"Akashi?!"
Shintarou langsung mengeluarkan tubuh Seijuurou yang menggigil dari tumpukan salju, wajahnya yang pucat tampak jelas setelah keluar dari timbunan salju itu, "Kazu, beritahu Kagami dan pamannya untuk ke rumah kita sekarang, cepat!" Perintahnya. Kazunari mengangguk dan melepaskan mantelnya, "nih, untuk dia." Serunya sambil berlari pergi dari sana.
Shintarou memakaikan mantel Kazunari pada Seijuurou dan dengan cepat menggendongnya.
"Aku takkan menolongnya kalau aku jadi kau."
Shintarou terkejut, dia menoleh ke belakang dan mendapati seorang nenek tua menghampirinya.
"A-apa maksudmu-nodayo? Dan kenapa tidak?" Tanyanya bingung.
"Aku tak mau berurusan dengan ayahnya," Nenek itu menatap Seijuurou dengan tatapan sendu, "Tak seorang pun berani menolongnya. Akashi-san berubah sejak kejadian itu."
"Kejadian itu?"
"Ya, kejadian yang merenggut nyawa istrinya."
Shintarou terdiam, "Lalu, apa yang terjadi padanya?"
"Anak malang," jari-jari keriput itu mengelus pipi pucat Seijuurou, "Setiap hari dia selalu dihajar oleh ayahnya. Ada saja hal kecil yang dipakai Akashi-san untuk menghajarnya, bahkan yang bukan salahnya pun dijadikan alasan. Kami tak berani menolongnya, dan kami juga tak bisa melaporkan Akashi-san ke polisi."
"Kenapa-nodayo? Padahal banyak bukti yang bisa kalian berikan untuk memenjarakannya." Tanya Shintarou.
"Percaya atau tidak, anak ini yang meminta kami untuk tutup mulut. Dia tak mau memberikan kami alasan, namun tak seorangpun berani melanggar permintaannya."
"Yah, apapun yang kau katakan, aku tak peduli. Untung saja aku bukan kau, dan terima kasih informasinya." Ucap Shintarou sembari membungkuk dan melesat pergi dari sana.
Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.
Rate: T+
Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.
Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?). R18 (mungkin?)
Selamat membaca ^^
Kazunari berlari sambil terengah-engah, dan baru berhenti begitu tiba di tujuan, rumah senpainya semasa SMP sekaligus teman dekat Shintarou yang sudah dianggap anak sendiri oleh kedua orangtuanya, Kagami Taiga.
Dengan heboh dan mengabaikan bel yang terpasang di samping pintu, Kazunari menggedor-gedor pintu berwarna cokelat muda itu, "Taiga-nii! Mayuzumi-jisan! Buka pintunya!" Serunya berkali-kali. Dan entah sudah berapa lama dia disana, akhirnya pintu itu terbuka, "Ada apa, Kazu?" Tanya Mayuzumi.
"A…A…Aka…"
"Bicaralah yang jelas." Ucap Taiga sedikit jengkel.
"Akashi…"
"Sei?!" Tanya Taiga panik, "Ada apa dengan Sei, jawab aku, Kazu!" Serunya sembari mengguncang-guncang tubuh Kazunari.
"Taiga!" Panggil Mayuzumi agak keras.
"Sebaiknya kalian ke rumahku sekarang, Shin-nii sudah membawanya. Tadi kami menemukannya terkubur salju di tepi jalan."
Mendengar hal itu, Taiga langsung melesat pergi, Mayuzumi mengunci pintu, "ayo pergi, Kazu." Ucapnya, ekspresi khawatir nampak jelas di wajahnya. Kazunari mengangguk, dan keduanya menghilang ke jalan.
"Ah, dingin-dingin begini memang enak kalau duduk di depan TV sambil minum cokelat di dalam selimut."
Pria paruh baya itu menghirup cokelat panasnya, tangannya naik dan mengacak rambut hijaunya sebelum beralih ke remote TV dan mengganti channel.
"Kazuya-kun, apa Shin dan Kazu sudah pulang?" Tanya wanita bersurai raven dari dapur.
"Belum." Jawab pria itu, Midorima Kazuya, cuek.
"Aku khawatir pada mereka," wanita itu duduk di samping Kazuya sambil meletakkan nampan yang dibawanya. Gadis kecil yang mengikutinya dari tadi langsung mengambil cemilan diatas nampan itu.
"Tenang saja, Shiina, Shintarou dan Kazunari kan sudah dewasa." Balas Kazuya.
"Oyaji terlalu cuek nih." Ucapan gadis itu menohok tepat di kokoro Kazuya.
"Shinya, kau kejam sama ayahmu sendiri!" Kazuya mundung di pojokan, gadis itu tertawa, "Gomen gomen."
Mereka bertiga kembali menonton TV sampai suara pintu didobrak keras memasuki indera pendengaran mereka, "Ah, Okaeri, Shin-"
"Oyaji, emergency!" Seru Shintarou sambil berlari ke lantai dua. Sebagai dokter yang baik, Kazuya langsung keluar dari selimutnya dan menyusul Shintarou. Shiina dan Shinya hanya bisa berpandangan bingung.
Shintarou membaringkan Seijuurou di ranjang sebuah kamar yang menyerupai kamar pasien di rumah sakit. Ya, tempat ini adalah tempat dimana Kazuya biasa mengajarinya dan Kazunari tentang dunia medis, dan terkadang, ruang ini digunakan untuk mengobati korban kecelakaan yang jaraknya jauh dari rumah sakit. Dengan cepat digantinya seragam Teiko Seijuurou yang basah karena salju dengan pakaian Kazunari waktu kecil yang entah dia dapat dari mana.
Tak lama kemudian, Kazuya telah masuk dan memeriksa Seijuurou sejenak, "Shintarou, ambilkan ECG (electrocardiography)!" Serunya sembari memasang masker oksigen ke hidung Seijuurou. Dia mengambil kapas dan membasahinya dengan alkohol, tepat ketika Shintarou datang membawa ECG, "aduh, kok bisa menganga begini sih?" Terdengar decakan khawatir keluar dari mulut Kazuya. Shintarou melongo dari balik punggung Kazuya dan terkejut sekaligus takut melihat luka menganga diatas telinga kiri Seijuurou, bahkan sempat memotretnya, "I-itu kenapa-nodayo?" Tanyanya ngeri sembari memasang alat itu.
"Sepertinya luka yang belum tertutup sempurna sudah terbuka lagi." Jelas Kazuya, "sial, denyut jantungnya melemah!" Serunya panik sambil melihat monitor, "ambilkan alat kejut jantung!"
Shintarou segera mengambil alat yang dimaksud dan menyerahkannya pada Kazuya, "Tuhan, tolong anak ini." Bisiknya lirih sembari menempelkan alat itu ke dada Seijuurou dan menghentakkan tubuh lemah itu. Berkali-kali dia mencoba, namun denyut jantung Seijuurou malah semakin lemah, "Habislah…" gumamnya sembari menunduk sedih.
Shintarou bingung harus bagaimana, tiba-tiba dia teringat sesuatu, dan dia berbisik ke telinga Seijuurou. Apa yang dia katakan, kita tidak tau. Namun yang pasti, denyut jantung Seijuurou langsung naik, "Oyaji, dia masih berjuang." Ucapnya. Kazuya melirik monitor, dan dia langsung berseru senang, "bagus! Shintarou, ambilkan selimut tebal sekarang! Aku akan menyelamatkannya."
"Baik!" Serunya sembari keluar, meninggalkan Kazuya yang sedang mengobati Seijuurou. Bagitu dia kembali, dia mendengar suara gaduh dari lantai bawah, "Sei! Kau dimana Sei!?"
Shintarou langsung turun dan mendapati Taiga, yang sedang ditahan oleh Kazunari, berrteriak-teriak seperti orang gila, "Mana Mayuzumi-jisan?" Tanyanya pada Takao, mengabaikan teriakan Taiga yang bisa memecahkan gendang telinga, "Mayuzumi-jisan ada urusan kecil katanya." Jawab Kazunari susah payah.
Shintarou menatap Taiga, "Ayahku sedang mengobatinya. Tenang saja, dia tak apa."
Sementara itu…
Mayuzumi mendobrak masuk kedalam rumah kayu itu, dan dengan cepat melangkah menuju salah satu kamar, "Tetsuya!" Seruna sembari mendobrak pintu.
Alangkah terkejutnya ia mendapati Tetsuya tengah telanjang diatas ranjang dengan seorang pria berkulit hitam yang juga telanjang, dan keduanya seperti sedang bersiap untuk melakukan IYKWIM, "Tetsuya?!"
"Oh, aniki." Balas Tetsuya datar, "ada apa?"
"Mana Seijuurou?" Tanya Mayuzumi datar, namun ada penekanan di setiap katanya.
"Mana aku tau." Jawab Tetsuya cuek.
"Sialan kau, Tetsuya!" Geram Mayuzumi, dia berlari ke arah Tetsuya dan meninjunya hingga jatuh dari ranjang. Pria hitam itu, Aomine Daiki, tak bisa melakukan apa-apa, "Kau menghajarnya lagi kan? Kau menghajarnya sampai seperti itu kan?!"
"Itu kan sudah biasa." Jawab Tetsuya sambil menguap dan kembali berbaring di ranjang dengan kedua tangan sebagai bantalnya.
"Sialan kau, Tetsuya. Ayah macam apa kau ini? Taukah kau, temannya menemukan Seijuurou terkubur salju di depan rumahmu! Dan luka-lukanya parah. Apa yang kau lakukan padanya?!" Bentak Myuzumi.
"Seijuurou-kun? Aku aku hanya memukulinya seperti biasa." Jawab Tetsuya enteng seolah hal itu adalah hal yang masuk akal dan biasa saja.
"Biasa?!" Seru Mayuzumi, "Kau sebut memukuli anak sampai terluka parah setiap hari itu biasa?! Kau ini manusia bukan sih?!"
"Terserahmulah," Tetsuya mengibaskan tangannya dengan bosan, "aku tak peduli lagi dengan anak itu, kalau kau mau mengambilnya, ambil saja. Aku tak peduli."
"Kau memang perlu dihajar, Tetsuya!" Seru Mayuzumi sambil melayangkan tinjunya ke wajah Tetsuya.
Bukkk.
Tetsuya terbelalak, begitu juga Mayuzumi. Sedangkan Aomine Daiki memakai pakaiannya kembali setelah meninju Tetsuya, "Ternyata rumor yang beredar itu benar. Aku muak denganmu, Tetsu."
Hey, siapa sangka Aomine Daiki akan mengatakan hal itu? Tetsuya bahkan tak memikirkannya, "Tapi kenapa, Aomine-kun? Bukankah kau mencintaiku?" Tanya Tetsuya.
"Memang benar, aku sangat mencintaimu, dirimu yang dulu." Aomine menatap Tetsuya penuh benci, "Kau bukanlah Akashi Tetsuya yang aku kenal. Akashi Tetsuya selalu menyayangi darah dagingnya sendiri, bukan menyiksanya hingga sepert ini."
"Tapi aku melakukannya agar dia meninggalkanku, Aomine-kun, agar kita bisa menikah dan hidup tanpa beban-"
Sebuah tinju melayang ke pipi Tetsuya lagi, membuat yang ditinju menatap kekasihnya dengan pandangan berkaca-kaca, "Tak perlu berbohong lagi, dan kalau memang itu alasanmu menyiksa putramu sendiri, lebih baik aku tak pernah menjalin hubungan denganmu, bahkan jauh lebih baik lagi jika aku tak pernah mengenalmu, Akashi. " Bagus, kalau Aomine tak lagi memanggilnya dengan nama kecilnya, berarti dia sudah benar-benar benci padanya, "Argh! Apa yang aku pikirkan saat itu sih? Kenapa aku malah mengejar manusia tak punya hati ini?" Geramnya.
"Aomine-kun…" Panggil Tetsuya dengan mata berkaca-kaca.
"Singkirkan mata itu, kau membuatku jijik."
"Aomine-kun…"
"Jangan sebut namaku lagi." Aomine berbalik menuju pintu, "Aku memang benci pada wanita, tapi aku lebih benci pada pria yang tega menyiksa anaknya hanya untuk kepuasan belaka." Tangannya menepuk bahu Mayuzumi, "sampaikan maafku pada anak itu," Diliriknya Tetsuya yang masih menatapnya, "dia tak pantas jadi ayahnya." Ucapnya sebelum menghilang dibalik pintu.
"Apa kau dengar itu, Tetsuya? Bahkan orang homo enggan denganmu, kau benar-benar sampah." Ucap Mayuzumi tajam sembari pergi dari rumah itu.
Tetsuya menatap kepergian Mayuzumi, lalu beranjak memakai baju dan jaketnya, "Kayaknya aku harus cari 'hiburan' nih." Ucapnya sambil tersenyum mesum.
Kazuya terduduk di kursinya sembari mengelap keringat yang menetes dari rambutnya. Bayangkan saja, hampir 3 jam dia ada di ruangan itu, dan sialnya, Shintarou lupa menyalakan AC, alhasil, dia kepanasan. Rasanya aneh, padahal sebelumnya ia kedinginan.
"Tapi, syukurah anak ini selamat." Ucapnya lega sembari menatap Seijuurou yang belum juga sadar, "Tapi apa yang terjadi padanya?" Tanyanya pada diri sendiri. Tiba-tiba, dia mendengar suara gaduh dari bawah, "Astaga, Taiga ngga mengacau lagi kan?" Pikirnya sembari turun ke bawah dan mendapati Mayuzumi yang lagi kalut, "Seijuurou, mana Seijuurou?!"
"Chi-chan!" Serunya alay dan segera ditabok oleh Mayuzumi, "Mana Seijuurou?!" Raungnya.
"Maa maa, dia baik-baik saja kok." Kazuya meringis sambil memegangi hidungnya yang baru saja diberikan bakpao oleh Mayuzumi, "kalian sudah boleh melihatnya kok." Ucapnya lagi sambil berjalan ke atas, diikuti semua orang yang ada di sana.
"Itu dia."
Mayuzumi hanya bisa menatap miris Seijuurou yang kini terbaring tak sadarkan diri. Tubuhnya dipenuhi perban, infus terpasang pada lengannya, dan kabel-kabel ECG terpasang di dadanya. Seijuurou menderita, hal itu terlihat jelas diwajahnya yang menunjukkan ekspresi kesakitan.
"Astaga, Sei." Decak Taiga.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini padanya?" Tanya Kazuya sembari duduk di kursi sebelah ranjang, sedangkan istrinya duduk di ranjang sambil membelai helaian scarlet yang lembut itu.
"Sebenarnya, saat pulang sekolah tadi dia dikeroyok preman. Tapi setelah itu aku langsung membawanya ke rumahnya." Jelas Taiga.
"tapi aku dan Kazunari menemukannya terkubur di tepi jalan. Dan seorang nenek tua berkata kalau dia selalu dihajar oleh ayahnya." Sanggah Shintarou.
"Memang benar," Semua kepala menoleh ke arah Mayuzumi yang menunduk, "Tetsuyalah pelakunya."
"A-apa?!" Seru Taiga, "Tau gitu ngga kubawa dia ke rumahnya!"
"Apa maksudmu, Chihiro-kun?" Tanya Kazuya yang sudah masuk mode serius.
"Tetsuya memang selalu memukulinya selama dua tahun terakhir ini. Dan ini yang paling parah." Mayuzumi menatap Kazuya, "apa saja yang kau temukan dari pemeriksaanmu?"
"Hipotermia." Jawab Kazuya, "Tapi sepertinya sudah berkurang."
"Tunggu," Semua orang menatap Taiga, "Saat istirahat di sekolah tadi siang, Sei muntah setelah dia memakan segigit burger. Apa dia terkena maag?" Tanyanya.
Kazuya menggeleng, "Tapi aku menemukan memar di perutnya, dan bukan tidak mungkin ususnya ikut bermasalah. Dan kemungkinan dia hanya bisa memakan makanan cair seperti bubur untuk beberapa minggu ini." Jelasnya.
"Dan luka paling parah yang dia punya adalah ini." Shintarou menunjukkan foto luka menganga Seijuurou dari smartphonenya, membuat semua orang ngeri melihatnya.
"Astaga, orangtua macam apa sih yang tega melakukan itu pada anaknya?" Kecam Shiina.
Tiba-tiba, terdengar suara isakan dari ranjang tempat mereka berkumpul, semua orang langsung menatap Seijuurou.
Anak itu menangis, ya, menangis. Air matanya mengalir deras di pipinya, dan tak ada tanda-tanda dia akan berhenti menangis, "Tou-san, jangan pergi, aku masih disini, aku menyayangimu, Tou-san."
Tak seorangpun bersuara ketika mendengar penuturan yang keluar dari mulut Seijuurou, bahkan Mayuzumi tak bisa bicara. Shiina memeluk tubuh lemah itu dan menangis, merasa kasihan kepada anak yang ditolong Shintarou tadi, "Kenapa kau bisa seperti ini?" Tanyanya dalam diam.
"Kalian sudah mau pulang?" Tanya Kazuya pada Mayuzumi.
"Ya, sebaiknya dia tetap disini sampai sembuh total, setelah itu, akan kubawa dia ke rumahku." Jawab Mayuzumi, "Kabari aku kalau Sei sudah sadar. Untung kau memiliki ruang simulasi rumah sakit, kalau tidak, mungkin dia tak tertolong. Jarak lokasi ke rumah sakit kan jauh."
Kazuya mengangguk, "Yah, kecuali ruang operasi. Tenang saja. Dan ngomong-ngomong, apa kau akan membawa anak itu kembali ke rumahnya setelah dia sembuh nanti?"
Mayuzumi menatap Kazuya seolah Kazuya baru saja mengatakan hal yang bodoh, "Tentu saja tidak, baka!" Umpatnya, "Setelah ayahnya berkata kalau dia tak peduli lagi pada Sei? Bisa jadi dia hanya tinggal nama kalau kubawa dia kesana. Tapi…" Mayuzumi menunduk, "kau tau kan, akhir-akhir ini aku sibuk, dan lusa aku harus pergi dinas selama 6 bulan, bagaimana aku bisa mengurus Seijuurou? Kalau dulu sih, aku menitipkan Taiga di rumah Tetsuya, tapi sekarang…"
"Tenang saja, Chi-chan," Kazuya menepuk bahu Mayuzumi, "Sei-chan bisa tinggal disini, dan aku yakin Shiina dan Shinya tidak keberatan. Taiga juga boleh tinggal sementara disini kalau dia mau."
"Ah, terima kasih, aku sangat tertolong." Ucap Mayuzumi lega.
"Tidak masalah." Jawab Kazuya bangga.
"Oh ya, berapa biaya perawatannya selama disini?" Tanya Mayuzumi sembari mengeluarkan dompetnya.
"E-eh?! Tak usah!" Tolak Kazuya.
"Ayolah, kau sudah menyelamatkan nyawa keponakanku." Paksa Mayuzumi, namun Kazuya menggeleng, "bagiku, anak itu selamat sudah membuatku senang. Lagipula, Shintaroulah yang membawanya kemari, bukan orang lain."
Mayuzumi hanya bisa menatap Jengkel Kazuya karena dia sama sekali tak mengerti apa yang diucapkan pria itu, "Terserahmulah, aku pulang dulu, jaa."
Gadis berusia 12 tahun itu meletakkan setumpuk baju didalam lemari baju. Manik emeraldnya melirik sang ibu yang sibuk memandikan anak laki-laki tak dikenal yang dibawa pulang oleh kakak tertuanya tadi, "Shinya-chan, bawakan pakaiannya kemari."
Shinya mematuhi perintah ibunya. Matanya terus mengawasi sang ibu, "Hahaoya," Panggilnya.
"Hm?"
"Kenapa Hahaoya mau repot-repot mengurusi anak itu?" Tanyanya ketus sambil menuding Seijuurou. Shiina terdiam sejenak, "Kenapa? Kau marah?"
"Tidak, hanya saja…"
"Shinya-chan, kemarilah." Shiina menepuk kedua pahanya, mengisyaratkan Shinya untuk duduk di pangkuannya. Shinya menurut. Dia duduk dan menatap ibunya.
"Shinya-chan, seandainya kau mendapat masalah, kepada siapa kau lari?" tanya Shiina.
"Hahaoya."
"Seandainya tak ada Hahaoya?"
"Tentu saja Oyaji."
"Nah, seandainya Oyaji memarahimu, kira-kira apa yang akan Hahaoya lakukan?"
"Membela Shinya."
Shiina tersenyum lembut, "Sekarang kau sudah mengerti kan, sayang?"
Shinya menggeleng, "Aku masih belum mengerti, Hahaoya."
"Shinya-chan, apa kau tau cerita anak ini?"
Shinya menggeleng.
"Sei-chan sudah tak punya ibu lagi, sayang."
Manik emerald itu terbelalak, "EEEEEEH?!"
"Sssst, jangan keras-keras."
"Majide?" Bisik Shinya.
"Ya, sayang. Ibunya sudah meninggal 2 tahun lalu." Jawab Shiina.
"Kok bisa?"
"Entahlah, Hahaoya juga tak tau."
"Tapi," Shinya mengernyit, "bukannya dia masih punya ayah?"
"Itulah, Shinya-chan," Shiina menghela nafas, "dia memang punya ayah, tapi ayahnya tak lagi berperan sebagaimana seharusnya. Kata Mayuzumi-jisan, kalau mau, apapun bisa dipakai ayahnya untuk memukuli Sei-chan. Seperti kursi, rotan, sapu, kayu, kaki, tangan, apapun jadi."
"Kok gitu sih? Kejamnya!" Shinya merinding membayangkan anak itu dipukul dengan kayu dan teman-temannya.
"Itulah, tak ada yang tau alasannya. Apalagi dia sudah tak punya sosok ibu untuk melindunginya. Dia tak bisa bermanja-manja lagi sepertimu. Maka dari itu, kau harus bersyukur karena Hahaoya masih disini, mengerti?"
Shinya menunduk. Perasaan bersalah melingkupi hatinya, ah, bodoh, kenapa dia harus cemburu pada anak bernama Seijuurou ini? Padahal, ibunya melakukan itu agar Seijuurou bisa merasakan kehadiran seorang ibu kan? Kenapa dia malah marah ketika ibunya melakukan hal yang baik?
"Hahaoya…"
"Hm?"
"Apa ada…" Shinya menggigit bibir bawahnya, "yang bisa kulakukan untuk menolongnya? Aku merasa bodoh karena sempat membencinya, kupikir Oyaji dan Hahaoya lebih memilihnya daripada kami, padahal, kalian kan hanya ingin menyelamatkannya."
"Tentu saja ada, Shinya."
Shinnya berbalik, "Oyaji."
"mattaku, kau mikir apa sih? Mana mungkin kami lebih memilih anak orang lain daripada anak kami sendiri?" Tanya Kazuya sedikit jengkel, "tapi anak ini pengecualian sih. Aku akan memperlakukannya seperti anakku sendiri."
Shinya mengangguk setuju.
"Oh ya, Shiina. Anak ini akan tinggal di rumah kita."
Shiina terkejut, "Lho, kau main ambil keputusan sendiri lagi ya? Chihiro-kun kan sudah biilang dia akan membawanya?"
"Memang, tapi pekerjaan yang diberikan Hideki sangat banyak, dan lusa dia harus dinas 6 bulan diluar kota. Makanya dia mau menitipkan Taiga dan juga Seijuurou disini."
"Sou ka? Apa ayah Sei-chan tak akan mencarinya?"
"Mencarinya?" Kazuya mendengus, "setelah dia berkata 'aku tak peduli lagi pada anak itu'? jangan bercanda, Shiina."
"Astaga, dia benar-benar dibuang." Desah Shiina, "Tapi, dimana mereka bisa tidur? Sei-chan mungkin bisa tidur disini, tapi kalau Taiga…"
"Taiga-nii bisa tidur di kamar kami!" Kazunari menyela dengan hebohnya.
"Kamar kalian?" Tanya Shiina.
"Otousan membelikan kami tiga ranjang tingkat, ingat?" Tanya Shinya, "waktu obral itu, untukku satu, Kazu-nii satu, dan Shin-nii satu."
"Lagipula, Seijuurou tak bisa tidur di kamar ini terus, bukan? Ruangan ini juga mau dipakai." Jawab Shintarou sambil membenarkan letak kacamatanya.
"Iya juga ya. Kalau begitu, sudah diputuskan." Shiina tersenyum.
"Nah, Shinya, bisa jadi kakak yang baik untuk Sei-otoutou?" Tanya Kazuya.
"Un!" Seru Shinya, "Tentu saja! Shinya akan melindungi Sei!"
"Tiga hari…"
Kazuya mendesah, Shiina menatap Kazuya khawatir, Shintarou, Taiga, Kazunari dan Shinya hanya bisa diam mendengar percakapan Kazuya dan Shiina.
"Sudah tiga hari dan Seijuurou belum bangun juga." Desah Kazuya lagi.
"Apa itu berbahaya?" Tanya Taiga khawatir.
"Tidak, bukan berbahaya," Kazuya menatap Taiga, "Tapi apa yang kaurasakan kalau tidak makan selama 3 hari?"
"Jelas aku kelaparan." Jawab Taiga.
"Kalau gitu sama saja dengannya kan?" Tanya Kazuya.
"Eh? Orang pingsan bisa lapar juga?" Tanya Taiga balik.
"Tentu saja, bego. Kau kira dia apa? Mayat?" Tanya Shintarou sinis.
Kazuya menggeleng sambil menghela nafas melihat pertengkaran kedua anak SMA itu. Disibaknya poni yang menutupi dahi Seijuurou dan menempelkan telapak tangannya ke dahi Seijuurou, panas.
"Tak ada cara lain," semua kepala menoleh ke arah Kazuya yang menyerahkan sebungkus pil kepada Shiina, "buatkan segelas susu hangat dan larutkan ini ke dalamnya." Perintah Kazuya. Shiina mengangguk dan keluar dari ruangan itu.
"Itu obat apa?" Tanya Kazunari.
"Itu racun. Daripada dia tidur terus mending mati aja sekalian kan?"
"OYAJI!" (eits, jangan heran, Taiga sudah seperti anak sendiri oleh keluarga Midorima, dan Kazuya juga yang meminta Taiga memanggilnya seperti bagaimana ketiga anaknya memanggil dia. Alasannya? Aku juga tak tau :v #kabur)
"Iya iya, itu obat demam doang!"
Taiga mendengus, "ga lucu."
Shiina kembali dengan segelas susu vanilla hangat yang langsung diserahkannya pada suaminya, "bantu aku." Shiina mengangguk. Dengan lembut dan hati-hati, keduanya memposisikan Seijuurou hingga terduduk dengan tangan Shiina sebagai penyangganya. Shintarou mengatur kemiringan ranjang agar sesuai dengan posisi duduk Seijuurou. Setelah selesai, dengan hati-hati Kazuya meminumkan susu itu pada Seijuurou, dan sesuai perkiraannya, Seijuurou membuka mata begitu meneguk susu hangat itu, "Ugh…"
"Sei!" Taiga langsung memeluk Seijuurou erat, "yokatta…"
"Taiga-nii?" Seijuurou menatap Taiga lemah, "tubuhku…seperti mati rasa…"
"Tentu saja, tiga hari kau tak makan, sudah pasti lemas bukan main." Celetuk Kazuya.
"Ini…dimana…?" Tanya Seijuurou lemah, menatap langit-langit dari posisi berbaringnya (Shintarou menurunkan sedikit kemiringan ranjangnya.)
"Rumahku-nodayo." Jawab Shintarou.
"Sou…ka…" Seijuurou menatap semua orang, "Jaa…bagaimana…keadaan…Tou-san…?"
.
.
.
TBC
Preview
"kenapa kau masih memikirkan orang yang tega-teganya melakukan itu padamu?"
"apa hanya karna luka kecil ini kalian membawaku kemari?"
"maukah kau menceritakannya kepada kami?"
"Tou-san, jangan menangis,"
"Karena kau adalah anugerah terindah yang Tou-san dan Kaa-san miliki."
"Apa kau tak menyayangi ayahmu lagi?"
"Kau janji mau merahasiakannya!"
Ada yang lega di chapter ini? Berhubung saya lagi baik hati dan baru bebas dari ujian, jadi saya selamatkan Sei-chan dulu #dibantaireaders.
Terima kasih untuk Chio'No'Akuma, yurutan, ShizukiArista, dan Akaba Shinra yang udah review. Arigatou gozaimasu :3 #bow
Ja, RnR please…
