Gintama © Sorachi Hideaki

Nothing is impossible in Gintama, right?


"Jadi saat dia keluar dari lubang di batang pohon, tiba-tiba dia sampai di sini. Edo 20 tahun kemudian. Begitu, Toushirou-kun? Kau tidak diculik oleh alien atau semacamnya, kan?" Gintoki mengakhiri rangkuman ceritanya, melipat kedua tangan di depan dada.

Kondo menggumam tanda mengerti. Sesekali melirik heran ke arah Toushirou yang duduk di pangkuan Hijikata. Anak itu terus mencoba menyembunyikan diri dari tatapan datar Sougo yang sejak tadi diarahkan kepadanya.

"Danna, Hijikata-san, kalian langsung percaya begitu saja pada cerita bocah ini? Kita masih belum tahu apakah dia mata-mata atau bukan." Sougo berujar tanpa mengalihkan perhatiannya dari Toushirou. Kemudian ia mencondongkan badannya ke depan untuk mengamati Toushirou dari jarak dekat. "Tapi kalau benar anak ini adalah dirimu waktu kecil, Hijikata-san, aku kasihan padanya. Hei, nak, dosa besar apa yang kau perbuat sehingga tumbuh menjadi laki-laki brengsek seperti Hijikata-san?"

Pukulan keras langsung mendarat di kepala Sougo.

"Diam, bodoh."

Pemuda berambut coklat itu menegakkan badannya.

"Ah, sakit. Kau lihat sendiri, nak, 20 tahun lagi kau akan jadi seperti penggila mayones yang menyebalkan ini. Ah, dengarkan saranku, jauhi mayones."

Lagi-lagi Hijikata mendaratkan pukulan pada kepala Sougo. "Berhenti mengganggunya, Sougo."

Kondo yang biasanya menengahi perseteruan mereka hanya menggumam. Alisnya mengernyit dan sorot matanya tampak penuh perhitungan. Tiba-tiba saja dia berubah menjadi sosok yang serius. Kalau saja dia bersikap seperti itu setiap hari, mungkin Hijikata tidak perlu mengerasi semua anggota Shinsengumi.

"Hmm, Toshi benar, Sougo. Kau tidak boleh mengganggunya. Kita masih belum tahu apa pengaruhnya di masa depan. Bagaimana kalau tiba-tiba Toshi tidak menyukai mayones lagi? Pasti aneh sekali." Ia mengangguk-anggukkan kepala.

"Hmm, tapi kalau kita bisa memperbaiki sifat buruknya dari kecil, menurutku itu bagus sekali, gorila." Gintoki ikut mengangguk-anggukkan kepala, seperti memikirkan gagasan yang sangat cerdas. "Sebelum mengembalikan anak itu ke dunianya, kenapa tidak kita beri dia daftar apa saja yang harus ia jauhi? Ini seperti memberi Oogushi-kun kesempatan untuk menghapus dosa-dosanya."

Hijikata hanya memutar bola matanya. Kalau saja tangannya sampai, tentu dia sudah memukul Gintoki.

"Kau setuju denganku kan, Danna? Bahkan jauh lebih baik kalau dia juga tidak menjadi wakil komandan Shinsengumi." Sougo menambahi.

"Dan tidak mengotori udara segar dengan merokok sepanjang waktu."

"Tidak membuat aturan-aturan yang hanya menguntungkan dirinya sendiri."

"Tidak mabuk-mabukan di bar padahal tidak kuat minum."

"Tidak menggoda puteri Matsudaira-tocchan."

"Tidak bertindak—"

Hijikata menggebrak meja di hadapannya. Berhasil mengejutkan semua orang, bahkan sempat membuat tidur Kagura terganggu. Sepasang mata birunya memicing tajam. Kesabarannya sudah habis, ia harus segera menyegarkan pikirannya dengan stik kanker. Sudah berapa jam ia absen merokok hari ini? Pantas saja ia merasa aneh.

"Kalian hanya membuat kepalaku semakin pusing!" Ia menarik nafas dalam-dalam untuk sedikit menenangkan diri, lalu beralih pada Toushirou. Bagaimana pun juga, dia tidak mungkin marah pada dirinya sendiri. Apalagi pada dirinya dalam versi sekecil itu. "Hei, apa pun yang mereka katakan tentang dirimu saat dewasa nanti, jangan dengarkan. Lakukan saja apa maumu. Tunggu—bukan begitu maksudku. Tapi—argh! Kau di sini dulu, aku harus melakukan sesuatu yang penting di luar."

Hijikata harus sedikit memaksa saat memindahkan Toushirou untuk duduk sendiri di sampingnya. Dia sedikit bertanya-tanya, apakah dulu dirinya pernah bersikap semanja itu pada orang lain? Rasanya hanya kepada Tamegoro saja ia agak sedikit terbuka.

"Oniisan—" Belum sempat Toushirou meraih ujung jaketnya, ia sudah bangkit lebih dulu dan melangkah keluar. Membuka dan menutup pintu ruangannya dengan tegas tanpa menoleh ke belakang, atau mendengarkan panggilan lirih Toushirou yang ditujukan kepadanya.

Hijikata butuh waktu untuk menenangkan diri. Ia melangkah cepat melalui teras yang sepi, kemudian berhenti di ujung, dan menjatuhkan diri untuk duduk. Ia menghela nafas dan merogoh bagian dalam saku jaketnya, mengeluarkan satu pak rokok. Setelah menyulut sebatang, bungkusnya ia taruh di sebelah. Tidak perlu disimpan lagi, karena ia memang berencana menghabiskan empat batang lagi yang tersisa setelah ini.

Ia tidak peduli meski tenggorokannya perih karena merokok terlalu cepat. Ada sesuatu yang menenangkan dari sensasi pahit yang ditinggalkan nikotin di lidahnya. Asap tambakau yang memenuhi kepalanya memang membuatnya pusing, tapi ini pusing yang ia terima dan telah terbiasa. Bukan seperti pusing karena keributan, masalah, dan tekanan yang ia rasakan saat ini.

Hari ini ia bertemu versi kecil dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia tidak merasa frustrasi? Sebenarnya apa yang sedang terjadi, kenapa anak itu bisa sampai di sini? Lagipula, permainan takdir macam apa ini, kenapa Toushirou datang dari waktu yang sama sekali tidak tepat?

Hijikata ingat betul kapan ia mengikuti kelinci masuk ke lubang pohon. Dua minggu setelah kematian ibunya; dua hari sejak ia mulai tinggal di rumah keluarga Hijikata. Dia ingat karena saat itu, harusnya, ia terbentur sesuatu dan semuanya gelap. Lalu ketika sadar ia akan merangkak keluar, berjalan sebentar untuk pulang, dan bertemu Tamegoro. Ia ingat karena hari itu untuk pertama kalinya ia bertemu kakak tertuanya. Satu-satunya Hijikata yang peduli padanya.

Ia membuang rokoknya yang sudah memendek, dan menyulut lagi yang baru.

Tiba-tiba ia teringat kata-kata Kondo tadi. Mereka masih belum tahu apa pengaruh kejadian ini pada dirinya di masa depan. Dirinya di masa depan itu— apakah Toushirou saat dewasa nanti, atau dirinya sendiri setelah hari ini? Ah, dia bahkan tidak tahu.

Kalau Toushirou—dirinya yang berusia 6 tahun—bertemu dengan dirinya di masa sekarang, apakah itu artinya ada dua dimensi dan dua Hijikata Toushirou dengan usia yang berbeda? Apakah di dimensi lain itu juga ada Gintoki, Kondo, Yamazaki, dan yang lainnya dengan usia 20 tahun lebih muda? Sougo tidak masuk hitungan, dia belum lahir saat itu.

Atau seperti kata Gintoki, Toushirou telah melakukan perjalanan waktu. Kalau begitu, apa pun yang terjadi padanya akan berimbas pada Hijikata yang sekarang, kan? Bagaimana kalau Gintoki dan Sougo berhasil mempengaruhi Toushirou? Apakah sifat dan kebiasaannya akan berubah dalam waktu dekat? Bagaimana kalau dua orang bodoh itu berhasil membuat Toushirou tidak jatuh cinta pada mayones? Berhasil mencegahnya kecanduan rokok?

Hijikata mengerutkan hidung. Ia memandangi rokok yang ia pegang. Seorang Hijikata tanpa rokok dan mayones itu bukan Hijikata, tapi Tosshi! Sial. Jangan-jangan dua idiot itu benar-benar mempengaruhi Toushirou, karena ia mulai merasa aneh.

"Argh, apa-apaan ini? Apa yang harus aku lakukan?" Ia membuang rokoknya yang masih cukup panjang, hanya untuk menyalakan yang baru.

Tidak berguna. Dia masih belum bisa berpikir jernih.

Hijikata menghela nafas dan mengusap mukanya dengan gerakan lelah. Sesungguhnya ia sedang bersiap-siap untuk tidur sesaat sebelum keributan di barak Shinsengumi terjadi. Semalam ia berpatroli dengan Harada dan mengejar sekawanan perampok. Sampai dini hari tadi ia sibuk mengurusi laporan, apalagi karena aksi ketiga perampok itu memakan korban jiwa. Dia hanya tidur sebentar, tentu saja ia merasa gusar. Sekarang malah muncul masalah aneh.

Bagaimana anak itu bisa sampai di sini?


Hijikata berakhir berjalan-jalan keluar mencari udara segar dan baru kembali saat hari gelap.

Dia tidak hanya berputar-putar tanpa arah. Ia pergi ke lokasi penemuan Toushirou berdasarkan cerita Gintoki. Berharap menemukan portal atau semacamnya yang akan membawanya kembali ke masa 20 tahun lalu. Tapi tidak ada apa-apa. Hanya timbunan salju. Sekarang ia merasa agak flu setelah berkeliling hanya dengan seragam lengkap tanpa memakai syal atau jaket tambahan.

Sial. Padahal tadi ia berencana untuk tidur siang.

Kondisi barak sudah sepi. Ia sedikit bersyukur karena tidak ada yang mengusiknya. Dan trio Yorozuya itu pasti sudah kembali, jadi ia tidak perlu dibuat pusing oleh ulah mereka lagi.

Tapi bagaimana dengan Toushirou? Apakah anak itu ikut dengan Yorozuya?

Hijikata mempercepat langkah kakinya begitu memasuki teras, segera menuju ruangannya. Ia akan berganti kimono sebentar dan pergi menemui Kondo. Menanyakan apa saja yang mereka lakukan selama ia tidak ada tadi.

Sekarang baru ia sadar sudah bertindak bodoh. Kenapa ia meninggalkan Toushirou dengan orang-orang itu dalam waktu cukup lama? Mereka pasti berbicara macam-macam padanya. Dia harus tahu kebohongan apa saja yang telah mereka jejalkan ke dalam kepala Toushirou yang malang.

Begitu ia menggeser pintu, yang menyambutnya bukan kegelapan kamar kosong seperti yang ia harapkan. Futonnya telah digelar dan lampu kecil dinyalakan sebagai sumber penerangan. Sejenak ia hanya bisa berdiri di ambang pintu, memandangi sosok yang tidur meringkuk di balik selimut tebal. Yang terlihat dari sini hanya rambut hitam.

Tiba-tiba angin bertiup kencang dan hawa dingin melewatinya, menyusup masuk ke dalam kamar.

Hijikata segera menutup pintu di belakangnya. Ia berjengit karena bunyi kayu yang saling bertemu terdengar cukup keras dalam sunyi. Pundak Toushirou bergerak, kemudian anak itu menoleh ke arahnya.

"Oniisan." Ia beranjak duduk. Mengucek matanya pelan.

Hijikata berdehem, masih sambil berdiri dekat pintu. "Maaf. Apa aku membangunkanmu?" Lalu ia menampar dirinya sendiri dalam hati. Tentu saja, bodoh!

"Tidurku tidak nyenyak." Toushirou menggumam. Kedua tangan mungilnya diletakkan di atas pangkuannya.

"Benarkah?" Hijikata mencoba bersikap biasa, meski ia masih merasa aneh berada di sekitar anak itu. Bayangkan saja, dia bicara dengan dirinya sendiri. Tidakkah itu terdengar gila? Apalagi ia tidak menyukai anak kecil. Mereka cengeng dan hanya membuatnya kegerahan. Lalu apa yang harus ia lakukan saat harus berhadapan dengan dirinya yang berusia 6 tahun itu?

"Gin-san dan dua temannya sudah pulang dari tadi. Okita-senpai dan Paman Gorila kembali ke tempat mereka saat aku bilang mau tidur. Tapi tidurku tidak nyenyak."

Belum sempat ia bertanya, Toushirou sudah melaporkan sendiri apa yang terjadi. Ia hanya meringis miris mendengar nama-nama panggilan yang diucapkan Toushirou. Gin-san dan Okita-senpai masih bisa dimaklumi, karena tidak mungkin bocah itu memanggil Gintoki dengan sebutan keriting sialan dan Sougo hanya dengan nama. Tapi Paman Gorila itu urusan lain. Pasti karena pengaruh keriting sialan itu.

"Hm, mungkin karena kau mengalami kejadian aneh hari ini. Lagipula kau berada di tempat yang asing bagimu. Aku pun tidak akan tidur nyenyak dalam kondisi seperti itu." Ia berujar sambil melepas jaket dan rompi, kemudian melangkah menuju lemari sembari membuka satu per satu kancing kemejanya.

Hijikata mengambil kimononya di tumpukan teratas. Ia menanggalkan kemeja dan segera memakai kimononya, tak membiarkan udara dingin terlalu lama bersentuhan dengan kulitnya. Apalagi ia tidak sendiri. Ada anak kecil di sini. Dan meski pun itu dirinya sendiri, dia merasa kurang pantas kalau tidak berbusana lengkap. Ia baru melepas celananya setelah memastikan obinya terikat dengan baik.

Saat ia membalikkan badan, Toushirou melihat ke arahnya dengan kening berkerut. Hijikata ingin mendekat dan mengulurkan tangan, menghilangkan kerutan serius pada wajahnya. Anak sekecil itu belum boleh memikirkan hal-hal sulit hingga alisnya tertaut.

"Kalau benar kau adalah diriku saat dewasa nanti, apakah tidurku akan terus tidak nyenyak hingga aku sebesar dirimu? Oniisan, kau tahu jawabannya, bukan?"

Hijikata membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Akhirnya ia hanya bisa berdehem dan membalikkan badan untuk mengambil futon, lalu menggelarnya di sebelah futon Toushirou. Anak itu terus memperhatikannya. Masih menunggu jawaban selagi Hijikata merapikan futonnya.

"Apakah… tidurmu juga selalu tidak nyenyak?"

Pertanyaan macam apa itu? Hijikata tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Apakah dulu dirinya selalu bersikap semuram itu? Sepertinya memang benar. Pantas saja ia mudah marah. Ia baru sadar masa kecilnya sekelam ini.

Hijikata menghela nafas dan menyelinap ke balik selimut. Toushirou masih melihat ke arahnya menunggu jawaban. Sepasang mata birunya masih tampak bercahaya, tidak seperti matanya sekarang. Ah, kalau dipikir-pikir, 20 tahun ini banyak sekali hal yang terjadi. Membayangkan dirinya yang kecil dan polos bisa berubah menjadi dirinya yang sekarang, itu proses yang panjang. Proses yang menakutkan.

"Kau… akan bertemu kakakmu. Kakak kita. Setelah itu, mimpi buruk yang mengusik tidurmu akan sirna."

untuk sementara waktu.

Memangnya apa yang bisa ia katakan? Tidak mungkin dia menakut-nakuti Toushirou. Dia tidak boleh ikut campur dan mengubah dirinya sendiri. Biarlah anak itu melaluinya. Karena kalau Toushirou tidak tumbuh besar seperti dirinya sekarang, apa jadinya seorang Hijikata? Dia akan jadi orang yang berbeda, dan itu tidak boleh terjadi.

"Tidurlah. Besok kita cari jalan keluar untuk mengirimmu kembali."

Toushirou tampak tidak puas dengan jawabannya, tapi anak itu hanya mengangguk pelan. Ia kembali berbaring, meringkuk menghadap Hijikata. Ia ingin mengulurkan tangannya mengelus rambut Toushirou, tapi mengurungkan niatnya. Kalau dia tidak sengaja memanjakannya, Toushirou pun tidak akan dewasa menjadi dirinya yang sekarang.

Ia serba salah. Sial.