Hi, everyone!

Chapter terakhir sudah siap! Ini sangat panjang, jadi semoga nggak bosen. Anne hitung dari chapter pertama, sudah seukuran novel panjang ceritanya, teman-teman. Huft! Dan ini akhirnya. Semoga terhibur!

Ninismsafitri: Maaf, ya, lama lagi. Semoga terobati dengan chapter penutup ini! Thanks, Ninis, support nya! :)

Syarazeina: Jadi ikut sedih, iya, aku buat Lavender punya sisi kalem soalnya ikut bergaul dengan keluarga Weasley. Heboh tetep, tapi terarah, hehehe thanks, ya :)

Gabby-chann: Maaf chapter sebelumnya ngecut pas tegang-tenganya, karena itu teknik penulisan cerita bersambung menurut buku dan dosen Anne yang keren. Hehehe.. Ini sudah ada chapter terakhirnya. Semoga terhibur. Terima kasih, ya :)

Baiklah, langsung saja! Semoga betah! :)

Happy reading!


Seluruh perlengkapan proses untuk Hermione melahirkan sudah disiapkan. Beberapa meja di siapkan disana, Harry mengingat bagaimana pengalaman terakhirnya dengan wanita yang melahirkan. Ginny, pengalaman terakhirnya bersama Ginny. Saat Ginny melahirkan Lily. Dan itu sangat menakutkan.

"Harry—" Hermione memanggilnya dari ranjang bersalin. Wajahnya penuh peluh.

Harry meraih tangan Hermione erat dan mengecupnya, "kau darimana? Bagaimana dengan Lily?" tanya Hermione. Ia kembali mengerang kesakitan.

"Lily—"

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Lily, Harry?" Hermione mengungkapkan kecurigaannya. "Lily di sini, Harry? Dia sakit lagi? Dia.. aggghh!"

Perut Hermione seperti terkoyak akibat kontraksi yang semakin menyakitkan. Seluruh persendiannya mengejang membuat tubuhnya sakit. Tidak hanya pada perutnya saja. Semuanya linu dan itu sangat menyiksanya. Dari posisinya berbaring kini, Hermione tak bisa melihat apapun yang sedang dilakukan oleh dr. Sophia di tubuh bawahnya. Perutnya tampak semakin besar. Menjulang dan menutupi sudut pandangnya. Hanya pada Harry yang berdiri di sisinya, satu-satunya orang yang dapat ia ajak untuk berbagi.

Seorang asisten dr. Sophia mendekat dan membisikkan sesuatu pada Hermione. "Mrs. Potter, tenangkan pikiran anda dan tetap berkonsentrasi pada bayi anda. Dr. Sophia akan memulainya sebentar lagi," katanya.

"Benar, fokus dengan bayinya, Mione!"

"Tapi— aww, di mana Lily? Kau menyembunyikan sesuatu dariku. Semua orang diam saat aku tanya tentang Lily, aaagghh! Katakan, Harry! Ada apa dengan Li—"

Hermione merasakan bagian intimnya semakin panas. Ia berteriak sekencang mungkin. Sesuatu yang besar sedang memaksa untuk keluar melalui bagian bawah tubuhnya. Dr. Sophia bekerja fokus di depan kungkungan kaki Hermione tanpa mempedulikan terikan kesakitan dari pasiennya itu. Harry mengelap keringat di sekitar dahi Hermione lantas mengecupnya. "Hermione—"

"Aaagghh! It hurts!" teriak Hermione semakin kencang. Tangannya semakin kuat meremas tangan Harry.

"Mrs. Potter saya mohon tetaplah fokus. Atur pernapasan anda dan dorong sekuat tenaga saat kontraksinya kembali terasa. Mr. Potter, pertahankan Mrs. Potter agar terus fokus!" pinta dr. Sophia kembali melihat perkembangan jalan lahir Hermione.

Kepala Harry mengangguk paham lalu kembali memperhatikan Hermione yang mulai tampak mengejan. "Harry, aku mohon katakan bagaimana keadaan Lily sekarang? Perasaanku tak enak, aagghh!" Hermione terus memaksa Harry menjelaskan keadaan Lily.

Tidak mungkin Harry harus mengatakan pada Hermione tentang kondisi Lily di saat seperti ini. Hermione tidak boleh tahu. Akan sangat berpengaruh dengan psikologinya dan tentu saja akan mempengaruhi proses kelahiran bayi-bayi mereka.

"Nothing, Hermione. Percaya padaku!"

Hermione menggeleng. Ia menahan napasnya saat kontraksi itu kembali terasa. "Percaya apa? Kau bohong, Harry!" katanya dengan berurai airmata. Energinya semakin terkuras, namun tak ada indikasi untuk mengejan.

"Tapi—"

Dr. Sophia mendongak dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh Hermione. "Baik, Mrs. Potter, we have a problem. Jantung bayi anda semakin melemah, saya mohon bersiaplah untuk mengejan saat kontraksi selanjutnya datang. Atur pernapasan dan saya mohon anda rileks. Mr. Potter, mohon kerja samanya," tegurnya.

"Lily, Harry. Mengapa semua orang bungkam saat aku tanya tentang Lily," Hermione meremas pergelangan tangan Harry begitu kuat.

"Aku takut, Harry!" Badan Hermione lemas, begitupula Harry. Pikirannya terpecah antara memikirkan Lily dan juga Hermione dalam satu waktu. Harry melihat istrinya semakin pucat, "Hermione!" panggil Harry menegakkan kepalanya.

Hermione menggeleng, mengucapkan 'no' tanpa suara. Ia tidak bisa, "Lily masih menunggu," Harry tak sanggup melanjutkan penjelasannya. Hanya sebatas itu, tekatnya belum kuat untuk mengatakan yang sebenarnya.

Harry tahu, waktu mereka tak banyak. "Lily ingin melihat adiknya, kan? Jadi aku mohon, berjuanglah untuk melahirkan mereka. Please, aku yakin kau bisa, Hermione. Kau kuat! Aku mohon," Harry sejenak diam, mengecup kepala Hermione lantas berbisik.

"Demi Lily," kata Harry singkat.

Kontraksi selanjutnya kembali datang. Hermione memekik keras sambil terus meremas apapun yang bisa ia genggam dengan tangannya. Oleh salah satu suster, posisi Hermione berbaring sedikit ditinggikan. Harry diminta untuk lebih dekat agar ikut mampu menopang punggung dan menahan pergerakan istrinya lebih kuat.

"Deep breaths, Mrs. Potter. Tepat saat anda merasakan kontraksinya kembali, dorong sekuat tenaga seperti instruksi sebelumnya. Good, push! One, two, three, four—"

Dengan penuh sisa tenaga yang ia miliki, Hermione mendorong bayinya selama dr. Sophia terus menghitung. Tepat di hitungan ke sepuluh, Hermione merilekskan kembali tubuhnya sesaat dengan mengambil napas pelan-pelan.

Tangan kanan Harry menghapus peluh Hermione dengan kain putih pemberian salah satu suster yang juga telah siap membawa handuk besar untuk bayi pertama yang lahir. "Bagus, Hermione. Sedikit lagi, ingat Lily menunggumu!" bisik Harry terus memberikan support pada Hermione.

Dr. Sophia kembali menghitung di waktu yang sama saat Hermione kembali mengejan.


"Siapapun diluar sana, tolong!"

Angelina berteriak meminta pertolong dari dalam ruangan Lily. Ia hanya sendirian karena hanya beberapa orang menunggu di luar dan sebagian besar berpindah ke ruang bersalin menunggu Hermione.

Audrey dan Percylah yang pertama kali masuk untuk mencari tahu apa yang diteriakan Angelina. "Ada apa, Angel? Di luar masih ada Dad dan George. Tidak perlu berteriak!" kata Audrey meminta iparnya untuk memelankan suaranya.

"Yang lain?" tanya Angelina panik.

"Hermione melahirkan, Mom, Ron, dan Lavender menyusul ke sana. Ada—" Percy diam ketika tubuh Lily bergerak-gerak gelisah. Ia melihat ke arah layar monitor jantung Lily menunjukkan grafik yang semakin menipis.

Rahang Audrey mengeras takut melihat apa yang sedang terjadi dengan keponakannya. "Lily!" panggilnya lirih.

"Panggil dr. Hans! Kalian tetap di sini!"

Percy bergegas keluar setelah menekan tombol panggilan darurat. Ia ingin mengabarkan keadaan Lily pada anggota keluarga yang lain. Beberpa menit kemudian George dan Arthur masuk untuk melihat para wanita di dalam. Lily semakin mengkhawatirkan. Badannya panas dan berkeringat. Wajahnya semakin kurus dengan tulang pipi yang semakin menonjol. "Kasihan, Lily!" lirih Angelina di pelukan George.

Dokter Hans dan beberapa asistennya masuk. Mereka yang masih berada di dalam diminta untuk keluar sementara dr. Hans. Mereka hanya bisa pasrah menunggu informasi tentang Lily selanjutnya.

Di dalam, Lily diberikan suntikan pada saluran kecil yang dibuat oleh dr. Hans di tangan kirinya. Pergerakan tubuhnya sedikit melemah. Satu orang berseragam putih memeriksa salah satu monitor dan melihat kertas yang ia bawa. "Menurun, dokter," katanya.

Dr. Hans menggeleng tak percaya, Lily semakin lemah. Ia lantas memerintahkan satu perawat lain untuk membuka kancing atas pakaian Lily dan memberikan tekanan-tekanan bertempo cepat di sekitar dada. "Bertahan, Lily! Bertahan, Lily! Aku mohon!" wajah dr. Hans memerah ketakutan.

Ia semakin tidak yakin Lily masih bisa bertahan. "Pasien semakin lemah, dokter. Detak jantungnya semakin pelan. Tekanan darahnya sangat rendah!" kata perawat yang sempat memeriksa monitor jantung Lily.

Mereka tidak bisa berbuat lebih. Satu-satunya cara yang dapat segera dr. Hans lalukan adalah memerintahkan anggota timnya untuk mempersiapkan alat kejut jantung untuk Lily.

"Siapkan defibrilatornya. Waktu kita semakin sempit!" perintah dr. Hans lantas mempersiapkan tubuh Lily untuk tindakan selanjutnya. Ia sempat memperhatikan wajah Lily sejenak. Dr. Hans menatap Lily iba, wajah lugunya kini pucat dan membiru akibat banyaknya tindakan medis di tubuh gadis kecil itu. Mulut kecil Lily tersumpal pipa bergelombang yang tersambung pada beberapa tabung dan alat monitor organ dalam. Sungguh pemandangan yang mengerikan dari wajah seorang gadis 12 tahun itu.

Dr. Hans membelai rambut kusut Lily sebelum menerima dua alat persegi dengan kabel spiral di belakangnya. Semua anggota medis yang bersama dokter Hans menyingkir dari ranjang Lily satu langkah kebelakang.

Tangan dr. Hans siap memeriksa dua lempengan benda yang sedang ia cengkram. "Is all clear?" perintah sekaligus peringatan dr. Hans pada semua orang disekitarnya.

"Clear!" seru semua anggota tim medisnya.

Bukk! Dua lempeng defibrilator bekerja maksimal menyalurkan listrik pada tubuh Lily. Menekan dada kanannya dan satu di bagian kanan bawah dada. Kejutan pertama membuat tubuh Lily melambung dan terkapar kembali. Kejutan kedua, lagi-lagi tubuh Lily terangkat dan jatuh kembali keranjang. Tidak ada perubahan.

Suara irama jantung Lily berubah. Tidak stabil mendekati kacau. Semuanya tidak membantu sampai suara-suara alat itu melemah dan perlahan.. menghilang. Dr. Hans lemas. Ia meletakkan kembali alat pacu jantungnya dan mematikannya. "Pukul 10.37 pm, dokter," catat satu orang petugasnya. Dr. Hans mengangguk pasrah. Benar, jam tangannya pun menunjukkan waktu yang sama.

"Kita semua sudah berjuang bersama. Kau hebat, Lily," bisik dr. Hans.


Molly, Ron, dan Mr. Granger berlarik mengikuti arah Percy pergi. Mereka yang sedang menunggu Hermione melahirkan sontak panik mendengar Lily semakin kritis. Hanya tinggal ibu Hermione dan Lavender yang diminta untuk bertahan di sana untuk menunggu Harry keluar.

Di dalam ruang bersalin, proses Hermione melahirkan belum usai. Dr. Sophia mengulang instruksinya agar Hermione kembali mendorong bayinya keluar. "Kau hamipr selesai, Hermione! Bertahanlah!" bisik Harry.

"No, I can't. Ini sakit sekali, Harry! Aku tak kuat!" teriak Hermione.

"Oh, Mrs. Potter just one more big push! Dan bayi pertama anda akan lahir. Aku sudah bisa melihat kepalanya, Mrs. Potter," dr. Sophia memberikan pijatan pelan di sekitar jalur lahir Hermione, "rambutnya coklat seperti anda," lanjutnya agar Hermione kembali bersemangat melanjutkan usahanya mengejan.

Harry tersenyum, "dia akan mirip denganmu, Mione. Satu dorongan lagi, bertahanlah!"

"Good job, Mrs. Potter, push! Harder harder harder, four, five, six, seven, eight—" dan hitungan dr. Sophia berhenti. Sesuatu yang licin Hermione rasakan meluncur dengan keras keluar dari perutnya.

Dr. Sophia menegakkan tubuhnya dengan senyum mengembang diwajahnya. "She's beautiful," serunya.

"It's a girl," kata Harry setelah melihat sendiri anak ke empatnya dari gendongan dr. Sophia. Ia lantas mengecup kepala Hermione yang kini tengah menangis harus. "Lily akan senang melihat adiknya perempuan, sayang," jawab Hermione senang.

"Dad, silakan potong di sini," Harry lantas mendekati dr. Sophia untuk memotong tali pusat putrinya. Ini yang keempat kalinya Harry melakukan itu pada buah hatinya.

Tiba-tiba muncul kekhawatiran di wajah Hermione saat bayi pertamanya di balut handuk dan dibawa menuju meja pemeriksaan oleh seorang dokter lain. "Harry—" panggilnya pelan.

"Iya," Harry kembali di sisi Hermione. "Kenapa dia tak menangis?"

Deg! Harry baru menyadarinya. Bayinya tidak menagis bahkan saat ia memotong tali pusatnya. Harry tidak bisa menjawabnya hanya kembali bertanya pada dr. Sophia yang memperhatikan para dokter lain yang sedang melakukan pemeriksaan.

"What's wrong?" tanya Harry pada dr. Sophia masih sibuk memeriksa jalan lahir Hermione. Pasalnya, masih ada satu bayi lagi yang belum lahir.

Tangan Hermione menggenggam erat lengan Harry. Perasaan begitu kalut. "Tenang, Mione. Dia akan baik-baik saja!" bisik Harry berusaha terlihat tenang. Namun gagal.

Dr. Sophia bertanya pada petugas yang mengecek keadaan si bayi, "apgar score?"

"Five, doctor!" kata seorang perawat.

Dr. Sophia langsung berdiri dari tempat duduknya dan bergegas mencari tahu kondisi bayi perempuan itu. "Mr. dan Mrs. Potter tetap tenang, dr. Sophia akan menangani putri kalian dengan baik," seru seorang tenaga medis lain yang menggantikan tempat dr. Sophia untuk mengecek kondisi jalur lahir Hermione.

"Bayinya tidak bernapas, dokter!" bisik seseorang di telinga dr. Sophia. Mereka saling berbisik agar Harry maupun Hermione dapat mendengar percakapan mereka.

Dengan alat pemompa lendir, dr. Sophia mengeluarkan beberapa cairan kental dari mulut dan juga hidung. Menekan beberapa bagian seperti perut dan dada. "Berapa second?" tanyanya.

"37, 38, 39, 40, 41, 42, 43—" satu perawat di sisinya memperhatikan jam tangan sambil terus menghitung berapa lama bayi Hermione sejak dilahirkan.

Sebuah alat lunak sedikit panjang dimasukkan melalui mulut si bayi dengan melakukan gerakan memompa di sana. "Breath.. breath.. breath.. breath," seru dr. Sophia terus memompa alat di mulut si bayi.

Tepat di hitungan ke 48, bayi perempuan dengan rambut coklat tebalnya cegukkan, "breath breath, ups—" cairan kental dari mulutnya keluar cukup banyak. Si putri kecil Potter akhirnya bernapas. "Well done, princess. Kau membuat kami khawatir. Kau hebat, nak!"

Dan bayi perempuan pertama menangis kencang di ruang bersalin itu. Harry dan Hermione bersorak bahagia melihat putri mereka menangis untuk pertama kalinya.

"Nine, doc! Normal!" seru seseorang. Skor apgar kedua meningkat. Tidak sempurna, karena masih didapati beberapa bagian tubuh yang berwarna kebiruan di sekitar kaki.

Satu persatu petugas menerikkan hasil pemeriksaan mereka. Bayi pertama, perempuan, lahir pukul 10.40 pm. Selanjutnya tercatat pada sebuah papan yang menuliskan, berat dan panjang si bayi. "6 lb 9 oz," seru petugas dari bagian penimbang berat.

"17 ¾ inches long," suara lain terdengar meneriakkan panjang si bayi.

Harry tersenyum pada Hermione, "dia kecil sekali. Satu inci lebih pendek dari saat Lily lahir," katanya.

"Dia akan seperti Lily, Harry!" jawab Hermione bahagia.

Seorang perawat memberikan bayi pertama agar mendapat pelukan dari Hermione. Harry membantu membuka pengait pakaian Hermione dan mempersilakan perawat itu meletakan bayinya ke dada Hermione. "Hai, sayang. Ini Mummy!" bisik Hermione di telinga bayi kecilnya. Ia menangis sambil terus mengecup kepala putrinya. Beberapa saat setelah hermione melepas ciumannya, mata kecilnya membuka. Manik hijau terang dimiliki oleh putri kedua yang lahir di keluarga kecil Harry. "Matanya, seperti dirimu, Harry!" pekik Hermione bahagia.

"Saya berjanji akan membawanya kembali pada anda, Mrs. Potter." Seorang perawat mengendong kembali bayinya untuk dimasukkan inkubator mengingat kondisi bayi Hermione masih cukup lemah.

Tiga menit setelah kelahian bayi pertama, tiba-tiba rasa sakit itu kembali muncul. Kontraksi bayi kedua. "Second baby is coming! Ini akan sedikit lebih cepat, Mrs. Potter. Jadi bertahalah dan tetap atur pernapasan anda," kata dr. Sophia kembali bersiap.

Hermione melihat kearah Harry lantas mengangguk. "Ok, kita sambut yang kedua," Harry bersemangat. Tangan keduanya kembali saling menggenggam.


Kriett!

Pintu ruang Lily terbuka dan nampaklah dr. Hans keluar seorang diri. Wajahnya tampak begitu kelelahan. Molly, Arthur, Ron, George, Angelina, Audrey, Percy, dan Mr. Granger bersiap mendengar hasil pemeriksaan dr. Hans segera.

Molly menggenggam tangan Arthur berusaha berpikir positif cucunya akan selamat. Namun, takdir berkata lain.

"Lily sudah berjuang keras, namun.. ia harus mengalah dengan keputusan Tuhan. Kami sudah berusaha." Dr. Hans menunduk berat mengatakan keadaan akhir Lily.

Dan sedetik kemudian, Molly jatuh pingsan. Satu-satunya cucu yang membuatnya kembali merasakan kehadiran putri bungsunya yang tiada kini sudah pergi.


Harry muncul dengan wajah bahagia siap mengabarkan dua bayinya yang telah lahir pada keluarganya di luar, namun yang ia lihat hanya ibu mertuanya saja dan Lavender yang memunggunginya sambil menangis memegang ponselnya di telinga.

"Mom, ada apa?" tanya Harry berubah khawatir melihat sang ibu mertua ikut menangis.

Harry terdiam lantas memanggil Lavender. "Lav, ada apa? Di mana yang lain?" tanyanya.

"Mereka semua di ruangan Lily, Harry. Dia—"

Kembali Harry memperhatikan Mrs. Granger. Ia ikut menangis, namun tak tahu apa yang harus ia tangisi. "Siapa yang telepon, Lav? Katakan!" Harry memaksa.

"Lily, Harry.. Lily—"

"Iya, Lily kenapa?"

Tidak ada jawab selain gelengan kepala Lavender tepat di depan Harry. "No.. tidak mungkin!"

Tidak mungkin bagi Harry, namun kabar itu benar. Ron menelepon Lavender bahwa Lily telah pergi. Harry meminta ibu meretuanya agar tetap bersama Hermione untuk menjaganya sementara Harry dan Lavender berlari menyusul semua keluarganya di ruangan Lily.

Harry terdiam di depan ruangan Lily. Lavender di belakanganya langsung memeluk Ron dan melihat tubuh kaku di atas ranjang. "Is done! Perjuangan Lily telah berakhir. Dia adalah salah satu pasien saya yang luar biasa hingga akhir hayatnya. Kami haturkan bela sungkawa sedalam-dalamnya, Mr. Potter."

Dr. Hans membimbing Harry menuju ranjang Lily untuk melihat putrinya terakhir kalinya.

Beberapa alat masih terpasang di sana. Di tangan, dada, sampai mulutnya. Mata Lily sedikit terbuka saat Harry mendekat. Tangan Harry mengelus pipi Lily penuh kesedihan. Ia menangis dalam diam. "Kau punya adik perempuan, sayang. Kau ingin mengajarinya bernyanyi, kan?" tanya Harry pada Lily.

"Dia cantik sekali sepertimu, sayang. Lily—" kata Harry begitu lembut

Semua orang semakin berat menahan tangis mereka saat melihat Harry terus bercerita di depan Lily yang tak lagi bernyawa. "Kau akan senang bermain dengan mereka, Lily. Jadi, bangunlah, nak. Bangun!"

Tapi usaha Harry tidak membuahkan hasil, karena memang percuma.

"Jangan! Jangan dilepas, aku mohon. Jangan, Lily sebentar lagi bangun! Jangan!" Harry berteriak menahan dua orang petugas medis yang datang untuk tidak melepas alat-alat bantu kehidupan Lily. Harry meluapkan emosinya sampai Ron harus berusaha menahan Harry untuk tenang.

Harry berontak di kungkungan Ron yang lebih besar daripada dirinya. "Lepas, Ron. Mereka tak boleh melepasnya! Lily masih hidup. Dia butuh alat-alat itu!" teriak Harry.

"Tidak Harry, Lily sudah pergi. Dia sudah tenang bersama Ginny di sana! Sadar, Harry!" paksa Ron terus mengguncang tubuh Harry.

Ron tak mau sahabatnya kembali gila sama ketika Ginny meninggal. "Lily.. Lily.. Jangan Lily!"

Berkat pengertian Audrey, beberapa petugas yang sempat masuk akhirnya kembali pergi untuk memberikan waktu pada Harry bersama jenazah Lily. Pelan-pelan, George mendekat sambil membawa boneka perasa terakhir yang sempat ia berikan untuk Lily. Ia lantas menyelipkan boneka itu di lipatan tangan Lily.

Boneka kecil itu diam. Menandakan tidak ada kehidupan di diri pemegangnya. Harry melihatnya. Ia sadar jika Lily memang benar-benar pergi. Lemas, Harry terduduk meratapi putrinya kini telah tiada.

Di ruangan lain, dua bayi dalam inkubator menangis begitu keras tanpa sebab. Hermione kini tahu, saat semuanya sudah selesai. Ia melihat dua buah hatinya yang terus menangis, seolah mengetahui, mereka baru saja kehilangan kakak mereka. "Lily!" batin Hermione. Ia menangis di pelukan ibunya.


Taman yang indah. Rumput hijau dengan beberapa bunga daisy putih dan ungu tumbuh cantik di sekitar pohon willow. Mata coklatnya menerawang ke penjuru arah. Tempat yang indah dan bersih. Ia tersenyum saat sebuah kastil besar berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.

Kresekkk! Suara langkah kaki seseorang mengejutkannya.

"Who is there?" Lily berbalik sambil mencari tahu siapa yang menimbulkan suara bergemerisik itu. Tidak ada siapapun di balik pohon, tapi..

"Apa itu?"

Bayangan putih bercahaya tertangkap oleh mata Lily di dekat taman bunga. Ia menyusuri jalan setapak sampai ia lebih dekat dengan bayangan itu. Semakin mendekat, Lily akhirnya tahu bahwa itu bukan bayangan, melainkan sesorang yang tampak bercahaya.

Bergaun putih dan berambut merah. "Hi—" panggil Lily.

"Mummy? Itu kau?" panggil Lily melihat sosok yang begitu ia kenal.

"Lily!"

Merekapun berpelukan cukup lama. Berputar-putar di tengah taman bunga dan tertawa bersama. "Aku tahu itu kau, tapi kenapa dari jauh Mummy begitu bercahaya? Putih, baju Mummy putih dan bercahaya. Tapi kenapa—" Lily melihat dirinya sendiri.

Mengenakan dress kotak-kotak berwarna biru langit. Baju terakhir yang ia kenakan saat ikut ke toko George. Dan satu lagi, ada yang aneh di dirinya. "Aku bisa berjalan? Dan.. badanku terasa segar sekali, Mummy. Apa aku sudah mati?" tanya Lily panik.

Ia melihat sekelilingnya penuh perbukitan hijau dan tak jauh dari tempatnya berdiri tampak hutan, pegunungan, sungai, dan sebuah kastil yang berdiri megah di belakangnya. "Kita duduk di sana, yuk!" Ginny menggenggam tangan Lily dan mengajaknya untuk duduk.

Ginny dan Lily kini duduk berdampingan di sebuah kursi taman, sisi jalan setapak menuju kastil. Lily masih bingung dengan tempat apa yang sedang ia datangi. Hogwarts, Lily berharap ia mendatangi Hogwarts dengan kastil di dekatnya yang makin tampak semakin jelas. "Jadi, kereta waktu itu sampai ke sini? Berarti benar ini Hogwarts?" Lily berceloteh.

"Hogwarts? Bukan, sayang," kata Ginny membelai rambut merah Lily. "Ini tempat tinggal Mummy dan yang lainnya. Itulah mengapa kau tak merasakan sakit apapun dan merasa segar. Karena di sini semua rasa sakit, rasa sedih, tidak kami rasakan. Kami tenang di sini, sayang," cerita Ginny.

Mata Lily berbinar. Ia benar-benar merasakan ketenangan di sana. "Benar, Mummy. Di sini menyenangkan. Segar, banyak bunga. Ahh kau yang merawatnya? Bunga-bunga daisy itu?" tunjuk Lily pada beberapa petak tanaman bunga daisy beraneka warna.

Ginny mengangguk, "ya, Mummy suka sekali dengan bunga daisy," katanya.

"Aku juga, Mummy. Di rumah banyak sekali bunga daisy yang aku tanam. Aku suka yang berwarna putih dan ungu, dan bunga lily juga. Karena itu namaku," jawab Lily girang. Ginny menyentil hidung putrinya gemas.

Mereka kembali berpelukan. Merasakan rasa bahagia telah dipertemukan kembali. Ditempat yang indah, tanpa rasa sakit ataupun sedih. "Aku ingin tinggal di sini, Mummy," kata Lily, dia menunduk. Meremas tangannya kuat-kuat.

"Kenapa?" suara Ginny melemah, namun wajahnya tetap cerah tanpa sedih.

"Aku lelah, Mummy. Aku lelah sakit, lelah sendiri, dan aku lelah menjadi berbeda." Wajah Lily berubah sendu. Ia masih merasakan rasa sedih itu.

Ginny menggenggam tangan Lily lembut. Memainkan jari-jari Lily lantas berkata. "Kok begitu, sih? Sayang, lihat Mummy. Mummy tahu sekali siapa kamu. Karena Mummy selalu melihat semua anak-anak Mummy. Kau anak yang spesial, sayang. Kau punya banyak bakat. Mummy suka saat mendengar kamu bernyanyi. Kau mempunyai bakat bernyanyi Dad. Kau tahu, kan?"

"Mummy tahu Dad bisa bernyanyi?" Lily kembali bersemangat.

Kepala Ginny mengangguk. "Dulu, Mummy memaksa Dad untuk bernyanyi saat malam setelah pernikahan kami. Saat Mummy meminta Dad untuk bernyanyi lagu dari Weird Sisters, Dad malah bernyanyi lagu opera. Dan itu indah sekali," cerita Ginny.

"Kalian seperti bertukar kesukaan. Biasanya perempuan lebih suka lagu klasik yang kalem dan laki-laki suka dengan lagu-lagu keras. Tapi Mummy dan Daddy malah kebalikannya. Kalian lucu sekali!"

Keduanya kini tertawa bersama. Sampai cahaya terang Lily lihat dari arah belakang Ginny. Dua orang bergandengan tangan tampak berjalan mendekat. "Dad?" panggil Lily heran.

Ginny berbalik untuk mencari tahu siapa yang dipanggil oleh Lily. "Oh, hi, Dad—"

"Dad? Mummy memanggil dengan sebutan Dad, bukan Harry?" tanya Lily kebingungan.

"Hai, Ginny. Kau tak masuk? Dengan siapa? Kenapa dia mirip sekali denganmu?" tanya si pria berambut hitam acak-acakan.

Ginny dan perempuan yang ikut bersama pria itu saling bertatapan lantas tertawa. "Ini dia, Ginny?" tanya si wanita dan Ginny mengangguk membenarkan.

"Dad tak mengenalku, Mummy?" Lily berbisik makin tak mengerti?

Ginny memukul jidatnya pelan menyadari kesalahannya. "Harusnya aku mengatakannya sekarang. Ini putriku, Dad. Dia baru sampai," tutur Ginny pada si pria berambut hitam acak-acakan.

"Oohh, Elvendork!"

Prak! "Bukan, James!" pukul wanita di sisinya tepat di kepalanya. Lily menahan napasnya terkejut. "Dia Lily? Bukan begitu, Ginny?"

"Aku tahu kalau kau bernama Lily, maksudku—"

"Namanya memang Lily, Dad. Mum benar, Harry menamainya Lily." Potong Ginny menjelaskan perkara nama putrinya. James dan Lily menatap Lily bersamaan dan menyunggingkan senyuman kepadanya.

Lily menarik lengan Ginny mencari perhatian. "James? Lily? Jadi kalian—"

"Mereka Grandpa James dan Grandma Lily, sayang. Orang tua Dad. Jadi Grandpa James bukan Dad. Mirip!" Ginny mendorong tubuh Lily agar mendekat ke kakek dan neneknya.

"Wow, James pasti bangga aku bisa bertemu denganmu, Grandpa! Tapi Grandpa tak pakai kacamata seperti Dad?" kata Lily pada James.

"Di sini semua orang menjadi baik. Tidak ada rasa sakit atau apapun itu. Jadi aku tak membutuhkan kacamata. Mataku sudah sangat jelas sekali. Yahh karena aku James, nak, tentu saja aku bangga dengan diriku sendiri," tutur James sombong. Lily Potter dan Ginny menggeleng heran dengan sikap James yang suka sekali bercanda.

Lily menggeleng, "bukan, bukan kau, Grandpa. Tapi James kakakku. Dia mengidolakanmu!" bisik Lily senang. Ia lantas memeluk James erat. Selanjutnya Lily bergantian memeluk neneknya erat.

"Sama-sama Lily. Kita sama, Grandma!" kata Lily selepas memeluk Lily Potter.

"Yahh dan sama-sama cantik," jawab Lily Potter sambil tersenyum pada cucunya.

James tampak mendesah lemas melihat kedua Lily saling berpelukan. "Jadi cucuku diberi nama James, sama dengan namaku. Aahh aku bangga dengan putraku! Tapi, Lily, apakah ada lagi kakakmu yang bernama Elvendork?" tanya James.

"El.. Elve El— El siapa, Grandpa?" Lily kesulitan mengeja nama itu.

"Elvendork! Ada tidak?" ulang James semakin memperjelas,

"El.. Elv El-ven-dork, ya, kalau El—" Lily menggigit bibirnya frustasi kesulitan mengejanya jelas, "itu, tidak ada. Kakaku bernama James dan Al. Bukan El. Al, Albus. Bukan El—"

"Vendork. Jadi tak ada?" James lemas.

Lily menggeleng, begitupula Ginny. "Sejak dulu aku suka sekali dengan nama Elvendork. Tapi—" James melirik ke arah Lily Potter yang sudah menatapnya tajam. "Lily lebih suka nama Harry. Bukankah Elvendork itu nama yang keren, kan, Lily? Bisa digunakan untuk laki-laki dan juga perempuan," James mencari dukungan pada Lily kecil.

Lily berpikir sejenak lantas mengangguk. "Yes! Cucuku memang punya selera seni yang tinggi, sayang! Dia kreatif!" ujar James pada istrinya. Ginny dan Lily tertawa bersama.

"Terserah kau, James. Oh, ya, Ginny. Kau tak ikut masuk?" tanya Lily Potter

"Tidak, Mum. Kau dan Dad masuklah dulu. Kami masih ingin ngobrol sembentar."

James dan Lily Potter memeluk Lily bergantian. Mengucapkan salam perpisahan lantas mendahului Lily dan Ginny untuk masuk ke kastil.

"Mereka masuk ke sana, Mummy?" tanya Lily menunjuk kastil itu.

"Ya, kami semua berkumpul di sana." Kata Ginny. Ia meminta kembali duduk ke bangku mereka.

Tidak lama kemudian. Satu lagi sosok bercahaya itu muncul dari arah belakang Ginny. Lily menujuknya dan meminta Ginny melihat ke arah sosok yang segera mendekat. "Oh, hai, Fred!"

"Hai, adek kecil. Wow, kenapa kau punya kembaran?"

Lily melihat siapa lagi yang muncul di depannya. "Uncle George?" tanya Lily.

"Yahh aku George" katanya bangga. Namun Ginny segera menatapnya tajam. "Ahh baiklah, Ginny, sebelum kau marah. Ya, aku bukan George. Tapi Fred, nak. Tapi.. tunggu dulu. Siapa anak ini?" tanya Fred pada Ginny.

"Dia anakku, Fred. Lily!"

Dengan hebohnya, Fred memekik histeris melihat keponakannya datang. "Dia keponakanku? Wow, dia mirip sekali denganmu. Rambut Weasley. Tapi senyumnya milik Potter. Harry dan kau hebat sekali membuatnya. Salut aku padamu, adikku,"

"Fred!" ancam Ginny untuk segera memperbaiki bicaranya. "Ada anak kecil!" lanjut Ginny.

"Oke oke. Tapi maaf, ya. Aku harus segera masuk. Aku mau membuat mainan baru, boneka perasa." Kata Fred penuh keyakinan.

Ginny menaikkan alisnya. "Boneka apa itu?"

"Ahh boneka perasa. Aku punya, Uncle Fred. Uncle George sudah menjualnya di toko. Dan laris. Akupun punya satu, diberi olehnya." Lily tersenyum lebar.

"Waw, saudaraku memang hebat. Aku bangga padanya. Ah berarti aku harus membuatnya untuk mereka. Aku masuk dulu, ya."

Lily dan Ginny mengangguk lantas melambaikan tangannya pada Fred. Akhirnya mereka kembali berdua. Tenang setelah semuanya masuk. "Mummy, mereka semua memakai baju putih. Semua, Grandpa, Grandma, Uncle Fred, Mummy. Semua pakai baju putih. Tapi aku—"

"Karena kau belum sepenuhnya siap tinggal di sini, sayang," kata Ginny sambil menggenggam tangan putrinya. "Kau belum sepenuhnya siap."

"Tapi aku ingin tinggal di sini. Aku siap, Mummy!" Lily protes akan nasipnya.

Ginny menggeleng pelan. "Tidak hanya kau yang siap, tapi orang lain belum siap untuk kau tinggal di sini, nak. Masih ada yang ingin kau tetap bersamanya."

"Mummy, kan?" tanya Lily.

"Daddy! Dad, sayang. Dad masih ingin bersamamu. Dan semua orang di sana. Mereka ingin kau kembali." Ginny kini diam. Membiarkan Lily untuk memikirkan apa keinginannya.

Lily berdiri dari tempatnya duduk. Kembali mengamati hamparan rumput di sekelilingnya dan bunga-bunga daisy yang tumbuh cantik di sepanjang sisi jalan. "Aku hanya menyusahkan mereka, Mummy. Aku membuat mereka malu. Aku harus menutupi semuanya dari banyak orang –"

"Menutupi apa?" tanya Ginny. Ia ikut berdiri di sisi Lily.

"Aku squib, Mummy. Aku tidak bisa sihir. Apapun itu alasnya. Aku tak masalah. Tapi squib. Aku berbeda. Dan aku harus jauh dengan—"

"Tidak ada yang perlu disembunyikan, Lily," Ginny menarik tubuh Lily agar menatapnya. "Kau, adalah Lily. Dirimu sendiri adalah milikmu. Jangan kau perlakukan buruk. Menyakiti sendiri itu rugi, nak."

"Tapi aku berbuat seperti ini agar mereka hidup tenang, tanpa aku." Lily meremas tangan Ginny kuat-kuat. Ia masih bisa merasakan dinginnya tangan Ginny sejak pertama mereka bersentuhan.

Angin berhembus menerpa kedua rambut merah itu. Sejuk saat masalah Lily mulai menjadi permasalahan di antara keduanya. "Apapun itu, yang membuat kau seperti tak bisa apa-apa. Jadikan itu pecut semangat untuk menjadi lebih baik. Kalau kau tak bisa menggunakan sihir, kau bisa melakukan yang lain. Jangan selalu mengikuti arus. Seorang squib pun bisa menjadi hebat dengan kemampuan spesial lainnya. Ingat kata Grandpa padamu tadi, kau kreatif! Ciptakan satu pandangan baru untuk para squib. Tunjukkan bahwa kau bisa berkarya."

Ginny menarik tubuh Lily ke pelukannya. Mencium puncak kepalanya dan terus berbisik. "Jika ada yang membuatmu jatuh, cobalah untuk bangkit." Kata Ginny.

"Apa aku bisa?"

"Mummy yakin kau bisa, nak! Banyak orang yang akan mendukungmu. Ahh ada yang datang rupanya," seru Ginny tiba-tiba. Lily melepaskan pelukan Ginny dan memperhatikan apa yang sedang dilakukan ibunya itu. "Kemari!" perintah Ginny pada seseorang yang datang dari samping Lily.

Seorang anak laki-laki berambut hitam acak-acakan bermata coklat datang dengan terbalut kain tebal berwarna biru di tubuhnya. Ia berjalan tanpa alas kaki. Tangannya tak terlihat karena terlilit kain biru itu. Hanya tampak kepala hingga leher dan kaki yang terlihat dari tungkai ke bawah.

Ginny memintanya untuk mendekat. Lily melihat anak laki-laki itu mendekat. Wajahnya tampak sedih di sisi Ginny. "Siapa ini, Mummy? Aku tak pernah melihatnya?" tanya Lily.

"Mummy juga, kau baru datang, nak?" tanya Ginny pada si anak itu.

Dia mengangguk. "Benar, Lily. Kau bertanya apa?" tawar Ginny saat melihat Lily seolah tak lepas memperhatikan anak lelaki itu.

"Iya, aku mau tanya, siapa namamu?" tanya Lily.

Si anak itu diam. Ia tak berbicara sejak sampai. Tubuhnya yang terbalut kain biru membuatnya semakin susah bergerak bebas. Ia lantas menggeleng. "Kau tak punya nama?" tanya Lily lagi.

Dia kembali menggeleng. "Kau ingin memberinya nama, Lily?" tanya Ginny.

"Em.. aku jadi teringat kata-kata Grandpa James tadi yang suka sekali dengan nama El.. El-Elvendork. Ya, Elvendork, yang ingin Grandpa beri untuk menamai Dad. Karena aku lihat kau mirip sekali dengan Dad, jadi, aku ingin namamu seperti nama kesukaan Grandpa James. El-ven-dork. Elvendork."

Anak lelaki itu lantas tersenyum. Ia menyukai nama pilihan Lily. "Dia suka, sayang. Ya, namamu El, El siapa, Lily?" tanya Ginny tidak jelas.

"Elvendork, Mummy. Tapi kalau kesulitan, kita panggil saja dia El. Sama seperti Al. Albus, tapi dipanggil Al." Usul Lily. Ia melihat ekspresi anak itu kembali.

Ya, dia tersenyum lebar lantas melihat ke arah Ginny sambil mengangguk. "Kau suka, El?" tanya Ginny meyakinkan. El mengangguk.

"Ow—" Ginny memeluk tubuh kecil El dan tiba-tiba.. cahaya putih muncul di tubuh El. Mata Lily silau melihatnya. Saat cahaya itu kembali redup, El sudah memakai pakaian serba putih laki-laki mirip yang dikenakan James dan Fred.

Lily terperangah melihat perubahan itu. "Mummy—"

"Kami siap untuk masuk, Lily." Ginny lantas mengandeng tangan El dan mengajaknya untuk masuk. Meninggalkan Lily sendirian di bangku taman.

"Mummy!" Panggil Lily. Ginny dan El berhenti lantas berbalik menatap Lily.

"Aku harus apa?" Lily bingung dengan apa yang harus ia lakukan setelah ini.

"Hidup itu pilihan, Lily. Masa depanmu ada di tanganmu sendiri. Lakukanlah apa yang kau bisa lakukan. Lihatlah jauh kedalam dirimu dan keluarlah, lihat apa yang bisa kau lakukan!"

Dan Lily semakin menatap kedua orang itu menghilang masuk ke dalam kastil. Lily menunduk mencerna semua pesan-pesan Ginny. Kedua tangannya terkatup. Berusaha mencari jawab.


Semua orang berkumpul di depan ruang rawat Lily sambil terus menenagkan satu sama lain.

"Biar Harry yang memutuskan di mana putra dan putrinya di makamkan nanti. Mungkin akan di sandingkan," kata Percy pada Mr. dan Mrs. Granger. Mereka lantas mengangguk sambil terus memperhatikan ke dalam ruangan. Harry masih terduduk di sisi ranjang Lily sambil terus memanggil-manggil nama Lily.

Arthur dan Ron mendekat. "Harry, alat-alat Lily harus segera dilepas. Kasihan putrimu. Ini sudah lewat satu jam. Dan itu artinya—"

"Lily masih bisa bertahan, Dad. Sebentar lagi!" kata Harry belum merelakan Lily pergi dari sisinya.

"Lily sudah tenang, Harry! Sihirpun tak bisa mengembalikan nyawa, apalagi medis," bisik Ron.

Harry menggeleng. "No, aku yakin Lily akan kembali, Ron. Lily akan kembali!"

Ron dan semua yang ada di sana sudah lelah dengan keputusan Harry untuk menahan jenasah Lily di sana. Lily tetap dibiarkan dengan alat-alat yang menancap di seluruh tubuhnya berkat permintaan Harry yang berkeyakinan putrinya masih bisa bertahan. Ya, walapun nyawanya telah hilang sejak satu jam yang lalu.

"Tapi ini akan membuat Lily juga sedih melihatmu terus seperti ini, Harry. Kami akan memanggil pihak rumah sakit untuk mengurus jenazah Lily—"

"No, jangan! Jangan, Ron. Aku mohon. Tidak, tidak, Lily bangun, nak. Ini Dad, kbangun, sayang!" Harry memeluk tubuh dingin Lily sambil menggoyang-goyakan tubuhnya. Saat Ron siap keluar dari ruangan, suara serang anak kelelahan terdengar di ruangan itu.

Tidak hanya Harry, Ron dan beberapa orang di dalam ruangan bingung dengan suara itu. "Anak siapa itu?" tanya Ron.

George mengelilingi ruangan sambil berpikir tentang suara yang begitu ia kenal. "Itu seperti suara boneka perasaku, tapi—" pandangannya tertuju pada boneka perasa yang ia selipkan di tangan Lily. Harry tampak menjauh dan melihat Lily yang masih diam.

Benar, suara itu muncul dari boneka yang dipegang Lily. "Boneka itu hidup. Jadi—"

"Lily!" panggil Harry.

Suara statis dari monitor jantung kembali berbunyi. Dan semua orang mendekat. Menyaksikan satu keajaiban di ruangan itu.


3 tahun kemudian..

"Oh, bloody hell! Ini semua karena kau!"

"Apa-apaan kau menyalahkanku? Aku sudah ingatkan tadi, bahkan kemarin. Bahkan satu minggu yang lalu. Simpan dengan baik, persiapkan music sheetnya, dan saat berangkat nanti bisa cepat. Tidak seperti ini, kan. Kau menaruhnya disembarang tempat yang bisa dijangkau Daisy. Untung tak sampai dibuatnya untuk menggambar. Kita kembali ke rumah dan terlambat. Mereka tak akan tampil kalau kau tak datang!"

"Kau juga, tak ada yang mengisi bagian vokal itu kalau tidak kau!"

Mereka berlari sepanjang koridor menuju hall terbesar di Hogwarts. Mencari jalan-jalan kecil yang sudah sangat dihapal oleh alumni pembuat onar yang telah lulus satu tahun yang lalu.

Setelah berliku-liku melewati tembok sempit, masuk melewati jendela, akhirnya mereka sampai di barisan para pengisi acara.

"Itu mereka!" seru seorang pria gondrong dengan bandana di kepalanya. Mereka memanggilnya, Myron Wagtail. Bahkan para orang tuapun tahu siapa dia.

"Oh, Potters!" Seru Prof. Flitwick cukup keras. "Semoga, ayah kalian tak melihatku berteriak memanggil nama keluarga kalian. Maaf—" potongnya sambil melihat ke arah penonton di balik tirai.

Seorang perempuan muda berambut merah keriting melihat keduanya lantas berteriak, "ahh tapi ayahku harus mendengar soal ini," gerutunya sebal.

"Ehh, Rosie! Kau sudah mirip sekali dengan si Scorpius itu. Kau benar-benar kasmaran dengan Malfoy? Uncle Ron juga harus tahu!"

"James, diam!" peringat Juno, putra Seamus, sambil mengapit biolanya.

Pria paruh baya berperawakan besar, Orsino Thruston, mendekati Prof. Flitwick lantas berbisik. "Kita sebentar lagi tampil. Mereka sudah siap," katanya.

"Baiklah anak-anak! Dan perhatian semua. Baris tepat di posisi masing-masing, kita akan keluar sebentar lagi."

Suara gemuruh sorakan para murid dan orang tua yang menghadiri pesta kelulusan itu meneriaki nama-nama yang mereka kenal akan tampil sebentar lagi. Tiga diantaranya adalah pria dewasa berambut merah, wanita dewasa di sisinya, dan satu anak berusia tiga tahun yang ikut bertepuk tangan kegirangan.

"Mereka belum keluar juga, ya?" tanya Hermione di samping Harry.

"Sabar, Mione! Kau juga, Daisy. Sabar!" Harry membenarkan poni putri kecilnya itu dengan telunjuknya. Daisy Ginevra Potter, gadis kecil bermata hijau cerah itu kembali bertepuk tangan girang di pangkuan Hermione. Rambut coklat berombaknya naik turun akibat susahnya dia untuk diam.

Harry menggeleng heran saat mendengar teriakan Daisy. Lantang dan lepas. Ron kini mengangkatnya makin membuat Daisy kegirangan bersama Ron dan Lavender. "Mirip teriakanmu!" bisik Harry ditelinga Hermione. Harry mencium pipi Hermione.

"Tapi hebohnya sepertimu, sepenuhnya!"

Harry dan Hermione berhadapan lantas berciuman singkat. Takut ulah mereka dilihat oleh orang lain. Mereka sedang bersama banyak orang tua murid lain yang menghadiri acara kelulusan putra-putri mereka di Hogwarts. Ya, tahun ini tepat angkatan Al, Rose, Scorpius dan anak-anak lain lulus dari tahun ke tujuh mereka di Hogwarts.

Setelah acara penyematan tanda kelulusan selesai, acara hiburan segera digelar. "Itu mereka!" Daisy berteriak melihat segerombolan para murid berjubahkan seragam murid Hogwarts dari empat asrama yang berbeda serta beberapa orang lain yang memakai pakaian pesta ikut maju di depan.

Ada tiga orang yang menjadi pusat perhatian mereka. Sang vokalis Weird Sisters, Myron Wagtail, kemudian pria kecil yang sangat dikenal para murid dan alumnus Hogwarts, Prof. Filius Flitwick, serta seorang gadis muda cantik berbalut gaun hitam sepanjang lutut yang tampak elegan berdiri dipaling ujung.

"Lily!" teriak Daisy memanggil sang kakak.

Setelah memberi salam. Mereka menempati posisi masing-masing. Ada sekitar dua puluh anak berdiri di masing-masing empat blok berbeda dengan mengenakan seragam berlogokan asrama masing-masing. Serta beberapa orang campuran asrama dan pakaian umum duduk di bangku tim orkestra, dan tak lupa sudut kusus band yang menampilkan dua orang personel Weird Sisters, Orsino Thruston di belakang drum dan Donaghan Tremlett di bagian bass, serta tak lupa James yang siap dengan gitarnya dan Rose di depan piano.

Lily, Myron, dan Prof. Flitwick mengisi posisi awal di bagian pimpinan beberapa sektor. Prof. Flitwick memimpin bagian orkestra, Myron mengatur band, sedangkan Lily mengatur empat grup paduan suara dari empat asrama berbeda. Dua puluh anak dikali empat asrama, ia memimpin delapan puluh orang.

Sejak kemenangannya di ajang cipta lagu, Lily sangat dikenal publik luas sebagai penyanyi berbakat. Tidak hanya di dunia Muggle tapi juga dunia sihir. Lagu yang mendadak Lily ciptakan saat final, Nothing to Hide, dimainkan hanya dengan piano, menyihir para juri yang terhanyut dengan lagu yang baru diciptakannya. Lagu yang terinspirasi dari pesan-pesan Ginny selama masa peralihannya saat itu membuatnya makin dikenal banyak orang.

Lily sehat, setelah keajaiban itu membuatnya bangun setelah dinyatakan meninggal. Dan kini, selain bersekolah, Lily mengisi posisi sebagai pengajar paduan suara Hogwarts setiap akhir pekan membantu Prof. Flitwick yang semakin susah mengatur waktu akibat usia yang semakin senja.

Di acara hiburan kali ini, grup paduan suara dan orkestra Hogwarts mendapatkan kesempatan berkolaborasi bersama para anggota Weird Sisters, alumnus Hogwarts yang berbakat di bidang musik, seperti James dan Juno yang telah lulus satu tahun lalu. Serta penampilan spesial dari Lily Luna Potter, penyanyi muda yang juga bersinar di dunia sihir, dibawah naungan Orsino yang memproduserinya menjadi penyanyi untuk dunia sihir.

Kolaborasi spesial dari mereka menampilkan sebuah lagu karya musisi Muggle yang terkenal. Lagu yang mereka buat berjudul Bohemian Rhapsody. Lily sendiri yang memilih dan disetujui oleh anggota yang lain. Lagu yang atraktif.

Penampilan solo beberapa part dinyanyikan bergantian oleh Myron, Prof. Flitwick dan Lily. Beberapa part nada tinggi diambil oleh Myron untuk lirik-lirik yang tepat dinyanyikan pihak laki-laki. Dan saat part bebas, Lily masuk untuk bernyanyi.

"Mama, oooo..." nyanyian Lily diselingi oleh paduan suara yang mengiringinya dengan lirik lain.

"I don't want to die, sometimes wish I'd never been born at all!" suara tinggi Lily terkontrol dengan baik dan terdengar luar biasa. Banyak orang merinding mendengar suaranya.

"Wicked! Lily! Kau beri makan apa dia, Harry?" Ron memekik heran begitu indah suara sang keponakan.

Dilanjutkan dengan permainan gitar solo James yang memukau banyak orang. "My boy!" pekik Harry bangga pada James. Dan selanjutnya, hanya penampilan piano Rose yang mendominasi di akhir permainan James dan setiap akhir part paduan suara.

"Oh, Rosie! Putriku luar biasa. Jarinya seperti tumbuh seratus saat bermain piano." Kata Lavender begitu senang melihat bakat lain putrinya. Rose sendiri berlatih piano bersama Hermione sejak tiga tahun terakhir, ikut saat Lily juga berlatih vokal. Namun ia lebih tertarik dengan piano, karena menyadari suaranya cempreng, tak semerdu Lily.

Penampilan terus berjalan semakin mengesankan saat para anggota paduan suara ikut bergoyang bersama. Lima menit lebih penampilan mereka akhirnya berakhir. Semua orang berteriak mengelu-elukan penampilan spektakuler mereka. Acara kelulusanpun telah usai. Dan satu persatu para tamu dan siswa pulang bersama orang tua mereka.

Keluarga Potter dan Weasley memilih langsung menuju pemakaman untuk mngunjungi beberapa makan keluar. Tepat di sesi kunjungan terakhir, mereka semua berhenti di depan makam dengan nisan bertuliskan Ginevra Molly Weasley-Potter. Khususnya untuk Al, ia lebih dulu maju dan menaruh karangan bunga daisy di depan nisan ibunya.

"Aku lulus, Mummy. Kau pasti bangga padaku. Aku lulusan terbaik kedua setelah seorang anak dari Ravenclaw. Rosie dan Scorpius aku kalahkan. Dan tentu saja, aku mengalahkan James yang hanya lulusan terbaik ketiga tahun lalu." Kata Al di depan makan Ginny.

"I love you, Mummy!" kata Al menutup pesannya.

Dan kini giliran Lily dan Daisy bersamaan meletakkan bunga daisy ungu di depan nisan Ginny. "Hi, Mummy," kata Daisy dengan senyuman menawan, "tadi aku melihat Lily menyanyi begitu hebat, aku mau sepertinya, Mummy. Doakan aku juga menjadi penyanyi hebat seperti Lily, ya! Dan bergabung dengan anggota Weird Sisters sebagai vokalis wanita pertamanya, kau pasti bangga padaku nanti, Mummy!" celoteh Daisy membuat beberapa orang yang mendengarnya gemas. Daisy memanggil Ginny dengan sebutan Mummy. Seperti Lily, James, dan Al.

Hermione dan Harry mengajarkan bahwa Ginny juga ibu mereka. Setelah selesai di makam Ginny, mereka berpindah makam tepat di sisi makam Ginny. Nisan bertuliskan Elvendork Hedwig Potter. Kembaran Daisy yang meninggal setengah jam setelah dilahirkan karena mengalami gagal jantung. Lilylah yang menamai adik lelakinya dengan nama Elvendork.

"Grandpa James sangat bangga dengan nama itu, Dad. El juga suka. Dia tampan seperti Dad," bisik Lily di telinga Harry. Menceritakan tentang pengalamannya bertemu beberapa orang yang telah meninggal. Harry tidak mempermasalahkan cerita itu benar atau tidak, ia sudah sangat bersyukur Lily dapat kembali hidup dan sehat.

Harry mengangguk lantas mencium pipi Lily. "El sudah ditemani Mummy. Mereka sudah tenang," kata Harry.

"Yah, mereka bedua bahagia di sana," Lily berbinar melihat kedua makam orang yang begitu ia cintai. Hidupnya semakin tenang. Kini tinggal Harry dan Hermione berjalan paling belakang melihat keluarga mereka bergegas kembali pulang. "Semuanya sudah tenang. Semuanya bahagia—" kalimat Hermione terpotong saat melihat Harry tak mendengarnya. Ia mencari tahu mengapa Harry hanya terdiam sambil melihat kearah gerbang makam.

Lily, berdiri berdua dengan seorang pria muda tampan berambut coklat yang tampak sangat akrab dengan Lily. Mereka berbicara berdua. "Siapa anak laki-laki itu?" tunjuk Harry. "Aku melihatnya tadi di kastil," lanjutnya.

"Oh, ya, dia seingatku satu angkatan dengan James. Nah tanya saja dengan James,"

Hermione memanggil James yang berjalan berdua dengan Al sambil mengandeng Daisy. "Iya," tanya James sambil menggendong Daisy.

"Kau mengenal anak yang bersama Lily?" tanya Harry.

"Oh, Geralt? Tentu saja. Dia satu kelas denganku dulu. Dia mengajar orkestra part time sekarang di Hogwarts. Seperti Lily. Dia juga main tadi. Orang tuanya yang memiliki toko musik terbesar di Diagon Alley itu, loh!" kata James sambil terus bermain dengan rambut Daisy.

"Aku lihat sejak Lily di Hogwarts, mereka memang sering berdua, Dad. Aku tak bohong!" tambah Al. Ia sering memata-matai Lily saat ia bersekolah.

Harry mendesah waspada putrinya sudah mulai didekati pria. "Baiklah, satu pertanyaan lagi, dia mengajar orkestra dan ikut orkestra juga. Di posisi apa dia?" tanya Harry makin penasaran. Ia ikut menggoda Daisy sampai gadis cilik itu terkiki kegelian mendapat ciuman ayahnya di hidungnya.

"Biola. Dia pemain biola yang hebat, Dad!" jawab James.

"Ow, syukurlah. Sekarang Dad punya tugas untuk kalian bertiga. Kau juga Daisy, mata-matai Lily dan si Geralt. Dan laporkan semuanya kepada Dad. Oke!"

"Oke!" mereka bertiga lantas berlari bersamaan mendekati Lily yang sedang asik berduaan.

Hermione memukul pelan lengan Harry pelan, "kenapa kau ini? Lily sedang didekati anak lain, mereka berteman mungkin?" kata Hermione.

"Berteman? Oh, anak jaman sekarang, Mione. Modus anak lelaki seperti itu sekarang. Berlaga menjadi teman, lalu.. Cinta jadi alasan." Tutur Harry seperti orang cemberu. Ia tertawa melihat James, Al, dan Daisy mengganggu Lily dan Geralt yang sedang berduaan.

Hermione pun ikut tertawa melihat ulah anak-anaknya. Daisy juga sudah mulai ahli dalam mengusili orang-orang. Buah ajaran kakak tertuanya, James. "Lalu kenapa kau tenang saat mengetahui Geralt pemain biola?"

"Karena," Harry menahan tubuh Hermione lantas mencium bibirnya. Sukup lama sampai mereka merasa kurang oksigen, Harry melepas pagutannya lantas berkata, "dia bukan drummer. Karena aku takut kalau kau juga jatuh cinta padanya. Seperti O—"

"Orsino. Aku lebih mencintai pria berkacamata daripada pria penggebuk drum. I love you, Harry!" Hermione kembali mencium Harry.

"I love you too!"

Seiring kedua meninggalkan area makam, dua sosok berpakaian serba putih berdiri dari jauh sambil menatap keduanya tersenyum. Lantas bergandengan dan menghilang.[]

- FIN -


#

Yey, akhirnya fic terpanjang dan terlama yang pernah Anne tulis akhirnya selesai. Anne buat ini jauh lebih panjang dari biasanya. Semoga nggak bosen, ya! kalau dihitung ini chapter terpanjang, sampai di 6.8k. Banyak ya! Haha.. Oh, ya info aja untuk teman-teman, Anne pakai berat dan panjang bayi Daisy dengan konversi pound, biasanya orang luar begitu, panjang juga pakai inci. Ya, bisa dihitung sendiri. Pokonya beratnya sekitar 2 kg lebih, hampir tiga kg. Untuk istilah medis saat persalinan atau emergency Lily, bisa browsing saja, ya. Anne nggak kuat kalau harus menjelaskan juga. Sudah terlalu banyak. Semoga nggak salah saja, hanya sebatas pengetahuan Anne itu. Maklum calon bidan tapi nggak jadi. *lupakan Anne curhat*

Buat nama Elvendork yang pernah baca cerpen James dan Sirius pasti tahu nama itu. Hehehe.. Sedangkan Daisy, karena Anne suka dengan bunga Daisy. Bukan hanya Ginny. *padahal Anne yang suka, heheh* Kalau lagunya Lily yang Nothing to Hide, memang ada, bisa buka IG Anne yang video anak main piano. Anne posting beberapa minggu lalu. Kalau yang paduan suara, itu lagu Queen. Anne inget aja waktu lomba paduan suara pakai lagu itu. Anne rasa itu lagu keren yang harus dinyanyikan paduan suara! Hehehehe..

Sekali lagi terima kasih buat semua yang sudah sudi membaca, review. Anne sangat berterim kasih sekali. Jadi, Anne pun tak lupa untuk meminta teman-teman untuk meninggalkan review kalian di sini. Bisa juga di IG atau twitter Anne. Ok! Bisa request atau apapun. Tunggu kisah baru dari Anne, follow IG Anne kalau mau tahu apa rencana fanfic terbaru Anne nanti. Bisa jadi, Anne kasih bocoran di sana.

Sekali lagi terima kasih, Anne sayang kalian!

Thanks,

Anne xoxox