Dibawah Hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Oneshot | Ficlet

Cerita kedua: Payung Biru

.

.

.

.

.

Another oneshot from naranari. Check this out! Enjoy the story!

.

.

.

.

.

Seoul bukanlah kota yang intensitas hujannya besar, bahkan bisa dikatakan cukup jarang. Tapi sudah dua hari ini hujan besar disertai petir kencang membasahi bumi Seoul. Jalan raya sudah mulai macet karena sebagian orang menggunakan kendaraan pribadi mereka untuk mencapai tempat tujuan; kantor, sekolah, kampus dan sebagainya. Dipinggir jalan juga ramai dipenuhi oleh pejalan kaki dengan payung yang mereka bawa hingga membuat bahu jalan yang luas menjadi sedikit lebih sempit.

Dari sekian pejalan kaki yang ramai ada Yoongi, seorang siswa tingkat SMA yang sedang berteduh dihalte bis. Dia lupa membawa payung karena pikirnya hujan tidak akan turun lagi setelah kemarin sudah membuat sebagian Seoul tergenang air. Nyatanya Yoongi salah, hari ini hujan pun masih turun dengan lebatnya. Yoongi berdecak, mengecek kembali jam tangannya yang sudah menunjukan pukul empat sore.

"Dimana Jimin itu! Lambat sekali!"

Yoongi mengetukkan sepatunya pada aspal jalanan, salah satu kegiatan yang ia lakukan jika sudah tidak sabar. Jimin itu, ekhem kekasihnya, berjanji akan menjemput Yoongi pada jam empat. Tapi lihat sekarang sudah lewat limabelas menit dari jam empat dan Jimin belum juga muncul.

"Kalau dia datang, akan kuhabisi dia." Yoongi mengerang.

Ponsel Yoongi yang ditaruh dikantung celananya bergetar lama. Segera saja Yoongi mengambil ponsel itu dan menjawab panggilan dari Jimin.

"Ya! Kemana saja! Kenapa kau lama sekali sih. Aku sudah sangat kedinginan disini. Kalau kau belum datang juga," Yoongi menghirup napas, "Mati kau!" napas Yoongi memburu karena menahan emosinya sejak tadi. Kelakuan kekasihnya memang sangat menyebalkan.

Jimin yang berada disebrang telepon bergidik ngeri mendengar ancaman dari kekasih-semanis gula-nya. Kalau sudah begini Jimin yakin salah satu dari anggota tubuhnya akan menjadi korban tangan kecil Yoongi. Bukan berarti Yoongi itu seorang yang kejam, hanya saja memang begitulah sifatnya. Dan Jimin selalu menerima apapun yang Yoongi lakukan padanya. Menyedihkan.

"Hyung, pelan-pelan bicaranya nanti tersedak."

Yoongi melotot, "Kau menyebalkan! Sudah cepat kemari."

"Iya iya. Aku sedang menuju kesana."

"Apa?!"

Jimin menjauhkan ponselnya dari telinganya. Lengkingan Yoongi menyakitkan tahu. Sedangkan Yoongi lagi-lagi mengutuk Jimin dalam hati. Ini sudah, astaga, hampir jam setengah lima dan Jimin baru ingin menuju kemari katanya?!

"Apa saja yang sudah kau lakukan? Kenapa baru mau jalan?"

"Loh, kan hyung sendiri yang minta tolong padaku mencarikan payung biru dirumahmu." Kata Jimin dengan sangat hati-hati, takut kekasihnya itu marah lagi.

Oh iya benar. Yoongi lupa tadi ia menyuruh Jimin mengambilkan payung biru dan menjemputnya disini. Tapi…

"Kenapa mesti lama sekali?"

"Hyung, jangan marah-marah terus. Nanti manisnya berkurang."

"Kau…" Mesti sebal namun tidak dipungkiri jika Yoongi merona mendengar gombalan garing dari Jimin. Dan itu berhasil membuat kadar darah tinggi Yoongi menurun.

"Cepat kemari. Aku sudah kedinginan."

Jimin tersenyum, "Tenang saja hyung. Kalau sudah ada aku, hyung pasti akan merasakan kehangatan yang aku ciptakan…"

"Kemari saja!"

Sambungan terputus.

Yoongi mengerang karena gombalan Jimin lagi yang membuat pipinya semakin menghangat. Ugh, belum bertemu saja sudah hangat, apalagi jika sudah ada orangnya. Disana Jimin tersenyum sendiri memikirkan Yoongi dan hal yang akan mereka lakukan nanti. Satu payung berdua, ditengah hujan yang dingin. Saling merapat, bergandengan tangan, menghangatkan satu sama lain. Haah~ dunia serasa milik berdua. Jimin cekikikan.

.

.

.

.

Jimin bisa melihat Yoongi berdiri sendiri dihalte depannya. Coat panjang dan besar yang dikenakan Yoongi membuatnya nampak kecil dan mungil. Rasanya Jimin ingin cepat-cepat kesana dan memeluk tubuh mungil Yoongi. Jimin cekikikan lagi.

"Hyung, sudah lama ya?" Jimin menepi disamping Yoongi dan melipat payung biru itu.

"Sudah tahu masih nanya!"

"Huu~ kau ngambek ya."

"Apaan sih!" Yoongi menepis tangan Jimin yang menoel dagunya. Tangan Jimin dingin dan Yoongi tidak suka kalau wajahnya dipegang oleh sembarang tangan.

"Nih sudah aku bawakan payung biru pesananmu hyung."

Jimin memberikan payung itu pada Yoongi dan Yoongi hanya bisa menyerngit. "Kenapa payung yang ini?!" Yoongi bertanya dengan galak hingga membuat Jimin tersentak.

"Loh, kan hyung minta payung yang biru yang diletakkan dekat lemari televisi kan? Ini, aku menemukan yang ini."

Yoongi mengerang, "Ada berapa banyak payung didekat lemari televisi?"

"Ung, tiga. Atau empat ya?"

"Ada empat."

"Oh."

Yoongi menghela napas, "Ada berapa payung berwarna biru?"

"Ung….du…a?"

Mendengar jawaban Jimin membuat Yoongi tersenyum manis sekali, tetapi dimata Jimin senyuman manis Yoongi sekarang sama dengan sebuah ancaman. "Lalu kenapa kau tidak bawa dua-duanya bodoh!"

Jimin berjengit dan mundur selangkah kebelakang karena teriakan Yoongi yang mengalahi suara derasnya hujan. Yoongi tahu kalau kekasihnya ini mungkin sedikit bodoh dan naïf, tapi untuk hal yang beginian saja masa Jimin tidak tahu sih? Bikin kesal saja!

"Seharusnya kau bawa dua payung Park Jimin! Satu untukku dan yang lainnya untukmu! Kau harusnya tahu itu kan? Kenapa kau bodoh sekali sih? Kau membuatku kesal!"

"Hyung…"

"Apa?!" Jimin berjengit lagi. Kalau begini terus bisa-bisa Jimin dilarikan ke dokter bagian THT. Yoongi sendiri sudah sangat kesal hingga napasnya memburu.

"Jangan marah-marah terus dong, kau tidak kasihan denganku?" Jimin memelas. "Tidak." Jawab Yoongi dengan cepat.

"Hyung, aku sengaja membawa satu payung saja supaya kita bisa berbagi."

"Berbagi? Berbagi apa?"

"Berbagi payung. Tentu saja!"

.

.

.

.

.

Hujan masih deras dan genangan air semakin banyak. Yoongi dan Jimin sudah meninggalkan halte bis sepuluh menit yang lalu. Diawali dengan perdebatan akhirnya mereka sepakat untuk saling berbagi payung untuk pulang menuju rumah Yoongi.

Selama perjalanan Jimin terus saja tersenyum senang dan sesekali mencuri pandang pada Yoongi yang sekarang sedang merona parah diatas punggung Jimin. Well, Jimin memaksa Yoongi untuk naik keatas punggungnya dan mereka pulang dengan menggunakan payung yang sama. Alasannya agar payungnya muat menaungi mereka berdua. Padahal itu hanya akal bulus seorang Park Jimin.

"Bagaimana hyung, kalau begini kita bisa menggunakan payung bersama kan?"

Yoongi mengerang dan ingin sekali menjitak kepala kekasihnya itu kalau saja ia tidak ingat tangannya sedang memegang payung. Yoongi malu, tentu saja karena sekarang mereka menjadi tontonan bagi pejalan kaki lainnya.

"Kau ini… lihat saja nanti!" tangan Yoongi yang melingkar dileher Jimin mencubit. Jimin mengaduh tetapi malah mempererat pegangannya pada lutut Yoongi. "Untung aku bawa satu payung. Jadi aku bisa menggendongmu seperti ini."

"Argh, itu kau saja yang ingin mencuri kesempatan."

"Daripada mencuri kesempatan aku lebih suka menyebutnya mengambil keberuntungan."

"Terserah saja."

"Hahaha~ aku mencintaimu Yoongi hyung."

Yoongi terdiam tetapi sudut bibirnya tertarik hingga menampilkan senyuman manis disana. Ia mempererat pelukannya dileher Jimin dan kepalanya dibawa untuk bersandar pada bahu Jimin. "Aku juga mencintaimu." Lirih Yoongi.

The end

.

.

.

Well, ini ceritanya ga lebih dari 1k words. Jadi jangan pada minta lebih ya ;(

Lama tidak jumpa ya, kangen kaga? Pastinya dong! Ini deh buat permulaan setelah menghilang selama…emm, seminggu lebih mungkin?

Cerita yang lain lagi on writing… tapi gatau kapan kelarnya hahaha….