Dibawah Hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Onesehot | Ficlet
Mentioned! Jackson and Mark
.
.
.
.
.
.
Antoher oneshot from naranari
.
.
.
.
.
"Yoongi hyung!"
Yoongi yang berada didepan lokernya menengok dan menemukan Jackson menuju kearahnya. Penampilan pemuda itu cukup berbeda dari biasanya. Jackson memakai topi yang ujungnya ia tarik kebelakang hingga dahi putihnya terlihat. Cukup tampan juga kalau dilihat-lihat, Yoongi tersenyum tipis.
"Hai Jackson, ada apa?"
Jackson menggosok kedua telapak tangannya lalu, "Ung, begini. Bagaimana dengan pulang bersama hari ini? Apa kau bisa?"
Yoongi menutup lokernya dan nampak berpikir. "Hari ini ya, tapi aku harus latihan basket dulu."
"Ah~ begitu. Baiklah, aku akan menunggumu."
"Eh, tapi tidak apa-apa jika kau harus menunggu?"
"Tidak masalah."
.
.
.
.
Jimin memandang keakraban antara Yoongi dan Jackson dari balik loker yang paling ujung. Ia mendengus, Jackson sepertinya sudah mulai melancarkan aksinya untuk mendekati hyung manisnya itu. Jimin tidak akan membiarkan itu terjadi. Ketika Yoongi sudah pergi dan Jackson masih disana, Jimin menghampiri Jackson. Dengan membusungkan dada dan kepala yang ditegakkan, Jimin berdiri angkuh didepan Jackson.
Jackson hanya memandang Jimin dengan bingung dan juga sedikit risih. Apa maksudnya Jimin berlagak seperti itu didepannya. "Ada apa?" tanya Jackson langsung. Jimin mendengus, memandang Jackson dari bawah keatas.
"Kau sama pendeknya denganku."
"Maaf?!" ada perempatan siku-siku imajiner dikepala Jackson ketika Jimin menyinggung tentang tinggi badannya. Memang kenapa kalau Jackson pendek? Masalah buat Jimin?
Jimin maju selangkah, "Jackson wang. Jangan coba-coba mendekati pacar manisku lagi." Setelah mengatakan itu Jimin langsung pergi meninggalkan Jackson tidak lupa dengan salam perpisahan; sebuah dengusan yang lebih keras.
"Apaan sih?!" Jackson hanya menggeleng kemudian ikut pergi meninggalkan loker-loker didepannya menuju kelas.
.
.
.
.
Istirahat siang ini Jimin tidak pergi kekantin bersama Yoongi. Ia ingin mengawasi kekasihnya ini, siapa tahu si Jackson itu tetap mendekati pacarnya walau ia sudah memperingatkan padanya. Yoongi pergi ke perpustakaan bersama dengan teman sekelasnya. Jimin mengikuti dari belakang dengan mengendap-endap; persis seperti stalker. Yoongi dan temannya berhenti di rak buku tentang fisika terapan. Jimin melotot, astaga kekasihnya belajar fisika terapan? Membayangkan saja sudah membuat Jimin mual.
Kemudian Jimin mengambil tempat paling pojok dengan sebagian wajahnya ia tutup dengan kupluk hoodie yang ia pakai. Yoongi duduk tiga kursi dari Jimin dan dengan posisi yang membelakangi Jimin, Jimin jadi mudah untuk memulai pengintaiannya.
Sepuluh menit pertama Jimin masih betah duduk sambil memandangi pacarnya itu. Ternyata sisi belakang dari tubuh pacarnya lumayan juga, Jimin tersenyum sendiri. Kemudian datang lagi satu teman Yoongi yang lainnya duduk disebelah Yoongi. Jimin melotot-lagi- pada teman Yoongi disebelahnya karena, what the hell, ia duduk terlalu dekat dengan pacar manisnya. Bahu mereka bahkan saling menempel.
Sepuluh menit berikutnya Jimin sudah tidak betah didalam perpustakaan lagi. Keakraban Yoongi dengan teman-temannya membuat darah Jimin mendidih. Masalahnya mereka terlalu intim untuk disebut sebagai teman, Jimin saja yang pacarnya belum pernah sedekat itu. Kasihan kan Jimin.
Akhirnya Jimin berdiri dari kursinya dan berjalan pelan menuju tempat Yoongi. Namun ia mengurungkan niatnya. Kalau Jimin sampai emosi dan membawa kabur Yoongi, bisa-bisa Yoongi yang marah padanya. Ah, Jimin menggeleng. Lalu ia merubah haluannya menuju pintu perpustakaan. Lebih baik Jimin segera mencari samsak. Atau apapun itu yang bisa ia pukul.
.
.
.
.
Sudah tiga hari dan Jimin masih saja menjadi stalker kekasihnya sendiri. Heol! Ini sungguh tidak etis sebenarnya. Sama saja Jimin meragukan kepercayaan Yoongi. Tapi bukannya Jimin tidak percaya pada Yoongi, ia hanya tidak bisa mempercayai semua orang yang mendekati Yoongi. Bukankah Jimin sudah pernah mengatakan hal ini?
Namanya juga cinta mati, Jimin selalu berusaha untuk menjadi lelaki satu-satunya untuk Yoongi. Lelaki yang selalu Yoongi lihat. Yang Yoongi cari pertama kali disaat senang maupun sedih. Makanya Jimin menjadi terlalu posesif pada Yoongi.
Seperti hari ini Jimin mengikuti Yoongi ke sebuah kafe dekat sekolahnya setelah pulang sekolah. Yoongi tadi mengirimi ia pesan kalau Yoongi tidak bisa pulang bareng karena harus menemui temannya dikafe itu untuk belajar kelompok. Jawaban Jimin iya; iya aku akan ikut dibelakangmu, maksudnya.
Cuaca hari ini kembali mendung. Awannya sebagian menghitam dan suhu menurun. Jimin menggerutu selama perjalanan karena ia tidak membawa payung lagi. Tadi pagi pembaca berita mengatakan hari ini Seoul cukup cerah, jadi Jimin tidak perlu menyiapkan payung lagi. Namun, kenyataan itu memang buruk dibanding ekpestasi.
Jimin kembali menyamar menjadi seorang pengintai. Ia duduk tepat dibelakang Yoongi dengan saling memunggungi, jadi Yoongi tidak akan tahu kalau Jimin ada disana. Selama lima belas menit Jimin terus mendengarkan apa yang Yoongi dan temannya bicarakan, dan semuanya menyangkut pelajaran yang Jimin sendiri tidak mengerti. Setelah merasa kalau Yoongi benar-benar belajar disini, akhirnya Jimin memutuskan untuk pulang.
Lalu bel pintu kafe berbunyi ketika ada pelanggan lain yang masuk. Jimin sudah akan bangun dari kursinya ketika nama Yoongi diteriakan dengan lantang. Yoongi pun menjawab sapaan itu, dan sukses membuat Jimin mengurungkan niatnya untuk pulang, karena…
"Hai Jackson, disini!"
What the… itu nama Jackson yang diteriaki Yoongi!
Jimin kembali memasang telinga dan kali ini dia tidak akan melewatkan barang sedikitpun pembicaraan mereka. Hati Jimin panas mengetahui kalau ternyata Yoongi tidak hanya bertemu dengan temannya, tetapi juga dengan orang yang saat ini menjadi daftar pertama orang yang harus dienyahkan versi Jimin.
Yoongi tertawa dengan kencang ketika Jackson melontarkan kalimat-kalmat lucu dan akan tersipu malu ketika Jackson sudah mulai menggodanya. Jimin kembali panas dan memanas saat Jackson dengan tidak tahu malunya menggoda kekasihnya. Pacarnya. Siapa sih didunia ini yang suka jika kekasihnya diganggu dan digoda oleh orang lain. Palagi orang ini sudah cukup mengganggu hubungannya.
Jimin sudah tidak tahan lagi untuk diam saja membiarkan Jackson melancarkan aksinya menggoda Yoongi. Ia menggebrak mejanya dan langsung berdiri. Yoongi sontak saja kaget karena ia duduk tepat dibelakang Jimin. Dan Yoongi lebih kaget lagi ketika Jimin menghampirinya dengan wajah memerah dan tatapan tajam. Astaga, bukankah ini pertanda yang tidak baik? Yoongi bisa merasakan hal itu.
"Ji-Jimin, sejak kapan kau disitu?" Yoongi menelan ludah dengan susah payah. Duh, bisa gawat urusannya kalau Jimin sudah dalam mode seperti ini.
Jimin tidak menjawab Yoongi, tetapi ia melihat kearah Yoongi dan Jackson bergantian. Lalu tersenyum sinis, "Oh jadi ini yang kau lakukan dengan acara 'belajar bersama'mu? Bertemu dengan bocah ini ya?"
"Apa?!" itu suara Jackson yang tidak terima dengan perkataan Jimin. Bocah katanya, apa Jimin tidak pernah berkaca?
Jackson berdiri dan menghadap Jimin, Yoongi juga ikut berdiri. "Park Jimin sebelum kau menuduh seseorang, sebaiknya kau mencari tahu."
Yoongi menggigit bibirnya, tidak tahu apa yang mesti ia lakukan sekarang. Jackson kembali berbicara. "Dan jika kau tidak keberatan jangan memanggilku dengan sebutan bocah. Dasar bocah."
Mata Jimin melotot mendengar Jackson menyebutnya bocah juga. Jimin sudah siap untuk membalas Jackson ketika tangannya ditarik keluar oleh Yoongi. "Jimin kita harus berbicara!"
Jackson menatap pasangan yang baru saja keluar dari kafe lalu menghembuskan napasnya. Astaga repot juga berurusan dengan pacarnya Yoongi itu. "Ekhem!"
Jackson tersadar ketika suara deheman seseorang terdengar. Ia menengok kesamping dan menemukan seorang pemuda tampan duduk dihadapannya. "Seru banget ya pertengkaran kalian. Aku sampai dilupakan."
Jackson meringis dan meminta maaf. Pemuda itu hanya tersenyum tipis. "Oh ya, kau temennya Yoongi hyung ya?" tanya Jackson. Pemuda itu mengangguk, "Ya. Namaku Mark Tuan."
.
.
.
.
.
Yoongi baru melepaskan tangan Jimin ketika mereka sampai disebuah taman yang cukup sepi. Tidak banyak orang yang berada disini, mungkin karena habis hujan dan rumput masih sangat basah. Yoongi berkacak pinggang dan menatap malas pada Jimin.
"Kau ini! Ngapain sih tadi bertengkar dengan Jackson? Bikin malu saja!"
Jimin mendengus, "Oh, jadi aku ini membuatmu malu ya, hyung? Kenapa kau mau berpacaran denganku?"
"Astaga. Bukan itu maksudku." Yoongi memutar bola matanya. Benar-benar susah berbicara dengan Jimin kalau sedang ngambek. "Dengar ya Jimin. Aku tidak suka kalau kau seperti itu lagi."
"Aku ini sedang cemburu hyung. Kau tidak tahu?"
"Cemburumu itu tidak beralasan, Park Jimin."
"Tidak beralasan? Jackson tadi sudah menggodamu, jelas saja aku jadi cemburu."
Yoongi menghela napas lagi, bagaimana menjelaskannya ya? Kemudian Yoongi menggapai tangan Jimin. Namun segera ditepis oleh Jimin, Yoongi tersentak. Kemudian ia kembali meraih tangan Jimin dan kali ini Jimin tidak menolaknya.
"Park Jimin, kau ini kekasihku kan?"
"Tentu saja!"
"Kau sayang padaku kan?"
"Tentu saja. Aku sayang sekali denganmu hyung."
Yoongi tersenyum kecil dan sedikit merona sebelum melanjutkan, "Aku juga sayang padamu. Dan aku percaya padamu. Kau tahu, aku tidak pernah menganggap serius setiap kata godaan dari Jackson maupun yang lain. Karena itu semua tidak berpengaruh padaku."
Jimin mulai memerhatikan Yoongi. "Karena aku hanya percaya pada setiap kata godaan yang keluar dari mulutmu. Aku hanya percaya pada pernyataan cinta darimu, tidak dengan yang lain. Jadi, mulailah percaya denganku juga Jimin. Percaya bahwa kau tidak akan termakan oleh gombalan manis mereka."
Jimin tersenyum tulus pada Yoongi dan membalas genggaman tangan Yoongi. "Baiklah, mulai saat ini aku akan percaya sepenuhnya padamu hyung. Aku tidak akan cemburu lagi dan tidak akan membuatmu malu lagi."
Yoongi terkikik, Jimin membawa kedua tangan Yoongi kedepan bibirnya dan mengecupnya. "Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu. Oh ya, dan berjanjilah tidak lagi menjadi stalkerku."
Jimin tersentak dan berubah kikuk, ia menggaruk belakang kepalanya. "Eng, darimana hyung tahu aku membututimu?"
"Semua orang juga tahu kau selalu mengikutiku." Jimin tidak bisa menahan malunya, apalagi ketika Yoongi menertawakannya. Harga diri Jimin sebagai seorang pejantan tangguh jatuh begitu saja didepan pacarnya sendiri.
"Hyung berhenti tertawa atau aku akan…"
"Akan apa? Menciumku? Hahahamp…"
Ya, Jimin mencium Yoongi, tepat dibibirnya. Tadi Yoongi sendiri kan yang menawarkan. Jadi kenapa tidak diambil saja penawaran itu. Mereka masih berciuman hingga rintik hujan kembali turun. Tetapi siapa yang peduli, asal ada seseorang yang kita cintai, bukankah semua akan baik-baik saja?
Jimin melepaskan ciuman mereka, padahal saat itu Yoongi sedang menikmatinya. "Omong-omong, ngapain si Jackson menemuimu?"
Yoongi mengerang, Jimin rela menyudahi ciuman mereka hanya untuk menanyakan itu?. "Temanku Mark Tuan, ingin berkenalan dengan Jackson."
"Ah, jadi itu alasannya Jackson menemuimu dikafe?"
"Iya."
"Kenapa kau tidak bilang sih, jadi aku…"
"Sudah diam saja!" Yoongi menarik kerah seragam Jimin dan kembali mencium kekasihnya itu. Sepertinya Yoongi masih penasaran dengan ciuman mereka yang sempat terputus. Kita biarkan saja.
The end
