Dibawah hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Oneshot | boys love | Ficlet

.

.

.

.

.

Another story from naranari

.

.

.

.

I own this story!

Jika kalian tertarik dengan cerita saya, hubungi saya

Jangan jadi seorang plagiat

.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul 13.25, tapi Yoongi masih tertahan dihalte bus tak jauh dari rumahnya. Kemarin kekasih bocahnya Park Jimin berjanji akan mengajak makan siang bersama direstoran langganan mereka berdua. Mengingatnya membuat Yoongi senang, sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali mereka berkencan. Ini dikarenakan kesibukan Jimin yang sudah mendekati ujian sekolah. Kekasihnya itu jadi lebih sering menghabiskan waktunya di sekolah dan perpustakaan umum.

Kebiasaan sekali Park Jimin ini yang selalu membuat Yoongi menunggu, memangnya enak kalau disuruh menunggu, hah. Pacarnya itu memang tidak peka sama sekali. Dasar lelaki! O-oh, Yoongi baru ingat, dia kan juga lelaki.

Sepuluh menit dari waktu sebelumnya sudah Yoongi menunggu. Sebenarnya Jimin sedang dimana sih, dengan siapa, dan lagi apa. Bikin Yoongi geregetan ingin gigit saja!

Lama menunggu akhirnya Yoongi memutuskan untuk langsung menuju restoran itu saja, sekalian nyemil dan numpang wifi gratis; kan lumayan. Tapi baru beberapa langkah suara nyaring khas Jimin terdengar, memanggil namanya. Yoongi berhenti dan berbalik dengan malas, rasa kesalnya tiba-tiba muncul.

"Lama sekali sih!"

"Maaf hyung," kata Jimin dengan napas memburu. Yoongi buru-buru mengeluarkan tisu dari dalam tasnya kemudian mulai mengelap wajah Jimin yang berkeringat. "Aku sampai kepanasan nih nungguin."

"Iya, iya. Maaf deh, habis tadi aku ada panggilan mendadak."

"Panggilan apa?" Yoongi membuang tisu itu ketempat sampah terdekat, "Panggilan alam." Jawab Jimin. Kening Yoongi mengkerut, "Maksudnya?" Jimin mendekat dan membisikan Yoongi, setelahnya wajah Yoongi menunjukkan bahwa ia terganggu.

"Dasar jorok!" teriak Yoongi sambil memukul perut Jimin dan meninggalkannya begitu saja. Sedangkan Jimin masih tertawa bahagia.

"Hyung, tunggu dong."

.

.

.

.

Jimin menuangkan saus ke atas mangkuk kecil juga mayonesnya. Dia menata semua makanan yang ada, memotong lasagna gulung dan menambahkan sedikit saus tomat pada spageti. Sedangkan Yoongi disampingnya hanya duduk diam dan matanya tidak pernah lepas dari layar ponsel. Rupanya dia masih ngambek sama Jimin.

"Nah sudah selesai, hyung. Ayo dimakan."

Yoongi langsung mengambil garpu dan mengambil potongan lasagna. Jimin hanya menatapanya tidak percaya, bahkan setelah semua yang sudah Jimin lakukan (mengajaknya makan lasagna kesukaan Yoongi dan menyiapkannya) kekasihnya itu masih saja marah.

Jimin menggulung spagetinya membawanya kedalam mulut namun dengan mata yang tetap memerhatikan Yoongi. Pria manis itu bahkan tidak lepas dari ponsel, Jimin jadi merasa sedang makan sendirian. Spagetinya keburu dingin karena Jimin sudah tidak lagi berniat memakannya.

Harus dengan cara apa agar Yoongi-nya tidak ngambek lagi?

Lalu Jimin melihat Yoongi yang kesusahan mengambil potongan lasagna karena tangannya memegang ponsel. Dia berinisiatif mengambil garpu Yoongi, "Biar kusuapi ya hyung."

Yoongi hanya bergumam dan membiarkan Jimin mulai menyuapinya. Kadang-kadang Yoongi merasa Jimin sedang bermodus, dia sengaja mengelap bibir Yoongi yang bahkan Yoongi tidak merasa ada sesuatu yang tertinggal disana. Biarkanlah, Jimin sering kok modus dengannya.

Jimin menghela napasnya merasa sangat-sangat bosan, tentu saja karena Yoongi yang cuek padanya. Ugh, geregetan Jimin jadinya. Lalu mata Jimin melihat kening bercahaya milik Yoongi, salah satu bagian dari tubuh Yoongi yang membuatnya jatuh hati. Yang setiap saat ingin sekali Jimin menaruh bibirnya diatasnya.

Dan sebuah ide muncul.

Dengan cara ini pasti Yoongi tidak akan ngembek lagi. Jimin yakin itu.

Yoongi menerima suapan dari Jimin, dia membuka mulutnya dan memakan lasagna itu. Matanya masih menatap layar ponsel tanpa menengok sedikit pun pada Jimin. Suapan selanjutnya Jimin agak bermain dengannya; dia sengaja menjauhkan tangannya ketika Yoongi sudah siap membuka mulutnya. Yoongi menggerutu sebal, Jimin tertawa senang. Dan selanjutnya Yoongi benar-benar dibuat tercenang olehnya; Jimin kembali menjauhkan tangannya saat dia akan menerima suapan. Kepala Yoongi tanpa sadar mengikuti tangan Jimin yang menjauh, lalu secara sangat sadar Yoongi merasakan kalau keningnya dikecup oleh Jimin.

Ugh, tadi Jimin mencium keningnya?

Jimin modus lagi nih ceritanya?!

"Jimin!" Yoongi merengek sebal. Merasa malu karena sudah digoda oleh pacarnya. Sedangkan Jimin masih saja tertawa, tangannya terangkat untuk mengelus puncak kepala Yoongi. Menimbulkan semburat merah muda lucu dipipinya.

Tuh kan benar. Yoongi pasti tidak akan ngambek lagi. Pacarnya bisa diluluhkan dengan hal-hal manis. Dan Jimin bisa sekalian mencuri satu ciuman dikeningnya.

"Makanya hyung jangan cemberut mulu. Masih untung keningnya yang aku cium, kalau bibirnya bagaimana?"

"Argh, itu sih kau yang kepengen."

FIN

.

.

.

.

Aku berencana mau menamatkan shortfict ini, benar-benar tamat. Mungkin satu atau dua chapter lagi, ya?

Ini terinspirasi. Beneran deh xD

Dan makasih buat yang udah repot-repot bawain lasagna. Tau aja kaki aku lagi sakit :p