Disclaimer:
Remake novel Eloquent Silence by Sandra Brown
Pair: YUNJAE – YUNHO dan JAEJOONG
Warning: GS FOR JAEJOONG! DON'T LIKE DON'T READ!
..
..
..
..
..
"Menurutmu, suamimu tahu tentang hubungan kita, Sayang?" Pria itu mengecup kening kekasihnya sambil memeluknya dengan penuh kerinduan.
"Kalaupun dia tahu, aku tidak peduli," seru wanita itu. "Aku capek sembunyi-sembunyi. Aku ingin memberitahu semua orang tentang cinta kita."
"Oh, cintaku, cintaku." Pria itu menunduk. Hidungnya bertabrakan dengan hidung si wanita dengan cara yang sama sekali tidak romantis.
"Cut!"
Baek Seulgi terlonjak mendengar perintah bernada kesal dari pengeras suara.
"Ada apa sih kalian? Mengapa tidak bisa melakukan semua adegan dengan benar? Sudah satu setengah jam kita membuat adegan sialan ini." Suasana hening, para artis dan kru jadi salah tingkah. "Aku akan turun."
Jaejoong mengamati dengan penuh minat waktu si aktris menoleh ke arah pemeran utama pria dan berkata sengit, "Aku yang seharusnya menghadap ke Kamera Satu, U-know. Bukan kau."
"Kalau begitu sebaiknya kau belajar berhitung dulu, nona Baek. Itu Kamera Tiga. Lagi pula, apa kau tidak takut Kamera Satu akan menampakkan bekas operasi plastik mukamu?"
"Bangsat," desis si aktris sambil menerobos para juru kamera yang tersenyum geli dan melangkah cepat melintasi lantai beton studio televisi ke arah ruang ganti pakaian.
Seluruh kejadian tadi menggelitik rasa tertarik Kim Jaejoong, yang takjub ketika mendapati dirinya berada di lokasi syuting The Heart's Answer, sinetron siang yang populer. Dia tidak pernah menonton televisi siang hari, karena dia selalu bekerja, tapi semua orang di Korea Selatan tahu tentang acara ini. Banyak wanita karier sengaja mengatur jam makan siang mereka bertepatan dengan jam tayang drama ini supaya bisa tetap mengikuti petualangan seksual dan krisis pribadi Dr. Kang Moosuk yang diperankan oleh aktor tampan bernama U-Know.
Beberapa hari yang lalu, Dr. Han Si Yoon, pendiri Han Institute for the Deaf - Institut Tuna Rungu Han - tempat Jaejoong jadi guru, memberinya tawaran pekerjaan menjadi tutor pribadi.
"Kita punya siswa di sini yang bernama Jung Jiyool, yang ingin dikeluarkan ayahnya dari sekolah."
"Saya tahu siapa Jiyool," kata Jaejoong. "Dia hanya menderita tuli parsial, tapi sama sekali tidak mau berkomunikasi."
"Karena alasan itu ayahnya sangat prihatin."
"Ayah? Tidak ada ibu?"
Dr. Han ragu-ragu sebentar sebelum berkata, "Tidak, ibunya sudah meninggal. Pekerjaan ayahnya tidak biasa. Pria itu terpaksa menitipkan Jiyool pada kita sejak masih kecil. Anak itu tidak bisa menyesuaikan diri. Sekarang si ayah ingin mempekerjakan tutor pribadi untuk tinggal bersamanya di rumah. Kupikir kau mungkin berminat, Jaejoong-ah."
Jaejoong mengerutkan sedikit alisnya. "Entahlah. Bisakah Anda lebih spesifik?"
Wanita yang masih cantik di usia matangnya dan memiliki mata hitam legam yang cerdas itu mengamati gurunya yang penuh dedikasi. "Saat ini tidak. Aku bisa memberitahumu bahwa Mr. Jung ingin si tutor membawa Jiyool ke Gwangju dan tinggal di sana. Dia punya rumah di kota kecil di pegunungan." Dr. Han tersenyum lembut. "Aku tahu kau ingin meninggalkan Seoul. Dan kau jelas memenuhi syarat untuk menangani pekerjaan seperti ini."
Jaejoong tertawa pelan. "Karena besar di Chungnam, saya menganggap Seoul agak sesak dan ramai. Sudah delapan tahun saya di sini, tapi tetap saja saya merindukan tempat-tempat terbuka yang luas." Dia menyibakkan seuntai rambut hitam kecokelatannya yang jatuh di kening. "Menurut pendapat saya, Mr. Jung seperti mengelak dari kewajibannya mengurus anaknya sendiri. Apakah dia termasuk jenis orangtua yang membenci anaknya karena tuli?"
Dr. Han menatap tangannya yang terawat rapi, yang saling menggenggam di permukaan meja kerjanya. "Jangan terlalu cepat menghakimi, Jaejoongie." dia menegur halus. Kadang-kadang pegawainya ini membiarkan dirinya termakan emosi. Kim Jaejoong hanya punya satu kelemahan, yaitu terlalu cepat menarik kesimpulan. "Seperti kataku tadi, situasinya tidak biasa."
Dia berdiri, menandakan pertemuan telah selesai. "Kau tidak harus memutuskan hari ini, Jae. Aku ingin kau mengamati Jiyool selama beberapa hari. Bertemanlah dengan dia. Setelah itu, kalau ada kesempatan, kurasa sebaiknya kau dan Mr. Jung bertemu dan bicara."
"Saya akan berpartisipasi sebanyak mungkin, Dokter Han."
Ketika Jaejoong sampai di pintu kaca buram, Dr. Han menghentikannya. "Jaejoong-ah, seandainya kau ingin tahu, uang bukan masalah."
Jaejoong menanggapi dengan jujur. "Dokter Han, kalau saya menerima tugas mengajar privat, itu karena menurut saya itulah yang dibutuhkan si anak."
"Sudah kuduga," jawab Dr. Han, tersenyum.
Tadi pagi Dr. Han memberinya sepotong kertas berisi sebuah alamat dan berkata, "Pergilah ke alamat ini pukul tiga nanti. Cari orang bernama Mr. Jung Yunho. Dia akan menunggu kedatanganmu."
Jaejoong terkejut waktu sopir taksi berhenti di alamat yang diberikannya dan dia melihat tempat itu berupa gedung berisi studio-studio untuk sebuah jaringan televisi. Dia memasuki gedung itu dengan perasaan penasaran tentang Mr. Jung yang misterius. Ketika memberitahu resepsionis dia ingin bertemu pria itu, wanita muda yang cantik itu tampak bingung sebentar lalu mengikik ketika berkata, "Lantai tiga."
Jaejoong berjalan ke lift namun gadis tadi berkata, "Tunggu sebentar. Siapa nama Anda?" Jaejoong memberitahunya. Resepsionis itu menyusuri daftar yang diketik, lalu berkata, "Ini dia, nona Kim Jaejoong. Anda bisa langsung naik, tapi jangan berisik. Mereka masih mengambil gambar."
Jaejoong keluar dari lift dan mendapati dirinya berada di studio televisi luas. Dia terpesona melihat perlengkapan dan aktivitas di sana.
Studio yang seperti lumbung itu dibagi menjadi berbagai setting untuk sinetron itu. Satu setting dilengkapi dengan tempat tidur rumah sakit dan peralatan medis palsu. Setting yang lain berupa ruang tamu. Setting dapur mungil terletak cuma empat kaki dari situ. Dia berjalan ke sana kemari di studio, mengintip semua setting dengan rasa ingin tahu, berusaha tidak tersandung bermil-mil kabel yang terulur di lantai dan bergulung di sekitar kamera-kamera dan monitor-monitor studio.
"Hei, manis, cari siapa?" tanya seorang juru kamera bercelana jins ketat dengan riang.
Karena kaget Jaejoong menjawab tergagap, "Saya... uh... ya. Mr. Jung Yunho? Saya ingin bertemu dia."
"Mr. Jung Yunho?" tiru juru kamera itu seolah Jaejoong mengucapkan sesuatu yang lucu. "Hebat. Kau sudah ditanyai di bawah?" Jaejoong mengangguk. "Kalau begitu kau boleh menemuinya. Bisa kau menunggu sampai kami menyelesaikan adegan ini?"
"Saya... ya," kata Jaejoong.
"Tunggulah di sana, jangan mengeluarkan bunyi apa pun dan jangan menyentuh apa pun," juru kamera itu memperingatkan.
Jaejoong berdiri di belakang kamera-kamera yang difokuskan pada setting yang menurutnya tampak seperti ruang duduk rumah sakit.
Sekarang, selama jeda tak direncanakan ini, Jaejoong mengamati aktor pujaan jutaan wanita Korea Selatan itu. Pria itu duduk santai di salah satu meja setting, sambil makan apel yang diambilnya dari keranjang di meja itu. Jaejoong ingin tahu apakah para penggemarnya akan tetap terpikat padanya kalau mereka mendengar seorang U-Know bicara begitu kasar pada sesama pemain. Tapi bukankah sikap kasar merupakan bagian dari daya tariknya? Dia adalah dokter macho yang bersikap seenaknya pada semua orang di rumah sakit fiktif itu. Tapi ia membuat setiap wanita bertekuk lutut dengan sikap dominan dan penampilannya yang seksi.
Jaejoong berpikir objektif, yah, wanita sebanyak itu tak mungkin salah. Pria itu memang memiliki daya tarik karena macho-nya kalau kau suka tipe seperti itu. Penampilan fisiknya langsung menarik perhatian. Rambutnya berwarna hitam-cokelat yang ganjil, namun disinari lampu studio warnanya jadi tampak hampir kekuningan. Kontras dengan rambut aneh itu, alisnya tebal dan rahangnya sungguh tegas. Rahang kokoh itu cocok dengan bibir bawahnya yang tampak kurang ajar tapi seksi, yang menyebabkan para ibu rumah tangga, wanita karier, dan bahkan nenek-nenek bergairah. Bagian wajahnya yang paling memikat adalah matanya. Matanya sipit namun tajam. Dalam gambar-gambar close-up, mata itu tampak bagai memancarkan api yang mampu melumerkan hati wanita paling dingin sekalipun.
Dari tempat pengamatannya di luar lingkaran lampu studio yang terang benderang, Jaejoong memandangi U-know ketika pria itu berdiri, menggeliat seperti kucing malas, dan melemparkan sisa apel ke keranjang sampah dengan jitu.
Jaejoong mencemooh kostumnya. Ia ragu dokter yang memakai celana panjang seketat itu bisa sigap mengobati orang sakit. Pakaian bedah berwarna hijaunya dibuat khusus untuk tubuhnya yang jangkung dan berotot. Leher kemejanya berbentuk V rendah yang menampakkan dada bidang miliknya. Mana mungkin pakaian seperti itu diizinkan di ruang operasi! pikir Jaejoong.
Mendengar suara orang sedang menghibur rekannya di belakangnya, Jaejoong berbalik. Pria yang diduganya tadi berbicara dari ruang kontrol sedang berjalan menuju setting sambil merangkul si aktris yang sakit hati.
"Si U-Know itu tidak mau diarahkan," keluhnya. "Dia tahu masalah blocking, tapi begitu kamera dinyalakan, dia berbuat seenak perutnya."
"Aku tahu, aku tahu, Seulgi. Tidak bisakah kau menahan diri dan mentolerirnya demi aku?" tanya pria dengan nada simpatik. "Mari kita selesaikan jadwal hari ini, lalu kita bicarakan persoalannya sambil minum-minum. Aku akan bicara dengan U-Know. Oke? Nah. sekarang coba tunjukkan senyum manismu."
Rayuan gombal, Jaejoong mengomel dalam hati. Temperamen artis. Ia tahu sekali soal itu. Katakan pada mereka apa yang ingin mereka dengar dan redakan paranoid mereka sampai mereka kumat lagi.
Kedua orang itu bergabung dengan U-know di setting, dan mereka bertiga berdiskusi singkat. Kru yang menikmati jeda dengan merokok, membaca majalah, atau mengobrol, kembali ke posisi mereka di balik kamera dengan mulai memasang headphone. Dari alat inilah masing-masing menerima instruksi dari sutradara di ruang kontrol.
Operator boom-microphone mengutak-atik peralatannya yang rumit. Dengan gerakan kaku dan tersendat-sendat, alat itu tampak seperti binatang prasejarah.
Sutradara mencium pipi Seulgi dan menjauhi setting. "Sebelum aku kembali ke atas, mari kita latih adegannya sekali lagi. Cium dia dengan mesra, U-Know. Dia kekasihmu, ingat?"
"Pernahkah kekasihmu makan piza rasa bawang putih, pak sutradara?"
Seulgi menjerit kesal.
Kru tertawa terbahak-bahak. Sutradara Choi berhasil menenangkannya lagi. Kemudian dia berkata, "Mulai."
Salah satu kamera pindah ke posisi baru yang menutupi pandangan Jaejoong. Meskipun semula ia tidak suka, ternyata sekarang dia tertarik pada sesi pengambilan gambar ini. Ia mengambil tempat yang pas agar dapat melihat dan mendengar dengan jelas. Kali ini setelah dialog hambar mereka selesai, U-Know memeluk Seulgi dan menciumnya dengan ganas.
Jantung Jaejoong berdebar-debar ketika ia menatap bibir pria itu menutupi bibir si aktris. Orang yang melihat seperti bisa merasakan ciuman itu, seperti bisa membayangkan... Jaejoong bersandar di meja seting supaya pemandangannya lebih jelas. Suara benda pecah mengalihkan pandangan semua orang dari para aktor di setting. Mereka semua memandanginya!
Jaejoong melompat kaget, ketakutan karena telah menarik perhatian. Dia tadi tidak melihat vas kaca tinggi di meja. Sekarang benda itu pecah berantakan di lantai studio.
"Brengsek!" teriak U-Know. "Apa lagi sekarang?" Dia mendorong Seulgi dan melintasi lantai studio dalam tiga langkah panjang dan mantap. Sutradara Choi mengikutinya, kesabarannya habis, tapi ia tetap tenang.
Si aktor memelototi Jaejoong dan wanita itu mengeret melihatnya. "Siapa-"
"Dia kemari untuk menemui Mr. Jung Yunho," potong juru kamera yang tadi bicara dengan Jaejoong.
Mata sipit U-Know yang gelap kini berkilat-kilat membuat Jaejoong terpaku. Mata pria itu melebar karena ingin tahu. "Mr. Jung Yunho, heh?" Terdengar kru tertawa pelan. "Choi Siwon, aku tidak tahu kalau kau mulai mengizinkan pramuka mengunjungi tempat syuting untuk acara jalan-jalan mereka." Kali ini kru tertawa keras.
Jaejoong tidak terkesan dengan selera humor U-Know dan marah besar karena dia jadi objek leluconnya. Wajahnya sama merahnya dengan warna ikat rambutnya, dan mata hitamnya menyipit memandang pria itu sementara dia merasa kemarahannya memuncak.
"Maaf saya telah mengganggu kegiatan Anda," kata Jaejoong angkuh. Dia tidak tahu istilah untuk sesi pengambilan gambar ini, dan dia tidak peduli. Dia berpaling dari tatapan sinis U-Know dan bicara pada sutradara Choi Siwon yang tampaknya sopan. "Saya Kim Jaejoong dan saya diminta menemui Mr. Jung Yunho di sini pada pukul 15.00. Saya minta maaf atas penundaan yang saya sebabkan."
"Cuma satu dari sekian banyak penundaan hari ini," kata Siwon, menghela napas berat. Lalu sambil sembunyi-sembunyi melirik U-Know, ia berkata, "Mr. Jung Yunho sedang sibuk. Maukah kau menunggunya di kantorku? Tidak lama lagi dia akan menemuimu."
"Ya, terima kasih," jawab Jaejoong. "Biar vas ini saya ganti dengan uang."
"Lupakan saja. Pergilah ke atas dan lewati ruang kontrol. Kantorku persis di seberang koridor."
"Terima kasih," ulang Jaejoong sebelum berputar dan menyadari bahwa semua mata di studio memandangnya, menaiki tangga putar. Ketika dia tiba di atas, Choi Siwon sudah mengembalikan setiap orang ke posisi masing-masing.
Jaejoong sebetulnya ingin berhenti dan melihat-lihat panel kontrol-komputer yang menarik dan rumit. Berbagai monitor yang dipasang di atasnya membuat sutradara dapat melihat bagian mana yang disorot kamera-kamera, dan dia melihat wajah U-Know. Ingin sekali rasanya dia menjulurkan lidah pada pria itu.
Jaejoong menjatuhkan diri ke satu-satunya kursi yang tersedia di kantor itu selain yang terbuat dari vinil pecah-pecah di balik meja kerja berantakan. Dia memandangi foto-foto berdebu di dinding yang menampakkan Siwon bersama berbagai aktris, sutradara, dan orang penting.
Siapa sih sebetulnya si Mr. Jung Yunho ini? Apakah dia eksekutif jaringan televisi? Teknisi? Bukan. Dia pasti orang berduit, karena Han Institute mahal. Dan Mr. Jung Yunho mengasramakan Jiyool di sana, berarti melipattigakan biayanya. Bermenit-menit berlalu, dan Jaejoong sudah mulai tak sabar ketika mendengar pintu dibuka di belakangnya.
U-Know berjalan masuk dan menutup pintu dengan tenang.
Jaejoong langsung berdiri. "Saya akan menemui-"
"Aku Jung Yunho, ayah Jiyool…!"
..
..
..
..
..
NEXT?
