Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.

Rate: T+

Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.

Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?).

Selamat membaca ^^


"Jaa…bagaimana…keadaan…Tou-san…?"

Seisi ruangan terdiam mendengar pertanyaan yang keluar dari mulut Seijuurou, "A-apa? Kau tanya apa tadi?" Tanya Taiga.

"Tou-san…gimana..kabarnya?" Tanya Seijuurou. Wajahnya yang merah karena demam tampak jelas, suaranya juga bergetar.

"Mou, Sei-chan, kenapa kau masih memikirkan orang yang tega-teganya melakukan itu padamu?" Tanya Kazunari.

"itu…?"

"Ya-" Kazunari bingung harus mengatakan apa, "yang sudah membuatmu jadi seperti ini!"

Seijuurou menatap tubuhnya yang dipenuhi perban, "apa hanya karna luka kecil ini kalian membawaku kemari?" tanyanya, tidak dingin ataupun sinis, tapi penuh rasa penasaran.

"Kecil?! Kaubilang itu kecil?" Seru Taiga, merasa kalau adiknya ini mulai error.

"Ini masih tergolong kecil. Aku pernah dapat yang lebih parah.." Jawab Seijuurou.

"T-tapi luka di kepalamu terbuka dan menganga cukup lebar-nodayo," Shintarou menatap Seijuurou yang terbaring lemah, "itu masih terhitung kecil. 3 bulan lalu kepalaku sampai bocor." Jawab Seijuurou.

"D-dan kau kutemukan tertimbun salju selama 30 menit."

"Aku pernah ditenggelamkan dalam air es selama 30 menit."

"Tubuhmu penuh bekas pukulan tongkat baseball."

"Aku sudah biasa dipukul dengan kabel USB."

Semua orang di ruangan itu hanya bisa cengo kuadrat mendengar jawaban Seijuurou yang (menurut mereka) mengerikan namun dijawab anak itu seolah anak yang dipukul sampai kepala bocor, masuk air es selama 30 menit dan disabet benda yang fungsi sebenarnya untuk mentransfer data dan kini berevolusi menjadi algojo(?) itu hal biasa.

"Jadi, bagaimana kabar Tou-san? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Seijuurou dengan polosnya.

"Dia…" Kazuya menggaruk kepalanya, "ya, dia baik-baik saja."

"Aku tak percaya…" Ucap Seijuurou begitu ia melihat keraguan di mata Kazuya, "Aku harus pulang!" Serunya pelan sembari berusaha bangkit dari tempat tidur.

"S-Sei-chan, jangan, kau belum pulih benar!" Seru Shiina sembari menahan Seijuurou agar tidak bangun.

"Aku tak peduli!" Seijuurou melirik jam dinding, "Tou-san pasti belum makan, aku harus masak untuknya. Biarkan aku pergi!"

"Seijuurou, jangan!"

"Tou-san mungkin sedang di'itu'kan lagi oleh Aomine-san, aku harus mencegahnya, Tou-san lagi sakit, nanti penyakitnya tambah parah, kalau sampai itu terjadi aku tak tau harus bagaimana lagi." Seijuurou berhenti meronta. Giginya terkatup rapat, tangan kanannya diangkat dengan sedikit paksaan untuk menutupi matanya, dia tak mau ada yang melihatnya menangis.

Sayangnya, naluri seorang ibu tak bisa ditipu, kawan, walaupun dia bukan ibu kita, dia akan tetap tau apa yang kita rasakan. Dan itu juga berlaku untuk Shiina, dia tau Seijuurou menangis, dia tau apa yang Seijuurou rasakan.

Dengan lembut, dibawanya Seijuurou ke dalam pelukannya, membarikan kehangatan dan kasih sayang seorang ibu yang pantas untuk dia terima. Seijuurou terbelalak, ditatapnya wajah Shiina yang tersenyum lembut padanya, "Jangan menangis, Sei-chan. Ayahmu baik-baik saja. Dia bisa mengurus dirinya kok. Sei-chan tenang saja, oke?"

"A-aku…merindukan…Tou-san…aku…mau…pulang…" Isak Seijuurou.

"Kalau sudah sembuh, Sei-chan bisa bertemu ayahmu kok."

Seijuurou menggigit bibir bawahnya, begitu rindunya ia pada dekapan seperti ini, sosok yang memeluknya ini membuatnya merindukan sosok itu, sosok wanita yang melahirkannya, wanita yang merawatnya dengan penuh kasih sayang, wanita yang dia rindukan. Isakan kecil lolos dari bibir mungilnya,dia merindukan Satsuki, ibu tercintanya, juga Tetsuya, ayahnya

Shiina mendekap Seijuurou semakin erat, berharap anak itu bisa tenang, "Jangan menangis, sayang." Bisiknya lembut.

"Tou-san..." Isak Seijuurou pelan, "Aku hanya ingin menemui Tou-san..."

"Baiklah, kita bisa menemuinya segera setelah kau sembuh. Tenangkan dirimu, Sei-chan, jangan biarkan air mata menodai wajahmu yang imut, oke?"

Seijuurou hanya mengangguk, berusaha mengendalikan air matanya, tidak singkat, memang, tapi apa yang dilakukan Shiina tadi cukup menenangkan untuk Seijuurou.

Kazuya tersenyum lega.


"Mou, Sei-chan, kau belum menjawab pertanyaanku." Protes Kazunari.

Seijuurou yang sedang disuapi bubur ayam oleh Shiina langsung menoleh ke Kazunari, "Maaf, aku lupa pertanyaannya." Jawab Seijuurou. Kazunari langsung mundung di pojokan.

"kenapa kau masih memikirkan orang yang tega membuatmu jadi seperti ini?" Tanya Kazunari dari pojokan.

"Kok kenapa?" Tanya Seijuurou bingung.

"Dia kan sudah membuatmu seperti ini? Kau tak membencinya?" Tanya Shinya mewakili Kazunari.

"Kenapa aku harus membencinya? Dia kan ayahku."

Oke, jawaban itu sama sekali tidak mereka duga, "Aku tak bisa membencinya, karena kalau aku melakukan hal itu, artinya aku sudah durhaka kan?"

Kazuya menghela nafas, "Seijuurou," panggilnya sembari menarik kursi ke dekat Seijuurou dan menatap manik rubi itu, "maukah kau menceritakan kepada kami, kenapa kau bisa diperlakukan seperti ini oleh ayahmu?"

Semua orang terkejut mendengar pertanyaan Kazuya, begitu pula Seijuurou, anak itu langsung menunduk, semuanya mengira Seijuurou enggan menceritakannya, "Yah, kalau kau-"

"Baiklah," Seijuurou menatap mereka, "asal kalian mau merahasiakannya, aku akan bercerita."

"Kami akan merahasiakannya." Janji Kazuya.

Seijuurou mengangguk, siap menerima pertanyaan yang akan dia terima.

"Apa kau mengalami ini sejak dulu?"Tanya Kazuya, dijawab dengan gelengan lemah Seijuurou, "Dulu, Tou-san adalah ayah terbaik yang pernah kutemui. Setiap hari, Tou-san selalu menjemputku di sekolah, membawaku jalan-jalan sebentar diatas punggungnya. Ketika tiba di rumah, Kaa-san menyambut kami dengan masakannya yang enak juga senyum lembutnya, Tou-san selalu membantuku mengerjakan semua PRku. Setiap malam, Tou-san dan Kaa-san akan duduk di kiri dan kanan kasurku, Tou-san membacakan cerita pengantar tidur, dan Kaa-san menyenandungkan lagu Edo no Komori Uta(1) yang aku suka. Setiap akhir pekan, kami pergi jalan-jalan, atau memasak bersama di rumah. Setiap hari, hal yang sama terulang, tapi aku tak pernah bosan."

Shintarou tersenyum membayangkannya, "Jadi, sejak kapan semuanya berubah?"

Seijuurou kembali menunduk, "semuanya dimulai 2 tahun lalu, ketika Kaa-san meninggal…"


Flashback: 2 tahun lalu, seminggu setelah pemakaman Satsuki…

Seijuurou melangkah masuk ke dalam rumah, tubuhnya basah dan kotor. Tentu saja, Seijuurou nekat hujan-hujanan di depan makam Satsuki, saking rindunya ia pada sosok itu, rasanya dia tak ingin beranjak dari sana, kalau perlu, menyusul Satsuki, namun, dia tak mau meninggalkan Tetsuya, ayahnya.

"Tadaima…" Ucapnya pelan.

"Okae-Seijuurou-kun!" Tetsuya yang baru keluar dari kamar sangat terkejut melihat Seijuurou pulang dalam keadaan berantakan. Buru-buru, diambilnya handuk dan menarik Seijuurou ke kamar mandi, "Astaga, kau dari mana saja?" Tanyanya khawatir sembari menyalakan keran air hangat.

"Makam Kaa-san." Jawab Seijuurou pelan, membiarkan Tetsuya memandikannya.

"Makam Kaa-san? Kau hujan-hujanan lagi?" Tanya Tetsuya.

Seijuurou mengangguk.

"Lalu, kenapa kau bisa sekotor ini?" Tetsuya mengambil handuk dan mengeringkan tubuh Seijuurou.

"Di jalan tadi, ada truk melintasi genangan lumpur, aku kecipratan." Jawabnya.

Seijuurou menatap lekat-lekat mata Tetsuya yang bengkak. Setelah Satsuki dimakamkan, Tetsuya begitu terpuruk, setiap hari dia mengurung diri di kamar, menangis tersedu-sedu sambil memeluk foto Satsuki, tubuhnya yang kurus jadi semakin kurus karena menolak makan. Air mata tampak mengalir di pipinya.

"Tou-san," Seijuurou mengangkat wajah Tetsuya, "kau menangis lagi?"

"Eh?" Tetsuya buru-buru menghapus air matanya, "tidak kok."

Seijuurou menghapus air mata Tetsuya, air menetes dari rambutnya yang basah, "Tou-san, jangan menangis," ucapnya lirih, "aku tak suka melihatmu menangis."

"Hai hai," Tetsuya tersenyum, senyuman yang dipaksakan, dan Seijuurou membenci senyuman itu. Dia ingin senyuman yang sebenarnya, yang selalu ditujukan padanya setiap malam. Seandainya kecelakaan itu tak pernah terjadi…

"Kau demam, Seijuurou-kun," Tetsuya menempelkan dahinya ke dahi Seijuurou, "kau sudah makan?"

Seijuurou mengangguk, "Tadi aku makan ramen di pinggir jalan."

"kalau begitu, segera pakai bajumu dan tidurlah, oke?" Tetsuya menepuk puncak kepala Seijuurou dan berjalan keluar kamar mandi. Seijuurou terdiam di tempatnya, membiarkan tubuh telanjangnya terpapar angin, air mata menetes ke lantai, "Kaa-san, kenapa kau pergi begitu cepat?"


Seijuurou berguling di dalam selimutnya, ia tak bisa tidur, rasanya begitu janggal tanpa kehadiran Tetsuya dan Satsuki yang selalu menemaninya setiap malam, berbagai cara sudah dia coba, mulai dari membaca, memejamkan mata serapat mungkin, sampai menghitung domba hingga 1000(?), namun dirinya tak kunjung tertidur, Sejuurou terus berbaring sambil menatap langit-langit hingga terdengar suara benturan yang cukup keras dari kamar Tetsuya.

Dengan wajah khawatir, Seijuurou berlari tanpa suara ke kamar Tetsuya. Dibukanya pintu kamar dengan pelan dan masuk ke dalamnya.

Tetsuya berbaring di lantai, terdapat bercak darah di dinding, dan darah di dahi Tetsuya mengalir pelan. Tetsuya menangis, foto Satsuki dalam dekapannya, mulutnya terus memanggil nama Satsuki, seolah wanita itu bisa kembali jika dia membenturkan kepalanya ke dinding terus menerus. Tubuh kurusnya berguncang pelan seiring dengan isakan dari mulutnya. Tampaknya Tetsuya tak menyadari keberadaan Seijuurou.

Sakit, rasanya sakit melihat ayahnya terpuruk seperti ini, surga yang selalu Seijuurou rasakan, kini hancur berkeping-keping karena kecelakaan itu, Seijuurou merosot ke lantai, punggungnya tetap menempel ke pintu, kepalanya tertunduk, dan tanpa dia sadari, butiran kristal bening menetes di pipinya, "hiks…"

Tetsuya terkejut mendapati Seijuurou terduduk sambil bersandar pada pintu kamarnya sambil menangis, "Seijuurou-kun!" Serunya sembari mendekati putra semata wayangnya, "ada apa? Kau bermimpi buruk?" Tanyanya.

"Tou-san, kenapa?" Tanya Seijuurou, "kenapa kau melakukan itu? Kau bisa kehabisan darah."

Tetsuya terdiam tak bereaksi ketika Seijuurou mengambil perban di kamarnya dan melilitkannya ke kepalanya untuk menghentikan pendarahannya, "Tou-san," Seijuurou memeluk Tetsuya, menyandarkan kepalanya ke leher Tetsuya, membuat pria itu bisa merasakan betapa panasnya tubuh Seijuurou, "Seijuurou-kun, demammu belum turun nak." Ucapnya berusaha mengalihkan perhatian.

"Tou-san, gomenasai." Tetsuya tersentak, "Seandainya, aku yang tertabrak saat itu, seandainya aku tak pernah meminta Kaa-san membeli tofu, seandainya aku tak pernah dilahirkan, seandainya kalian takkan pernah bertemu, mungkin semua ini takkan terjadi, mungkin kalian masih berada di rumah Ojiisan."

Tetsuya mendekap Seijuurou, "Hei, kau ini ngomong apa?" Tanyanya, "kecelakaan itu tak ada hubungannya denganmu. Itu takdir, nak. Dan apa hubungannya kecelakaan ini dengan pertemuan kami?" Tanya Tetsuya sedikit bingung.

"Tapi, seandainya kalian tak pernah bertemu, kalian takkan menikah dan aku takkan pernah lahir, dan aku takkan pernah meminta Kaa-san membeli tof-"

Tetsuya menempelkan jarinya ke bibir Seijuurou, "Seijuurou-kun, seandainya kami tak pernah bertemu, dan kau tak pernah lahir, maka hal itu akan menjadi penyesalan terbesar kami, sayang."

"Hah?" Seijuurou menatap Tetsuya tak mengerti.

"Kami tak pernah menyesal memilikimu sebagai anak, kau telah membuat kami terlampau bangga. Kalau memang lebih baik kau tak pernah lahir, jauh lebih baik kalau kami mati. Karena kau adalah anugerah terindah yang Tou-san dan Kaa-san miliki." Seijuurou merasa tubuhnya terangkat, Tetsuya membaringkannya di tempat tidur, dia sendiri berbaring di samping Seijuurou, "Seijuurou-kun," Tetsuya mendekap bocah mungil itu, "jangan pernah tinggalkan Tou-san, oke?" pintanya dengan sangat, Seijuurou membalas pelukan itu, "Aku takkan pernah meninggalkanmu, Tou-san. Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sampingmu."

Tetsuya tersenyum, "Tidurlah, nak. Tou-san akan menemanimu." Seijuurou tersenyum dan merapatkan diri ke pelukan Tetsuya, "Oyasumi, Tou-san."

Tetsuya mencium dahi Seijuurou, "Oyasumi."


Esoknya…

"Hideki, tentu saja."

Cangkir kopi yang dipegang Tetsuya jatuh entah kemana, matanya terbelalak mendengar percakapan ketiga orang asing itu.

"Siapa lagi, coba?" Pria yang paling pendek tertawa kecil, "Hideki kan membenci putranya, juga keluarga kecilnya, langkah pertama yang harus diambilnya tentu saja membunuh wanita jahanam yang telah membuatnya dan anaknya berpisah. Setelah itu, baru anaknya."

"Lagipula, apa sih yang tak bisa Hideki lakukan? Dia kaya, harta melimpah, apapun yang dia inginkan, dia bisa beli, untuk masalah ini mah, kecil! Tinggal siapkan kambing hitam, bayar, dan," orang itu menepuk tangannya, "mission accomplished!"

"Benar juga, hahaha!"

Tetsuya mengepalkan kedua tangannya, matanya menyala dengki. Siapa sangka, ayah yang begitu dihormatinya berani merancang sebuah pembunuhan berkedok kecelakaan pada istrinya, dan kini dia akan mengincar anaknya? Tidak, Tetsuya takkan membiarkan hal itu terjadi, takkan dia biarkan pria itu menyentuh putranya, buah hatinya dan Satsuki.

Tapi entah apa yang merasuki pikirannya, begitu dia pulang dan disambut oleh Seijuurou, dia seolah melihat Hideki dalam versi chibi dalam diri Seijuurou, dan sebelum dapat berpikir jernih, Tetsuya sudah menghajar Seijuurou habis-habisan, mengabaikan teriakan sakit dan tangisan Seijuurou.

"Bangsat kau, Hideki," satu tonjokan, "beraninya hanya di belakang," dua tonjokan, "beraninya kau menghancurkan keluargaku," satu jambakan, "mentang-mentang kau berkuasa, langsung seenaknya saja," satu tendangan, "mati sana."

"Tou-san, ampun!" Isak Seijuurou. Dia tak mengerti, begitu pulang, tiba-tiba saja dia diserang oleh sang ayah, tak biasanya Tetsuya berlaku kasar padanya, apalagi sampai seperti ini, Seijuurou tak mengerti,

Dan malam itu, Seijuurou pingsan di depan altar Satsuki, hujan turun dengan deras, setetes air hujan jatuh pada foto Satsuki, tepat di matanya, dan mengalir turun, membuat foto itu seperti menangis, tanda kalau Satsuki menangis diatas sana, melihat keluarganya hancur berantakan karena sebuah dosa yang pernah dilakukannya.


Seminggu telah berlalu sejak hari itu, Seijuurou berubah total, semua orang jadi bingung sekaligus khawatir. Seijuurou tetap menjadi korban, dan walaupun Tetsuya sadar siapa yang dia hajar, dia tetap tak berhenti, Tetsuya selalu puas setiap kali menghajarnya, dan hanya pada saat itu saja dia tersenyum, tersenyum keji.

Seijuurou sangat merindukan sosok itu, sosok Tetsuya yang dikenalnya, yang berhati lembut, berwibawa, dan penyayang.

Dan disinilah dia, duduk menyendiri di atap sekolah, memanfaatkan sedikit hawa keberadaan lemahnya untuk menyembunyikan diri dari semua orang yang mencarinya. Matanya terpejam, membiarkan hujan menerpa wajahnya agar tak ada yang melihatnya menangis,

"Akashi?"

Namun tidak untuk orang ini.

"Shuu-nii."

Nijimura Shuuzo, kapten tim basket Teiko, salah satu orang yang disegani Seijuurou, orang ini selalu berhasil menemukannya, namun baru kali ini Nijimura mendapati anak itu menangis. Dia terkekeh geli melihat Seijuurou buru-buru menghapus air matanya, anak itu tampak begitu imut dan polos kalau habis menangis.

Nijimura menarik Seijuurou berteduh dan memberikan blazernya pada Seijuurou, "cepat buka blazermu sebelum bajumu basah." Ucapnya. Seijuurou duduk dan memandang blazer Nijimura dengan tatapan kosong, "Astaga," Nijimura duduk disamping Seijuurou dan melepaskan blazer Seijuurou yang basah, "Kau mau masuk angin?"

Seijuurou menunduk, "Shuu-nii, kau tau Akashi Hideki?"

Nijimura terdiam, "Tentu saja, dia kakekmu kan?"

"Begitu ya?" Seijuurou terdiam, "Pantas saja."

"Memangnya kenapa?"

"Aku hanya penasaran, soalnya Tou-san selalu mengira aku adalah Ojiisan."

Nijimura mengangkat wajah Seijuurou dan menatapnya serius, "Memang sih, kau benar-benar seperti Hideki versi mini."

Keduanya terdiam, "Ne, Akashi, apa kau punya masalah?"

Seijuurou tersentak mendengar pertanyaan Nijimura, "K-kenapa Shuu-nii nanya gitu?"

"Soalnya kau berubah drastis," Jawab Nijimura, "Kalau memang punya masalah, cerita saja padaku. Aku takkan membocorkannya."

"Aku hanya bingung, aku tak ada harapan lagi untuk hidup." Ujar Seijuurou, "aku tak tau…"

"Dengar, Akashi," Nijimura menatap Seijuurou, "apa kau tak memikirkan ayahmu? Dia masih terpuruk karena kematian ibumu kan? Kalau kau juga mati, kau mau membuat ayahmu tambah menderita?"

Seijuurou tersentak, "Apa kau tak menyayangi ayahmu lagi?"

"Tentu saja aku menyayanginya, tapi…"

"Kalau begitu, kau harus mendukungnya. Lakukan apa yang kau bisa untuk membuatnya kembali tersenyum, dan dengan begitu, kau memiliki harapan hidup lagi, Akashi. Di dunia ini, banyak orang rela mengeluarkan berjuta-juta untuk mendapatkan nyawa, kau, yang masih punya nyawa, jangan kau buang seenaknya, mengerti?"

Seijuurou merenung sejenak, apa benar? Apa dengan menghajarku Tou-san akan tersenyum? Aku memang merindukan senyumannya, tapi, apa senyuman itu yang kuharapkan? Senyuman keji? Tapi...kalau dipikir-pikir, Tou-san nyaris tek pernah tersenyum sejak saat itu, jadi, bukannya senyuman keji sudah cukup?

Nijimura tersenyum melihat perubahan pada ekspresi Seijuurou, "Kau benar, Shuu-nii." Ucapnya sambil tersenyum, "aku sudah tau sekarang."

"Kalau begitu, beritahu aku, apa yang sebenarnya kau inginkan?" Tanya Nijimura.

"Tak banyak," Seijuurou tersenyum pahit, "aku hanya ingin melihat senyuman Tou-san lagi, dan membuatnya melupakan bebannya."

Aku sudah memutuskan, aku akan mendukung Tou-san dengan cara apapun, meskipun nyawa taruhannya, selama Tou-san bisa tersenyum, aku tak keberatan.

Flashback off.


Tak seorangpun bersuara mendengar cerita Seijuurou, bahkan Kazunari yang paling berisik menjadi bisu.

"Cukup. Orang itu sudah keterlaluan, menyiksa anak tanpa alasan," Kazuya bangkit dan berjalan keluar, "aku akan melaporkannya ke polisi."

"Ap-" Seijuurou terkejut, "Ojisan, jangan!"

"Tidak, aku tak tahan mendengar ceritamu, nak." Kazuya menatap Seijuurou serius, "ayahmu itu sudah keterlaluan. Aku masih terima kalau dia menghajarmu dengan alasan yang jelas, misalnya kau yang membuat ibumu mati, tpi dia melakukannya demi kepuasan pribadi," Kazuya mendengus, "Dia kira anak itu apa? Mainan?"

"JADI TOU-SAN HARUS PUNYA ALASAN UNTUK MENGHAJARKU KAN? ITU ALASANNYA! MEMANG AKU YANG MEMBUNUH KAA-SAN! AKU YANG MEMINTA KAA-SAN MEMBELI TOFU DAN AKHIRNYA TEWAS TERTABRAK TRUK!" Teriak Seijuurou, namun Kazuya tak mendengarkan, "Tak perlu berbohong. Aku tau alasan sebenarnya, dan kau tak perlu melindungi pria bangsat itu."

"Eh?" Seijuurou cengo, bagaimana Kazuya bisa tau kalau dia berusaha melindungi Tetsuya?

"Aku punya tiga anak, dan aku tau siapa bohong siapa tidak."

"Ojisan, kumohon, jangan!" Seijuurou berusaha untuk turun dari ranjang, namun karena tangannya terpeleset, Seijuurou malah jatuh hingga infusnya lepas, selang infusnya menggantung terlupakan, "Kau janji mau merahasiakannya!" Seru Seijuurou sambil memberontak dari Shintarou yang berusaha menahannya.

"Ini demi kebaikanmu."

"Kebaikanku?" Teriaknya, "lebih baik aku mati daripada melihat Tou-san menderita!" Seijuurou menangis, "aku tak mau membuat Tou-san tambah menderita…"

Kazuya membungkuk di depan Seijuurou, "Kalau begitu, kenapa kau tak mengizinkanku melaporkan ayahmu ke kantor polisi?" Tanyanya.

"Tou-san sudah cukup menderita selama ini, sejak dia diusir oleh Ojiisan, dan sekarang dia ditinggalkan oleh Kaa-san." Seijuurou membungkuk kepada Kazuya, "Tolong jangan laporkan Tou-san ke polisi, aku tau yang dia lakukan itu sangat salah, tapi aku tak tega melihatnya tambah menderita di penjara, aku hanya ingin dia melupakan bebannya. Aku tak peduli pada diriku, kalau dengan begini Tou-san bisa melupakan bebannya, aku rela menjadi kantong tinjunya sampai aku mati."

Shintarou menatap Seijuurou dengan pandangan yang tak bisa dibaca, bagaimana bisa anak sekecil ini berani mengambl keputusan yang bisa membahayakan nyawanya sendiri. Setinggi itukah harapannya? Bahkan dia tak peduli lagi pada dirinya sendiri, semua yang dipikirkannya hanya kebahagiaan ayahnya. Heh, bahkan Shintarou tak pernah memikirkan sesuatu untuk membuat ayahnya senang.

Kazuya tersenyum kecil, apa yang dilakukan anak ini tak sebanding dengan apa yang dia terima. Anak ini sudah cukup menderita, dan Kazuya tak mau membuatnya terus menderita.

Seijuurou merasa tubuhnya diangkat dan dibawa keluar dari tempat itu. Kazuya tak menatapnya sama sekali, hanya menatap lurus keluar. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa dia akan diusir karena berani berteriak kepada orang yang sudah menyelamatkan nyawanya? Ah, dia sudah biasa diperlakukan bak sampah, jadi hal ini sudah biasa kan?

"Shintarou, buka pintunya."

Seijuurou menatap pintu di hadapannya, pintu itu berwarna hijau muda, dia tak tau pintu apa itu, dan dia tak yakin kalau pintu itu adalah pintu depan. Ah, apa dia akan dijadikan budak dan tidur di gudang?

Dan betapa terkejutnya ia mendapati Kazuya membaringkannya di sebuah tempat tidur yang empuk, "eh?"

"Maaf atas perbuatanku tadi," Ucap Kazuya, "aku takkan melaporkan ayahmu ke polisi, untuk sementara, tinggallah disini. Kau belum pulih benar."

"A-aku tak jadi budak?" Tanya Seijuurou polos (korban sinetron :v)

Kazuya tergelak, "Budak? Enak saja, masa orang seperti aku mau memperbudak anak kecil?"

"Mukamu tak menjanjikan, Oyaji." Ledek Shinya, dan Kazuya kembali mundung di pojokan.

"Kami takkan memperbudakmu, Sei-chan." Shiina duduk di samping Seijuurou dan tersenyum lembut, "kami akan memperlakukanmu seperti anak sendiri, seperti kami memperlakukan Taiga."

Sesuatu yang hangat mengalir di pipi Seijuurou, rasa sesak yang tadinya memenuhi rongga dadanya kini lenyap, sudah berapa kali dia menangis hari ini? Sudah berapa kali dalam satu hari ini dia merasakan hangatnya keluarga? Sudah berapa kali dia merasa lega? Kini, Shiina kembali memeluknya, dan Seijuurou merasa dadanya sangat lega, seulas senyuman bahagia terkembang di wajahnya, "arigatou.." bisiknya.

"Ne, kau kan laki-laki, jangan menangis dong." Shinya tertawa kecil melihat Seijuurou menghapus air matanya, "Gomen, ano…"

"Midorima Shinya, 12 tahun, yoroshiku." Ucap Shinya memperkenalkan diri sambil membentuk tanda peace dengan jarinya.

"A-akashi Seijuurou," Seijuurou terseyum canggung, "yoroshiku onegaishimasu, Shinya-nee."

"UWAH! AKU JADI KAKAK! " seru Shinya lebay sambil memeluk Seijuurou, "boleh aku panggil kau Sei-Otoutou? Atau Sei? Atau Otoutou aja?"

"T-terserah Neesan."

"Oke, aku akan memanggilmu Sei! Tapi ga janji ya."

Persis Kazu/Kazunari/aku. Batin ketiga remaja yang terlupakan.

"Selamat datang di keluarga Midorima, Seijuurou." Kazuya tersenyum lembut, dan Seijuurou ikut tersenyum.

Kaa-san, apa kau senang sekarang? untuk sementara aku akan tinggal disini, tolong jaga Tou-san untukku ya.

.

.

.

TBC


(1) Edo no Komori Uta: lullaby Jepang yang cukup populer di zaman Edo.


Preview.

"Sei, mau main ke rumah temanku? Ada anak seusiamu juga disana."

"Apakah ayah senpai tau sesuatu tentang keluarga Akashi?"

"Xìng fú de jia itu apa?"

"Aku merindukan Tou-san."

"Kaa-san?"


Gimana? Absurd? Kurang puas? Maaf deh, tapi disini rahasia Seijuurou sudah terbongkar kan? Tenang saja, Seijuurou gapapa kok, jangan takut, oke?

Terima kasih untuk samehime345, ShizukiArista, Kurotori Rei, Koru Kyoshiro, S. Hanabi, Renka Sukina, Akaba Shinra, juga seluruh readers yang sudah membaca fic karangan saya, semoga chapter special kemarin memuaskan kalian ^^

Ja, RnR please…