"GA ADA!"
Derap langkah kaki yang panik mengawali pagi yang cerah di kediaman Midorima, tak hanya satu, melainkan empat sekaligus, dan keributan itu berhasil membangunkan Kazuya dan Shiina dari tidur mereka.
"Ada apa sih? Tak bisakah kalian membiarkan Hahaoya tidur sebentar lagi?" Tanya Shiina sambil menguap.
"Hahaoya, Sei-"
"Apa lagi sih?" Tanya Kazuya kesal, "ada apa dengan kalian?"
"Oyaji, Sei…hah…hah…hah…Sei…"
"Sei-chan? Ada apa dengannya?" Tanya Shiina sedikit cemas.
"S-Sei hilang!" Seru Shinya.
"H-hilang?!"
"Ya, kami menemukan ini di ranjangnya." Ucap Taiga sembari menyerahkan sebuah amplop pada Shiina yang langsung dibuka olehnya,
Untuk Ojichan dan Hahaoya,
Maaf aku pergi tak bilang-bilang, aku seperti jelangkung ya, datang tak dijemput pulang tak diantar, hahaha. Sebenarnya aku tak mau pergi, tapi ada beberapa hal yang tak bisa kusangkal,
Pertama, kalian semua terlalu baik, terutama padaku, padahal aku bukan siapa-siapa, tapi kalian memperlakukanku layaknya bagian keluarga ini. Kehangatan yang kalian berikan memang belum sebanding dengan kehangatan yang selalu Tou-san dan Kaa-san berikan, tapi kehangatan itu selalu membuatku senang.
Kedua, seberapa keraspun usahaku untuk tidak memikirkannya, aku tetap selalu mengkhawatirkan Tou-san. Aku tak bisa tinggal diam disini sementara aku tak tau kabar Tou-san, jadi aku akan pulang ke rumah. Kalian tak perlu khawatir, aku akan baik-baik saja.
Ojichan, terima kasih karena telah menyelamatkanku dan menjaga rahasiaku, aku percaya Ojichan tak akan membongkarnya. Hahaoya, terima kasih untuk pelukan yang menenangkan saat badai semalam, Shin-nii, Kazu-nii, Shinya-nee, terima kasih karena kalian mau menemaniku selama aku disini.
Hahaoya, baju-baju yang kauberikan masih kusimpan di lemari, bukannya aku menolak tapi aku merasa tak layak menerimanya.
Walaupun singkat, aku senang karna aku bisa mengenal kalian semua.
Salam,
Seijuurou.
Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.
Rate: T+
Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.
Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?).
Selamat membaca ^^
Bocah bersurai scarlet itu berdiri di depan pintu kayu itu. Tangannya terangkat ragu hendak mengetuk pintu. Sambil memantapkan hatinya, Seijuurou mengetuk pintu.
Sejujurnya, dia tak tau apa yang akan dia alami ketika melangkah masuk nanti, apakah dia akan dipukul lagi? Dia tak yakin.
Tak perlu menunggu lama, pintu itu terbuka, Tetsuya yang berdiri di depan pintu cukup terkejut melihat kedatangan Seijuurou.
"Tadaima, Tou-san." Ucap Seijuurou.
Tetsuya terpaku sesaat, namun segera sadar dan menepi, "cepatlah masuk!"
Seijuurou menurut, dia masuk secepat mungkin, dan segalanya terjadi begitu cepat, bahkan Seijuurou tak sempat berkedip.
Tetsuya mencekik lehernya dengan satu tangan dan menghantamkan tubuhnya ke dinding. Kakinya yang melayang menendang udara dengan lemah sementara tangannya berusaha menarik lepas tangan Tetsuya.
"Dari mana saja kau? Aku memang menyuruhmu pergi, tapi tidak untuk berhari-hari, tau?! Gara-gara kau, Aomine-kun membenciku!"
"G-gomen Tou-san, a-aku juga tak tau b-bagaimana aku bisa d-dibawa kesana, s-seingatku aku ti-tidur di halaman depan, b-begitu bangun sudah di r-rumah Shin-nii." Seijuurou menjawab dengan susah payah. Entah seberapa kuat Tetsuya mencekiknya, hingga darah mengalir keluar dari mulutnya, mengalir hingga mengotori tangan Tetsuya.
Kedua mata Tetsuya yang tadinya menatap tajam perlahan berubah menjadi ketakutan. Tetsuya melepaskan cengkeramannya dan menatap tangan yang berlumuran darah putranya seolah-olah tangan itu telah menyentuh sesuatu yang haram, dan dia berlari ke kamarnya. Seijuurou terbatuk-batuk sebentar dan mengelap darahnya sambil menatap pintu kamar Tetsuya yang baru saja dibanting.
Seijuurou melihatnya. Ya, dia melihat ketakutan dimata Tetsuya. Bohong kalau Seijuurou bilang dia tidak khawatir, dia sangat khawatir, belum pernah Tetsuya bertingkah seperti ini sebelumnya. Perlahan, Seijuurou merangkak ke depan pintu kamar Tetsuya dan memutar gagang pintu, terkunci. "Tou-san, kau baik-baik saja?"
Tak ada jawaban dari dalam, Seijuurou berusaha untuk berpikir positif, "mungkin Tou-san sudah tidur karna kelelahan, sepertinya semalam dia 'bermain' lagi."
Pintu rumahnya diketuk. Seijuurou yang lagi baca buku pun bergegas membukakan pintu, "Taiga-nii?!"
Taiga menghela nafas lega, "Sei, yokatta," ucapnya, "kau tak apa kan? Apa kau..." Taiga memelankan suaranya, "...dipukul?"
Seijuurou menggeleng, "ngga kok, tapi Tou-san mengurung diri di kamarnya, aku jadi khawatir."
"Syukurlah," Taiga mengelus kepala Seijuurou, "oh ya, Hahaoya memberikan ini padamu," Taiga menyerahkan sebungkus champon pada Seijuurou, "harus habis, kalau tidak Hahaoya akan menggantung kepalamu di depan gerbang kota. Aku hanya bercanda! Kau kira ini zaman dinasty Ming?" Seru Taiga sedikit panik melihat Seijuurou memegang lehernya ketakutan.
"Ga lucu tau." Seijuurou menggembungkan pipinya.
"Tunggu sebentar," Taiga menarik tangan Seijuurou yang sedang memegang lehernya dan menatap lebam keunguan yang berbantuk tangan di leher Seijuurou, "Ini kenapa?"
"T-tak apa-apa kok, mungkin perasaan Taiga-nii aja, lagian Taiga-nii mikir ini apa?" Tanya Seijuurou balik.
"Bekas tamparan istrimu?"
Seijuurou sweatdrop, "Taiga-nii keseringan nonton anime dari negara di Asia Tenggara ya?"
"Mana ada anime di sana? Kalaupun ada anime, paling import dari kita kan?"
"Ada kok, itu anime 'Ad*t dan S*po J*rwo' sama Up*n Ip*n."
"Itu mah animasi, lagian Up*n Ip*n kan dari negara tetangganya," Taiga tertawa, "Ya sudahlah, aku pulang dulu. Oh ya, senin libur. Jaga diri ya, Sei, bye."
Seijuurou melambai kepada Taiga sebelum menutup pintu. Dia langsung berlari ke kaca dan mengelus bekas tangan yang melingkar di lehernya, "Gimana caranya menyembunyikan ini ya?"
~kamar Tetsuya~
Tetsuya duduk di lantai, kedua tangannya di kepala, meremas-remas rambutnya. Dia tampak seperti orang gila, atau mungkin dia memang gila.
"Apa yang aku lakukan? Apa yang aku lakukan?" Gumamnya berkali-kali, "kenapa," Tetsuya menatap kedua tangannya yang gemetar, "kenapa kalian tak bisa berhenti memukul? Kenapa?"
"Apa yang telah kau lakukan, Tetsuya?"
Tetsuya terbelalak, bola matanya melirik kesana kemari dengan ketakutan.
"Lihat dirimu, seperti orang gila saja!"
"Teganya kau menyiksa darah dagingmu yang tak berdosa."
"Diam!" Teriak Tetsuya, "DIAM!"
"Mati sana!"
"Kau lebih buruk dari sampah!"
"DIAM!" Tetsuya menutup kedua telinganya.
"Apa yang kau lakukan, Tetsuya?"
Tetsuya membuka kedua matanya dan menatap kedepan, dia melihat dirinya sendiri, tersenyum psycho, dengan wajah dan tangan kanan berlumuran darah dan tongkat baseball di tangan kiri.
"Bukannya ini menyenangkan, Tetsuya?" Tanya sosok itu sambil menjilat jarinya, "memukuli Seijuurou-kun, oh, jeritannya benar-benar merdu, bagaikan simfoni neraka." Dia menyeringai, "Air mata yang membasahi wajahnya, bukankah itu semua indah?"
"TIDAK! TIDAK! PERGI KALIAN!"
"Apa yang telah kau lakukan, Tetsuya?"
Tetsuya membuka matanya sekali lagi, dan kali ini, dirinya yang ia lihat tampak ketakutan, sedih, kacau, dan kecewa. Seijuurou ada dalam gendongannya, terkulai lemas, dengan darah memenuhi tubuhnya.
"Apa yang telah kau lakukan?! Kau membunuh anakmu!"
"Tou-san, Tou-san, daijobu ka?!"
Seijuurou mengguncang-guncang bahu Tetsuya. Sudah satu jam lebih Tetsuya berteriak seperti orang gila, dan sudah berbagai cara dia pakai untuk membangunkan Tetsuya, namun hasilnya nihil.
Tetsuya menatap sosok di hadapannya, berganti-ganti, wajah si psycho yang tersenyum mengejek, dan wajah yang penuh perasaan yang campur aduk itu, namun apapun yang dilihatnya, suara yang sama selalu terdengar, "Apa yang telah kaulakukan, Tetsuya?!"
"Tou-san!"
"AAAARGH!" Tetsuya tiba-tiba menjerit, Seijuurou terjengkang ke belakang saking kagetnya, Tetsuya mengambil balok kayu yang entah sejak kapan ada di ruangan itu, balok itu juga yang dia gunakan untuk memukul Seijuurou, "Pergi! Pergi! Aku tidak membunuhnya! Aku tidak membunuh Seijuurou-kun!"
Seijuurou meringis kesakitan saat balok itu berkali-kali menghantam lengan kirinya, "Tou-san, ini aku, Seijuurou! Kau tidak membunuhku!"
Seketika Tetsuya tersadar, matanya mengerjap beberapa kali sebelum menyadari siapa yang tertunduk di hadapannya. Seijuurou menatapnya khawatir sambil menahan sakit, darah mengalir di lengannya. Kepala Tetsuya seakan berputar lagi, sosok Seijuurou dihadapannya berganti menjadi Seijuurou yang berlumuran darah, tangannya yang gemetar menjatuhkan balok itu, dan secepat kilat mendorong Seijuurou keluar dari kamarnya.
Seijuurou memandang pintu itu dengan khawatir, perlahan, diketuknya pintu kamar itu dan dia duduk di depan pintu, "Tou-san," panggilnya sembari menempelkan telinga di pintu, "Tou-san, apa kau baik-baik saja? Kau bisa mendengarku?"
Tetsuya ada di balik pintu itu, meringkuk ketakutan seperti anak kecil. Kedua tangannya menutup telinga, tentu saja dia bisa mendengar Seijuurou, tapi dia tak bisa mendengarnya dengan jelas, tepatnya, tak mau. Perasaan bersalah melingkupi dirinya. Tetsuya bahkan tidak mengerti kenapa ia tiba-tiba ketakutan, padahal biasanya dia tak merasa apa-apa.
Apa nuraninya sudah mulai bergerak?
Apa Tetsuya sudah menyadari kesalahannya?
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Ngga kok! Bercanda! Masih lanjut kok masih lanjut!
Seijuurou berjengit ketika jemarinya menyentuh lengan kiri atasnya yang memar. Tampak warna kebiruan menghiasi lengannya, oh, bahkan dia tak bisa merasakan lengannya lagi. Seijuurou mencoba menggerakkan tangannya dan hampir berteriak kesakitan. Sambil menghela nafas, Seijuurou membebat lengannya dengan perban, berjalan menuju tempat tidur dan segera tertidur.
Sekitar tengah malam, pintu kamar itu terbuka tanpa suara, sesosok pria berambut biru muda berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Didekatinya ranjang kecil tempat anak laki-laki bersurai scarlet tertidur. Tetsuya menatap Seijuurou yang tampak damai dalam tidurnya. Tetsuya duduk di tepi tempat tidur, mengelus pipi Seijuurou.
"Sudah berapa lama waktu berlalu ya?" Gumamnya, "Dulu, kau hanya seorang anak kecil yang polos, yang berlarian mengitari rumah ini sambil memanggil-manggil kami. Setiap hari, suaramu memanggil 'Otou, Okaa' selalu bergema di setiap dinding rumah ini. Berapa lama waktu telah berlalu? Aku bahkan tak menyadarinya."
Seijuurou terbangun begitu merasakan sesuatu membasahi pipinya, matanya terbuka sedikit, "Nggh… dare(siapa)?" gumamnya tak jelas.
"Sekarang kau sudah mulai beranjak dewasa, kau tumbuh melampaui ekspektasi kami, kau menjadi siswa termuda di sekolahmu, sayangnya, sebelum Kaa-sanmu sempat melihatmu sebagai anak SMA lebih lama, Kakekmu membunuhnya."
Seijuurou terbelalak mendengar suara itu, tak mungkin…
"Sejak saat itu, Tou-san tak bisa memaafkannya, Tou-san selalu ingin menghajar kakekmu, sayangnya, Tou-san adalah orang yang lemah, pengecut, juga gila. Tou-san malah melampiaskannya padamu."
"Ngga, Tou-san kuat, Sei yakin." Seijuurou pura-pura mengigau, berusaha menahan air matanya. Tetsuya terisak semakin keras.
"Seijuurou-kun, maafkan Tou-san…"
Seijuurou merasakan tubuhnya terangkat dan dibawa dalam pelukan hangat, dia sangat senang, benar-benar senang, sampai rasanya ingin menangis saat ini juga. Namun dia memutuskan untuk tetap pura-pura tidur, dia takut ini hanya mimpi, dan kalau benar ini hanya mimpi, Seijuurou ingin merasakan kehangatan dan aroma vanilla ini lebih lama lagi.
"Maafkan Tou-san, Seijuurou-kun, Tou-san juga tak tau apa yang terjadi pada diri Tou-san, maafkan Tou-san." Tetsuya berbisik ke telinga Seijuurou, "jangan pernah tinggalkan Tou-san, Seijuurou-kun, jangan tinggalkan Tou-san seperti Kaa-san meninggalkan Tou-san."
Tetsuya merebahkan Seijuurou dan berbaring disampingnya, tetap mendekap tubuh mungil itu dengan erat, mulutnya terus menggumamkan kata-kata maaf. Seijuurou tak tau harus bagaimana, dia terlalu senang, terlalu bahagia, yang bisa dia lakukan hanya merapatkan diri ke dalam pelukan Tetsuya, begitu polos dan netral, bahkan Tetsuya tak tau kalau Seijuurou sudah terjaga. Tetsuya mengelus kepala Seijuurou lembut dan tangan kirinya memeluk punggung Seijuurou.
Tak sengaja matanya menangkap sesuatu berwarna putih dibawah lengan kaos yang dikenakan Seijuurou, diangkatnya lengan kaos Seijuurou, dan matanya terbelalak melihat perban yang merah karena darah itu. Tiba-tiba saja, Tetsuya melepaskan pelukannya dan menatap horror Seijuurou.
"Tidak…aku tak bermaksud…"
Punggungnya menabrak pintu, dan Tetsuya berlari secepat kilat keluar dari kamar Seijuurou.
Seijuurou bangun dan menatap lengannya, "Tou-san, aku tak menyalahkanmu untuk luka ini, kenapa kau lari? Aku sangat senang lho barusan, kenapa?" Tanyanya lirih.
Paginya, Seijuurou bangun dan mandi, setelah itu memakai jaket dan mengetuk pintu kamar Tetsuya, "Tou-san, aku pergi sebentar ya,"
Tak ada jawaban. Seijuurou kembali menunduk dan berjalan menembus angin pagi yang menusuk. Sambil merapatkan jaketnya, Seijuurou berjalan menuju biara tempat Fujiro tinggal. Begitu tiba di biara yang tak jauh dari rumahnya, Seijuurou mengetuk pintu.
Fujiro terkejut melihat Seijuurou berdiri di depan pintu biara, "Seijuurou, ada apa?" Tanyanya sambil mengelus lengan Seijuurou, "Itte," gumam Seijuurou pelan.
"Doushta?" tanya Fujiro sedikit khawatir, diangkatnya pelan lengan Seijuurou, "Tanganmu terluka?"
Seijuurou mengangguk.
"Ayahmu lagi?"
Lagi-lagi mengangguk. Fujiro menghela nafas, "Ayo masuk dulu. Ada keperluan apa?"
"Tak usah, Fujiro-jiichan," Seijuurou nyengir, "Aku hanya ingin minta sisa makanan, aku belum mendapatkan uang untuk membeli sayur."
Fujiro hanya bisa tersenyum miris sambil menggandeng Seijuurou masuk, dia sudah tau keadaan Seijuurou. Fujiro kagum dengan keteguhan iman Seijuurou, bahkan dengan tubuh penuh luka, anak ini masih bisa tersenyum. Bahkan setelah dihajar ayahnya, dia masih tetap mengampuni dan memikirkan orang yang menghajarnya.
"Tak banyak sisa makanan semalam," Fujiro menyerahkan sebungkus ramen pada Seijuurou, "sebenarnya ini jatahku, tapi tak apalah, untuk kalian."
"E-etto, yang sisa aja, Fujiro-jiichan, ini kan milikmu," Seijuurou mendorong bungkusan itu, "sayur dari tempat sampah juga tak apa,"
"Kalian lebih membutuhkannya daripada diriku," Fujiro tersenyum lembut, "aku bisa membeli yang baru di kedai depan, ambillah," Ucapnya tulus sambil menyerahkan bungkusan ramen itu pada Seijuurou.
"Arigatou, Fujiro-jiichan, maaf telah merepotkanmu." Jawab Seijuurou pelan.
"Sebelum itu, Seijuurou, boleh kulihat tanganmu dulu?"
Seijuurou berpikir sejenak, "baiklah, tidak lama kan?" Tanyanya sembari melepaskan jaket dan menyingkap lengan kaosnya, menunjukkan perban yang berdarah-darah.
"Ya ampun, biar kubersihkan lukamu." Fujiro mengambil sebaskom air hangat dan sehelai handuk, lalu membersihkan lengan Seijuurou.
"Jiichan, apa tanganku patah?" Tanya Seijuurou sedikit takut.
"Tidak, hanya memar." Jawab Fujiro, "Tapi aku tidak yakin. Kau tak mau memeriksakan diri ke dokter?" Tanyanya.
"Tak perlu, toh sebentar lagi akan sembuh, seperti biasa." Jawab Seijuurou tenang.
"Tapi aku benar-benar menyarankanmu menemui dokter, atau minimal, kakak kelasmu itu."
"Maksudnya Shin-nii?"
"Ya."
Seijuurou mengelus lembut lengannya yang sudah selesai diobati, "baiklah, aku akan menemuinya saat masuk nanti. Arigatou, Fujiro-jiichan, aku pulang dulu." Ucapnya riang, "Jaa nee~"
"Hati-hati di jalan."
"Tou-san…"
Tetsuya meringkuk di tempat tidurnya, mengabaikan Seijuurou yang mengetuk pintu kamarnya sejak setengah jam yang lalu.
"Tou-san, ini ada ramen dari Fujiro-jiichan untukmu, makanlah dahulu, nanti kau sakit."
"Biar saja, biar saja aku sakit sampai mati, aku tak layak menemuinya." Batin Tetsuya.
"Tou-san, ramennya kutinggal di depan pintu, makanlah sebelum dingin."
Tetsuya mendengar suara langkah kaki menjauh, dan dia yakn Seijuurou sudah pergi. Tetsuya mencengkeram rambutnya dan membenamkan wajah ke bantal, ingin rasanya dia mengerang dan berteriak, namun dia tak mau menarik perhatian, sehingga yang bisa dilakukannya hanya menangis dalam diam.
Seijuurou hanya bisa menatap pintu kayu itu dengan khawatir. Pasalnya, sejak minggu pagi, tepatnya 2 hari yang lalu , Tetsuya sama sekali tidak keluar dari kamar itu. Bahkan ramen yang Seijuurou berikan kemarin pagi masih utuh, bersama dengan takoyaki dan okonomiyaki yang seharusnya menjadi makan siang dan makan malam Tetsuya.
Seijuurou kembali mencoba, "Tou-san, apa kau sudah bangun?"
Tak ada jawaban.
"Tou-san, tolong, jangan buat aku khawatir."
Terdengar gumaman tak jelas dari dalam kamar. Seijuurou sedikit lega mendengarnya. Diambilnya blazer yang tersampir di kursi ruang makan dan dikenakan diatas kemeja berwarna biru muda itu, "Tou-san, aku sekolah dulu, aku mohon makanlah sedikit, oke?"
Lagi-lagi hanya gumaman, Seijuurou memakai mantelnya dan berjalan keluar rumah, "Ittekimasu, Tou-san."
Shintarou menautkan kedua alisnya heran.
Tidak, bukan karena Taiga tiba-tiba dapat nilai 50 pada bahasa Jepang, bukan juga karena Murasakibara mendadak diet, apalagi Kise mendadak menjadi pendiam, yah, walaupun ketiga hal itu memang mengejutkan sih, tapi bukan itu alasannya.
Masalahnya ada pada Seijuurou.
Mata seorang (calon) dokter memang tak bisa dikibuli, Shintarou tau ada sesuatu yang salah dengan lengan kiri Seijuurou. Seharian ini, tak sekalipun Shintarou melihatnya menggerakkan tangan kirinya, tangan itu terkulai begitu saja, seakan tak ada tulang di dalamnya. Entah sudah berapa kali Shintarou melihat Seijuurou menggerakkan lengan kirinya sambil mengernyit. Berkali-kali Shintarou mencoba untuk bertanya pada Seijuurou, sialnya, guru-guru kampret itu sudah mendahuluinya dan memulai pelajaran tanpa memberinya waktu bertanya.
(Siapa suruh nanyanya pas jam pelajaran berganti?)
Dalam latihan basket hari ini, keanehan Seijuurou semakin kentara.
Entah kesambit angin apa, si pelatih sinting menyuruh mereka melakukan three on three, dengan Seijuurou dan Nijimura di timnya, Shintarou akan menghadapi Murasakibara, Kise dan Taiga dalam waktu 2x10 menit.
"Yang kalah latihannya 10x lipat." Ini dia bagian horornya.
Shintarou melihatnya, dan dia yakin baik Taiga, Nijimura, Kise, bahkan Murasakibara yang paling cuek melihatnya.
Seijuurou bukanlah orang yang suka bermain dengan satu tangan. Apapun yang dilakukannya, kedua tangannya pasti selalu bekerja. Namun kali ini, Seijuurou bermain hanya dengan satu tangan. Jujur saja, Shintarou kagum dengan kecepatan dan kelincahan kouhainya yang hampir setara dengan dua tangannya, Shintarou yakin hanya dengan satu tangan Seijuurou juga pasti menang. Tapi tangan kirinya itu, sama sekali tak bergerak, hanya berayun lemas ke depan dan belakang, seperti hampir terlepas dari tubuhnya. Walaupun mampu, anak itu tetap nampak kesulitan. Murasakibara pun tak tega bermain serius menghadapi Seijuurou, persetan dengan kalah, keadaan adik kecil mereka lebih penting, iya kan?
Pertandingan berakhir seri, setidaknya kedua tim selamat dari ancaman latihan neraka sang pelatih. Dan tanpa aba-aba, kelima pemain reguler itu mendekati Seijuurou, yang anehnya, melamun sambil minum air padahal botolnya sudah kosong.
"Oy Sei." Panggil Taiga tiba-tiba, Seijuurou yang terkejut lagsung menyemburkan minumannya yang belum ditelan ke wajah Taiga. "A-ah, maaf, Taiga-nii."
"Jawab yang jujur, ada apa dengan tangan kirimu?" Tanya Taiga dengan aura pekat di punggungnya.
"E-eh? Apa maksudnya? Ngga apa-apa kok!" Jawab Seijuurou gugup.
"MURASAKIBARA!" Raung Taiga.
Murasakibara berjalan dengan ogah-ogahan ke belakang Seijuurou, dengan mulut yang menggigit maiubo, dia menggumamkan "maaf," dengan pelan dan memeluk tubuh Seijuurou hingga anak itu tak bisa bergerak, Kise sendiri menahan kaki Seijuurou yang niat menendang mereka. Pelatih mereka hanya bsa sweatdrop melihat kelakuan anak didiknya itu.
"Apa aku salah mengajar mereka? Kenapa mereka jadi pedo semua?" Batinnya dalam hati.
"Apa-apaan ini?! Atsushi-nii, lepaskan aku!" Perintah Seijuurou.
"Gomen~, tapi ini untuk kebaikanmu, Sei-chin." Jawab Murasakibara setengah malas setengah serius.
Shintarou mendekati Seijuurou dan mengangkat lengan kirinya yang tidak dipeluk, menekan-nekan lengan itu sampai di suatu titik dimana Seijuurou mengerang kesakitan. Dan tanpa banyak basa-basi, Shitarou menyibak lengan kaos Seijuurou, "Kenapa ini?" Tanyanya sambil menekan perban yang melilit tangannya.
"Ittai!" Seijuurou meringis, "Shin-nii mou yamete (berhenti)~" Pintanya.
"Murasakibara," Sintarou mengangguk dan berjalan mendekati pelatih, mereka tampak mendiskusikan sesuatu sebelum akhirnya Shintarou mengedikkan kepala, memberi tanda untuk mengikutinya.
Seijuurou merasa tubuhnya terangkat, Murasakibara menggendongnya dan dengan lembut menyandarkan kepala Seijuurou ke bahunya yang lebar, "Atsushi-nii kita mau kemana?" Tanyanya penasaran.
"Suatu tempat, Sei-chin." Jawab Murasakibara sambil makan pocky.
Di salah satu ranjang UKS, Seijuurou diturunkan oleh Murasakibara. Shintarou duduk di sebelahnya dan melepaskan perban yang melilit tangan Seijuurou.
Kise menahan nafas melihat lebam biru yang mulai menghitam di tangan Seijuurou. Nijimura berdecak sedikit kesal dan duduk di sebelah Seijuurou, "Kapan?" Tanyanya.
"A-apa?" Tanya Seijuurou.
"Kapan?" Nijimura menunjuk luka lebamnya.
"D-dua hari yang lalu. Tou-san memukulku karena ketakutan. Sepertinya dia tak sadar wak-ITTAI!" Jeritnya ketika Shintarou menggosok lengannya. Seijuurou mendorong tangan Shintarou dari lengannya, namun Shintarou keburu menghentikannya,
"Tahan sedikit," Ucapnya sambil mengelus kepala Seijuurou, "Kalau memang ngga tahan, gigit bantal aja."
"Shin-nii, ittai, yamete yo~ (Shin-nii, sakit, tolong berhenti~)" Pinta Seijuurou, air mata membasahi wajahnya.
"Lagian siapa bilang ga sakit? Midorimacchi gitu lho." Tambah Kise sambil merinding.
"Lho? Ryouta-nii pernah digosok sama Shin-niiAAW?!" Tanya Seijuurou sambil menjerit.
"Ya iya lah," Kise duduk di depan Seijuurou, "Waktu kelas 2 SMP, aku pernah jatuh dari tangga. Midorimacchi yang melihatnya langsung membawaku ke UKS dan mengurut pergelangan kakiku-ssu. Sakit banget."
"Kise berisik sekali saat itu," Tambah Shintarou, "Untung aku membawa lucky item hari itu, sebuah headphone. Kalau tidak, pasti gendang telingaku sudah pecah."
"HIDOI-SSU YO, MIDORIMACCHI! SAKIT BANGET TAU! KAU KIRA AKU BISA TAHAN?!" Damprat Kise.
"Seijuurou lebih sakit, tapi dia bisa tahan tuh." Ucap Shintarou sambil menunjuk Seijuurou yang menggigit bantal dengan muka merah yang basah karena air mata. Taiga menepuk-nepuk punggungnya untuk menyemangati Seijuurou.
"E-etto, Akashicchi, ngga sakit?" Tanya Kise.
Seijuurou melepaskan giginya dari bantal, "SAKIT LAH, BAKA ONIICHAN! AKU JUGA GA TAHAN, TAU?! TAPI KAN GA MUNGKIN AKU TERIAK-TERIAK 'ITTAI!' DISINI KAN?! YANG LAIN PASTI TERGANGGU KAN?! JANGAN SAMAKAN AKU DENGANMU YANG BERISIK, RYOUTA-NII!" Jerit Seijuurou di depan wajah Kise. Kise pun pundung di pojok ruangan sambil mengais-ngais tanah, dan ujung-ujungnya lari ketakutan karena ada cacing tanah keluar dari dalam tanah itu.
(sebenarnya lantainya terbuat dari apa sih?)
Taiga menatap Seijuurou, wajahnya tidak semerah tadi, bekas air mata tampak jelas di wajahnya, anak itu melamun, setengah wajahnya terbenam di bantal yang dipeluknya, dan selama 30 menit terakhir, dia tak bereaksi sama sekali, "Ada apa, Sei?"
Seijuurou tersentak, "A-apa, Taiga-nii?" Tanyanya.
"Kenapa kau melamun?" Tanyanya sedikit cemas.
Seijuurou menunduk, "Tou-san…"
Kise terdiam, Nijimura berhenti main PSP, Murasakibara berhenti makan, bahkan Shintarou berhenti dari kegiatannya, "A-apa? Kau bilang apa?" Tanya Nijimura.
"Tou-san…"
"Mattaku Seicchi, kenapa kau masih mempedulikan dia? Orang seperti itu tak pantas dikasihani, tau." Ucap Kise agak marah tapi segera menciut begitu melihat kilatan marah di mata Seijuurou.
"Gomen," Seijuurou kembali menunduk, "aku mengkhawatirkan Tou-san. Bohong besar kalau aku bilang aku tak peduli padanya." Jawabnya.
"Memangnya ada apa dengan ayahmu?" Tanya Shintarou.
"Sudah dua hari ini Tou-san mengurung diri di kamar, tak mau makan ataupun minum, makanan yang aku letakkan di depan pintu kamarnya diabaikan begitu saja, aku takut Tou-san sakit," Seijuurou membenamkan wajahnya ke bantal, "aku hanya ingin dia keluar dari kamar itu, setidaknya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja."
Nijimura mengelus kepala Seijuurou, "jangan terlalu dipikirkan, kawan. Aku yakin dia baik-baik saja."
Seijuurou mencengkeram dadanya, "Sei, kau tak apa? Kau tak punya penyakit jantung kan?" Tanya Taiga panik.
"A-aku merasa ada yang tak beres," gumam Seijuurou, kedua manik rubinya menatap Taiga, "Aku takut Tou-san dalam bahaya, Taiga-nii, aku takut!"
"Maa maa," Taiga mendekap Seijuurou dan mengelus kepalanya, "dia akan baik-baik saja, tenanglah."
"sudah," Shintarou kembali membebat lengan Seijuurou, "coba kau gerakkan."
Seijuurou menggerakkan tangan kirinya, "ngga sakit lagi! Arigatou Shin-nii!" Serunya.
"Yosh, ayo pulang." Taiga bangkit dari tempat duduknya.
"Senpai, mau pulang bareng ga?" Tanya Taiga.
"Maaf, tidak, aku harus ke rumah sakit." Jawab Nijimura sembari berjalan keluar dari sana.
"Oh, titip salam untuk Shuuchi-ojisan."
Nijimura mengangguk.
"Ah, aku lupa! Aku ada pemotretan! Udah terlambat nih, aku duluan ya." Kise langsung kebut keluar ruangan.
"Aku mau beli maiubo, duluan ya." Murasakibara pun pergi.
"Sei, ayo pulang." Ajak Taiga.
"Un." Seijuurou mengangguk pelan dan turun dari ranjang, menyusul Taiga dan Shintarou yang sudah menunggu di depan pintu.
"Kau yakin hanya sampai sini?"
Seijuurou mengangguk. "Rumahku sudah dekat kok, terima kasih sudah mengantarku pulang."
"Sama-sama," Taiga tersenyum lembut, "jaga diri, Sei."
Seijuurou mengangguk, "Jaa nee," Ucapnya sambil menatap punggung Taiga dan Shintarou sebelum berlari ke rumah, tanpa menyadari ada kejutan besar menantinya.
"Tadaima."
"Okaeri," Shiina menyambut kedua remaja yang baru tiba itu.
"Oh, ada Ryousuke-jisan ya?" Taiga membungkuk kepada pria berambut kuning yang sedang duduk di ruang tamu.
"Ah, Taiga, Shintarou." Sapa pria itu, Ryousuke.
"Mana Ryouta?" Tanya Shintarou.
"Dia dalam perjalanan kemari. Kita akan makan malam bersama kan?" Tanya Ryousuke.
"Ah, tentu saja."
"Bagaimana kabar Sei?" Tanya Shinya.
"Hanya memar di tangan, katanya, dua hari yang lalu ayahnya tiba-tiba memukulnya dengan wajah ketakutan, namun setelah itu ayahnya mengurung diri."
"Kalian tak mengajaknya kemari untuk makan malam?" Tanya Kazuya.
"Dia menolak."
"Cih, baru saja aku ingin menghukumnya, kau curang, Shiina, kenapa dia memanggilmu 'Hahaoya' tapi tidak memanggilku 'oyaji'?" Kazuya nangis ditempat.
"Karena kau tak cocok jadi ayah, Oyaji."
"Kazu! Sakitnya tuh disini!"
Kazunari tertawa senang karena telah memberikan pembalasan dendam pada sang ayah atas insiden kemarin.
"Maa maa, ayo makan, Shinya-chan, apa yang kau lakukan disana?" Tanya Shiina melihat Shinya mengintip keluar.
"Hahaoya, hujan," Ucapnya.
"Memang."
"Petir,"
Shiina bingung, "Ada apa, Shinya-chan?"
Tiba-tiba Shinya terbelalak, "Sei!" Serunya sambil melompat menuju genkan diikuti seisi rumah, sebelum mencapai pintu, terdengar pintu digedor dengan heboh.
"Ojichan! Hahaoya! Tasukete (tolong)! Tasukete! Buka pintunya! Ojichan! Hahaoya! Kumohon! Ini darurat!"
Kazuya segera membuka pintu, dan mendapati Seijuurou, dengan seragam yang basah dan tubuh lecet, berdiri di depan pintu, tubuhnya segera limbung ke depan, namun segera ditangkap oleh Kazuya.
"O-Ojichan-"
"Aku takkan menolongmu sampai kau memanggilku-"
"Oyaji," Seijuurou mencengkeram lengan Kazuya, gurat ketakutan dan panik menghiasi wajahnya, "Oyaji, tolong…Tou-san…"
"Oh, jadi ini ya Seijuurou yang selalu kalian ceritakan padaku?" Ryousuke menatap Seijuurou lembut.
"Ada apa? Ada apa dengan ayahmu?" Tanya Kazuya setengah senang (karena dipanggil oyaji) setengah penasaran.
Seijuurou menatapnya serius, juga panik.
"Tasukete…Tou-san…"
.
.
.
.
.
"…Tou-san bunuh diri!"
.
.
.
TBC beneran.
Preview.
"Aku takut Tou-san juga pergi."
"Konbanwa, Seicchi."
"Oyaji punya kabar baik, dan kabar buruk, yang mana yang mau kau dengar terlebih dahulu?"
"Kazuya, aku sudah tau segalanya."
"Seijuurou-kun…"
Sebelumnya Fei lupa nih, Gong Xi Fa Chai bagi readers yang merayakan imlek ^^
Karena bosan di rumah ga kemana-mana, jadinya Fei apdet cerita ini aja, soalnya sepi sih, ga ada yang ke rumah. mana temen Fei yang diajak pergi malah ga tau jalan lagi /jangan curhat disini oi.
Oh iya, ada yang Fei lupakan ngga ya?
Sou da! kuis kemarin!
Untuk Readers yang kemarin udah jawab, serius Fei galau. Itu jawabannya setelah Fei baca ulang semua, Fei malah bingung. Semua jawabannya bagus-bagus dan masuk akal semua #yaiyalah. Mau nentuin pemenangnya juga jadi susah TT^TT. Fei jadi pusing sendiri, mau milih satu pemenang, kepala Fei sakit mikirinnya, mau upload aja biar semua reader yang jawab sama-sama bisa baca, takutnya ada yang kecewa. Jadi gimana nih? mau nentukan pemenang atau upload aja? Tolong dijawab yaaaaa.../abaikan author gila ini, dia lagi galau angpaonya dikit.
Terima kasih untuk ShizukiArista, Renka Sukina, Antares Kuga, Sagitarius Red, Akaba Shinra, RedBlackShipper, SkipperChen, Akashi lina, Kurotori Rei, raralulu dan fifurere yang udah mereview fic ini. tanpa review kalian Fei ga akan update kilat /apaan lu?
Ja, RnR please…
