Aishiteru, Sensei!
Ringkasan:
Suatu hari, seorang guru pengganti bernama Kiyoteru Hiyama mengajar di kelas 12-5. Karena ketampanannya, sensei tersebut menjadi populer dalam waktu beberapa hari di kalangan gadis-gadis Crypton High School. Tetapi, seorang murid bernama IA Shigure membenci sensei tersebut karena sensei itu cuek. Tapi, ternyata pandangan IA terhadap Kiyoteru-sensei mulai berubah!
Disclaimer :
Vocaloid milik Crypton Future Media
Aishiteru, Sensei! Milik Hikaru Shigure
Warn : Typo
A/N :
Sebelumnya saya minta maaf apabila di chapter sebelumnya ada kata-kata yang aneh... Itu karena kata-kata tersebut diterjemahkan secara acak oleh google penerjemah. Sekali lagi, maafkan saya. Oh ya, sebelumnya ada percakapan, "Eh, guru baru di kelas 8-5 keren ya!", itu sebenarnya salah. Karena seharusnya, "Eh, guru baru di kelas 12-5 keren ya!".
Maafkan kesalahan saya ya, Minna...
Balasan Review :
Hai, Luna Ayame13!
Hahaha, sebenarnya ini menentukan pair-nya secara acak saja. Karena penampilan Hiyama-san mirip dengan guru, dan IA adalah idolaku di Vocaloid, jadi coba kusatukan saja. Rupanya pair seperti itu langka ya? Hahaha, terimakasih review-nya, Ayame-san!
.
.
Aishiteru, Sensei!
.
.
.
.
Di Perpustakaan
"Shigure-san, jangan bergerak." Kiyoteru-sensei mendadak mengunciku diantara kedua tangannya.
"Eh?" gumamku saat Kiyoteru-sensei mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Ki-Kiyoteru-sensei! Sensei mau ngapa-"
"Awas!"
"Eh !?"
BRUAAAKKK!
"Ugh!" Kiyoteru-sensei mengaduh kesakitan saat tiba-tiba sekotak ensiklopedia besar terjatuh dari rak paling atas, menimpa punggungnya.
"Ah! Mengapa buku ini bisa jatuh dari atas!?" penjaga perpustakaan, Luki Megurine menghampiri kami. "kayu rak-nya patah karena terlalu berat bebannya." katanya pendek.
"Ma-maafkan kami! Apa kalian terluka?" penjaga perpustakaan yang lain, Rinto Kagamine dan Lenka Kagamine menghampiri Kiyoteru-sensei.
"A-aduh... Aku tak apa-apa... Tenang saja..." Kiyoteru-sensei mencoba berdiri.
"Gara-gara aku..." aku hampir menangis. Kiyoteru-sensei sampai terluka begini...
"Hah?" Kiyoteru-sensei terheran.
"Gara-gara aku... Hiyama-sensei terluka... Hiks..." aku mengusap mataku dengan lengan bajuku.
"A-apa!? Bukan-bukan begitu..." Kiyoteru-sensei memberi isyarat kepada Lenka, Rinto, dan Luki untuk pergi.
"Lalu?" aku mencoba menunduk, tidak menatap wajahnya.
"Shigure-san, lihat mataku." Kiyoteru-sensei mengangkat wajahku untuk menatapnya.
"Bagiku, kamu itu murid yang pintar. Jadi, aku nggak mau kehilangan murid sepertimu. Aku pasti sedih kalau muridku terluka." dia tersenyum.
Murid... kata-kata itu terus terulang di benakku. Air mataku kuhapus.
"Bagi Hiyama-sensei... aku ini hanya seorang murid ya?" tanyaku pelan.
"Iya, kalian semua... murid yang sangat berharga."
TEEETT!
Bel berbunyi, aku segera kembali ke kelas, meninggalkan sensei yang masih di perpustakaan, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Eh, kenapa aku jadi sedih ya?
.
.
(Break Time)
"Hah!? Serius!?" terdengar jeritan dari seorang temanku.
"Apa?!"
"Ternyata Hiyama-sensei sudah punya pacar!"
"Eh!? Kata siapa?!"
"Anak kelas sebelah mendengar langsung dari Hiyama-sensei!"
"Masa sih!? Shock banget, nih!"
"Serius!?"
"Katanya pacarnya itu lebih tua dari pada Hiyama-sensei."
Wajah Hiyama-sensei yang sedang tersenyum langsung terbayang di benakku.
Oh, ternyata begitu...
.
.
.
Di halaman sekolah...
Aku terduduk di bawah pohon yang rindang. Padahal pelajaran sedang berlangsung, tapi aku lebih suka duduk di sini.
"Shigure-san! Kenapa kamu disini!?" Hiyama-sensei menghampiriku yang sedang duduk melamun. "tadi aku dengar kamu tidak ikut pelajaran. Ada apa!?"
"Eh..." aku merasakan wajahku memerah. Aku bingung harus menjawab apa.
"Apa kamu sakit?" Hiyama-sensei berlutut di depanku, mensejajarkan pandanganku dengan pandangannya. "Apa demam..."
BETS!
Aku menepis tangan Hiyama-sensei yang hendak menyentuh keningku. Ekspresi terkejut terlihat jelas di wajah Hiyama-sensei.
Aku berdiri, lalu bersiap melangkahkan kaki, pergi dari tempat ini.
"He-hei! Shigure-san!"
Aku melengos pergi. Hiyama-sensei nampaknya tak tahu apa yang terjadi. Setetes demi setetes, kurasakan liquid bening perlahan menuruni pipiku.
GREP!
Hiyama-sensei menahan lenganku. Aku menolehkan wajahku. Aku sadar...
Aku menangis di depan orang yang membuatku menangis sekarang.
"Kalau Hiyama-sensei sudah punya pacar..." aku menghela napas, tidak mau melihat wajah Hiyama-sensei sedikitpun. "tolong... jangan lakukan hal yang membuatku salah paham..." aku menepis tangan Hiyama-sensei, lalu berlari menjauh dari sensei yang masih terdiam dengan ucapanku barusan.
.
.
.
Di kelas 12-5
Payah banget, aku terlena sendiri, aku sedih sendiri, Aku ini apa-apaan sih?
Aku duduk melamun di kelasku yang sudah sepi (di tempat dudukku, tentu saja) dengan wajah kusut. Kelas sepi karena hampir semua teman-temanku sudah pulang semua. Hanya tersisa beberapa orang di dalam kelas.
Padahal Hiyama-sensei sama sekali nggak salah...
"Ketua kelas, matamu merah!" kata Kaito yang kebetulan lewat.
"Habis menangis ya?" Len ikut-ikutan.
"Eh...?" gumamku heran saat mereka mendekati mejaku.
"Kalau ada masalah, cerita saja pada kami." kata Mikuo dengan nada khawatir.
"Iya."
GREP!
Secara tiba-tiba, aku kaget karena ada yang menarik lenganku ke atas.
"Maaf, ya! Aku pinjam ketua kelas sebentar!"
Aku menatap orang itu dengan tatapan tidak percaya.
"...H-Hiyama-sensei..." aku segera berdiri dari kursiku dan berlari kabur ke luar kelas. "...Mustahil!"
"Shigure-san! Tunggu!" Hiyama-sensei terkejut, lalu mengejarku.
Aku berlari menyusuri lorong-lorong kelas.
"Shigure-san! Jangan kabur!" Hiyama-sensei mengejarku.
"Nggak mau! Nggak mau pokoknya!" teriakku sambil terus berlari.
GREP!
"Berhenti dulu!" Hiyama-sensei berhasil menangkap lenganku.
"Lho?!" terdengar suara. "tadi suaranya Hiyama-sensei 'kan?!"
"EH?! Masa sih?! Kok aku nggak dengar?"
Sial, rupanya masih ada murid yang belum pulang. Cewek pula.
"Hiyama-sensei...!"
"Di mana!?"
"Eh, ada yang datang!" Hiyama-sensei langsung menarikku ke laboratorium yang kebetulan tepat berada di samping tempat kami berhenti.
Dua siswi muncul di depan laboratorium. Tapi mereka langsung pergi saat hanya melihat aku yang berdiri
Hah? Luka dan Miku?
"Lho?" mereka terheran. "huh, Hiyama-sensei nggak ada tuh." keluh Miku.
"Salah dengar, kali?" tanya Luka memastikan.
"Pulang yuk!" ajak Miku, dan mereka pergi.
Aku berlutut di depan sebuah meja.
DEG!
Tepat di depan meja itu, ada Hiyama-sensei sedang duduk sambil menggenggam tanganku.
DEG!
Dia menarik tanganku, mengisyaratkan agar aku duduk di sampingnya.
"Kemarilah, Shigure-san." dia menatapku, "mari kita bicarakan."
DEG!
"Aku... tidak punya pacar." ujar Hiyama-sensei pelan.
"Bo-bohong!" aku berusaha untuk tidak mempercayai ucapannya.
"Saat Kagamine-san meminta alamat e-mail-ku, aku menjawabnya, 'Tidak bisa, nanti pacarku marah'. Aku bilang begitu untuk menolak permintaan murid-murid." lanjutnya.
Eh...?
"Shigure-san, kalau kamu memilihku, kamu bakal susah lho." Hiyama-sensei menengadahkan wajahnya. "kalau bersamaku, kita tidak bisa tampil bersama di depan orang-orang." dia menatapku lagi.
"Apa kamu... bisa bertahan begitu sampai lulus nanti?" dia menunduk. "apa kamu yakin, tidak akan bosan padaku sampai lulus nanti?"
GREP!
Aku menggenggam erat tangan Hiyama-sensei.
"Aku nggak mungkin... bosan sama Hiyama-sensei..."
Aku menangis lagi, lalu memberanikan diri menatap wajahnya.
"Aku... suka sama Hiyama-sensei."
Hiyama-sensei mendekatkan kepalaku ke arah dadanya, lalu memelukku.
"Aku kalah ya," dia mendekapku. "Aku... juga suka padamu..."
Saat itu, langit jingga yang berlukiskan awan putih, menjadi saksi kami berdua.
.
.
END
.
Owari~
Di Jembatan kuil,
[2 minggu sebelum acara kelulusan]
Aku menyukaimu, Hiyama-sensei. kata-kata itu terus terngiang di benakku. Padahal, sudah hampir beberapa bulan berlalu.
Syuuuhhh...
Angin musim semi menerbangkan daun-daun sakura yang berguguran.
Sebenarnya Hiyama-sensei mengajakku kencan disini, tapi entah mengapa suasananya seperti bukan suasana kencan?
Aku menatap Hiyama-sensei yang sedang menatap pemandangan dari pinggir jembatan
"Hiyama-sensei..." panggilku.
"Hn?"
"Seandainya aku lulus nanti..." aku menatap pohon sakura, "Hiyama-sensei akan memperlakukanku seperti orang dewasa pada umumnya 'kan? Jalan bersama, makan ber-"
Kulihat Hiyama-sensei menggaruk belakang kepalanya, "Tunggu... Aku... Tidak mau membicarakan hal itu sekarang." jawabnya gugup.
"Eh? Kenapa?" tanyaku kaget.
"Tidak mau. Dan sekarang, jangan panggil aku Hiyama-sensei. Panggil Kiyoteru-san saja. Oke? Jangan panggil sensei, terkesan tua... mungkin?" tanyanya.
"Ba-baiklah, Kiyoteru-san..."
Itu pasti, dan seterusnya pasti akan begitu...
.
.
END beneran!
Hai, Minna!
Akhirnya, selesai juga chapter 2 ini. Huft, pegal!
Hiro : "Terimakasih untuk reviewnya, Ayame-san!"
Akhir kata,
Mind to Review?
