Assasin's Love

.

.

Chapter II

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Angg24

.

.

Happy Reading~

.

.

.

Krieett!

Braakk!

Onyx Itachi berkilat tajam menatap Sasuke yang seenak jidatnya menggebrak pintu rumah dengan kasar. Kemudian ia berdiri, mendekatkan tubuhnya kearah Sasuke seraya berkacak pinggang. Siap untuk meluncurkan ceramah yang sama sekali tak ingin Sasuke dengar.

"Tak bisakah kau-"

"Diam kau, Aniki baka!" belum sempat sang kakak melancarkan semua omongannya, Sasuke segera memotong perkataan Itachi. Membuat Itachi berdengus sebal.

"Jangan sembarangan memotong perkataan orang lain, Sasuke! Apalagi aku ini adalah kakakmu. Tidak sopan!" ucap Itachi dengan nada kesal.

"Tapi itu lebih baik daripada aku harus mendengar ucapan tak berguna darimu," berhenti, Sasuke! Lihatlah aura hitam di sekitar kakakmu itu, heh! Apa kau tak melihatnya?

"SASUUKEEEEEE!"

Praangg!

Sasuke melompat dengan mulus tatkala sebuah piring melayang kebawah tubuhnya, hampir mengenai kakinya. Memutar mata bosan, Sasuke menghiraukan Itachi yang mengoceh-mengeluarkan kemarahannya-dan memilih berjalan keluar rumah. Setelah mengganti pakaian dan membersihkan diri.

.

.

.

Drrttttt... Drrrtttt~

Gadis bermata emerald itu menghentikkan kegiatan makan siangnya sejenak. Mengambil handphone -nya, ia segera menekan salah satu tombol disana seraya langsung menempelkan benda buatan manusia itu tepat ke telinganya.

"Moshi-moshi~" dari seberang sana, terdengar suara yang tidak asing di telinga Sakura. Ino Yamanaka, sahabat dekat Sakura sejak dari kecil. Dialah orang yang menelpon.

"Ya, Ino? Ada apa?"

Sakura dan Ino melakukan percakapan dalam beberapa menit. Kurang lebih 15 menit lamanya mereka berbicara lewat telepon dan diakhiri dengan Sakura yang mengangguk senang seraya berbicara."Ya, tentu saja. Aku akan kesana, pig." dan gadis bermarga Haruno itu segera menyelesaikan makan siangnya dan langsung bersiap diri.

.

.

.

Srtttt! Srttt!

Hanya goresan berupa garis tak beraturan dari tinta yang dipegang Sasuke diatas kertas putih itu yang menjadi korban kekesalannya.

Grek!

Sasuke mendengar jelas suara pintu dibuka dari arah belakang.

Kemudian dari arah pintu disana terdengar seseorang memanggil namanya. Sasuke mendengar itu, namun dihiraukannya orang yang berada diambang pintu itu dan kembali mencoret-coret kertas putih tak berdosa dengan tulisan yang sama sekali Presiden pun tidak mengerti. Sangat acak-acakan.

"Kyaaaaa..."

Teriakan itu...

"Aww..."

... Ringisan itu...

Selalu terngiang di kepala Sasuke. Membuat hatinya seakan hancur berkeping-keping. Entah kenapa, padahal tidak ada yang salah dari semua itu, mungkin. Tapi Sasuke selalu memikirkan itu. Membuat hatinya lagi-lagi berdenyut nyeri.

"Arrrgggghh! Karin sialaaaan!" Sasuke memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Sesekali ia menjambak rambutnya sendiri dengan agak kasar.

Puk!

Sebuah tangan tepat berada di pundak kiri Sasuke.

Pria berambut model chicken butt itumenoleh, meskipun ia sudah mengetahui siapa orang yang kini berada disampingnya.

Helaian raven serupa, kilatan onyx yang sama, dan bentuk wajah yang terkesan tidak jauh berbeda berada di dekatnya sekarang.

"Soal... Gadis pinky itu beserta para pengganggu nya, ya?" tanya pria disamping Sasuke sembari menatapnya datar. Persis seperti wajah datar clan Uchiha.

"Hn," jawab Sasuke singkat. Kemudian Sasuke mengambil posisi berbaring dengan kedua tangan sebagai bantalannya. Sedangkan pria disamping Sasuke, ia berdiri dan duduk di kursi yang ada disana.

Drrtttttt! Drrrrtttt!

Berasal dari handphone Sasuke, menandakan sebuah pesan masuk. Bungsu Uchiha itu beranjak sehingga posisinya duduk dengan kaki lurus kedepan. Kemudian, ia merogoh saku celananya dan membaca pesan yang ternyata dari Naruto.

"Tch!" Sasuke berdecak ketika membaca pesan dari Naruto. Kemudian dia mengetikkan beberapa kalimat disana dan langsung ia tekan tombol send di handphone nya.

Bibir tipisnya mengukir seringai ketika melihat balasan dari Naruto. Kemudian, dia beranjak, berdiri lalu menatap uchiha lain yang duduk tak jauh darinya.

Merasa ditatap Sasuke, pria itu pun berdiri dan balas menatap Sasuke dengan tatapan bertanya.

Citt! Citt! Citt!

Burung yang terbang kembali ke sarangnya serta hembusan angin sore itu menambah keramaian dan gemerisik di rumah pohon yang kini Sasuke dan pria disebelahnya tempati.

"Aku akan bertindak. Pengganggu itu tidak boleh menyakiti gadis pinky ku."

"Jangan lakukan hal yang aneh-aneh, apalagi sampai bertindak begitu jauh, Sasuke."

"Hn, kau lihat saja nanti. Biarkan aku yang mengurus semuanya..." seringai di bibir Sasuke kembali terlihat."... Izuna,"

Pria bernama Izuna itu hanya menarik nafas berat. Pasrah dengan tindakan yang akan dilakukan Sasuke.

.

.

.

.

Gemerlap cahaya pesta di kediaman Nara menggema menjadi pusat perhatian seluruh pasang mata disekitarnya. Bunyi irama lagu tak lupa menjadi narkoba yang membuat para manusia bergoyang tanpa lelah.

Sasuke menghampiri Shikamaru seraya membisikkan sesuatu. Kemudian Shikamaru mengangguk dan Sasuke tersenyum sinis.

Ting!

Suara dentingan pertanda pintu dibuka membuat Sasuke maupun Shikamaru menatap ke arah suara. Disana, berdirilah dua orang wanita berhelai blonde dan merah muda dengan seorang pria berkulit putih susu.

Pandangan Sasuke dengan cepat bertumpu pada gadis berhelai merah muda sepundak yang mengenakan dress berwarna pinkselutut disamping gadis berkuncir kuda disana.

"Sakura..." gumamnya pelan seraya melangkah mendekati gadis itu dan menggenggam tangannya erat.

"Eto... Sasuke-kun a-apa yang kau lakukan?" tanya Sakura seraya menatap tangannya yang digenggam Sasuke, rona merah pun tercipta di kedua pipinya.

"Mengajakmu ke tempat Naruto dan Hinata," dengan gerak cepat, Sasuke menuntun gadis bermanik emerald itu diiringi senyum tipis.

"Tenang saja... Sakura. Mereka tidak akan bisa menganggumu." dalam hati, Sasuke menyeringai penuh arti.

.

-OoO-

.

"APA?! Kenapa seperti itu? Bukankah kau sudah janji pulang bersama denganku, Matsuri! Bagaimana bisa jadi seperti ini, hah?!" seraya berkacak pinggang, Karin menatap tajam Matsuri sembari terus mengomelinya tanpa henti. Membuat telinga Matsuri seakan ingin pecah mendengar segala omongan Karin.

"Ma-maaf Karin, a-aku sudah berjanji menemani Kiba jalan-jalan malam, ma-maaf." ucap Matsuri sedikit takut.

Gadis berhelai merah itu mendekatkan tubuhnya kearah Matsuri, lalu menatap tajam gadis didepannya.

"Baiklah, TERSERAH!" dan Karin berbalik melangkah menuju mobilnya.

"Kenapa hari ini aku sial sekali, huh! Kuso!"

Gadis itu memegangi kepalanya frustasi dengan satu tangan masih menyetir mobilnya. Saat ia mendongak menatap kedepan, berusaha melihat jalanan, mendadak ia meng-rem mobilnya secara tiba-tiba. Tapi percuma! Mencoba beberapa kali pun, mobilnya tidak berhenti juga.

"Ck!" decak Karin sembari terus mencoba meng- rem mobilnya dan menstabilkannya walau itu semua sia-sia.

"Aaaaaaaakkhh!"

Duagh! BUM!

Mobil Karin meledak seketika saat menabrak sebuah tiang besar yang ada didepannya.

Bhuush!

Kepulan asap yang bersumber dari mobil berwarna hitam milik Karin menyembul keluar, kemudian Gadis merah itu terguling dari mobilnya dan tergeletak tepat disisi jalan yang sepi disana.

Bibirnya mengatup, matanya kini mulai meredup. Sebelum benar-benar hilang kesadaran, gadis itu merasakan tubuhnya diseret kasar seseorang sehingga ia merasakan sakit pada kaki dan area bokongnya.

"Ugh!" ketika matanya mulai membuka perlahan-lahan, yang pertama dilihatnya adalah...

"Umpphhh nghhh k-kmph S-sasu..." Seorang pria berjubah yang membawa sebuah kapak membuatnya kaget dan ingin berteriak sekencang-kencangnya, namun gagal. Mulutnya tidak bisa mengelurkan suara, anggota tubuhnya kaku tak berdaya. Sumpalan di mulutnya membuat ia susah untuk sekedar berteriak.

"Hello... Pengganggu,"

.

.

.

.

.

.

TBC~

Yayy... Gimana dengan chapter 2 nya? XD meningkat kah atau makin gaze? TwT

Yo... Minna~ Thanks yg udh nge-fav/follow fict gaze ini x* Thanks juga buat yg udh sempatin RnR :D Thanks you so much :* #Civok_satu_satu :v