Dibawah hujan | Jimin. Yoongi | Romance | Boy's Love | Oneshot | Ficlet
.
.
.
.
.
.
.
Another oneshot from naranari. Check this out. Enjoy the story
.
.
.
.
Untuk ceritaku yang belum selesai aku harap kalian ga nunggu ya karena kasihan kalau ditungguin tapi ga update-update :"D
Tapi nanti giliran update jangan sampe pada lupa sama aku dan ceritaku ya :"D
Ini aku kasih persembahan spesial (cielah) dari Jimin dan Yoongi.
Sampai jumpa lagi kawan-kawan
luvja
.
.
.
.
…
Jimin membuka kotak pos yang berada di atas pagar rumahnya setelah melihat ada tukang pos yang datang. Jarang sekali keluarga Park ini mendapatkan kiriman surat karena biasanya mereka akan mendapatkan email. Keadaan rumah Jimin masih sepi karena sebagian penghuni rumah masih mendengkur di atas ranjang mereka. Hanya Jimin yang sudah membuka mata bahkan ketika matahari belum menampakkan dirinya.
Belum pernah Jimin merasa sangat heboh seperti ini. Dia rela bangun pagi dihari libur hanya untuk menerima surat. Dengan senyum sumringah Jimin membawa surat itu ke dalam. Jimin sangat tidak sabar ingin membaca isinya. Dia langsung membuka amplop suratnya yang berwarna coklat dengan merobeknya.
Matanya berjalan dari kiri ke kanan membaca tiap huruf. Bibirnya bergumam kecil seiring dengan tulisan yang dia baca. Dan matanya langsung membelalak lebar saat tulisan LULUS ditulis besar-besar ditengah halaman surat.
"Yeay! Aku lulus! Wohoo!"
Jimin mengepalkan tangan ke udara dan dia melompat bahagia. Dirinya dinyatakan lulus dari sekolahnya setelah berhasil melewati ujian yang membuat kepalanya pusing tujuh keliling. "Ibu! Ayah! Bangun! Lihat, anakmu yang keren ini lulus sekolah!"
"Jimin berisik!"
Ibunya sudah lebih dulu turun ke bawah setelah mendengar teriakan yang memekakan telinga. Dan mendapati Jimin yang sedang menari tidak jelas ditengah ruangan malah membuat ibunya semakin pening.
"Jangan joget seperti itu, kau bisa disangka kesurupan."
Jimin menghampiri ibunya sambil mengacungkan surat tadi. "Lihat bu, aku lulus!"
"Ibu dengar tadi,"
"Hebat kan aku."
Ibunya membaca isi surat itu lalu tersenyum dan menepuk kepala anaknya. "Hebat juga kau bisa lulus." Mendengar itu wajah Jimin jadi cemberut. Apa ibunya tidak senang kalau dia bisa lulus? Ibu seperti apa ibunya Jimin ini?
"Seperti janji ibu dan ayah, saat kau lulus kami akan mengadakan…"
"Tidak, bu."
"Hah?!"
"Aku tidak mau pesta perayaan kelulusan."
"Lalu kau mau meminta apa?"
"Aku mau…"
.
.
.
.
Yoongi mengerang kesal karena tidur cantiknya diganggu oleh suara dering ponsel yang berbunyi. Siapapun tahu kalau makhluk ciptaan Tuhan yang paling seksi—ekhem, manis ini paling benci kalau tidurnya diganggu. Itu sama saja menganggu macan betina yang sedang istirahat. Oke, Yoongi bingung kenapa perumpaan dirinya ini malah seperti wanita.
Dia menjulurkan tangannya kesamping dan menemukan ponselnya. Matanya menyipit lucu membaca nama si penelepon. Pacarnya Yoongi. Oh, itu si Jimin. Dengan malas dia menekan tombol hijau dan menjawab panggilannya.
"Hemm,"
"Pagi cantik. Gimana sudah mimpiin aku belum? Kalau belum tidur lagi sana."
"Ya sudah aku tidur lagi, ya."
"Eh, jangan hyung. Aku kan baru saja menelepon."
"Ngapain sih nelepon pagi-pagi? Tumben punya pulsa,"
"Hyung bisa saja bikin aku malu."
"Ergh, sinting."
Yoongi hampir saja memantikan sambungannya tapi suara cempreng Jimin disebrang sana meminta untuk tidak dimatikan. "Apa lagi! Aku masih ngantuk, nih."
"Yoongi hyung, aku lulus!"
"Siapa?"
"Aku,"
"Yang nanya."
.
.
Yoongi sudah mandi dan wangi sekarang. Setelah tadi menertawakan Jimin habis-habisan ditelepon dan mengucapkan selamat karena kekasih bocahnya itu sudah lulus sekolah. Sekarang dia ada janji dengan Jimin. Janji makan malam. Kalau kata Jimin, candlelight dinner.
Sok inggris.
Setelah semuanya siap, Yoongi segera turun ke bawah. Dia bertemu kakak laki-lakinya yang baru saja pulang dari bulan madu. Maklum, pengantin baru. Masih wangi.
"Hyung, aku pergi dulu dengan Jimin."
"Heem, hati-hati di jalan ya."
Yoongi juga berpamitan dengan kakak iparnya. Lalu dia segera menuju halte bus di depan. Jimin bilang Yoongi harus datang sendiri ke tempat yang sudah mereka janjikan. Katanya sih biar surprise, jadilah Yoongi mengikuti apa yang kekasihnya minta. Sekali-kali tidak apa kan Yoongi yang mengalah. Lagipula hari ini pasti hari terbahagia Jimin. Jadi Yoongi tidak ingin merusaknya.
Tigapuluh lima menit kemudian Yoongi sudah sampai di tempat mereka. Ternyata itu adalah halaman belakang sekolah mereka yang jarang dilewati. Yoongi saja baru tahu tempat ini. Dia tidak melihat ada Jimin di sana, kepalanya terjulur mencari keberadaan kekasihnya.
"Ish, mana tuh bocah. Katanya janji jam empat tapi dia yang telat."
Lalu dia melihat ada sebuah bendera kecil berwarna pink. Yoongi menyipitkan matanya kemudian berjalan mendekat kearah bendera itu. Ternyata ada tulisan would di atas benderanya. Yoongi jadi mikir keras, bukan untuk mengetahui apa yang dimaksud oleh si pengirim bendera. Tapi lebih pada arti dari kata would itu sendiri. Maklum saja, Yoongi itu agak alergi sama yang berbau inggris meski sekarang dia sudah agak sedikit lancar berbicara bahasa inggris.
"Pakai google translate deh," Yoongi mengeluarkan ponselnya lalu mulai mengartikan kata itu melalui mesin penerjemah. Untung ponselnya pintar, jadi dia tidak harus berpusing-pusing ria memikirkan artinya. Dia manggut-manggut setelahnya kemudian kembali berjalan.
Oh, Yoongi baru menyadari ada seutas benang berwarna merah yang terikat diujung kayu bendera itu. setelah diteliti lagi ternyata benangnya masih menyambung panjang. Akhirnya Yoongi mengikuti kemana benang itu terurai.
.
.
.
Yoongi melewati jalan setapak dari belakang sekolahnya menuju sebuah kolam air pancur kecil. Ada bendera pink lagi disana. Yoongi jadi berpikir kenapa dirinya selalu menemukan benda-benda berwarna khas anak gadis tersebut.
Kali ini tulisan diatas benderanya berbunyi you. Nah, kalau ini Yoongi tahu artinya. Dan benang merah masih tersambung di sana. Yoongi sebenarnya tidak mengerti dengan ini semua dan semakin tidak mengerti lagi karena dia mau saja mengikuti benang ini dan juga bendera-bendera ini.
"Jimin benar-benar belum datang, ya?!"
Yoongi memutuskan untuk melanjutkan lagi perjalanannya. Masih dengan ditemani oleh benang merah tersebut. Tak lama Yoongi telah sampai pada gerbang sebuah gereja. Mulut Yoongi menganga karena di atas gerbang tersebut ada balon-balon berbetuk huruf M-A-R-R-Y. Yoongi mengerjap sekali, dia membawa bendera-bendera yang sebelumnya telah ia temukan. Lalu menyusun kata-kata tersebut. Would you marry. Ia menutup mulutnya sendiri, merasa sangat terkejut dengan semua hal ini. Tapi siapa orang yang sudah membuat ini semua?
Kemudian ada seorang anak kecil perempuan yang memakai dress berwarna putih dan membawa sebuket bunga mendekat pada Yoongi. Dia berdiri di depan Yoongi dan menyerahkan buket bunga tersebut. Yoongi yang masih tidak mengerti, menerima buket bunga dari tangan si anak kecil.
"Oppa, temuilah pangeranmu di dalam."
Yoongi tersenyum dan mengelus rambut halus anak itu. Dia segera menuju ke dalam gereja. Ketika membuka gerbangnya, dia melihat banyak sekali balon-balon berwarna pink dan putih. Juga rangkaian bunga-bunga yang Yoongi tidak tahu namanya. Jalan setapak menuju pintu gereja juga digelar karpet merah.
Persis seperti resepsi pernikahan asli.
Dan yang lebih mengejutkan ternyata keluarga Jimin dan keluarganya, teman-temannya juga teman-teman Jimin ada di sana, meski tidak semuanya. Yoongi merasa gugup, malu sekaligus terharu. Apa Jimin yang sudah menyiapkan ini semua? Lalu ibu Jimin datang menghampiri. Dia memeluk Yoongi dan mengelus punggungnya.
"Aku merestui kalian berdua, sayang. Berbahagialah."
Yoongi ingin menangis tapi rasanya itu akan merusak suasana bahagia seperti ini. Maka dari itu Yoongi sekeras tenaga menahan air matanya. Perlahan Yoongi mulai berjalan menuju pintu gereja. Langkahnya sangat pelan dan gugup. Apa yang harus dia lakukan jika sudah sampai dalam?
Pintu gereja kemudian terbuka, menampilkan sosok Jimin yang sedang berdiri di tengah. Menggenggam sebuah kertas bertuliskan me. Mereka bertemu tatap dan tersenyum, Jimin datang menghampiri Yoongi yang masih terdiam di tempat.
"Jimin, ini…"
"Hyung, would you marry me?"
Jimin menggenggam tangan Yoongi seraya berlutut di depannya. Sikapnya sangat gentle sekali, berbeda dengan kesehariannya. Bibir Yoongi bergetar dan dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Dengan senyuman manis Yoongi mengangguk. Jimin segera berdiri dan mencium bibir Yoongi. Lalu dia menyematkan cincin perak yang simple dan manis ke jari Yoongi.
"Nah, kalau begini kan kau semakin cantik hyung. Karena cuma aku yang bisa miliki hyung seutuhnya."
Yoongi cemberut meski wajahnya menampilkan rona merah muda samar. Jimin terkekeh gemas dan bersiap ingin mencium Yoongi lagi. Tapi tangan Yoongi malah menahan wajah Jimin. "Dasar bocah! Baru juga lulus sekolah sudah berani melamar anak orang? Emang yakin bakal bisa bahagiain?"
"Ugh, hyung tangannya minggir dulu dari wajahku."
Yoongi menyingkirkan tangannya. Dia menatap gemas pada Jimin dan siap meninjunya. "Aku kan cinta mati sama hyung. Aku tidak mau Yoongi hyung dimiliki sama yang lain makanya hyung cepat-cepat aku lamar. Dan soal ke depannya hyung tidak usah merasa khawatir. Karena aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku akan berusaha keras untuk dapat mewujudkan impianku dan membahagiakanmu, hyung. Lagipula kau sudah menerima lamaranku, jadi kau tidak bisa membatalkannya lagi."
"Ish, dasar sinting!"
"Tapi cinta kan~"
"Iya, iya cinta!"
Jimin tertawa bahagia dan memeluk Yoongi. Membawa tubuh kekasihnya ke udara dan memutarnya. Yoongi juga ikut tertawa bahagia. Ternyata Jimin tidak seperti bocah-bocah yang lainnya. Dia akan menjadi dewasa pada keadaan tertentu. Jimin yang selalu ada saat Yoongi butuh. Jimin yang selalu siap menjadi pelampiasan jika Yoongi dalam keadaan mood yang paling buruk. Jimin yang selalu menggombalinya.
Dan Jimin yang selalu mencintainya dalam keadaan apapun. Tidak pernah menyerah untuk memperjuangkan cintanya. Hingga akhirnya cintanya membawa pada jodohnya. Jimin sangat yakin dengan takdirnya bersama Yoongi. Dan dia yakin ini merupakan awal dari perjalanan cintanya.
The 'real' end
.
.
.
.
.
Nah kalo emang udah jodoh, halalin aja buruan. Daripada ditikung yang lain. Hahahaha.
Jimin juga nih, halalin aja Yoongi daripada ditikung gue kan ya /kaga/
Oke. Selesai dengan happy ending. JANGAN MINTA SEKUEL.
Udah aku peringatin dari awal hahahaha
Sampai jumpa di cerita-cerita Yoongi- Jimin selanjutnya.
Saranghaeyo~~
