Gintama © Sorachi Hideaki
Nothing is impossible in Gintama, right?
"—kata Toushirou."
"Haah? Siapa?! Coba—coba sebutkan namamu sekali lagi?"
"Hijikata-san, apa benar dia—"
"Hei, hei, Oogushi-kun, aku tidak tahu kau begitu narsis hingga menurunkan namamu pada anakmu sendiri!"
"Gin-chan, jadi dia anaknya Mayora, aru? Ayah macam apa kau, meninggalkan anakmu sendirian di tengah hujan salju!"
"Fukuchou, aku tidak tahu kalau diam-diam kau punya anak sebesar ini. Hei, nak, di mana ibumu? Dia pasti khawatir mencarimu."
"Ah! Jangan bilang kau kabur dari rumah untuk pergi mencari ayahmu yang tidak berguna ini, aru! Lupakan saja dia. Dia tidak pantas jadi ayahmu."
"Kagura-chan, kenapa kau berkata begitu?"
"Oogushi-kun, hei, kenapa diam saja? Katakan sesuatu pada anakmu. Dia sudah hampir menangis."
"Fukuchou—"
"Eeh? Kenapa kau menangis? Hei…"
"Shinpachi, apa yang kau lakukan padanya, aru?!"
"Ah, aku tidak—"
Dia masih terdiam. Alisnya mengernyit memandangi anak laki-laki di hadapannya, yang menyembunyikan mukanya di balik kedua tangan. Bahunya bergetar. Ia menangis. Trio Yorozuya dan Yamazaki sibuk menenangkan anak itu, sesekali menyeru kepadanya agar bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas apa, ia sendiri tidak tahu.
Hijikata Toushirou dia bilang? Sebenarnya apa yang terjadi? Karena pertama kali melihatnya, rasanya seperti bermimpi. Seperti melihat dirinya di masa lalu. Bagaimana mungkin ada anak kecil dengan wajah dan nama yang sama seperti dirinya? Dan kimono yang ia kenakan sama seperti kimono terakhir yang dijahit oleh ibunya, beberapa hari sebelum wanita itu meninggal.
Sebenarnya siapa anak ini?
Hijikata menelan ludah. Ia masih belum beranjak dari tempatnya berdiri, hanya memandangi empat orang lainnya yang panik berusaha menenangkan anak itu. Tapi sepertinya tidak berhasil. Malah membuatnya makin sesenggukan. Karena kalau benar anak itu adalah dirinya, tentu saja dia akan menangis saat orang-orang menanyakan keberadaan ibunya.
Tapi benarkah itu dirinya?
"Hei, minggir."
Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi untuk saat ini, sebaiknya ia mengamankan Toushirou dari keempat orang tidak berguna itu.
Begitu ia berlutut tepat di hadapan Toushirou ada hawa dingin yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ini benar-benar seperti mimpi. Dengan sedikit ragu ia mengulurkan tangannya, menyentuh pundak yang bergetar. Ujung jarinya mengejang.
Ia menelan ludah untuk ke sekian kalinya.
"Hei…"
Jantungnya berdegup kencang penuh antisipasi. Ia menunggu anak itu mengangkat kepalanya dan mempertemukan dua pasang mata mereka lagi.
Tangan mungil yang mengepal diturunkan pelan-pelan. Dihiasi sedikit sentakan karena terisak. Wajahnya memerah dan berlinangan air mata. Bahkan ada cairan yang mengalir dari lubang hidungnya. Kepalanya yang tertunduk perlahan-lahan diangkat. Sepasang mata biru cemerlang memandanginya. Mengerjap. Bulir-bulir air yang terkumpul menggantung di ujung matanya menetes turun.
Saat itu ia berhenti bernafas.
Mereka saling berpandangan selama beberapa saat. Tidak saling sapa. Tidak bertukar kata. Hanya diam dan membiarkan dua pasang mata biru mereka bicara.
Siapa kau? Apa yang kau lakukan? Bagaimana bisa kau sampai di sini? Apa kau tahu siapa aku? Apakah benar kau adalah diriku?
"Oniisan," Anak itu—Toushirou—berbisik pelan, kemudian maju dan memeluknya. Lengan kurusnya melingkari leher Hijikata. Erat. Seketika itu badannya lemas. Tulang-tulangnya seperti berubah menjadi jeli. Ia jatuh terduduk sambil memeluk Toushirou, menekan kepala anak itu pada lekukan lehernya.
Entah apa yang terjadi. Tapi rasanya ia ingin menangis.
Selain bunyi sumpit yang beradu dengan mangkuk porselen, semuanya sunyi.
Hijikata mengerjapkan mata dan memperhatikan anak di hadapannya makan dengan lahap. Tenggorokannya gatal dan mulutnya terasa pahit. Ia butuh nikotin. Tapi baru mengeluarkan bungkus rokok dari balik jaket, Gintoki langsung merebutnya. Sebelum Hijikata dapat protes, si rambut keriting alami itu mendelik dan menganggukkan kepala ke arah Toushirou. Ia hanya menghela nafas dan mengepalkan tangannya yang berkeringat.
Ia menunggu dan mengetuk-ketukkan jari-jarinya pada meja. Bukan karena tidak sabar, tapi ia mulai mengalami nicotine withdrawal. Apalagi dalam kondisi tertekan seperti ini. Ada banyak sekali yang membebani pikirannya. Membuatnya sakit kepala.
Hijikata masih mencoba mencerna kata-kata Toushirou tadi. Jawaban yang ia berikan saat diinterogasi oleh trio Yorozuya dan Yamazaki, sambil terus mencengkeram ujung jaket Hijikata. Kalau bukan dirinya yang menyuruh keempat orang itu berhenti, bukan tidak mungkin pertanyaan mereka yang berputar-putar masih terus berlanjut sampai besok pagi.
"Aku masih ingin percaya kalau bocah ini anakmu, Hijikata-kun." Gintoki sedikit memiringkan badannya dan berbisik lirih. Sengaja agar tidak didengar orang lain.
Orang lain yang dimaksud adalah Toushirou, tentu saja. Karena Kagura sudah tertidur pulas di sudut ruangan setelah melahap lima mangkuk nasi dan lauk seadanya sisa makan siang yang diambilkan Yamazaki dari kantin. Shinpachi sendiri memutuskan untuk membuat dirinya berguna dan membantu Yamazaki mengembalikan peralatan makan yang kotor ke dapur.
Biasanya Hijikata tidak suka menerima tamu di ruangannya, apalagi Yorozuya pembawa sial ini. Tapi kedatangan mereka kemari sudah cukup menghebohkan. Dia tidak mau anak buahnya yang lain mencari alasan untuk bermalas-malasan dengan ikut bertanya-tanya siapa anak kecil yang dibawa Yorozuya. Akhirnya ruangannya disulap menjadi ruang pertemuan, ruang interogasi, sekaligus ruang makan. Benar-benar multifungsi. Hebat sekali.
"Jangan samakan aku dengan dirimu, bodoh. Aku tidak sembarangan seperti itu."
Gintoki mendengus tertawa. Sepasang mata merahnya bersinar-sinar. "Kenapa? Kau masih beranggapan kalau Kanshichirou itu anakku? Kau begitu pencemburu, Oogushi-kun."
Ia menggeram pelan dan mendesak perut Gintoki dengan sikunya. Berharap dapat menghilangkan seringaian lebar pada wajahnya. Namun malah membuat pria itu tertawa geli. Kemudian Gintoki merangkul dan memaksanya mendekat, lagi-lagi berbisik di telinganya.
"Tapi sekarang kita impas. Aku benar-benar terkejut, kau tahu. Kupikir kau—"
"Hijikata-san! Aku dengar anakmu datang berkunjung, mana dia?" Tiba-tiba pintu digeser terbuka dengan cepat. Ia langsung mendorong Gintoki menjauh hingga jatuh dan hampir menabrak Kagura. "Oh. Ah, maaf, Danna. Aku tidak tahu kalian sedang sibuk."
Okita menyeringai, bersandar pada dinding dengan tangan terlipat di depan dada. Tapi kedua matanya melirik ke arah Toushirou yang kini telah selesai makan dan hanya bisa terdiam canggung.
"Oi, Sougo! Sudah kubilang berapa kali untuk—"
"TOSHI! Mana keponakanku yang dikatakan Zaki itu?!"
Hijikata berjengit saat melihat atasannya muncul dengan wajah sumringah.
"K-Kondo-san…"
Dia tidak tahu apa yang dikatakan Yamazaki pada Kondo dan Okita, tapi ia harus memberi pelajaran pada si bodoh itu nanti. Ia bisa menebak bagaimana reaksi Kondo begitu melihat Toushirou, apalagi kalau mengetahui bocah yang ia kira keponakannya itu adalah Hijikata kecil yang sebenarnya. Dia hanya sedikit khawatir dengan reaksi Toushirou. Dulu saat dirinya berusia 6 tahun, bagaimana reaksinya kalau bertemu orang asing yang tiba-tiba bersikap sok kenal?
"Anak itu—? Ah, dia mirip sekali denganmu, Toshi. Tapi aku tidak menyangka anakmu sudah sebesar ini."
Hijikata menelan ludah. Mengawasi Kondo yang terus mendekat ke arah Toushirou. Dari sudut matanya ia melihat anak itu mencoba menjauh, tapi tertahan oleh dinding di belakangnya.
"Kondo-san, dia bukan—ah!"
Saat Kondo melompat dan berniat memeluk Toushirou, Hijikata lebih dulu menengahi, sehingga dirinya yang menjadi korban pelukan gorila yang begitu erat hingga nyaris meremukkan tulang rusuk. Tapi bukannya dilepas, pelukannya malah semakin erat. Ia kesulitan bernafas. Benar-benar berbeda dari pelukan Toushirou yang ia terima sebelumnya.
"Bagaimana mungkin kau tidak memberitahuku? Kenapa kau merahasiakan hal sebesar ini? Punya anak di luar nikah memang tidak dibenarkan, tapi bukan berarti kau harus menyembunyikannya! Anak malang ini berhak mendapatkan kasih sayang ayahnya juga!"
"Uh, dia bukan anak—"
Tiba-tiba Kondo melepaskannya. Berganti mencengkeram pundaknya dan menggoncang-goncangkannya. Membuat kepala Hijikata semakin pusing.
"Aku tidak percaya kau melakukannya padaku, Toshi! Apa kau tidak mempercayaiku? Kau tidak menganggapku teman? Dan siapa wanita yang selama ini susah payah membesarkannya sendirian? Kau tahu kau boleh meninggalkan markas kapan saja dan tinggal bersama keluargamu! Aku tidak keberatan selama kau bahagia, Toshi! Selama kau dan keluargamu bahagia!"
"Kondo-san, dengarkan aku dulu!" Hijikata menarik kedua tangan Kondo dan menahannya.
Ia tidak kaget dengan reaksi atasannya. Ia hanya sedikit heran karena sejauh ini Okita belum ikut campur untuk memperkeruh suasana. Atau menembakkan bazooka ke arahnya. Pemuda tanggung itu masih berdiri di dekat pintu dengan ekspresi datar. Ia terlihat bosan, tapi Hijikata tahu sepasang mata coklat itu terus mengawasi Toushirou. Pemuda itu memang tidak sebodoh Kondo.
"Toshi—"
"Dia bukan anakku." Sepasang mata Kondo membulat. Sebelum pria itu dapat protes lagi, ia segera melanjutkan. "Kau mengenalku kan, Kondo-san? Aku tidak mungkin bertindak gegabah, apalagi sampai menelantarkan anakku sendiri, kalau memang aku punya anak. Dan aku sangat mempercayaimu. Tolong jangan meragukan kesetiaanku."
"Tapi Toshi, anak itu mirip sekali—"
"Itu karena dia memang Hijikata-kun." Gintoki menyela, mengelus-elus pantatnya yang nyeri akibat menubruk lantai yang keras hanya beralas tatami. "Hijikata-kun yang berusia 6 tahun."
Kondo mengerutkan alisnya heran. Bergantian memandanginya, Toushirou, dan Gintoki.
"A-aku tidak mengerti, Yorozuya. Toshi yang berusia 6 tahun? Maksudmu anak ini adalah Toshi, tapi masih kecil? Apa itu artinya—"
"Toshi kecil ini telah melakukan perjalanan waktu. Hm, ya. Aku yakin sekali." Gintoki mengangguk-anggukkan kepalanya dengan muka serius.
"Perjalanan waktu?" Kali ini Hijikata juga ikut mengerutkan alisnya heran.
Ah, begitu rupanya.
