Dibawah hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Oneshot | boys love | Ficlet

.

.

.

.

.

Another story from naranari

.

.

.

.

I own this story!

Jangan jadi seorang plagiat

.

.

.

.

Hujan di musim panas memang bukan hal yang menyenangkan. Udara yang sudah lembab akan semakin lembab, membuat kulit jadi lengket. Memang sih hawanya jadi segar tapi tetap saja Yoongi tidak menyukainya. Dan musim panas kali ini dia sudah beberapa kali terjebak di tengah hujan yang deras.

Aktifitasnya yang sudah berkurang karena sudah tidak bersekolah lagi ditambah hujan yang terus mengguyur membuat Yoongi bosan setengah mati. Dia jadi tidak bisa pergi ke lapangan depan rumahnya untuk bermain basket. Juga tidak bisa membeli ddokbokki kesukaannya. Pokoknya semua jadwalnya berantakan gara-gara hujan yang turun.

"Bosen ah di rumah terus."

Ini sudah yang ketujuh kali Yoongi membolak-balikan badannya di atas ranjang. Seprainya sudah berantakan. Sementara hujan masih turun diluar sana, Yoongi beranjak dari ranjangnya menuju meja belajarnya. Di sana ada sebuah rubik milik Jimin yang tertinggal di kamarnya. Yoongi mengambil rubik itu dan memutarnya ditangan. Dia tidak bisa bermain rubik sebenarnya tapi selalu penasaran kalau Jimin sudah memainkannya.

Uh, Jimin ya. Pacarnya yang sekarang sudah sibuk karena mau mengikuti ujian nasional. Sudah seminggu sepertinya Yoongi belum bertemu kembali dengan Jimin. Kangennya tuh sudah maksimal banget. Mana paket internet Yoongi habis pula, jadilah dia tidak bisa BBM-an sama Jimin.

"Jimin mah kalau tidak dihubungin duluan gak bakal ngehubungin. Kesel deh,"

Yoongi melempar rubik Jimin ke atas meja, lalu dia kembali ke ranjang. Mau tidur siang tapi Yoongi belum mengantuk sama sekali. Duh, hari ini dia serba salah banget deh kayak judul lagu.

Ibu Yoongi kemudian masuk ke dalam dengan membawa segelas coklat panas. "Kenapa sih anaknya ibu yang paling putih ini?" Yoongi bangun dan menerima gelas dari ibunya. "Bosen bu di rumah terus. Mau jalan tapi hujan."

Ibu Yoongi tertawa pelan, "Lagian ibu suruh masuk universitas enggak mau. Maunya bareng Jimin."

"Hehehe," Yoongi hanya terkekeh. Setelah susunya habis, ibu Yoongi kembali ke dapur dan Yoongi mengikutinya dari belakang. Hari sudah menjelang sore dan biasanya ibunya akan memasak untuk makan malam. Daripada tidak punya kerjaan lebih baik Yoongi membantu ibunya di dapur, kan.

Tapi yang dimaksud membantu ibu versi Yoongi adalah; melihat ibunya memasak dari meja makan. Sesekali Yoongi juga bertanya tentang bumbu atau sayuran yang sedang ibunya iris. "Katanya mau bantuin, kok malah duduk saja."

"Aku bantuin doa, Bu."

"Terserah."

Lalu dering telpon ponsel Yoongi terdengar. Dia merogoh kantung celananya. Ada Jimin yang memanggilnya, Yoongi beranjak ke ruang tengah dan mengangkat panggilan Jimin. "Halo Jimin. Kemana saja sih baru nelpon!"

"Maaf hyung~ aku baru punya pulsa, hehehe. Hyung juga tumben gak BBM lagi."

"Malas ih,"

"Hyung, aku kangen. Pake banget."

Ugh, Yoongi butuh sesuatu untuk dia gigit. Dari kata-kata dan nada bicaranya Jimin, Yoongi merasa gemas sekali. Kalau Jimin ada di depannya saat ini, sudah pasti Yoongi akan gigit Jimin saat itu juga.

"Gombal mulu ah. Nanti aku telepon lagi, ya. Sampai jumpa."

"Bye~ pacarku yang manis."

Yoongi menutup teleponnya dengan wajah memerah dan bibir yang mengulum senyum. Kalau sudah begini moodnya bisa naik drastis. Park Jimin, pacarnya yang bodoh itu selalu bisa membuatnya tersipu, walau kadang gombalannya kurang mutu. Tapi tetap saja, Jimin adalah cintanya yang cuma satu.

.

.

.

.

.

Ternyata malamnya Yoongi tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Dia sudah coba mengsms Jimin. Tapi pacarnya bilang dia masih belajar. Yoongi hanya berbaring semalaman dikasur. Udara cukup dingin karena siang tadi hujan turun deras sekali. Akhirnya Yoongi membuka laptopnya. Menyalakan jaringan WiFi dan memulai aktifitasnya didunia maya.

"Aku mau nonton Superman Retuns, ah. Mau liat si triplet!"

Karena keasikan menonton Yoongi sampai tidak sadar kalau ini sudah lewat dari tengah malam. Rumahnya mulai sepi dan gelap, ditambah hawa dingin yang menusuk menambah suasana suram kamarnya. Yoongi jadi ingat saat Jimin menginap di rumahnya dan Pak Jang bercerita tentang rumahnya yang berhantu. Sekarang Yoongi jadi takut sendiri.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring dan Yoongi benar-benar dibuat terkejut oleh si penelepon. Park Jimin, pacarnya yang—katanya—keren. "Kau mengangetkanku bodoh!"

"Loh, kenapa baru ditelepon sudah diomelin sih, hyung."

"Aku kaget karena kau meneleponku!"

"Iya deh maaf~"

Yoongi mengganti posisi berbaringnya menjadi terlentang. Ponselnya dia taruh ditelinga kanannya. "Hyung, tumben belum tidur?"

"Hu'um. Aku bosan di rumah jadi terkena insomnia deh."

"Bilang saja kalau kangen sama aku. Iya kan?"

"Park Jimin, percaya diri sekali."

"Mau aku nyanyiin biar bisa tidur?"

"Nyanyi terus bisanya,"

"Hemm, yang lain deh kalau begitu."

"Apa?"

Sepuluh detik mereka terdiam. Yoongi masih menunggu Jimin untuk bersuara lagi.

"Hyung, kakimu kenapa?"

Yoongi menyerngit, "Tidak kenapa-kenapa."

"Bisa jalan tidak?"

"Bisa,"

"Ya sudah kapan?"

"Park Jimin! Asdfghjkl!"

Jimin disebrang telpon sana tertawa girang, padahal Yoongi di sini sudah memerah karena gombalan tidak mutunya yang sialnya membuat dia merona.

"Hyung, untung mimpi itu gratis ya."

"Memangnya kenapa kalau bayar?"

"Aku bisa mendadak miskin karena setiap malam mimpiin hyung terus."

"Jimin!"

.

.

.

.

"Hyung,"

"Apa lagi?"

"Aku tidak bisa bikin nasi goreng kimchi nih,"

"Hah, masa nasi goreng saja tidak bisa bikin?"

"Tapi kalau bikin hyung bahagia sih aku jagonya."

"Uuh~ Park Jimin~"

.

.

.

.

"Hyung, main tebak-tebakan yuk."

Sebenarnya Yoongi sudah malas meladeni Jimin dan gombalan tidak mutunya itu. Tapi dia merasa sedikit terhibur oleh Jimin.

"Ayo, apa?"

"Hyung jawab ssetiap ucapanku, ya"

"Oke!"

"Tok! Tok!"

"Siapa?"

"Marry,"

"Marry siapa?"

"Marry you!"

Dan malam ini jadi malam paling panjang untuk Yoongi. Dtemani dengan Jimin dan segudang gombalan andalannya yang tidak pernah habis.

The end

.

.

.