Konnichiwa Minna...
Hampir seabad gak update cerita ini. Bahkam mungkin para reader sudah lupa dengan ceritanya. Gomenasai.
Bukan bermaksud menelantarkan cerita ini, hanya saja idenya seakan menghilang *ngeles*
Dan untuk pembenaran bahwa di Chapter 1, usia Sasuke disitu 30, tapi sebenarnya 40. Gomen karena tidak teliti. Soalnya baru beberpa waktu yang lalu dibaca ulang, eh nemu yang ganjil. Sekali lagi Gomenasai. *Alasan lagi*
Untuk para reviewer maaf tidak bisa balas reviewnya, tapi lain kali diusahakan akan dibalas. Untuk yang nge-fav dan follow, Arigatou. Untuk yang bersedia membaca cerita ini, Arigatou.
Semoga chapter ini bisa menjadi penyemangatku untuk update kilat
SKY
Cast : Haruto Hyuga ( OC ), Sasuke Uchiha, Hinata Hyuga and other
Rate : T
Genre : Family
Disclaimer : Naruto Masashi.K
Warning : OC, OOC, Typo, Death chara, cerita yang aneh, dan kekurangan yang lain
DLDR
RnR
Enjoy :)
Chapter 3
Butiran butiran air masih terus turun sejak dini hari. Membuat banyak orang menghela nafas kecewa karena rencana liburan musim semi yang telah mereka rancang tertunda. Tapi sepertinya hal itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi seorang remaja pria yang kini dengan riangnya melihat rintikan hujan yang menerpa jendelanya.
"Akhirnya... sepertinya hari ini Kami-sama telah bebaik hati padaku" ujarnya dengan senyum yang tak pernah absen dari wajahnya sejak bangun tidur tadi. Kebahagiaan tersendiri bagi seorang Haruto Hyuga saat hujan mengguyur Konoha seperti hari ini. Pasalnya dia tidak perlu merasa terpaksa pergi ke tempat yang paling dihindarinya.
Setelah sarapan, remaja tujuh belas tahun itu langsung kembali kekamarnya. Dia sama sekali mengacuhkan keberadaan sang adik yang sedari tadi mengekor padanya. Entah terlalu bahagia atau apa sehingga membuat Haruto melakukan hal demikian.
"Terlalu bahagia huh?" kesal Hanabi sambil merebut game yang tengah dimainkan sang kakak. Dan hal itu akhirnya membuat Haruto sadar jika sang adik berada disampingnya. Dan tanpa rasa bersalah sedikitpun karena telah mengacuhkan Hanabi, sebuah pertanyaan membuatnya mendapat teriakan dari adik manisnya itu.
"Sejak kapan kau disini?"
"YAKKKK,,,,,HARUTO HYUGA...KAU SANGAT MENYEBALKAAAAAN..." teriakan Hanabi yang cukup keras mampu menarik perhatian keluarga Hyuga yang lain. Sementara Haruto hanya berdoa semoga setelah ini keadaan telinganya akan baik-baik saja.
"Hanabi-chan, kenapa kau berteriak seperti itu? " tanya seorang wanita cantik yang baru saja datang karena teriakan putrinya itu.
"Aku benci Haruto" sahut Hanabi seraya keluar dari kamar kakaknya. Sedangkan Haruto yang masih belum benar-benar mengerti akan kondisi yang tengah dihadapinya hanya mampu memasang wajah bodohnya.
"Kenapa dengannya?" kali ini sang ibu bertanya kepada sang empunya kamar.
"Mana aku tahu, tiba-tiba dia muncul dan berteriak seperti itu" jawab Haruto masih penuh dengan kebingungan.
"Huh? Apa kau tidak tahu jika Hanabi mengikutimu sejak sarapan tadi?"
"Hah..? Apa ? Oh...iie" pada titik ini akhirnya dia tahu penyebab kemarahan adiknya itu. Haruto telah mengacuhkan Hyuga muda itu cukup lama. Karena perasaan bersalah, akhirnya Haruto pergi untuk meminta maaf kepada sang adik.
*Haruto Pov*
Setelah Oka-san menjelaskan semuanya, akhirnya aku tahu penyebab kemarahan Hana. Dia memang orang yang paling tidak suka diacuhkan, apalagi oleh orang yang dekat dengannya. Dan jika anak itu sudah marah kepada seseorang, maka untuk mendapatkan maafnya harus menggunakan banyak usaha dan juga uang. Karena pada saat seperti ini dia akan membalas kekesalannya dengan menguras habis uang seseorang yang telah membuatnya kesal. Dan sepertinya hari ini juga merupakan hari sialku, karena entah berapa banyak uang yang harus kukeluarkan untuk mendapat maaf Hanabi.
Tapi sebelum dia menghabiskan semua uangku, aku harus bisa menemukan sesuatu yang bisa menarik minatnya. Tapi apa? Akkhh...sepertinya aku benar-benar kehilangan kemampuan berpikirku. Ayo Haruto, pikirkan cara agar uangmu selamat. Dan sebuah ide melintas di kepalaku tepat saat aku mencapai kamarnya.
Kubuka kamar yang didominasi warna kuning gading ini. Kucari keberadaan manusia di dalamnya, tapi nihil. Tidak ada seorang pun di dalam kamar. Bukankah tadi Okasan bilang jika Hana ada di kamarnya. Kemana anak itu? Dia tidak mungkin keluar saat hujan seperti ini kan?
"Hana-chan..." kupanggil dia dengan suara yang cukup keras. Berharap dia akan menjawab panggilan dariku. Sepi. "Hana-chan" kucoba lagi memanggilnya. Hasilnya tetap sama. Aku putuskan akan memanggilnya sekali lagi, jika tetap tidak ada sahutan aku akan mencoba mencarinya ke tempat lain.
"Ha...Huaaaaaaaaaaaaaaaaa" teriakku saat tiba-tiba ada sesuatu yang muncul di hadapanku. Kontan aku langsung jatuh terduduk seraya memegangi dadaku yang berdetak kencang.
"Buahahahaha" tawa yang berasala dari Hanabi itu membuatku sadar jika adikku itu telah membalasku dengan membuat kerja jantungku bekerja dua kali lebih cepat.
"Kau...!"
"Seharusnya kau melihat ekspresimu itu Nii-chan" ejek Hanabi. Sepertinya dia sangat senang melihatku ketakutan seperi itu. Dia masih saja tertawa saat aku keluar dari kamarnya dengan perasaan marah. Sial !. Kubalas kau Hanabi, lihat saja. Dan aku tidak bisa mencegah sebuah seringai muncul di wajahku.
Sebelum kembali ke kamar, kuputuskan untuk ke dapur untuk minum. Setidaknya hal itu bisa membuat jantungku kembali bekerja dengan normal. Seperti biasa, entah kenapa meski benci aku selalu saja melihat sebuah foto yang tergantung indah di ruang keluarga. Meski itu hanya sebuah kerlingan singkat.
Dan sebuah ide langsung terlintas begitu aku membuka lemari pendingin. Sepertinya kemarin malam Oka-san membeli stawberry shorcake kesukaan Hanabi. Setelah mencomot sepotong cinammom roll kesukaanku, aku menuju ke rak tempat bumbu diletakkan. Setelah menemukan apa yang kucari, kubuka lagi lemari pendingin dan melakukan rencanaku. Hehehe...revenge is sweet.
Sesudahnya, aku langsung bergegas kembali ke kamar. Bisa gawat jika ada yang tahu keberadaanku di dapur. Dan aku berharap tidak ada yang memakan strawberry shortcake istimewaku itu, kecuali Hanabi.
Kamarku terletak di lantai dua. Berada disamping kanan kamar Hanabi dan berhadapan dengan kamar seseorang yang kubenci. Dan entah apa yang tengah kupikirkan saat bukan kamarku yang kubuka. Melainkan sebuah kamar bernuansa ungu yang hampir setahun tidak kumasuki. Dulu alasanku memasuki kamar ini hanya untuk mencari sesuatu yang bisa membuatku semakin membenci si pemilik kamar, tapi hari ini aku sendiri bingung saat telah berada di dalamnya.
Kamarnya tetap dijaga kerapiannya, seakan sang pemilik kamar akan datang setiap saat. Dan pikiran itu hanya membuatku mendengus geli. Karena semua orang tahu jika 'dia' tidak akan pernah masuk ke dalam kamar ini untuk selamanya.
Sama seperti setahun yang lalu, aku masih belum tahu isi dari kotak yang terletak rapi di dekat lemari baju. Kotak kayu otu terlihat sekokoh tahun lalu. Kudekati kotak itu, dan kucoba memasukkan beberapa kombinasi huruf dan angka. Berharap kotak itu akan terbuka. Tapi hasilnyapun tetap sama dengan yang telah lalu.
Aku heran, sebenarnya apa isi kotak itu. Kotak yang menyerupai brankas itu belum pernah dibuka sejak 17 tahun yang lalu. Bahkan Ojii-san dan Tou-san yang terkenal cukup cerdas, tidak mampu menemukan kombinasi yang pas.
Sebuah pemikiran gila tiba-tiba menghantamku seperti angin kencang. Dan kucoba kembali memasukkan sebuah kombinasi yang sangat familiar bagiku. Keajaiban terjadi. Tak lama setelah kumasukkan huruf terakhir, dapat kudengar bunyi klik yang menandakan jika kotak itu berhasil terbuka. Tidak dapat dibayangkan bagaimana kebahagiaan itu kurasakan. Rahasia yang terkubur sejak bertahun-tahun yang lalu akhirnya dapat kulihat. Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, kubuka kotak itu dan melihat apa yang sebenarnya tersimpan didalamnya.
Entah harus bahagia atau kesal saat tahu jika di dalam kotak itu hanya ada beberapa kotak lain yang terbungkus rapi. Sepertinya itu adalah kumpulan hadiah yang belum sempat dibuka oleh 'gadis menyebalkan' itu. kucoba untuk mengambil salah satu kotak tersebut, dan lagi-lagi aku dibuat bingung oleh apa yang kulihat. Di atas kotak itu ada sebuah nama yang sangat familiar bagiku.
Untuk Himeka-nee
Untuk Oka-san? Dasar gadis aneh. Kenapa dia tidak memberikannya dari dulu. Apa dia pikir hadiahnya itu tidak rusak disimpan selama itu? Tck, benar-benar tidak dapat kumengerti jalan pikiran gadis itu. Dan kotak-kotak lain juga memiliki 'label' seperti milik Oka-san.
Dalam waktu satu hari, gadis itu bisa membuatku terkejut berkali-kali. Jika tadi pasword untuk membuka kotak ini menggunakan namaku, sekarang ada sebuah kotak yang ditujukan untukku. Ya, di atas kotak terbawah tertera namaku. Kotak milikku ini adalah kotak terbesar dan paling berat. Karena tidak mau mati penasaran, kubuka tutup kotak berwarna coklat tua itu setelah mengeluarkan dari dalam kotak kayu.
Aku mendengus kecewa saat tahu jika isi kotak milikku hanya kumpulan buku. Karena kesal, kulempar salah satu buku yang paling atas. Dan sebuah amplop putih kekuningan keluar dari dalam buku tadi. Kuambil surat itu dan mulai membacanya. Jangan berpikiran jika aku adalah anak yang suka ikut campur urusan orang lain, aku membuka surat itu karena lagi-lagi ada namaku tertera diatasnya.
Untuk Haruto-kun, ( atau siapapun nama yang diberikan Neji-nii kepadamu. Aku akan tetap memanggilmu Haruto, ne. )
Konnichiwa Haruto-kun
Saat kau menemukan dan membaca surat ini,aku mungkin sudah tidak berada di dunia lagi. Aku sama sekali tidak menyesal telah memutuskan hal ini. Aku harap kau mau memaafkanku atas semua kesalahan yang kulakukan bahkan sebelum kau lahir. Seandainya Neji-nii memberikan nama Haruto kepadamu, aku yakin kau akan membenciku. Aku tahu hal itu, tapi aku sangat ingin memberikan sesuatu kepada keponakanku sebelum aku meninggalkan dunia ini.
Haruto-kun, aku berharap kehadiranmu di tengah keluarga Hyuga bisa memberikan perubahan. Aku berharap tidak ada lagi paksaan atau tradisi bodoh yang selama ini mengikat keluarga Hyuga. Semoga kehadiranmu bisa membuka hati Tou-sama yang keras.
Haruto-kun, aku tahu kau sangat membenciku. Tapi aku ingin kau mau mengenalku. Aku tidak tahu hadiah apa yang bisa kuberikan kepadamu saat kau membaca surat ini. Tentu saja jamanmu dan jamanku sangat berbeda, itu sebabnya aku tidak memberimu sebuah hadiah. Gomen. Aku hanya memberimu sekumpulan diary yang kutulis sejak aku 9 tahun. Semua yang aku rasakan, kutuang didalam SKY. Dan aku harap kau mau meluangkan waktumu hanya untuk bisa membacanya. Tapi, seandainya kau tidak maupu, aku juga tidak keberatan. Kau bisa membakarnya. Karena aku tidak ingin orang lain tahu tentang SKY.
Haruto-kun, bisakah aku meminta bantuanmu? Aku tahu kau mungkin sudah semakin kesal terhadapmu. Tapi bisakah kau memberikan kotak-kotak yang lain sesuai nama yang tertera diataasnya? Jika kau bersedia melakukannya, aku sangat berhutang kepadamu. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf karena telah merepotkanmu.
Dari bibimu yang sangat mencintaimu,
Hinata Hyuga
Surat yang sederhana. Entah kenapa rasa kesal saat mulai membaca surat ini hilang begitu saja. Kulihat beberapa tumpuk buku yang disebutnya sebagai 'SKY'. Aku tidak tahu alasannya, dan aku rasa aku akan menemukan jawabannya saat aku membaca buku-buku itu. Tapi aku juga tidak habis pikir, kenapa dia tidak ingin orang lain membaca buku-buku tersebut. Entahlah, semakin memikirkannya semakin membuatku bingung. Hingga kuputuskan untuk mulai membaca sebuah buku yang aku yakin adalah buku pertama yang ditulisnya.
TBC
Aku tahu-aku tahu. Setelah lama menghilang, aku malah update cerita yang tidak jelas macam tu *tunjuk cerita diatas
Tapi aku harap chapter ini bisa sedikit mengurangi hutangku kepada kalian, hehehe *watados*
Baiklah, saran dan kritik selalu diterima dengan tangan terbuka. Dan semoga tidak mengecewakan :)
SALAM
OPIE ^^
