Sinar mentari pagi menyinari kamar kecil itu, membangunkan seorang bocah laki-laki bersurai merah darah dari tidurnya. Kedua tangannya menyibak tirai yang menutupi jendela, dan iris scarletnya bersinar senang melihat pemandangan diluar sana.

"Natal!"


Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.

Rate: Khusus chapter ini K

Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.

Summary: Kisah natal pertama Akashi Seijuurou. Special Chapter for christmas.

Selamat membaca ^^


Derap langkah kaki mungil mengawali pagi di rumah sederhana itu. Bocah yang baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke-4 lima hari yang lalu itu berlari dengan semangat menuju kamar dimana kedua orangtuanya masih tidur pulas.

"Natal!" Teriaknya senang sembari melompat-lompat diatas ranjang hingga pria bersurai bluenette dan wanita berambut pink itu terbangun.

"Nggh…Seijuurou-kun?" Panggil pria bluenette itu, Akashi Tetsuya.

"Otou, Okaa, selamat natal!" Serunya senang sembari mencium pipi ayah dan ibunya.

"Selamat natal juga, Sei-chan." Wanita itu, Akashi Satsuki, balas mencium bibir putranya sekilas dan memangkunya.

"Whoa, Seijuurou-kun, pagi-pagi udah manja sama Okaa ya, curang," Anak itu, Akashi Seijuurou, tertawa geli ketika jari sang ayah menggelitik pinggangnya, "Otou, geli, hihihi." Ucapnya disela-sela tawa yang keluar dari mulutnya. Beberapa detik kemudian barulah Tetsuya menghentikan gelitikannya.

"Kok tumben Sei-chan sudah bangun?" Tanya Satsuki sedikit heran.

"Iya dong, ini kan natal pertama Sei." Jawab Seijuurou polos.

"Pertama?" Tanya Tetsuya, "Seijuurou-kun kan udah tiga kali natalan."

"Memang, tapi yang pertama dan kedua kan Sei masih kecil, jadi belum ngerti." Jawab Seijuurou.

"Kau kan memang masih kecil." Batin Tetsuya dan Satsuki.

"Sei-chan masih ngantuk?" Tanya Satsuki.

"Ngga."

"Kalau gitu, ayo kita mandi,"

"Ga mau."

Satsuki dan Tetsuya saling berpandangan bingung, biasanya Seijuurou selalu nurut, kenapa kali ini tidak? Keduanya menatap Seijuurou, yang memasang wajah ngambek sambil memalingkan wajah dan memanyunkan bibirnya, Tetsuya mati-matian menahan diri untuk tidak mencubit pipi gembul Seijuurou.

"Kenapa?" Tanya Satsuki bingung.

"Mau sama Otou~" Seijuurou meletakkan kepalanya di paha Tetsuya dan menatap Tetsuya manja.

"Ngga mau." Kali ini Tetsuya meniru gaya Seijuurou tadi.

"Eh~, nande~?" Tanya Seijuurou manja.

Tetsuya mempertahankan posisinya, bahkan tidak bergeming saat Seijuurou menoel-noel pipinya dengan jari mungilnya. Seijuurou mulai kesal karena dicuekin oleh si papa, jadi dia mulai menggelitiki Tetsuya, dari kaki, pinggul, leher, lumayan, balas dendam yang tadi.

Sayangnya, Tetsuya kebal geli, dan itu membuat Seijuurou keheranan, sambil menggelitik, dia terus memikirkan dimana kira-kira titik geli ayahnya. Melihat tingkah lucu Seijuurou, Satsuki tak bisa menahan tawanya. Berterima kasihlah pada Tuhan yang telah memberi kalian anak seimut ini, Satsuki.

"Otou~ ayo~" Rengek Seijuurou sambil menarik kaos Tetsuya, percayalah, kalau Seijuurou terus menariknya, bisa-bisa kerah kaosnya jadi selebar bahu Tetsuya.

"Oke," Seijuurou menyeringai senang, "Tapi…"

Tetsuya menunduk, memalingkan wajah dan menunjuk pipinya, Seijuurou menatap Tetsuya sejenak, "tadi kan udah." Ucapnya polos.

"Lagi," Tetsuya tersenyum sedikit begitu Seijuurou melompat dan mengecup pipinya, meninggalkan jejak ingus di pipinya, "Seijuurou-kun sebenarnya mau cium Otou atau sumbang ingus sih?" Tanya Tetsuya dengan nada dibuat-buat, "dua-duanya?" Seijuurou langsung melompat turun dari ranjang dan melarikan diri dari Tetsuya yang mengejarnya.

Satsuki hanya bisa tertawa kecil sambil beranjak pergi ke dapur untuk membuat sarapan.


"Itadakimasu." Tetsuya mengatupkan kedua tangannya.

"Itadakimasu." Satsuki mengatupkan kedua tangannya.

"Itadakimasu!" Seijuurou mengacungkan sumpitnya #lha.

Tetsuya dan Satsuki tersenyum melihat putra mereka makan dengan lahap, tak sampai lima menit kemudian anak itu menyodorkan mangkoknya yang sudah kosong kepada Satsuki, "Nambah."

"Makannya banyak banget, ntar gendut lho…" Ledek Tetsuya.

"Biar gendut yang penting sehat." Jawab Seijuurou, "Otou, nanti bikin yukidaruma (boneka salju) ya." Ajak Seijuurou sambil menerima mangkuk ketiganya.

"Hai, terserahmu, Seijuurou-kun," Tetsuya mengelus helaian scarlet sang putra, "cepat habiskan makananmu."

"Un!"


Pintu kayu itu terbuka lebar, Seijuurou berlari keluar dengan gembira, di belakangnya Tetsuya berjalan sambil tersenyum simpul. Melhat senyuman di wajah Seijuurou mampu membuatnya lupa akan semua beban dan kesedihan yang menimpanya, untung saja dia tak mengulangi kesalahannya, yang telah membuatnya berpisah dengan cahaya pertamanya.

"Otou! Mite mite(lihat)!" Seijuurou berlari kepadanya dan menunjukkan kedua tangannya, "Yuki!(salju!)" Serunya.

Tetsuya tertawa kecil sambil mengelus kepala Seijuurou, "Hai hai, ayo kita bangun yukidarumanya." Ajak Tetsuya.

"Un!"

Seijuurou mengumpulkan salju di sekitarnya, membentuk kumpulan salju itu menjadi bola, dan menggulingkannya pada Tetsuya, "Seperti ini?"

Tetsuya mengangguk, "tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, ini bisa jadi kepalanya." Ucapnya lembut, "ayo buat badannya."

Keduanya mulai membentuk salju menjadi boneka salju, Seijuurou tampak begiitu senang dalam pembuatan yukidaruma perdananya, tawa riang selalu menghiasi bibirnya, sambil membantu ayahnya menghias boneka salju mereka, ide jahil mulai terlintas di kepalanya.

"Otou~"

Tetsuya berbalik, "ada apa, Sei-"

PUFF

Sebuah bola salju kecil berhasil menghantam telak wajahnya, Tetsuya hilang keseimbangan dan jatuh terlentang diatas salju.

"Hahaha, kena, ahahaha." Seijuurou tertawa senang.

Tetsuya tetap terbaring di tempatnya, tak bergerak sama sekali.

"Mou Otou, Sei Cuma bercanda kok, jangan marah dong."

Masih tak bergerak. Rasa bersalah dan ketakutan mulai melingkupi dada Seijuurou, perlahan, didekatinya Tetsuya yang terbaring di salju, "Otou~"

Tak ada nafas.

"Otou~" Seijuurou mulai takut.

"Otou~" air matanya mulai mengalir, kedua tangannya mengguncang-guncangkan tubuh Tetsuya.

"Ot-"

"BAAAAA!" Tetsuya menangkap Seijuurou dan menggelitikinya lagi, "Usil ya, usil ya," ucapnya sambil menggelitiki Seijuurou.

"Otou baka~!" Oh no, Seijuurou mulai marah, nih. Air matanya mengalir terus tanpa henti, Tetsuya jadi sedikit merasa bersalah. Dielusnya rambut bocah yang sekarang menyandarkan kepala di dadanya, jempolnya beranjak dan menghapus air mata Seijuurou, "Gomenne, Seijuurou-kun," ucapnya.

"Otou~" Panggil Seijuurou lirih.

"Hm?"

PLUK

Lagi-lagi wajahnya ditimpuk dengan salju, "balas dendam karna bohongin Sei." Seijuurou berlari menjauhi Tetsuya.

"Oh, gitu ya?" Tetsuya pun ikut melempar bola salju ke Seijuurou, dengan pelan tentunya, "sini Otou kaih hadiah."

Seijuurou tertawa lebar sambil sesekali balas melempar ayahnya dengan salju. Keudanya bermain begitu seru, dan tanpa disadari, matahari telah mencapai puncak tertingginya. Kedua ayah dan anak itu terbaring diatas salju sampil mencetak bentuk malaikat dengan tubuh mereka.

"Tanoshii ne," Ucap Seijuurou.

Tetsuya tersenyum, "ya, tentu saja."

"Otou, habis ini kita ngapain?" Tanya Seijuurou.

Tetsuya menggeleng tanda kalau dirinya juga tak tau."

"Ata(aku tau!)!" Seru Seijuurou semangat sambil berlari ke belakang rumah, Tetsuya yang kebingungan mengikuti putranya dari belakang.


"Ooo, Seijuurou-kun mau main basket?" Tanya Tetsuya begitu melihat objek yang ditatap Seijuurou.

Ring basket itu sudah sangat tua, bahkan sudah berdiri disana ketika Tetsuya membeli rumah itu. Tampak kayunya sudah sangat lapuk, catnya sudah pudar, bahkan ringnya sudah tinggal besi tanpa jaring. Namun Tetsuya enggan merobohkannya, dikarenakan dia dan Seijuurou sangat menyukai basket dan keberadaan ring tua itu di rumahnya sangat menguntungkan dirinya. Yah, setidaknya tak perlu membeli yang baru, kan?

"Un! Sei mau main basket sama Otou!" Seru Seijuurou semangat.

"Tapi lapangannya tertutup salju, bolanya ga bisa di-dribble disini." Tetsuya menatap salju yang menutupi lapangan, "dan juga sangat licin."

Seijuurou menatap lapangan dengan kecewa.

"Begini saja," Tetsuya membuat sebuah bola salju, dan dengan phantom shoot andalanya bola itu berhasil masuk ke ring tanpa hancur sedikit pun, "kalau Seijuurou-kun bisa memasukkan lima bola salju ke ring tanpa menghancurkannya, Otou akan mengajakmu jalan-jalan nanti sore."

"Toh berhasil atau tidak aku tetap akan membawanya jalan-jalan." Batin Tetsuya.

"Hontouni?(benarkah?)" Tanya Seijuurou ragu.

"Tentu saja, apa Otou pernah berbohong?" Tetsuya bertanya balik.

"Yosh!" Seijuurou mengambil ancang-ancang dan melempar bola salju pertamanya ke ring. Dan bola itu masuk dengan mulus.

"Wah, Seijuurou-kun sudah makin hebat ya." Puji Tetsuya sembari mengacak surai merah darah anaknya. Mendengar pujian itu Seijuurou semakin bersemangat.

"Otou, kalau Sei berhasil menyelesaikan challenge Otou, jangan lupa beli sop tofu pas jalan-jalan nanti ya." Tantang Seijuurou.

"Oke, siapa takut?"


Satsuki berjalan menuju halaman dengan sumpit di tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, dan kedua orang yang dicintainya belum juga kemari.

"Tetsu-kun! Sei-chan!" Panggilnya. Satsuki berusaha mengingat dimana Tetsuya dan Seijuurou sering menghabiskan waktu bersama. "Apa mungkin di lapangan ya?" Pikir Satsuki sembari melangkah ke lapangan dan apa yang didapatinya disana membuat senyuman lebar terukir di wajahnya.

Tetsuya duduk dibangku panjang didekat ring dengan Seijuurou di pangkuannya, wajah Seijuurou yang basah karna keringat bersandar pada dada Tetsuya, kedua mataya tertutup rapat, tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya dan terdengar suara dengkuran halus dari mulut Seijuurou yang terbuka sedikit. Tetsuya menikmati panorama dihadapannya sambil sesekali mengelus surai scarlet Seijuurou dan menepuk-nepuk punggungnya lembut. Satsuki bisa melihat Seijuurou menggeliat menyamankan diri dalam pelukan ayahnya.

Perlahan dan tanpa suara, Satsuki berjalan mendekati keduanya, sayangnya, Tetsuya melihatnya.

"Satsuki-san, kenapa kau mengendap-endap seperti maling di belakangku?" Tanya Tetsuya.

"Mou Tetsu-kun, jangan samakan aku dengan maling." Satsuki merajuk sambil duduk di samping Tetsuya.

"Hai hai, gomenne, Satsuki-san." Tetsuya tersenyum lembut kepadanya, dan seketika wajahnya jadi semerah kepiting rebus.

"S-Sei-chan tidur ya?" Tanyanya untuk mengalihkan topik.

Tetsuya menatap Seijuurou, "ya. Sepertinya Seijuurou-kun kelelahan mencetak angka tadi."

"Mencetak angka? Kalian main basket? Tau ga sih lapangannya licin dan kalian bisa masuk angin tau?!"

"Gini deh, kalau sisi setannya bangkit." Tetsuya sweatdrop.

"Tidak, bukan basket beneran. Aku hanya menantangnya sedikit." Jawab Tetsuya.

"menantangnya?" Tanya Satsuki bingung.

"Ya. Aku menantangnya memasukkan lima bola salju ke ring tanpa membuatnya hancur."

"Dan berapa yang berhasil?"

Tetsuya tersenyum senang, "semuanya."

Satsuki tekejut bukan main. Bagaimana tidak, mengingat tinggi ring itu, bahkan anak berusia 10 tahun belum tentu mampu menncapainya, kalaupun bisa, pasti bola salju yang dilempar akan menghantam tepian ring dan hancur sebelum menyentuh tanah. Tapi anaknya ini baru 3 tahun, dan semuanya berhasil?

"Seijuurou-kun memang berbakat dalam basket." Gumam Tetsuya.

Satsuki mengangguk, "Tetsu-kun, sebaiknya kau bawa Sei-chan ke dalam, dia bisa sakit nanti."

"Benar juga, dia kan harus tidur siang agar tidak capek saat jalan-jalan nanti." Tetsuya berdiri dengan perlahan agar tidak membangunkan Seijuurou dan membawa anak itu ke dalam, "Satsuki-san sebaiknya masuk juga."

"Ah, hai!"


Seijuurou membuka matanya, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya. Dia berguling ke samping untuk melihat jam dinding yang digantung diatas pintu.

"Jam 4?" Gumam Seijuurou sembari turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara TV dari ruang tamu, dimana orangtuanya sedang menonton film india, dia bisa melihat ibunya sebentar-bentar melirik sang ayah, mungkin berharap Tetsuya akan mengajaknya bernyanyi sambil memutari tiang listrik di depan rumah.

"Otou, Okaa," panggil Seijuurou.

"Eh, Sei-chan sudah bangun?" Satsuki mengangkat bocah itu ke pangkuannya. Dan ketika Seijuurou menguap lebar sambil mengucek mata, Satsuki tak bisa menahan diri untuk tidak mencium pipi bakpao Seijuurou.

"Kyaaa Sei-chan imut banget siiiih?! Sini Okaa cium pipinya sampai gepeng!" Satsuki berfangirling ria.

Tetsuya hanya bisa menatap horror Seijuurou yang wajahnya memerah karna sesak nafas sambil mengulurkan tangan kepadanya dengan tatapan tolong-aku-Otou. Yah, sebenarnya hal itu wajar, megingat Satsuki adalah ibu dari Seijuurou, tapi kalau begini terus dalam waktu singkat Seijuurou bakal mati kehabisan nafas.

Dan Tetsuya belajar satu hal, Satsuki berbakat jadi pedofil.

"S-Satsuki-san, Seijuurou-kun sesak nafas tuh."

"Hehehe, gomen." Satsuki langsung melepaskan pelukannya.

"Tidurmu nyenyak, Seijuurou-kun?" Tanya Tetsuya.

"Tentu saja! Sei mimpi ketemu Santa Claus!" Jawab Seijuurou riang, "tapi kok Santa Claus belum kasih Sei hadiah ya? Apa karna Sei nakal ya?" Seijuurou menunduk sedih.

Tetsuya dan Satsuki saling berpandangan, "m-mungkin hadiah Sei-chan masih di rumah Santa." Jawab Satsuki.

"Santa kan ga pernah lupa bawa kado."

"Mungkin saja, umur santa kan sudah tua, rambutnya saja putih semua."

Mereka semua tertawa.

"Daripada mikirin Santa, kenapa Seijuurou-kun tidak mandi saja? Kita kan mau jalan-jalan."

"Ah, sou da, wasureteta. (Ah, iya, aku lupa.)" Seijuurou langsung berlari ke kamar mandi, "kali ini Sei mau sama Okaa!"

"Oke!"


"Fujiro-jiichan!"

Pria tua berpakaian jubah khas biara itu menangkap sosok anak kecil yang melompat ke arahnya, "halo, Seijuurou, konbanwa." Balasnya lembut sambil mengusap kepala Seijuurou.

"Ah, Fujiro-san, konbanwa." Sapa Tetsuya sambil mendekati pria itu, Fujiro Kobayashi. Hubungan keluarga Tetsuya (baca: Satsuki, Tetsuya dan Seijuurou) dengan pria ini cukup dekat. Fujiro adalah orang yang memberi tumpangan sementara bagi Tetsuya dan Satsuki ketika mereka diusir dulu. Dia juga yang menolong Tetsuya untuk membawa Satsuki ke rumah sakit ketika Seijuurou akan lahir. Bagi Tetsuya, Fujiro adalah sosok ayah yang tepat untuk menggatikan Hideki.

"Oh iya, 5 hari yang lalu Seijuurou ulang tahun ya? Otanjoubi Omedetou ne, maaf ngucapinnya telat." Fujiro mensejajarkan dirinya dengan Seijuurou.

"Ga apa kok, Sei senang Fujiro-jiichan ngga lupa ulang tahun Sei." Jawab Seijuurou senang.

"Mana mungkin lupa? Kan jiichan yang membawa ibumu ke RS saat itu." Fujiro tergelak, "ngomong-ngomong, kalian mau ke pusat kota, eh?" Tanya Fujiro sembari menggendong Seijuurou.

"Ya, begitulah, menikmati natal, dan mungkin, bersantai di taman dulu?" Tetsuya menatap Satsuki yang langsung memalingkan wajahnya, "T-Tetsu-kun wa baka." Umpatnya pelan.

"Fujiro-jiisan mau ikut?" Tanya Seijuurou.

"Mau sih, tapi aku mau mengurus biara tua ini dulu, mungkin lain kali." Jawab Fujiro.

"Begitu ya?" Tetsuya menngambil Seijuurou dari gendongan Fujiro, "padahal kami berharap anda ikut."

"Aku tak mau mengganggu acara kencan kalian." Balas Fujiro yang langsung terkekeh melihat wajah merah kedua pasangan muda itu.

"K-kalau begitu kami permisi dulu."

"Ittekimasu, Fujiro-jiichan!"

"Itterashai."


"Ah! Sei!" Taiga yang baru berusia 9 tahun itu berseru riang sambil menepuk bahu sepupunya yang beda 5 tahun dengannya itu, "kau datang juga? Sama siapa?" Tanyanya.

"Sama Otou dan Okaa," Seijuurou menunjuk kedua orangtuanya yang sedang mengobrol dengan Chihiro, "Kata mereka, Sei boleh main sama Taiga-nii dulu."

"Sou ka? Kalau gitu ayo kita main ayunan!"


Sementara itu…

"Gomenne, Tetsuya, kemarin ada sedikit gangguan, jadinya penerbangan ditunda sampai hari ini." Chihiro menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Tak apa, kok. Seijuurou-kun tampaknya tak memikirkan apapun soal itu." Jawab Tetsuya sembari mengambil bungkusan dari tangan Chihiro.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kau tau aku ada disini?" Tanya Chihiro bingung.

"Tentu saja, dari kebiasaan Aniki untuk datang kemari setiap natal dan juga…insting wanita." Satsuki tersenyum polos hingga kedua cowok di hadapannya sweatdrop.

"Aku jadi ingat," Tetsuya menengadah, "Seijuurou-kun lahir 5 hari sebelum natal kan? Harusnya aku menamainya Noel(1)"

Krik krik guk guk meong meong auuu #lho

Satsuki dan Chihiro menatap Tetsuya sambil sweatdrop, Tetsuya yang tadinya hanya niat bercanda kini jadi malu sendiri dan berharap dia menghilang saja dari tempat itu, "apa-apaan kau, Tetsuya?" Chihiro terkekeh kecil, "Nama Seijuurou sudah bagus untuknya, kenapa mau kau ganti lagi? Serius deh kalau kau mengganti namanya, aku takkan sungkan mencoret namamu dari warisanku."

"Aniki, aku kan adikmu, bukan anakmu." Kali ini Tetsuya yang sweatdrop.

"Hahaha, oke oke, cukup," Chihiro memegang perutnya yang sakit karna kebanyakan ketawa dan langsung memasang wajah datarnya, "oke, kalau begitu aku pergi dulu, Taiga!" Serunya memanggil si bocah crimson yang tak butuh waktu lama untuk meresponnya dan menghampirinya, "mou, aku masih mau main sama Sei." Protesnya.

"Taiga-kun kan bisa ke rumah besok," Hibur Setsuki sembari mengelus kepala Taiga.

"Ya udah deh, Sei, aku pulang dulu ya."

"Un, Jaa ne, Taiga-nii!"

Tetsuya dan Satsuki menatap kepergian Taiga dengan tatapan sendu, dan beru sadar ketika Seijuurou menarik baju mereka, "Otou, Okaa, ada apa?" Tanyanya.

"T-tidak apa-apa kok, Seijuurou-kun," Tetsya mengangkat Seijuurou ke bahunya, "Jadi, mau kemana kita sekarang?"

"Hutan natal!" Seru Seijuurou.

"Yosh, Ikuzo! (Yosh, ayo!)"


"Uwaaah, kirei… (Uwaaah, indahnya…)"

Mata Seijuurou terus bergulir ke kanan dan kiri, mengagumi keindahan pohon-pohon natal yang berada di tepi jalan, inilah alasan Seijuurou menyebut tempat ini esebagai hutan natal. Puluhan anak kecil berlarian sambil membawa hadiah di tangan mungil mereka, beberapa pasangan menatapetalase toko sambil tertawa-tawa. Para pengusaha yang baru keluar dari kantor berjalan cepat tanpa menikmati pemandangan. Seijuurou heran, kenapa ada orang yang lebih memilih harta daripada keluarganya?

"Sei-chan, kenapa melamun?" Tanya Satsuki cemas melihat Seijuurou melamun.

"Eh? Sei ngga apa-apa kok, Okaa." Seijuurou memasang senyum termanisnya, nyaris menjadi sasaran pelukan Satsuki hanya saja gagal karena Satsuki masih ingat tempat.

"Ngomong-ngomong, ada yang lapar?" tanya Tetsuya.

"Sei!"

Satsuki terkekeh kecil, "kalau begitu, ayo makan ramen," ajaknya sembari menunjuk kedai terdekat.

"Ngga mau, Sei mau sop tofu."

"Lho, tadi pagi kan udah makan sop tofu?"

"Otou janji membelikanku sop tofu kalau aku menang."

"Oke oke," Tetsuya mengangkat kedua tangannya, "ayo makan ramen, ada sop tofu juga kok."

"Yey, ayo, Otou!" Seru Seijuurou senang. Tetsuya hanya bisa terkekeh kecil melihat Seijuurou menarik Satsuki ke kedai sebelum menyusul mereka.


Selesai makan, mereka mau melanjutkan perjalanannya. Masih banyak tempat menarik, seperti pohon natal di Disneyland, yang belum mereka kunjungi. Sayangnya, ada sedikit hambatan.

"Otou, ngantuk…"

Tetsuya menepuk-nepuk punggung Seijuurou dengan lembut, tentu saja Seijuurou ngantuk, semua anak kecil juga pasti ngantuk kalau habis makan, kepalanya disandarkan ke bahu Tetsuya, namun dia masih bisa melihat sekelilingnya, "kalau begitu, tidurlah," Tetsuya menepuk punggungnya, "tapi aku ga mau, aku mau lihat-lihat pohon natal yang lain." Jawab Seijuurou. Matanya dia paksakan untuk membuka, mengabaikan kantuk yang menyerang. Tapi tetap saja Seijuurou kalah, karena, tak sampai 10 menit dengkuran halus sudah terdengar dari tenggorokannya.

"Ya sudah," Tetsuya melirik jam tangan, "sudah jam 10."

"Sei-chan…tertidur lagi?"

Tetsuya menatap wajah damai Seijuurou yang tertidur dengan kepala di bahunya, menggelitik setiap urat sarafnya dengan helaian scarletnya.

"Satsuki-san, bisa tolong gendong dia bentar saja? Aku mau meluruskan punggungku."

"Ha? Oke." Satsuki menggendong Seijuurou, Tetsuya pun meluruskan tulangnya, "Ya ampun, dia semakin berat saja." Celetuk Tetsuya.

"Ya, dia sudah semakin besar," Ucap Satsuki sambil mengelus rambut Seijuurou.

"Kau benar," Tetsuya tersenyum kecil.

"Rasanya seperti mimpi," Tetsuya menatap Satsuki bingung.

"rasanya baru kemarin kita saling kenal, diusir, tau-tau sekarang sudah punya anak. Ini semua bagaikan keajaiban." Gumam Satski,

"Seijuurou-kun sendiri adalah keajaiban, Satsuki-san."

"Apa maksudmu?" Tanya Satsuki.

"tanpa kujelaskan kau juga sudah tau, bukan, dari berbagai hal, dia sangat menonjol, ini merupakan keajaiban, apalagi untuk anak seusianya. Seijuurou-kun bukan hanya sebuah keajaiban, dia juga adalah anugrah terindah yang Tuhan berikan pada kita."

Satsuki mengangguk,"Natal kali ini sangat spesial, karena aku melewatkannya bersama orang-orang yang aku cintai. Selamat natal, Tetsu-kun."

"Selamat natal, Satsuki-san," Tetsuya mengecup bibir Satsuki lembut, kemudian mencium kening Seijuurou, "Selamat natal, anakku."

"Selamat natal, Sei-chan." Bisik Satsuki di telinga Seijuurou.

"Kita pulang sekarang?"

"Hai," Jawab Tetsuya pelan, dan keduanya pun berjalan beriringan menuju rumah mereka.

.

.

.

TBC


Omake.

Seijuurou membuka matanya, merasakan sesuatu di dekat kakinya. Seijuurou bangun, mengambil benda itu dan membaca pesan diatasnya.

"Sei, maaf ya, kadonya ketinggalan di rumah kemarin malam, jdi baru bisa dikasih deh, maafin Santa ya, Seijuurou." -from santa.

Seijuurou yang begitu senang karna dirinya juga mendapat hadiah dari santa lansung membuka kotak itu dan melihat isinya.

Isi hadiah itu bukanlah sesuatu yang spesial, hanya sebuah kalung, kalung dengan benang merah dan biji kalung berbentuk bidak Shogi. Diatas biji catur itu terdapat ukiran nama Seijuurou. Seijuurou memakai kalung itu, tangannya menggenggam erat biji kalung berbentuk bidak Shogi itu.

"Arigatou, Otou, Okaa. Hadiah kalian akan selalu kusimpan baik-baik. Selamat natal, Otou dan Okaa."


Gimana? Absurd, emang, ancur? Yep.

Special chapter ini dipublish untuk merayakan natal, dan kesan pertama Seijuurou tentang natalnya.

Terima kasih untuk Misaki Yoouna, ShizukiArista, Akaba Shinra, Kurotori Rei, Yuna Seijuurou dan Renka Sukina yang sudah mereview cerita ini.

Jaa, RnR please…

(1) Noel: natal.