Haaaai semuanyaaa... akhirnya bisa bertemu dan meng-update lagi...
Gomen.. karena lama tidak bisa update. Seperti yang sudah kukatakan di AN chapter sebelumnya, update-an setelah ini tidak akan teratur.
sekali lagi gomennasaii! *deep bow*
Here, the next chapter.. i don't own anything, and beware for the OOCness, typo, etc!
Chapter 4 – the calm before the storm
4 tahun kemudian…
Shinichi yang masih tertidur, tiba-tiba merasa ada sesuatu yang bergerak di bawah kakinya.
"Uh, niichan, hentikan. Aku masih ngantuk," gerutu Shinichi masih dengan mata tertutup. Namun sesuatu yang bergerak itu sama sekali tidak menggubrisnya. 'sesuatu' itu mulai bergerak menelusuri kakinya menuju ke atas. Merasa terganggu, Shinichi mengibaskan kakinya, "uh, sudah kubilang hentikan!" kali ini dengan sedikit berteriak, yah, meski matanya masih menutup. Ditariknya kembali selimut, menutupi tubuhnya sampai ke pipinya. Sepertinya daya upaya Shinichi untuk pergi ke alam mimpi lagi akan sia-sia. 'Sesuatu' yang bergerak itu masih saja menelusuri kakinya, dan sekarang dia merasa ada banyak 'sesuatu'yang menjalar di kakinya. Merasa ada yang yang janggal, dia membuka selimutnya. Matanya terbelalak begitu melihat 'sesuatu' di bawah selimutnya.
"waaaaaaaaaaa, Kaaaaii-niiichaaaaaan", suara teriakan Shinichi terdengar sampai ruang makan.
Chikage memasang tatapan tajam 'ini-pasti-ulahmu-' pada anak laki-laki di depannya. Yang ditatapnya hanya mengangkat bahunya malas.
"salahnya sendiri, dia merusak kesenangan sulapku kemarin," gerutunya sambil cemberut. Kaito sering menampilkan sulap hasil berlatihnya di depan keluarganya. Dan semalam adalah pertunjukan kecilnya , setelah berbulan-bulan belajar trik baru. Dan semuanya dirusak oleh Shinichi, yang secara spontan, tanpa rasa berdosa, mengatakan bahwa dia tahu rahasia triknya, Huffft, tidak seharusnya dia membeberkan triknya seolah itu hal yang biasa. Kaito yang masih dalam moodnya yang jelek hari ini membalas 'dendam' kepada Shinichi.
"Kaito.." suara ibunya lembut menyebutkan nama anaknya. Kaito menatap kedua mata ibunya yang melembut yang seolah-olah mengatakan 'mau bagaimana lagi'. "haaah.. baik Kaa-san~~" Kaito menyerah apabila harus melawan tatapan ibunya. Dia juga mengerti, hal itu sudah jadi sifat dasar Shinichi untuk memecahkan semua puzzle di hadapannya. Dan sudah 4 tahun mereka bersama, Kaito kurang lebih mengerti semua watak dan perilaku , seperti yang ibunya katakan, mau bagaimana lagi, sifat itu sudah mengalir di dalam darahnya.
Menurutnya hari ini hari yang cukup menyenangkan. Ha! Kapan hari tidak menyenangkan bagi seorang Kaito. Setelah sukses mengerjai Shinichi di pagi hari, dia juga sukses membuat kelasnya menjadi 'ceria' hari ini. Wali kelasnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas. Kaito sudah terkenal menjadi 'prankster' di sekolahnya. Dan semua guru seolah sudah menyerah untuk menceramahi anak satu ini. Keusilannya sudah menjadi kebiasaan di sekolahnya itu, bahkan semua orang khawatir bila dalam satu hari Kaito tidak melakukan keusilannya. Pasti akan ada bencana besar kalau Kaito tidak melakukannya. Mereka lebih memilih mendapat kejahilan Kaito tiap hari daripada harus menerima bencana besar 1 hari.
Kaito tersenyum lebar. Aoko yang berjalan di sampingnya hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung dan sekali-kali menghela napas. Dari tadi pagi sampai sepulang sekolah teman masa kecilnya itu hanya cengar-cengir terus. Aoko tidak habis pikir. Dia merasa memang temannya yang satu ini sudah tidak waras.
"Heh, Kaito, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Aoko sepulang sekolah, " dari tadi kau tersenyum terus? Apa ada yang menyenangkan yang terjadi?"
" duh, Aoko~~, tentu saja~~~" jawabnya dengan ceria.
"apa itu?"
"Rahasia~~~~~" jawabnya enteng, tangannya terlipat di belakang kepalanya dan tentu saja masih dengan senyuman lebarnya.
Merasa menyerah dengan kelakuan temannya itu, Aoko mengalihkan pandangannya ke belakang mereka berdua, Shinichi berjalan santai sambil memasukkan tangannya di saku celananya. Sudah empat tahun Aoko mengenal Shinichi - adik Kaito- wajahnya sangat mirip dengan teman sekelasnya. Bahkan saat bertemu pertama kali, dia mengira kalau Shinichi adalah saudara kembar Kaito. Dia tidak akan ragu kalau itu ternyata benar, atau paling tidak kalau Shinichi adik kandung Kaito. Bahkan seluruh sekolah mengakui kalau Shinichi memang benar-benar pantas menjadi adik kandungnya. Karenanya dia kaget mendengar bahwa ternyata Shinichi bukan saudara kandung Kaito.
Hmm, tapi rasa-rasanya hal ini masuk akal juga. Shinichi bukan adik kandung Kaito. Bagaimana mungkin seorang yang pendiam, pintar, serius, lebih suka membaca dan menyendiri di perpustakaan dan kadang-kadang bersikap lebih dewasa dari usianya itu adalah adik kandung dari seorang 'prankster' terkenal di sekolahnya, yang selalu blak-blakan, pembuat onar, gaduh, yah meski Kaito memang pintar juga sih. Mereka berdua benar-benar punya sifat yang berkebalikan.
"Shinichi, apa kau tau sesuatu?"Aoko berjalan melambat supaya bisa berjalan menjajari adik kelasnya itu. Shinichi yang dari tadi memikirkan hal lainnya, agak terkejut ketika ada orang yang berjalan di sampingnya dan mengajaknya bicara.
"ah- iya, ada apa Aoko-neechan?" tanyanya dengan agak sedkit kaget.
"Huh, apa kau tak mendengarkanku? Apa terjadi sesuatu dengan Kaito? Seuatu yang menyenangkan yang membuatnya sedikit bertingkah 'aneh'?" tanya Aoko lagi.
"Oh, itu.." mendengar pertanyaan Aoko membuat Shinichi agak kesal. 'Tentu saja ada hal yang menyenangkan, karena dia baru saja berhasil mengerjaiku tadi pagi' gerutunya dalam hati namun tidak akan dia katakan pada -Aoko- teman sekelas kakaknya dan juga tetangganya itu,"…mungkin karena hari ini Toichi oj- otousan akan menggelar pertunjukan sulap.." jawab Shinichi dengan nada ceria mencoba menutupi kata-katanya yang salah tadi. Aoko sedikit terkejut saat Shinichi mengatakan hal itu. Meski dia tahu kalau Toichi ojiisan bukan ayah kandung Shinichi, namun selama ini Shinichi tidak pernah salah mengucapkannya.
"oh, begitu.. pantas saja.." ujar Aoko, "eh, lalu kenapa kau tidak mengundangku Baka Kaito!" Aoko langsung berlari ke depan dan memukul kepala Kaito dengan tas. Shinichi hanya sweatdrop melihatnya.
"apa yang kau lakukan, Ahou Aoko! Sakit tau!" teriak Kaito yang mengelus-elus kepalanya yang agak berdenyut.
"kau tidak mengundangku ke pertunjukkan sulap Toichi ojiisan malam ini, makanya aku memukulmu," kata Aoko ketus, tangannya terlipat di dada dan dia memalingkan mukanya.
"oh itu..., umm, sebenarnya aku ingin mengundangmu..." jawab Kaito sedikit malu, tampak pipinya bersemu,"..dan.. ah, aku lupa tiketnya," jawabnya sambil menggaruk-garuk pipinya, "emm.. Aku duluan yaa!" ujarnya cepat. Sebelum Aoko sempat berkata-kata, Kaito sudah melesat ke depan dan menghilang dari pandangan.
"eh, cepat sekali," heran Aoko sambil memiringkan kepalanya. Shinichi hanya terkekeh melihat tingkah kedua kakak kelasnya itu.
"Kau konyol sekali Niichan," ucap Shinichi sambil meletakkan tasnya di meja. Setelah ditinggal oleh Kaito, Aoko terus-terusan bertanya pada Shinichi maksud dari perkataan Kaito padanya. Kaito hanya cemberut mendengar keluhan Shinichi.
"Seharusnya kau bilang dong pada Aoko-neechan, kalau kau sengaja tidak mengundangnya karena sengaja mau memberi pertunjukkan khusus di hari ulang tahunnya, dan kau tidak ingin pertunjukkanmu terlihat jelek, jika Aoko melihat pertunjukan ayah,"
"Shin-chaaan~~~, sepertinya kau terlalu banyak membaca buku detektifmu itu, ne?" ucap Kaito menggoda. " kalau aku bilang padanya itu artinya bukan kejutaan~~~" , kadang Kaito tidak mengerti pikiran adiknya itu, yang kadang-seringnya tidak peka masalah, umm percintaan? Oke Kaito mungkin agak tertarik dengan teman masa kecilnya itu, tapi belum sampai ke hal-hal semacam itu kan?
"ugh.. berhenti memanggilku seperti itu! Aku bukan anak berusia 6 tahun lagi!" marah Shinichi.
"Hoo, benarkaah? tapi bagiku kamu tetaplah my cute little brother~~~…" goda Kaito lagi sambil medekati Shinichi. Dan kali ini wajah Kaito tepat di hadapan wajah Shinichi, "dan tentunya tidak menyenangkan bila kita membuka sebuah kotak yang kita ketahui isinya, kan?"
Wajah Shinichi memerah,"Ugh...,itulah tugas seorang detektif", ucap Shinichi sambil mendorong tubuh Kaito menjauh. Shinichi yang kesal langsung keluar dari kamarnya.
"oke,oke, aku menyerah," Kaito menghela napas. Jika sudah masalah detektif, dia malas untuk melanjutkannya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang sangat senang memecahkan misteri. Menurutnya misteri dan puzzle ada untuk dinikmati, bukan dipecahkan. Karena itulah dia ingin menjadi pesulap, untuk menciptakan misteri dan menghibur orang lain, dan membenci detektif yang suka mengkritik. Lagipula malam ini pasti akan menyenangkan, jadi dia tidak mau merusak hari ini untuk bertengkar dengan Shinichi masalah prinsip mereka.
Lagipula bukan hanya masalah itu yang membuat Kaito tidak mengundang Aoko. Malam ini ayah Aoko sedang libur. Mengingat ayahnya seorang inspektur kepolisian yang selalu sibuk, ini pasti kesempatan langka bagi Aoko untuk menghabiskan waktu bersama ayahnya. Terlebih lagi setelah ibunya meninggal. Karena itulah dia sengaja tidak mengundangnya malam ini, namun akan memberi kejutan padanya di hari lain. "Hehehe," Kaito menyeringai lebar mengingat rencananya itu.
-0o0o0o0o0o
Shinichi merasa gelisah duduk di tempat duduknya. Dari tadi pagi dia merasa ada sesuatu yang janggal. Perasaannya sangat tidak enak. Seperti sebuah firasat akan terjadi sesuatu.
"Shinichi, apa kau baik-baik saja?" Tanya Chikage dengan nada khawatir. Dari semenjak tadi pagi saat sarapan Shinichi tidak menyentuh makanannya. Dan sekarang dia hanya memainkan makan malamnya dan tampak berpikir.
"Ah-iya, Kaasan, aku baik-baik saja," jawab Shinichi agak sedikit terkejut. Dia mencoba tidak menatap ibunya yang satu ini. Setiap dia memandang mata ibunya, seolah-olah ibunya bisa melihat apapun yang ada dalam pikirannya. Dan dia tidak mau, apapun yang dipikirkannya membuat khawatir ibunya. Karena bagaimanapun yang dia khawatirkan tidak masuk akal.
Chikage hanya bisa menghela napas. Shinichi berbohong. Itu yang dapat dia simpulkan dari gerak tubuhnya. Seperti biasa, setiap Shinichi ada masalah atau ada sesuatu yang dipikirkan pasti dia akan merahasiakannya. Dia tahu, anaknya yang satu ini sering menyimpan masalahnya sendiri karena tidak mau orang lain mencemaskannya. Tapi itulah sikap yang dia benci dari Shinichi. Walaupun Shinichi bukan anak kandungnya, dia sudah menganggapnya anaknya sendiri. Dia sangat tidak ingin jika anaknya bersedih atau mempunyai masalah.
"ah iya, dimana Tousan? Kenapa tidak ikut makan malam? Pertunjukkannya kan masih 2 jam lagi." Shinichi yang sadar jika ibunya masih menatap dirinya dengan tajam untuk meminta jawaban yang sebenarnya, mencoba mengalihkan pembicaraan.
"heeehh, Shin-chaaan~~~ karena kau terlalu sibuk dengan novelmu tadi sore, kau jadi tidak tahu kalau ayah sudah berangkat dari tadi. Masih ada yang perlu disiapkan di panggung. Meski ayah pesulap hebat, tetap harus mempersiapkan semuanya dengan baik kan," jawab Kaito sambil memasukkan seiris daging ke mulutnya.
Mata Shinichi berkedut mendengar nama panggilannya itu lagi. Tapi dia berusaha menahan dirinya untuk tidak bertengkar lagi dengan kakaknya. "hah, benarkah? Yah, padahal aku ingin pergi ke sana bersama ayah. Aku ingin melihat persiapannya," ucap Shinichi sedikit kecewa.
"buat apa, tuan detektif?~~ Pengkritik sepertimu pasti akan bosan melihat persiapan yang dilakukan ayah. Dan aku berani bertaruh kalau kau hanya ingin melihat rahasia trik ayah. Karena selama ini kau selalu gagal memecahkan triknya," ejek Kaito.
"Apa?! Enak saja.. dengar ya tuan pesulap-wannabe- ," Shinichi mengacungkan sendoknya di depan Kaito, "aku tidak akan melakukan hal yang tidak terhormat seperti itu. Detektif tidak bekerja dengan cara seperti itu tau?!" jawab Shinichi agak kesal.
"Apa katamu, tuan detektif amatir? Pesulap-wannabe? Aku adalah pesulap. Aku sudah menguasai beberapa trik hebat. Walaupun belum sehebat ayah!" ujar Kaito tidak mau kalah.
"benarkah? Haa.. aku tidak percaya…" ejek Shinichi.
"Kau ini-"
Brak! Belum sempat Kaito menjawab ejekan Shinichi. Chikage menggebrak meja makan sambil menatap kedua anak laki-lakinya dengan senyuman, umm, meski sebuah senyuman kali ini terasa dingin dan membuat bulu kuduk keduanya merinding.
"Boys… kalian tahu kan kalau kita sedang makan malam…" kata Chikage dengan lembut dan tajam.
"A- i-i-yya.. K-Kaasaan.." jawab kedua anak laki-laki itu bersamaan. Di saat seperti inilah Chikage merasa bahwa dalam kehidupannya tidak akan pernah ada kedamaian.
.
.
TBC
AN : Umm.. okee.. chapter kali ini memang tidak banyak membuat kemajuan dari segi plotnya.. tapi memang sengaja mau sedikit menampilkan hubungan kakak adik KaiShin.. :p (maaf jika banyak OOC dari karakter diatas)
Dan terimakasih NaYu Namikaze Uzumaki untuk tiap reviewnyaaaa... it means so much for me.. thanksss :))
Dan untuk semua yang menanyakan masalah apa yang akan terjadi.. tentunyaa Rahasiaaaaa~~~~ :P (No spoiler)
the last but not least, thank you so much for your reviews!!
