Dibawah Hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Ficlet | Oneshot
.
.
.
.
.
Another story from naranari
.
.
.
.
.
Sekolah sudah berjalan selama dua bulan. Dan minggu depan siswa tingkat satu dan dua akan melaksanakan ujian tengah semester, atau mereka memanggilnya midtest. Jimin termasuk peserta midtest itu, dia kan baru duduk ditingkat dua. Beda dengan Yoongi, karena dia siswa tingkat akhir dia tidak akan mengikuti midtest, namun langsung pada ujian nasional.
Dua minggu yang lalu Jimin sudah menyiapkan dirinya untuk midtest kali ini. Karena Yoongi berpesan padanya, jika Jimin mendapat nilai bagus pada tes kali ini maka Jimin akan mendapatkan hadiah menarik darinya. Jimin tentu saja senang mendengarnya ketika Yoongi menjanjikan 'hadiah menarik' itu. Bisa jadi hadiahnya berupa gadget baru, makan malam romantis, atau satu ciuman dari Yoongi. Haah~ membayangkannya saja Jimin sudah senyum-senyum sendiri.
Yoongi sudah menjadwalkan jam belajar tambahan Jimin, yaitu setiap pulang sekolah selama dua jam. Dirumah Yoongi. Ini, satu lagi yang membuat Jimin semangat bersekolah dan juga belajar. Dua jam berduaan dengan sang kekasih manis dirumahnya. Aah~ semesta pun pasti iri padanya.
"Yoongi hyung, nanti jadi ya belajar dirumahmu."
"Hn,"
"Asik. Aku harus beli apa nih buat cemilannya?"
"Tidak usah. Dirumahku banyak."
Jimin manggut-manggut, baguslah kalau tidak usah. Jadi uang jajan Jimin bisa ia tabung dicelengan kaleng miliknya.
"Oh ya hyung, apa kau bisa pelajaran biologi, aku paling lemah disitu."
Yoongi yang sedang membaca satu artikel ditablet miliknya mendongak. Berpikir apakah pelajaran biologi masih ia ingat atau tidak. "Heum… sepertinya masih ingat. Sedikit."
"Tidak apa-apa hyung. Makasih ya."
.
.
.
.
Disinilah Jimin akhirnya saat pulang sekolah, dikamar Yoongi. Selama setahun berpacaran baru kali ini Jimin memasuki area paling pribadi dari Yoongi. Dan mohon jangan menganggap omongan ini ambigu. Area paling pribadi disini maksudnya ya kamar pribadi Yoongi.
Kamar Yoongi lumayan besar, sekitar 10x10 meter, besar bukan. Dan didominasi oleh warna putih. Jimin yakin pacarnya pasti orang yang tertata rapih dan apik. Meja belajarnya rapih, buku-buku tersusun. Pajangan dan lukisan-lukisan tidak berantakan, dan yang penting tidak ada sampah sama sekali. Jimin jadi betah berlama-lama disini.
"Woah hyung, kamarmu rapih dan bersih. Harum pula, aku jadi mengantuk."
Yoongi memutar bola matanya ketika melihat Jimin yang sudah tengkurap diatas ranjangnya. By the way, Jimin adalah orang pertama kecuali keluarganya yang masuk kedalam kamarnya. Pastinya Jimin adalah orang spesial buat Yoongi, karena ia tidak membiarkan sembarang orang memasuki kamarnya. Ya iyalah, secara Jimin itu kan pacarnya Yoongi, jadi harus spesial dong.
"Jangan tidur, kita belum memulai belajarnya." Yoongi mengambil kaus biasa dan menggantinya dikamar mandi. Jimin itu baru pacarnya bukan suaminya, jadi masih haram hukumnya untuk memperlihatkan aurat. Yoongi sih yakinnya begitu.
Jimin akhirnya bangun dan tengkurapnya dan berderap malas kearah meja belajar Yoongi. Ia mengeluarkan buku biologi dan pulpen. Mata Jimin tidak sengaja melihat bingkai foto berukuran kecil yang menampilkan wajah Yoongi ketika masih kecil. Difoto tersebut Yoongi tersenyum amat manis sambil memegang sebuah boneka beruang besar seukuran tubuhnya berwarna putih.
Hati Jimin diliputi rasa hangat dan juga kupu-kupu menggelitik perutnya melihat senyuman manis Yoongi kecil. Padahal mereka sudah berpacaran selama setahun, tetapi rasa menggelitik itu masih Jimin rasakan ketika melihat senyum Yoongi. Uh, Yoongi memang berbakat membuat orang jatuh cinta pada senyumannya.
"Lihat apa?!"
Jimin tersentak dan ia hampir terjengkang kalau saja Yoongi tidak menahan tubuhnya dari belakang. "E-eh hyung. Aku cuma lihat fotomu." Yoongi menjulurkan kepalanya melewati bahu Jimin untuk melihat foto yang Jimin maksud. Ia mencibir, "Lain kali jangan melihat fotoku sembarangan."
Jimin mengejar Yoongi yang sudah duduk dikursi belajarnya, "Loh kenapa hyung? Fotomu lucu-lucu semua." Jimin membekap mulutnya melihat tatapan tajam dari Yoongi. "Ayo mulai belajarnya."
.
.
.
.
Jimin mengacak rambutnya lagi hingga beberapa helainya menjuntai keluar. Kancing seragamnya terbuka hingga tiga kancing. Terlihat betapa frustasinya Jimin menghadapai pelajaran biologi.
"Jimin, ayo jawab. Penyakit hemophilia itu terjadi karena apa? Bagaimana kromosom X dan Y-nya? Lalu ayah atau si ibu yang career?"
"Hyung ngomong apa sih, aku ga ngerti."
Yoongi meletakkan pulpen yang sedari tadi dipegangnya keatas meja dengan kencang, hingga menimbulkan bunyi dan Jimin tersentak kembali. "Kau ini! Aku tadi sudah menjelaskan padamu, kenapa tidak mengerti juga! Kau ini niat belajar tidak sih!"
Jimin melongo, god kalau Yoongi hyungnya sudah marah bisa tamat riwayatnya. Baru saja Jimin akan menjawab, ternyata terdengar suara rintihan perut yang minta diisi. Yoongi dan Jimin saling bertatapan kemudian Yoongi menghela napasnya. "Baiklah, kita makan dulu."
"Assa!"
Yoongi menyebar beberapa snack keatas meja dan memberikan Jimin satu kaleng kola. Jimin menerimanya dengan mata berbinar bahagia, akhirnya Jimin menemukan hidupnya kembali. Yoongi membolak-balik buku paket Jimin sambil bergumam kecil. Dihidung mungilnya ada kacamata bertengger. Dan Jimin baru tahu kalau Yoongi itu miopi.
Dilihat dari samping Yoongi tampak menggemaskan. Pipinya agak tembam dan berwarna kemerahan. Mengundang Jimin untuk mencubitnya. Bibir tipis nan mungil yang sedang mengerucut itu, Jimin tidak bisa membayangkan semanis apa rasanya. Dan—astaga—Jimin baru tahu lagi kalau kekasihnya itu mencukur rambutnya. Menjadi potongan undercut, Yoongi makin terlihat mempesona.
"Ngapain lihat-lihat terus?" Yoongi menengok dan saat itu Jimin terjatuh dari kursinya. Jimin sukses mendarat dilantai dengan bokong yang lebih dulu. Yoongi tertawa lepas melihat pacanya yang kesakitan mengelus bokongnya dan menyumpahserapahi lantai.
Jimin mendongak keatas melihat Yoongi tertawa begitu lebar. Perasaannya menghangat lagi dan rasa sakit pada bokongnya hilang seketika. Melihat Yoongi dari bawah dengan latar langit sore yang menyinari wajah Yoongi membuat Jimin kembali jatuh cinta padanya.
"Hyung kau sungguh mempesona."
Yoongi langsung menghentikan tawanya. Jimin memang berkata lirih tadi tapi telinga Yoongi terlalu tajam untuk mendengarnya. "Bangun. Kita mulai lagi belajarnya."
"Aduh hyung, pantatku sakit sekali."
.
.
.
.
Jimin masih memperhatikan setiap gerak-gerik Yoongi. Ia menopang dagu dan tersenyum sendiri. Menjadi kekasih Yoongi adalah hal terindah dalam hidupnya. Meski Yoongi sering sekali berbuat kejam padanya tapi itu tidak pernah melenyapkan cinta Jimin pada Yoongi. Malah setiap harinya Jimin merasakan cinta yang terus bertambah.
Semesta memang sengaja mengirim Yoongi untuk Jimin. Karena Jimin itu masih kekanakan, ceroboh, berbuat sesuka hati, sering merepotkan sekitar. Dan yang Jimin perlukan adalah sseorang yang sabar, teratur, dan yang paling penting dewasa. Itu semua ada pada diri Yoongi, walaupun Yoongi sering tidak sabaran menghadapi Jimin tapi itu kan manusiawi.
Jimin melipat tangannya diatas meja dan kembali memperhatikan wajah Yoongi. Jimin selalu merasa tidak pantas saat berdampingan dengan Yoongi, namun bukankah sebuah hubungan adalah untuk saling melengkapi. Jimin memang tidak sempurna, tapi ia menemukan kesempurnaan pada diri Yoongi.
Ayolah, ini sungguh cheesy.
"Yoongi hyung," panggil Jimin. Yoongi menengok dan langsung menemukan manik hitam milik Jimin. Dan Yoongi seolah tersihir dengan kejernihan manik itu hingga ia tidak berkedip sama sekali. Jimin mendekatkan wajahnya pada Yoongi tanpa melepas tautan mata mereka. Kemudian tangannya meraih kacamata Yoongi, Jimin melepas kacamata itu dan kembali menatap Yoongi.
"Jimin,"
"Yoongi hyung," Jimin kembali mendekatkan wajahnya dan Yoongi sudah bersiap menutup matanya. Hangat napas Jimin terasa membelai permukaan wajah Yoongi. Sudah semakin dekat dan jantung Yoongi memompa habis-habisan.
"Aku mencintaimu." Dan kata sakti itulah yang menghantarkan bibir Jimin untuk menemui bibir kenyal Yoongi.
Tangan Jimin menyingkirkan buku-buku diatas meja selagi mereka asik berciuman. Yoongi mendengar suara buku berjatuhan tapi ia tidak mau peduli. Momen intim bersama Jimin menjadi prioritas utamanya saat ini.
Ada beberapa hal yang tidak Yoongi sukai; kekanakan, ketidak-teraturan, berisik dan merepotkan. Sayangnya Yoongi malah terterangkap pada pesona seorang Park Jimin yang mempunyai sifat yang sangat tidak Yoongi sukai. Tapi itulah uniknya cinta.
"Aku juga mencintaimu." Yoongi menyudahi ciuman mereka. Wajah keduanya memerah. Jimin menggapai tangan Yoongi dan membawanya kedepan dada. "Omong-omong hyung, besok hari ulang tahunmu. Selamat ulang tahun."
Yoongi menendang tulang kering Jimin dengan kakinya hingga mengaduh, "Masih besok! Kenapa memberi ucapannya sekarang, huh?"
"Duh, hyung. Aku hanya ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padamu."
"Alay."
"Benar hyung."
"Terserah."
Jimin tertawa dan membawa Yoongi dalam pelukannya. "Tapi aku tetap mencintaimu hyung." Yoongi agak tersentak ketika Jimin mendekapnya, namun ia langsung membalas pelukan Jimin dan tersenyum. "Aku juga tetap mencintaimu."
The end
.
.
.
.
.
.
Oke, ini terlalu awal, but…
Selamat ulang tahun kesayangan akoh :*
Terima kasih sudah lahir didunia ini dan mengenalkanku akan cinta. Alay!
Kalau ditulis seberapa besar cintaku kekamu min yoongi, aku pasti sudah nerbitin buku. Pokoknya aku cinta matilah sama kamu yoongi. Dan satu harapan aku dihari ulang tahun kamu,
Peulis, potong rambutmu ;"(
