Pening. Itulah hal pertama yang dirasakan Seijuurou. Kedua matanya tetap terpejam, tak berniat membukanya. Seijuurou hanya ingin beristirahat sebentar lagi, mengembalikan tenaganya yang hilang entah berapa banyak. Oh iya, semalam dia bermimpi diselamatkan oleh senpainya dari tumpukan salju dan dibawa ke rumahnya, ah, rasanya begitu nyata. Pelukan itu, kehangatan itu, mendadak dia teringat ayahnya.
"Ara? Sei belom bangun ya?"
Kening Seijuurou mengerut sedikit, sepertinya dia mengenal suara ini.
"Aduh, gimana nih? Oyaji bilang dia harus makan jam 9," terdengar helaan nafas putus asa, "tapi sekarang udah jam 12."
Seijuurou terkejut bukan main, jam 12?! Dia tidur sampai tengah hari?!
"Apa sebaiknya aku telpon Oyaji saja ya?"
"A-ano…" Oh ya, Seijuurou ingat siapa dia.
"Kau sudah bangun? Yokatta…" Shinya menghela nafas lega, "aku baru mau menelpon Oyaji."
"Tak usah," Seijuurou berusaha untuk duduk dibantu Shinya, "Ojichan dan yang lainnya mana?" Tanyanya.
"Oyaji dan Hahaoya sudah ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Ibumu?"
"Un. Hahaoya itu kan dokter hewan. Shin-nii, Taiga-nii dan Kazu-nii masih di sekolah."
"Kenapa aku tak dibangunkan?"
"Kau masih sakit, kawan."
Ingin rasanya Seijuurou membenturkan kepala ke tiang terdekat, "neesan sendiri tidak sekolah?"
"Ha?" Shinya menatap Seijuurou, "Hari ini aku libur."
Seijuurou mengangguk paham, "Sei, ayo makan dulu," Shinya menyendokkan sesendok bubur cair ke mulut Seijuurou, "aku bisa makan sendiri, neesan." Seijuurou mencoba untuk mengelak, disuapi itu benar-benar memalukan, tau?
"Kalau begitu, douzo." Shinya mengulurkan mangkok bubur itu pada Seijuurou, Seijuurou mengangkat kedua tangannya dan menerima bubur itu, "lho? Kok tanganku gemetar?" Gumam Seijuurou bingung.
"Tiga hari kau tidak makan, kemarin cuma makan beberapa suap bubur, mana ada tenaga?" Shinya tertawa kecil, "sini aku suapin."
Mau tak mau, Seijuurou harus pasrah disuapin oleh gadis (yang entah kenapa tampak sangat semangat untuk melakukannya) yang hanya rentang 2 tahun darinya itu.
Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.
Rate: T+
Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.
Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?).
Selamat membaca ^^
"Jadi, bagaimana keadaan Akashi?"
"Iya, aku penasaran~"
Shintarou melepaskan tembakannya dan menatap teman-temannya, "memangnya kenapa-nodayo?"
"Jujur saja, aku sedikit khawatir padanya saat mendengar cerita Kagami tadi." Jawab Nijimura serius.
Shintarou menatap Taiga tajam, "bukannya sudah kubilang?!"
"Mereka memaksa, mereka juga tak akan membongkarnya." Kilah Taiga.
"Jawab saja, Midorimama."
"Midorimama janai! (bukan Midorimama!)"
"Lagian, bukan hanya kau yang peduli pada Akashicchi, kami juga-ssu!"
Shintarou menatap teman-temannya sambil menghela nafas, "Oke." Diceritakannya semua yang terjadi, mulai dari bagaimana dia dan adiknya, yang tanpa sengaja, menemukan Seijuurou, mengobatinya, sampai kepada cerita Seijuurou.
"Kasihan Akashicchi…" desah Kise.
"Pantas saja," Nijimura mengangguk, "ayahku kenal kakeknya, bisa dibilang, mereka satu angkatan saat SMA dulu."
"Eh? Serius?"
Nijimura mengangguk, "ya. Aku sendiri yang menanyakannya."
"Apakah ayah senpai tau sesuatu tentang keluarga Akashi?"
"Mungkin."
Midorima mendekati Nijimura, "Senpai, bisakah aku bertemu ayahmu?"
"Shin, jangan, ayah senpai-"
"Boleh saja." Potong Nijimura, "asal tidak lama. Dan hanya kau dan Taiga yang boleh ikut."
Shinya meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, duduk di meja belajar dan mengerjakan PR yang dengan 'baik hati'nya diberikan para guru kepada siswanya itu benar-benar membosankan sekaligus melelahkan, mana materinya yang belum mereka pelajari lagi, rasanya Shinya mau menyerah, sayangnya, guru-guru yang baik itu memberi batas waktu sampai besok, kalau tidak, mereka akan disihir jadi katak. Oh, tentu bukan katak sungguhan, tapi mereka akan dihukum dengan lompat katak 2 putaran di lintasan marathon, hebat, ne?
"aaaargh!" Shinya mengacak rambutnya frustasi.
"Ada apa, Neesan?" Tanya Akashi sembari mendekati meja Shinya.
"Ngga apa-apa kok, PR Sei udah kelar?" Tanya Shinya iseng, mana mungkin, dia kan ada PR fisika, matematika dan sejarah masing-masing satu bab, batinnya.
"Sudah." Jawab Seijuurou sembari menunjukkan Prnya yang sudah dikerjain semua.
"EEEEEH?!" Teriak Shinya. Direbutnya buku Seijuurou dan dilihatnya dengan teliti, "s-serius lo?" tanyanya pelan.
"Ada apa, Neesan?" Tanya Seijuurou sambil menelengkan kepalanya.
"Ng-ngga apa, Sei, mau main ke rumah temanku? Ada anak seusiamu juga disana."
"Eh? Memangnya boleh?"
"Un, kenapa tidak?"
"PR-"
"Jangan buat aku mengingat PR sialan ini." Geram Shinya, "Pokoknya mau atau ngga?"
Seijuurou tersenyum senang, "aku mau." Jawabnya.
Shinya pun meninggalkan PRnya yang terabaikan diatas meja dan menggandeng Seijuurou turun, dan begitu mencapai ruang tamu, mereka menemukan Shiina yang baru saja pulang, "Ara, semangat sekali kalian,"
"Hahaoya~" Panggil Shinya riang, "Aku mau main ke rumah Miwa-nee, Sei boleh ikut ga?" Tanyanya.
Shiina menempelkan punggung tangannya ke dahi Seijuurou, "udah ga demam, boleh saja." Jawabnya.
"Yey!" Seru mereka.
"Oh ya, Sei-chan, ayo ganti pakaianmu dulu. Hahaoya membeli banyak baju untukmu." Shiina menurunkan semua kantung belanjanya.
"T-tak perlu, Obachan, aku bisa meminjam baju lamanya Kazu-nii." Seijuurou berusaha menolak.
"Sei-chan, departemen store tak akan mengembalikan uang." Ucap Shiina dingin, sebelum akhirnya tertawa lepas, "Ini ada jaket untukmu, cuaca diluar dingin, tau."
Seijuurou terpaku melihat jaket yang diberikan Shiina. Warnanya merah seperti rambutnya, hoodienya berwarna hitam, dan ada gambar singa yang imut di punggungnya.
"Ng? Kenapa, Sei-chan? Kau tak suka?" Tanya Shiina.
"T-tidak, ini…" Seijuurou tersenyum kecil, menahan air matanya, "sama persis dengan jaket yang Kaa-san berikan padaku 6 tahun lalu." Ucapnya sambil mengingat hari dimana dia menikmati natal pertamanya.
Shiina tersenyum, "Jaa, bukannya kalian mau pergi? Nanti keburu malam lho."
"Oh iya, Ittekimasu, Hahaoya!"
"Itterashai." Jawab Shiina, hanya perasaanku saja, atau Sei-chan juga memanggilku Hahaoya tadi? Pikirnya sambil tersenyum.
"Halo, kouhainya Shuuzo."
Shintarou menatap miris pria yang terbaring diatas ranjang pasien itu, padahal, saat pertama kali dia bertemu pria itu, dia adalah pria yang kekar dan perkasa, tapi sekarang tinggal kulit balut tulang.
"Papa, mereka mau berbincang sebentar denganmu." Ujar Shuuzo.
"Tentang Hideki, huh?"
"D-darimana paman tau?" Tanya Taiga kaget.
"hanya nebak, hahaha." Canda pria itu, Nijimura Shuuchi.
"Paman, benarkah Akashi-san itu seangkatan paman?" Tanya Shintarou.
"Mungkin kalian tak percaya," Shuuchi menghela nafas panjang, "tapi kami memang seangkatan. Hideki menikah pada usia 18 tahun, tak lama setelah lulus SMA. Pernikahan itu bukan keputusannya, melainkan kedua orangtuanya yang gila harta. Dua tahun kemudian, anaknya lahir. Yang aku tau, Hideki selalu memberikan pelajaran yang banyak dan gila pada anaknya, mengulangi kesalahan yang diperbuat ayahnya. Dia juga menjodohkan anaknya dengan wanita kaya agar hartanya semakin melimpah. Sayangnya, anaknya berontak dan anak itu diusir dari rumahnya."
Mereka semua terdiam.
"Ja, paman kenal anak ini?" Tanya Taiga sambil menyerahkan sebuah foto pada Shuuchi. Shuuchi mengambil foto itu dan tersenyum kecil melihatnya. Di foto itu, seorang anak kecil berusia kira-kira 5 tahun tertawa lebar sementara pria bersurai bluenette dibelakangnya merangkul lehernya dengan senyum kecil di wajahnya. Rambut merahnya tampak berdiri karena tertiup angin, dan manik crimson itu berbinar bahagia. Disamping mereka, seorang wanita berambut pink tertawa sambil membenarkan rambutnya.
"Aku tidak tau siapa anak ini. Tapi, orang yang tidak mengenal Hideki seperti aku mengenalnya pasti keliru mengenali anak ini." Jawab Shuuchi.
"Bagaimana paman bisa membedakan mereka-nodayo?" Tanya Shintarou.
"Pertama, Hideki tak mungkin tertawa selebar ini. Hideki itu anak yang egois, sombong, pendiam, dan kejam, dia tak pernah tersenyum. Kedua," Shuuchi mengeluarkan selembar foto dari sakunya dan menunjukkan foto itu pada mereka, "ini foto yang kuambil pada saat kelulusan kami." Ujarnya sambil menunjukkan fotonya dan Hideki yang membawa ijazah masing-masing. Dan walaupun Shuuchi tersenyum, Hideki tetap tak tersenyum. Shintarou dan Taiga menatap lekat-lekat kedua foto itu, benar kata Shuuchi, siapapun bisa mengira kedua anak bersurai scarlet dari dua foto yang berbeda itu sebagai orang yang sama, kecuali…
"Matanya." Shintarou menggumam.
"Ya. Perbedaan mereka ada di sini," Shuuchi menunjuk matanya, "mata anak di foto itu crimson, sedangkan mata Hideki itu emas." Shuuchi menatap Taiga, "Halo, cucunya Hideki." sapanya.
"Err…paman salah orang, aku bukan cucunya, bisa dibilang, aku ini cucu luarnya." Jawab Taiga.
Shuuchi tampak terkejut, namun mendadak tersenyum sedih, dia menatap Taiga dengan tatapan yang tak bisa dibaca, Shuuchi menggeleng kepalanya dengan sedih, membuat Taiga bingung, "Maaf, nak, tapi kau salah."
"A-apa maksud paman?" Tanya Taiga.
"Maaf nak, tapi-" Shuuchi membisikkan sesuatu ke telinga Taiga, dan Taiga terbelalak mendengarnya.
"Miwa-nee! Miwa-nee!"
Shinya menggembungkan pipinya kesal. Sudah lebih dari 15 menit dia menggedor pintu, namun tak ada jawaban dari dalam.
"Miwa-nee kalau kau ga buka pintunya aku akan menyembelih Kou!"
"TIDAAAK! JANGAN KOOOOU!" ajaibnya, pintu langsung terbuka dan seorang gadis SMP langsung berlari ke kandang anjing di sebelah pintu. Begitu mengintip ke dalam, kandang itu kosong.
"Mana Kou?!" Tanya gadis itu panik. Shinya menunjuk pohon sakura di dekat gerbang, dimana seekor anjing serigala sedang buang air kecil disana.
"Huff." Gadis itu menghela nafas lega, "Shinya, berani kau sentuh Kou, kupastikan kakak keduamu jatuh ke pelukanku."
"Takkan kubiarkan kau menyentuh kakakku."
"Maa maa, jangan ribut disini dong." Seijuurou berusaha melerai keduanya.
"Oy, kalau mau ribut ke lapangan aja sana." Seru seorang anak laki-laki berusia 11 tahun sambil berjalan keluar, "Shinya, siapa dia?"tanyanya sambil menunjuk Seijuurou.
"Oh iya," Shinya menepuk bahu Seijuurou, "ini Akashi Seijuurou, adikku."
"HAH?!"
"Nah, Sei, cewek coklat ini namanya Hanamiya Miwa, dan anak cowok itu namanya Hanamiya Makoto." Ujar Shinya.
"Halo, Sei-chan. Hanamiya Miwa desu." Sapa Miwa riang sambil menjabat tangan Seijuurou.
"Halo anak kecil," Makoto mengacak rambut Seijuurou dengan kasar, "berapa umurmu?"
"sepuluh." Jawab Seijuurou.
"S-sepuluh?!" Tanya Makoto kaget, namun dengan cepat dia bisa menyembunyikan kekagetannya, "Kelas berapa kau? Lima? Enam?"
"Tiga-"
"Tiga SD? Berapa tahun kau tinggal kelas, bocah? Masa sudah sepuluh tahun kau masih kelas tiga-"
"-SMA."
"Oh, SMA." Makoto mengangguk, "HAH?! SMA?!" Teriak kedua Hanamiya itu.
"Haha, kaget ya?" Ledek Shinya.
"Wah, Sei-chan hebat ya. Nah, kau punya teman yang jenius seperti yang kau harapkan kan, Makoto?" Ledek Miwa.
"U-urusai yo, baka!"
"Sei-chan main sama Makoto aja ya, aku dan Shinya mau main boneka di kamarku. Ja." Miwa dan Shinya pun melesat ke kamar Miwa.
"Ck, ayo masuk, bocah." Ajak Makoto, heh, aku akan mengetesnya untuk melihat seberapa pintar dirinya, batinnya.
"Wah, kakkoi!"
Makoto mengangkat sebelah alisnya sambil menatap anak itu heran, "kenapa? Kau belum pernah liat kamar seperti ini?"
Ruangan itu bisa dibilang luas, dengan sebuah ranjang berukuran king size berdiri di pojok ranjang, tak jauh dari ranjang itu ada meja belajar, tiga rak buku besar berdiri berjajar di ujung kamar lainnya, sebuah meja komputer diletakkan di dekat meja belajar, dan di tengah ruangan itu terdapat karpet yang lembut dan beberapa bantal kursi yang nyaman untuk membaca.
"Sugoi ne, Makoto-nii, kamarmu benar-benar hebat." Celetuk Akashi sembari melirik buku-buku di rak, "Makoto-nii suka baca ya?"
"Ya, begitulah." Jawab Makoto sambil menggaruk kepalanya.
"Aku boleh pinjam ini?" Tanya Seijuurou sambil mengambil sebuah buku sejarah.
"Hm? Kau suka sejarah?" Tanya Makoto dibalas dengan anggukan Seijuurou yang langsung menyamankan diri di karpet. Makoto pun ikut mengambil sebuah buku dan duduk di salah satu bantal kesayangannya. Hawa sejuk dari AC membuat mereka semakin nyaman.
"Ngomong-ngomong, kepalamu kenapa?" Tanya Makoto sambil menunjuk kepala Seijuurou yang diperban.
"Eng, aku jatuh dari tangga." Jawab Seijuurou.
"oh."
Keheningan kembali melanda.
"Oh ya, Makoto-nii," Makoto melirik bocah merah yang lagi berbaring di karpet, "kenapa anjingnya dikasih nama 'kou'?"
"Kou? Karena memang itu namanya."
"Ha?"
"Dalam huruf Hanzi," Makoto mengambil pena dan kertas lalu menuliskan aksara '狗' diatasnya, "huruf ini dibaca 'Gǒu' yang berarti anjing. Dan agar terdengar lebih Jepang sedikit, kakakku mengubah huruf g dengan k."
"Sou ka? Makoto-nii jago bahasa Mandarin ya." Puji Seijuurou.
"Biasa saja, mamaku orang sana juga sih." Tanpa sadar, Makoto semakin menyukai perangai Seijuurou yang polos dan sopan.
Keduanya kembali terlarut dalam keheningan, sampai Seijuurou kembali bersuara, "Makoto-nii, ini bacanya apa?" Tanyanya. Makoto langsung menatap selembar kertas yang terselip di buku itu, "oh, itu lirik lagu." Jawabnya.
"Lirik lagu? aku tak pernah mendengar lagu ini sebelumnya."
"Yah, tak banyak yang tau sih."
"Makoto-nii," Seijuurou menyodorkan kertas itu kepada Makoto dan tersenyum, "Maukah kau menyanyikannya untukku?"
"K-kenapa harus aku?" Tanya Makoto.
"Karena hanya Makoto-nii yang mengetahui lagu ini. Dua bait ini saja." Pinta Seijuurou.
Makoto menghela nafas, "oke, aku hanya menyanyikannya sekali, jadi dengar baik-baik."
.
画 一 个 爸爸, 画 一 个 妈妈, (Huà Yi Ge Bàba, Huà Yi Ge Māmā)
画出一 个幸福的家. (Huà Chū Yi Ge Xìng fú de jia.)(1)
.
Hanya dua baris yang ditulis Makoto di kertas itu, namun artinya sangat dalam.
"Kalau itu, artinya apa?" Tanya Seijuurou.
"Huà artinya menggambar, Yi Ge berarti satu, Bàba Māmā berarti ayah ibu, Xìng fú de jia berarti keluarga yang bahagia." Jawab Makoto. "kalau diartikan secara kasar, artinya kira-kira begini; gambar seorang ayah, gambar seorang ibu, targambarlah sebuah keluarga yang bahagia."
"Xìng fú de jia?" Gumam Seijuurou, "Xìng fú de jia itu apa?"
Makoto bingung, dia bahkan tak tau arti sebenarnya dari kata itu, bagaimana dia bisa menjelaskannya pada anak polos ini? "Begini lho, Sei," Makoto menegakkan dirinya, "Xìng fú de jia itu berarti keluarga yang utuh, lengkap, dan tidak kacau. Di dalamnya ada ayah, ibu, dan anak-anak mereka, dan kalau rumah itu tak pernah terdengar keributan, dan semuanya akur, berarti mereka adalah keluarga yang bahagia." Jelasnya sedikit ragu.
"Begitu ya?" Seijuurou kembali membaringkan diri di karpet, ada nada sedih dan rindu pada suaranya.
"Kenapa?" Tanya Makoto sedikit khawatir.
"Tidak apa-apa, hanya saja, aku merindukan Tou-san." Jawab Seijuurou pelan.
Keduanya kembali tenggelam dalam bacaan masing-masing, "Oy, Sei," Makoto berbaring di sebelah Seijuurou, "Apa kau bisa mengerjakan soal ini?" Tanyanya sembari menyerahkan bukunya pada Seijuurou.
"Oh, fisika ya?" Seijuurou langsung menghitung di kertas dan mulai membahas soal itu. Dan kedua anak jenius ini pun bersenang-senang sampai Shinya mengacaukan diskusi mereka.
"Tadaima…"
"Okaeri," Kazuya menoleh ke pintu depan, dimana Shinya dan Seijuurou sedang menyimpan sepatu mereka, "Dari mana saja, Shinya?'
"Kami ke rumah Miwa-nee," jawab Shinya sambil duduk di meja makan, bersama Kazuya, Taiga, Shintarou dan Kazunari yang sudah menunggu.
"Apa saja yang kau lakukan dengan Miwa dan Makoto, Shinya-chan?" Tanya Shiina sambil meletakkan sepanci sup tofu diatas meja, "ada apa, Sei?" Tanya Taiga begitu melihat Seijuurou meneteskan air liur sambil menatap panci.
"Aku main boneka dengan Miwa-nee, Sei main dengan Makoto." Jawab Shinya.
"Oh ya, apa saja yang kalian lakukan, Sei-chan?"
"Makoto-nii mengajariku banyak hal!" Seru Seijuurou sambil merentangkan tangannya, "fisika, matematika, sejarah, kimia, bahkan medis dan psikologi juga!"
"Kau tak pusing dengan semua itu?" Tanya Kazunari sambil meminum kuahnya, "aku aja pusing."
"Kazu-chan, jangan makan sambil ngomong!" Tegur Shiina.
"Makoto-nii keren, dia jago banyak bahasa, kamarnya juga banyak buku, aku pengen punya kamar seperti itu." Seijuurou mulai mengkhayal.
"Baguslah kalau kau senang, nah, bagaimana pertandingan basketmu, Kazu-chan?"
Seijuurou mendengarkan Kazunari yang bercerita dengan hebohnya sambil tersenyum sedikit, rasanya begitu ramai dan menyenangkan, entah berapa lama dia tak pernah merasakannya, tiba-tiba, wajah Tetsuya melintas di kepalanya,
"Kapan ya, aku bisa makan bersama Tou-san lagi?"
"Khh…"
Semua orang di ruangan itu menghela nafas putus asa, sedangkan dua orang dengan rambut hijau dan scarlet yang lagi duduk berdampingan di ranjang sweatdrop melihat ketiga manusia itu.
"Masa udah dijelasin masih ga ngerti sih?!" Tanya Kazuya agak frustasi.
"Aku tak mengerti sama sekali, Oyaji!" seru Kazunari.
"Kakak dan adikmu langsung mengerti sekali kujelaskan,kenapa kau ngga?!"
"Jangan samakan aku dengan mereka-nodayo!"
"Jangan mencuri kalimatku-nodayo!"
"Lagian matrix itu pelajaran paling mengerikan di matematika! Bahkan Shun yang paling jago matematika aja masih bingung kalau mengerjakan ini!"
Seijuurou yang ingin tidur tapi tak bisa karena berisik langsung mendekati meja Kazunari, "soalnya yang mana?" Tanyanya.
"Nih," Kazunari menunjuk soalnya, "Oh, cari dulu determinannya, baru diinverskan."
"Hah?"
"Cari minornya, lalu kofaktor." Seijuurou mengawasi Kazunari yang sedang mencari minor dari matrix 3x3-nya, "bukan ditambah, rumusnya itu 'ad-bc'," koreksi Seijuurou. "Nah, yang ganjil pangkatnya dikalikan min, yang genap dikalikan plus."
"maksudnya?"
(ya, Fei males jelasinnya karena ribet, jadi skip aja, oke?")
"Uwah, arigatou Sei-chan, aku tertolong."
"Doita."
"Aku heran padamu," Kazuya mendekati keduanya, "kakakmu pintar, adikmu pintar, kenapa kau bodoh ya, Kazu? Jangan-jangan dulu kau dan Seijuurou tertukar di rumah sakit ya?"
Jleb.
"Mou, Oyaji, sakitnya tuh disini!" Kazunari mencengkeram dadanya ga jelas.
"Kenyataan kan? Kau kalah sama Seijuurou."
"Sei-chan kan sudah kelas 3 SMA!"
"Tap umurnya baru 10 tahun."
Kazunari langsung mundung di pojok kamar, disemangati oleh tawa seisi kamar.
"Oy, Kazu, apa kau sudah jamuran?" Tanya Taiga.
"Chikuso!" Teriak Kazunari dan langsung melempar bantal ke Taiga.
"Uff!" Taiga menyingkirkan bantal dari mukanya, "ngajak perang nih?"
"Oyo!" Serunya sembali berlari ke tengah kakak dan adiknya, "ayo bertarung!"
"Heh, baik," Taiga menarik Seijuurou ke sampingnya, "Klan hijau-hitam melawan klan Merah!"
"Hey, rambutmu tak sepenuhnya merah!"
"Bodoh amat!" Taiga langsung melempar bantal ke wajah Shintarou, Seijuurou memukul bantal ke punggung Shinya dan dibalas dengan gelitik di pinggang oleh Shinya, Kazunari ikut menyerang Seijuurou namun Taiga segera memukulnya, dan akhirnya dia sendiri yang dikeroyok oleh Shintarou dan Kazunari.
"Tanoshii ne, Sei? (Menyenangkan kan, Sei?)" Tanya Shinya.
"Un!"
Dan pertarungan itu terus berlanjut.
Shiina membuka pintu hijau muda itu dan mengintip ke dalam. Dia terkikik kecil melihat korban-korban peperangan(?) yang terbaring berserakan dimana-mana. Satu-persatu, dipapahnya ke ranjang, namun dia merasa ada yang kurang.
"Kenapa cuma ada empat anak?" Shiina berusaha mengingat-ingat siapa yang tak ada di sana, dan begitu Shiina menebarkan pandangannya, dia menemukan anak yang hilang itu.
Di sudut ruangan, menelungkup ketakutan, anak itu menghadap dinding dengan kedua tangan menutupi telinga, Shiina tersenyum kecil sebelum meninggalkan ruangan itu.
Seijuurou tak tau sudah berapa lama dia meringkuk disana, dia tak tau badai sudah berhenti atau belum, namun dia merasakan seseorang menyentuh punggungnya.
"Sei-chan, kenapa bajumu basah, nak?"
"Kaa-san?" Seijuurou langsung berbalik, namun bukan Satsuki yang berada di belakangnya, melainkan Shiina, "eh, m-maksudku Hahaoya, eh, Obaasan, eh, ano.." Seijuurou jadi gagap sendiri, malu bro.
"Tak apa, Hahaoya juga boleh."
"Ha-Hahaoya?"
Shiina mengusap kepala Seijuurou lembut, "jadi, kenapa bajumu bisa basah?" Tanyanya sambil mengeringkan tubuh Seijuurou di kamar mandi.
"Tadi aku lagi menikmati angin malam, trus tiba-tiba hujan, dan-"
Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, petir menyambar keras dari langit, dan refleks, Seijuurou memeluk Shiina erat. Cukup terkejut, memang, tapi dengan cepat dia menyembunyikan keterkejutannya dan memeluk Seijuurou balik, "Sei-chan takut petir?"
Begitu menyadari apa yang dia lakukan, Seijuurou langsung melepaskan pelukannya dan menunduk malu-malu, "G-gomen, Hahaoya."
"Tak apa." Shiina tersenyum dan membawa Seijuurou ke tempat tidur, "ini, minum dulu." Katanya sambil memberikan segelas susu cokelat pada Seijuurou.
"Arigatou." Ucapnya tulus sembari menyesap sedikit susu cokelat itu.
"Kau mengingatkanku pada Shin-chan."
Seijuurou meletakkan gelas kosongnya di meja terdekat dan membungkus diri dengan selimut hingga ke kepalanya, "Shin-chan? Maksudnya Shinya-nee?"
"Bukan Shinya-chan, tapi Shin-chan."
"Shintarou-nii?"
"Sou."
Seijuurou terdiam sebentar, "Memangnya, Shintarou-nii kenapa?" Tanyanya bingung.
"Dari ketiga anak yang Hahaoya besarkan, empat kalau termasuk Taiga," Shiina duduk di samping Seijuurou dan merangkulnya dengan lembut, "Shintarou-lah yang paling takut kalau ada petir, waktu masih kecil dulu, kalau ada petir, Shintarou bisa nangis sampai guling-guling di kamar mandi."
"Bohong-nodayo, aku tak takut petir-nodayo, yang aku takuti hanya Oha-asa dan dirimu, cintaku~" Igau Shintarou dari ranjang diatas Seijuurou. Mendengar hal itu, Seijuurou tertawa kecil, hey, siapa sangka Shintarou bisa mengigau ala orang galau seperti tadi?
"Yah, mungkin sekarang dia tak akan mau ngaku, tapi memang kenyataannya begitu," Shiina tersenyum, "mungkin, di luar rumah dia adalah orang yang pendiam, dingin dan berlidah tajam, tapi kalau di rumah, dia tak kalah hebohnya dengan Kazunari dan Shinya, walaupun rekor 'anak terheboh di rumah ini' masih dipegang Kazunari sih."
Petir kembali menggelegar, kali ini sangat keras dan memekakkan telinga, hingga teriakan Seijuurou yang sangat keras itu bisa teredam dengan sempurna. Shiina mengelus punggung Seijuurou dengan lembut, membiarkan anak itu memeluknya.
"Sei-chan," Panggilnya lembut, "kenapa kau takut petir?"
"Karena Nyanko-sensei mati tersambar petir di depan mataku lima tahun lalu." Jawab Seijuurou.
"Nyanko-sensei?"
"Kucingku," Seijuurou menunduk sedikit, "waktu itu hujan badai juga, waktu Nyanko-sensei mau masuk rumah, ada petir yang langsung menyambar dia, aku melihatnya sendiri. Walaupun Tou-san dan Kaa-san sudah menghiburku dengan cara apapun, aku tetap trauma pada petir."
Kali ini hanya terdengar geledek, tapi tetap saja Seijuurou merapatkan pelukannya sambil menutup matanya karna takut. "Sei-chan," Shiina menghapus air mata yang mengintip dari celah mata Seijuurou, "Jangan takut lagi, oke? Hahaoya disini, jangan menangis."
Seijuurou mengangguk, dekapan Shiina sangat hangat, namun masih kalah dengan dekapan Satsuki, yang jauh lebih hangat dan menenangkan, tapi itu bukan masalah bagi Seijuurou, karna menurutnya, dekapan keduanya sama-sama hangat.
"Oh iya," Seijuurou menatap Shiina, "Hahaoya, Xìng fú de jia itu apa?"
Shiina sedikit terkejut mendengarnya, "darimana kau mendengarnya, Sei-chan?"
"Makoto-nii menulis dua bait lagu, dan ada empat kata yang tak aku mengerti, dan inilah keempatnya."
Membingungkan, memang, Shiina pun bingung untuk menjelaskannya, "Belum waktunya untuk kau tau, tapi Hahaoya janji, ketika saat itu tiba, Hahaoya akan memberitahu Sei-chan apa artinya, oke?"
Seijuurou mengangguk.
"Kalau begitu, tidurlah, Hahaoya akan menemanimu." Shiina merebahkan Seijuurou ke tempat tidur dan bernyanyi lembut untuk menidurkan Seijuurou, yang walaupun badai belum berhenti dan petir masih menyambar, bisa tidur nyenyak tanpa merasa takut lagi.
TBC
.
.
.
.
.
Omake
Setelah memastikan Seijuurou tidur nyenyak, Shiina memanjat tangga ranjang, dan tersenyum kepada anak yang tidur disana, "Kau marah, Shin-chan?"
Shintarou menatap Shiina kesal, "Hahaoya, aib orang jangan dibuka sembarangan dong-nodayo."
"Tapi Hahaoya tak menyangka kau bisa berakting seperti tadi," Shiina memeluk Shintarou lembut, yang dibalas Shintarou dengan senang hati, "gomenne."
"Jangan dibongkar lagi," desah Shintarou, dia tau dia takkan menang melawan Shiina, "Oyasumi, Hahaoya."
Preview
"Sei hilang!"
"Tadaima, Tou-san."
"Kemana saja kau, anak sialan?"
"Tanganmu kenapa, Sei?"
"Tasukete…Tou-san…"
(1)Lagu 幸福的画 (Xìng fú de Huà) by Dai Wen Qi.
Fic ini dipersembahkan untuk memperingati ulang tahun tokoh utama kita, Otanome, Kuroko Tetsuya ^^ sorry telat.
Ada yang bisa bayangin suara Shintarou pas ngigau tadi? Kalau ngga, Fei bantu dikit. Dengerin aja suara Handa Seishuu di episode 11 Barakamon ketika mencoba menulis ulang bintang :v dan nama kucingnya Sei saya pinjam dari nama kucing seiyuu-nya :v
Nah, sekarang, ada kuis mini. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan Sei-chan? Ayo balas pertanyaan ini di review:
"Apa itu keluarga yang bahagia?"
1 reader yang jawabannya paling bagus akan diberikan satu special chapter (kelahiran Seijuurou) yang ga akan Fei publish di sini. Jawab sesuai pendapat kalian di kolom review. Bagi reader yang tidak login silahkan cantumkan email anda.
Balesan review yang ga login:
Black. azlan: makasih ^^
Fifurere: sama, saya juga penasaran LOL.
Raralulu: ini udah apdet ^^
Terima kasih untuk Renka Sukina, 100percentcocoa, ShizukiArista, Black. azlan, Yuna Seijuurou, SkipperChen, samehime345, Kojima Miharu, fifurere, laler, ffureiya, Kurotori Rei,, Akaba Shinra, raralulu, dan Sagitarius Red.
Ja, RnR please…
