Author's Note:

Jika sudi, harap baca catatan ini...

Pada suatu hari, seorang gadis gemuk sedang mengetik di depan komputer keluarganya. Draft yang berisi dialog fic yang akan dibuatnya sudah siap di sisi keyboardnya, tinggal di ketik dan ditambahkan deskripsinya saja. Sebenarnya, ia benci harus mengetik di saat orang-orang masih berseliweran di belakangnya, malu kalau salah satu karya jeleknya ini dilihat ataupun dibaca orang lain, meski itu keluarganya sendiri.
Benar saja.
Sang ibu berhenti di belakang anak perempuannya dan bertanya, "Itu apa?"
"B-b-bunda! Nanti kalau sudah selesai baru bunda boleh baca!" balasnya panik sambil me-minimize Ms Word-nya.
"Yey, siapa juga yang mau baca?" balas sang ibu cuek sambil berlalu pergi.

CRASH. Hati gadis itu hancur remuk. Tapi ia tetap memaksakan untuk mengetik ficnya dan menyelesaikan pekerjaannya malam itu. Jarang-jarang ia bisa mendapatkan waktu di depan komputer seperti ini.

....

Kurang lebih itulah yang terjadi selama pembuatan chapter 3... TT^TT

Review Reply

Nazuki Kyouru: Mama....! Mana papaku yang tidak bertanggung jawab itu?! -ditendang- Yang kurang... yah, itu... Deskripsinya... T-T
Niero: Senpai jangan pundung... Ini juga, saya cepat-cepat supaya bisa balik ke Real World... Dan ini bisa selesai cepat karena pendek-pendek aja. Coba kalo panjang...! DX Five Years Later?? Nyakakak, jalan pikiran senpai sama dengan saya. Wait n see ya... Yang gede bakal nyusul! XD
lovely lucifer: Iya, ringan. Karena itu lebih gampang bikin yang ini ketimbang Real World, dan jadinya ini lebih cepat selesai... -diserang mafia-mafia Kyuubi-
Kristi Tamagochi: Arigato! Saya juga pengen ketemu anak kayak Sasu!! XD -dichidori-
ArdhaN: ArdhaN... TT_TT Iya, chapternya sudah saya replace. Mudah-mudahan sudah bisa diterima... TT_TT
Teme: *ngedepak Teme* Brenti soal Rihanna! Dobe-ku nggak menular tahu!
Sefa-sama: ...yang pedofil tuh Authornya... nyakakakak! XD -ditendang-
Xarlzi. Roz: Nyahaha, 6 tahun? Whateper, yang penting chibi! -dichidori-
Charlotte. d'Chauchemar: Arigato Cha... Gomen ne. Udah saya perbaiki... TT_TT
Kakaichi: Iya, chap ini lebih banyak words-nya... Welcome To The Real World-nya kok nggak di-repiu? -dilempar- T-T Sejujurnya fic yang satu itu amat butuh support... Bukan saja saya kesulitan membuat angsty yang ceritanya menyakitkan hati dan progressnya lambat itu, tapi juga kesulitan untuk bisa berlama-lama di depan kompi mengetik chap-nya yang lebih panjang. Draft sudah selesai, tapi belum sempat diketik... AAARGH, benci PLN!! DX -disetrum-
Shizuka Daihyooga: Bukan cuma perasaan Shizu-chan! DX Memang saya yang salah... Yah, baca saja lagi kalau masih berkenan... -dikemplang-


Disclaimer:

I do not own Naruto.


Black and White Challenge

Set White

Theme for This Chapter: Chrystal Tears


Hari ini mendung. Memang belum hujan, tapi awan yang gelap itu seolah sudah menjanjikan kedatangan titik-titik air itu beberapa waktu ke depan. Angin juga berhembus kencang, membuatku agak kedinginan. Tapi aku masih berdiri di depan sekolahku, menunggu seseorang. Aku melirik jam tangan sporty berwarna hitam yang melingkar di pergelangan kiriku. 15.35. Apa tidak terlalu lama? Bukankah katanya ia pulang jam tiga sore?

Aku kembali memasukkan tanganku dalam kantung celanaku. Kemarin, saat ia akan pulang ke rumahnya, ia mengajakku pulang bersama lagi. Berhubung SMA Konoha memang lebih jauh ketimbang sekolahku, ia bilang nanti ia yang akan menghampiriku.

Tapi kenapa selama ini?


Love Isn't Blind, It Just Only Sees What Matter
-Chapter 4-



15.56

Aku membuang napas panjang. Sepertinya ia tidak akan datang. Sudahlah. Mungkin aku terlalu berharap. Bukan lagi mungkin. Sejak awal aku memang terlalu berharap. Hanya karena beberapa obrolan ringan dengannya saja, aku sampai berharap dia bisa punya perasaan yang sama denganku. Padahal… mungkin ia hanya menganggapku seperti adiknya saja. Atau lebih parah, mungkinkah ia hanya memanfaatkanku untuk bisa mendekati aniki? …kurasa tidak. Entah kenapa aku yakin dia tidak akan bisa melakukan hal sejahat itu. Lagipula, bukankah ia sudah lebih dulu dekat dengan aniki ketimbang denganku?

Lalu, aku ini… aku ini apa baginya?

Aku mulai berjalan meninggalkan sekolahku. Langkah demi langkah kuambil, tapi rasanya kakiku amat berat untuk digerakkan. Aku ragu. Tidak apa-apakah kalau aku pergi sekarang? Mungkin saja ia tiba-tiba diberi jam pelajaran tambahan sampai terlambat untuk datang. Atau mungkin ia tiba-tiba diberi piket oleh gurunya…? Siapa tahu saja ia sedang dalam perjalanan menuju sekolahku sekarang.

Aku berhenti. Mata onyx hitamku menatap ke jalan yang ada di hadapanku.

Bagaimana… bagaimana kalau aku datang ke sekolahnya saja?


Untuk yang kedua kalinya dalam hari ini aku berdiri dan menunggu.

Aku menyandarkan punggungku di dinding gerbang SMA Konoha itu. Kedua mataku terus saja memandangi setiap murid yang berjalan keluar gerbang. Ada beberapa gadis yang menyadari keberadaanku kemudian berbisik-bisik sambil tertawa-tawa tak jelas. Samar-samar aku bisa mendengar kata 'imut' keluar dari mulut mereka.

Aku mendengus kesal.

Mereka bukan yang pertama yang berkata seperti itu. Sejak tadi selalu ada saja dua atau tiga gadis yang lewat dan membicarakanku seenaknya. Kata-kata itu saja yang keluar dari mereka… 'imut'… dan'manis'.

Apa-apaan sih?
Memangnya aku ini anak perempuan?

Pandanganku mulai menerawang. Meskipun kesal aku tidak bisa protes. Bagi mereka manusia seumurku memang masih anak-anak… dan mungkin juga bagi mereka kata-kata seperti imut atau manis memang lebih pantas untuk anak-anak sepertiku. Aku jadi bertanya-tanya… kalau dia… apa yang dia pikirkan tentangku? Apa ia juga berpikir sama dengan mereka?

Aku membuang napas panjang. Aku tidak mau dianggap imut atau apapun itu… terlebih olehnya.

Sudahlah, hentikan saja. Aku tidak mau memikirkan gadis-gadis itu lebih lama lagi. Aku berhenti bersandar, aku mengambil beberapa langkah hingga sampai ke depan gerbang. Kutatap gedung sekolah yang ada jauh di dalam sana. Apa dia masih ada di sini? Ataukah dia benar-benar sudah pulang? Apa… apa sebaiknya aku masuk saja ke dalam sana dan mencarinya?

…tidak. Masuk ke dalam lingkungan SMA Konoha dan bertemu aniki adalah hal terakhir yang kuharapkan saat ini.

Ya, aku bisa menjamin aniki masih ada di sekolah saat ini. Ia terlalu rajin dengan semua kegiatan ekstrakurikulernya. Aku tidak mau masuk ke dalam sana, bertemu dengan aniki dan harus menjelaskan tujuanku datang ke sekolah ini. Menjelaskan tujuanku datang ke sini, sama saja dengan mengumumkan perasaanku terhadap gadis itu pada aniki. Hhh…

Akupun mulai melangkah meninggalkan sekolah ini. Jauh lebih baik kalau menganggap gadis itu memang melupakanku dan sudah sampai ke rumahnya. Ya, jauh lebih baik begitu… biarpun ini menyedihkan.

Aku menapak dengan perlahan. Pandanganku lalu sampai ke langit yang ada di atasku. Awan itu masih juga gelap. Ya, mungkin sedikit lagi hujan. Aku jadi ingat, hari ini aku tidak membawa payung biruku. Pagi tadi cuaca amat cerah, bahkan pada jam 7.30 saja matahari sudah amat menyilaukanku dengan sinarnya. Makanya sempat kupikir hari-hari hujan itu sudah berakhir. Ternyata aku salah.

Aku membuang napas panjang tanpa menghentikan langkah kakiku. Aku tidak akan peduli. Kali ini, basahpun tidak apa-apa. Karena perjalananku sedikit lebih jauh dari biasanya, aku tidak mau bersusah payah mencari tempat berlindung dan menunggu sampai hujan reda, ataupun berlari menembus hujan seperti beberapa hari lalu. Toh hujan belum juga turun. Mudah-mudahan saja awan masih berbaik hati menungguku sampai ke rumah.

Saat berjalan, samar-samar aku mendengar suara pekikan seseorang…. Tepatnya suara makian seorang perempuan. Suara itu berasal dari tikungan yang ada di sebelah kiri jalan yang kutapaki. Apa ada pasangan yang sedang bertengkar di dekat sini?

…perkiraanku salah. Saat aku sampai ke bagian jalan yang berada tepat di sisi tikungan itu, aku memang hanya melirik sejenak. Tapi yang mataku dapati adalah dua orang gadis yang sedang berdiri dan memaki-maki pada seorang gadis lain yang tengah terduduk di atas jalan. Ketiga-tiganya menggunakan seragam sekolah, tepatnya seragam SMA Konoha. Ini… bullying?

Aku berniat meneruskan perjalananku, meski ragu. Memangnya apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa mengutuk diriku sendiri yang begitu lemah. Meskipun mereka hanya dua orang, aku tetap saja anak-anak. Aku lebih kecil dari mereka. Bisa-bisa bukannya menolong aku malah akan memperparah keadaaan. Aku menghembuskan napas panjang dan melanjutkan langkahku… hanya selangkah. Mata onyx hitamku mendapati satu lagi hal yang membuatku terpaku. Gadis berseragam SMA Konoha yang tengah terduduk di jalan itu, yang sedang menjadi korban dari dua gadis lainnya itu… dia!

"Kau pikir kau ini siapa, hah?!" seru gadis itu, gadis yang lain menyambung.

"Hanya karena Itachi-senpai menolongmu sekali kau jadi seenaknya!! Kau pikir kami tidak tahu kau mendatangi rumah Itachi-senpai setiap hari?!"

"Berhenti mendatangi rumah Itachi-senpai!! Berhenti mendekatinya, cewek sial!"

"Kalian juga harus berhenti," ucapku dingin, memotong apapun yang akan mereka katakan lagi.

Bisa kulihat tiga pasang mata itu terus menatap ke arahku. Termasuk kedua mata biru itu, kedua mata berwarna biru langit dari gadis yang amat kusayangi itu. Aku berjalan mendekat, dan aku bisa melihat keadaannya dengan lebih jelas. Salah satu kuncirannya sudah terbuka, membuat rambut pirangnya tergerai berantakan. Kakinya lecet, pastilah gadis-gadis ini mendorongnya hingga terjatuh di jalan ini. Seragamnya juga berantakan, dua kancing atas kemeja putihnya terbuka, hingga sedikit bagian tubuh atasnya terlihat. Dan dasi cokelatnya bergantung dengan longgar di sana. Aku juga bisa melihat jelas ada bekas merah di pipinya… Sial. Amarah mulai menguasai otak dan hatiku. Kutatap mata mereka dalam-dalam dengan sepenuh amarahku, akupun melanjutkan,

"Berhenti dan pergi dari sini saat ini juga."

"Memangnya kau siapa, bocah?!" bentak gadis berambut hitam itu padaku sambil berkacak pinggang dengan angkuh.

"Aku siapa?" aku membeo. Cih. Aku benci melakukan ini, aku benci harus membawa-bawa nama orang itu. Tapi… tidak ada jalan lain…

"Aku Uchiha Sasuke," kataku, "…adik lelaki dari Uchiha Itachi yang kalian gilai itu. Puas?"

Seketika itu juga wajah penuh amarah dan kecongkakan mereka berganti dengan wajah pucat. Keringat dingin mengaliri wajah mereka, dan mereka hanya bisa saling pandang dalam ketakutan. Huh, sebegitu besarnya pengaruh aniki pada gadis-gadis sialan ini?

"Pergi." Kataku lagi.

Seketika itu juga kedua gadis itu mengambil langkah seribu dari tempat ini.

Tanpa sadar aku menghembuskan napas lega, tapi amarah masih menyertai aliran darahku. Kalau mengikuti kata hati, ingin sekali aku menghajar gadis-gadis itu hingga babak belur. Kini aku marah, bukan hanya marah pada mereka tapi juga marah pada diriku sendiri… marah pada diriku sendiri yang tidak bisa melakukan apa-apa selain mengusir mereka. Aku benci keadaan ini. Aku benci menjadi anak kecil yang lemah seperti ini. Tapi kini aku tak bisa apa-apa selain berusaha untuk mengendalikan emosiku.

Aku lalu mendekat pada gadis berambut pirang ini untuk melihat keadaannya.

"Kau tidak apa-apa?" tanyaku.

Ia hanya mengangguk lemah. Kedua tangannya lalu bergerak untuk mencari ikat rambutnya yang tercecer, lalu mulai memperbaiki rambut pirangnya untuk dikuncir lagi. Aku menghembuskan napas… Kemejamu berantakan sampai seperti itu tapi yang kau perbaiki malah kunciranmu?! Memangnya aku ini apa? Biarpun anak-anak aku tetap saja lelaki!

"Dobe-" aku berniat menegurnya, tapi tak melanjutkan.

Tangannya masih tetap sibuk dengan kuncirannya. Kepalanya masih menunduk. Kedua mata biru itu memandang ke aspal, tidak memandangku. Hhh… kalau begitu, biarkanlah anak kecil ini bersikap selayaknya anak-anak…

Aku berlutut tepat di depannya, kukancingkan kedua kancing kemejanya yang terbuka. Kini aku tidak bisa menutupi rona merah di pipiku, tapi sepertinya ia juga tidak memperhatikanku. Setelah kancing, aku pindah ke dasi kotak-kotak coklatnya. Di saat aku selesai memperbaiki ikatan dasinya. Ia belum juga selesai mengikat kembali rambut pirangnya. Saat kulihat tangannya, tangan itu hanya bergerak tanpa arah, tidak benar-benar mengikat rambutnya. Saat kulihat matanya lagi, akupun sadar, ia… ia tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Aku menyentuh dagunya, mengubah posisi wajahnya hingga tatapannya bertemu denganku. Bisa kulihat luka mendalam yang tersirat dari kedua mata biru langit itu saat menatapku. Tak lama, bulir-bulir airmata mulai mengalir dari matanya yang indah, membasahi pipinya yang berwarna karamel.

Aku tercekat. Hatiku bagai tersayat. Dadaku sesak. Setiap detak jantungku mengirimkan rasa sakit ke seluruh tubuhku. Aku tidak suka melihatnya seperti ini. Aku tidak suka melihat airmata itu ada di wajahnya. Harus kuakui, mata birunya yang basah, dan tetesan airmata yang keluar dari sana amatlah indah. Tapi… bukan, aku tidak mau melihatnya bersedih. Aku tidak ingin ia kesakitan seperti ini.

Aku menggerakkan jemari putihku ke pipinya, menghapus air matanya. Ia lalu menyambut tanganku, ia letakkan telapak tangannya yang sedikit lebih besar dari telapak tanganku itu di atas jemariku. Ia genggam erat tanganku yang masih menyentuh pipinya itu. Dan matanya terpejam, lebih banyak lagi air mata yang keluar dari matanya… meski semuanya tanpa suara. Tanpa isakan.

Tuhan… Bagaimana… bagaimana caranya untuk menghentikan airmata itu?

Setelah itu, rasa-rasanya tubuhku bergerak sendiri. Aku mendekatkan wajahku padanya, mengeliminasi jarak diantara kedua wajah kami. Lalu, perlahan, kukecup bibirnya. Air matanya membasahi pipiku. Tapi, dengan mata yang separuh terbuka, bisa kulihat air mata telah berhenti menetes dari matanya. Aku lalu memejamkan mataku, dan menikmati detik demi detik yang kami lalui dengan kecupan lembut ini.

Lalu, perlahan, aku berhenti dan mundur. Aku menghirup napas dalam-dalam. Aku tidak sadar bahwa selama mengecupnya aku bahkan telah menahan napasku. Dan kemudian, kesadaran mulai kembali ke otakku.

A-aku telah menciumnya…!

"Ma-maaf!" pekikku sebelum bangkit dan pergi.

Aku berlari secepat mungkin meninggalkan tempat itu dengan jantung yang masih terus berdebar-debar. Tetes-tetes air hujan mulai turun dan menyiramiku. Tapi aku tak peduli. Aku terus saja berlari menuju rumahku.


"…to, otouto. Buka pintunya," panggil seseorang. Suara ketukan pintu juga terdengar di telingaku. Sayup-sayup aku membuka kedua mataku.

Aku memandangi tempatku berada, di atas kasur, dalam kamarku sendiri. Aku memandangi jendela kamarku, gelap. Sudah malam? Aku melirik jam tanganku… 18.34.

…Sejak kapan aku tertidur?

Suara itu lalu terdengar lagi.

"Otouto, buka pintunya…"

Aniki?

Aku bergerak malas menuju pintuku dan membukanya. Kedua mata onyx hitamkupun langsung bertatapan dengan dua mata yang berwarna sama. Anikipun langsung membuka mulutnya.

"Ibu menyuruhku memberitahumu sesuatu," katanya, "kita…"

"Aniki," potongku. Aku memang belum sadar benar dari kantukku, tapi otakku masih cukup sadar untuk mengingat semua kejadian sebelum aku tertidur tadi. Dan dengan bertemu aniki secara langsung, apapun yang kupikirkan tadi kembali terlintas.

"Apa aniki tidak bisa menjadi kekasih yang lebih baik baginya?" kataku tajam.

Aniki masih diam, tapi matanya memancarkan tanya.

"Naru," Kataku, berharap nama itu sudah cukup menjelaskan apa yang sedang kubicarakan saat ini. "Apa aniki tidak bisa menjaganya?! Ia sampai ditindas oleh fans brutal aniki!!"

Emosi menguasaiku. Otakku, hatiku, dan tubuhku. Tidak saja aku berseru pada aniki, aku juga menatap aniki tajam. Akhirnya akupun melanjutkan,

"Kalau… kalau saja aku seumurnya, aku…" aku terhenti sejenak, "Aku tidak akan menyerahkannya pada aniki!"

Kulihat aniki membuka mulutnya,

"Sas…"

Tapi terhenti.

Terhenti oleh pintu kamarku yang kubanting hingga tertutup tepat di depannya ini. Aku tidak mau… aku tidak mau mendengar apapun dari aniki. Tidak untuk saat ini. Terlebih, ia pasti tahu sekarang. Ia pasti tahu apa yang kurasakan pada gadis itu saat ini.

…sial.

Aku bersandar di pintuku, berharap di balik pintu itu aniki sudah pergi… entah ke kamarnya atau kemanapun. Aku sungguh berharap begitu. Aku lalu terduduk lemas di lantai, masih di sisi pintuku.

Dan lagi-lagi aku mendengar suaranya…

"Sasuke, aku belum sepenuhnya mengerti apa yang kau bicarakan," kata aniki dari balik pintu, "Tapi, kau punya hak untuk menyukainya."

Sejenak mataku melebar. Kejut memenuhi hatiku. Jantungku berdebar tidak karuan.

…apa maksudnya itu?

Akupun segera bangkit dan membuka pintu kamarku. Tapi saat kubuka pintuku …aniki sudah tidak ada di sana.

-
To Be Continued...
-


Words: 2.182