Finally... bisa update lagi setelah sekian lama. terima kasih buat yang sabar menanti kelanjutannya. dan maaf kalo emang ga bisa update reguler.
Selamat membaca... ^_^
Chapter 5 – Repeated tragedy
Sepertinya dunia ini memang tidak berpihak padanya. Sepertinya semua tragedy tidak mau pergi dari hidupnya. Baru sebentar dia merasakan ketenangan, kedamaian, dan keluarga yang hangat, semua itu harus direnggut darinya lagi. Apalagi yang Tuhan rencanakan untuk dirinya? Apakah dengan semua musibah ini Dia berharap dirinya akan bertambah kuat? Atau semata-mata karena Dia membenci dirinya.
0o0o0o0o0
Panggung pertunjukkan malam ini penuh sesak dengan penonton. Bagaimana tidak, malam ini adalah pertunjukkan terbesar yang dilakukan oleh pesulap terkenal Kuroba Toichi. Antusiasme penonton sudah tampak sejak penjualan tiket di hari pertama. Shinichi kagum melihat kursi penonton yang penuh bahkan satu jam sebelum pertunjukkan di mulai. Terlalu terpukau melihat meriahnya pertunjukkan malam ini, dia tidak sadar seseorang yang mendekatinya dari belakang.
"Ada yang menarik perhatianmu, Shinichi?" sebuah tangan mendarat di pundaknya, membuatnya terkejut.
"To-Tou san.. Kau mengagetkanku..." jawab Shinichi terbata-bata. Jantungnya masih sedikit berdebar-debar. Melihat keterkejutan Shinichi, Toichi mengernyitkan kedua alis matanya. Tidak seperti biasanya Shinichi terlihat paranoid seperti ini.
"Ada yang sedang mengganggu pikiranmu Shinichi?"
"Ti-tidak ada Tou-san. Aku hanya sedikit terbawa suasana malam ini," Shinichi menjawab dengan senyuman. Tidak, ayah tidak boleh melihatku seperti ini. Malam ini adalah pertunjukkannya dan aku tidak mau merusak malam ini hanya karena perasaan yang tidak masuk akal seperti ini. Toichi menatap anak laki-laki yang dia besarkan selama empat tahun ini. Dan dengan hanya melihatnya, dia tahu jika ada yang dipikirkan oleh anaknya.
"Baiklah kalau begitu, Kaito sudah menunggu di belakang. Dari tadi dia mencarimu. Pertunjukkan sebentar lagi juga akan dimulai." Toichi membalikkan badannya hendak menuju ruang ganti.
"Ano, Tou-saan" panggilan Shinichi menghentikan langkah Toichi.
"Ada apa Shinichi?"
"Bolehkah jika kali ini aku membantu ayah?" Kedua mata ayahnya melebar terkejut. Melihatnya Shinichi sedikit cemas, dia takut jika ayahnya menolaknya. Karena dia tahu, dirinya bukan seseorang yang terlalu mengerti tentang persiapan sulap. "Ah, tidak, mungkin aku akan mengganggu penampilanmu. Tapi bolehkah jika aku melihatnya dari balik panggung? Mungkin aku bisa sedikit membantu Jii-san."
Shinichi menundukkan kepalanya. Kedua matanya tertutup. Bodoh! Apa yang aku katakan? Ayah akan bertanya-tanya kenapa aku melakukan hal ini. Bodoh,bodoh,bodoh! Kedua matanya masih tertutup sambil memaki-maki dirinya dalam hati.
"Tentu saja, Shinichi," suara ayahnya yang tenang, membuat kedua matanya terbelalak. Diangkat kepalanya menatap ayahnya. Ayahnya tersenyum melihatnya, "apa ini yang mengganggu pikiranmu? Kau ingin membantu pertunjukkan ayah?" Senyuman ayahnya berubah menjadi tawa kecil. Tanpa terasa kedua pipi Shinichi memerah.
"Hahaha, Shinichi.. apa kau berubah pikiran? Tidak ingin jadi detektif dan ingin menjadi pesulap?" Toichi memegang dagunya, tampak berpikir. "Hmm, atau jangan-jangan kau sedang bertaruh dengan Kaito?"
Mata Shinichi hanya bisa berkedut mendengar kata-kata ayahnya. Shinichi merasa, kelakuan kakaknya memang berasal dari ayahnya.
0o0o0o0o0o
Kaito mengetuk-ngetukkan jarinya di sandaran kursi. Tangannya yang lain menahan dagunya. Dirinya kesal. Saat makan malam tadi dia sudah agak kesal dengan pertengkarannya dengan adiknya itu. Dan sekarang dia tambah kesal dengan adiknya lagi karena dia lebih memilih untuk 'membantu' Jii-chan di panggung. Kaito tidak mengira rengekan adiknya saat makan malam benar-benar serius. Dan sekarang dia disini. Di kursi penonton melihat pertunjukkan ayahnya yang –pasti akan jadi- luar biasa, bersama ibunya. Dirinya pasti akan lebih memilih ikut membantu juga seperti Shinichi –bukan membantu lebih tepatnya, namun mencegah Shinichi melihat trik-trik ayahnya- jika bukan karena tatapan menakutkan ayahnya saat dia mencoba meminta. Meski begitu sebenarnya dia juga ingin menikmati pertunjukkan ayahnya dari kursi penonton karena itulah dia menurut saja dengan permintaan ayahnya.
"Kaito...," suara lembut ibunya yang di sampingnya, membuatnya menghentikan gerakan jarinya. Chikage hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Dia tahu jika anaknya sedang kesal. Namun dia juga tidak ingin gara-gara kekesalannya membuatnya tidak menikmati pertunjukkan malam ini.
"... sepertinya pertunjukkannya akan segera dimulai.." ucapnya lagi.
"Iya, Kaa-san..." Kaito menegakkan badannya. Wajahnya yang baru saja cemberut kesal, seketika berubah menjadi cerah ketika melihat sosok ayahnya yang berada di panggung, yang sebentar lagi akan memulai pertunjukkannya. Chikage hanya bisa tersenyum lagi melihatnya. Mengikuti tatapan anaknya, dia melihat ke arah panggung. Kedua dahinya mengerut. Mengingat Shinichi tadi saat makan malam dan saat di panggung sebelum acara dimulai. Wajah cemas dan ketakutan Shinichi masih terlihat jelas diingatannya. Meski Shinichi mencoba menutupinya dengan senyuman ceria dan ejekannya dengan Kaito, sebagai ibu yang membesarkannya empat tahun ini dia masih bisa melihatnya. Dan permintaan Shinichi untuk melihat dari balik panggung menambah kecurigaannya. Dalam hati Chikage hanya bisa berharap, jika perasaan tidak enak di dalam hatinya hanya sebuah kecemasan biasa.
0o0o0o0o0o0
Pertunjukkan berjalan dengan lancar. Trik demi trik ditampilkan oleh Kuroba Toichi dengan sempurna. Tepuk tangan penonton selalu pecah di tiap akhir trik. Bagaimanapun Kuroba Toichi adalah pesulap yang terkenal dengan kehebatannya. Tiap triknya yang luar biasa memang terlihat seperti sihir. Menyihir setiap penonton yang melihatnya. Gerakan tangannya yang halus dan tidak terlihat membuatnya tampak lebih sempurna. Seperti melihat pertunjukkan sihir daripada melihat pertunjukkan sulap. Dan itulah kenapa Shinichi sangat menyukai pertunjukkan ayahnya.
Shinichi memang tidak menyukai hal-hal yang berbau trik. Tidak suka bukan berarti membencinya. Rasa ingin tahunya selalu menggelitikinya. Tiap dia melihat seseorang melakukan sulap di hadapannya, dirinya selalu mencoba mencari tahu trik di baliknya. Karena itulah dia malas jika melihat pertunjukkan sulap. Dulu saat kedua orang tua kandungnya masih hidup, mereka pernah mengundang pesulap di hari ulang tahunnya. Dan acaranya tidak berjalan begitu mulus –rasa ingin tahunya membuat dia membongkar semua trik pesulap di hadapannya-
Namun sekarang, setelah melihat pertunjukkan sulap seorang Kuroba Toichi, rasa ingin tahunya seolah-olah menguap begitu saja. Dia tidak ingin membongkar trik sulap ayah angkatnya. Sulapnya terlalu bagus untuk dibongkar triknya. Dan dia ingin hanya menikmatinya. Shinichi terlalu menikmati pertunjukkannya sampai dia lupa alasan utama dia berada di balik panggung.
"Shinichi-sama, sebentar lagi performa Toichi-sama yang terakhir," suara Jii-san di belakangnya membuyarkan lamunannya.
"Maafkan aku, Jii-san. Pada akhirnya aku tidak membantu sama sekali. Umm, ada yang bisa aku bantu?" Shinichi merasa bersalah. Sebelum pertunjukkan dia merengek meminta berada di balik panggung dengan alasan ingin membantu ayahnya dan Jii-san. Namun pada akhirnya dia tidak melakukan apa-apa dan hanya melihat kehebatan ayahnya. Dan untuk membayarnya paling tidak dia bisa berguna di performa yang terakhir.
"Tidak apa-apa, tuan muda. Dengan disini saja kurasa tuan muda sudah sangat membantu Tuan Toichi," Jii mengucapkannya sambil tersenyum tulus. Laki-laki yang selama ini selalu membantu ayahnya mempersiapkan sulapnya itu sedang sibuk membersihkan peralatan yang telah dipakai sebelumnya. Tiba-tiba dia berhenti melakukan apa yang dikerjakannya.
"Ada apa Jii-san?" Shinichi yang melihat gerakan Jii yang tiba-tiba berhenti membuatnya bertanya-tanya. Firasat yang menggelayutinya sejak tadi pagi yang sempat menghilang setelah melihat pertunjukkan ayahnya, kembali menghampirinya.
"Ada yang aneh, Tuan Toichi sempat mengatakan akan menggunakannya, tapi sepertinya tidak jadi. Mungkin Tuan Toichi menggunakan yang lain," Jii mengucapkannya sambil menunjukkan sebuah bom kecil yang biasa digunakan untuk membuat trik api.
Shinichi melihat bom yang dipegang oleh Jii. Bom? Bukankah trik terakhir yang ditampilkan ayah adalah trik melarikan diri dari api. Kedua mata Shinichi melebar. Tanpa pikir panjang Shinichi langsung lari menuju balik panggung. Saat itulah dia melihat sesosok bayangan yang keluar dari balik panggung. Meski hanya sekelebat, Shinichi sempat melihat sosok itu. Berpakaian hitam dari atas sampai bawah. Sama seperti saat kedua orang tuanya...
Shinichi langsung berlari mencoba mengejar sosok tadi kembali ke ruang persiapan, namun sosok tadi sudah menghilang. Shinichi berlari mencoba mencari Jii, menemukannya masih berada di ruang persiapan.
"Ah, tuan Shinichi, ada apa?"
"Apa tadi kau melihat seseorang berpakaian hitam yang lewat, Jii-san?" Shinichi mencoba menanyakannya sebiasa mungkin supaya tidak membuat Jii khawatir.
"Tidak ada, tuan Shinichi," Jii tahu apa yang dimaksudkan oleh Shinichi. Bertahun-tahun membantu Toichi saat pertunjukkan sulap sampai aktivitas rahasianya yang lain membuatnya tahu apa saja yang dihadapi oleh tuannya.
"Tuan Shinichi, apakah- "
"Oh, tidak ada apa-apa Jii-san," Sebelum Jii selesai bertanya, Shinichi sudah memotongnya. "Aku akan berada di balik panggung untuk melihat pertunjukkan terakhir ayah malam ini." Shinichi berjalan keluar menuju balik panggung. Semoga ini hanya perasaanku saja, batinnya dalam hati.
Shinichi melihat punggung ayahnya yang sedang melakukan beberapa trik, sebelum trik puncaknya. Dalam hatinya masih bergejolak. Firasat buruk masih dirasakannya. Dia sangat tidak ingin jika kejadian yang sama yang terjadi pada kedua orang tuanya, terjadi pada ayah angkatnya. Kedua tangannya mengepal erat. Aku tidak akan membiarkannya. Shinichi menebarkan pandangannya ke sekeliling panggung. Dilihatnya setiap detil di tiap tempat trik sulap yang disiapkan ayahnya. Tidak ada yang aneh. Saat dirinya melihat ke arah kursi penonton, dia melihat ibunya dan kakaknya Kaito. Dia bisa melihat kakaknya sangat menikmati dan mengagumi pertunjukkan ayahnya. Senyum lebar dan wajah ceria kakaknya membuat dirinya bahagia. Sesering apapun mereka bertengkar, namun dirinya tak pernah sedikitpun membenci kakaknya. Dan dia tidak ingin jika melihat senyum itu itu harus menghilang dari wajah kakaknya.
Kembali Shinichi melihat ayahnya. Trik terakhir. Kali ini ayahnya akan menciptakan sebuah ledakan kecil dan dirinya akan tiba-tiba muncul dari tempat lain. Meski seperti trik-triknya dengan bom asap, kali ini berbeda karena berhadapan dengan ledakan api, bukan asap. Dan bila salah sedikit saja, bisa berakibat fatal. Saat itulah dia melihat sosok bayangan yang dilihatnya di balik panggung berada di kursi penonton. Meski cukup jauh, Shinichi bisa melihat, jika orang itu menyeringai lebar seperti seorang pemburu yang berhasil mendapatkan buruannya. Matanya melebar. Orang itu menyeringai sambil menatap ayahnya. Shinichi melihat ayahnya mengeluarkan bom dari balik jubahnya.
Tiga
Dua
Satu
Dan ledakan yang harusnya kecil, seketika menjadi besar dan meledakkan panggung.
AN: okee, cliffhanger! maaf semuanya.. sepertinya penulis ga bisa kalo ga bikin cliffhanger :p
Please read n review...
