Dibawah hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Oneshot | Boy's Love | Ficlet

.

.

.

.

.

Another story from naranari

.

.

.

.

Dua hari lagi adalah hari kelulusan Yoongi sebagai siswa kelas akhir. Segala persiapan sudah dilaksanakan bahkan kedua orang tua Yoongi mengosongkan jadwal mereka untuk melihat anak bungsunya memakai topi kelulusan. Sekolah Yoongi dan Jimin juga tidak kalah sibuknya, mereka mengadakan acara kelulusan di lapangan outdoor sekolah yang lumayan besar dan malamnya ada pesta dansa.

Yang tidak kalah sibuknya adalah Jimin. Selama sebulan ia sudah mempersiapkan acara sendiri untuk kelulusan Yoongi, dan juga hadiahnya. Jimin sibuk bertanya pada kakak dan teman-teman Yoongi apa yang paling disukai Yoongi namun belum dia miliki. Jimin memang sudah lama menjadi kekasih Yoongi tapi bukan berarti ia mengetahui semuanya tentang Yoongi kan.

Kalau kakak Yoongi menjawab, "Yoongi belum punya Lewis Leather Lightning no. 391…" Setelah itu Jimin langsung kabur tanpa mendengarkan lagi kakak Yoongi. Holyshit, Jimin tahu sekali jaket kulit itu yang harganya bisa bikin Jimin nangis tujuh hari tujuh malam. Jimin tidak akan mengikuti saran kakaknya Yoongi.

Lalu Jimin bertanya pada teman dekatnya Yoongi disekolah. Mungkin saja ada satu diantara mereka yang memberikan saran sedikit bisa masuk akal. Dimulai dari Namjoon, pemuda itu bilang Yoongi belum punya iPhone 6+. "Please hyung, aku juga belum punya itu!" Lalu Jimin pergi lagi.

Lalu Jimin bertanya pada Hoseok, teman satu klub Yoongi. "Barang yang belum dimiliki Yoongi hyung ya?" Jimin mengangguk cepat, Hoseok sampai takut sendiri melihat Jimin yang bersemangat sekali menganggukkan kepalanya. Takut leher Jimin lepas, begitu pikir Hoseok. "Kalau tidak salah Yoongi hyung belum punya motor sport warna hitam deh. Yoongi hyung pernah bilang begitu padaku."

Jimin ingin sekali membenturkan kepalanya—ehm, kepala Hoseok—ketembok.

Setelah tidak mendapatkan saran yang baik, menurutnya, akhirnya Jimin berniat untuk bertanya langsung pada Yoongi. Apa-apaan itu saran dari kakak dan teman-teman Yoongi? Itu sih namanya membuat Jimin miskin mendadak. "Tapi kalau ditanya langsung sama Yoongi hyung tidak jadi surprise lagi dong?"

Mata Jimin tidak sengaja melihat Jungkook yang sedang duduk sendirian ditaman sekolah sedang memakan es krim sendirian. Jungkook memakan es krim sembari bersenandung kecil dan kakinya terayun-ayun diudara. Menggemaskan sekali. Jimin mendekat pada Jungkook dan duduk disampingnya.

"Eh ada Jimin hyung?"

"Halo Jungkook. Sedang apa?"

"Makan es krim lah, kau tidak tahu es krim ya? Ini loh es krim."

Jimin menatap datar Jungkook yang sedang mengayunkan es krim didepan wajahnya. Ia juga tahu itu es krim, bahkan Jimin yakin kakek-kakek yang sudah bungkuk juga tahu kalau itu es krim!

"Sendirian saja?" Jimin bertanya lagi.

"Iyalah. Kau tidak lihat aku sendirian sedari tadi." Jimin menatap datar lagi pada Jungkook. Jimin juga tahu kalau Jungkook sendirian, bahkan nenek-nenek… ah, sudahlah.

Jimin menghela napas, tidak berniat untuk bertanya lagi pada Jungkook jika yang didapat hanyalah jawaban yang ketus, dan membuat kesal. "Hyung sedang apa disini?" Jungkook bertanya.

"Sedang duduklah."

"Iya aku juga tahu! Maksudku apa yang kau lakukan disini?"

Aaarrghh… rasanya Jimin ingin loncat dari tebing saja!

.

.

.

.

Setelah ngobrol sedikit dengan Jungkook yang sebagian besarnya Jimin menahan kejengkelan. Disini lah Jimin berada, disebuah Distro disalah satu pusat perbelanjaan. Tadi Jungkook memberi saran pada Jimin yang bisa ia terima. Kata Jungkook, "Belikan saja Yoongi hyung sesuatu yang tidak berwarna hitam. Aku bosan selalu melihat dia dengan warna hitam. Dia kan manis tapi kenapa warna hitam?"

"Lalu aku harus membelikan sesuatu dengan warna apa?"

"Pink!"

Saat itu Jimin hampir jatuh dari bangku taman. Yang benar saja! Yoongi dengan warna Pink?!

"Kau bercanda ya Jungkook?"

"Tidak. Aku serius kok. Yoongi hyung itu manis, kenapa tidak coba dipakaikan warna Pink? Kan jadi kelihatan tambah manis."

Jimin berpikir sesaat benar juga kata Jungkook, Yoongi manis ditambah warna Pink. Ugh, pasti menggemaskan. Jimin jadi ingin mencubit pipinya yang mulus dan mencium bibirnya yang ranum itu.

"Tapia pa yang harus kubeli ya?"

Jimin sudah memutari Distro ini emapt kali namun belum menemukan sesuatu yang berwarna Pink yang cocok untuk Yoongi. Salah satu karyawan Distro itu menghampiri Jimin yang sedang kebingungan. "Ada yang bisa saya bantu?"

Jimin menoleh pada karyawan itu dan sedikit tersenyum. Omong-omong karyawannya wanita. "Aku butuh sesuatu yang berwarna Pink untuk kekasihku." Karyawati itu manggut-manggut dan langsung melesat menuju pakaian wanita. Jimin menyerngit bingung, kenapa pakaian wanita? Ah, Jimin lupa memberitahu kalau kekasihnya itu pria manis.

"Ini Tuan. Dress cantik berwarna Pink." Karyawati itu memberikan Jimin dress yang ia pegang. "Ah noona, maaf. Tapi kekasihku itu pria." Karyawati itu membulatkan matanya tapi sedetik kemudian langsung tersenyum lagi. "Ah, maaf aku tidak tahu. Jadi kekasihmu pria?"

"Iya. Pria yang manis. Aku ingin memberikan dia sesuatu yang berwarna Pink." Jimin agak meringis saat mengatakannya, takut kalau karyawati ini akan menertawakan dirinya. "Ah, itu sesuatu yang sangat manis! Aku akan menunjukkan padamu."

Jimin mengikuti karyawati itu ke bagian pakaian pria. Rata-rata berwarna hitam dan Jimin langsung ingat dengan Yoongi, ia kangen dengan kekasihnya itu. pucuk dicinta ulam pun tiba. Saat memikirkan Yoongi, tahu-tahu Yoongi meneleponnya. Jimin mengangkat panggilannya pada dering ketiga.

"Halo Yoongi hyung,"

"Kau sedang dimana Jimin?"

"Aku sedang dimall. Aku disuruh membelikan ayah pakaian baru." Maaf Yoongi hyung aku harus berbohong padamu.

"Begitu ya. Ya sudah tadinya aku ingin mengajakmu makan malam bersama orang tuaku, tapi kau malah pergi."

Jimin menahan rengekannya mati-matian. Makan malam bersama calon mertua itu sangat langka. Dan Jimin harus merelakan kesempatan yang datang padanya. "Maaf hyung. Mungkin lain kali aku akan ikut."

"Baiklah. Sampai nanti Jimin. Hati-hati."

"Ya, kau juga hyung."

Jimin menghela napasnya tepat saat karyawati itu datang dan membawa sebuah sweater pink yang manis. "Ini adalah sesuatu yang manis untuk kekasih priamu yang manis."

Jimin mengambil sweater itu dan mencobanya. Sweaternya sih hangat dan bahannya lembut, tapi melihat dirinya yang memakai Pink

"Baiklah. Aku ambil yang ini."

Lebih baik Yoongi yang memakainya daripada dia.

.

.

.

.

Besok itu sudah hari kelulusan Yoongi. Dari tadi pagi Yoongi disibukan dengan acara gladi resik di sekolahnya. Jimin meminta bantuan orang tua Yoongi untuk meminjamkan kafe mereka (orang tua Yoongi memiliki kafe sendiri) selama satu jam. Jimin berencana akan membuat kejutan kelulusan Yoongi disana.

Sore hari langit terlihat mendung dan angin sudah berhembus pelan. Jimin sudah menyiapkan kue serta makan malam romantis dan hadiahnya. Tapi Yoongi belum juga datang dan langit semakin gelap. Jimin jadi khawatir Yoongi tidak bisa datang. Ayah Yoongi lalu menelepon Jimin dan berkata kalau anaknya akan segera sampai kesana. Maka Jimin langsung merapihkan penampilannya.

Pintu kafe terbuka dan Yoongi dengan kepala sedikit basah masuk kedalam. Diluar sudah turun hujan meski kecil. Jimin menghampiri Yoongi dan membantunya menegringkan rambut. "Syukurlah kau sudah datang sebelum hujan sangat lebat."

Yoongi tersenyum, Jimin membawanya pada meja mereka. Sudah ada hidangan makan malam dan beberapa lilin berwarna merah. Lampu kafe sengaja diredupkan dan hujan yang turun membuat suasana di kafe semakin romantis.

"Kau yang menyiapkan ini semua?"

"Iya hyung. Dan selamat atas kelulusanmu." Jimin mencium punggung tangan Yoongi. "Masih besok Jimin. Kau suka sekali mengucapkan selamat sehari sebelumnya ya."

"Aku kan ingin menjadi orang pertama yang mengucapkannya."

"Ya ya. Terserah padamu."

Lalu keduanya makan dengan santai diselingi beberapa obrolan ringan. Jimin mengelap bibirnya dengan tisu dan mengeluarkan kotak hadiah dari bawah meja. "Aku punya sesuatu untukmu hyung."

Yoongi menghentikan makannya dan menerima kotak itu dengan wajah berbinar lucu. "Wah, kau juga menyiapkan hadiah untukku?" Jimin mengangguk. Yoongi membuka kotak itu dengan tergesa-gesa. Matanya masih berbinar, namun ketika penutup kotaknya ia buka, wajahnya langsung murung.

Jimin mengangkat alisnya melihat perubahan wajah Yoongi. "Kenapa hyung?"

"Kenapa warna Pink sih!"

Jimin berjengit mendengar teriakan Yoongi dan ia langsung panik. "Ta-tapi hyung,"

"Kau tahu kan aku tidak suka dengan warna Pink!"

"Iya tapi,"

"Kenapa kau malah memberikan aku warna norak ini!"

"Itu tidak norak hyung,"

"Kau sedang menggodaku ya?"

"Tidak,"

"Aku laki-laki seharusnya kau membelikanku warna hitam!"

"Tapi,"

"Aku membencimu Jimin!"

"Heh?!"

Napas Yoongi memburu karena menahan emosinya. Sudah cukup, Jimin memang masih anak-anak dan ia tidak mengerti dirinya. Mereka terdiam untuk beberapa lama dan Yoongi mulai merasa aneh dengan Jimin karena bocah itu masih saja menunduk.

"Hey Jimin,"

"Kau tidak suka pemberianku ya hyung?"

"Heh?"

Jimin mendongak dan Yoongi tersentak kaget. Karena mata Jimin agak berair dan wajahnya sangat memerah. Yoongi jadi merasa bersalah karena sudah membentak Jimin. "Padahal aku sudah susah payah mencarikan sesuatu yang bagus untukmu. Aku bahkan bertanya pada kakakmu juga teman-temanmu. Aku pikir ini adalah hadiah yang cocok untukmu."

Mata mereka bertatapan, napas Yoongi sudah teratur tidak seperti tadi. "Kau tahu kenapa aku membelikanmu sweater pink? Karena warna Pink itu menunjukan sesuatu yang manis. Dan bagiku kaulah sesuatu yang manis itu. Melihat warna Pink mengingatkanku padamu hyung. Wajahmu yang memerah lucu ketika bergembira. Bibirmu yang mengerucut menggemaskan ketika kesal. Tidak ada hal manis selain dirimu hyung."

Yoongi terenyuh, rasa bersalahnya semakin besar pada Jimin. Apakah tadi Yoongi baru saja menyakiti hati kekasihnya? Yoongi mencoba meraih tangan Jimin namun pria itu malah menarik tangannya sendiri. Sesuatu didalam hati Yoongi berdenyut sakit melihat penolakan Jimin.

"Maafkan aku Jimin. Aku, aku tidak tahu kalau kau sudah bersusah payah memberikanku ini."

"Tidak apa hyung. Kalau kau tidak menyukai sweaternya, kau bisa membuangnya."

Mata Yoongi membesar, "Apa?! Tidak, aku tidak akan membuangnya!"

"Jangan paksakan dirimu hyung,"

"Aku tidak terpaksa Jimin! Dengar, aku mungkin tidak suka dengan warna Pink. Tapi ini adalah sesuatu yang berharga darimu. Aku tidak mungkin membuang cinta darimu."

"Membuang cinta?"

"Iya. Membuang sesuatu darimu sama saja dengan membuang cintamu untukku." Yoongi bersemu merah. Lalu ia memakai sweater dari Jimin dihadapannya. Jimin tersenyum, tidak menyangka Yoongi akan memakai sweater pink itu. Dan benar kata Jungkook, Yoongi terlihat semakin manis dengan warna Pink.

"Astaga Yoongi hyung, kau sungguh manis dan menggemaskan. Aku rasanya ingin menculikmu ke kamarku."

Wajah Yoongi semakin memerah, sial sekali si Jimin ini dengan semua kata-kata gombalnya. "Tapi ini kekecilan," Yoongi mengangkat tangannya dan ujung lengan sweater itu ikut terangkat hingga ¾ dari lengannya.

"Hehehe, maaf hyung aku tidak tahu. Tapi kau semakin menggemaskan."

Jimin mengangkat tubuh Yoongi dan memutarnya diudara. Yoongi kini tidak lagi mempermasalahkan warna Pink dan sweaternya yang kekecilan. Karena bagi Yoongi, apapun itu yang diberikan dari orang terkasihmu. Itu sama saja dengan cinta. Karena Jimin tidak akan mau memberikan sesuatu pada Yoongi jika ia tidak mencintai Yoongi, kan.

"Terima kasih Jimin. Aku mencintaimu,"

"Sama-sama hyung. Dan aku lebih mencintaimu."

The end

.

.

.

Coba sebutkan ada berapa kata Pink dicerita ini? :D

.

.

.

.

.

.

.

.

.

I have something. Do you want to? Do You?