Author's Note:
Kompi rusak.... dua hari dua malam tertunda buat memposting fic ini... T-T
Review Reply!
Minna-san : Gomen banyak typo kemarin, udah saya perbaiki sih... Tempo hari ngetiknya dikejar-kejar waktu, maklum, kompi di rumah saya lebih sibuk dari saya sendiri... Dan waktu itu saya udah mau diusir... =__=
Alluka Niero : Senpai musti semangat!! Semangat! Challenge kan bukan segalanya... yang penting fic-nya!
ArdhaN : Arigato...! XD Iya, typonya udah diperbaiki! ^^
Aoi No Tsuki : Biar pendek yang penting keren! XD -dichidori-
Chatryne Bhrysaisz : Arigato teme! Kalo kamu mau dipanggil Chibi-Itachi saya siap kok!
Sefa-Sama : Tenang, sekali-kali femNaru nggak pa-pa kan? Saya tetap cinta SasuNaru yang asli!
Nazuki. Kyouru : Iya mama...! *hug* Saya memang lebih cocok di fluff... tapi rasa-rasanya saya sudah kehilangan bakat fluff saya... =__= Kalau dibandingkan dengan fic-fic sebelumnya fic ini... *speechless*
dilia shiraishi : Kayakya fic ini juga nggak berasa fluffy deh... *ikut pundung di pojokan* Hah? Bikin chibiSaskayNaru juga? Berarti kita sama-sama pedofil... -dilempar- Bikin aja! XD Temanya dapet? Syukurlah...
Lovely Lucifer : Arigato...! XD
Kosuke Maeda : Begitukah? Syukurlah! Chapter di fic ini memang lebih pendek dari yang biasa saya buat, emang ceritanya simpel aja kok... BTW, TPTS itu apa? Jadi penasaran! XD
HakAr4 s1N : Arigato! Udah buka infantrum belum?
Ambudaff : Ambu! *peluk* Telat lebih baik daripada tidak... XD Ini lanjutannya Ambu!
Disclaimer:
I. Do. Not. Own. Naruto. Hhh...
Black and White Challenge
Set White
Theme for this Chapter: Eyes
Pintu rumah berwarna cokelat itu terbuka. Akupun memandang orang yang baru saja membukakan pintu rumahnya untukku, senior yang sangat kuhormati dan kusukai.
"Eh... ngg..." aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
Pemuda itu, Itachi-senpai, tak mengatakan apa-apa. Tapi berada bersamanya selama beberapa minggu membuatku paham apa yang ia katakan lewat mata onyx hitamnya itu.
"Ak-aku datang... untuk bertemu chibi-senpai... ekh!" Aku segera menutup mulutku, menyesali kata-kataku sendiri. Dasar mulut bodoh! Bodoh!
"Chibi?" ia bertanya tanpa ekspresi.
Aku menunjukkan payung biru si Chibi itu sambil berkata,
"Iya... adik Itachi-senpai... Si Su... Sa... Sa..." Akh! Aku tidak ingat namanya! Hhhh... jelaslah. Aku 'kan belum pernah kenalan langsung dengannya? Itachi-senpai saja hanya pernah menyebut namanya sekali...
"...Sasuke?" Ah, sekarang dua kali.
Love Isn't Blind, It Just Only Sees What Matter
-Chapter 2-
Daun pintu berwarna biru tua itu terbuka. Segera setelahnya aku mendapati wajah bocah lelaki yang menolongku kemarin. Ia tidak sempat menyembunyian rasa kejut di matanya saat melihatku.
"Ng... hai?" ucapku.
Ia segera menutup pintunya dengan keras di hadapanku.
"Eh?! Hei!!" Aku mengetuk-ngetuk pintu itu.
"Dia memang begitu. Sudahlah, letakkan saja payungnya di depan pintu." kata Itachi-senpai padaku, sebelum akhirnya ia juga nyelonor masuk ke dalam kamarnya.
Hhhrrrgh... tidak adik, tidak kakak, kelakuannya sama saja!
"Oi, teme! Kalau kau tidak membuka pintumu, payungmu tidak akan kukembalikan!!" seruku di depan pintu itu.
Tak lama, aku mendengar balasan,
"...ambil saja."
Cih. Tidak mempan!
"Buka pintumu! Kalau tidak, akau kupanggil kau CHIBI-TEME-PANTAT BEBEK seumur hidupmu!!" ancamku lagi.
"Ini bukan pantat bebek, usuratonkachi!!" seru anak itu sambil membuka pintunya.
Seringaian jahil langsung terukir di bibirku. Aku menang.
"Biarkan aku masuk, teme." ucapku sambil menyelipkan kakiku di antara daun pintu dan bingkai pintunya, agar ia tidak bisa menutup pintu seenaknya lagi. Tanpa berkata-kata, bocah ini membuka pintu kamarnya agar aku bisa masuk. Sambil tersenyum manis, akupun melangkah masuk ke dalam kamarnya.
Untuk ukuran anak lelaki, aku tahu persis kamar ini sangat rapi. Semua perabotannya tertata baik. Barang-barangnya tidak berhamburan. Kasurnya, yang berlapis bedcover berwarna biru muda, tampak rapi seperti belum ditiduri. (Ini hanya tebakanku saja, tapi, apa dia benar-benar suka biru ya?) Pintu kaca balkonnya terbuka lebar, membuat tirai berwarna putih halus itu terus begerak ditiup angin. Aku juga mendapati sebuah meja bulat dan rendah berwarna cokelat yang berada di atas karpet putih. Di atas meja itu tampak beberapa buku yang terbuka. Ah, dia sedang mengerjakan PR rupanya...
"Kenapa tidak diletakkan di depan pintu saja, sih?" protesnya sambil duduk di atas karpet putih, tepat di sisi meja bulat itu. Akupun mengekorinya dan duduk di sisi meja yang berlawanan.
"Aku mau berterimakasih dulu, tahu. Dan bukan begitu caranya berterimakasih," kataku.
"Oh ya?" balasnya sambil menyeringai, "Lalu, apa mengejek dan mengancam di depan pintu kamar orang yang meminjamkanmu payung adalah cara yang baik?"
"Membanting pintu di depan tamu dan kakakmu juga bukan hal yang sopan, teme." balasku, "Lagipula, aku ini lebih tua darimu, tidak bisakah kau memanggilku lebih sopan?"
Ia terdiam sejenak, seringainya juga hilang. Aku tidak tahu kenapa, tapi sekilas, bisa kurasakan ada kecewa yang terpancar dari sinar matanya.
"...kau tidak pantas untuk kupanggil dengan cara hormat, dobe." Itulah balasannya.
Darahku jadi mendidih.
"Sudah kubilang jangan panggil aku dobe, teme!! Kau benar-benar TEME!"
"Hn. Dan sikapmu mengisyaratkan bahwa kau benar-benar dobe."
Aku terdiam.
Kesabaranku habis.
Tahu apa dia? Kami baru juga bicara sejak kemarin, dan dia sudah seenaknya memanggilku dobe. Tidak cukupkah aku dicela dan dihina oleh teman-teman sekelasku? Haruskah harga diriku diinjak-injak juga oleh anak lelaki yang baru berbicara denganku kemarin?
Aku berusaha sebisa mungkin mengendalikan perasaanku agar air mata tidak memenuhi mataku. Akupun bangkit dari dudukku.
"Aku pulang," kataku dingin tanpa menatap wajah anak itu.
Aku bangkit dari dudukku dan bersiap untuk pergi. Tapi, belum juga aku berhasil melangkah, tanganku digenggam erat olehnya. Tak kusangka tangan kecil itu punya kekuatan seperti ini... biar bagaimanapun, ia anak lelaki.
Aku menatapnya tajam dengan mata biruku. Tetap tanpa kata. Semoga saja ia tak melihat cairan bening itu di sana.
Ia hanya balas menatapku, tapi tak mengatakan apa-apa. Aku bisa melihat penyesalan yang tergambar jelas di wajahnya, di matanya. Tapi... ia tetap tidak mengatakan apa-apa. Sebegitu sulitnyakah baginya untuk mengucapkan kata 'maaf'?
Akhirnya ia melepas tangannya dariku, pasrah. Tak lupa ia membuang wajah dariku, menatap pada pintu kaca balkonnya yang terbuka.
Hhhh... dasar anak sombong.
Akupun duduk kembali, meski tak berkata apa-apa.
Pasti aku akan terlihat seperti orang yang plin-plan. Mengatakan akan pergi, tapi malah duduk kembali. Hanya saja... aku merasa kalau aku benar-benar pergi, aku tidak akan bisa berbicara lagi dengan anak ini untuk seterusnya. Dan entah kenapa, aku tidak mau itu terjadi.
Aku memandangi anak lelaki di hadapanku ini. Ia masih menatap pada pintu kaca itu, masih belum berani menatapku. Anak ini... kata-katanya memang tajam. Sikapnya menyebalkan. Tapi... aku tahu ia baik.
Kalau tidak, mana mungkin ia meminjamkan payung padaku dan tidak peduli dirinya sendiri kehujanan?Itu... itu sikap pria dewasa. Pemuda seumurankupun belum tentu mau melakukan itu. Apalagi untuk cewek sepertiku.
Keheningan di antara kami belum juga terpecahkan. Rasa-rasanya aku jadi salah tingkah... cuma aku tetap tidak tahu harus berkata apa!!
Terlebih... kenapa harus salah tingkah pada bocah sekolah dasar begini?
"Hujan," ucapnya pendek, menarikku keluar dari pikiranku.
"Eh?" balasku bingung.
"Di luar hujan," ulang anak itu lagi.
Aku melihat ke luar sana, ke pintu balkonnya yang terbuka. Ya... hujan, hujan deras. Kedua mataku lalu kembali memandang pada anak lelaki ini. Ia tengah memangku dagu dengan telapak tangannya. Kedua mata onyx hitamnya menatap jauh pada hujan. Entah apa yang ia pikirkan sekarang.
Tapi, satu hal yang kuketahui pasti, kini ia tampak begitu mempesona. Begitu dewasa.
Tanpa sadar aku menghela napas.
Andai saja aku lebih muda lima tahun, aku pasti akan membiarkan diriku tergila-gila padanya. Tapi selamanya aku hanya bisa menyukainya saja. Bocah seperti dia... pasti sama saja dengan Itachi-senpai. Mereka terlalu tinggi di atas sana, tak terjangkau. Tak akan pernah terjangkau untuk orang sepertiku
Aku melihat ke pintu itu lagi, mengamati pemandangan sekitar yang mengabur karena kabut. Mengamati ribuan titik air yang jatuh dan membentuk garis-garis putih halus yang membelah udara. Hujannya makin deras... seperti kemarin itu.
Hujan... huj... AH!!!
"Ak-aku tidak bawa payung!" pekikku panik, lebih pada diriku sendiri.
Setelah diam sejenak dengan wajah sinis, bocah ini membalas,
"Dasar dobe."
"T-teme! Mana kutahu akan hujan? Tadi 'kan cerah!" belaku, "Lagipula, memangnya kau tidak tahu bagaimana anehnya melihat orang membawa dua payung sekaligus di hari cerah?!!"
"Hn, terserah, dobe." balas anak itu.
"Teme!" pekikku.
"Dobe," balasnya dingin.
"Teme!!" seruku lagi.
"Dobe," balasnya lagi. Hah, sejak kapan aku terbiasa dengan panggilan ini?!
"Teme, aku tidak tahu mau pulang bagaimana!"
"Bawa saja lagi payungku, dobe."
Aku terdiam sejenak...
"Eh?"
Ia tak membalas. Hanya menatapku dengan kedua bola mata onyx hitamnya yang kini terlihat begitu tenang. Aku tahu ia serius.
"Hhh... aku tidak tahu kalau mengembalikan payung saja begini susahnya..." keluhku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
Ia membalas,
"Kalau tidak mau, pulang saja tanpa payung..." TEGANYA!!
"...atau menunggu sampai hujan reda di kamar aniki." lanjutnya sambil membuang wajah dariku.
Aku tak langsung membalas.
Ada apa lagi ini?
Aku bisa merasakan aura kemarahan terpancar dari dua mata onyxnya. Mungkin ia bisa tetap bicara dengan nada sedingin itu... tapi mata itu... mata itu, mata tak 'kan berbohong. Dan mata itu... marahkah? Atau? Ah, aku tidak tahu.
"Aku tidak mungkin menunggu di kamar Itachi-senpai..." kataku pada akhirnya, "karena aku datang ke sini untuk menemuimu, teme."
Ia tak membalas, akupun melanjutkan.
"Dan kalau aku harus menunggu, itu berarti aku akan terus menunggu di kamarmu sampai hujan reda."
Bibirnya masih terkatup erat. Tapi kedua mata onyx hitam itupun kembali menatapku, mungkin mencari kesungguhan di mata biruku.
Iapun membalas,
"Hn."
...aku tahu persis itu artinya 'ya'.
-
To Be Continued...
-
Words: 1.259
Review...? Kalau nggak keberatan... =)
