Dibawah hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Oneshot | Ficlet

.

.

.

.

.

.

.

Another oneshot from naranari. Check this out. Enjoy the story

.

.

.

.

.

Yoongi masih melilitkan badannya pada selimut. Hari sudah beranjak siang tetapi awan mendung masih menghiasi kota Seoul. Hawa dingin menusuk tulang Yoongi hingga dia menggigil. Pagi hari yang dingin menjadi daftar hal yang menyebalkan untuk Yoongi.

Yoongi merentangkan tangannya ke meja nakas dan mengambil satu pak tisu yang ada disana. Sudah semalaman hidungnya bermasalah; meler dan mampet. Dan semuanya karena kemarin dia pulang hujan-hujanan. Dengan kekasih kecilnya, tentu saja. Imbasnya, badan demam, kepala pusing dan hidung mampet. Oh, hidung tersumbat bahasa bagusnya.

Tadi pagi ibu Yoongi sudah memberikannya sarapan bubur dan juga obat penurun demam. Dan sekarang Yoongi merasa ngantuk bukan main. Mungkin efek obatnya, dia sudah menguap beberapa kali. Tapi Yoongi masih berkeras untuk tetap membuka matanya. Karena sedari tadi ia menunggu kabar dari Jimin yang dari semalam belum juga menghubunginya.

"Jimin gitu kan. Kalau sudah salah suka ngilang tiba-tiba." Yoongi menggerutu. Mengutuki kebiasaan kekasihnya yang menghilang begitu saja telah melakukan suatu kesalahan. Membuat Yoongi sakit setelah bermain hujan adalah kesalahan.

Akhirnya setelah melawan rasa kantuk yang mendera, Yoongi memutuskan untuk menyerah dan tidur. Setidaknya dia harus mengisi kembali energinya jika Jimin nanti datang dan Yoongi ingin sekali menghajarnya.

.

.

.

.

.

Yoongi terbangun ketika jam makan siang. Efek obat demamnya sangat ampuh, dia tidur hampir enam jam lamanya. Meski jam dinding menunjukan angka satu, yang berarti matahari siang sedang menyengat bumi, namun nyatanya hujan masih mengguyur. Yoongi mendengus, sepertinya hujan tahun ini menjadi yang paling besar intensitasnya.

Setelah merapikan sedikit ranjangnya, Yoongi beranjak kekamar mandi dan langsung membersihkan dirinya dengan air hangat yang sudah disiapkan. Ibunya berteriak dari bawah menyuruh Yoongi untuk segera turun dan makan siang. Yoongi mengecek ponselnya dan menemukan tidak ada pesan maupun panggilan dari Jimin. Ugh, Yoongi jadi geregetan sendiri.

"Baiklah kalau itu maumu Jimin," Yoongi menatap garang pada ponsel ditangannya, "Jangan harap aku juga akan menghubungimu." Setelah itu Yoongi melemparkan ponselnya keatas ranjang dan ia beranjak pergi. Namun belum mencapai pintu Yoongi beerbalik dan dengan cepat mengambil ponselnya yang tergeletak dengan malangnya.

"Aaah Jimiiiin! Telepon aku!" Yoongi menghentak-hentakan kakinya dengan gemas dan dengan nada memelas ia memohon pada ponselnya. Ibu Yoongi yang kebetulan melewati kamar anaknya menyerngit bingung melihat tingkah aneh Yoongi. "Apa ini karna demamnya ya?" Ibu Yoongi mengedikkan bahunya dan berlalu.

Sekarang Yoongi sudah berguling-guling diranjang masih dengan memohon pada ponselnya untuk berbunyi. Atau sekedar memberikan notifikasi pesan yang dikirim Jimin. Namun sekali lagi, nihil. "Baiklah Park Jimin bodoh, aku bakal cuekin kamu! Biar tahu rasa!"

Kali ini Yoongi benar-benar melempar ponselnya lagi keatas ranjang dan ia pergi dari kamar tanpa berbalik lagi. Sekuat tenaga Yoongi menahan dirinya untuk tidak goyah dan tetap pada pendiriannya. Pokoknya dia marah dengan Jimin! Lihat saja nanti jika Jimin menghubunginya, Yoongi bakal mengeluarkan jurus andalannya. Ekhem, oke lupakan.

.

.

.

.

Sudah sore, serius. Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, dan Jimin belum juga menunjukkan eksistensinya dengan menelepon atau mengirimi Yoongi pesan. Yoongi sendiri didalam kamarnya mulai bermuram durja. Ia menolak untuk makan dan minum obat. Ibunya sudah meminta Yoongi untuk keluar dari kamar, tapi anak manis satu itu tetap tidak mau mendengar kata-kata ibunya.

"Baiklah kalau kau tidak mau keluar." Yoongi mendengar derap langkah kaki ibunya yang menjauh dari pintu. "Jimin! Sepertinya Yoongi tetap tidak mau keluar! Kau pulang saja ya!"

Yoongi melotot, ibunya berbicara pada Jimin? Ah tidak, maksudnya Jimin ada disini? Dirumahnya? Yoongi secepat kilat turun dari ranjang menuju pintu. Tangannya sudah berada dikenop pintu, tunggu dulu! Apa benar Jimin kesini, bisa saja kan ini akal-akalan ibunya supaya Yoongi keluar dari kamar.

"Aaah~ benar. Ibu pasti sedang mengerjaiku." Yoongi manggut-manggut, "Tapi maaf, aku tidak akan tertipu olehmu Bu."

Yoongi kembali keranjang kesayangannya dan melilitkan selimut keseluruh tubuhnya. Sekarang ia tidak akan memperdulikan apapun lagi. Bahkan ketukan pintu kamarnya dan suara Jimin yang memanggil namanya.

Tunggu. Suara siapa tadi?

Yoongi melepaskan lilitan selimutnya dan berderap menuju pintu. Telinganya ia tempelkan pada daun pintu, suara Jimin terdengar jelas dari balik pintu.

"Yoongi hyung, Yoongi hyung. Ini aku!"

Benar. Ini suara Jimin. Yoongi sangat hapal dengan suara melengkingnya Jimin yang seperti perempuan. Lalu kenapa dia bisa ada disini?

"Yoongi hyung, aku kesini untuk menjengukmu. Kudengar kau sakit demam ya?"

Jimin tahu kalau Yoongi sedang sakit? Tapi, kenapa dia tidak menghubungi Yoongi sama sekali.

"Maaf hyung aku tidak bisa menghubungimu karena ponselku tertinggal dirumah."

O-oh. Jadi begitu alasannya? Jimin bukannya dengan sengaja tidak menghubunginya. Itu karena ponselnya tertinggal. Ah, Yoongi jadi merasa bersalah karena sudah mengutuk Jimin tadi.

"Aku terburu-buru pergi kesekolah, aku kesiangan. Dan disekolah aku tidak menemukanmu dikelas, temanmu bilang kau sakit. Aku jadi panik hyung. Mana ponselku tertinggal pula, aku tidak tahu harus menghubungimu darimana." Yoongi hanya diam saja mendengar penjelasan Jimin. Tetap dengan telinga yang menempel dipintu. Yoongi masih enggan untuk menemui Jimin diluar.

"Pulang sekolah tadi aku langsung menuju kemari hyung. Aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Kau pasti sakit karena kehujanan kemarin kan? Dan aku merasa bersalah. Maafkan aku hyung sudah membuatmu sakit. Makanya aku kemari untuk menjengukmu. Aku juga membawakan brownies kesukaanmu, yang rasa coklat."

Yoongi mendengar suara gemerisik dari plastik bungkus dan ia membayangkan brownies enak dan lezat didalamnya. Lalu perutnya tiba-tiba saja berbunyi. Ya ampun, Yoongi lapar lagi.

"Yoongi hyung, bukain dong pintunya. Aku kedinginan nih."

Yoongi menyerngit, kedingingan kata Jimin? Bukankah ia sudah ada didalam. Lalu Yoongi menengok ke jendela dan hujan yang turun menjadi pemandangannya. Jangan-jangan…

Yoongi membuka pintu kamarnya dan langsung menemukan Jimin yang sedang meringkuk kedinginan. Ditangannya ada beberapa kantung plastik berisi brownies yang tadi dibicarakan dan juga makanan lainnya. Yoongi memperhatikan keadaan Jimin; rambutnya yang kecoklatan basah, juga seragam dan jaketnya ikut basah.

"Jimin… apa kau kemari ketika sedang hujan?" tanya Yoongi. Ia ikut berjongkok didepan Jimin. "Hehehe, iya hyung. Aku tidak mau menunggu hujan reda, aku sangat khawatir padamu."

Alis Yoongi berkedut, "Ya! Apa kau bodoh?! Kalau kau juga sakit bagaimana?"

"Aku tidak akan sakit hanya karena hujan. Yang penting aku bisa melihatmu. Aku mengkhawatirkanmu hyung." Jimin tersenyum lemah dengan bibir yang bergetar. Tanpa menunggu lama lagi Yoongi langsung membawa Jimin kedalam kamarnya. Dengan cekatan Yoongi menyiapkan handuk, air hangat dan juga baju ganti untuk Jimin.

"Lain kali kalau ingin pergi, tunggulah hujan berhenti. Jangan memaksakan dirimu. Cuaca saat ini sedang tidak bagus, jika kau kehujanan kau akan sakit. Dan aku menjadi orang yang paling repot jika kau sedang sakit." Yoongi mengeringkan tubuh Jimin dengan handuk, dan Jimin tersenyum melihat bagaimana Yoongi mengungkapkan rasa khawatirnya pada dirinya. Aah, Yoongi-nya ini memang manis sekali.

"Hyung," panggil Jimin. Yoongi berhenti dari kegiatan mengeringkan badan Jimin dan menoleh padanya. "Ada apa?" tanya Yoongi. Jimin menggenggam tangan Yoongi dan menaruhnya diatas paha, lalu tangan yang lainnya mengelus pipi putih kekasihnya itu.

"Terima kasih karena sudah mengkhawatirkanku." Yoongi tersenyum sangat manis dan juga tulus. Ia menyandarkan pipinya pada tangan Jimin. "Tidak. Aku yang berterima kasih padamu. Kau melakukan semua ini karena rasa khawatirmu padaku. Aku sungguh tersentuh Jimin."

Kemudian Jimin membawa Yoongi pada pelukannya yang hangat. Rasa khawatir dari keduanya membuat hati mereka tersentuh. Tidak apa kau merasa begitu khawatir pada pasanganmu. Karena dengan begitu kau telah menunjukkan cintamu padanya

The end.

.

.

.

.

.

Kalian menyebut ini sekumpulan oneshot? Kalau aku menyebutnya sebagai keisengan aja xD

.

.

.

.

.

More?