Dibawah Hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Oneshot | Ficlet

.

.

.

.

.

Another story from naranari

.

.

.

.

Hari ini Yoongi beserta Jimin mengantarkan Ibu dan Ayah Yoongi ke bandara. Mereka akan pergi selama beberapa hari ke Jepang karena pekejaan Ayah Yoongi. Sebenarnya Yoongi tidak mengajak Jimin, tetapi bocah satu itu tetap saja keukeuh untuk ikut bersama keluarga Yoongi. Hitung-hitung sekalian mencari restu calon mertua.

Saking semangatnya mengantar orang tua Yoongi, sampai-sampai Jimin bersedia bangun pagi demi membantu mereka berkemas lalu tanpa sungkan membawakan koper milik mereka yang lumayan besar itu. Yoongi sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kekasihnya. Sedangkan kedua orang tua Yoongi merasa senang luar biasa, karena mereka tidak perlu repot-repot membawa koper.

"Abonim juga omonim jaga diri kalian baik-baik selama di Jepang ya. Jangan terlalu lelah dan makanlah yang banyak. Minum juga vitamin kalian,"

"Park Jimin, please. Disini akulah anak mereka." Yoongi bersedekap sedangkan Jimin hanya nyengir. Ayah Yoongi menepuk bahu Jimin dan berkata, "Terima kasih Jimin. Kau adalah pemuda yang baik. Aku menitipkan Yoongi padamu."

Senyum lebar langsung terkembang diwajah Jimin begitu ayah mertua—ekhem, calon ayah mertuanya menitipkan anaknya yang manis padanya. "Pasti abonim. Terima kasih." Jimin membungkuk hormat pada Ayah Yoongi.

Lalu kedua orang tua itu memeluk Yoongi dan berpesan untuk tidak berbuat macam-macam selama mereka pergi jauh. Dalam hati Yoongi menggerutu, seharusnya ayahnya berkata seperti itu pada Jimin. Karena yang harus dikhawatirkan berbuat macam-macam itu Jimin bukan dirinya.

Lima belas menit kemudian Yoongi dan Jimin sudah didalam perjalan pulang dengan mobil Yoongi, ada supir Jang yang mengantar mereka. Yoongi tidur selama perjalanan karena ia harus membantu berkemas semalam untuk perjalanan orang tuanya. Sedangkan Jimin yang duduk disamping Yoongi sibuk dengan kamera ponselnya. Ia ber-selca ria dengan Yoongi yang sedang tidur pulas.

"Hihihi, mumpung Yoongi hyung sedang tidur. Aku kan juga jarang punya foto dia yang pulas seperti ini."

Setelah itu Jimin mengupload foto yang diambil keakun instragram miliknya. "Ah~ aku tidak sabar berduaan dengan Yoongi hyung dirumah."

Bayangan tentang dirinya dan Yoongi yang sedang bermesra-mesraan membuat Jimin tersenyum sendiri didalam mobil. Hal itu dilihat oleh supir Jang yang beberapa kali mengintip Jimin lewat kaca spion.

"Tuan Jimin sepertinya senang sekali."

"Benar Pak Jang, aku senang bisa berduaan dengan Yoongi hyung dirumah. Akhirnya…"

Supir Jang tersenyum miring, tanpa dilihat Jimin tentunya. "Tuan Jimin tahu tidak rahasia rumah Tuan Yoongi?" Mendengar kata rahasia membuat Jimin menaruh seluruh perhatiannya pada supir Jang.

"Rahasia apa?" tanya Jimin antusias. Supir Jang berdehem, mengatur suaranya demikian rupa agar cerita yang akan ia bawakan terdengar nyata.

"Dulu, rumah Tuan Yoongi adalah tanah kosong yang dibuat untuk membuang mayat-mayat orang Korea yang mati karena perang dengan Jepang. Setelah perang tanah itu kemudian dibangun menjadi sebuah hotel kecil. Tapi beberapa pengunjung dan juga pegawai hotel mulai merasa tidak ada yang beres dengan bangunan yang mereka tempati,"

"Tidak beres seperti apa?"

"Seperti terdengar suara tangisan wanita tapi tidak ditemukan wujudnya. Juga barang-barang yang bergerak sendiri dari tempatnya. Suasana aneh itu membuat hotelnya tidak banyak pengunjung dan akhirnya si pemilik hotel memilih untuk menutup hotelnya. Beberapa tahun kemudian bangunan hotel itu dirubuhkan karena banyak yang mendengar suara jeritan dan melihat beberapa arwah gentayangan."

"Paman! Yang benar saja!" Jimin mencondongkan badannya kedepan, antara tertarik dengan kelanjutan cerita dan takut.

"Benar. Setelah itu keluarga Tuan Min akhirnya membangun kembali tanah itu menjadi rumah yang saat ini mereka tempati."

Jimin meneguk ludahnya mendengar cerita dari supir Jang. Ini adalah sebuah cerita esklusif, bahkan Yoongi sendiri tidak pernah menceritakan langsung padanya. Tapi bagaimana bisa keluarga Yoongi hidup tenang disebuah bangunan yang dulunya bekas tempat pembuangan mayat.

"Duh, kenapa suhu jadi menurun ya?" Jimin mengusap lengannya sendiri, bulu kuduknya tiba-tiba meremang. "Oh, maaf tuan, aku yang menurunkan suhu AC-nya." Supir Jang menahan tawanya melihat wajah Jimin yang sudah ketakutan duluan. Setelah itu suasana dalam mobil kembali hening.

Jimin masih dalam mode takut setelah mendengar cerita dari supir Jang tentang rumah Yoongi. Hatinya menciut membayangkan makhluk-makhluk halus yang berkeliaran disekitar rumah Yoongi. Malam ini Jimin sudah berjanji akan menginap dirumahnya Yoongi, dan sepertinya ia akan membatalkan niat itu. Jimin takut diganggu oleh makhluk menyeramkan ketika sedang tidur.

Yoongi diam-diam menyunggingkan senyuman dalam tidurnya.

.

.

.

.

Jimin masih meringkuk takut dibelakang tubuh Yoongi. Mereka berdua sudah sampai dirumah Yoongi yang terlihat sangat sepi dan bagi Jimin terlihat menyeramkan. Jimin sangat membenci sifat penakut yang ada dalam dirinya, dia kan lelaki sejati yang punya enam kotak abs, masa takut sama hantu. Kan tidak etis sekali.

"Jimin ngapain sih dibelakang? Masuk sini."

Yoongi menarik tangan Jimin yang terus saja mencengkram mantelnya. Kakak Yoongi tidak pulang malam ini jadi tinggal mereka berdua yang ada dirumah. Supir Jang sudah pamit pulang. Yoongi menaruh tas ranselnya diatas sofa lalu beranjak kedapur untuk mengambil minum. Jimin masih membututi Yoongi dibelakang.

"Yoongi hyung, asisten rumah tanggamu tidak terlihat?" Jimin melihat ke sekitar dapur.

"Mereka pulang dan kembali lagi saat pagi."

"Oh begitu ya."

Diluar sana hujan tiba-tiba saja turun membuat suasana rumah semakin menyeramkan, untuk Jimin. Yoongi memperhatikan kecemasan diwajah Jimin, "Kau kenapa sih? Kebelet?"

"Ti-tidak. Aku… aku mau tidur saja hyung," Jimin pura-pura menguap," Sudah malam."

Alis Yoongi terangkat satu, ia melihat jam yang berada di pergelangannya. "Baru jam delapan,"

"Iya! Tapi aku sudah mengantuk." Jimin semakin panik—juga takut, saat petir terdengar.

"Baiklah. Ke kamar sana, aku mau mandi dulu."

Tanpa menunggu lagi Jimin segera melesat menuju kamar Yoongi, meringkuk diatas ranjang dengan tubuh yang tertutup selimut. Jimin benar-benar ketakutan. Cerita supir Jang masih terngiang dan membuatnya semakin merasakan keanehan disekitarnya.

Jimin sudah ingin pulang saja kalau ia tidak ingat dengan kekasihnya. Kalau Jimin pulang lalu Yoongi sendirian dirumah yang menyeramkan ini. Tidak bisa, Jimin tidak bisa meninggalkan Yoongi sendirian dan ketakutan. Ia akan melindungi Yoongi dari makhluk-makhluk halus yang mengganggunya. Meskipun itu berarti Jimin harus mengorbankan nyawanya. Jimin bertekad seperti itu.

Suara petir terdengar bersahutan, memekakan telinga. Jimin sampai harus menutup kepalanya menggunakan bantal. Cahaya putih dari petir membuat kamar Yoongi yang gelap (Jimin lupa menyalakan lampunya) terlihat semakin menyeramkan. Karena bias dari cahaya itu membuat benda-benda dikamar Yoongi menjadi bayangan besar dan menyeramkan, lagi-lagi menyeramkan.

Jimin sudah berada dipuncak ketakutannya, pelipisnya berkeringat sangat banyak. Dan yang lebih parahnya, Jimin beneran kebelet sekarang. Tapi Yoongi belum juga selesai mandi. Bayang-bayang ia dan Yoongi bermesraan musnah sudah. Gara-gara cerita sialan itu yang membuat Jimin ketakutan.

JDERR!

"Aaaakk!"

Jimin bangun dari meringkuknya dan melepas selimut yang melilit tubuhnya. Suara petir berbunyi lagi, Jimin loncat dari ranjang Yoongi.

JDERR!

Tepat saat Jimin akan membuka pintu kamar, ada sesosok tubuh menghadangnya. Cahaya putih dari petir membuat sosok itu terlihat seperti hantu yang akan menerkam Jimin. "AAAAAAAKKK"

Jimin terjatuh dengan kepala yang mengenai piggiran ranjang dan tidak sadarkan diri. Yoongi yang berdiri didepan pintu hanya bisa melongo, "Hey Jimin, bangun. Jangan tidur dilantai dong."

.

.

.

.

.

.

"Duh hyung, pelan-pealan dong. Perih nih."

Jimin memegangi pelipisnya yang sedang diobati oleh Yoongi menggunakan obat merah. Ia akhirnya sadar dari pingsan memalukannya setelah sepuluh menit. Yoongi tidak bisa berhenti tertawa karenanya. Jimin adalah lelaki yang macho, katanya, yang takut dengan hantu.

"Ini sudah sangat pelan-pelan Jimin sayang, jangan lebay!"

"Awww" Yoongi malah semakin menekan kapas pada luka Jimin.

Jimin meringis setelah Yoongi selesai mengobati lukanya. Ia kembali menatap sekeliling, "Hyung apa benar rumahmu ini bekas tanah kosong tempat pembuangan mayat?" Jimin merinding sendiri.

"Kata siapa?"

"Supir Jang yang menceritakannya padaku,"

"Dan kau percaya?"

"Tentu saja."

Yoongi tertawa lagi membuat Jimin semakin bingung. Kenapa Yoongi malah tertawa disaat mengetahui bahwa rumahnya ini angker.

"Hyung kok tertawa sih, memang kau tidak takut?"

Yoongi berdehem dan menghentikan tawanya, "Untuk apa aku takut pada hal yang tidak seram sama sekali. Cerita itu bohong Jimin, hahaha."

Perempatan siku imajiner muncul diatas kepala Jimin. Oh, jadi ia dibohongi oleh supir Jang dengan ceritanya itu? Jimin ingin marah tapi ia juga malu. Sangat malu malah.

"Makanya Jimin jangan mudah percaya dengan hal-hal yang belum tentu benar. Cari tahu kebenarannya baru kau boleh percaya."

Jimin mengerucutkan bibirnya, baru kali ini ia merasa dipermalukan, atau mempermalukan diri sendiri sebenarnya. Hujan diluar masih deras namun petirnya sudah berkurang. Hati Jimin sedikit tenang setelah mendengar bahwa rumah ini tidak berhantu.

Yoongi sudah membereskan kotak obat dan ia naik keatas ranjang. Jimin tersenyum memikirkan dirinya yang bisa berduaan dan bermesraan dengan Yoongi tanpa dihantui rasa takut. Sebuah ide tiba-tiba muncul dalam pikiran Jimin. Ia memasang ekpresi ketakutan sambil menunjuk kearah belakang Yoongi.

"Hy-hyung…"

Yoongi jadi ikutan panik dan wajahnya berubah cemas, "Ada apa sih Jimin," meski berusaha untuk tidak takut, tapi suara Yoongi tetap saja bergetar. Mata Jimin membesar dan ketakutan, tepat saat Jimin berteriak suara petir kembali terdengar.

"Hyung dibelakangmu!"

JDERR!

"Aaaaakkk"

Jimin tertawa keras saat Yoongi berteriak dan menghambur kedalam pelukannya. Jimin kemudian menjatuhkan tubuh mereka keatas ranjang. Yoongi masih bersembunyi dalam pelukan Jimin, namun begitu mendengar tawa Jimin yang tidak juga berhenti, ia merenggangkan pelukanya.

Dan memukul dada Jimin dengan keras hingga Jimin mengaduh, "Dasar licik! Kau mengambil kesempatan, curang!"

"Hahaha… hyung jangan marah. Aku kan hanya ingin melindungimu."

Yoongi masih saja memukuli dada Jimin, tapi Jimin menangkap tangan Yoongi dan kembali membawa tubuh Yoongi kedalam pelukannya. Jimin mengusap punggung Yoongi dan membuat nyaman si pemilik punggung.

"Ternyata kau juga penakut ya hyung sayang," Jimin menempatkan dagunya diatas kepala Yoongi. "Tapi aku akan selalu melindungimu dari ketakutan hyung. Jadi jangan takut lagi ya."

Yoongi mencibir ingin membentak namun hatinya menghangat ketika Jimin dengan tulus mencium keningnya. Yoongi yakin kok, tanpa ketakutan pun Jimin pasti akan selalu melindunginya. Ia percaya penuh dengan Jimin. Akhirnya mereka tidur dengan saling berpelukan hingga masuk kealam mimpi.

Dan ketika mereka tidur, sosok yang berada diatas lemari tersenyum memperhatikanya.

The end

.

.

.

.

Ini malam jumat loh beb, cuma mau ingetin aja. Liat-liat keatas lemari ya hihihi

Siapa yang mau cerita Indigo dan Love Story of Jimin dilanjut? Ada yang mau? Ada?