan tahu jika ia ada di sana. Perlahan, Harry mendekat ke sebuah lemari kayu tersembunyi di balik lukisan. Membukanya dan mengambil satu botol berisi zat keperakan di dalamnya. Ia lantas membawanya kembali mendekat ke arah Pensieve.
Pelan-pelan, Harry membuka penutupnya, melihatnya dan perlahan menuangkannya. Beberapa saat kemudian, ujung tongkatnya sudah disentuhkan kemana zat keperakan itu jatuh. Muncullah sosok wanita berambut merah sedang tertidur di sana.
Ginny.
Sinar matahari masuk di sela-sela gorden kamar. Ginny mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, berusaha untuk menyadarkan diri. Namun, bukannya bangun dengan segar, rasa mual itu kembali muncul. Seperti pagi sebelumnya, tapi ini semakin menyiksa. Ia menyibak selimutnya, pergi meninggalkan Harry sendirian di ranjang dan bergegas menuju kamar mandi.
"Hoek.. oh God!"
"Ginny, kau sakit?" Harry menghampirinya setelah lima menit suara muntahan itu terdengar menganggu tidur Harry di kamar.
Tangan Harry cekatan memijit tengkuk Ginny membantu agar isi perutnya mampu dikeluarkan. "Jangan, Harry, nanti kau tak napsu makan kalau melihatku muntah, hoekk!"Ginny mengusap mulutnya, "kau harus kerja."
"Ginny, kau ini keras kepala. Tidak apa-apa, kalau perlu aku akan di rumah menemanimu. Kita ke St. Munggo, ya!" ajak Harry. Handuk bersih di dekatnya segera ia serahkan pada Ginny.
Istrinya hanya menggeleng, "aku tak sakit, Harry. Mungkin hanya kecapekan. Aku hanya mual dan kepalaku pusing—"
"Pusing? Mual katamu? Jangan-jangan—"
"Kau mau bilang kalau aku hamil?"potong Ginny menebak dan tepat. Harry mengangguk.
Dipeluknya Ginny dan berkata, "dites saja dulu, siapa tahu kau memang hamil,"Harry berbinar.
Ginny diam terpaku. Wajahnya berubah sendu dan memilih untuk kembali ke kamar. Ia malas membahasnya lagi dengan Harry. "Hey, kau kenapa, sayang?" Harry mengikutinya dari belakang. Ginny berjalan tidak seimbang sampai menuju ke kamar mereka.
"Aku tak mau membuatmu kecewa lagi," Ginny memijat pelipisnya pelan. Kepalanya tiba-tiba sakit. "Ini sudah ke enam kalinya aku seperti orang hamil, tapi nyatanya? Aku hanya kurang darah," kata Ginny pesimis. Matanya berair, semakin ingin menangis. Menangisi kegagalannya menjadi istri yang tidak bisa memberikan apa yang diinginkan suaminya.
"Aku tak masalah kalau pun hasilnya negative.. lagi,"nada suara Harry merendah.
"Lagi dan lagi, Harry. Aku lagi-lagi membuatmu kecewa dengan hasil yang selalu nol. Aku tahu kau menginginkan—"
"Seorang anak perempuan. Ya, tapi aku tak mau kalau kau merasa terbebani seperti ini. Maafkan aku, Ginny. Aku tak lagi ingin memilikinya," kata Harry lantas bangkit menuju lemari pakaiannya.
"Harry—"
"Ginny.. aku memiliki James, Al, dan kau di kehidupan ini sudah lebih dari cukup. Ada atau tidak adanya anak perempuan, aku tak lagi ingin memilikinya. Aku hanya ingin kau bahagia.. with me and the boys."
Ginny tetap diam dan menggeleng tak setuju, ia tetap merasa belum berhasil menjadi istri yang sempurna untuk Harry. Ia tahu, Harry sangat menginginkan seorang anak perempuan. "Maafkan aku, Harry. Aku tak bisa menjadi istri yang baik—"
Harry memotong kalimat Ginny dengan mencium bibirnya. "Kau sempurna, jadi jangan katakan apapun untuk merendahkan dirimu hanya karena kau tak memberiku seorang anak perempuan. Kalau kau tak mau tes, it's ok. Aku tak memaksa. Istirahatlah! Akan aku buatkan ramuan—"
"Tidak perlu, bersiap-siaplah berangkat. Aku akan membuatnya sendiri nanti,"
"Ginny, aku tak bisa meninggalkanmu sendiri bersama dua anak itu di rumah dengan keadaan seperti ini."
"Tapi kau perlu ke Kementerian. Apa jadinya anak buahmu kalau kau tak masuk?"
Harry hanya tersenyum dan mengecup dahi Ginny cukup lama. Sementara Ginny menyandarkan kepalanya di dada Harry. Mendegar langsung detak jantung Harry dan berkata, "aku tak mau kehilangamu, Harry," ujarnya lirih.
"Me too," jawab Harry.
Harry tersenyum kembali mengingatnya. Pusara itu kembali berputar, dan menampilkan gambaran baru.
Ginny sedang menyuapi Al makan sembari menemani kedua putranya bermain bersama Rose. Lavender duduk di sisi Ginny sambil mengobrol mengamati ketiga anak itu bermain. "Cobalah saja untuk tes cara Muggle kalau kau tak mau ke St. Mungo. Kalau kau benar hamil dan kau tak mengetahuinya, bisa-bisa kau menyesal jika terjadi apa-apa dengan janinmu. Kau tak mau, kan?" Kata Lavender.
Ginny menggeleng. "Tapi aku tak hamil, Lav."
"Kau belum tahu, Ginny. Jadi jangan katakan kalau kau tak hamil. Hei, aku tahu bebanmu sebagai seorang istri. Aku pun begitu. Kita sama-sama seorang istri,"Lavender memeluk Rose yang mendatanginya. Ginny menatapnya penuh iri.
Tidak hanya Harry, ia sendiri pun ingin memiliki anak perempuan. "Apa salahnya untuk mencoba. Kalau pun kau benar hamil, jangan sampai terlambat mengetahuinya. Kasihan,"
Visual kembali berubah dan lagi-lagi menunjukkan Ginny sedang terduduk di atas kloset tertutup sambil membawa sesuatu yang tipis dan panjang di tangannya.
"Oh God! Aku tak bisa—"
"Ginny, kau— apa itu? kau mengeceknya" Harry menurunkan Al dari gendongannya dan membiarkan putra keduanya berlari keluar. "Aku tak mau melihat hasilnya, Harry, tidak!" Ginny menjatuhkan alat uji kehamilannya ke lantai kamar mandi. Harry bergegas memungutnya dan melihat apa yang tertera di sana.
Mata Harry melebar. Ia sudah bisa membaca tanda yang dihasilkan alat itu sejak bertahun-tahun lalu. "Ginny," panggil Harry terbata.
"Maafkan aku, Harr—"
"No, lihat ini," tunjuk Harry di depan Ginny. "Positif. Kau benar-benar hamil, Ginny,"
Dengan sangat jelas Harry mengingat semua kejadian itu. Rasa bahagia yang meluap. Apa yang ia inginkan akhirnya terwujud. Apalagi saat pusara itu kembali berputar dan menujukkan saat Ginny dan dirinya mendatangi Hannah di St. Munggo.
"Sudah siap?" tanya Hannah mengayunkan tongkatnya ke atas perut Ginny.
Harry tersenyum menatap ke arah Ginny. "Yups," jawab Harry singkat. Ginny memalingkan wajahnya tak berani melihat ekspresi wajah Harry jika benar anak yang dikandungnya bukan anak perempuan.
Hannah tersenyum mengetahui apa hasilnya. Cahaya yang memancar dari perut Ginny menunjukkan satu gender yang selama ini menjadi penantian Harry. "It's a girl," ucap Hannah.
Ginny meyakinkan sekali lagi apa yang baru ia dengar. "Ap—"belum selesai ia mengucapkan katanya, Harry menariknya dalam pelukannya. "Kita akan punya Ginny kecil, sayang," kata Harry bahagia.
"Ohh, aku akan menjaganya sampai dia lahir, Harry. Aku janji padamu."
"Kita akan menjaganya bersama-sama," Ginny mengangguk setuju. Sekali lagi Harry memeluknya dengan berurai airmata haru. Ginny menghembuskan napasnya lega. Ia berhasil, namun belum sepenuhnya berhasil.
Harry ingat semuanya. Ginny benar-benar menjaga baik-baik kandungannya sampai tragedi itu terjadi. Pusara itu kembali bergerak. Menunjukkan situasi Kementerian yang penuh dengan penjagaan ketat. Ginny dan Lavender berlari menuju salah satu jalur yang belum sempat mendapat penjagaan.
"Pelan-pelan, Ginny! Ingat kandunganmu!" teriak Lavender di belakang Ginny yang berlari kecil sambil memegang perutnya. Mencari Harry di tengah banyaknya reruntuhan batuan dinding Kementerian yang hancur.
Ginny tersenyum saat melihat Harry selamat tak jauh dari tempatnya datang. "Lav, itu mereka. Harry dan Ron di sana." Ginny mempercepat langkahnya sambil berteriak, "Harry!" namun sayang, cahaya biru kehijauan itu tiba-tiba meluncur mengenai tubuhnya. "Agghh!"
"Ginny!" teriak Harry mendapati istrinya sudah tergelatak lemas di pelukan Lavender.
"Ginny, bangun, Gin! Oh no—" tak terasa tangan Harry basah dengan darah yang mengalir membasahi paha Ginny.
Seseorang di dekatnya berteriak memanggil bantuan beberapa healer agar mendekat dan membantu Ginny yang terus merintih kesakitan. "Bertahan, Ginny! Aku mohon bertahan!" bisik Harry panik.
"Aku tak kuat, Harry! A-aku tak kuat, sakit!" rintih Ginny sangat pelan.
Beberapa healer memberikan saluran energi untuk mempertahankan tenaga Ginny agar tetap bertahan. Harry pun ikut tergerak ikut menyalurkan energi untuk Ginny. Ia mengarahkan tangannya pada bagian dada dan kepala, namun tiba-tiba tangan Ginny menggenggam lengan Harry dan mengarahkan ke atas perutnya. Ginny menangis.
"Selamatkan dia, Harry!" bisik Ginny. Matanya susah untuk dibuka lebar. Tapi Ginny sempat melihat Harry menolak perintahnya. "Aku mohon selamatkan dia!" Ginny makin meremas pergelangan tangan Harry susah payah. Terus memohon ditengah rasa sakitnya. Bayinya mulai berontak.
Harry menggeleng, "aku membutuhkanmu, Ginevra!"
Giliran Ginny yang menggeleng, "dia lebih membutuhkanmu. Lily membutuhkanmu, Harry!"
"Lily?" Harry mendengar Ginny menyebutkan satu nama.
"Aku setuju dengan nama Lily, dan.. kalau kau ingin memberi nama tengahnya dengan salah satu nama teman kita, aku ingin nama tengahnya adalah Luna,"
Harry menangis. Ia tak mau membayangkan jika itu adalah pesan terakhir Ginny untuknya. "Aku ingin dia selalu ceria seperti Luna meski dia kehilangan ibunya,"kata Ginny. "Kau harus menjaganya, Harry. Kau sudah berjanji!" Ginny seolah menuntut Harry mau merelakannya pergi. Menitipkan putrinya pada Harry untuk selamanya.
"Ya, tapi aku berjanji untuk menjaganya bersama denganmu!" kata Harry menolak.
Tubuh Ginny dipindahkan ke ruang kesehatan Kementerian. Proses kelahiran Lily segera dilakukan agar tak membahayakan ibu serta bayinya. Ginny meraih tangan Harry penuh kepasrahan. Ia terus berharap dengan menatap tajam mata Harry.
"Aku mohon. Kau sangat menginginkan Lily, kan, Harry? Dan ini kesempatan terakhirku untuk memberikan apa yang kau inginkan selama ini. Biarkan aku melakukan tugasku sebagai seorang istri untuk yang terakhir kali. Harry! Aku mohon!"
Hermione masuk dan membantu para healer dalam proses melahirkan Ginny. "Bertahan Ginny, ingat James dan Al. Mereka masih membutuhkanmu," kata Hermione.
"Aku titipkan James dan Al padamu, Hermione. Begitu pula Harry dan Lily. Katakan pada Lily kalau aku sangat mencintainya—" Ginny mengejan sekuat tenaga akibat mantra kontraksi yang diberikan oleh salah satu healer.
Lily lahir. Tangisnya memecahkan ketegangan semua orang di sana. Hermione membersihkan lendir bercampur darah yang menyumbat pernapasan dan mulut Lily. Harry tersenyum dalam tangisnya saat melihat putrinya lahir untuk pertama kalinya. "Lily—"
"Ya, Lily sudah lahir, Ginny. Rambutnya merah seperti tebakanmu. Dia mirip sekali denganmu, sayang!" kata Harry kembali melihat Lily yang masih menangis. Lily kecil meronta di pelukan Hermione. Seolah ikut merasakan bahwa ia sebentar lagi akan ditinggal ibunya untuk selama-lamanya.
Ginny tersenyum, matanya semakin berat saat ia berpesan untuk terakhir kalinya. "Jaga dia, Harry.. untukku!"
Tanpa melihat ke arah Ginny, masih terpukau dengan Lily di pelukan Hermione, Harry menjawab, "ya, aku akan menjaganya.. untukmu. Dia sa—"
Ginny. Pergi dengan tenang setelah Harry berjanji akan menjaga Lily untuknya.
Harry mengakhiri memori Ginny dan terduduk di sisi meja kerjanya. Memukul keras ubin ruangan lantas memekik keras menyesali perbuatannya. "Aku gagal, Ginny. Aku tak bisa menjaga Lily untukmu, Ginny. Maafkan aku!"
Harry kembali ke rumah sakit dengan perasaan sedikit lebih tenang meski pikirannya terus berputar antara Hermione dan Lily. Kedua wanitanya kini sedang berjuang antara hidup dan mati. Sampai di ujung lorong menuju kamar rawat Hermione, ia tertegun ketika beberapa petugas medis masuk bersamaan ke ruangan Hermione. Sejenak kemudian Hermione keluar dengan didorong oleh beberapa perawat menggunakan brankar dorong khusus dan dipindahkan menuju ruangan tak jauh dari ruang rawatnya.
Dr. Sophia menghampiri Harry dari kejauhan. "Mr. Potter, it's time! Mari ikut saya!"
Hermione siap melahirkan. Dan Harry akan segera menyambut dua malaikat kecilnya. Sebentar lagi. Namun entah untuk Lily.
- TBC -
#
Yups, jangan lupa satu chapter lagi selesai. Apa yang akan terjadi nanti?
Jangan lupa review, ya. Anne sayang kalian.
Thanks,
Anne x
