Title: Just a Dream or Real?
Author: Ovieee
Cast: All member EXO OT12
Pair: ChanBaek, KaiSoo, HunHan, KrisTao, ChenMin, SuLay
Disclaimer: They're belong to god and family. But this story's mine!
Warn! Yaoi, BL, Sho-Ai. Mature!
.
.
Chap 2: HunHan eps. 1
.
Summary: Luhan tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika Sehun-teman kerja nya di cafe part time- mengajaknya ke tempat yang sangat indah dan melakukan hal yang indah pula ditempat itu.
.
Happy Reading
.
"Semuanya aku duluan ya!"
"Ya, hati-hati dijalan Lu!" Luhan—orang yang pamit- tersenyum pada teman-temannya dan melambaikan tangan sebelum dirinya keluar dari cafe tempat kerja part time nya selama liburan musim dingin.
Luhan berjalan menuju flat mungilnya yang bejarak beberapa blok dari tempatnya bekerja. Dengan tangan yang memegang bungkusan kertas, didalamnya terdapat satu paket hamburger dengan kentang yang disiapkan oleh Minseok-teman yang sudah dianggapnya Hyung- sebelum ia pulang tadi. Ia bilang; 'untuk makan malan dirumah.' Dan Luhan berterimakasih atas perhatiannya itu karena suasana cafe yang terbilang cukup ramai akibat dinginnya cuaca di malam penghujung natal yang akan terlaksana dua hari lagi itu. Membuatnya tidak sempat menjejalkan makanan barang secuil dan memilih makan dirumah saja sebelum kantuk menyerangnya kelak. Tapi ia sungguh beruntung kala Minseok yang mau repot-repot membuatkannya hamburger serta menggoreng kentang untuk dirinya.
"Hahh.. Aku harus membalas perbuatannya itu kelak" Lirih Luhan sesekali menggesekkan kedua telapak tangannya sembari meniupnya dan menangkupkan pada kedua pipinya yang sedikit gembil.
Luhan tidak menyangka kalau malam ini lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Jika tahu begitu Luhan akan membawa persediaan jacket double untuk menghalau udara yang membelai kulitnya sekarang yang hanya berbalut selapis cardigan berwarna coklat muda.
Sesekali mulut kecilnya bersenandung lirih guna menghilangkan bosan yang menderanya. Dan tubuhnya turut digerakkan mengikuti lirihannya, tak perduli jika ada yang melihat dirinya yang tengah berjoget-joget dipinggir jalan. Toh, jalanan sedang sepi sekarang mengingat sekarang sudah pukul delapan lewat. Belum lagi cuaca yang sangat dingin ini, membuat orang-orang dengan pasti enggan keluar rumah.
"Ughh.. Sedikit lagi Lu, bertahan dan jangan malah berhenti layaknya patung es disini." Luhan menyemangati dirinya yang tiba-tiba berhenti berjalan dan sibuk menghentikan getaran tubuhnya karena cuaca yang dinginnya minta ampun.
Dengan perlahan ia kembali melangkah dan berjalan cepat kearah flat-nya yang tinggal beberapa meter didepannya.
Cklek
Blam
"Haahhh…" Luhan menyandarkan tubuhnya pada daun pintu yang tetutup, menikmati betapa hangatnya rumah kecilnya ini dari pada diluar sana yang sangat dingin.
Setelah merasa cukup hangat, Luhan bangkit menuju meja kecil yang ada didepan tv—tempat yang biasa ia pakai untuk bersantai juga- membuka bungkusan yang diberikan Minseok. Terlihat lezat sekali karena dirinya tengah dilanda lapar. Luhan bangkit menuju dapur untuk mengambil air dan mencuci tangan, setelahnya dirinya bergegas menuju meja kecil dimana ia biasa makan dan langsung melahap hamburger lengkap dengan kentang goreng itu dengan brutal—setelah berdoa tentu saja- karena perutnya yang dengan sangat memalukan telah berbunyi nyaring tadi saat dirinya kembali mendudukkan bokongnya.
Luhan makan dengan hikmat tanpa menyalakan televisi dihadapannya karena ia tidak membutuhkan hiburan. Setelah ini tidur saja, pikirnya.
Luhan terduduk bersandar pada sekat antara ruang nonton dan ruang tamu karena hamburger yang terlihat kecil—bagi Luhan- itu bisa membuat dirinya kekenyangan juga.
"Aisshh.. Baiklah, ayo kita tidur" Ucapnya seorang diri, sudah menjadi kewajibannya mengucapkan kata-kata itu untuk segera menyuruh dirinya bungkusan tadi, membuangnya ke bak sampah yang ada di dapur dan kembali kekamar setelah dirinya menggosok gigi dan membersihkan wajah, serta ganti baju tentu saja.
"Hufftt.. Selamat tidur Luhan, mimpi indah" bisiknya kemudian tak lama dirinya sudah melayang entah kemana.
.
Just a Dream or Real?
.
Luhan menggeliatkan tubuhnya, enggan membuka mata saat cahaya sang surya memaksanya untuk tersadar dari mimpi indahnya. Sangat silau seperti bukan dikamar saja, batinnya. Luhan memutar tubuhnya kesamping dan hidungnya merasa geli saat ada sesuatu seperti menggelitiki hidungnya. Dengan perlahan ia membuka matanya dan menemukan rerumputan lah yang tengah menggelitiki hidungnya karena terkena angin yang sepoi-sepoi. Dan seseorang yang meandangnya dengan posisi sama seperti Luhan—menyamping.
"Umh, Sehun…" Gumam Luhan saat matanya melihat wajah orang itu. Tunggu—
"Sehun!?" Pekiknya langsung bangkit dari rebahannya dan menatap Sehun dengan kelopak mata yang melebar. "K-kenapa.."
"Kenapa aku disini?" Luhan bungkam saat Sehun dapat dengan mudah mengetahui pertanyaan yang hendak terlontar dari bibir mungilnya. Dengan ragu, ia pertanyaan Sehun.
Sehun bangkit dari rebahannya dan duduk dengan memandang hamparan bunga matahari yang sangat indah dihadapannya. Mengabaikan tatapan kebingungan Luhan. Dirinya terkekeh, membuat Luhan semakin bingung bahkan sekarang ia mengerutkan keningnya. Merasa heran dengan Sehun yang tiba-tiba terkekeh. Jangan bilang Sehun gila?
"Aku tidak gila asal kau tahu saja" Luhan tersentak saat Sehun seperti menjawab pertanyaan yang ada di otaknya tadi.
"Kau tahu, aku —"
"Kenapa kita bisa berada disini?" Luhan lagi-lagi tersentak untuk yang kesekian kalinya karena Sehun dapat meneruskan kalimatnya dengan tepat. "Ya" jawab Luhan seadanya.
"Kau lah yang membawa dirimu kesini Lu"
"Hah?" Sungguh, kalimat Sehun membuatnya bingung dan otak kecilnya tidak mampu mencerna dengan baik apa yang tengah Sehun bicarakan. "Apa maksudmu?"
Sehun memutar kepalanya hingga mereka bertatapan, kemudian lelaki berwajah runcing itu tersenyum. Senyum yang belum pernah Luhan lihat selama ia berteman dengan anak itu. Membuat—entah kenapa- jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat hanya dengan melihat senyuman yang sangat menawan dan menenangkan hati itu.
"Nanti kau akan tahu seiring berjalannya waktu" Ucap Sehun.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan Ohse" Luhan ikut-ikutan memutar tubuhnya hingga memandang hamparan bunga matahari didepannya, ia sempat terpana dengan pemandangan itu. Tapi terhenti saat Sehun kembali membuka mulutnya.
"Aku punya tempat yang lebih indah disini, apa kau mau ikut?" Sehun kemudian berdiri hingga membuat Luhan harus mendongak karena itu. Menatap anak itu dari samping dengan latar cahaya sang surya melingkupi tubuh tegap tersebut. "Mau ikut tidak?" Tanya Sehun lagi tapi kali ini dengan uluran tangan agar Luhan menyambut telapak tangannya yang lebih lebar padahal secara umur Luhan lah yang lebih tua.
Dengan perlahan Luhan mengulurkan tangannya pada Sehun dan saat mereka terjalin kontak fisik, jantung Luhan kembali memopa dua kali lebih cepat. Setelah melihat senyum Sehun yang sangat menenangkan tadi, Luhan jadi tertarik pada pemuda yang berjalan didepannya dan memegang tangannya dengan erat ini. Tanpa ia ketahui, pipinya tengah bersemu saat ini hingga tanpa sadar ia menunduk. Membuat Sehun menoleh kearahnya karena Luhan berjalan seperti tidak seimbang.
"Jangan tundukkan kepalamu jika kau tidak ingin terjatuh" Itu suara Sehun lagi yang memberitahunya, karena benar didepannya ada sebuah batu yang mampu membuat Luhan terjungkal jika tersandung.
Luhan suka Sehun yang seperti entah kenapa. Sehun yang ini berbeda dengan Sehun teman kerja part time yang di café, yang mana mereka hanya sebatas bertegur sapa tanpa adanya kontak fisik. Sehun yang ini hangat, bahkan ia seperti berusaha mencari topik pembicaraan yang membuatnya tidak bosan. Dan sekarang Sehun yang ini sedang mengajaknya kesuatu tempat yang indah.
Beberapa meter didepannya, Luhan dapat melihat sebuah danau yang membentang indah. Ada jembatan dimana dipinggir-pinggirnya disinggahi oleh beberapa boat. Di sisi kiri dari Luhan berjalan—bersama Sehun sekarang- ia dapat melihat kumpulan bunga tulip yang tumbuh. Seperti sengaja hanya ditanam disekitar situ.
Tunggu, bukankah sekarang sedang musim dingin? Kenapa disini tidak ada salju. Bahkan sebelum dirinya melihat tempat ini tadi. Terdapat hamparan bunga matahari yang sangat indah. Bunga tulip pun tumbuh dengan suburnya dengan berbagai macam warna. Ia bingung, tapi, ia kan sekarang tengah berada di alam mimpi. Ah sudahlah yang penting ia berada ditempat ini bersama Sehun.
Tunggu, kenapa ia malah senang bersama Sehun ke tempat indah seperti ini. Ia kan tidak dekat dengan Sehun, bahkan melakukan kontak fisik saja tidak pernah barang bersentuhan tangan. Rasanya sekarang ia seperti tengah berkencan dengan Sehun saja.
Tunggu—lagi, kenapa ia malah berfikir seperti berkencan dengan Sehun hanya karena tempat ini? Luhan sadarlah pekiknya dalam hati. Wajahnya terasa panas sekarang, membuatnya harus menggeleng-geleng pelan guna menghilangkan rasa panas itu karena angin sepoi. Tanpa dirinya sadari, Sehun menyeringai didepannya.
"Nah, kita sudah sampai" Sehun menghentikan langkah mereka saat berada di jembatan dengan banyak boat di kanan kirinya. "Kau mau mencoba mereka?" Luhan mengalihkan pandangannya dari boat itu menuju Sehun dan menatap manik gelap itu dalam diam, seakan terhisap disana. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Luhan?" Luhan tersadar saat Sehun kembali memanggilnya, ugh memalukan karena kau yang tengah memandangi orang itu dalam diam.
"Ah, ya?"
"Kutanya, apa kau mau mencoba mereka?" Luhan kembali menatap kumpulan boat itu. Jujur, ia takut air yang dalam karena bisa menenggelamkannya kapan saja. Oke Luhan mengakui. Ia tidak bisa berenang asal kalian tahu. Ia memiliki trauma yang dalam dengan yang namanya berenang, air yang dalam atau apalah itu. "Jika kau takut tenggelam tenang saja. Aku akan menyelamatkanmu"
BLUSH
Pipi Luhan bersemu tanpa alasan yang jelas. Ia langsung berdiri membelakangi Sehun dengan kedok melihat pemandangan disekitarnya. Yang sebenarnya menyembunyikan rona diwajahnya.
"Kau mau kan? Ayo!" Tanpa persetujuan Luhan, Sehun sudah lebih dahulu menariknya kesalah satu boat yang berwarna biru muda bercampur kuning. Jantung Luhan kembali bertalu dua kali lipat, karena ia gugup untuk masuk kedalam air yang sangat luas dari daratan itu, atau untuk alasan lain ia akan naik boat berdua. Berdua dengan Sehun.
Sehun menuntunnya untuk naik pertama setelah menuruni anak tangga yang kecil untuk menaiki boat. Dengan gemetar Luhan membuka kakinya untuk menaiki boat.
Cleph
GREPP
Setelah sebelah kakinya menginjak untuk menaiki boat dan air bergerak karena jejakannya. Luhan kembali menarik kakinya dari air dan memeluk Sehun erat. Karena demi Tuhan, Luhan sangat takut dengan air yang membentang dihadapannya.
"A-aku tidak sanggup Sehun" Lirihnya didekapan Sehun—tindakannya yang tidak terduga- ia memeluk Sehun semakin erat. Sehun sempat terkesiap saat Luhan tiba-tiba menubrukkan tubuhnya, untung saja ia dapat menyeimbangkan tubuhnya dengan baik.
"Aku—aku takut Hun." Sehun mengusap punggung Luhan saat tubuh anak itu semakin bergetar. "Aku—a-aku…"
"Ssstt.. Baiklah, maafkan aku. Aku tidak tahu jika kau setakut ini dengan air" Sehun berucap tulus disamping telinga Luhan yang kebetulan didekat bibirnya. "Kita main yang lain saja bagaimana?" Sehun menawarkannya sembari melonggarkan pelukannya hingga ia dapat melihat wajah ketakutan Luhan serta mata yang berair menahan tangis. Kentara sekali jika dirinya menahan ketakutan yang teramat dalam.
Tanpa sadar, Sehun mendekatkan wajahnya pada wajah Luhan yang tengah menatapnya dengan pandangan puppy. Dan Luhan sendiri tanpa sadar memejamkan matanya, mengikuti kata hatinya yang menyuruhnya untuk menutup mata entah kenapa.
Cup
Pagutan pun terjalin dengan indahnya dalam sekejap tanpa celah yang menyisakan udara untuk keluar ataupun masuk. Dengan mata yang sama-sama terpejam, keduanya menikmati pagutan masing-masing. Dengan latar belakang danau yang sangat indah dan rerumputan hijau dipinggirnya. Ditambah angin sepoi yang menerbangkan setiap helai rambut si mungil. Menambah kesan romantic dengan ciuman mereka yang lembut dan tanpa celah, membuat pipi yang mungil bersemu dengan cepat hingga ke telinganya.
Sehun yang melingkarkan lengannya di pinggang Luhan, membuat Luhan tidak bisa bergerak dan tanpa disadarinya—lagi- ketakutan yang teramat sangat dirasakannya tadi hilang entah kemana. Digantikan oleh rasa hangat menenangkan dan juga jantungnya yang berdegub nyaman. Luhan menyukai ini. Luhan menyukai Sehun tanpa alasan yang pasti kenapa ia sangat menginginkan Sehun. Dirinya, Luhan, telah jatuh cinta oleh lelaki putih dan tinggi didepannya.
Cpkh!
Sehun melepaskan tautannya saat ia merasa nafas Luhan yang pendek-pendek. Menyisakan benang saliva diantara bibir keduanya karena jarak yang belum terlalu jauh. Hidung saja masih bersentuhan.
Luhan masih memejamkan matanya, berkebalikan dengan Sehun yang menatapnya dalam diam. Menatap wajah cantik yang sedang mengatur nafasnya. Ia mengagumi Luhan sudah sejak lama, sejak pertama kali bertemu Sehun sudah jatuh cinta pada lelaki manis yang kelopak matanya mirip rusa ini. Lihatlah wajahnya yang memerah, membuat Sehun tidak tahan dan ingin melahap wajah yang sedang meleleh itu.
"Luhan. Ikutlah denganku" Belum sempat Luhan membuka matanya, ia merasa tubuhnya yang melayang. Dan saat ia sudah membuka mata dan dapat mencerna apa yang terjadi. Dirinya sadar. Dia tengah di gendong oleh lelaki berdagu runcing itu.
Dan—lagi- pipinya bersemu merah maksimal hingga telinga serta lehernya. Ia panas, ingin rasanya ia tenggelam ke dasar danau yang ada disampingnya saat ini. Tapi itu tidak mungkin terjadi, karena dirinya sangat takut dengan kedalaman air disana.
Dengan muka yang masih memerah, Luhan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Sehun—tanpa sadar- dan malah menyamankan posisinya disana.
Tak lama, Luhan merasa dirinya yang diturunkan dari gendongan Sehun. Dan benar saja, sekarang, saat ini, Sehun tengah menurunkannya dibawah pohon yang paling besar diantara pohon yang lainnya. Tempat ini terlihat seperti hutan kota, yang anehnya tidak ada orang sama sekali. Tapi ia tidak peduli. Yang penting dirinya tengah berdua dengan Sehun sekarang. Oh, pipinya tidak mau kembali ke warna semula, merah permanen karena pemikirannya tersebut. Apalagi Sehun yang tengah memandanginya tanpa berkedip, seakan-akan dirinya adalah sepiring bulgogi buatan neneknya yang super lezat itu.
"Sehun..." Luhan sebenarnya berusaha menyadarkan Sehun yang sedari tadi tidak berkedip dan hanya menatapnya dalam diam—Luhan mengira Sehun tengah melamun.
Namun disalah artikan oleh Sehun yang mengira kalau Luhan memanggilnya untuk meneruskan pekerjaannya. Pekerjaan apa?
"Luhan, kau sangat menawan" Sehun berbisik di hadapan wajah Luhan, berjarak sekitar tiga puluh senti meter—karena posisi Luhan berbaring dan Sehun yang duduk disampingnya. Lelaki pucat itu membelai pipi Luhan yang semulus bayi.
Nafas Luhan tercekat ketika jemari lelaki pucat itu membelai sampai ke bibir merah merekahnya.
"Kau mau melakukannya Lu?" Manik Luhan sedikit melebar, ia tidak bodoh untuk tidak tahu apa yang dimaksudkan Sehun. Kenapa Sehun tiba-tiba menanyakan hal itu?
Mereka baru saja berteman dengan baik, tidak seperti biasa yang hanya saling bertukar sapa dan senyum tipis. Tapi ini, kenapa?
"Tapi—"
"Kita baru akrab. Yeah aku tahu, yang tidak kau tahu," Sehun menundukkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh daun telinga yang memerah itu dengan tepat. "Aku memperhatikanmu selama ini"
"Anghh.." Dan bisikan itu diakhiri dengan kuluman yang menggetarkan badan si mungil. "HhhhHun—" Luhan meremas kepala Sehun yang ada didekatnya. Melampiaskan perasaannya saat itu pada Sehun.
Bahwa ia malu berada di posisi sekarang.
Ia malu.
Ia terlalu lemah.
Ia kegelian.
Ia—Ia, menyukainya.
"Anggh—hmpht.." Sehun langsung meraup bibir itu lagi setelah ia mengulum daun telinga Luhan. Menikmati manisnya bibir itu yang baru ia sadari kalau dirinya sangat ketagihan dengan rasanya.
Sehun menyukai bibir Luhan yang kecil dan lembut. Ia menyukai daun telinga Luhan, dan—
Sehun menuruni lumatannya menuju leher mulus yang belum ia jamah. Menciumnya perlahan yang membuat napas si mungil semakin tidak beraturan. Menjilatnya dengan sensual, lalu menyesapnya dengan kencang.
"Aangck!" Teriakan—desahan- Luhan tertahan tatkala Sehun menggigit kulit lehernya kemudian dilepaskannya secara terkejut dari antara giginya itu. Membyat kulit mulus disana meninggalkan jejak merah keunguan yang kentara sekali.
—dan ia menyukai rasa leher Luhan yang begitu menggiurkan.
Setelah mengecup tanda yang ada di leher Luhan, Sehun mengelusnya dengan lembut.
"Itu tanda kau milikku Lu" Ucapnya tepat dihadapan wajah Luhan yang tengah memandang Sehun dengan nafas terengah. "Kau milikku sayang. Jadi maukah kau melanjutkannya?" Sehun bertanya yang ajaib nya Luhan langsung memgangguk dengan pelan diiringi wajahnya yang kembali pekat.
Cup
Sehun memberi Luhan hadiah berupa kecupan di bibirnya. Setelah itu ia langsung membuka baju Luhan melalui kepalanya dan seketika terpampang tubuh bagian depan Luhan yang—Demi Tuhan- entah bagaimana kulit seorang lelaki bahkan sama dengan kulit perempuan.
Mulus tanpa cacat. Ouh lihatlah putingnya yang pink kecoklatan dan tengah tegang maksimal itu. Membuat Sehun semakin tidak tahan dengan pemandangan super didepannya.
"Kau sungguh sempurna Lu" Luhan hanya diam saja saat ia melihat tangan Sehun yang mendekat pada bagian perutnya lalu tak lama ia merasa sentuhan yang dingin diatas sana dan semakin naik semakin naik lalu membuatnya—
"Aahhh..." —mendesah keenakan karena Sehun yang tengah memelintir nipple nya dengan pelan membuat Luhan gemas sendiri karena yang dibutuhkannya saat ini bukanlah kelembutan, tapi ia akui sentuham Sehun sangat memabukkan.
"Mhhh..." Luhan kembali mendesah saat mendapatkan kenikmatan yang berbeda di tempat yang sama. Sehun mengemut nipple nya. Luhan bergidik saat Sehun melepaskan kirinya lalu berpindah ke kanan, ia merasa dingin saat angin luar yang berhembus dengan merdu. Menabrak puting basahnya.
"Mhh A'!" Luhan kembali memekik, Sehun menggigit putingnya lalu menarik-nariknya layakanya karet. Kemudian dilepasnya puting Luhan saat ia menariknya, menghasilkan rintihan keenakan dari Luhan. Mengulangi itu sampai dirinya puas akan puting Luhan.
"Mmm... Ini sungguh nikmat Lu," Sehun menjilat-jilat dada Luhan layaknya anak anjing. Kemudian jilatannya naik dan semakin naik higga tiba di pipi Luhan, disana ia kembali menjilatinya. "Kau menikmatinya kan. Bagaimana menurutmu hm?" Lalu ia mengemut ujung hidung Luhan dengan mata terpejam.
"Akuh—Akuhhhh..." Luhan tak dapat melanjutkan kalimatnya saat tangan Sehun masuk pada jeans—tanpa ikat pinggang- yang dikenakannya.
"Hard huh?!" Sehun memberikan smirk nya pada Luhan yang memejamkan matanya. Tidak tahan dengan sentuhan Sehun.
"Anngg Ss—Hun" Luhan mencengkram kemeja bagian depan Sehun dengan erat. Sesuatu bergerumul di perut bagian bawahnya. Mendesaknya untuk mengeluarkan sesuatu itu melalui benda yang tengah dikocok Sehun sekarang.
"Hhunn.." Suaranya bergetar, ia tidak mungkin kan kencing sekarang, sedangkan Sehun tengah memegang benda miliknya itu. Ia hanya tidak ingin malu dengan memuncratkan laharnya pada tangan Sehun.
"Keluarkan saja sayang. Akan menyakitkan jika kau tahan" Sehun berujar pelan dengan tangan yang masih setia mengocok milik Luhan dengan brutal. Precum sudah keluar dari sana, namun anak itu menahannya dengan baik hingga miliknya yang mungil itu mengeras dan menggembung dengan lucu.
"Ha—AAAAHH..." Akhirnya.
Sehun tersenyum dalam hati melihat wajah yang merahnya tidak bisa hilang itu. Wajah Luhan yang sedang menetralkan napasnya dan pandangan yang lurus kearah langit.
"Bagaimana kalau sekarang giliranmu humm?" Sehun membangkitkan tubuh Luhan tubuhnya berada dipangkuan Sehun. Dengan refleks Luhan memegang kedua bahu Sehun agat dirinya tidak terjungkal ke belakang. Melihat Luhan yang masih lemah dengan gerakannya. Sehun pun mengalihkan pegangan Luhan hingga tangan anak itu mengalung dengan sempurna di lehernya.
Wajah mereka pun otomatis tambah dekat. Luhan masih dengan mata sayunya menatap Sehun, pipinya masih setia memerah. Sedangkan Sehun menatap Luhan dengan pandangan bernafsu. Melihat wajah sayu Luhan tepat dihadapan wajahnya membuat Sehun semakin ingin memakan anak ini jika ia lupa kalau Luhan belum pengalaman sama sekali dengan kegiatan ini.
"Kau mau melakukannya untukku Lu?" Sehun mengusap pinggul Luhan yang terekspos—akibat kocokannya tadi celana Luhan melorot hingga pangkal pahanya.
"Buka celanaku sayang" Sehun mengarahkan tangan Luhan pada selangkangannya yang trlah menggembung sempurna.
Wajah mulus itu masih tetap bertahan pada warna pekatnya. Wajahnya menunduk untuk menyembunyikan, tapi ia salah. Dirinya malah melihat gundukan itu dengan jelas.
Tanpa kata, Luhan membuka zipper Sehun dengan perlahan. Sehun mengusap lembut pipi merah Luhan menggunakan ibu jarinya. Merasakan betapa lembutnya kulit anak itu dan menikmati usapan tangan Luhan pada daerah berharganya.
"Lakukan sesuai instingmu sayang" Sehun mendesah di telinga kanan Luhan.
Luhan seakan terhipnotis dengan kata-kata itu, maka dengan menurut ia mengikuti instingnya—meremas penis besar Sehun. Keras, besar, berurat, berdenyut panas, itulah yang dirasakan Luhan pada genggamannya.
"Lepaskan dia Luhh.." Sehun mendongak kala remasan Luhan semakun mengerat.
Ah, Sehun sudah tidak sabar. Dengan tergesa ia lebih memelorotkan celana beserta dalamannya—tanpa memindah duduk Luhan- yang seketika membuat benda berharganya mengacung tegak diantara selangkangan Luhan yang duduk dipangkuannya.
Luhan semakin memerah, oh sepertinya rona itu benar-benar permanen diwajahnya. Melihat milik Sehun yang super jumbo itu, membuatnya malu sendiri. Jadi benda yang diremasnya tadi sebesar itu ukurannya.
"Puaskan dia Lu" Sehun kembali mengarahkan tangan Luhan agar mengenggam batangnya yang gemuk. Luhan semakin dapat merasakan beytapa panas dan berdenyutnya benda itu pada genggamannya. "Kocok seperti yang kulakukan tadi sayang" Itu perintah, dan Luhan bisa menangkap nada bicara Sehun yang bergetar—menahan nikmat yang hanya karena Luhan menggenggam batangnya.
Sehun menggeram tatkala Luhan menggerakkan tangannya perlahan. Oh yang benar saja, ia tak tahan. Sungguh.
"Aghh aku tidak tahan sayangku." Sehun melepas seluruh kain yang menutupi area bawah Luhan dengan tergesa. Membuat Luhan mencengkram bahu Sehun dengan erat dan otomatis bokongnya terangkat atas gerakan Sehun.
Seketika terpampanglah paha mulus Luhan beserta area selangkangannya yang memerah juga karena gairah.
"Lakukan apapun yang membuat kau bisa mengurangi rasa sakitnya okey?" Luhan mengangguk pelan membalas pertanyaan Sehun. Ia berusaha tidak takut dan pandangan mereka beradu—Luhan mencari ketenangan disana.
Oke, Luhan sedikit takut sekarang. Kalimat Sehun menakutinya. Seakan ia sedang berada diujung tanduk.
"S-Sehun.." Sehun memandang Luhan dengan tatapan bertanya saat mendengar lirihan selirih angin yang berhembus kecil, "A-Aku takut" Sehun tersenyum kala kembali mendengar suara yang terdengar lembut ditelinganya setelah lama Luhan tidak berbicara.
"Sakitnya sebentar saja" Sehun mengusap tengkuk Luhan yang lembut. "Tapi jika kau tidak sanggup, aku bisa menghentikannya" Luhan terkesiap, ia tidak mau. Ia tidak mau menghentikan ini begitu saja. Dirinya sudah sejauh ini bersama Sehun, jadi, anggap saja jika sudah basah mandi saja sekalian.
Dengan cepat Luhan menyembunyikan wajahnya pada leher Sehun dan menggeleng disana, memeluk pemuda dengan kulit pucat itu dengan erat dilehernya. Perutnya bergesekkan dengan milik Sehun yang hampir tertidur namun masih terasa sangat keras itu.
"K-Kita lanjutkan saja Hun" Lirihnya disana. Sehun tentu saja mendengar itu karena bibir Luhan yang berada di samping lehernya.
"Aku mencintaimu Lu"
DEG
JLEBB
"A-Aaghhhh!" Luhan memekik setelah ia merasakan detakan yang kencang pada dadanya karena Sehun yang mengucapkan cinta untuknya. Bersamaan dengan perasaan hangat melingkupi relung hatinya ia merasakan bagian bawahnya yang terasa terbelah dua. Dengan refleks ia mencengram bahu Sehun lebih erat. Kukunya sedikit tertancap disana, "Aggghh Hun..." Luhan berusaha memanggil Sehun agar menghentikan ini semua, tapi tidak bisa. Sehun tengah dilingkupi kabut nafsu yang kentara. Pemuda itu memejamkan matanya dengan kepala mendongak, menikmati nikmatnya lubang virgin nan hangat milik Luhan.
Luhan yang mengintip, melihat Sehun yang seperti itu. Dengan inisiatifnya, ia menundukkan wajahnya dan menangkup kedua pipi Sehun lalu mendaratkan lumatan demi lumatan disana. Sehun sempat terkejut dengan aksi Luhan, namun tak lama. Setelahnya ia tersenyum dibalik lumatan Luhan, ia senang dengan sifat agresifnya ini.
"Mmck!" Luhan memekik diantara ciumannya saat Sehun kembali memasukkan rudalnya. "Nng ngck cpk AHH!" Ia melepaskan ciumannya karena Sehun menghentakkan sehingga telak mengenai prostatnya didalam sana.
Selanjutnya, tubuh Luhan terhentak-hentak dengan bantuan tangan Sehun dan juga genjotannya. Luhan sendiri juga sesekali menggerakkan tubuhnya berlawanan arah dengan Sehun agar milik Sehun masuk sedalam-dalamnya.
"Aa-ahh angg ahmm" Luhan mengatupkan bibirnya saat dirasanya kering, menjilat bibirnya sengan sensual dengan kepala mengangkat keatas. Sehun menghisap puting Luhan dengan rakus, menjilat serta menggigitinya dengan gemas.
"Sshh ahnn Sse—hunn.. A-aku..."
CROOTT
Belum selesai dirinya memberitahu Sehun, lahar panasnya sudah menembak untuk yang ke dua kalinya.
"Sebentar lagi sayang" Sehun menyandarkan pipinya pada dada Luhan, sesekali lidahnya mencapai puting Luhan yang berada tepat didepan bibirnya.
Tubuh Luhan masih setia menghentak-hentak bahkan semakin brutal kala Sehun sudah memegang kedua pinggulnya dan menggerakkannya berlawanan arah.
Luhan merasa prostatnya bengkak didalan sana karena Sehun tidak pernah luput dengan genjotannya itu.
"A-aahh Hun" Luhan merasakan penis Sehun yang semakin menebal dan membesar. Berdenyut didalam dirinya—wajah Luhan masih bertahan pada warna merahnya.
"Aghh Lu. Aku sampaihh—"
"Haa-AAHHH" Luhan menggeliat nyaman karena dirasanya bagian bawahnya yang terasa hangat. Lalu membuka mata dan ia melihat langit-langit kamar flat kecilnya.
Seketika mata mengantuk Luhan melebar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri. Memang benar ini rumahnya. Tapi,
Dimana Sehun?
Luhan mendekap selimut yang dipakainya, takut sesuatu terjadi padanya.
Dengan pandangan horror, Luhan mengintip kedalam bagian selimutnya. Ugh, bau—bukan bau pesing. Lebih ke bau yang—umm- sperma?
Dan setelahnya, Luhan membelalak tidak percaya. Celananya, basah?
.
TBC
.
.
Haiii.. Huwaaa Ovie gak nyangka kalau lanjutannya bakal selama ini..
Seneng deh responnya lumayan banyak wkwk.. Nih buat yang req HunHan kemarin.. Semoga sesuai harapan ya, maaf gak sepanjang ChanBaek. Oya, Chapter depan TaoRis akan jadi bintangnya, so, prepare guys and review ya..
Big Thanks To:
daebaektaeluv; joohyunkies; ChenMin EX-Ochy; Skymoebius; JonginDO; donat keju; SeiraCHHS; Chan963; ShinerJungJein; Aiko Vallery; meliarisky7; exofujo12; Oh Grace; Fa; Dzakiyah570; panda; Kiyomi381; eenychanpeceye; parkchanyeol. chanyeol. 35; DAN PARA SIDERS SEKALIAN
EXO-L Jjang!
