Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.
Rate: T+
Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.
Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?), mungkin ada R18?
Selamat membaca ^^
Sinar matahari pagi menembus masuk melalui jendela, menyinari kamar yang gelap. Anak laki-laki itu terbangun dari tidurnya. Masih berbaring, Seijuurou menempelkan punggung tangannya ke dahinya.
"Masih demam ya?" Gumamnya. Manik rubi itu menatap langit-langit.
Semalam, dia bermimpi, ayahnya memeluk dirinya begitu erat. Mimpinya terasa nyata, seolah itu benar-benar terjadi.
"Mungkin memang nyata ya," Seijuurou tersenyum.
Tapi ada satu lagi mimpi yang menyusul, dimana Tetsuya kembali seperti Tetsuya yang dia kenal, bahkan mengkhawatirkannya yang tidak memakai mantel di musim dingin. Oh ya, perlu kalian ketahui, sudah lebih dari sebulan ini Seijuurou tidak memakai mantel saat berpergian, walaupun dia kedinginan. Alasannya hanya satu, agar Tetsuya melihatnya dan melakukan apa yang ada dalam mimpinya.
Dia beranjak bangun dan melepaskan perban di tubuhnya, "Aku sudah tak apa kok." Gumamnya sembari menyepak gulungan perban itu ke tepi tempat sampah. Dengan cepat dia memakai seragamnya dan bersiap ke sekolah, tak mempedulikan tubuhnya yang masih demam.
Perlahan, dibukanya pintu depan rumahnya. Tapi segera ditutup karena Seijuurou tak tahan dengan dinginnya.
Yah, sepertinya kali ini dia terpaksa memakai mantel.
Seijuurou berjalan menuju kamar ayahnya, dibukanya pintu kamar perlahan. Namun bau yang menyeruak dari kamar itu membuat Seijuurou harus menutup hidung.
Tetsuya tidur terlentang di lantai dengan tubuh telanjang, tampak cairan lengket mengotori tubuhnya, botol sake bertebaran dimana-mana. Dengan panik, Seijuurou mendekati Tetsuya dan mengguncang pelan tubuhnya, "Tou-san! Tou-san! Bangunlah!"
"Ugh~" Tetsuya mengerang pelan, "Aomine-kun kampret." Geramnya, "Seenaknya saja masuk ke rumah orang."
"Tou-san, kau melakukan itu lagi?" Tanya Seijuurou khawatir.
Kebiasaan buruk Tetsuya yang lain sejak Satsuki meninggal adalah berhubungan seks, kalau dengan wanita, itu masih mending, tapi Tetsuya melakukannya dengan Aomine Daiki, senpainya di universitasnya dulu yang notabene adalah pria. Aomine memang mengejar Tetsuya sejak kelulusan mereka, sayangnya, Tetsuya sudah menikah dengan Satsuki. Entah apa yang membuatnya menyimpang sekarang.
Seijuurou membantu ayahnya berbaring di ranjang. Manik rubinya melirik jam di dinding, masih jam 5, setidaknya dia bisa membersihkan tubuh Tetsuya dan juga kamar ini. Diletakkannya blazer dan tasnya di sofa di ruang tamu agar tetap bersih.
Dengan lembut, Seijuurou membersihkan tubuh ayahnya yang sulit untuk bergerak karena perbuatannya selama semalam suntuk dengan handuk dan air hangat.
"Ouch! Pelan-pelan, anak sialan!" Geram Tetsuya ketika Seijuurou membersihkan liangnya yang berdarah.
"Gomen." Jawab Seijuurou pelan.
Setelah selesai membersihkan, Seijuurou segera memakaikan baju pada ayahnya, lalu membersihkan ruangan itu. Setelah selesai, diliriknya jam dinding, sudah pukul setengah 6, "Tou-san, sebaiknya kau istirahat dulu." Ujarnya sambil menarik selimut hingga ke dagu Tetsuya. Tetsuya melengos dan berbalik memunggungi Seijuurou.
Seijuurou menunduk, "Ne, Tou-san, ada mantel ngga?"
Tetsuya menunjuk lemari tanpa menjawab ataupun membalikkan tubuh. Seijuurou mengambil sebuah mantel dan memakainya.
"Ittekimasu."
"Itterashai."
"Akashi, kau baik-baik saja?"
Seijuurou mengangkat kepalanya dan menatap senpai hijaunya itu, "Tidak terima kasih, aku sudah makan kok."
"Siapa yang nanya itu?" Midorima sweatdrop.
"Gomen, aku sedikit pusing hari ini." Jawab Seijuurou.
"Sagitarius memiliki peringkat terendah hari ini, sebaiknya kau bawa lucky itemmu hari ini."
"Apa lucky itemnya?"
"Boneka barbie berambut pirang."
Seijuurou kicep, "Ngga deh."
"Sebaiknya kau ke UKS-nodayo, tapi bukan berarti aku peduli-nodayo!" Seru Midorima sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Tak apa-apa kok, aku cuma pusing dikit, bentar lagi juga hilang." Jawab Seijuurou tenang.
"Terserahmulah, tapi jangan memaksakan diri." Nasihat Midorima sembari berbalik dan kembali memperhatikan guru.
Seijuurou menelungkup lagi, menahan rasa pusing yang menampar kepalanya. Sial, aku lupa minum obat yang dikasih ojiichan, batinnya.
"Yo, Sei."
Seijuurou yang sedang duduk di atap sambil makan angin(?) menoleh ke sumber suara, "Yo, Taiga-nii." Jawabnya sambil tersenyum riang pada Kagami Taiga, sepupu dari pihak ibunya.
Taiga duduk di samping anak itu sambil menggigit hot dog yang dibelinya di kantin, "Ngga makan?" Tanyanya.
Duh, padahal aku kesini buat menghindari makanan, batin Seijuuror agak kesal, "A-aku tak lapar."
Kryuuuuuk.
Wajah Seijuurou memerah karena malu ketika suara yang tak diharapkannya keluar begitu saja tanpa izinnya, sementara Taiga tertawa melihat ekspresi Seijuurou.
"Kalau lapar jangan ditahan, nanti kena maag lho." Kekehnya sembari memberikan sebungkus burger pada Seijuurou.
"A-arigatou." Ucapnya sembari menggigit burger itu. Begitu burger itu masuk ke pencernaannya, perutnya bergejolak, menolak makanan itu. Rasa pusing yang hebat menyerang kepalanya. Seijuurou menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan muntah. Sepertinya dia memang kena maag.
Taiga menatap Seijuurou yang membungkuk sambil menutup mulutnya dengan tatapan Khawatir, "Sei, kau sakit?"
"Eh?" Seijuurou menatap senpai yang warna rambutnya sama dengannya, berusaha terlihat normal, "Cuma pusing kok."
Tanpa aba-aba, telapak tangan Taiga yang lebar menyentuh dahinya, "Kau demam!" Serunya.
"Hoek." Seijuurou tak bisa menahannya lagi, cairan menjijikkan itu menerobos keluar dari mulutnya. Dengan sigap, Taiga menepuk punggung Seijuurou dan sesekali mengurut lehernya, "Jangan ditahan, Sei, Keluarkan semuanya."
Tak lama kemudian, Seijuurou berhenti muntah, wajahnya pucat. Tiba-tiba saja dia ambruk. Untung Taiga segera menangkapnya, sehingga tidak mengenai muntahannya yang diabaikan oleh Taiga. Ketika tangan Taiga menyentuh punggungnya, Seijuurou meringis pelan. Taiga mengangkat kemeja Seijuurou dan terbelalak.
"Ternyata benar." Gumamnya. Dengan cepat dan hati-hati diangkatnya Seijuurou meninggalkan atap.
"Ohayou, Kaga-"
Kise terbelalak melihat Taiga berlari kencang ke UKS sambil menggendong Seijuurou yang pingsan di punggungnya, "Jangan sekarang, Kise!" Seru Taiga. Kise pun mengikuti Taiga.
Seijuurou membuka kedua matanya, "Dimana aku?" gumamnya. Dia menoleh ke kiri, dan mendapati Taiga tengah menunduk di dekatnya, dan sekarang dia tau, dia ada di UKS sekolah.
"Ah, Akashicchi udah bangun?" Kise muncul entah dari mana dan duduk di tepi ranjang Seijuurou. Taiga yang dari tadi bengong langsung kembali ke asalnya(?), "Sei! Kau tak apa?" Tanyanya panik. Seijuurou menggenggam tangan Taiga, "Aku tak apa." Ucapnya.
Taiga menghela nafas lega, "apa yang kau lakukan di sana?!"
"A-aku menghindar dari orang lain." Jawab Seijuurou, "Aku tak bawa bekal ataupun uang, jadi aku duduk disana biar aku tak melihat mereka makan dan berujung aku yang kelaparan." Jelasnya.
"'taku," geram Taiga, "Kalau kau kesana yang ada demammu semakin tinggi, Sei. Angin disana sangat kencang."
"Lagipula, apa ayahmu tak masak atau memberimu uang jajan?" Tanya Kise heran.
"Kise!" Desis Taiga.
Kalau Tou-san bekerja sih ada, Batin Seijuurou.
"Ya sudah, tidurlah, lain kali, kalau kau tak bawa bekal atau uang, cari aku. Aku akan membelikanmu makanan, mengerti?" Tanya Taiga sembari menyampirkan blazer dan dasi Seijuurou ke kursi.
"Apa tidak apa-apa?" Tanya Seijuurou pelan.
"Untukmu tentu tidak apa-apa." Jawab Taiga lembut.
"Kagamicchi, sebenarnya apa yang terjadi?" Kise menatap Taiga penasaran.
"I-itu, dia pingsan karena kecapekan." Jawab Taiga gugup.
"Hanya itu?" Tanya Kise.
"I-iya."
"Kau bohong." Ucap Midorima.
"Ngga kok!"
"Tidak, aku yakin kau bohong," Midorima menatap intens Taiga yang mengerut karena tatapan Midorima, "cara menjawabmu gugup, dan kau bertingkah seperti induk ayam sejak pagi ini. Di pelajaran olahraga tadi, ketika Akashi hampir jatuh, kau berbalik dari jalur marathonmu dan menangkapnya. Kau bahkan menutup telinganya ketika ada yang mengatakan sesuatu seperti 'anak brengsek' atau 'kampret'."
"A-aku tak melakukannya!"
"Kau bahkan melakukannya sekarang."
Taiga melepaskan kedua tangannya yang menutupi telinga Seijuurou.
"Terus terang, kau sangat mencurigakan," Nijimura mendelik kepada Taiga, "Apa kau menyembunyikan sesuatu dari kami?"
Taiga berusaha untuk mencari alasan yang tepat, namun Nijimura mampu membaca gelagatnya. Dia ingin kabur, namun Kise, Midorima dan Murasakibara menahan pintu. Dia tak punya pilihan.
"Baik, kalau itu mau kalian. Aku akan menjelaskan semuanya, dengan satu syarat."
"Apa itu?" Tanya Nijimura.
"Kalian tak boleh menceritakannya pada siapapun, kecuali orang yang bisa kalian percayai. Mengerti?"
"Ya." Jawab keempat temannya.
Kagami menunduk, "Aku hanya ingin melindunginya."
"Melindunginya?" Tanya Midorima, "Dari siapa?"
"Aku tak tau. Namun aku mau melindunginya dari apa yang membuatnya menderita."
"Aku tak mengerti." Ucap Midorima.
Kagami beranjak bangun dari tempat tidur dan menutup tirai rapat-rapat, setelah itu kembali duduk di tempat tidur dan menatap mereka tajam, "mungkin kalian akan terkejut, tapi tolong kendalikan diri kalian, mengerti?"
Dalam kebingungan, mereka mengangguk.
Kagami memiringkan tubuh Seijuurou dan mengangkat kemejanya, membuat mereka semua terkejut karena bekas luka yang membujur dan saling tumpang tindih di punggung yang tidak mulus lagi itu.
"Kowaii…" Kise gemetaran.
"Kejamnya…" Murasakibara melupakan snacknya dan berdecak ngeri.
"Siapa yang melakukannya?" Tanya Midorima marah.
"Aku juga tak tau. Kalian tau Mayuzumi Chihiro bukan? Nah, dia adalah pamanku. Aku tinggal bersamanya sejak kecil. Kemarin, dia pulang dari suatu tempat dengan baju yang kotor karena darah. Aku panik, tentu saja. Namun pamanku meyakinkanku kalau darah itu bukan miliknya, melainkan darah Sei. Dia bilang Sei terluka lumayan parah dan aku harus mengawasinya di sekolah. Ketika dia pingsan di atap tadi, aku menyadari kalau punggungnya ada luka-luka ini." Jawab Taiga sambil menatap benci luka-luka itu.
"Siapapun pelakunya, pasti sudah sering melakukannya." Nijimura mengelus salah satu luka, dan menekannya cukup kuat hingga Seijuurou berteriak kesakitan.
"Argh! Ampun! Aku minta maaf! Aku takkan mengulanginya lagi, ampun!" Seijuurou merapat ke dinding dan merapatkan tubuhnya, kedua tangannya tersilang ke atas seolah melindungi diri dari sesuatu.
"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Teriak Taiga sambil menarik kerah Nijimura. Nijimura menarik lepas kemejanya dan menunjuk Seijuurou yang masih meringkuk di pojok, "melihat reaksinya." Jawabnya santai.
"Dia benar-benar ketakutan," gumam Midorima, "Aku rasa sudah sekitar 2 tahun dia mengalaminya. Waktu yang cukup lama untuk membuat anak kecil trauma."
Kagami mendekati Seijuurou dan mendekapnya lembut, "Jangan takut, tak ada yang melukaimu."
Perlahan-lahan, matanya terbuka sedikit, "Taiga-nii?" Seijuurou tersentak bangun, "ah, gomen." Ucapnya sembari bangun dari tempat tidur.
"Mau kemana kau, Akashi?" Tanya Nijimura.
"Pulang." Jawab Seijuurou, "Sudah jam 5, aku harus segera pulang, jaa!" Serunya sembari melesat pergi dari UKS.
"Sei! Matte!" Taiga mengejar Seijuurou.
"Ano, apa tidak apa-apa?" Tanya Kise.
"Taiga bisa mengawasinya, tenang saja." Jawab Nijimura.
Seijuurou berlari menuju rumahnya, matanya menoleh ke kiri dan ke kanan, "Tou-san, kuharap kau baik-baik saja."Gumamnya. Mengingat kelakuan Aomine Daiki semalam, sepertinya dia juga akan nekat melakukannya malam ini. Tanpa ia sadari, dia berlari melewati SD tempat ia pernah bersekolah dulu, dan mendapati Furihata Kouki, teman sekelasnya dulu, yang (tampaknya) sedang ribut.
"Kan aku sudah bilang, aku sudah besar, Tou-chan!" Serunya.
"Tapi kau belum cukup dewasa, Kouki-kun." balas sang ayah.
"Aku tak peduli! Tou-chan tak boleh menjemputku lagi! Titik! Sekarang Tou-chan pulang, aku tak mau naik mobil sama Tou-chan!"
Seijuurou bisa melihat kekecewaan di wajah ayah Kouki, "Baiklah, kalau memang itu maumu." ujarnya sembari masuk ke mobil dan meninggalkan Kouki yang mendengus kesal di pinggir jalan, "Kouki?"
Kouki terkejut medapati Seijuurou di sebelahnya, "A-akashi-san, d-doumo..." ucapnya gugup.
"Ada apa? Kenapa kau ribut dengan ayahmu?" Tanya Seijurou.
Kouki mendengus, "aku tak mau dijemput olehnya, untuk anak seusia kita, dijemput oleh orangtua itu sama memalukannya dengan ngompol di celana. Aku duluan." ucapnya sebelum pergi, meninggalkan Seijuurou yang tersenyum miris.
"Kouki, kau tau, aku tak keberatan berada di keadaan memalukan yang kau bilang tadi." ucapnya lirih sebelum kembali berlari.
Di sebuah gang yang kecil dan gelap...
"Ara, lihat siapa yang datang."
Seijuurou menghentikan laju larinya dan menatap sekelompok preman yang berdiri tegak di hadapannya, "A-apa yang kalian inginkan?"
"Heh, anak ini sok jagoan." Ejek seorang preman tinggi besar dan kekar, "justru aku yang harusnya bertanya, mau apa kau di wilayah kami?"
"Wlayahmu?" Seijuurou menyeringai sedikit, "memangnya ayahmu yang membangun jalan ini?"
"Aih! Anak ini imut sekali!" Seijuurou merinding mendengar perkataan salah satu preman yang 'melambai', "sayangnya, dia melanggar daerah kita."
"wah, akhirnya Reo-nee tobat juga." Ledek preman yang paling pendek.
"Apa maksudmu, Taro-chan?" Tanya si bencong yang dipanggil Reo-nee tadi.
"Berisik, kalian berdua!" Seru yang besar.
"Ngomong-ngomong, anak itu mana?"
Ketiga preman itu menoleh ke tempat dimana Seijuurou berada, tepatnya tadinya berada.
"ANAK KAMPRET!"
"DIA MENGABAIKAN KITA!"
Seijuurou mengendap-endap melewati ketiga preman itu, beruntung dia memiliki sedikit hawa keberadaan tipis Tetsuya, sehingga mereka tak bisa melihatnya. Namun, sepertinya hari ini bukan hari keberuntungannya.
"Mau kemana kau, cebol?"
Seijuurou tersentak dan menengadah ke atas, mendapati seorang pemuda berambut hitam berdiri di atas tembok di sebelahnya. Matanya menusuk dingin. Seijuurou segera lari, syangnya pemuda itu lebih cepat menangkapnya.
"Preman macam apa kalian ini? Menjaga anak kecil pun tak bisa." Ledek pemuda itu sambil membekap Seijuurou.
"Diam kau, Kasamatsu." Geram si preman terbesar.
"Payah kau, Nebuya." Jawab si pemuda, Kasamatsu.
"Maa, Yukio-chan jangan gitu dong." Rengek si bencong.
"Diam, Mibuchi."
"Kalau begitu, ayo urus anak ini." Preman paling kecil menunjuk Seijuurou.
"Aku baru sadar, disitu kau rupanya," preman yang badannya besar itu langsung mengangkat Seijuurou, "kuberi kau pelajaran karena berani mengabaikanku."
"Sei! 'taku, kemana anak itu? Cepat banget hilangnya." Geram Taiga, "Dia bahkan meninggalkan mantelnya, dasar ceroboh."
Dia berhenti di depan sebuah minimarket, dan menoleh ke kanan, menyaksikan sekelompok preman yang sedang memukuli korbannya.
"Bully ya?" gumamnya. "Yah, bagaimanapun juga aku harus mencari Sei." Kagami hendak melanjutkan larinya, namun begitu melihat salah satu preman yang tertawa bengis, dia jadi bingung.
"Kalau begitu, aku akan menolong korbannya dulu sebelum mencari Sei." Pikirnya sembari mendekati tempat pembullyan itu.
"Hahaha, ini menyenangkan!" Seru Mibuchi.
"Gimana rasanya, cebol?" Tanya Hayama, preman paling kecil.
"Inilah yang akan kau terima kalau mengabaikanku." Ledek Nebuya.
Seijuurou meringkuk sambil berusaha melindungi diri dari preman-preman yang terus memukulinya. Berkali-kali preman Nebuya membenturkan kepalanya ke dinding, Mibuchi menendangnya, dan Hayama memukulnya dengan tongkat besi. Airmatanya mengalir dan bersatu dengan darah. Entah berapa banyak darahnya yang terbuang sia-sia, padahal kalau dipikir-pikir, darahnya bisa ditampung trus didonorkan ke PMI kan?
"Yamero!"
Seijuurou menengadah, menatap sosok Kagami Taiga yang terkejut bukan main melihat dirinya, "Hoi, kalian, kenapa beraninya hanya sama anak kecil?" Sindir Taiga.
"Anak kecil? Dia sudah SMA!" Balas Nebuya.
"Oh, jadi kau melihat usia berdasarkan tingkat pendidikannya? Kalau begitu bisa kuasumsikan kalian hanya sekelompok bayi besar yang belum tobat dari ngompol." Taiga menyeringai.
"Oi, kacrut, asal kau tau saja, kami lulusan S3 Universitas Tokyo." Seru Nebuya membanggakan diri.
"S3? Universitas Tokyo?" Taiga memasang wajah bingung, "muka kalian meragukan nih."
"Chikuso! Mati sana!" Nebuya maju untuk menyerang Taiga, namun Taiga berhasil menghiindar dan memukul tengkuknya hingga pingsan.
"NANI?!" Seru Mibuchi.
"Gorila dikalahkan anak kucing?!" Seru Hayama.
"Kucing?" perempatan muncul di dahi Taiga, "aku ini macan tau."
Kedua preman yang tersisa pun menyerang Taiga, namun dengan mudahnya dikalahkan oleh Taiga yang menguasai 5 olahraga bela diri dan pemegang sabuk hitam karate, "Hah? Sudah kalah?" Taiga mendesah sejenak kemudian berlari mendekati Seijuurou yang masih terbaring, "Sei? Kau tak apa? Untung aku kemari tadi." Taiga memakaikan nyelimuti Seijuurou dengan mantel yang dibawanya dan mengangkatnya, mendekap anak itu dengan hangat.
"Taiga-nii awas!"
Hayama menghantamkan tongkat besinya ke leher Taiga, dan yang membuatnya semakin tercengang, Taiga tidak tumbang, bahkan tak bereaksi setelah dia pukul. Perlahan, Taiga berbalik dan menarik keluar sebuah lempeng besi dari lehernya, yang tidak tampak karena tertutup kerah kemeja dan rambutnya, "bukan kau saja yang punya besi, aku juga." Ucapnya sembari melempar lempengan itu ke kepala Hayama, membuatnya cao ke alam bawah sadarnya. Taiga segera lari menuju rumah Seijuurou sebelum ada preman yang bangun.
"Astaga, Seijuurou-kun, kau tak apa?" Tetsuya menatap Seijuurou dengan wajah khawatir, "apa yang terjadi?"
"Ano, tadi Sei dipukuli di jalan, ojisan." Jelas Taiga sembari menyerahkan Seijuurou ke gendongan Tetsuya. Seijuurou merapatkan diri ke tubuh sang ayah, menikmati kehangatannya.
"Begitukah? Ah, Seijuurou-kun, ayo masuk ke dalam dan obati lukamu. Terima kasih telah mengantarkan Seijuurou-kun, Taiga-kun."
"Ya. Sama-sama. Aku pulang dulu."
Tetsuya menatap Taiga yang semakin menjauh. Setelah Taiga menghilang di belokan, Tetsuya menutup pintu, tampang khawatirnya luntur, menjadi tampang marah. Dibantingnya tubuh Seijuurou ke lantai dengan kepala lebih dahulu.
"Itte-"
"Apa lagi yang kau lakukan?" Tanya Tetsuya dingin, "Berkelahi lagi?"
"Tidak, aku tak berkelahi-uhuk!" Ucapan Seijuurou terputus begitu kepalanya dibenturkan ke dinding dengan sangat kuat.
"Berbohong lagi."
"Aku tidak bohong, Tou-san, itte!" Kepalanya lagi-lagi dibenturkan ke dinding.
"Ah," desah Tetsuya, "Darahmu banyak sekali, ayo kita bersihkan lukamu."
Tetsuya menyeret tubuh Seijuurou ke kamar mandi, dan tanpa aba-aba, dicelupkannya kepala Seijuurou ke dalam bak mandi.
"Bagaimana rasanya? Segar?" Tetsuya tertawa sadis melihat air yang bercampur darah Seijuurou yang melekat di kepala dan lehernya.
Seijuurou meronta, kedua tangannya berusaha untuk menyingkirkan tangan Tetsuya yang menahan kepalanya di air, yang sayangnya, tak bergeming sama sekali. Dadanya mulai terasa sesak, paru-parunya seolah mau meledak, dia butuh pasokan oksigen segera, atau dia bisa mati!
"Ara?" Tetsuya menatap malas Seijuurou yang rontaannya mulai melemah, "cepat sekali." Ucapnya sembari menarik kepala Seijuurou keluar dari air.
"Uhuk… uhuk… hah… hah…" Seijuurou berusaha mengontrol nafasnya.
"Sudah mau mengaku?" Tanya Tetsuya.
"Gomenasai, Tou-san, tapi aku memang tidak berkelahi." Jawab Seijuurou sambil menangis.
"Kau mau menangis, hah, KAU MAU MENANGIS?!" Amukan Tetsuya semakin jadi. Kali ini dia memanggil tongkat baseball dan memukulkannya berkali-kali ke tubuh Seijuurou, "biar kubuat kau menangis, anak sialan!"
"Ampun Tou-san, hiks…" Seijuurou berusaha melindungi diri, namun dia sudah terlalu lelah.
"Malam ini kau tak boleh masuk rumah, terserah mau tidur dimana, pergilah ke rumah ojichan kesayanganmu kalau mau." Sindir Tetsuya sembari menendang Seijuurou keluar rumah, seolah-olah Seijuurou hanya sebuah bola sepak yang sudah usang. Mantel berlumuran darah yang dipakai Seijuurou tadi juga dilemparnya keluar sebelum membanting pintu.
"Tou-san! Onegai! Biarkan aku masuk! Disini sangat dingin! Tou-san~" Seijuurou menangis sambil menggedor pintu, namun percuma, pintu kayu itu sama sekali tak bergeming.
"Sudahlah," Seijuurou menghapus air matanya dan berbaring di halaman dengan mantel sebagai selimut untuk melindungi dirinya dari hujan salju yang deras, "aku akan menunggu."
Sementara itu, Tetsuya duduk di balik pintu sambil mencengkeram rambutnya, air matanya mengalir turun, "Chikuso!" Isaknya, "chikuso chikuso chikuso! Baka! Apa yang kau lakukan?!" Tetsuya meninju dirinya sendiri, "bodoh! Tetsuya bodoh!" Umpatnya. Sekitar 30 menit kemudian, dia membuka pintu, dan mendapat kalau Seijuurou sudah tak ada, "Mungkin dia sudah ke rumah aniki." Gumamnya sebelum menutup pintu kembali.
"-lalu kurebut bola itu darinya dan mencetak angka, bukankah itu hebat? Ne? ne?"
"Biasa aja-nodayo."
"Mou, niichan kejam!"
Midorima Shintarou mendengus kesal, Kazunari terus mengoceh tentang pertandingan basketnya melawan SMA Seirin. Oh ya, Midorima Kazunari adalah adik kandung Midorima. Usia mereka beda 2 tahun, dan mereka juga sekolah di SMA yang berbeda. Kalau Shintarou memilih SMA Teiko, Kazunari memilih SMA Shutoku. Kini mereka tengah berjalan pulang dari minimarket, melewati salju yang menenggelamkan lutut mereka.
"Oh, tadi aku sempat berhadapan dengan Shun-chan lho, ingat kan? Teman kita dulu? Eagle eye miliknya sudah semakin bebat, kau tau? Dia mengalahkanku saat one-on-one tadi, tapi hanya sekali, selanjutnya aku yang menang, hahahaha!"
"Diamlah, Kazu, kau menarik perhatian-nodayo."
Kazunari merengut sedikit dan melirik lucky item kakaknya hari ini, sebuah boneka kaca, seringaian jahil muncul di wajahnya. Shintarou kesal, sumpah tangannya gatal untuk melempar sesuatu ke kepala adiknya. Tiba-tiba, Kazunari merebut lucky itemnya dan berlari ke ujung jalan, dekat sebuah rumah papan.
"Kazu, kembalikan lucky itemku!" Perintah Shintarou.
"Ga mau, niichan kan ga mau mendengarku, untuk apa aku mendengarmu?" Tanya Kazunari sambil menjulurkan lidah.
"Baiklah, aku akan mendengarmu-nodayo!"
"Ga bisa dipercaya," Kazunari melempar boneka kaca kecil itu ke atas dan menangkapnya, sementara Shintarou menatapnya ketakutan.
"O-oy, apa yang kau lakukan, Kazu?!"
"Aku mau membuktikan kemampuanku padamu, niichan."
"Iya aku percaya! Sekarang kembalikan-nodayo!"
"Tidak, aku pinjam sebentar la-"
PRANGG.
Kedua Midorima ini menatap horror boneka yang pecah karena menghantam tembok. Kazunari hanya bisa nyengir takut-takut melihat aura-aura mengerikan keluar dari tubuh Shintarou.
"Ka-zu-na-ri…"
"Hwaaa! Maaf, ga sengaja! Iya nanti aku ganti!" Jerit Kazunari.
"ganti apa, bocah?" Tanya Shintarou dengan wajah yang jauh lebih seram daripada sadako(?)
Kazunari mundur perlahan saking takutnya dengan Shintarou, Shintarou yang lagi marah tak mempedulikan sekitarnya, bahkan dia tak peduli pada Kazunari yang baru saja jatuh.
"Eh? Kaki?"
Shintarou terdiam mendengar ucapan Kazunari, "Niichan, ada kaki disini!" Seru Kazunari.
"Kaki?" Shintarou mendekati tempat Kazunari terduduk, "Iya, aku tersandung kaki ini." Jawab Kazunari sambil berusaha mencari tubuh dari kaki itu. Shintarou pun ikut mencari, keduanya menggali dengan cepat, dan beggitu Shintarou berhasil menyingkirkan salju yang menutupi wajah orang yang terkubur di salju itu, dia terbelalak.
Wajah itu sangat dikenalinya, dengan bibir yang membiru dan tubuh yang menggigil juga berlumuran darah yang sudah mengering,
"Akashi?!"
.
.
.
TBC
Preview
"aku takkan menolongnya jika aku jadi kau."
"Tou-san, emergency!"
"aku tak peduli lagi padanya."
"Seijuurou, mana Seijuurou?!"
Fiuh, akhirnya kelar juga.
Maaf, niatnya minggu lalu update, tapi karena mati lampu jadi gagal terus TTvTT
Terima kasih untuk VandQ, ShizukiArista, Myadorabletetsuya, Koru Kyoshiro, Yuna Seijuurou, Misaki Younna, NamikhraKyra, dan Akaba Shinra yang sudah mereview fic ini, tanpa review kalian aku takkan semangat melanjutkan fic ini ^^
Ja, RnR please…
