Dibawah hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Oneshot | Ficlet
Cerita ketiga: Heartwarming
.
.
.
.
.
.
Another oneshot from naranari. Check this out. Enjoy the story
.
.
.
.
.
"Yoongi hyung hari ini pulang bareng lagi ya." Jimin menutup pagar rumah Yoongi dan menguncinya. Kemudian ia melangkah bersama Yoongi menuju halte bis didepan sana. Setiap pagi Jimin selalu mengantar Yoongi ke sekolah dengan menggunakan bis umum. Walaupun begitu Yoongi tetap senang dan tidak mengeluh.
"Humm, baiklah. Hari ini aku tidak ada latihan basket."
Jimin mengangguk cepat sambil tersenyum. Bisa pergi dan pulang sekolah bersama kekasih manisnya ini adalah hal yang paling membahagiakan dalam kehidupan remaja Jimin. Meski Yoongi galaknya minta ampun tetapi dia tidak pernah menuntut Jimin melakukan hal-hal yang biasa pasangan kekasih lainnya lakukan; misalnya mengantar-jemput dengan kendaraan pribadi, atau jalan-jalan setiap weekend. Yoongi bukan tipe seperti itu. Bagi Yoongi bisa memberikan rasa nyaman saja itu sudah cukup.
Yoongi menatap pada langit yang sudah mulai kelabu, sepertinya hari ini hujan akan turun lagi. "Jimin, kau bawa payung biru yang kemarin?"
"Uh?" Jimin langsung memeriksa tasnya dan tidak menemukan payung biru milik Yoongi didalam tas. Jimin kembali mengingat kemarin dimana ia menaruh payung itu setelah mengantar Yoongi pulang. "Ah, sepertinya tertinggal dirumahku hyung." Jimin meringis dan siap-siap menerima ciuman manis dari tangan halus Yoongi. Tetapi Yoongi hanya menghela napasnya saja.
"Aku juga lupa tidak membawa payung."
Jimin menyerngit bingung pada Yoongi, biasanya kekasihnya ini akan marah-marah dan menabok pipi Jimin jika ia melupakan sesuatu miliknya. Mungkin kekasih manisnya itu sedang tidak mood untuk marah-marah. Jimin mengelus dadanya.
Bis yang ditunggu mereka akhirnya datang. Jimin dan Yoongi menaiki bis bersama dan duduk ditempat favorit mereka; belakang dan paling pojok. Itu sih tempat favorit Jimin sebenarnya dan ia memaksa Yoongi untuk duduk disana juga. Jadi Jimin bisa menyandar dengan rapat pada Yoongi.
.
.
.
.
.
.
Yoongi menengok kearah jendela dan menatap langit yang sekarang sudah cerah lagi padahal tadi sempat mendung. Ia menghela napasnya, cuaca akhir-akhir ini tidak bisa diprediksi. Kadang hujan datang tiba-tiba, tak lama kemudian cerah kembali. Yoongi harus meminum banyak vitamin dan air putih untuk melindungi tubuhnya dari serangan musim pancaroba seperti sekarang ini.
Apalagi kekasih super cerewetnya itu terus saja mengingatkan ia untuk selalu menjaga kesehatannya. Yoongi sih senang-senang saja diperhatikan seperti itu. Tetapi kadang Jimin melupakan kesehatannya sendiri karena ia sibuk memikirkan Yoongi.
Ponsel Yoongi bergetar diatas meja, saat ini sedang istirahat tetapi Yoongi malas sekali kekantin untuk makan siang. Ada pesan dari Jimin, Yoongi langsung saja membukanya. "Hyung, jangan lupa makan siang dan minum vitaminmu. Jangan sampai sakit ya manisku~"
Yoongi mengerang malas tetapi masih saja merona dengan pesan gombal dari Jimin. Tuh kan, baru saja dibicarakan, tahu-tahunya pesannya sudah sampai.
.
.
.
.
.
Bel sekolah sudah berbunyi tujuh menit yang lalu. Sebagian siswa sudah ada yang mulai meninggalkan sekolah karena sore ini langitnya kembali mendung. Yoongi yang sedari tadi sedang menunggu Jimin didepan gerbang sekolah mulai jenuh. Kekasihnya kemana sih, masa sampai sekarang belum juga muncul. Yoongi ingin segera pulang sebelum hujan turun, ia tidak mau kehujanan.
Tak lama kemudian sosok yang ditunggu Yoongi terlihat. Jimin berlari buru-buru sambil membenarkan letak tas dipundaknya. Napas Jimin terengah ketika sudah sampai didepan Yoongi. "Maaf hyung, aku terlambat. Tadi ada hal yang harus kuurus dulu."
"Ayo pulang. Sudah mau hujan." Jimin ikut memandang langit dan mengangguk. "Baiklah, ayo!"
.
.
.
.
.
Ternyata hujan turun lebih cepat dari perkiraan Yoongi. Sebelum mencapai halte ia dan Jimin sudah basah kuyup kehujanan. Yoongi menggigil kedinginan, pasalnya ia tidak membawa jaket dan jas sekolahnya ikut basah. Sedangkan Jimin didepan terus saja berlari sambil tangannya menggenggam tangan Yoongi.
"Yoongi hyung, kita benar-benar kehujanan nih." Jimin menengok kebelakang dan menemukan Yoongi sedang menggertaka gigi menahan dingin. "Loh, Yoongi hyung kau kedinginan ya?"
Tanpa menunggu jawaban dari Yoongi, Jimin langsung saja menggendong Yoongi diatas punggungnya. Yoongi pun segera memeluk leher Jimin dan mencari kenyamanan disana. Setelah berlari lebih cepat akhirnya Jimin berteduh dihalte terdekat. Ia menurunkan Yoongi dan mengacak tasnya untuk mencari handuk yang selalu ia bawa.
"Kau masih kedinginan?" Jimin dengan telaten mengeringkan rambut, wajah dan tubuh Yoongi dari air dengan sangat lembut dan penuh perasaan. Sesekali ia juga menggosoka tangannya kemudian menangkup pipi Yoongi untuk memberikan kehangatan untuk kekasihnya.
Yoongi hanya diam memandangi Jimin selama Jimin melakukan kegiatan mengeringkan tubuhnya. Bagaimana kekasihnya itu memberikan seluruh perhatian dan tanggung-jawabnya membuat hati Yoongi menghangat dengan sendirinya. Ia tersenyum dan sedikit memajukan tubuhnya untuk berhadapan langsung dengan Jimin.
"Jimin." Panggil Yoongi dengan lembut. Jimin yang sedang mengeringkan tangan Yoongi mendongak keatas. Dan tanpa disadari oleh Jimin, ternyata Yoongi mencuri ciuman didahinya dengan cepat. Cepat sekali hingga Jimin harus menatap Yoongi dengan intens.
Wajah Yoongi memerah sempurna karena dilihat seperti itu oleh Jimin dan juga tindakan memalukannya mencium Jimin. Sumpah, itu tadi refleks Yoongi lakukan. Ia merasa hanya ingin mencium Jimin. Lalu suasana keduanya menjadi canggung. Sebenarnya hanya Yoongi yang kikuk. Jimin sedari tadi masih saja menatap wajah Yoongi.
"A-apa yang kau lihat." Yoongi mendorong wajah Jimin dengan telapak tangannya, tetapi tangannya malah ditangkap oleh Jimin sendiri. Yoongi jadi tambah canggung.
"Ung… Jimin,"
"Hyung," Jimin memotong perkataan Yoongi, "Lakukan lagi."
"Apa?" wajah Yoongi menjauh seiring dengan Jimin yang mendekat padanya. "Jimin apa-apaan sih. Sana ah!" Yoongi berhenti karena kepalanya ditahan oleh Jimin. Mata keduanya saling mengunci dan kini wajah kedua tepat saling berhadapan.
"Cium aku lagi hyung. Tadi tidak terasa."
Yoongi melotot, ingin menyembur Jimin dengan makian tetapi bibirnya sudah ditutup terlebih dulu oleh bibir Jimin. Kini seluruh tubuh Yoongi menghangat hanya karena ciuman dari Jimin yang sangat heartwarming.
Hujan masih turun dengan deras tetapi sepasang kekasih dihalte itu tidak memperdulikannya. Karena mereka sedang sibuk untuk saling menghangatkan satu sama lain.
The end
.
.
.
.
.
Do you want more?
