And proudly present
SKY
Cast : Haruto Hyuga ( OC ), Sasuke Uchiha, Hinata Hyuga and other
Rate : T
Genre : Family
Disclaimer : Naruto Masashi.K
Warning : OC, OOC, Typo, Death chara, cerita yang aneh, dan kekurangan yang lain.
Italic ( isi Sky )
DLDR
RnR
Enjoy :)
.
.
.
.
.
.
.
10 Januari
Hari ini adalah hari pertama sekolah dimulai lagi. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ino chan dan Tenten chan. Dan juga aku ingin menceritakan semua hal yang kualami selama liburan. Aku juga yakin jika liburan kedua sahabatku itu juga pasti sangat menyenangkan.
SKY, sepertinya aku harus segera berangkat. Neji-ni sudah memanggilku. Jaa ne.
Haaahhhh... rasa bosan tiba-tiba saja menyerangku ketika tidak ada satupun hal yang menarik dari apa yang kubaca. Tapi entah kenapa jauh dalam sudut hatiku menyuruhku untuk membaca buku harian Hinata secara keseluruhan tanpa meninggalkan selembarpun. Dan sepertinya sisi jahat dalam otakku menyrankan membacanya agar aku bisa menemukan hal lain lagi yang bisa membuatku semakin membencinya.
Lembar-lembar membosankan telah aku baca. SKY hanya berisi hal-hal yang sewajarnya dilakukan oleh anak seusianya. Hingga pada akhirnya aku sampai pada buku ketiga. Di salah satu lembarnya aku menemukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah aku duga pernah terjadi. Bahkan membayangkannya saja terasa sangat aneh. Tapi itulah kenyataannya. Hingga sebuah ingatan yang sudah agak usang kembali menerpa otakku.
Waktu itu, Otou-san pernah bercerita jika hubungan Ojii-san dan Obaa-san hampir saja berakhir. Ketika aku bertanya kenapa, Otou-san tidak tahu alasannya. Dia hanya tahu jika hubungan keduanya sedang dalam masalah. Dan sikap Hinata yang tiba-tiba berubah menjadi pendiam semakin membuat Otou-san penasaran. Hal itu terjadi selama dua minggu penuh. Kehangatan yang selalu ada dirumah ini menghilang. Pun dengan senyum Hinata.
Dia seakan berada di dunia yang berbeda setiap kali memasuki rumah. Senyum yang terkembang ketika berada diluar rumah, lenyap saat kakinya menapaki tempatnya bernaung selama ini. Dan setiap kali Otou-san bertanya, dia akan menjawab jika tidak terjadi apa-apa.
Dua minggu setelahnya, keadaan mulai kembali normal. Ojii-san dan Obaa-san sepertinya sudah melupakan masalah diantara mereka. Senyum Hinata juga sudah mulai tampak lagi, meski sorot kesedihan tidak bisa hilang sepenuhnya dari netra putihnya. Dan kini aku tahu semua alasan yang membuat hal itu terjadi.
18 Mei 1987
Konnichiwa SKY... Hari ini sekolah sangat menyenangkan seperti biasa. Meski si mata panda dan pantat ayam sama sekali tidak bisa merubah sikap jailnya, semua gadis masih saja mengelu-elukan mereka. Seandainya saja mereka tahu jika kedua lelaki yang mereka gilai itu sangat menyebalkan. Aku pernah mengatakan hal itu kepada para gadis, tapi mereka justru memarahiku habis-habisan. Bahkan Ino-chan dan Tenten-chan tidak percaya jika Gaara dan Sasuke adalah jelmaan iblis . Isssh...memikirkan mereka berdua membuat kepalaku kembali dilanda rasa pusing.
Bagaimana tidak, hari ini aku pikir keduanya tidak akan menggangguku. Tapi ternyata perbuatan mereka kali ini sangat parah. Mereka dengan baiknya menawarkan mengambilkan makan siangku saat di kantin tadi. Aku yang saat itu sangat kelelahan karena hari itu ada tes lari tanpa pikir panjang menerima niat baik keduanya. Tapi ternyata mereka memesankan makanan yang sangat pedas. Padahal keduanya tahu jika aku tidak bisa makan makanan pedas. Alhasil aku menghabiskan waktu di toilet karena sakit perut. Awas saja jika ada kesempatan aku akan membalas perbuatan mereka. Arrrghhh...menyebalkan.
Oh ya SKY, hampir lupa. Tadi sepulang sekolah ada seorang lelaki yang bersama dengan Okaa-san. Katanya dia adalah teman kuliah Okaa-san. Lelaki itu bernama Yoshiro Hasegawa. Hasegawa-san sangat ramah dan baik. Tadi dia memberiku sekotak coklat. Ahhh...senangnya dapat coklat gratis. Selain itu Hasegawa-san juga berjanji akan mengajakku ke taman bermain saat liburan nanti. Yeey...aku sudah tidak sabar menunggu hari libur.
19 Mei
Hari ini Hasegawa-san datang lagi. Kali ini dia membawakanku cinnamon roll. Wah sepertinya dia sangat tahu apa yang aku suka. Hasegawa-san, aku menyukaimu hihihihi.
20 Mei
Seperti dua hari yang lalu, Hasegawa-san sudah berada di rumah saat aku pulang sekolah. Meski kali ini dia tidak membawa apa-apa, tapi dia membantuku mengerjakan PR. Siapa yang menduga jika lelaki itu cukup pintar, jadi aku tidak perlu menganggu Neji-nii untuk membantuku menyelesaikan tugas rumahku.
21 Mei
Hari ini sekolah pulang lebih cepat. Sebagai seorang siswa, pulang sebelum waktunya adalah surga dunia. Aku bisa pergi ke game center atau kedai ice cream jika saja aku mau. Entah kenapa aku sangat ingin sampai dengan rumah. Mungkin karena ulah duo evil yang kali ini sukses membuatku marah-marah. Bahkan Ino-chan dan Tenten-chan tidak menyangka jika aku akan mendamprat Sasuke dan Gaara. Tapi sebuah kepuasan tersendiri bagiku saat melihat wajah keduanya terbelalak kaget melihat aksiku. Buahahahaha...aku sangat senang sekali SKY.
Tapi kebahagiaanku itu menghilang ketika sampai di rumah. Jika biasanya aku akan sangat senang akan keberadaan Hasegawa-san, kali ini tidak. Bagaimana bisa aku bahagia saat aku melihatnya berciuman dengan Okaa-san. Aku pikir Hasegawa-san mencium paksa Okaa-san, tapi melihat tidak ada perlawanan dari wanita yang telah melahirkanku membuatku sadar jika mereka tengah berselingkuh.
Aku sedih SKY. Bagaimana mungkin wanita yang selama ini kusayangi dan kujadikan panutan melakukan hal mengerikan seperti itu. Karena tidak sanggup melihat kejahatan yang dilakukan keduanya, aku memutuskan untuk pergi. Aku tidak tahu berapa lama aku mengais, hingga tertidur di bangku taman. Aku mulai terbangun saat Neji-nii membangunkanku. Dan secara otomatis aku langsung memeluknya. Airmataku kembali terjatuh saat mengingat apa yang terjadi siang tadi.
"Ada apa?" tanya Neji-nii
"Tidak, aku hanya takut. " bohongku seraya menghapus airmata. Neji-nii tidak akan tahu jika aku berbohong. Karena dia tahu jika aku takut gelap.
Sesampai di rumah, aku langsung menuju kamar dan mengunci pintu. Untuk pertama kalinya aku mengacuhkan Otou-san.
Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus katakan. Aku sama sekali tidak menyangka jika Obaa-san pernah melakukan hal seperti itu. Dan parahnya lagi Hinata tahu tentang hal itu. Aku tidak yakin aku bisa bertahan jika saja aku yang berada di posisinya waktu itu. Seoarng gadis yang masih berumur 11 tahun harus melihat kejadian yang bisa berakibat buruk bagi masa depannya.
Entah kenapa rasa iba tiba-tiba merasuk dalam hatiku. Bahkan aku masih melihat jejak airmatanya yang menetesi SKY. Pasti malam itu dia sangat sedih. Tapi dia tidak bisa mengatakan hal itu kepada orang lain, mengingat hal tersebut berkaitan dengan Obaa-san.
Sekarang aku mengerti kenapa Otou-san berkata jika Hinata berubah sejak dia menemukannya tertidur di taman. Dan sampai saat ini Otou-san masih tidak tahu penyebabnya. Aku sendiri masih bingung. Haruskah aku mengatakan kebenaran ini atau tidak? Tapi jika hal ini diungkit lagi apakah akan berpengaruh pada hubungan Ojii-san dan Obaa-san? Arrrghhhh...Hinata kau membuatku di dalam dilema saat ini.
Aku pikir hal itu bisa kupikirkan lagi setelah membaca SKY. Setelah hari itu Hinata tidak terlalu sering menulis lagi. Jika dulu dia bisa menulis setiap hari, tapi setelah kejadian itu dia hanya menulis sekali dalam seminggu. Bahkan pernah dia tidak menulis selama dua bulan.
23 Juli
Hari ini Sasuke-kun ulang tahun. Seperti biasnya dia akan mendapat banyak hadiah dari fansnya. Itu sebabnya aku tidak perlu memberinya hadiah. Sebuah ucapan aku rasa sudah cukup baginya. Dan seperti biasa pula dia hanya menanggapi ucapan dariku dengan 'Hn' andalannya. Baguslah, itu yang aku pikirkan.
Tapi apa kau tahu SKY apa yang dilakukan bocah pantat ayam itu setelah di rumah? Bagaimana bisa dia menangis di hadapan Okaa-san, Otou-san, dan Neji-nii seraya mengatakan jika aku sama sekali lupa dengan ulang tahunnya. Tanpa mendengarkan penjelasanku, seluruh keluargaku memarahiku. Dan saat itu aku yakin jika melihatnya tersenyum puas. Isshhhh...mendokusai.
Dan sebagai hukumannya aku harus mau menemaninya ke taman bermain. Jika saja tadi aku tidak melihat senyum evilnya, aku akan dengan senang hati melaksanakan hukuman itu, tapi masalahnya kini aku yakin jika si pantat ayam itu akan membuatku sengsara.
Hal yang kutakutkan benar-benar terjadi saat di taman bermain. Dengan tanpa perasaan Sasuke menyeretku menuju rumah hantu. Dan tak ayal selama kami berada di dalamnya aku hanya bisa memejamkan mata dan berteriak.
Aku benar-benar lelah SKY. Semoga besok aku bisa melaluinya seperti biasa. Oyasumi SKY -_-.
Kejadian saat ulang tahun Sasuke-san adalah kejadian terpanjang yang ditulisnya dalam Sky. Selanjutnya Hinata hanya menuliskan dua tiga kalimat yang merupakan ungkapan hatinya. Sebuah perubahan yang dapat kulihat. Aku mengerti kenapa dia seperti itu.
23 Juli 1990
"Aku mencintaimu" seharusnya aku memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu. Tapi seperti biasanya aku tidak akan mampu mengutarakan apa yang ada di hatiku. Biarkan hanya aku, kau, dan Kami-sama yang tahu apa ada di hatiku. SKY, arigatou. Tanpamu aku mungkin tidak bisa bertahan sampai saat ini.
Sekali lagi aku bisa menemukan sisa tetesan airmata Hinata. Mungkinkah dia mencintai Sasuke-san? Entah kenapa kali ini aku kesal dengan sikap pengecutnya itu. Hingga sebuah pemikiran memasuki otakku. Mungkin Hinata takut jika Sasuke-san tidak memiliki rasa yang sama dengannya. Dan dia memilih untuk memutuskan persahabatan keduanya karena tidak mau terganggu dengan perasaan Hinata.
Ya, itu sebuah alasan yang lumayan masuk akal. Akan ada rasa canggung jika kau menjalin persahabatan dengan orang yang telah kau tolak cintanya. Dan untuk menghindari hal itu, Hinata memilih memendam perasaannya. Benar-benar gadis yang sangat sulit ditebak pemikirannya.
Lembar-lembar berikutnya hanya berisi curhatannya tentang kesalnya dia saat Sasuke-san bersama dengan gadis-gadis lain serta beberapa keluh kesahnya saat dia kembali menjadi korban bully Gaara. Dan yang paling membuat rasa ibaku kembali muncul adalah rasa irinya kepada teman-temannya saat mereka bercerita tentang keluarga mereka, terlebih ibu mereka.
Sebuah kenyataan yang kembali menohok hatiku dan membuatku merasa bersalah karena membencinya hanya karena sebuah nama. Selama ini dia tidak bisa melupakan apa yang telah dilihatnya saat masih kecil. Rasa sedih itu pasti masih terbekas dihatinya. Dan aku yakin Hinata akan diam-diam menangis setiap mengingat hal tersebut.
Rasa bersalahku semakin bertambah saat aku membaca sebuah pengorbanan yang kembali dilakukannya untuk keluarga Hyuga.
15 Maret 1998
Hari ini Otou-san memanggilku secara pribadi. Aku tidak tahu kenapa hal tersebut terjadi. Aku merasa jika akhir-akhir ini aku tidak berbuat salah. Tapi kenapa Otou-san memanggiku? Dan pertanyaan dalam hatiku terjawab tak lama kemudian. Dengan wajah yangterlihat lelah Otou-san duduk di hadapanku seraya mengatakan jika keadaan Hyuga Corp terancam bangkrut. Aku masih belum mengerti hubungan antara dipanggilnya diriku dengan kebangkrutan Hyuga Corp. Aku mencoba berfikir lebih keras agar bisa menebak kemana arah pembicaraan ini. Hingga sebuah kalimat Otou-san membuatku langsung mengangkat wajah dan menampilkan raut tak percaya.
Aku yakin jika Otou-san menyadari hal itu. Tapi sepertinya dia enggan mengakuinya dan mengacuhkan reaksiku. Aku sadar jika keadaan Hyuga Corp sudah sangat parah dan ini adalah satu-satunya cara agar kerja keras Otou-san selama ini tidak hancur begitu saja. Hingga pada akhirnya dengan sangat terpaksa aku menuruti keinginan Otou-san.
Senyum Otou-san kembali terlihat setelah aku menyetujui keinginannya. Gurat lelah di wajahnya serta beban di pundaknya seakan terangkat dengan keputusanku itu. Setidaknya aku bisa membuat Otou-san bahagia di usianya yang sudah tidak muda lagi. Dulu dia selalu menuruti semua keinginannku, tidak ada salahnya jika kali ini aku yang menuruti keinginannya.
SKY harapanku untuk bersanding dengan Sasuke semakin tidak mungkin. Apalagi setelah aku menyetujui akan menikah dengan Nanba Okita. Seorang lelaki yang sama sekali tidak aku kenal. Bahkan usianya lebih tua dariku 11 tahun. Tapi ini aku lakukan demi Otou-san dan pegawai Hyuga Corp. Jika aku menolaknya, berapa banyak orang yang akan kehilangan pekerjaannya? Entahlah aku tidak mau memikirkan hal itu. Meski demikian aku mengajukan syarat agar pernikan kami dilakukan tahun depan. Setidaknya aku ingin mengenal lebih jauh Okita-san.
1 September 1998
Onii-san jahat...
Huh? Dia mengatakan jika Otou-san jahat? Apa maksudnya?
Bagaimana mungkin dia menyembunyikannya selama ini?
Apa yang disembunyikan Otou-san?
Jika saja aku tidak ke rumah sakit hari ini, maka aku tidak akan pernah tahu kebenarannya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa harus ada rumah sakit segala?
Tujuan awalku ke rumah sakit adalah untuk menjenguk Ebina-chan. Dan tanpa sengaja aku melihat sosok Onii-chan keluar dari salah satu ruangan dokter. Dan setelah memastikan jika dia tidak menyadri keberadaanku, aku langsung memasuki ruangan yang baru saja ditinggalkannya.
Di dalam ruangan aku mencoba bertanya tentang sakit yang diderita oleh Onii-chan, tapi sepertinya sang dokter enggan memberikan informasi tentang pasiennya kepadaku. Meski aku telah mengatakan jika aku adalah keluarga pasien. Tapi aku tidak menyerah begitu saja. Hingga pada akhirnya sang dokter mengatakan penyakit yang diderita oleh Neji-nii.
Nani? Otou-san sakit? Memang Otou-san sakit apa hingga dokter yang merawatnya enggan membagikan informasi seperti itu?
Kau tahu SKY? Sepulang dari rumah sakit aku langsung menyeret Neji-nii ke kamarku. Pada awalnya aku berharap Onii-chan berkata jujur padaku. Tapi dia berusaha mengelak setiap pertanyaanku. Hingga pada akhirnya kesabaranku habis. Di depannya aku menangis serta berteriak tentang sakit yang dideritanya selama ini.
"Hinata..."
"Kenapa? Kenapa kau tidak pernah mengatakan jika kau sakit?" aku kembali berteriak didepannya.
"Boku wa..."
"Apa kau akan menyembunyikannya sampai kau mati hah?"
"Jika itu yang terbaik, maka akan kulakukan"
"Lalu bagaimana dengan Haruto ?"
"Huh?" untuk pertama kalinya aku dapat melihat wajah bodoh Neji-nii. Jujur saat itu aku tidak bisa menahan tawa. Tapi jika saja hal itu aku lakukan, maka semuanya akan berantakan.
Aku juga tidak bisa membayangkan bagaimana wajah Otou-san waktu itu. Dan tanpa sadar aku menyeringai membayangkannya.
"Haruto, putramu yang masih di dalam kandungan Himeka-nee"
Tsk, bahkan dia sudah memberiku sebuah nama ketika masih di dalam perut Okaa-san. Entah kenapa rasa kesal itu kembali muncul. Tapi seperti saat akan membaca SKY, aku harus menahan rasa kesalku agar tahu apa yang terjadi dengan Otou-san.
"Dia akan memiliki kalian" jawaban yang menambah rasa kesalku. Hingga untuk kesekian kalinya aku berteriak kepada Neji-nii.
"APA KAU INGIN PUTRAMU TIDAK MEMILIKI SEORANG AYAH, HAH!"
"Dia bisa menjadikan Okita-san sebagai ayahnya. Lagipula tidak ada yang bisa kulakukan Hinata" wajah sendu Onii-chan membuat rasa kesalku menguap tak berbekas.
"Aku akan melakukan apapun agar Haruto tidak kehilangan ayahnya. Sekarang kau bisa keluar dan biarkan aku memikirkan cara agar kau bisa sembuh".
Memang apa yang bisa dilakukannya? Lagipula sakit seperti apakah yang diderita Otou-san hingga dia berputus asa atas hidupnya?
SKY, selama ini aku tidak tahu jika Onii-chan menderita sendirian. Aku pikir jika selama ini aku adalah orang yang paling menderita, tapi ternyata bukan. Onii-chan harus berpura-pura baik-baik saja. Dia juga harus menahan raasa sakit yang aku yakin cukup menyiksanya. Dia tetap bekerja meski sakit yang dirasanya semakin parah setiap harinya.
Adik macam apa aku ini yang sama sekali tidak melihat kesakitan yang diderita olek kakaknya sendiri. Aku memang pernah melihatnya mengerang saki seraya memegang dada, tapi saat kutanya kenapa Onii-chan berkata jika dia baik-baik saja. Mungkin inilah yang dirasakan Onii-chan seandainya dia tahu jika malam itu di taman aku juga membohonginya.
Tapi aku harap rasa sakit Onii-chan akan segera hilang saat aku memberikan jantungku kepadanya. Biarkanlah kali ini aku bersikap egois. Toh ini semua demi Onii-chan dan keluarga kecilnya. Aku yakin Okita-san akan dapat memahami keputusanku ini. Lagipula keadaan Hyuga Corp juga sudah kembali membaik. Setidaknya semuanya akan berakhir dengan bahagia.
Aku dapat merasakan airmata menuruni pipiku. Aku tidak menyangka jika Otou-san pernah sakit separah itu. Dan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan adalah Hinata menyerahkan jantungnya hanya agar aku bisa merasakan kasih sayang seorang ayah. Betapa memalukannya diriku setiap kali mengingat berapa banyak kebohongan yang kukatakan kepada Hanabi agar ikut membenci Hinata.
Sekarang aku baru mengerti, kenapa Otou-san selalu mengajakku ke Konoha setiap liburan. Ini semua agar dia bisa mengunjungi Hinata dan mendoakannya. Dan dia juga selalu marah besar setiap kali aku mulai mengatakan sesuatu yang buruk tentang Hinata. Dia selalu berkata bahwa berkat Hinatalah aku bisa bersama Otou-san hingga saat ini. Pada awalnya aku menganggap itu hanyalah tipuan agar aku bisa menerimanya sebagai bagian dari keluarga Hyuga. Tapi sekarang semuanya sudah terjawab dengan sangat jelas.
Rasa bersalahku semaikn bertambah saat kenyataan yang sebenarnya terbuka lebar dihadapanku. Entah bagaimana nanti aku bisa menghadapi Hinata jika suatu saat nanti kami bertemu. Kesalahanku terhadapnya sudah tidak bisa dihitung lagi. Rasa sayangnya terhadapku kubalas dengan kebencian.
*Haruto Pov End*
28 September 1998
SKY, ini adalah terakhir kalinya kita bertemu. Hari ini Neji-nii akan menjalankan operasinya. Dan sampai detik dia belum tahu jika aku yang akan menjadi pendonornya. Biarkan saja Neji-nii yang akan menjelaskan semuanya kepada Otou-san dan Okaa-san. Anggap itu hukuman atas perbuatannya selama ini.
Kau adalah sahabat terbaikkua SKY. Tanpamu aku tidak akan bisa bertahan menghadapi ujian yang diberikan Kami-sama. Arigatou gozimasu... Sayounara...
*Normal Pov*
"Onii-chaaaa...n" teriakan Hanabi membuat Haruto dengan tergesa-gesa mengembalikan SKY ke dalam brankas. Dia tidak ingin membagi apa yang telah diketahuinya dengan sipapun, meski itu adalah Hanabi. Setelah memastikan posisi brankas seperti sedia kala, Hanabi memasuki ruangan itu.
"Onii-chan apa yang kau lakukan? Apa kau sudah bisa membuka brankas itu?" tanyanya saat menemukan sang kakak duduk di hadapan brankas penuh misteri itu. Dan untungnya Haruto mewarisi ketenangan Neji dan Hiashi, sehingga dia bisa berbohong tanpa disadari Hanabi.
"Tidak. Lagipula aku sudah tidak tertarik dengan isi dari brankas itu" ujar Haruto seraya beranjak dari posisinya dan meningalkan Hanabi yang terlihat kebingungan. Jika saja waktu itu Hanabi melihat seringaian sang kakak, maka bisa dijamin telinga Haruto tidak akan bisa digunakan dalam beberapa waktu.
"Souka"
"Kau terlihat gembira, ada apa?" Haruto mencoba mengalihkan pikiran sang adik. Selain itu dia juga penasaran kenapa Hanabi bisa sebahagia itu. Kecuali jika dia baru saja memenangkan banyak hadiah dari game center.
"Aku baru saja bertemu dengan Sasuke-san lagi" jawab Hanabi dengan wajah berbinar. Otak pintar Haruto berpikir dengan cepat. Dan akhirnya dia bisa memahami maksud dari sang adik.
"Owh..."
Keduanyapun keluar dari kamar bernuansa ungu itu menuju lantai bawah. Karena saat ini sudah waktu makan siang.
"Hei Hanabi-chan, sepertinya aku akan mengakhiri perang dinginku dengan Hinata" ujar Haruto saat keduanya berada di bawah foto terakhir putri Hyuga itu. Dan untuk pertama kalinya Haruto juga melihat secara langsung foto itu. 'Cantik' batinnya.
"Benarkah? Otou-san dan Ojii-san akan senang mendengarnya"
"Sepertinya kau juga senang mendengarnya"
"Tentu saja" Haruto benar-benar heran dengan tingkah sang adik yang tidak seperti biasanya. Apa mungkin pertemuan dengan Sasuke-san bisa membuatnya menjadi seperti ini? Entahlah? Sepertinya Haruto tidak mau memikirkan hal sesepele ini.
*Haruto Pov*
Hari ini aku dan keluargaku akan kembali ke Tokyo. Meski liburan masih kurang dua hari lagi, tapi Otou-san selalu mengajak kami kembali. Tujuannya agar aku dan Hanabi tidak terlalu lelah saat hari pertama sekolah dimulai.
Kemarin malam aku sudah meletakkan hadiah yang disiapkan Hinata sesuai dengan nama yang tertera di kotaknya. Dan harus ekstra hati-hati agar apa yang kulakukan tidak diketahui oleh Hanabi serta yang lainnya. Anggap saja apa yang kulakukan sebagai permintaan maafku kepada Hinata. Meski aku sadar apa yang kulakukan tidak sebanding dengan kebencian tak beralasanku selama ini. Tapi aku yakin jika Hinata akan memaafkanku sebanyak apapun aku melakukan kesalahan. Tidak pernah aku bertemu dengan orang sebaik dia.
Dan kini ditanganku masih tersisa satu kotak lagi. Aku tidak tahu bagaimana harus menyerahkannya kepada yang bersangkutan. Sangat tidak mungkin jika aku harus menemuinya di kediamannya. Itu sebabnya aku pergi dari rumah guna ke kantor pos dan mengirimnya lewat pos.
Tapi sepertinya Kami-sama sedang berbaik hati padaku. Tak jauh dari tempatku berdiri aku bisa melihat Sasuke-san juga berjalan pelan. Tidak mau membuang kesempatan bagus ini aku langsung berteriak memanggil namanya. Dan dia pun berhenti karena merasa ada yang memanggil namanya.
"Sasuke-san, ohayou" sapaku.
"Ah, Haruto-kun, ohayou"
"Kore" ujarku seraya menyerahkan kotak terakhir. Dengan itu aku merasa jika tugasku sudah selesai. Dan aku bisa kembali ke Tokyo dengan tenang.
"Apa ini?" tanyanya yang jelas-jelas bingung.
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu apa itu. Aku hanya merasa jika aku harus menyerahkan kotak itu kepadamu. Jaa ne" ujarku seraya pergi meninggalkannya dalam kebingungan. Tapi saat aku kembali menoleh kepadanya, aku bisa melihat senyum yang terukir di bibirnya. Karena saat itu dia sudah tahu siapa yang memberinya hadiah.
Beban berat yang selama ini kurasakan karena membenci Hinata serasa menghilang tak berbekas. Kini semuanya terasa lebih ringan dan lebih baik. Tidak ada lagi rasa sesak dalam hati karena membenci seseorang. Aku baru tahu jika membenci seseorang bisa membuatmu hidup dengan tidak tenang.
"Tadaima" ujarku ketika memasuki kediaman Hyuga.
"Okaeri" jawab Obaa-san. Aku bisa melihat kebahagiaan terpancar dengan jelas si wajahnya. Dan hal serupa juga kudapati di wajah Ojii-san, Otou-san, dan Okaa-san.
"Onii-chan, kau darimana?" tanya Hanabi yang seperti telah siap untuk kembali ke Tokyo.
"Jalan-jalan" jawabku singkat. Setelah itu kami semua sarapan dan menyiapkan segala sesuatu yang akan kami bawa ke Tokyo. Tidak memerlukan waktu lama untuk menyelesaikan semuanya. Karena kami sudah menyiapkannya sejak kemarin malam.
"Baiklah, kami harus kembali ke Tokyo. Liburan nanti kami akan datang lagi" pamit Otou-san kepada Obaa-san dan Ojii-san.
"Hati-hati di jalan" sahut keduanya bersamaan.
Tapi sebelum kami pergi ke Tokyo, Otou-san selalu menyempatkan waktu untuk ke pemakaman Hinata. Dan kali ini aku tidak cemberut seperti biasanya.
"Otou-san, Okaa-san apa kau tahu jika mulai sekarang Haruto-nii tidak akan membenci Hinata-baa lagi?"Hanabi memulai percakan setelah tak lama mobil berjalan.
"Benarkah?" jawab Okaa-san dengan senyum lebar. Aku yakin dia semakin bahagia dengan berita yang Hanabi katakan.
"Hn"
"Kenapa kau berubah pikiran?" Otou-san bertanya juga dengan senyum di wajahnya.
"Aku tidak tahu jika membenci seseorang bisa selelah ini"
"Itu bagus Haruto-kun" sahut Okaaa-san.
"Hn"
Dan pada akhirnya banyak hal yang kami bicarakan selama perjalanan menuju Tokyo. Meski obrolan lebih didominasi oleh Okaa-san dan Hanabi. Sesekali aku dan Otou-san juga ikut menimpali.
Liburan kali ini adalah liburan yang sangat berarti bagiku. Karena pada akhirnya aku mengetahui banyak hal yang selama ini menjadi rahasia keluarga Hyuga. Tidak hanya itu, sebuah kenyataan yang selama ini disembunyikan dariku akhirnya dapat kuketahui. Dan yang peling penting aku tidak lagi membenci kepada Hinata.
Dulu saat orang-orang berkata beda benci dan cinta itu sangat tipis, aku sama sekali tidak percaya. Tapi apadaya jika saat ini aku mengalami hal klise tersebut. Rasa benciku yang begitu besar karena sebuah nama berubah menjadi rasa kagum dan cinta.
Pada akhirnya kebahagiaan akan selalu menyertaiku mulai saat ini. Karena tidak ada beban lagi dalam hidupku. Siapa yang menyangka jika rasa benci kita bisa membebani hidup kita. Ternyata memaafkan dan meminta maaf memang obat dari segala kegundahan hati. Jika kita bisa memaafkan seseorang maka kita tidak akan lagi menyimpan dendam dan penyakit hati lainnya.
Tapi seperti yang kita tahu, jika kedua hal itu sangat mudah diucapkan dan sangat sulit dilakukan, apalagi secara tulus tanpa ada keinginan untuk mendapat pujian dari orang lain. Namun aku berusaha untuk melakukannya.
Meski seseorang yang telah membantuku menemukan kebahagiaan ini sudah tidak tinggal dengan kami. Tapi semua pengorbanan yang telah dilakukannya selama hidup tidakn akan pernah kulupakan. Berkat dia aku bisa bersama dengan keluargaku. Berkat dia pula aku belajar untuk memaafkan. Sebuah ucapan terima ksih tidak akan cukup untuk membalas kebaikannya. Mungkin sudah berkali-kali aku mengatakan jika tidak ada seseorang yang sebaik dia.
Dia rela mengorbankan kebahagiannya demi orang lain. Bahkan cintanya terhadapku telah ditunjukkannya meski saat itu aku belum tentu bisa terlahir di dunia. Sekarang aku mengerti kenapa setiap kenalannya selalu berkata jika dia adalah sosok teman yang sangat baik.
Kini hanya rasa syukur yang bisa kuucapkan. Aku bersyukur bisa mengenalnya melalui SKY. Sehingga tidak akan ada lagi kebencian yang tersimpan sampai ajal menjemputku kelak. Setidaknya aku tidak akan malu saat bertemu dengannya kelak. Dan yang terpenting, aku merasa sangat beruntung karena menyandang nama yang telah diberikannya khusus untukku. Dia adalah seseorang yang pernah sangat aku benci. Tapi kini rasa itu telah berubah. Dia adalah bibiku, Hinata Hyuga.
.
.
.
.
.
.
.
.
Owari
Gomenne minna...
Aku tahu jika mungkin kalian berpikir aku tidak peduli dengan FF ku yang ini. Tapi sebenarnya aku kehilangan ide untuk melanjutkannya, sehingga akhirnya tidak sesuai dengan apa yang kurencanakan saat awal menulisnya. Meski demikian aku berusaha untuk tidak merubah plotnya. Walau hasilnya mungkin tidak seperti yang kalian harapkan.
Maaf atas keterlambatan updatenya. Dan ini merupakan chapter akhir dari SKY. Untuk kedepannya, mungkin hanya akan fokus melanjutkan FF yang telah ada. Tapi jika ada ide untuk FF SasuHina akan dibuat oneshoot, biar tidak terlalu banyak hutang.
Terima kasih kepada para reader yang selama ini sudah berkenan meluangkan waktunya untuk membaca FF ini. Terlebih untuk yang telah mereview, memfavoritkan, dan yang telah follow, HOUNTOUNI ARIGATOU
