Gintama © Sorachi Hideaki
Nothing is impossible in Gintama, right?
"Okaasan, aku pulang."
Ia melepas sendalnya di genkan, lalu diam sebentar. Tidak terdengar jawaban dari dalam rumah, membuat keningnya sedikit berkerut heran. Di mana ibunya? Apa dia sedang tidur?
Toushirou mengangkat bahu dan langsung menuju dapur. Mungkin ibunya sedang memasak. Lagipula matahari sudah hampir terbenam, sebentar lagi waktunya makan malam. Selain itu ia harus. Kerongkongannya kering sekali. Mungkin seharusnya dia membawa minum dan makanan kecil saat ke hutan. Tidak bisa selamanya mengandalkan beri dan buah-buahan liar. Sebentar lagi musim gugur tiba, buah-buahan yang tumbuh rendah akan semakin sulit ditemukan.
"Okaasan?"
Ibunya tidak ada di dapur. Tungku belum menyala. Bahkan kayu bakar masih tertumpuk rapi di sudut dapur. Mungkin ibunya belum bangun.
Akhir-akhir ini ibu lebih sering tidur. Masih jauh lebih baik dibanding melihat wanita itu batuk-batuk atau memuntahkan makanannya. Toushirou selalu panik dibuatnya. Karena, apa yang bisa dia lakukan selain mengambilkan minum dan mengusap-usap punggung ibunya—yang tiap hari makin teraba tulangnya?
Tabib terdekat jaraknya cukup jauh dari sini. Dia tidak benar-benar tahu di mana tempatnya. Lagipula mereka tidak punya uang. Bagaimana membayar biaya pengobatan? Belum tentu tabibnya bersedia menempuh perjalanan jauh hanya untuk datang kemari.
Toushirou meletakkan kembali gelas di atas meja.
Biasanya ibu sembuh dengan sendirinya. Semoga ini pun penyakit seperti biasanya, hanya kelelahan. Karena ibu janji akan baik-baik saja. Ibu janji akan menjaganya hingga dewasa. Ibu janji tidak akan meninggalkannya seperti ayah.
Ah. Siapa ayahnya? Dia bahkan tidak tahu. Toushirou tidak pernah bertanya, tapi suatu hari ibu tidak sengaja menyebutkan gelar itu; ayah. Waktu itu ia sudah mengantuk dan tidak begitu mendengarkan, tapi ibu bercerita tentang ayahnya yang harus pergi karena mengurus keluarganya. Keluarganya yang lain. Ah, dia tidak peduli. Dia hanya membutuhkan ibu, dia tidak membutuhkan orang lain.
Dan sekarang ia membutuhkan ibu untuk memasak makan malam, karena perutnya sudah bernyanyi sejak dia dalam perjalanan pulang tadi.
Begitu melewati ruang tengah langkah kakinya terhenti. Ada sebuah kimono terlipat rapi di atas meja. Kimono berwarna hijau lembut bermotif daun momiji kuning. Akhirnya selesai juga, ia merentangkannya sembari tersenyum lebar. Mungkin ibu kelelahan karena menyelesaikan jahitannya. Tapi dia tetap harus makan. Ibu juga harus makan.
Kemudian ia melipat lagi kimononya dan menaruhnya di atas meja. Meneruskan pencariannya yang terhenti. Kalau tidak ada di dapur atau di ruang tengah, pasti ibu berada di kamar. Tidak salah lagi. Kaki mungilnya melangkah ringan, lalu berhenti di depan pintu. Sebaiknya ia mengetuk dulu.
"Okaasan?" Mungkin saja ibunya sudah bangun dan sedang berganti baju.
Tapi tidak ada jawaban.
"Okaasan?" Kali ini diserukan lebih keras. Masih belum ada jawaban.
Mungkin ibunya baru tidur sebentar, wajar saja kalau belum bangun. Tapi sebaiknya ia melihat kondisi ibu. Siapa tahu selimutnya tersingkap atau bantalnya miring. Karena bagaimana pun juga dia ingin ibunya beristirahat dengan nyaman.
"Okaasan, aku masuk."
Toushirou menggeser pintu dengan hati-hati. Ternyata benar ibunya sedang tidur. Wajah pucatnya tampak damai, dihiasi senyuman tipis. Secara tak sadar sudut bibir Toushirou ikut tertarik ke atas. Karena akhir-akhir ini ibu selalu tidur dengan kening berkerut seperti menahan sakit, dan melihatnya saja sudah cukup membuatnya tersiksa.
Tidak ingin mengusik tidur ibunya, ia mendekat dengan langkah pelan. Duduk di samping futon dan mengulurkan tangannya untuk membenarkan selimut yang sedikit tersingkap. Tapi kemudian keningnya berkerut, pegangannya pada selimut mengerat.
Dia yakin selalu postur ibunya terlalu tenang.
Mana gerak naik turun yang diciptakan oleh dadanya saat bernafas? Benarkah tersembunyi di balik selimut? Padahal biasanya tetap terlihat, meski begitu samar.
Toushirou menelan ludah. Jari tangannya sedikit gemetar saat didekatkan pada hidung ibu. Tidak terasa apa pun. Pasti dia hanya terlalu gugup. Ia menelan ludah lagi, kerongkongannya mengering. Kali ini Toushirou menjatuhkan kepalanya pada dada ibunya, menempelkan telinga kanannya. Memastikan ada tanda kehidupan di sana. Juga tidak ada.
Sepasang mata birunya membulat. Tampak ragu. Takut. Bingung.
"Okaasan." Ia menggoncangkan bahu ibu pelan. Tidak ada jawaban. "Okaasan." Goncangannya lebih keras. Ibu tetap bergeming.
Dia tidak tinggal diam. Terus menggoncang-goncangkan bahu ibu hingga rambut hitamnya yang terurai rapi di bantal tampak berantakan. Hingga bagian pundak kimono ibu sedikit kusut. Hingga selimut tersingkap sepenuhnya dan menampakkan kedua tangan ibu bertangkupan dengan tenang. Senyum samar itu masih ada. Tidak berubah; tidak memudar sedikit pun. Telah kaku.
"Okaasan—" Nafasnya tercekat. Air matanya menetes turun membingkai pipinya yang memerah. Mengalir terus-menerus seperti mata air. Ia menggenggam tangan ibu. Dingin.
"Okaasan!"
Sepasang matanya membelalak terbuka. Nafasnya dua kali lebih cepat dari biasanya.
Ia mengerjap sekali, dua kali, kemudian pupil matanya kembali normal saat menyadari kilasan tadi hanya mimpi. Mimpi buruk, tidak salah lagi.
Toushirou menelan ludah. Kerongkongannya terasa kering. Ia masih berusaha menenangkan diri. Lalu ia ingat kemarin telah terjadi sesuatu. Sepasang mata birunya beralih, memperhatikan sosok yang terlelap di sampingnya, berbaring miring menghadapnya.
Dirinya 20 tahun kemudian.
Keningnya berkerut. Toushirou ingat betul semalam mereka tidur di futon masing-masing, kenapa tiba-tiba jaraknya memendek? Begitu menoleh ke belakang pundaknya ia tahu telah secara tidak sengaja merangkak mendekat, hingga berakhir di balik selimut yang sama dengan Hijikata.
Ah, lagipula ini begitu hangat dan nyaman.
Akhir-akhir ini tidurnya tidak nyenyak. Kerap kali terbangun di tengah malam yang sunyi. Dia tak tahu jam berapa sekarang, tapi pasti belum pagi. Karena dia tidak mendengar apa pun kecuali dengkur halus Hijikata. Dari sekian banyak orang yang tinggal di sini, tidak mungkin mereka semua sekumpulan pemalas yang hobi bangun siang, bukan? Di sini memang musim dingin, tapi bukan berarti mereka bisa bermalas-malasan. Bukankah mereka adalah Shinsengumi? Dia tidak yakin apa itu Shinsengumi, tapi mereka adalah sekumpulan pria berseragam. Mungkin semacam polisi atau penegak hukum? Entahlah.
Kerongkongannya masih terasa kering, tapi ia enggan untuk beranjak. Tidak rela meninggalkan hangat yang melingkupinya. Tangan kanan Hijikata menyentuh lengannya. Nyaris memeluknya.
Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali ada yang memeluknya dalam tidur. Ia sedikit merindukan hangat tubuh orang lain di sampingnya. Sesuatu yang membuatnya merasa aman, seperti tidak ada yang bisa mengganggunya. Tidak juga mimpi buruk yang kerap kali menderanya.
Akhirnya ia memutuskan untuk mengabaikan hausnya dan menggeser tubuhnya mendekat pada sumber hangat. Otot-otot tubuhnya melemas saat lengan Hijikata melingkarinya sedikit lebih erat. Memeluknya.
Kedua matanya terpejam menyambut gelap. Tapi kali ini ia yakin tidak akan bermimpi buruk.
Derap langkah kaki dan perbincangan dengan nada tegas terdengar keras di telinga, mengusik tidurnya. Alisnya mengernyit, namun kedua matanya enggan terbuka. Kemudian terdengar suara pukulan, dan derap langkah tergesa yang berhasil membuatnya membuka mata.
Silau, itu yang pertama terlintas di benaknya. Selain berisik, tentu saja.
Toushirou beranjak duduk. Gravitasi seperti menarik turun membebani kelopak matanya. Kenapa dia begitu mengantuk?
"Tsk, dasar Yamazaki tidak berguna. Bagaimana mungkin anak mau memakai pakaian perempuan seperti tadi? Apa dia sedang menghinaku? Hah."
Ia mengusap-usap matanya. Ada orang berseragam yang berdiri di ambang pintu sambil berkacak pinggang. Angin pagi yang dingin bertiup pelan dan asap nikotin tiba-tiba terhembus masuk kamar, membuatnya terbatuk.
Orang itu membalikkan badan dengan sedikit kaget. Kemudian segera membuang rokok yang terselip di mulutnya, dan menghampirinya.
"Ah, kau sudah bangun? Pasti karena Yamazaki terlalu berisik tadi." Hijikata tersenyum canggung, hanya berjongkok di samping futon. Seperti ragu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. "Apa kau lapar? Ah, mungkin kau mau mandi dulu? Yamazaki sedang mencarikan baju untukmu. Jadi… ya. Tunggu sebentar lagi."
Toushirou hanya menganggukkan kepala, kemudian memandangi pangkuannya. Dia sendiri juga tidak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan Hijikata. Di depan dirinya versi dewasa. Sesekali ia mencuri pandang dari sudut matanya, kepada Hijikata yang telah duduk bersila sambil memandangi tumpukan salju di luar.
Apakah dia benar-benar akan tumbuh dewasa menjadi orang itu?
Dia terlihat agak tidak ramah. Kalau bukan karena orang itu adalah dirinya sendiri, mungkin Toushirou tidak akan dekat-dekat dengannya. Sepasang mata birunya tajam dan penuh perhitungan. Tajam, namun tampak tumpul secara bersamaan. Tidak menyorot lembut seperti mata ibu. Ah, tapi dia kan laki-laki. Jelas saja mata mereka berbeda.
Kemudian Toushirou memperhatikan seragam yang dipakai Hijikata. Jaket hitam bergaris emas lengkap dengan rompi warna senada dan syal putih. Harus dia akui pria itu terlihat berwibawa. Kalau memang benar itu dirinya nanti, dia tidak akan protes. Setidaknya Hijikata tidak terlihat kurus dan menyedihkan seperti dirinya sekarang.
Tiba-tiba Hijikata menoleh kepadanya, sadar telah diperhatikan. Keningnya sedikit berkerut, kemudian tangannya sibuk meluruskan seragamnya.
"Hm? Apa ada sesuatu di bajuku? Ah, bekas apa ini? Kenapa aku tidak melihatnya tadi?" Hanya noda kecil samar warna kuning pada syalnya. Mungkin kuah ramen atau semacamnya.
Toushirou memperhatikan pria itu—dirinya 20 tahun kemudian—sibuk membuka ikatan syalnya dan mengulangi simpulnya. Kali ini memastikan noda samar tadi tersembunyi. Apakah dia akan mengurusi hal-hal kecil seperti itu saat dewasa nanti? Padahal dia sendiri tidak pernah peduli kerak lumpur yang menempel di ujung kimononya tiap pulang ke rumah. Ibu juga tidak pernah berkomentar apa-apa. Sudah seharusnya laki-laki berjiwa liar dan terlibat dengan urusan kotor seperti itu. Tapi mungkin dia memang akan dewasa dengan memperhatikan masalah sepele seperti noda kuah ramen. Mungkin dia harus mulai meniru sifat Hijikata.
"Oniisan, apa kau akan membawaku pulang setelah ini?"
Dia baru ingat kalau ini bukan dunianya. Tidak seharusnya ia berada di sini. Karena meski hidupnya di kediaman Hijikata tampak tidak menarik, dia tetap harus kembali ke sana. Bukankah Hijikata sendiri yang mengatakan kalau ia akan bertemu kakak mereka? Meski ibunya sudah tidak ada, dia masih harus meneruskan hidupnya seperti biasa. Tapi bukan di sini tempatnya.
Toushirou tidak begitu mengerti apa perjalanan waktu yang disebutkan Gin-san. Tapi kalau benar dia dan Hijikata adalah orang yang sama, maka tidak seharusnya mereka bertemu. Dia harus kembali.
Kening Hijikata masih mengerut. Ia meluruskan seragamnya dan mengambil nafas, lalu membuangnya pelan-pelan.
"Aku tidak tahu, mungkin aku melakukan kesalahan, tapi aku tidak menemukan semacam… penghubung? Ya, penghubung antara duniamu dan duniaku." Pria itu menggaruk bagian belakang kepalanya. Diam sebentar dengan alis berkerut dalam, kemudian meneruskan dengan nada ragu. "Mungkin… perlu dilihat sekali lagi, kalau kau masih ingat tempat pertama kau sampai di sini. Kalau memang tidak ada, kita akan mencari cara lain. Hmm… kurasa Yorozuya pernah menyebutkan tentang jam ajaib mesin waktu atau semacamnya, entahlah. Nanti kita akan… menemuinya."
Samar, memang. Tapi kalau jeli, siapa pun bisa melihat pipi Hijikata sedikit bersemu merah. Mungkin karena dingin, mungkin karena bagian tertentu dari kata-katanya barusan, Toushirou tidak tahu pasti.
"Yorozuya? Maksudmu Gin-san dan kedua temannya?" Dia tidak mengenal banyak orang, tapi sepertinya tiga orang aneh itu bukan orang jahat. Lagipula Hijikata tidak akan membiarkannya dalam bahaya, bukan? Kalau kemarin pria itu meninggalkannya sendiri dengan teman-temannya, pasti mereka orang yang dipercaya Hijikata, bukan?
"Ah, y-ya. Gin-san dan dua temannya. Mereka—tidak mengatakan hal-hal aneh kepadamu, kan?"
Toushirou tidak tahu apa definisi hal aneh menurut Hijikata. Karena baginya, semua yang mereka katakan kemarin adalah hal aneh. Dia sulit untuk mempercayai cerita mereka, dan akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Apa pun yang akan terjadi nanti, biarlah terjadi. Dia tidak perlu memusingkan larangan ini itu dan berbagai anjuran yang ia dengar kemarin.
Jadi ia hanya menggeleng pelan.
Hijikata tampak puas dengan reaksinya, mengangguk-anggukkan kepala. Tak lama kemudian datanglah pria berseragam yang lain; Yamazaki. Keringat bercucuran membasahi dahinya. Sepertinya dia sudah berlarian ke sana ke mari.
"F-Fukuchou—ini bajunya. Aku tidak tahu berapa ukurannya, jadi aku hanya mengira-ngira." Dia mengangsurkan buntalan kain yang ia bawa kepada Hijikata.
"Hn. Kali ini bukan baju perempuan, kan? Awas kau!"
Yamazaki berjengit. "Bu-bukan, Fukuchou. Aku sudah memastikan ini baju anak laki-laki. Kali ini tidak salah lagi." Dia masih tampak was-was saat Hijikata mulai membuka buntalan kain dan mengambil kimono ukuran anak-anak, merentangkannya. Warnanya biru tua. Polos tanpa motif atau gradasi warna. Hijikata memicingkan kedua matanya.
"Bagaimana, Fukuchou?"
"Hmm. Lumayan. Sekarang pergi dan siapkan air hangat untuk mandi. Cepat."
"Ah, siap!"
Dan pria itu pergi lagi.
Toushirou agak kagum melihatnya. Enak sekali menjadi dirinya di masa depan. Sepertinya semua orang menurut kepadanya. Tapi tentu saja. Bukankah Hijikata adalah apa yang mereka sebut sebagai wakil komandan Shinsengumi? Dia akan jadi orang sehebat itu nanti? Membayangkannya saja membuat ia ingin tersenyum. Mungkin tak lama lagi hidupnya akan bahagia. Bukankah setelah bertemu kakaknya, Hijikata bilang mimpi buruknya akan sirna?
Dia semakin tidak sabar untuk pulang.
"Ah… aku yakin sekali kemarin kami menemukannya di sini." Gintoki meletakkan kedua tangannya di pinggang dan melihat-lihat sekeliling. Semuanya putih dilapisi salju. Sepertinya semalam salju turun dengan lebat. Padahal kemarin ia ingat setidaknya semak perdu di samping pohon masih terlihat rantingnya yang kering. Sekarang sudah tertutup salju.
Melihat ekspresi ragu pada wajah Gintoki membuatnya kesal. Harusnya dia bertugas pagi ini, tapi harus menundanya karena menemui si rambut keriting itu dan mencari lokasi penghubung yang sebenarnya. Urat berkedut muncul di pelipisnya saat Gintoki malah sibuk mengorek hidungnya dan mengeluarkan gumpalan besar menjijikkan dari sana. Tidak bisa dipercaya dia berhubungan dengan orang seperti itu. Yang benar saja, Hijikata?!
"Yorozuya, kalau kau mempermainkanku, aku akan membunuhmu!" Akhirnya ia meledak marah. Kalau dipikir-pikir, dirinya sendiri yang bodoh karena menyeret Gintoki keluar pagi-pagi dingin seperti ini. Tentu saja otak pria itu masih membeku. Hell, bahkan dia yakin otaknya akan terus membeku selama musim dingin. Mungkin tak lama lagi Gintoki akan mulai melakukan hibernasi seperti beruang. Lihat saja betapa besar nafsu makannya sesaat sebelum musim dingin tiba. Pantas badannya terlihat lebih gempal dari biasanya. Hijikata sampai sesak nafas saat diam-diam pria itu memeluknya tadi. Menyebalkan.
"Hei, nak, kemarin kau benar-benar ada di sini, kan? Kau tidak pergi ke mana-mana, kan?"
Sekarang dia menoleh ke bawah, kepada Toushirou yang sejak tadi hanya diam dan memegangi celananya. Anak itu menempel sekali dengannya. Dia agak risih dibuatnya, tapi mau bagaimana lagi? Sepertinya hanya dirinya seorang yang benar-benar dipercaya oleh Toushirou. Lagipula Hijikata tidak bisa menyingkirkan Toushirou dan menyuruhnya menjaga jarak begitu saja. Bagaimana pun juga, dia tidak bisa melakukan itu pada dirinya sendiri. Bagaimana kalau ia bersikap kasar dan anak itu berakhir membencinya? Apa yang akan terjadi padanya nanti kalau dirinya versi kecil membenci dirinya yang sekarang?
"Ah, sebenarnya kemarin aku… begitu keluar dari ceruk di pohon, aku berjalan sebentar. Aku heran karena ada salju di mana-mana padahal sekarang kan musim panas…"
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi?! Argh, selama ini kita berputar-putar mencari di tempat yang salah. Harusnya kau mengatakan hal sepenting itu dari tadi, nak! Di mana kau pertama muncul? Cepatlah. Gin-san kedinginan. Dia belum minum susu stroberi pagi ini. Bahkan dia belum sempat buang air atau membaca Jump. Argh!"
Hijikata sedikit terkejut dengan reaksi Gintoki. Ternyata dia punya energi untuk marah-marah begitu. Pasti otaknya sudah sedikit mencair. Tapi yang membuat rasa kagetnya berubah menjadi khawatir adalah kenyataan bahwa Toushirou semakin mendekatkan diri dengannya. Kedua tangan mungilnya mencengkeram celana bahan yang ia pakai hingga sesak. Anak itu hanya menundukkan kepala dan bergumam tidak jelas. Seperti minta maaf atau semacamnya.
Tangannya mengepal.
"Keriting sialan! Kau tidak perlu berkata sekeras itu padanya! Kau tidak lihat dia masih bingung karena tersesat di tempat ini? Kenapa kau malah memarahinya? Apa yang ada di dalam kepalamu hanya susu dan Jump saja?! Dasar pengangguran tidak berguna!"
Sudut mata Gintoki mengejang.
"Oi, oi, Oogushi-kun! Kenapa kau berteriak-teriak? Gin-san tidak mengatakan sesuatu yang kejam, kan, Toushirou-kun? Gin-san tidak memarahimu, kan?"
Gintoki berjongkok hingga selevel dengan Toushirou. Mengulurkan tangan untuk memegang pundaknya, tapi Hijikata lebih dulu menepisnya dengan kasar. Menarik Toushirou menjauh, mengamankannya dari si keriting sialan itu.
"Bodoh! Jangan sentuh dia dengan tanganmu yang kotor! Menjijikkan."
Sekilas sepasang mata merah Gintoki tampak terluka. Kemudian pria itu menegakkan badannya dan menghela nafas. Ia memandangi Hijikata dengan tatapan serius. "Kau yakin mau bersikap seperti ini di hadapan dirimu sendiri? Kau tidak takut nantinya dia akan membencimu? Membenci dirinya sendiri, dan berusaha keras untuk berubah agar tidak menjadi orang sepertimu? Hijikata-kun?"
Hijikata terdiam. Sepasang matanya mengerjap. Tangannya masih berada di pundak Toushirou. Dia bisa merasakan pundaknya menaut tegang. Tentu saja dia kaget dengan interaksi antara dirinya dan Gintoki. Mungkin dia memang terbiasa memaki pria berambut perak itu, begitu pun sebaliknya dengan Gintoki. Tapi bagi orang asing, tentu terdengar kejam dan tidak berperasaan. Bahkan menyeramkan.
Ia menelan ludah. Harusnya dia bisa menahan diri.
Hijikata menghela nafas dan menggenggam kedua tangan Toushirou untuk melepaskan cengkeramannya. Kemudian dia berjongkok di hadapan Toushirou, memegang kedua pundaknya. Anak itu masih menundukkan kepalanya.
Ia berdehem pelan. Keningnya mengernyit saat Toushirou sedikit berjengit kaget.
"Ehm. Mungkin, ah, kita bisa—berjalan-jalan sebentar. Kau… tidak perlu buru-buru mengingat tempatnya. Masih ada waktu. Santai saja. Bagaimana?"
Dia sudah lupa kapan terakhir kali berbicara dengan nada lembut seperti itu. Rasanya tidak pernah, dan ia merasa sedikit konyol setelah mengatakannya. Tetap saja dia terdengar seram dan menakutkan bagi anak kecil. Tapi kemudian Toushirou mengangkat kepalanya dan mengangguk pelan.
Sekarang ia hanya bisa berharap semoga anak itu tidak membencinya. Gawat sekali kalau dia sampai membenci dirinya sendiri. Benar apa yang dikatakan Gintoki. Bagaimana kalau Toushirou berusaha keras agar tidak menjadi seperti Hijikata? Apa yang akan terjadi nanti?
Jadi Hijikata mengusap pundaknya dan memaksakan diri untuk tersenyum.
