Gintama © Sorachi Hideaki

Nothing is impossible in Gintama, right?


"Hei, Nak, kau yakin di sekitar sini— ahh. Sudahlah."

Kedua alis Hijikata terangkat heran. Kemudian ia melirik pada Toushirou, dan mendapati anak dalam gendongannya telah tertidur pulas. Ia menghela nafas dan membenarkan lengannya yang menyangga Toushirou. Pantas saja sejak beberapa saat yang lalu anak itu tak lagi bergerak-gerak.

Sudah sekitar satu jam mereka berkeliling di tempat yang ditunjukkan Toushirou. Tapi hasilnya tetap sama. Nihil, mereka tidak menemukan apa-apa. Anak itu terlihat agak ragu, karena semuanya putih berselimut salju. Tidak ada yang bisa dikenali di sini. Percuma saja.

Perubahan cuaca yang dirasakan Toushirou sangat drastis. Dari suhu rataan musim panas 25 derajat, tiba-tiba sampai di tempat bersuhu di bawah 5 derajat. Tentu saja anak itu merasa tidak enak badan. Dari tadi dia bersin-bersin dan gemetaran, padahal Gintoki sudah menambah benteng perlindungannya dengan syal tebal. Anak itu tidak mengeluh secara langsung, tapi Hijikata tahu dia lelah berjalan di atas tumpukan salju setinggi mata kaki. Akhirnya Hijikata terpaksa menggendongnya, karena dia tidak mau dekat-dekat orang lain kecuali dirinya. Dan kini anak itu jatuh tertidur. Agak berat memang, tapi tidak masalah.

"Jadi? Mau terus mencari?" Gintoki menoleh ke arahnya. Pria itu menyembunyikan kedua tangannya di balik lengan lebar kimononya yang hangat. Dia hanya memakai kimononya dengan benar tiap musim dingin. "Tapi kurasa kita tidak akan menemukan apa-apa. Kau lihat, Hijikata-kun, semuanya tertutup salju."

Hijikata mengernyitkan kening. Berpikir.

Mereka masih belum tahu apakah Toushirou telah melakukan perjalanan waktu, atau ada portal penghubung dua dunia di suatu tempat. Apa pun itu, pasti ada sesuatu yang menghubungkannya, dan itu yang sedang mereka cari saat ini. Tapi dalam cuaca begini, sepertinya pencarian tidak mungkin diteruskan. Entah kenapa musim dingin tahun ini begitu dingin bersalju.

"Hijikata-kun?"

Ia sedikit tersentak saat Gintoki sengaja menabrakkan siku mereka. Tiba-tiba saja pria itu menutup jarak normal di antara mereka. Memutuskan untuk berjalan beriringan dengan lengan nyaris selalu bersentuhan. Hijikata hampir tersandung karena lengan Gintoki menghantamnya agak keras.

"Argh, apa yang kau—" Ia menggeram pelan. Menyadari suaranya terlalu nyaring. "Bodoh. Jangan jalan dekat-dekat denganku. Kau membuatku hampir jatuh!" Ia berbisik marah.

Gintoki melihat ke arahnya dengan ekspresi lucu. Hijikata akan meninju mukanya kalau saja tangannya tidak sibuk mendekap Toushirou.

"Apa ini, kenapa kau bersikap pemalu seperti itu? Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya kita berdua saja." Pria berambut keriting itu melingkarkan lengannya pada pundak Hijikata. Menyeretnya mendekat tanpa mempedulikan protes yang diserukan setengah berbisik kepadanya. "Tidak apa-apa. Anak itu sedang tidur, dia tidak akan terganggu. Tapi kalau kau berisik terus, kau akan membangunkannya. Jadi biarkan Gin-san sedikit menghangatkanmu, oke?"

Ia hanya menggerutu. Tidak mencoba melepaskan diri karena tahu hal itu percuma. Lagipula ia mulai merasa kedinginan. Saat-saat seperti ini panas tubuh pria pengangguran itu cukup berguna.

Selama beberapa saat mereka berjalan dalam diam. Yang terdengar hanya suara lembut salju terinjak di bawah sepatu. Lagi-lagi Hijikata membenarkan posisi lengannya. Jujur saja ia mulai merasa pegal. Toushirou memang tidak terlalu berat, tapi hawa dingin mulai menembus jaket yang ia kenakan. Padahal dia sudah mengenakan dua jaket.

Pegangan tangan Gintoki pada pundak kanannya mengerat. Meremas pelan, kemudian dilepas begitu saja. Hijikata merasa sedikit kehilangan.

"Sepertinya kau mulai lelah. Sini, biar Gin-san yang membawa Toushirou-kun."

Tanpa pikir panjang ia mengoper Toushirou pada Gintoki. Anak itu menggeliat sebentar, kemudian secara insting kedua tangannya mencengkeram bagian depan kimono putih Gintoki. Dia sama sekali tidak terbangun. Hijikata menggosok-gosokkan telapak tangan dan meniupinya. Menyadari Gintoki tersenyum ke arahnya, Hijikata sempat ingin menyalak marah. Tapi tidak jadi. Kalau ia terlalu berisik hanya akan membangunkan Toushirou.

"Jadi, kita sudahi saja pencarian hari ini? Sebaiknya kita menunggu saljunya mencair." Gintoki menyarankan.

Dia menggumam, menenggelamkan kedua tangan ke dalam saku jaket. Lagi-lagi kesunyian merebak di antara mereka. Saat Gintoki menguap lebar, Hijikata hanya melirik ke arahnya tanpa mengatakan apa-apa. Itu bukan hal yang aneh. Kalau tidak sibuk beradu mulut atau terlalu mabuk, mereka berdua memang tidak banyak bicara satu sama lain.

Namun kini diam di antara mereka bukan sesuatu yang terasa canggung. Hijikata menikmatinya; saat mereka hanya diam tapi saling mendengarkan. Dan karena Gintoki tidak bersikap menyebalkan, artinya pria itu juga menyukai ketenangan yang ia bagi dengan Hijikata, bukan?

"Menurutmu, apa dia membenciku?" Sepasang mata birunya tidak melihat ke arah Gintoki. Menerawang jauh dengan sorot tumpul. Dia pun tidak berani melirik kepada Toushirou; kepada versi kecil dari dirinya.

"Hah? Maksudmu Toushirou-kun?" Hijikata menganggukkan kepala.

Gintoki terkekeh. "Jangan melucu. Orang narsis sepertimu, mana mungkin membenci dirinya sendiri."

Hijikata memutar bola matanya.

Ia merasa kalau Toushirou membencinya. Mungkin saat ini belum terlihat, tapi ia merasa anak itu akan membencinya. Karena dia pun akan membenci dirinya yang sekarang. Entahlah. Dia bukan orang jahat. Dia juga bukan seorang kriminal. Dia seorang polisi: wakil komandan Shinsengumi yang disegani. Tapi hal itu sama sekali tidak membuatnya lega.

Karena ia tahu betul tangannya tidak sebersih kelihatannya. Selama menjalankan tugasnya sebagai anjing bakufu dan jauh sebelum itu, ia telah mengotori tangannya dengan darah ratusan orang yang bahkan tidak ia ketahui namanya. Mereka memang penjahat dan pantas mendapatkan hukuman, tapi jauh di dalam hati nuraninya, Hijikata tidak sepenuhnya membenarkan tindakannya begitu saja. Siapa pun akan terkejut jika tahu jumlah nyawa yang telah melayang di tangannya. Bahkan dia sendiri tidak sanggup menghitungnya.

Toushirou pasti membencinya. Kalau tahu dirinya nanti akan tumbuh besar menjadi seorang pembunuh, anak itu pasti akan membencinya. Bahkan meski hukum membenarkan perbuatannya sekalipun.

Memang tidak ada yang menyebutnya sebagai pembunuh. Tidak di depan mukanya secara langsung. Tapi Hijikata tahu ada orang-orang yang menaruh dendam padanya. Tidak sedikit orang yang mengincar nyawanya (termasuk Sougo). Setiap hari ia harus waspada, karena jika lengah sebentar saja, hidupnya berakhir sudah. Bagaimana mungkin ia tidur nyenyak dalam kondisi demikian?

Hijikata melirik ke arah Gintoki yang berjalan di sampingnya dengan tenang.

Diam-diam ia iri pada kehidupan pria itu. Dia sedikit tahu tentagn masa lalu Gintoki sebagai Shiroyasha; tapi setidaknya pria itu telah meninggalkan gaya hidupnya yang dulu. Sekarang yang ia pedang hanya pedang kayu, dan tidak ada musuh yang terus menerus mengintai menunggunya lengah. Setidaknya daftar musuhnya tidak bertambah panjang. Tidak seperti Hijikata.

"Hmm? Ada apa Hijikata-kun? Dari tadi kau melihat ke arah Gin-san."

Ia segera mengalihkan pandangannya. "Bodoh. Siapa yang melakukan hal itu?"

"Hoo… tidak mau mengaku, ya? Jangan bilang kau cemburu pada Toushirou-kun. Kau juga ingin digendong oleh Gin-san, ya?"

Urat berkedut muncul di pelipis kiri Hijikata. Sudut matanya mengejang. Ia hanya menggeram pelan, lalu menghela nafas untuk menenangkan diri. Kalau tidak ada Toushirou, dia sudah pasti akan menghajar Gintoki. Pria itu harus berterima kasih kepada Toushirou, atau dia sudah pasti babak belur.

Entah kenapa Hijikata merasa begitu emosional hari ini. Mungkin karena ia harus menahan diri di depan Toushirou, sementara gangguan dari orang-orang di sekitarnya tak pernah berhenti, bahkan bertambah. Menyebalkan.

"Ah, Gin-san tahu apa yang sedang kau pikirkan." Gintoki menoleh ke arahnya dan tersenyum, membuat keningnya berkerut. Kali ini senyumannya tampak tulus, bukan cengiran menggoda seperti biasa.

Mungkin pria berambut perak itu tidak sebodoh yang ia kira. Karena Gintoki pun dapat bersikap serius saat keadaan menuntutnya demikian. Dan itu yang membuat Hiikata tertarik padanya. Meski pria itu sering bersikap konyol dan menyebalkan, ia bisa berubah menjadi sosok yang serius dan pengertian pada saat yang diperlukan. Saat Hijikata membutuhkannya seperti itu.

Gintoki masih tersenyum. Tangan kanannya mengusap-usap rambut hitam Toushirou. Gerakannya tampak begitu alami, seperti pria itu terbiasa melakukannya. Hijikata menunggunya mengatakan sesuatu yang cerdas.

"Kau pasti sedang berpikir kalau kita tampak seperti keluarga yang sempurna. Dan kita sedang serius membicarakan bagaimana caranya memberi tahu Toushirou tentang kabar baik ini. Bahwa dia akan segera punya adik. Ah, Hijikata-kun, elus-elus perutmu agar skenario ini terlihat lebih nyata."

Kali ini tanpa ragu-ragu ia melayangkan pukulan pada kepala Gintoki. Membuat pria itu hampir jatuh terjungkal ke depan, kalau saja refleksnya tidak secepat itu membenarkan posisinya.

"H-hei—!" Gintoki berseru, tapi segera menyadari suaranya terlalu keras dan langsung menurunkan volumenya menjadi bisikan. "Apa yang kau lakukan?! Sakit tahu! Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga! Aku akan melaporkannya!"

Hijikata mendengus. "Oh, benarkah? Kebetulan sekali ada polisi di sini. Sebutkan apa keluhanmu, aku akan langsung menindaklanjuti." Ia memamerkan kepalan tangannya kepada Gintoki. Siap untuk melayangkan pukulan kedua kalau-kalau pria itu kembali mengatakan sesuatu yang konyol.

Ia sedikit terkejut karena keributan yang mereka buat tidak membangunkan Toushirou. Hanya membuat anak itu sedikit menggeliat, lalu mencari kehangatan dari Gintoki dan kembali tenang.

Gintoki mengusap-usap kepalanya yang sakit dengan tangan kanan. "Ah, apa ini. Kau sama sekali tidak manis, Hijikata-kun."

Hijikata hanya menggerutu pelan dan menenggelamkan kedua tangan ke dalam saku jaket.

Harusnya dia tahu Gintoki tidak akan serius menyikapi semuanya. Sejak awal ini seperti lelucon yang tidak lucu baginya. Tapi bagi Gintoki dan yang lainnya, mungkin ini merupakan kesempatan emas untuk mengerjainya. Lihat saja, dia tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan dirinya sendiri yang berusia 6 tahun itu. Semua orang tahu Hijikata Toushirou tidak menyukai anak kecil. Hell, bahkan dia tidak menyukai sebagian besar orang yang ia kenal.

Tapi saat berhadapan dengan dirinya sendiri dalam versi kecil; apa yang harus ia lakukan?

Hijikata tidak sanggup berlama-lama berada di sekitar Toushirou. Itu seperti peringatan kejam tentang betapa berbedanya ia yang sekarang. Dulu, 20 tahun lalu, ia hanya seorang anak laki-laki yang kecil dan polos. Lihat dirinya yang sekarang. Siapa pun tidak akan percaya wakil komandan Shinsengumi pernah begitu menggemaskan.

"Hei, Hijikata-kun,"

Ia hanya menggumam.

"apa yang akan kau lakukan saat kita menemukan portalnya? Kau akan mengembalikan Toushirou-kun begitu saja?"

Kali ini ia menoleh kepada Gintoki, mendecakkan lidahnya pelan. "Sudah jelas, kan? Itu tujuannya sejak awal. Anak itu harus segera kembali ke dunianya. "

"Hmm, Gin-san mengerti. Tapi tidakkah kau ingin, uh, menahannya lebih lama? Maksudku, kita bertiga seperti ini—rasanya benar-benar seperti keluarga." Dan cengiran jahil itu muncul lagi, membuat sudut mata Hijikata mengejang. Tapi sebelum ia bisa memukul Gintoki lagi, pria berambut perak itu lebih dulu menjaga jarak sambil tertawa ringan. "Jangan marah dulu, Hijikata-kun. Aku hanya bercanda soal itu. Meskipun aku mengatakannya dengan serius."

Hijikata hanya menggeram.

"Tapi—serius! Kau tidak ingin, menghabiskan waktu lebih lama dengannya? Anak ini—dia terlihat begitu menyukaimu, bukan? Sepertinya dia menganggapmu sebagai kakaknya sendiri. Kau tidak ingin berpura-pura menjadi kakaknya lebih lama?"

Hijikata terdiam sebentar.

Jawabannya sudah jelas. Tentu dia harus segera mengembalikan Toushirou. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi kalau anak itu berlama-lama di sini dan terpengaruh oleh orang-orang di sekelilingnya. Tapi setelah Gintoki mengatakannya, ia baru menyadarinya. Sebagian kecil dirinya tidak ingin anak itu melalui masa-masa sulit yang ia alami dulu.

Apa yang ia katakan kepada Toushirou tentang mimpi buruk? Akan segera sirna, huh? Lebih tepatnya, menghilang sebentar, hanya untuk muncul lagi dengan sesuatu yang lebih mengerikan. Anak sekecil dia akan melalui apa yang ia alami. Terdengar seperti mimpi buruk baginya.

"Ah. Aku tidak mengatakan dia harus tinggal di sini selamanya, mungkin beberapa hari lagi? Menurutku, kalau kau menghabiskan waktu dengannya, kau akan merasa sedikit lebih lega. Aku tidak suka mengakuinya, tapi baru kali ini aku melihatmu begitu peduli pada orang lain. Bahkan kau tidak pernah bersikap selembut itu padaku." Gintoki mengerucutkan bibir, kemudian tersenyum sambil mengelus-elus kepada Toushirou. "Haah. Kau beruntung sekali, Toushirou-kun. Toushirou besar itu tidak pernah mau menggandeng tangan Gin-san. Bahkan pria kejam itu pura-pura tidak mendengar saat Gin-san memanggilnya di jalan. Kejam sekali, bukan? Gin-san yang malang…"

Hijikata mendengus. Ia mengeluarkan stik kanker andalannya.

"Bodoh. Aku hanya akan bersikap baik pada diriku sendiri, keriting sialan." Entah kenapa sudut bibirnya memaksa untuk tertarik ke atas, tapi Hijikata menyembunyikannya dengan segera menyelipkan rokok, dan menghembuskan asap nikotin pertamanya hari ini. Terlambat beberapa jam dari biasanya, tapi tak apa.

"Kalau Gin-chan tiba-tiba muncul di dunia ini seperti Toushirou-kun, kau juga akan bersikap baik padanya, kan?" Gintoki menyenggol lengan Hijikata pelan, memainkan alisnya dengan jenaka.

"Tidak masalah. Aku akan memanggilnya keriting kecil sialan."

Ia tertawa dalam hati mendengar Gintoki mencibirnya—rambut lurus sialan.