Author's Note:
Kenapa susah banget buat buat saya untuk mengetik fanfic? Selalu saja ada halangan... TT^TT
Review Reply
Minna-san: Arigato for d' reviews!! TT^TT Tanpa kalian saya akan benar-benar pasrah membiarkan fic ini terlunta-lunta...
Nadh: Nyehehe... sekali-sekali bikin fic femNaru... saya jarang banget lho, dapat ide buat bikin femNaru... =__=
Niero: Kenapa kehabisan kata-kata...? o_O
Kristi Tamagochi: Yap, anda benar sekaliiii... XD -spoiler?- XP
Teme: Apanya yang mirip sama Rihanna?! DX Paling cuma payungnya doang! Itupun payung Rihanna warna item, tahu!
Nazuki Kyouru: Njah, marah nih dibilang mama...? XP Un... kayaknya sama-sama nyosor... XD Just wait n see! ^^
ArdhaN: Hiya... seperti yang saya bilang, kemampuan fluffy saya melayang entah kemana... =___=
Kakaichi: Chect out my another story, dear! ^^ Saya penggemar SasuNaru asli kok, bukan yang SasufemNaru! Nyehehehe...
Charlotte. d'Chauchemar: Dibanding fic saya yang lain, ini memang kurang Fluff, Cha... T-T Tapi Megu hanya berusaha supaya cinta pedofil ini bisa masuk akal... Rasanya nggak mungkin Naru langsung nyosor sama anak yang baru dikenalnya kemarin... (padahal pengen bikin gitu! XP)
Ryuuka: Yup. Saya dapat gambar yang sama dari photobucket dan amat terinspirasi untuk membuat fic-nya!! XD
lovely lucifer: Sayang, Mendhie... ini nggak seru. T-T Saya benar-benar hanya membuat cerita simpel tentang cinta dengan usia yang 'salah'...
Sefa-sama: Begitukah?? XD Baguslah, Megu kira itu OOC... Saya benar-benar takut untuk membuat 1st POV karena takut OOC. Sangat.
Dillia: Syukurlah...! XD Mana fic SasuNaru-nya? XD
nae-rossi chan: Iya, nggak pa-pa. Umm... kira-kira Itachi suka nggak ya? XD -ditendang- Udah banyak hints-nya lho, say... =)
Uchiha Yuki-chan: Itachi di kamarnya... XP -dilempar- Wait n see, dear... =)
Shizuka Daihyooga: Arigato, Shizuka! =D Maaf Megu nggak sempat rnr fic-nya Shizuka... mengetik fic ini saja saya curi-curi kesempatan... TToTT
Disclaimer:
I do not own Naruto. Kalo iya saya yang punya, saya nggak bakalan pusing ngejar antrean kompi buat nulis fic ini... T-T
Black and White Challenge
Set White
Theme for this Chapter: The Endless and Faraway Sky
Hari sudah sore. Tapi mentari masih enggan untuk menyembunyikan sinarnya. Berbeda dari hari-hari sebelumnya selama beberapa hari terakhir, ia masih terus bersinar gagah, menantang sang langit biru untuk tetap bersama.
Seorang gadis berseragam SMA Konoha, kemeja putih dan rok cokelat bermotif kotak-kotak, berjalan menyusuri koridor kelas sebuah sekolah. Kalau kau pikir itu sekolahnya, kau salah. Mana mungkin ada siswa SMA yang masih sekolah di SD Konoha…?
Setelah melihat sebuah kelas dengan papan tanda 6-1, gadis itu berhenti. Iapun segera membuka pintu kelas itu dengan bersemangat… Err, terlalu bersemangat, sampai-sampai kedua pintu itu terbuka dengan bunyi yang amat keras.
"TEME!!" panggilnya riang, mengejutkan seluruh murid piket yang ada di kelas itu, tak terkecuali si bocah Uchiha. Matanya melebar dan mulutnya hampir menganga, kalau saja ia tidak terlatih untuk tampil dengan wajah stoic-nya itu. Mata biru langit gadis inipun langsung bertemu pandang dengan kedua mata onyx bocah itu. Ia tengah terpaku dengan posisi sedang menghapus papan tulis yang ada di hadapannya.
"Aku membawa payungmu!!" serunya lagi sambil mengangkat payung biru yang terlipat rapi itu.
Sang Uchiha hanya bisa membalas,
"K-k-kenapa kau ada di sini?!!"
Love Isn't Blind, It Just Only Sees What Matter
-Chapter 3-
Awan-awan putih halus berarak, menemani langit dengan setia. Bukan mengkhianatinya dan bahkan menutupi indahnya langit dengan warna abu-abunya seperti kemarin. Di bawah naungan mereka, seorang gadis dan seorang anak lelaki berjalan berdampingan. Angin sore yang sejuk berhembus ke arah mereka. Pepohonan yang berbaris rapi di sisi kiri jalan yang mereka tapaki ikut menari dibelai lembutnya angin. Memang, seharusnya saat ini mereka menikmati indahnya langit musim semi, kalau saja tak ada hujan yang terus membayangi mereka selama beberapa hari terakhir.
"Tidak perlu sampai datang ke sekolahku segala 'kan?!" protes anak itu. Kini, Sasuke dan Naru tengah menyusuri jalan menuju kompleks rumah mereka.
"Sudah kubilang, Teme, aku mau berterimakasih dulu!" Kata gadis berambut pirang ini sambil mengacak-acak rambut hitam bocah yang ada di sebelahnya dengan gemas. Senyuman lebar menghiasi wajahnya, "Sudah dua kali kau meminjamkanku payung… makasih, ya!"
"Mana ada orang yang berterima kasih sambil mengacak-acak rambut orang yang menolongnya?!" protes anak lelaki berbaju biru tua itu sambil menepis tangan Naru.
"Haaabis…" balas gadis dengan kulit warna caramel itu sambil merenggut, "pantat bebekmu ini lucu sih!"
"Sudah berkali-kali kubilang ini bukan pantat bebek, dobe!!" balas anak lelaki itu dengan emosi.
"Hm, iya-iya… Apapun katamu!" balas Naru sambil tersenyum manis.
Sasukepun melangkah lagi di depannya, tanpa menyadari bahwa mata biru langit gadis ini masih terus mengamati rambut hitamnya. Diam-diam gadis itu bertaruh dalam hati, kalau ada bebek yang pantatnya di-cat hitam pasti akan persis dengan rambut Sasuke… pasti!
Narupun mempercepat langkahnya untuk menyusul anak lelaki yang menapak dengan begitu angkuh itu. Wajahnya tak lagi menampakkan emosi… Mode Uchiha's Stoic Face sudah kembali ON di wajah Sasuke.
"Tadinya kupikir kau sudah pulang, lho. Soalnya ini sudah jam 4…" kata Naru memecahkan keheningan mereka, sambil melihat ke jam tangan berwarna oranye terang yang melingkar manis di tangannya. Ya, kalau bukan Itachi-senpai yang memberitahu bahwa hari ini Sasuke piket, Naru tidak mungkin mampir ke sekolah anak itu.
"Memangnya kenapa kalau sudah jam 4?" Tanya Sasuke cuek tanpa menghentikan langkahnya.
"Eh? Soalnya 'kan, untuk anak kecil jam segini…"
"Tidak ada bedanya, dobe," Sasuke memotong jawabannya, ia juga memandang Naru tajam dengan kedua mata onyx hitamnya. Ia tidak suka… ia tidak suka Naru terus-terusan menganggapnya anak-anak, meski memang itu kenyataannya. Iapun melanjutkan lagi, "Bagi anak kecil maupun dewasa, jam 4 tetaplah jam 4. Dan jangan terlalu menyepelekan anak-anak seumurku. Kami tidak sekanak-kanak yang kau kira." Sasuke lalu membuang wajah dari Naruto. Ia mendengus kesal. Mana ada 'anak-anak' yang jatuh cinta pada kekasih kakaknya?
Karena kata-kata Sasuke gadis berkuncir dua itu terdiam, langkahnya bahkan terhenti. Tapi dengan cueknya Sasuke melanjutkan langkahnya, meninggalkan gadis 17 tahun itu di belakangnya. Rona merah menghiasi kulit tan pipi gadis ini. Ia terkesima, terpesona, ter… apapun namanya, pada Sasuke saat ini. Tatapan tajam itu menyebalkan, sikap angkuh itupun sama. Tapi kata-katanya…
Ah, ingin sekali ia melompat ke depan sana dan merengkuh anak itu dalam pelukannya dengan gemas. Tapi ia sendiri belum terlalu mengerti… Entah itu muncul dari murni rasa gemasnya… atau mungkin karena perasaan yang lain yang belum juga ia sadari ini?
Naru melangkah lagi, mengejar langkah Sasuke lagi. Kedua mata birunya tak bisa ia alihkan dari bocah itu. Seulas senyum juga terus terukir di bibir gadis ini. Ya, anak ini memang berbeda dari anak-anak lain. Ia bahkan sangat berbeda dibanding pemuda-pemuda di sekitarnya. Naru yakin, kalau Sasuke seumur dengannya nanti, ia pun akan digilai oleh para gadis seperti sang kakak… pasti. Dan bukannya tidak mungkin Narupun akan ikut jatuh cinta padanya. Diam-diam Naru menghembuskan napas panjang. Sama saja. Kalaupun ada sebuah keajaiban yang membuat Sasuke bisa seumur dengan Naru, cintanya mungkin akan bernasib sama dengan cintanya pada Itachi… tak akan berbalas.
Naru lalu melihat mata onyx Sasuke memandang ke langit sana, hanya sejenak. Membuatnya sempat terpaku lagi. Kalau saja ia tidak terus-terusan mengamati anak itu, ia tidak mungkin melihat pemandangan menakjubkan tadi. Melihat Sasuke mengadah ke langit biru yang tak berbatas itu jauh lebih indah daripada melihat lukisan manapun.
Setelah menghela napas, Naru mencoba tersenyum. Gadis itu sadar, bisa mengobrol dengan Sasuke seperti ini saja sudah amat cukup baginya. Meskipun 'obrolan' mereka memang lebih pantas disebut perang yang kekanakan, Naru tidak bisa memungkiri bahwa Sasuke memang anak yang menarik. Jadi, nikmati saja saat yang ada ini…
"Hari ini cerah ya?" ucap gadis itu, mencoba menebak apa yang dipikirkan Sasuke.
"Hn," balasnya.
"Untung saja cerah. Aku lupa bawa payung lagi, sih!" balas gadis bermata biru itu lagi sambil tersenyum salah tingkah.
"Hn. Dasar dobe," ejek Sasuke.
Berbeda dari biasanya, tak ada pekikan tinggi sebagai balasan di telinga anak itu. Naru tak memprotes atau membalasnya dengan protes seperti yang biasa ia lakukan. Kini ada sesuatu yang lain dalam pikiran Naru. Gadis berambut pirang ini tiba-tiba jadi teringat dengan hari pertamanya berbicara dengan Sasuke. Hari pertama mereka berbicara, di hari hujan yang menyedihkan itu. Ia pun memanggil anak lelaki itu…
"…Teme?"
"Hn," balas anak lelaki itu datar. Kedua tangannya masih masuk dalam saku celananya. Sneakers putihnya juga masih terus menapak di atas jalan yang keras itu dan samar-samar menimbulkan bunyi langkahnya.
"Kenapa… waktu itu kau tidak mau sepayung denganku?" Tanya gadis berambut pirang itu sedikit ragu. Apa Sasuke membencinya? Atau…?
Sasuke tak langsung menjawab, tapi langkahnya terhenti. Ia terdiam sejenak dengan wajah tanpa ekspresinya itu. Naru tidak tahu kalau dibalik wajah stoic itu anak lelaki ini sedang dalam keadaan 'teramat-sangat-panik-sekali' dan tengah berusaha keras mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Naru.
Pada akhirnya, kedua bibir itu pun terbuka…
"…aku tidak mau sepayung denganmu. Nanti dobe-mu menular padaku," jawab Sasuke sekenanya.
"APA?!" balas Naru segera, "Teme!! Mana ada dobe yang menular?!!"
"Hn," balas Sasuke sambil menyeringai, "Kau bahkan baru saja mengakui kau itu dobe, Usuratonkachi."
Naru terpaku sejenak dengan mulut terbuka lebar, sebelum…
"…aaakh! Sialan! Dasar teme!!"
Sasuke sudah tak peduli lagi. Ia melanjutkan langkahnya di atas jalanan beraspal itu, berusaha menenangkan jantungnya. Entah… entah apa yang akan gadis ini katakan kalau ia tahu alasan Sasuke sebenarnya. Entah apa yang akan ia katakan kalau ia tahu perasaan Sasuke kepadanya. Entah apa, Sasuke tidak tahu dan tidak mau tahu. Ketimbang mendapatkan penolakan dan tidak bisa berbicara lagi dengan gadis berambut pirang itu, anak ini memilih untuk diam dan menyembunyikan semua perasaannya itu dibalik wajah stoic dan ejekannya.
"Teme!" panggil Naru, yang kini telah ada di sisinya setelah mengejar langkahnya lagi, "Aku boleh ke rumahmu?"
"…hari ini aniki ada latihan di klub kendonya, jadi dia tidak akan pulang sampai malam nanti. Kau tidak tahu?" balas Sasuke sambil menatap tepat ke mata biru Naru. Sedikit rasa tidak suka terpancar lewat matanya.
"Eh?" balas Naru bingung.
Ia belum punya petunjuk untuk mengetahui apa maksud kalimat itu. Tapi, tak ada balasan dari Sasuke. Gadis inipun mencoba mencerna apa maksud dari kalimat Sasuke, tanpa lupa untuk tetap berada di sisinya dan memperhatikan ekspresi anak itu. Ah… ia paham sekarang. Ini… tatapan ini, sama seperti kemarin. Ini tatapan yang sama persis dengan tatapan anak itu saat ia menyuruh Naru menunggu di kamar Itachi.
Sasuke pun membuang wajah dari gadis berseragam SMA itu dan kembali menatap ke depan sana. Kembali melangkah tanpa kata.
"Kalau itu sih aku juga tahu. Aku bukan datang untuk mengunjungi Itachi-senpai, teme," katanya lembut, kakinya juga sudah mulai melangkah mengikuti anak berkulit putih itu, "aku datang untuk mengunjungimu."
Langkah Sasuke terhenti lagi. Mata onyx hitamnya mengarah pada Naru, menatap tepat ke sepasang mata biru langit itu.
"…untuk apa?" tanyanya hampir tanpa nada.
"Huum… entahlah?" balas Naru sekenanya. Kali ini giliran dia yang melangkah di depan anak lelaki itu. Matanya memandang jauh ke atas sana, ke langit biru tak berbatas yang berhiaskan arsiran awan putih.
"Aku lebih nyaman berada bersamamu ketimbang Itachi-senpai." Katanya dengan senyum tipis, tanpa berani menatap pada Sasuke.
Sasuke terpaku di tempatnya berdiri. Gadis pun melangkah lagi, meninggalkan Sasuke. Naru tengah berusaha menenangkan debaran jantungnya. Biar bagaimanapun, ia baru saja mengatakan hal yang memalukan pada seorang anak. Sekali lagi, seorang ANAK!! Ini memang memalukan, tapi Naru toh hanya berusaha untuk lebih jujur pada dirinya… juga pada Sasuke.
Saat ia sadar, ia ternyata sudah berada cukup jauh di depan Sasuke. Akhirnya memanggil salah tingkah,
"Cepat, teme!"
Meski sudah dipanggil, Sasuke tak langsung memberi reaksi. Anak lelaki ini masih terpaku, ia terpesona melihat gadis yang tengah berdiri menunggunya di bawah langit biru indah itu. Langit biru memang amat cocok dengan gadis itu. Bukan saja matanya yang berwarna serupa dengan sang langit. Cahaya mentari yang menimpa rambut pirang indah itu membuatnya jauh lebih bersinar dibanding biasanya.
Langit biru.
Sasuke tak pernah berharap ia bertemu dengannya di bawah hujan. Juga tak berharap hujan akan turun lagi dan membasahi gadis itu lagi seperti sebelumnya. Tidak lagi. Ia tidak mau lagi melihat air hujan di wajah gadis itu… air hujan yang membuatnya tampak seperti sedang menangis.
"…hn." balasnya lemah sambil kembali berjalan mengejar langkah gadis itu.
Dalam hati ia berjanji, ia tak akan membiarkan mendung menutupi langit biru gadis ini lagi.
-
To Be Continued...
-
Words: 1.649...
.
.
.
Dikit banget... T-T
Gomennasai, Minna-san... inipun udah dengan 80% perjuangan darah dan airmata...
Temanya nggak kena' pula...
Tolong review kalau masih berkenan... T-T
