Author's Note:
Pertama kalinya ngepost fanfic di warnet... T_T Server saya masih rusak...
Review Reply!
Niero: S-s-senpai punya indra ke-enam? Kok bisa baca pikiran saya?! DX
Xarlzi. Roz: Un. Sasu mesum... -dichidori- Sasu: Emang author di sini siapa, hah?!
ArdhaN: Arigato, ArdhaN! Syukurlah... =D
nae-rossi chan: Nyehehe... saya berhasil menyebar virus pedo... -dilempar-
Nazuki Kyouru: A'aaah... papa barunya Sasu, yaaaa? X3 -dirasengan-
lovely lucifer: Itachi mo ngasih tahu kalo Author setreessss... Nyakakakak... pucing! Pucing! Monitor di warnet bikin saya pusing! _ -dijagal yang punya warnet-
Sefa-sama: Nyohoho... Sasu gitu loh... Uchiha gitu loh... XP Sama? Nyahaha, sesama bakpau mari kita berpelukaaaan! *hug*
Kristi Tamagochi: Un, tapi perjuangan untuk mengupdate chapter terakhir nggak kira-kira deh... Habis kesabaran saya nunggu servernya sembuh... T^T Berjuang Kristi! Fight!!
ambudaff: Nyehehe, iya ambu... Pas udah tamat, saya sodorin fic gaje ini ke bunda. Alhamdulillah beliau suka... =D [Saya berani ngasih karena ini bukan yaoi... T_T Pengen sih, beliau baca yang lain juga... tapi...] Soal POV... duh, iya, Sasuke tuh yang salah... -dichidori-
Kakaichi: Sayang saya nggak tahu Lunatic Honey... saya udah jarang banget baca manga lho... *pundung di pojokan*
Charlotte. d'Cauchemar: Nyehehe... Cha juga gitu?? Pokoknya buat semua yang senasib, semangat! XD
Sarah_Chan_: Nyehehe, kalo sedih gini masih fluff bukan ya? *ngelirik Blackpappi* -dilempar- Fic ini mungkin nggak pantes masuk white... hhh...
Teme: *nyembur bensin* Arigato, Teme!
Aquirelle Luna: Arigato, Luna-san...! ^^
VongoLa-Ai: Nyehehe, Ai-san keliling buat review fic saya... *terbang ke langit ke tujuh* -ditendang- Arigato!
Flame Reply =P
Arara~ : Arigato udah ngasih flame pertama saya... =) Tapi seharusnya anda bisa menjabarkan lebih jauh mengapa anda menyebut fic ini bodoh. Lagipula, bukankah dari awal saya sudah membeberkan siapa pairingnya? Kalau tidak suka, tidak perlu baca, 'kan? Kalau memang fic ini sejelek itu, silahkan langsung laporkan ke pihak FFN, daripada anda membuang waktu untuk memberikan flame. Terakhir, asal tahu saja, Soal mati... Arara~-san, you know what? Andai bunuh diri itu nggak dilarang agama, dari dulu saya udah dalam kubur.
Disclaimer:
I do not own Naruto.
Black & White Challenge
Set: White
Theme for this chapter: White Day
Aku memandang ke langit, langit biru. Awan putih berarak dengan indahnya. Dan angin juga bertiup ke arahku. Sejuk. Sungguh hari yang indah. Sore yang indah. Tapi… hatiku rasanya kacau. Jantungku terus berdebar tidak karuan.
Aku sedang berdiri di pinggir jalan, di bawah pepohonan rimbun yang berbaris rapi di sisi jalan ini. Ini adalah jalan dimana aku bertemu dia untuk yang pertama kalinya. Pertama kali… karena kurasa pertemuan tak berarti di rumahnya tidak bisa diperhitungkan sebagai pertemuan yang sebenarnya. Hhhh…
Aku menghela napas panjang.
Aku benar-benar tidak suka menunggu. Tapi kali ini aku menunggu. Anak itu memang aneh. Dia bahkan bisa membuatku memutuskan untuk menunggunya di sini ketimbang menghampirinya di sekolahnya.
…ya. Kurasa, mendatanginya di sana hanya akan membuatnya sebal. Pastilah teman-temannya menganggap aku kakaknya atau apalah, yang pada akhirnya akan membuat dia merasa seperti anak kecil gara-gara tingkahku. Padahal… dia bukan sekedar anak kecil bagiku. Bukan.
Aku menatap langit lagi. Hari ini tidak hujan, juga tidak mendung seperti kemarin…
Kemarin… kemarin lagi-lagi aku kehujanan. Tapi aku bahkan tidak mempedulikan hujan. Pikiranku terlalu terfokus padanya. Kurang lebih seperti waktu itu, hari pertama aku bertemu Teme. Waktu itu pikiranku terlalu terfokus pada Itachi-senpai… tak peduli pada hujan yang membasahiku. Bahkan bersyukur karena bisa menyamarkan airmataku dengan air hujan. Tapi kemarin… ia justru jadi satu-satunya orang yang menghentikan air mataku… ah, tidak. Waktu itu juga sama. Seorang bocah dengan payung birunya. Seorang bocah yang membuatku berhenti menangis. Seorang bocah yang… begitu kusadari, telah mengambil hatiku.
Love Isn't Blind, It Just Only Sees What Matter
-Chapter 5-
Ah, akhirnya dia datang juga!
Kulihat anak itu tengah berjalan dengan angkuh seperti biasanya. Kedua tangannya masuk ke dalam saku celananya. Ransel hitamnya menggantung dengan setia di punggungnya. Dan seperti biasa, ia memakai kaos biru tua dengan celana pendek putihnya itu. Aku bisa bertaruh kalau dia ini memang benar-benar blue lover! Itachi-senpai penggemar warna hitam, dan adiknya penggemar biru… Mereka ini lucu.
"T-teme!" Panggilku. Jangan heran. Aku sudah berusaha untuk meredakan rasa tegangku, tapi tidak berhasil. Pastilah suaraku terdengar seperti pelamar kerja yang sedang nervous saat namanya dipanggil untuk interview. Persis.
Anak lelaki itu lalu memandangku dengan kedua mata onyx hitamnya. Rasa kejut terpancar di sana dengan teramat jelas. Aku jadi terdiam… memangnya dia tidak melihatku, apa? Dari tadi aku berdiri di sini menyaingi rambu jalan yang ada di seberang sana, dan… dia tidak melihatku? As-ta-ga! Apa dia berjalan sambil mengkhayal?
"Teme?" Panggilku lagi dengan ragu-ragu.
Ia masih terdiam. Kulihat keringat dingin menjalari wajahnya. Ha, terlepas sudah topeng Stoic keluarga Uchiha dari sang anak bungsu. Catat! Hari ini seorang Uzumaki menorehkan sejarah baru: Membuat tegang seorang Uchiha. Seharusnya aku berlari ke museum rekor saat ini juga, kalau saja rasa tegang yang sama tidak menjalari tubuhku.
Sungguh, aku baru tahu kalau ragu-ragu dan nervous itu bisa menular!
Dan kau tahu apa yang terjadi berikutnya?
Ia berjalan lagi seolah ia tidak melihat dan tidak mendengar apa-apa dariku.
"Hei! TEME! Kau dengar aku, kan?!" Seruku sambil mulai menggerakkan kakiku, mengejar langkahnya. Seruanku tak berhasil menghentikannya. Sebaliknya, ia malah mempercepat langkahnya.
"Teme! Berhenti! Kubilang berhenti! Aku mau bicara!!" seruku lagi pada anak lelaki dengan rambut pantat bebek itu.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan," balas Sasuke tanpa melambatkan langkahnya. Sial!
"Ada!" seruku sambil tetap mengikutinya dari belakang.
"Tidak ada," balasnya lagi.
"Kubilang ada, ya ada! Memangnya kau tahu apa yang mau kubicarakan?!"
"Aku tahu! Dan aku tidak mau dengar! Jadi tidak ada yang perlu kita bicarakan!!" seru anak itu, sebelum akhirnya ia berlari dariku.
"TEMEEE!!" pekikku sambil mengejarnya.
Sial! Jangan remehkan aku ya! Aku memang anak terbodoh di kelas, tapi jangan pikir kemampuan fisikku ini kalah darinya!!
Suara hentakan cepat sepatu kami berdua terdengar memenuhi jalan. Jalanan ini memang sepi. Dan kurasa hanya kami berdua saja orang aneh yang mau main kejar-kejaran di sore seperti ini. Aku terus berusaha untuk mengejar anak lelaki yang masih saja berlari di depanku ini. Sedikit lagi… sedikit lagi!!
Akhirnya aku berhasil meraih ransel hitamnya dan membuatnya hampir terjatuh ke jalan. Hampir. Karena aku yang berada tepat di belakangnya dan menangkapnya dalam pelukanku. Kamipun jatuh terduduk di atas aspal hitam itu. Tentu, dengan dia yang berada dalam dekapan eratku.
"Lepaskan aku, dobe!!" serunya sambil berusaha lepas dariku, "Kalau kau hanya mau mengatakan bahwa kau ini pacar aniki dan mau menolakku, itu tidak perlu! Aku tidak mau mendengarnya!"
Aku berusaha sebisa mungkin untuk tetap menahan bocah lelaki ini dalam pelukanku. Ia memang terus saja berontak. Tapi tanganku juga terus saja mendekapnya dengan erat. Sikapnya masih begini tapi tidak mau disebut anak-anak? Dasar Teme!
"Siapa bilang aku pacar Itachi-senpai, hah?!" bentakku, "Dia sudah menolakku, tahu!!"
Anak lelaki ini berhenti berontak. Bibirnya juga tak berucap apa-apa lagi. Namun, nampaknya butuh waktu beberapa detik bagi CPU di otaknya untuk memproses informasi yang baru saja kuberikan.
"…ia sudah menolakku," kataku lagi, dengan nada yang tidak setinggi tadi, "…di hari hujan itu, Teme. Saat pertama kali kau meminjamkanku payungmu."
"T-tapi…" ia langsung mencoba membantah, tapi tak melanjutkan. Biar begitu, aku tahu apa yang ingin dikatakannya.
"Iya," kataku, menjawab pertanyaan yang tidak ia ucapkan itu, "Aku memang menyukai Itachi-senpai."
Aku lalu diam. Ia juga masih diam. Lewat dekapanku, bisa kurasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Aku lalu membuang napas dan mendekatkan wajahku ke kepalanya. Menyentuh rambut hitamnya dengan wajahku. Menghirup wangi yang menggelitik hidungku. Siapa sangka rambut yang sering kusebut pantat bebek ini bisa sehalus dan sewangi ini?
"Aku murid pindahan. Aku masuk ke SMA Konoha karena koneksi nenekku. Tsunade-baa-chan sembarangan saja memasukkanku ke dalam SMA terkenal itu, padahal aku ini tidak pintar. Kau sendiri tahu 'kan? Masuk ke SMA Konoha itu susah. Lebih banyak orang-orang yang lebih pintar dariku tapi gagal. Akhirnya, sejak mereka tahu kemampuanku, mereka membenciku. Mereka sering mengejekku. Belakangan, mereka juga sering menjahiliku, mencoreti bukuku, merusak seragamku, mengisi sampah ke lokerku, dan… yah, yang seperti itulah! Sampai…"
Akhirnya aku menyandarkan pipiku di rambut lembut itu. Dan dia tidak menolak.
"…Itachi-senpai menolongku. Ia bahkan melaporkan murid-murid yang menggangguku itu pada guru, dan mereka tak lagi menggangguku. Saat ia tahu apa masalahku, senpai mau menolongku. Ia mengizinkanku datang dan belajar di rumahnya. Setelah itu… kau sendiri tahu kan? Singkat cerita, aku sadar kalau aku menyukainya. Jadi hari itu aku mengutarakan perasaanku, tapi ia menolakku. Baginya aku tidak lebih dari adik kelas yang perlu dibantu. Itu saja. Lalu hari itu…"
Aku mengeratkan pelukanku pada anak lelaki ini.
"…aku bertemu denganmu, Teme," aku lalu membuang napas panjang sebelum melanjutkan, "lalu sekarang kau membuatku sadar, bahwa perasaanku kepadanya hanya simpati saja, hanya rasa hormat belaka."
Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Tak lama, aku mendengar balasan darinya,
"…hn."
"HN?!" balasku segera, "Setelah penjelasan panjang lebar itu kau hanya bisa bilang 'hn'?! Coba kau hitung berapa banyak kalimatku! Kalau ditulis itu bisa jadi satu paragraf super panjang! Balasanmu… balasanmu…," aku hampir tak bisa berkata-kata, "'hn' itu bahkan belum bisa dihitung jadi satu kata, teme!!" Aku berseru di telinganya.
"Lalu kau mau aku berkata apa, dobe?!" katanya sambil menutup kuping kanannya, yang sempat jadi sasaran suara indahku. Aku memeluknya erat lagi, semuanya karena rasa gemas dan kesal yang bercampur baur jadi satu.
"Apa susahnya sih mengaku kalau kau sudah salah paham?! Bilang saja kalau kau memang sudah berpikir yang tidak-tidak! Kalau kau itu cemburu pada Itachi-senpai, dan kau menyukai-" ku.
Aku terhenti. Terdiam.
Dia juga sama.
Tapi dia mengerti.
"…aku malas mengatakan itu dalam posisi seperti ini, dobe," ucapnya pada akhirnya, "kau pikir aku bonekamu?"
Secara otomatis sebuah senyuman meluncur dari bibirku. Aku memeluknya lebih erat dan membalas sekenanya,
"Apa boleh buat, badanmu kecil sih, enak dipeluk…"
Mendengar kata-kataku, ia langsung melepaskan diri dariku. Ia lalu berdiri di hadapanku dan menatapku dengan emosi dengan kedua mata onyx hitamnya.
"Lima tahun," katanya sambil tetap menatap garang padaku, "Lima tahun, dobe. Perbedaan umur kita hanya lima tahun. Dan aku berjanji, kalau aku masih hidup lima tahun lagi… aku akan lebih tinggi darimu!"
Kali ini bukan hanya senyuman, sebuah cengiran terukir jelas di wajahku. Akupun membalasnya dengan riang,
"Tepati janjimu itu!"
Langit masih cerah. Tidak menipuku seperti kali kedua aku harus dipinjamkan payung oleh Sasuke. Ia berjalan di sisiku, masih tetap angkuh seperti biasanya. Tapi toh aku bisa melihat rona merah yang terus menghiasi pipinya.
Dulu, aku selalu memimpikan untuk berjalan hand in hand dengan kekasihku. Rasanya itu akan sangat romantis. Saling berpegangan tangan sepanjang jalan. Orang lain yang melihatnya juga akan berpikir sama tentang kami. Tapi… mana kutahu kekasih pertamaku adalah bocah kelas 6 SD yang masih berumur 12 tahun? Kalau aku memaksa, yang ada bukan romantis. Bisa kujamin orang-orang malah akan langsung beranggapan bahwa kami adalah kakak adik yang rukun! Jadi… untuk saat ini itu tidak perlu. Melihatnya menyesuaikan laju langkahnya dengan langkahku saja sudah lebih dari cukup. Sangat-sangat cukup.
Tak terasa, kami sampai di rumahnya. Ya, lagi-lagi aku singgah ke sini. Seperti biasa, kompleks perumahan kami memang selalu sepi, termasuk kediaman keluarga Uchiha ini. Tapi berbeda dari biasanya, ada sebuah truk pengangkut barang berwarna putih yang memarkir di depan rumah ini. Yah, aku hanya bisa mencoba meredam tanyaku dan tetap mengikuti Sasuke berjalan sampai ke pintu rumahnya.
"Aku pulang," ucapnya sembari membuka pintu berwarna cokelat itu.
Hanya sedetik setelah pintu terbuka, kami langsung bertemu dengan sosok Itachi-senpai. Sepertinya ia sedang memakai sepatunya dan mungkin bersiap untuk pergi entah kemana.
"Selamat datang," katanya.
Tak lama, sepasang mata onyx miliknya itu menyadari keberadaanku.
"Se-selamat sore!" ucapku malu-malu sambil menunduk dan memberi hormat. Yah, kali ini ia tidak akan bertanya aku mengunjungi siapa 'kan? Itachi-senpai itu pintar. Ia pasti sudah tahu… atau minimal paham tentang hubungan kami. Tapi ini tetap saja memalukan… bukan, aku bukan malu akan hubunganku dengan Sasuke. Yaaah… pernahkah kau pikir bahwa seniormu juga akan jadi calon kakak mertuamu? Err… kalau sampai mertua segala sih pikiranku memang terlalu jauh… tapi tetap saja rasanya kurang lebih seperti itu!
"Aniki," panggil Sasuke. Entah mengapa aku merasa ia mencoba mengalihkan perhatian kakaknya dariku…
"Kenapa ada truk di depan sana? Siapa yang pindah?" tanyanya pada sang kakak.
Tuh kan? Sejak kapan seorang Uchiha akan peduli dengan masalah orang lain?
OK, OK. Aku memang baru mengenal anggota keluarga Uchiha ini sejak sebulan lalu. Selain itu, masing-masing putra paman Fugaku ini sudah pernah menolongku. Dan itu jelas-jelas membantah kalimatku tentang ketidakpedulian Uchiha terhadap orang lain tadi. Tapi, kurasa, urusan orang pindahan bukanlah sesuatu yang akan menarik perhatian mereka… karena yang satu itu, jangankan untuk diurusi, aku yakin itu bahkan bukan sesuatu yang biasa dibicarakan di lingkungan Uchiha.
Kalau Sasuke berniat untuk mengalihkan perhatian senpai dengan pertanyaan itu, ia akan gagal.
Awalnya kukira begitu. Tapi kau tahu apa yang terjadi?
Aku melihat perubahan ekspresi di wajah Itachi-senpai.
"Itulah yang ingin kukatakan padamu semalam, otouto," katanya.
Apanya? Semalam apanya? Rasa penasaran mulai menggelitik perutku.
Tapi di saat yang bersamaan jantungku berdenyut lebih pelan… tubuhku bahkan sudah bersiap untuk mendengar hal yang buruk ini.
Itachi-senpai menghembuskan napas sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya,
"Kita akan pindah ke Otto."
Lima Tahun Kemudian…
Langit mendung. Nampaknya minggu ini Tuhan suka sekali menurunkan hujan. Sama seperti waktu itu. Tapi aku juga tidak terlalu peduli. Aku tidak terburu-buru untuk sampai rumah agar tidak kena hujan atau apapun. Aku hanya berjalan pelan. Tas tangan oranyeku masih setia kugenggam. Dress putihku yang menggantung hingga ke bawah lutut juga sesekali melambai tertiup angin yang semakin lama semakin kencang.
Akhirnya, hujan turun dari langit. Aku terhenti. Bukannya lari menghindar dari hujan, aku malah berhenti. Akupun kembali berjalan dengan rintik-rintik air yang terus jatuh di tempat ini, membasahi jalan, membasahi pohon dan juga membasahi tanah. Juga membasahiku. Setelah membasahi rambut pirangku yang tergerai, titik-titik air itu jatuh beramai-ramai ke atas cardigan oranye yang sedang kupakai, tak lupa untuk menembus hingga ke gaun putihku.
Aku tak peduli.
Semuanya gara-gara orang itu.
Hari ini tanggal 14 Maret… White Day. Hari dimana para lelaki memberikan hadiah kepada kekasihnya, sebagai balasan dari hadiah yang mereka terima di hari Valentine. Dan kau tahu apa yang terjadi denganku? Di hari White Day ini aku malah bertengkar dengannya, orang yang paling kucintai.
Apa-apaan 'aku sibuk dengan urusan sekolah' itu?! Sudah begitu, saat aku bersabar dan menawarkan diri untuk datang ke Otto, ia malah melarangku! Bukan, bukan hanya melarangku, tapi juga mengusirku! Sial! Aku 'kan tidak minta banyak?! Kami jarang bertemu, sangat jarang bertemu. Dalam setahun, yang kuinginkan hanyalah tetap bertemu dengannya di hari tahun baru, natal, uang tahun, Valentine dan White day! Itu saja! Tidak banyak 'kan?
Tahun ini kami tidak bisa melewatkan 14 Februari bersama karena aku malah harus lembur di kantorku. Dan sekarang kami malah tidak bisa bersama-sama di White Day karena alasan-alasannya yang tidak jelas itu! Apa dia bermaksud membalas dendam padaku?
Aku membuka mulutku, menyerukan isi hatiku dalam dua kalimat suci:
"Aaaargh, Teme! Kau tetap saja brengsek!!"
"Hn. Dan kau tetap saja bodoh seperti dulu, dobe." Balas seseorang.
Saat itulah baru kusadari, sebuah payung transparan tengah menaungiku dari hujan. Dan payung itu dipegang erat oleh seorang pemuda. Coba kau tebak siapa pemuda itu? Ya, dia. Uchiha Sasuke. Si Teme. Kekasihku.
"K-kenapa kau ada di sini?!" Tanyaku ragu pada pemuda yang tengah memakai kemeja hitam yang dipasangkannya dengan jins berwarna putih itu. Aku masih tidak percaya dengan penglihatanku sendiri.
"Aku di sini karena aku ingin, dobe. Kemanapun aku mau, aku akan pergi. Dan itu bukan urusanmu," balasnya dingin.
"Lalu kenapa kau tidak bilang kau akan datang, teme?! Kau malah melarangku pergi segala!" balasku emosi.
"Memangnya siapa yang menutup telpon dan menonaktifkan HP-nya duluan, hah? Tadi aku belum selesai bicara, dobe!" balasnya, emosi juga mulai menyertai nada kalimatnya.
Aku diam. Ya, akulah orang yang ia maksud itu. Lantaran kesal, aku memutuskan telponku. Dan bukan saja aku me-reject semua panggilannya, aku juga menonaktifkan handphoneku. Dalam hati, aku mengakui kesalahanku. Karena emosi aku tidak sempat mendengar penjelasannya sampai akhir. Kini akupun menatap pada mata onyx hitamnya itu, menunggu penjelasan lebih lanjut.
"Aku pindah," katanya.
EH…?
"Seminggu lalu aku mendapat izin dari ayahku untuk kembali ke Konoha. Dan baru kemarin malam aku sampai di sini. Tadi, saat kau menelpon, aku harus ke SMA Konoha untuk mengurus kepindahanku ke sekolah itu. Makanya, tadi aku mau menyuruhmu menunggu, tapi kau malah bilang akan pergi ke Otto. Aku melarang dan kau malah menutup telpon. Dasar dobe."
Aku terdiam.
Dia juga diam.
Hanya suara hujan saja yang terus mengisi kekosongan suara di antara kami.
Aku hanya memandangi wajah pemuda yang kini lebih tinggi dariku itu. Aku tidak tahu kenapa tidak bertemu dengannya selama tiga bulan mampu membuatku tersihir untuk terus mengaguminya seperti ini. Aku juga tidak tahu kenapa pertumbuhan anak zaman sekarang itu bisa secepat ini. Tapi satu perkiraanku yang tidak meleset, ia jadi lelaki yang sangat... Ah, kembali ke topik semula. Aku hanya berharap penyesalan di mata biru langit ini sudah cukup sebagai permintaan maaf dariku. Rasanya aku masih terlalu malu untuk meminta maaf atas semua kebodohanku ini.
Aku sungguh takjub… kenapa dia bisa terus bertahan dengan orang sebodoh aku.
Tapi, dia juga sama.
Dia harus bersyukur karena ada gadis baik sepertiku yang mau menerima semua sikap menjengkelkannya itu!
"Mana hadiah White Day-ku?" tanyaku, memecah keheningan kami.
Bisa kulihat ia mendengus kesal sebelum membalas tajam,
"Aku setengah mati berusaha untuk bisa pindah sebelum hari ini dan kau malah menagih hadiah?"
"…aku sudah memberimu cokelat, teme," balasku sambil merenggut.
"Hn. Lalu, apa kau tahu bagaimana rasa tart cokelatmu itu? Kau beruntung jasa pengiriman itu masih bersedia mengantarnya sampai ke Otto, bukan membuangnya karena dianggap sebagai makanan kadaluarsa!"
Rasa marahku muncul lagi,
"Dasar Te-" me!
Seharusnya itu yang kuteriakkan sekeras mungkin sebelum aku lari meninggalkannya di sini. Seharusnya. Karena pada kenyataannya, bibirnya yang lembut itu memagut bibirku dalam satu ciuman hangat. Membuatku menghapus semua rencana bodoh di otakku dalam sekejap. Menggantinya dengan semua perasaan bahagia yang mengisi sampai ke relung jiwaku. Aku heran, bagaimana caranya ia mengatur tangannya untuk tetap memegang payung sambil menciumku. Tanganku saja rasa-rasanya mulai gemetar dan siap untuk menjatuhkan tas tangan oranye milikku detik ini juga. Meski terasa seperti bertahun-tahun, tak sampai semenit , kecupan manis itu berakhir.
Aku membuka kelopak mataku. Sungguh, aku bahkan tak sadar kapan aku menutupnya!
Kutatap ia dengan kedua mata biruku, dan ia balas menatap dengan matanya yang berwarna hitam bercahaya itu.
"Aku pulang, dobe," katanya.
Akupun tersenyum dan membalas lembut,
"Selamat datang, teme!"
Fin
Words: 2.665
.
.
.
...multi-chap kedua saya yang tamat... (baru sadar! DX)
Arigato untuk yang sudah mereview, memberi semangat, juga yang menjadikannya sebagai favorit.
Sekali lagi, Arigato Gozaimasu... m(_ _)m
For the last time,
Review please? If you don't mind! ^^
