Pertama-tama saya ucapkan arigatou gozaimasu.. honto ni.. yang udah baca, review, fave, dan follow! Super happy.. :D
Doakan bisa update teratur, mengingat satu bulan ke depan akan super sibuuuk..
Warning : typo, OOC
oke dah, ini kelanjutannya..
Disclaim : You know who
Chapter 2- Mourning
Pagi itu sangat tampak sangat biru, angin berhembus lembut menggerakkan pepohonan di yang biasa terjadi di akhir musim semi. Seorang anak membuka jendela kamarnya. Mencoba menghirup udara pagi yang segar, dan membiarkannya masuk ke kamarnya. Mengelus lembut Rambutnya yang coklat acak-acakan.
"Kaitooo, sarapan siaap.." suara seorang wanita terdengar dari bawah.
"baik Kaa-san", bocah itu langsung turun dari tempat tidurnya. Mata indigonya berbinar, 'hari ini akan jadi hari yang menyenangkan' gumamnya dalam hati.
oOo
Ruangan itu tampak kaca di salah satu sisinya dengan tirai biru terbuka membiarkan cahaya matahari menerobos masuk. Di tempat tidurnya, seorang anak kecil yang sebelumnya tertidur pulas mulai terganggu dengan cahaya matahari yang mulai menyilaukan matanya. Dicobanya untuk memiringkan badannya membelakangi jendela, sambil bergumam tidak jelas.
"aa.. kaasan, lima menit lagi.." gumamnya saat dia merasakan angin berhembus dari jendela di kamar itu. Sadar ada sesuatu yang janggal, dia mulai membuka cahaya membuatnya menyipitkan setengah sadar, dia mengamati ruangan biru langitnya seketika membulat saat dia menyadari dia tidak berada di kamarnya, bahkan bukan di rumahnya. Saat pikirannya kembali mengingat yang terjadi sebelum dia tertidur, dia langsung meloncat dari tempat tidur menuju pintu kamar. Sebelum dia memutar gagang pintu, gagang pintu berputar tanda ada orang yang akan masuk.
Deg. Tubuhnya membeku mengingat kembali yang terjadi. Tubuhnya bergetar hebat, matanya membulat tidak berkedip menatap pintu. Seorang laki-laki agak tua muncul dari pintu.
"ah, Shinichi-sama, anda sudah bangun" sapa orang tua yang masuk membawa nampan berisi makanan dan minuman hangat. Anak kecil tadi-Shinichi- menyipitkan matanya, dia tidak mengenali orang tua ini, namun perasaannya mengatakan orang ini tidak jahat, tidak seperti orang yang dilihatnya saat-
"ah, iya, saya lupa memperkenalkan diri," orang tua itu melanjutkan sambil menutup pintu. "saya Jii Konosuke, anda bisa memanggil saya Jii," lanjutnya sambal berjalan menuju tempat tidur, lebih tepatnya meja sebelah tempat tidur. "Tuan Toichi baru saja pergi untuk urusan keluarga".
Jii meletakkan nampan di meja."Shinichi-sama, silahkan sarapan terlebih dahulu, setelah itu anda bisa ganti sudah saya siapkan di lemari."
Shinichi masih diam. Kepalanya menunduk sehingga matanya tertutup bagian depan rambut hitamnya.
"aku ingin pulang" ucapnya lirih hampir tidak terdengar.
"maaf Shinichi-sama, apa yang-"
"AKU INGIN PULANG!" teriaknya, matanya mulai mengeluarkan air langsung menuju gagang pintu, membukanya, dan langsung berlari keluar.
Jii yang tersentak, langsung berlari mengikuti Shinichi."Shinichi-sama! Tunggu dulu"
Shinichi tidak menggubris suara teriakan Jii di belakangnya. Dia terus berlari menuruni tangga, menuju ruangan depan. Saat dia sampai di depan pintu rumah, tiba-tiba pintu terbuka. Karena masih dalam keadan setengah berlari, Shinichi menabrak orang yang membuka pintu depan. Badannya jatuh ke belakang.
"Ah, Shinchi, apa-"
Saat melihat siapa yang ditabraknya, Shinichi langsung memeluk orang itu.
"Ah Tuan Toichi,maaf-" sebelum Jii selesai berkata, Toichi meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya memberi isyarat untuk diam.
"Pa-paman Toichi, a-antar a-aku pulang, aku ingin menemui otou-san dan kaa-san.."pintanya sambil terisak-isak. Air matanya mengalir deras membasahi - Toichi- menundukkan badannya, kemudian menggendong Shinchi ke pelukannya sambal mengelus punggungnya.
"Shhusss, Shinichi tenanglah, tenanglah, aku akan mengantarmu pulang, tapi sebelumnya kau harus tenang dulu, oke,"
Isak Shinichi mulai mengganggukkan kepalanya, sambal menyeka air matanya, menatap lawan yang biru bulat tampak memerah karena menangis. Alis mata Toichi mengerut. Dia benar-benar benci apa yang ada dihadapannya. Dia tidak tahan melihat anak kecil menangis. Dan yang membuat hatinya semakin sakit seperti teriris, karena anak yang menangis di depannya sudah dianggapnya seperti anak sendiri.
"Shinichi.. ayo kita masuk ke dalam dulu, kamu harus sarapan terlebih dahulu, " bujuk Toichi sambil menuju ke kamar. Shinichi hanya diam di gendongan pamannya.
"Shinichi..ayo makan dulu.." bujuk Toichi. Yang diajak bicara hanya diam. "A tau kau ingin mandi terlebih dulu?" cobanya lagi. Shinchi hanya diam. Dia hanya menatap ke dia sudah tidak menangis, tatapannya kosong. Melihat hal itu itu, pamannya berjongkok di depan Shinichi.
"Shinichi…" panggilnya lagi.
"Otou-san..okaa-san.." sebelum pamannya bicara, Shinichi berkata lirih, "mereka.. mereka sudah meninggal kan paman? Mereka..mereka.. aku.. aku.."
Sebelum Shinichi melanjutkan bicaranya, Toichi langsung memeluknya, tangis Shinichi kembali pecah.
Aaah..aku saaaangaaat benccii hal ini. Kutuknya dalam hati.
oOo
Siang itu cukup cerah meski ada sedikit awan di langit, namun matahari tetap menerangi seluruh alam tanpa peduli awan yang mencoba menutupinya. Angin bertiup lembut menggoyangkan pepohonan. Siang yang indah itu seakan tidak peduli dengan setiap hati manusia. Laki-laki maupun perempuan dengan pakaian hitam-hitam mulai berdatangan menuju sebuah rumah yang cukup besar. Setiap orang yang datang memberikan ucapan belasungkawa kepada keluarga yng selesai berdoa, mereka meninggalkan wajah sedih.
Seorang anak kecil duduk di samping altar ditempat keluarga yang sampingnya seorang laki-laki tua berperawakan-bisa dibilang sangat gemuk- duduk di sampingnya. Dia hanya menatap dua foto yang dipasang di depan altar. Dua orang itu, sudah dianggapnya seperti anaknya bertahun-tahun dirinya tinggal di sebelah , sedih, tawa, khawatir, keusilan mereka sudah biasa dia mereka berdua pindah di sebelah rumahnya. Saat mereka mengabarkan kalau mereka akan punya anak. Saat mereka menitipkan anaknya di rumahnya karena pekerjaan sibuk mereka. Dia benar-benar jelas mengingatnya. Rasanya seperti baru kemarin, dia mendengar tawa mereka, seperti kemarin saat dia menerima sindiran mereka atau bantuan mereka saat salah satu -um, penemuannya- meledak. Rsanya seperti mimpi, saat dia mendengar kabar itu, sekarang, detik ini, dia terduduk di sini melihat kedua foto mereka yang tersenyum terpajang di altar.
Pandangannya kemudian dialihkan ke anak kecil yang duduk di sampingnya. Anak kecil yang belum genap tujuh tahun, yang baru akan masuk sekolah dasar. Anak yang sejak kecil sering main ke rumahnya mencoba penemuan-penemuannya. Anak yang sangat ingin tahu segala sesuatu, suka bermain yang sudah dianggap seperti cucunya sendiri, tampak sangat terluka. Dia bahkan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya untuk membuat anak ini kembali seperti semula. Percaya diri. Sangat ingin tahu, tidak takut apapun, dan melakukan apapun yang diinginkannya.
Tidak jauh dari tempat duduk orang tua tadi, seorang laki-laki muda berambut hitam dengan mata biru keunguan berdiri dengan sedikit menyandarkan tubuhnya di dinding juga menatap kedua foto di altar. Mereka berdua adalah sahabatnya yang sudah dianggap seperti saudaranya sendiri. Perempuan di foto itu adalah murid kesayangannya. Laki-laki di foto itu juga merupakan rival yang selalu menantangnya apapun sejak sekolah. Kedua matanya meutup mengingat kembali semua memori bersama keduanya. Memori yang berharga, yang sampai dia mati, dia akan selalu mengingatnya. Memori yang akan mendorong dirinya untuk mencari kebenaran di balik kematian mereka. Memori yang akan dia bawa untuk menyelamatkan anak mereka-yang sudah dianggap anaknya sendiri.
Saat dia masih mengingat memori itu, dia merasakan ada tangan yang menepuk pundaknya. Membuka matanya dia melihat soerang laki-laki paruh baya berkumis, berbaju hitam seperti yang lain, dan memakai topi di kepalanya. Entah kenapa dia berpikir sepertinya laki-laki ini selalu memakai topi di kepalanya."Kuroba-san, bisakah kita bicara sebentar?" ucap laki-laki itu- inspektur Megure- sambil menuju ke luar ruangan menuju tempat yang menurutnya lebih tenang dan tidak terdengar dari luar. Laki-laki muda tadi hanya mengikuti inspektur tadi dengan raut wajah yang tak terbaca.
Sesaat setelah kedua laki-laki tadi menghilang dari pandangan, seorang wanita berambut pirang memakai kacamata hitam memasuki itu kemudian berlutut dan berdoa di depan altar. Setelah selesai berdoa dia berdiri, sesaat melihat foto di altar, kemudian mengalihkan pandangannya ke anak kecil yang duduk di samping mata biru di balik kacamata hitamnya menatap tajam pada anak tersebut selama beberapa detik. "you must be strong, Silver bullet-kun".
oOo
A/N : How? mohon masukan, kritik, dan sarannya
