Dibawah hujan | Yoongi. Jimin. | Romance | Boy's Love | Oneshot | Ficlet.
Mentioned! GOT7's Jackson. Infinite's Sungjong
.
.
.
.
.
.
.
Another oneshot from naranari. Check this out!
.
.
.
.
.
'Hai Yoongi hyung, ini Jackson Wang dari kelas 11. Salam kenal~'
Yoongi mengambil post-it berwarna kuning yang tertempel dilokernya. Dia melirik kekiri dan kanan untuk mencari siapa yang sudah meninggalkan pesan itu, namun lorong sekolah hanya diisi segelintir siswa. Yoongi mengedikkan bahu, menaruh post-it itu kedalam tasnya dan segera berlalu menuju kelas.
Sudah dua hari ini ia absen karena sakit demamnya. Dan Jimin selalu ada dirumahnya ketika jam pulang sekolah hingga menjelang malam. Kekasihnya itu benar-benar menjalankan perannya sebagai kekasih yang baik dan bertanggung-jawab. Kadang Jimin harus merelakan uang jajannya karena Yoongi minta dibelikan sesuatu, alasannya karena ia lagi sakit dan harus dipenuhi semua permintaannya. Jimin sih iya-iya saja! Daripada dimarahi dan tidak boleh bertemu lagi, kan repot.
Pagi ini Yoongi tidak berangkat bareng Jimin karena diantar oleh ayahnya yang juga akan pergi menuju kantornya. Begitu sampai dikelas, Yoongi sudah ditunggu oleh teman-temannya. Yoongi menaruh tas diatas meja dan mengeluarkan beberapa buku pelajaran. Post-it kuning tadi ikut terjatuh ketika Yoongi mengeluarkan bukunya. Ia menyerngit dan mengambil kertas post-it itu.
"Ah! Hey, kalian kenal dengan Jackson Wang dari kelas 11?" tanya Yoongi pada temannya yang sedang mengobrol. Sungjong, salah satu dari teman Yoongi, langsung menjawab. "Apa yang kau maksud Jackson Wang yang atlit anggar itu? yang sudah menjuarai beberapa kali medali emas?"
Yoongi hanya diam saja, ia tidak tahu apa yang dibicarakan oleh Sungjong. Karena dia memang tidak mengenal siapa itu Jackson Wang. "Uhm, mungkin. Aku tidak mengenalnya."
"Apa?!" Sungjong dan yang lainnya memekih heboh. Oh sesange, siapa sih yang tidak kenal Jackson? Dia lumayan tampan dan yang paling mengesankan adalah prestasinya dibidang olahraga itu.
"Semua orang mengenalnya, Min. kenapa kau tidak?" Sungjong masih tidak percaya. "Aku benar-benar belum kenal. Mungkin kalau melihat wajahnya aku akan mengenalinya. Mungkin."
"Baiklah, nanti akan aku kenalkan kau padanya." Yoongi mengangguk dan mulai membuka lembaran buku, ketika Sungjong mulai bertanya lagi. "Tapi, kenapa kau tiba-tiba bertanya tentang Jackson?"
Yoongi tersedak ludahnya sendiri, "Ti-tidak apa-apa kok. Aku hanya bertanya." Meski masih penasaran dengan jawaban Yoongi namun akhirnya Sungjong hanya mengedikkan bahunya. Yoongi nyengir dengan kaku dan mulai menulis.
.
.
.
.
.
'Yoongi hyung, kubawakan kau bekal makan siang. Semoga kau menyukainya ya.
p.s. dihabiskan ya hyung'
Yoongi kembali mendapatkan pesan di post-it, kini berwarna pink -serius Yoongi merasa malu menerimanya-, dari orang yang sama dengan yang mengirimkan post-it warna kuning kemarin. Siapa lagi kalau bukan Jackson dari kelas 11 itu. Dan didalam lokernya Yoongi menemukan kotak bento berwarna biru langit dengan botol air minum dengan warna senada.
"Huh, dia perhatian sekali denganku."
"Siapa yang perhatian denganmu?"
Yoongi berjengit karena suara Jimin terdengar dari belakang punggungnya. Yoongi langsung menutup lokernya dan berbalik menghadap Jimin. "Oh, hai Jimin. Sudah lama disana?"
Jimin memberikan tatapan mencurigakan, "Kau kenapa? Menyembunyikan sesuatu dariku?"
"Tidak!" jawab Yoongi dengan cepat dan meneguk ludahnya dengan kasar. Kemudian ia membawa kotak bento itu kehadapan Jimin. "Ini aku tadi mengambil kotak ini."
Jimin masih menatap Yoongi dengan tatapan yang sama namun kemudian ia melembutkan tatapannya."Tumben sekali kau bawa bekal hyung."
"Huh, iya. Tadi ibuku yang membuatkannya."
Lalu Jimin menarik tangan Yoongi membawanya menuju kantin sekolah. Karena ini sudah jam makan siang jadi Jimin kembali melakukan aktifitasnya yaitu makan bersama, karena sudah dua hari ini Jimin makan siang sendiri.
Keduanya makan dengan tenang dan sesekali Jimin bertanya hal yang ringan dan dijawab dengan ringan pula oleh Yoongi. Tiba-tiba seseorang duduk didepan Yoongi sambil tersenyum.
"Yoongi hyung suka dengan bekal yang kubawa?"
Yoongi dan Jimin sama-sama tersentak, apalagi Yoongi yang namanya dipanggil oleh orang tersebut. Mereka berdua menoleh dan menemukan seorang pemuda yang lumayan tinggi, memakai topi terbalik bername-tag Jackson Wang. Yoongi menjatuhkan sumpit yang ia pegang. Oh, diakah yang bernama Jackson Wang? Yang katanya atlit anggar dan sudah menjuarai beberapa olimpiade itu?
"Jac-Jackson Wang?"
Jackson mengangkat satu alisnya lalu tersenyum. "Ya. Aku Jackson Wang. Salam kenal hyung." Jackson membungkuk, dan Jimin hanya melongo melihat interaksi antara Yoongi dan Jackson ini. Tunggu, Jimin baru ingat. Tadi Jackson bilang bekal yang ia bawa? Maksudnya bekal yang sedang Yoongi makan itu darinya?
"Hyung, ini bekal darinya? Tanya Jimin langsung. Yoongi jadi gelagapan sendiri, ia menoleh pada Jimin dan Jackson bergantian. "Ehm… ini memang, memang darinya."
"Tadi kau bilang itu dari ibumu?!"
Jimin kini menatap Yoongi yang tidak menjawab pertanyaan darinya. Sesuatu dalam hatinya terasa terbakar dan panas sekali. Kenapa kekasihnya ini berbohong padanya. Dan kenapa pula kekasihnya ini kenal dengan Jackson! Itu yang paling ingin Jimin ketahui.
"Anou, Jimin… kita bicarakan nanti saja sepulang sekolah ya?"
"Tidak mau!"
"Yoongi hyung mau pulang dengan siapa? Aku bisa memberikanmu tumpangan di mobilku."
Yoongi meneguk ludahnya sendiri sedangkan Jimin membesarkan bolamatanya dan seakan ingin membunuh Jackson dengan tatapannya itu. Jackson sendiri tidak peduli dengan tatapan Jimin yang menakutkan dan malah menunggu jawaban Yoongi dengan antusias.
"Bagaimana hyung, mau pulang denganku?" tanya Jackson lagi. Yoongi menggigit ujung bibirnya dan menoleh pada Jimin yang kini sedang memasang tampang bête. "A-aku… aku pulang dengan Jimin hari ini, Jack. Maafkan aku."
Jimin melongo dan menunjuk dirinya sendiri tanpa suara. Yoongi mengangguk singkat dan Jimin langsung mengepalkan tangannya ke udara. Jackson memasang wajah kecewa tapi hanya sebentar karena ia langsung tersenyum lagi.
"Baiklah kalau begitu. Lain kali kita harus pulang bersama. Okay hyung?" Jackson langsung pamit dan meninggalkan meja Yoongi sebelum Jimin sempat protes padanya.
Jimin masih saja menatap punggung Jackson yang sudah menjauh dengan pandangan tidak suka. Apa-apaan pemuda itu, berani sekali ia mendekati Min Yoongi yang manis yang merupakan pacarnya dunia akhirat. Tidak ada, dan tidak akan pernah ada, orang yang bisa mencintai Yoongi selain dirinya, Park Jimin.
"Yoongi hyung, kenapa bisa kenal dengan dia?" Jimin rupanya masih penasaran dengan hal itu. Bagaimana tidak, Jackson itu sudah menjadi hal yang menganggu. Yoongi menghela napasnya, mungkin memang seharusnya ia menceritakan ini pada Jimin.
"Dia itu sudah beberapa kali menempelkan post-it dilokerku. Dan bekal ini, ya memang dia yang membawakannya. Bukan dari ibuku."
"Ah begitu." Jimin sempat kecewa degan Yoongi karena berbohong tentang Jackson. Memangnya kenapa kalau Yoongi tidak mau menceritakan hal itu pada Jimin? Apa Yoongi takut Jimin akan marah padanya?
"Kau tidak marah denganku kan?"
"Hah?!" Jimin berseru kemudian mengangguk dengan pelan, "Tidak apa kok hyung. Walaupun kau telat memberitahuku,setidaknya kau sudah jujur."
Yoongi menghela napasnya. Jimin mungkin bersifat kekanakan, tapi dia selalu mengerti Yoongi. Jimin tidak pernah memaksa Yoongi untuk menceritakan tentang kehidupannya. Tidak pernah menyuruh Yoongi untuk selalu memberinya kabar. Karena Jimin percaya dengan Yoongi. Ya, walaupun dia tidak pernah percaya pada semua orang yang berusaha mendekati kekasih manisnya itu.
Yoongi mengambil nasi dari bekalnya dan menyuapkan Jimin. Jimin menerima suapan dari Yoongi dengan senang. Ketika Yoongi akan menarik tangannya, Jimin menahannya. "Huh?" Yoongi memberikan tatapan bingung tapi Jimin masih tetap memegang tangan Yoongi dan menatap langsung pada matanya. "Jimin, kenapa sih?"
Tapi Jimin tidak menjawab. Ia malah membawa tangan Yoongi menuju bibirnya, sendok yang dipegang Yoongi, Jimin taruh. Dan Jimin langsung mencium tangan Yoongi dengan lembut. Yoongi tentu saja kaget dengan apa yang dilakukan Jimin, ia ingin menarik tangannya. Tetapi syaraf motoriknya tidak bekerja-sama dengan baik dengan otaknya. Yoongi masih membiarkan tangannya dikecup oleh Jimin.
"Aku sangat menyukaimu Yoongi hyung." Jimin tersenyum dan membuat pipi Yoongi berwarna merah muda. Jimin selalu mempuyai caranya sendiri untuk mengungkapkan rasa cintanya pada Yoongi. Meskipun kadang Yoongi bersikap semaunya dan tidak memperdulikan Jimin. Karna apapun yang Jimin lakukan selalu membuat Yoongi jatuh cinta pada alasan yang sama. Yang hingga kini Yoongi tidak mengetahui alasannya.
"Tapi aku tidak suka dengan Jackson itu. Dia terlalu tinggi untukmu. Dan lihat alisnya itu, menyeramkan seakan mengajakku untuk bertanding dengannya. Lain kali kalau kau dapat post-it darinya langsung bilang denganku. Biar aku-"
"Makan saja nih!"
the end
.
.
.
.
'the end' disini maksudnya cerita untuk chapter ini selesai. Bukan dari keseluruhan ceritanya ya ^^
Okay ini aku tulis dengan terburu-buru. Kalian pasti tau bagaimana hasil pekerjaan yang dikerjakan dnegan buru-buru. If you know what I mean. Dan aku tahu pasti ada dari kalian yang menunggu kapan aku akan memposting cerita baru lagi (serius, ga becanda) dan ingin secepatnya diupdate. But, I have my own world. My own real life. Aku ga bisa berada didepan laptop seharian untuk menulis cerita. Apalagi, seriously aku ga suka ngomongin ini, kuliahku sudah bisa dibilang mendekati semester akhir. So, aku harus tetap fokus sama kuliah aku. Aku engga sok sibuk, beneran deh, karena aku memang benar-benar sibuk. Jadi aku mohon sama kalian my beloved readers untuk tolong mengerti sama keadaan aku ya~
Ini untuk terakhir kalinya aku nulis begini karena aku gak suka ngomongin real life aku disini. Nanti disangka sok-sok lah…. Makasih ya readers tersayang :*
p.s. aku lagi tergoda sama Jackson GOT7! Dia itu seperti boyfriend material buat aku ^^ tapi tetap dong MinYoongi yang jadi juara dihati :*
