SKY
Cast : Haruto Hyuga (OC), Hinata Hyuga, Sasuke Uchiha, and other
Rate : T
Genre : Family
Disclaimer : Naruto Masashi.K
Warning : OOC, Typo, Death Chara, Alur maju mundur, dan banyak lagi kekurangan yang lain
RnR
DLDR
Enjoy :)
Chapter 2
Liburan adalah sesuatu yang sangat disenangi oleh setiap pelajar. Pada saat itu semuanya bisa melepas penat dengan mengunjungi tempat-tempat wisata. Tapi seprtinya euforia itu tidak berlaku bagi dua bersaudara berbeda rambut itu. Bagaimana akan menikmati waktu berlibur jika tempat yang kau tuju adalah pemakaman. Meski letak pemakaman itu berada di daerah pegunungan seperti Konoha yang sangat asri, tetap saja rasa bosan akan menghantuimu. Dan itulah yang dirasakan keduanya.
"Aishhh...mendokusai" sebuah kata yang entah untuk kesekian kalinya terlontar dari bibir seorang gadis berusia sepuluh tahun. Sudah hampir tiga puluh menit dirinya dan kakanya menunggu di bawah pohon akasia tak jauh dari makam yang tengah dikunjungi kedua orangtuanya.
"Haruto-nii, berhentilah memainkan benda bodoh ini"dilemparkannya game yang tengah dimainkan sang kakak. Dia sama sekali tidak peduli jika kakaknya akan marah, asal saat ini dia tidak diabaikan.
"Yakkk...Hanabi...apa yang kau lakukan? Aku hampir saja menyelesaikan level akhir" kemarahan terlihat jelas dimata sang kakak, dan itu tidak membuat Hanabi menyesali perbuatannya.
"Salahmu yang mengacuhkanku, weeek :P" sebuah ejekan khas anak kecil tanpa sadar dikeluarkannya. Dan itu sontak membuat smirk sang kakak keluar.
"Dasar anak kecil" ejekan balasan dilontarkan Haruto. Dan tidak lupa tangannya mengacak surai coklat sang adik. Kedua hal itu sangat dibenci oleh Hanabi.
"Yakkk...aku bukan anak kecil. Aishhh..." omelannya hanya terdengar oleh angin, karena sang kakak telah beranjak menemui kedua orang tua mereka.
*Haruto Pov*
"Yakkk...aku bukan anak kecil. Aishhh..." sebuah kesenangan tersendiri saat melihat Hanabi sekesal itu. Biasanya dia akan menunjukkan sikap sok dewasanya kepada semua orang. Kadang Oba-san sangat takut jika cucu perempuannya tidak dapat menikmati masa kecilnya. Berbanding terbalik dengan Oji-san yang bangga dengan sikap Hanabi.
Kutinggalkan imutouku dengan segala kekesalannya. Kali ini aku kembali berhasil membuat sikap kekanakannya muncul di permukaan, bahkan Kaa-san tidak bisa melakukan hal itu. Meski beliau sangat ingin melakukannya. Bahkan seringkali dia mengeluh karena sikapku dan Hanabi serupa dengan sikap Otou-san.
Seperti liburan sebelumnya, liburan kali ini akan kuhabiskan di Konoha. Sebenarnya aku enggan mengunjungi kota ini. Bukan karena tidak mau bertemu dengan Oji-san dan Oba-san, hanya saja rutinitas yang monoton di awal hari yang selalu berhasil membuat moodku buruk. Bagaimana tidak buruk jika kau memulai harimu dengan datang ke pemakaman. Bukankah pemakaman merupan simbol dari kesedihan? Jika kau memulai harimu dengan bersedih, maka kebahagiaan seakan enggan menghampirimu seharian.
Tapi itu bukan alasan kenapa aku membenci kota ini. Alasan utama aku membenci kota ini adalah keberadaan seorang gadis yang aku sendiri tidak pernah bertatap muka dengannya. Sebenarnya dia tidak benar-benar ada di kota ini. Yang tersisa darinya saat ini adalah sebuah gundukan tanah yang sudah dipenuhi oleh bunga. Dan sebuah foto dirinya yang selalu tergantung indah di ruang tamu keluarga Hyuga.
Ya, gadis yang kubenci itu telah menghadapa Kami sama jauh sebelum aku dilahirkan. Dan alasan kebencianku padanya karena dengan seenak hatinya dia memberiku sebuah identitas yang akan kusandang sepenjang hidupku. Haruto Hyuga, adalah nama yang ingin diberikan kepada calon keponakannya. Dan itu adalah permintaan terakhirnya yang tidak bisa ditolak oleh Otou-san dan Kaa-san. Alasan dibaliknya aku sama sekali tidak tahu.
Kebencianku bermula saat ada seorang teman Otou-san berkunjung dan menanyakan namaku. Setelah tahu namaku dengan ringannya dia berkata jika aku sangat mirip dengan adik Otou-san. Orang itu bukan yang pertama berkata demikian. Sebelumnya juga ada yang berkata seperti itu. Dan itu selalu terjadi setiap kali Otou-san bertemu dengan temannya dari Konoha. Terlebih kami memiliki nama yang sama, Hyuga.
Aku berbagi kebencian itu dengan Hanabi. Dia adalah satu-satunya orang yang tahu betapa aku sangat membenci bibiku yang telah bersatu dengan alam. Dan dengan semua kebohongan yang kukatakan padanya, dia juga ikut membencinya. Terdengar jahat memenag, tapi aku tidak peduli.
'Bruuk...' sebuah tabrakan kurasakan dibahuku. Tidak terlalu keras memang, tapi mampu membawaku kembali kednia nyata. Ternyata membanyagkan asal mula kebencianku terhadap kota ini membuatku terdiam dan tidak melanjutkan langkah. Dari jauh kulihat Hanabi menjulurkan lidahnya, mengejek. Karena saat ini dai hampir sampai di makam gadis itu, Hinata Hyuga.
Terlalu lama duduk di bawah pohon akasia membuatku tidak menyadari kedatangan orang baru di makam Hinata. Hampir setiap hari aku akan bertemu dengan teman Otou-san atau teman Hinata disini. Dan respon yang mereka lakukan selalu sama. Terbelalak kaget, seolah melihat teman mereka kembali hidup dalm wujud laki-laki. Hal ini semakin menambah kadar kebencianku pada Hinata, dan aku pikir rasa benci itu tidak akan pernah hilang dari hatiku.
Seperti dugaanku sebelumnya, laki-laki yang tampak tidak asing itu sempat membelalakkan mata saat aku telah berada tak jauh dari mereka. Dan dengan kemampuan mengendalikan emosi yang setara dengan kemampuan Otou-san, dia kembali memasang wajah datarnya. Laki-laki bersurai raven dengan model rambut yang aneh itu terlihat tidak begitu akrab dengan Otou-san, berbeda dengan orang-orang yang selama ini kujumpai. Seolah ada kecanggungan diantara keduanya. Dan tak lama kemudian, dia beranjak tanpa menoleh ke belakang. Tapi sebuah suara yang sangat familiar bagiku terdengar sebelum laki-laki asing itu menghilang dari pandangan.
"Sampai jumpa?" tanyaku heran dengan teriakan Hanabi beberapa saat lalu. Kini kami telah berjalan menuruni area makam yang menyerupai bukit-bukit kecil. Dapat kulihat semburat merah muncul di kedua sisi wajahnya. Sebuah hal baru yang pertama kali terjadi pada Hanabi.
"Kau tahu Nii-chan diantara semua teman Otou-san dan Hinata Ba-san yang pernah kutemui, Sasuke Jii-san adalah yang paling tampan" dengan malu-malu dia mengatakan hal itu. "Dan aku berharap bisa bertemu dengannya setiap hari. Anggap saja sebagai anugrah yang diturunkan Kami karena kesabaranku mengunjungi makam Hinata Baa-san stiap kali liburan" sebuah cengiran ditampilkan di wajah cantiknya.
"Jangan terlalu berharap" kataku dan langsung dibalas dengan dengusan kesal dari Hanabi. Pagi itu berakhir dengan lebih baik. Setidaknya laki-laki yang bernama Sasuke itu tidak berteriak histeris seperti kebanyakan orang saat bertemu muka denganku. Mungkin dia hanya sekedar kenalan seorang Hinata Hyuga.
*Haruto pov end*
Malam telah larut saat seorang laki-laki memasuki mansion megah miliknya. Dia sama sekali mengacuhkan sapaan setiap pelayan yang masih terjaga. Pikirannya masih terpaku pada pertemuan singkatnya dengan seorang remaja lelaki di pemakaman pagi tadi. Wajah sang remaja seolah tidak bisa hilang dari pandangannya. Bahkan banyaknya minuman yang ditegaknya malam ini tidak mampu mengalihkan pikirannya. Dengan langkah gontai dia memasuki ruang pribadinya yang sangat gelap.
Tidak ada sedikitpun keinginan untuk membuat tempatnya berada saat ini menjdai terang. Keengganan melingkupinya. Tidak hanya itu rasa takut dan sedih akan selalu dirasakannya tiap kali ujung matanya menangkap sebuah gambar yang tidak terlalu besar di meja kerjanya. Sebuah foto terakhir yang sempat diambilnya dengan sahabat yang sangat dikasihinya.
"Dia sangat mirip denganmu Hime, hampir saja aku kehilangan kendali diri dan menganggap dia adalah dirimu. Seandainya itu terjadi, dia akan semakin membencimu" monolognya dalam gelap. Entah tahu darimana laki-laki itu jika remaja yang sempat dikiranya sang sahabat membenci gadis cantik itu. Mungkin dari tatapan benci yang sempat dilihatnya sekilas saat remaja bernama Haruto itu melihat nisan Hinata. "Dan semoga dia segera tahu kebenarannya. Entah kenapa rasanya sakit jika ada orang yang membencimu Hinata" setelah berkata demikian, Sasuke jatuh tertidur dengan sebuah mimpi yang akan membuat senyumnya muncul saat bangun nanti.
T
B
C
GOMENASAI... entah masih ada yang ingat dengan cerita ini atau tidak. Baru bisa update setelah terbengkalai begitu lama, Gomene
Bahkan chapter kali ini tidak begitu panjang, atau malah bisa dibilang drable. Gomene
Dan terima kasih bagi yang follow dan nge-fav cerita aneh ini, semoga tidak mengecewakan.
Sebuah saran dan kritik dengan senang hati akan diterima. Ucapan terima kasih juga kepada siapa saja yang telah meluangkan waktunya untuk membaca cerita aneh ini.
Oh ya jika ada yang berkenan ingin berteman denganku bisa melihat di FBku, Opie Aewes :)
Sekali lagi kuucapkan HONTOUNI ARIGATOU...
Salam
Opie ^^
