Seijuurou mengetuk pintu kayu tersebut, "Tadaima, Tou-san."

Tak ada jawaban dari dalam, Seijuurou sedikit heran, mengingat kejadian kemarin, ayahnya mungkin akan menjawab dengan gumaman tak jelas. Berusaha mengabaikan pikiran negatif, Seijuurou mendorong pintu hingga terbuka.

Tepat ketika pintu terbuka, hal pertama yang menyambutnya adalah bau anyir yang menyengat. Seijuurou terbelalak melihat pemandangan yang tersaji di depannya.

Mangkuk ramen, takoyaki dan okonomiyaki pecah berantakan di lantai, isinya tumpah kemana-mana. Pintu kamar Tetsuya terbuka, tapi Tetsuya tak ada di dalamnya. Seijuurou meletakkan tasnya di sofa dan berlari ke kamarnya, nihil, Tetsuya tak ada di sana.

"TOU-SAN!" Seijuurou berteriak sambil menyusuri rumah, mencari keberadaan Tou-sannya yang memiliki hawa keberadaan yang jauh lebih tipis daripada dirinya. Namun yang dicari tak kunjung ketemu.

Begitu memasuki dapur, bau anyir itu semakin tajam, dapur itu sudah sangat berantakan, Seijuurou berjalan memasuki dapur itu,

"TOU-SAN!"

"Ugh…"

Seijuurou tersentak.

Di sana, di tengah dapur yang berantakan, Tetsuya terbaring terlentang. Pisau dapur yang berlumuran darah tergenggam di tangan kirinya, sementara darah mengalir deras di pergelangan tangan kanannya.

"TOU-SAN!"

Seijuurou merobek kemejanya dan mengikatnya sekuat mungkin di pergelangan tangan Tetsuya yang menganga, "Tou-san, bertahanlah! Tou-san!" Serunya sambl mengguncang-guncang tubuh Tetsuya.

Tetsuya membuka matanya sedikit, "maaf, Seijuurou-kun…" Ucapnya lemah sebelum akhirnya kembali tertutup.

"TOU-SAN!" Seijuurou menangis, dia panik hingga tak tau harus bagaimana.

"Ojichan!" Gumamnya. Seijuurou menunduk dan menempelkan telinga ke dada Tetsuya, dia bisa mendengar denyut jantungnya yang lemah. "Tou-san, bertahanlah sebentar." Ucapnya lirih sembari berlari keluar menuju rumah Midorima, tak mempedulikan hujan dan petir yang bersahut-sahutan di luar sana.


Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.

Rate: T+

Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.

Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?).

Selamat membaca ^^


Di depan kamar tempat Tetsuya dioperasi, Shiina berusaha untuk menenangkan Seijuurou yang menangis.

"Sei-chan, jangan menangis, ayahmu baik-baik saja." Hibur Shiina.

"T-tapi, T-tou-san tadi k-kehilangan b-banyak darah, a-aku t-takut..." Isak Seijuurou.

"Jangan takut, Hahaoya disini," Shiina mengelus punggung Seijuurou, berusaha menenangkannya.

"A-aku takut T-Tou-san juga p-pergi.."

"Sei-chan, percayalah, Tetsuya-kun itu kuat, dia pasti bisa bertahan."

Di sebelahnya, Shintarou, Taiga, Kazunari dan Shinya berdiskusi gaje dengan suara pelan.

"Sebenarnya aku berharap Tetsuya-jisan mati aja." Gumam Kazunari.

"Eh? Nande?" tanya Taiga.

"Kerjaan dia selama dua tahun terakhir ini kan cuma menghajar Sei-chan dan membuatnya menderita, kalau dia mati, Sei-chan akan aman kan?" Kazunari mengeluarkan isi pikirannya.

"Hm… tapi aku tak mau dia mati."

"Ha?" Kazunari menatap Taiga heran, "kenapa?"

Taiga mengangkat bahunya, "sebagian hatiku berharap demikian, tapi, entah kenapa, hati kecilku menginginkan dia tetap hidup," ujarnya lirih sambil menggenggam kalung cincinnya.

"Sudahlah, Tetsuya sedang berjuang di dalam sana, jangan kalian pikirkan pendapat sendiri, pikirkan juga Seijuurou."

"HWAAA!" Seru keempatnya.

"Ryousuke-jisan, jangan mendadak gitu dong!" Rengek Shinya.

"Oh, kau sudah datang, Ryouta?" Sapa Shintarou. Sebenarnya, keluarga Midorima dengan keluarga Kise masih berhubungan darah. Istri Ryousuke, Haru, adalah adik Kazuya. Jika kalian bertanya-tanya mengapa Shintarou dan Ryouta tidak saling memanggil dengan nama kecil di sekolah, itu karena mereka sepakat untuk tidak bertingkah layaknya sepupu di sekolah, mengingat sifat tsundere Shintarou yang selalu kambuh di luar rumah.

"Hai-ssu, tadi macet banget, jad aku terlambat," Ujarnya sembari duduk di sebelah Seijuurou, "Konbanwa, Seicchi."

"R-Ryouta…hiks…nii?" Seijuurou berusaha untuk tersenyum.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Ryouta.

Seijuurou menggeleng lemah, "tidak," ucapnya.

"Ryousuke-jisan, apa maksud perkataanmu tadi?" Tanya Shinya pelan.

"Ah," Ryousuke duduk disamping keempat anak itu, "kalian lihat keadaan Seijuurou sekarang kan?"

Semua mata menatap Seijuurou yang masih dihibur oleh Shiina dan Ryouta.

"Dia sangat terguncang dengan kejadian ini, kalian tau, ini seperti luka lama yang dikoyak kembali, trauma akan kehilangan ibunya membuatnya tak mampu berpikir jernih saat ini. Kemungkinan, untuk beberapa waktu dia akan menjadi temperamen."

"M-maksudnya?" Tanya Taiga.

"Firasatku, emosinya akan menjadi labil, sebaiknya kalian awasi dia, aku takut dia melakukan sesuatu yang berbahaya." Jelas Ryousuke.

Lampu kamar operasi yang sejak tadi berkedip-kedip kini berubah menjadi hijau, Kazuya berjalan keluar dar ruang operasi dengan wajah campur aduk.

"Oji-Oyaji, bagaimana keadaan Tou-san?! Tou-san selamat kan?!" Tanya Seijuurou panik sambil menarik-narik baju Kazuya.

Kazuya menghela nafas, "ini buruk," gumamnya.

Seijuurou yang mendengar hal itu langsung terdiam, "Tak mungkin…"

"Seijuurou," Kazuya menepuk bahu Seijuurou sambil menatap orang-orang dibelakangnya, "Oyaji punya kabar baik, dan kabar buruk, yang mana yang mau kau dengar terlebih dahulu?" Tanyanya.

Seijuurou menggigit bibir bawahnya, "Baik…"

"Oke, kabar baiknya, ayahmu selamat," Seijuurou menghela nafas lega, "kabar buruknya," Kazuya bisa melihat tubuh Seijuurou kembali menegang, "ayahmu kehilangan banyak darah, dan bank darah kita kehabisan stok darah A."

"Tak mungkin…" Isak Seijuurou. Dia kembali menangis, Kazuya segera menarik Seijuurou ke dalam pelukannya dan membiarkan bocah itu menangis di pundaknya,

Kazuya menatap mereka semua, "kita butuh donor darah segera, kalau tidak, nyawanya terancam."

Tangisan Seijuurou semakin kuat, "k-kalau gitu, ambil aja darahku, ambil aja semuanya, tapi tolong selamatkan Tou-san!"

"Oy, Seicchi, apa yang kau katakan?!"

Kazuya mengelus kepala Seijuurou, "Maaf, Seijuurou, aku tak bisa."

"Kenapa?!" Tanya Seijuurou keras.

"Satu, usiamu masih sepuluh tahun, dan usia minimal untuk mendonorkan darah adalah 17 tahun. Kedua, golongan darahmu AB, bukan A."

Ingin rasanya Seijuurou mengutuk dirinya yang lahir 7 tahun lebih lambat dari usia minimal dan juga golongan darahnya yang didapat dari campuran darah Tetsuya dan Satsuki. Seijuurou ingin melakukan sesuatu, tapi dia tak tau apa yang harus dilakukannya.

"Kalau begitu, ambil darahku."

Semua mata tertuju pada Taiga yang berusaha menutupi ketakutannya. Oh, semua orang juga tahu dia takut pada jarum suntik, tapi melihat keseriusan dibalik ketakutannya, mereka tau dia tidak sedang berusaha terlihat keren dengan memberanikan diri menghadapi musuh terbesarnya.

"Gomen, Taiga, tapi-"

"Golongan darahku A, aku bisa mendonorkan darahku, kan?"

"Eng," Kazuya merenung sejenak, "baiklah. Taiga, ikut aku."

Jujur, Taiga sedikit ragu, usianya kan baru 15 tahun, kenapa Kazuya mengizinkannya mendonorkan darah? Taiga merasa curiga, tapi, yah, mungkin karena keadaan sekarang sedang darurat, jadi Kazuya terpaksa mengambil langkah cepat.

"Seijuurou, kau tak perlu khawatir lagi, oke? Ayahmu akan baik-baik saja." Kazuya mengelus kepala Seijuurou lembut, Taiga tersenyum padanya dan memeluknya erat, "jangan takut, ojisan akan selamat." Bisiknya.

"Taiga-nii, jangan pergi, oke?" Bisik Seijuurou lirih.

"Tentu." Taiga tertawa dalam hati. Dia tau, Seijuurou berpikir jika seseorang mendonorkan darahnya, maka darah orang itu akan habis dan dia akan mati. Astaga, Seijuurou, tak taukah kau bahwa setiap detiknya jutaan sel darah baru akan terbentuk? kalau begitu bagaimana darah bisa habis (kecuali mengalir terus)? Benar-benar pikiran yang lugu.

"Ya, aku janji." Ucapnya sambil mencium dahi Seijuurou.

"Ne, Seicchi, mau ke kantin? Kau belum makan kan sejak tadi siang?" Ajak Ryouta.

"Tapi-"

"Udah, aku yang traktir-ssu."

Seijuurou mengangguk pasrah.

"Ano, sumimasen, kami ke kantin dulu ya." Ucap Ryouta sambil merangkul bahu Seijuurou dan berlalu dari sana.

"Chot-" Ucapan Kazunari terpotong oleh tangan Shiina yang menahannya, "Biarkan saja mereka," ucapnya, "Ryou-chan pasti bisa menangani hal ini."

"Walau tak meyakinkan, dia adalah orang yang tepat untuk bicara dengan Seijuurou saat ini." Tambah Shintarou.


Di suatu ruangan yang gelap, tampak seorang pria sedang asyik bermain shogi memunggungi pintu, sesekali bibirnya terangkat keatas, merasa puas akan langkah yang diambilnya.

"Oh, kau sudah kembali?" Tanyanya pada seseorang yang berada di belakangnya.

"Ya."

"Bagaimana?"

"Dia jenius," sahut orang itu, "IQ nya sangat tinggi, dia benar-benar sepertimu."

"Sou ka?" Pria itu berbalik, kedua manik goldnya menatap tajam manusia dihadapannya, "kalau begitu, laksanakan rencana B."

"Baik."

Pria paruh baya it menatap papan shoginya, "menarik, sangat menarik, khukhukhu."


Seijuurou memainkan sendoknya, tampak tak ada niat untuk menyendok omelete ataupun meminum chocolate milkshake yang dibelikan Ryouta untuknya. Pikirannya menerawang entah kemana. Ryouta yang menemaninya pun jadi khawatir.

"Seicchi, daijobu ka?" Tanyanya lembut.

"Un." Jawab Seijuurou pelan.

Ryouta menggeser tempat duduknya ke sebelah Seijuurou dan mengambil sendok yang dimainkan itu, "Ayo, Seicchi, bilang 'aaah'." Ryouta menyodorkan sendok ke mulut Seijuurou.

"R-Ryouta-nii, aku bisa makan sendiri." Kilah Seijuurou sambil mendorong pelan tangan Ryouta.

"Mou, Seicchi, aku kan juga mau merasakan bagaimana rasanya punya adik laki-laki yang imut-ssu!" Protes Ryouta, "Lagipula, kau takkan memakan makananmu kalau bengong terus seperti itu."

Seijuurou yang sedang tak minat untuk berdebat akhirnya membiarkan Ryouta menyuapinya. Sambil menyuapi anak itu, Ryouta menyisir wajah manis itu dengan kedua matanya, "Seicchi, bagaimana perasaanmu?" Tanyanya sambil mengelus mata Seijuurou yang bengkak.

"Aku baik-baik saja, Ryouta-nii." Jawab Seijuurou, "Hanya, aku masih mengkhawatirkan Tou-san."

Ryouta mengelus kepala Seijuurou lembut, "Ayo habiskan minumanmu, seharusnya tansfusi darah sudah selesai dan kau bisa bertemu ayahmu-ssu."

"Hontou?" Tanya Seijuurou tanpa semangat namun serius.

"Tentu. Karena itu, cepat habiskan makananmu."

"Hai."


Seijuurou melahap ramen yang disuapkan Taiga untuknya, entah kenapa, dia masih merasa lapar. Taiga juga tidak keberatan membagi ramennya dengan Seijuurou. Sementara Kazuya dan Ryousuke memeriksa keadaan Tetsuya.

"Tak ada yang fatal. Hanya kurang makan dan istirahat." Gumam Kazuya.

"Hm…tekanan mental."

"Ha?" Kazuya mengangkat alis bingung.

"Nah, Kazuya, bisa aku bicara denganmu sebentar?" Tanya Ryousuke.

"Oh, tentu, ayo ke café." Jawab Kazuya sembari keluar dari ruangan itu, meninggalkan Taiga dan Seijuurou berdua di dalam dengan Tetsuya. Jangan bertanya kemana yang lainnya, mereka di kantin, tentu saja.

Melihat kesempatan itu, Seijuurou langsung menghampiri ranjang tempat Tetsuya tidur. Digenggamnya kuat jemari-jemari kurus itu, dan air matanya kembali mengalir.

"Tou-san, bagaimana perasaanmu?" bisiknya lirih, "apa kau sudah merasa baikan? Tentu sudah, ya kan?"

Taiga duduk diatas ranjang, tangannya diletakkan diatas dada pria yang tertidur itu, merasakan betapa lemahnya denyut jantungnya saat ini, "ojisan, Taiga da yo (ini Taiga)," Ucapnya, "Cepat sembuh, oke? Yah, aku tak tau kenapa aku mengatakannya, tapi aku percaya kau akan sembuh. Aku juga tak tau apa yang membuatmu berpikir untuk mengakhiri hidupmu seperti itu, tapi kumohon, jangan bertindak bodoh. Aku tau, dibalik tindakanmu pada Sei, pasti ada sisi dirimu yang menolak tindakanmu. Aku yakin, ketika kau terbangun, kau akan kembali ke dirimu yang lama, ojisan yang aku kenal."

Seijuurou memeluk Tetsuya erat, kepala menempel di dadanya, "Tou-san, tolong, jangan tinggalkan aku seperti Kaa-san, aku menyayangimu, Tou-san."


"Gila, kok café rumah sakit seramai ini ya?" Umpat kazuya sembari membuka pintu kamar rawat inap Tetsuya, "kita ga bisa makan deh."

"Maa~, setidaknya kita bisa membeli sedikit makanan kan?" Hibur Ryousuke.

"Lagian Shiina dan anak-anak ada dimana sih? Kok-" Kalimat Kazuya terpotong begitu melihat pemandangan di hadapannya.

Seijuurou tertidur di sisi ranjang sebelah kanan sambil memeluk tangan Tetsuya, jemari mungilnya bergerak-gerak mengelus perban di pergelangan tangan sang ayah. Wajahnya tampak sembab, setengah wajahnya terbenam dalam tangannya yang terlipat, rambutnya acak-acakan. Di sisi kiri, tampak juga Taiga yang tertidur, tangan kirinya berada diatas dada Tetsuya, sementara tangan kanannya menggenggam telapak tangan Tetsuya. Dia tidak menangis, namun wajahnya nampak tegas, seolah-olah memperingatkan semua orang untuk tidak mengganggunya ataupun orang yang tebaring itu.

Ryousuke tersenyum melihatnya. Diletakkannya kantung makanannya diatas meja dan mendekati Taiga. Dipapahnya pemuda itu ke sofa terdekat dan dibaringkan disana. Ryousuke melepaskan jasnya untuk menyelimuti tubuh bagian atas pemuda itu. Kembali kepada Seijuurou, dia menghela nafas berkali-kali.

"Doushta, Ryousuke?" Tanya Kazuya.

"Ngga, aku hanya tak tega memindahkannya." Ucap Ryousuke sambil menggendong Seijuurou ke samping Kagami, mengingat betapa luasnya sofa itu, "Ne, Kazuya, ada selimut tambahan?"

"Tidak, gunakan saja jaketku." Ucap Kazuya sembari menyerahkan jaketnya yang digunakan Ryousuke untuk menyelimuti Seijuurou.

"Nah, apa yang mau kau katakan tadi?" tanya Kazuya sembari duduk di sofa lain.

"Kazuya, aku sudah tau segalanya."

"Eh?"

"Ryouta memberitahuku."

"EEEEEH?!"

Ryousuke menutup mulut Kazuya agar pria itu diam. "ya, aku sudah tau."

"Menurutmu, apa yang terjadi pada Tetsuya?" Tanya Kazuya penasaran.

"Stress," Ryousuke menyesap kopinya, "juga frustasi. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi dibalik kematian istrinya, kalau tidak, tak mungkin dia bisa kalap mata dan melakukan semua ini."

"Lalu, apa ada seseorang yang bisa membuat Tetsuya berubah? Selain Seijuurou tentunya. Karena kupikir, dia butuh seseorang itu." Tanya Kazuya.

Ryousuke melayangkan pandangannya keluar jendela, "Seseorang, ya?" gumamnya.

Kazuya menatap wajah Ryousuke yang tampak sendu. Dia tau apa yang ada di dalam pikiran pria itu. Kise Ryousuke dulunya adalah seorang pelaku children abuse. Ryouta dan seorang kakak laki-lakinya adalah korbannya. Orangtua Ryouta sudah bercerai, kedua kakak perempuannya dibawa sang ibu, sementara dirinya ditinggal dengan kakaknya, Yuusuke.

Ryousuke adalah seorang pemabuk dan penjudi. Setiap malam, kalau kalah berjudi, Ryousuke akan menghajar Yuusuke dan Ryouta. Ryouta yang baru berusia 3 tahun saat itu hanya dipukul dan dijambaki, sedangkan Yuusuke yang 12 tahun lebih tua dari Ryouta menerima jauh lebih parah, pernah sekali, Ryousuke menghajar Yuusuke sampai pagi, sedangkan Ryouta hanya bisa memeluk lututnya ketakutan di pojok ruangan.

Ada satu kejadian yang membuat Ryousuke sadar dan bertobat dari kebiasaan buruknya, tapi kejadian itu akan diceritakan lain waktu, bukan sekarang.

"Waktu itu, kau orangnya ya?" Gumam Ryousuke.

Kazuya ikut menatap langit.

"Kau benar-benar orang yang peduli ya."

"Teme urusai!" Amuk Kazuya.

"Ssst, nanti mereka bangun." Bisik Ryousuke sambil menunjuk Seijuurou yang mulai menggeliat.

Kazuya terdiam.

"Sosok yang bisa membuat Tetsuya berubah? hm...di dunia ini cuma dua orang yang bisa mempengaruhi Tetsuya, tapi karna yang satu udah ga ada, jadi hanya satu orang yang bisa membunuh sisi gelapnya Tetsuya." Ujarnya.

"Satu orang? Siapa dia?" Tanya Kazuya.

"Saa." Jawab Ryousuke, "soal itu hanya Tetsuya yang tau, dan daripada kita ambil pusing, mendingan aku menyantap sup ayam yang hangat ini." ucapnya sembari mengangkat sup ayam yang dibelinya.

"Jaa, itadakimasu."


Pintu kamar terbuka dan Shiina serta anak-anak lainnya masuk, "Kazu-kun, bisakah kau mengantarkan kami pulang? Anak-anak sudah mengantuk. Shinya-chan bahkan sudah tertidur." Ucapnya sambil menuding Shinya yang tertidur dalam gendongannya.

"Oke, Shintarou, bangunkan Taiga." Perintah Kazuya sambil mengambil jaketnya.

"Seijuurou?"

Kazuya menimbang-nimbang sebentar, "jangan, biarkan saja." Ucapnya, "Dia butuh istirahat."

Shintarou mengangguk dan segera membangunkan Taiga.

"Oi, kebo, bangun!" Shintarou menoel punggung Taiga dengan kakinya.

"Nggh, lima menit lagi, mak." Taiga malah tambah ngorok.

"MAK NDASMU!" Amuk Shintarou sembari menshoot kepala Taiga dengan sepatunya.

"Aduh! SAKIT KAMPRET!" Teriak Taiga.

"Diamlah! Ada tiga orang yang sedang tidur tau!" Kazuya ikut marah.

"Ada apa?" Tanya Taiga.

"Pulang lah, aho." Jawab Shintarou.

Taiga menggaruk tengkuknya sambil menguap lebar, perlahan, digendongnya Seijuurou yang masih terlelap, kepala Seijuurou dibiarkan bersandar di bahunya.

"Ngg…"

"Ssh…" Taiga menepuk-nepuk punggung Seijuurou, anak itu membuka matanya, "Taiga-nii, kita mau kemana?" Tanyanya mengantuk.

"Pulang." Jawab Taiga.

"Pulang?" Tanya Seijuurou, "Aku tak mau pulang, aku mau menemani Tou-san disini." Ucapnya dengan mata setengah terbuka.

"Sei-chan," Shiina mengelus pipi Seijuurou, "kita pulang dulu malam ini, besok pulang sekolah kan kau bisa kemari lagi."

"Hontouni?" Tanya Seijuurou.

"Tentu saja."

"Rumah…"

"Jangan khawatir, Seijuurou, aku sudah meminta bawahanku untuk membersihkan rumahmu, seragam dan pakaianmu juga sudah kuperintahkan mereka untuk dibawa ke rumah Kazuya. Jadi kau tak perlu khawatir, oke? Kau hanya akan tinggal disana selama ayahmu masih sakit, ne?" Tanya Ryousuke.

"Oke," Jawab Seijuurou. Anak itu kembali tertidur di bahu Taiga.

"Ne, Ryousuke, aku akan mengantar mereka pulang, titip Tetsuya ya." Ujar Kazuya sambil melangkah keluar.

"Oh, bolehkan anakku menginap di rumahmu malam ini?" Tanya Ryousuke.

"Mochiron (tentu saja)." Jawab Kazuya.


Ryouta duduk di balkon, menatap langit malam, surai emasnya melambai tertiup angin. Matanya menerawang jauh ke masa lalu, masa lalunya yang kelam. Bintang-bintang yang berkilauan memenuhi langit malam yang cerah. Tanpa disadari, air matanya menetes.

Indera perabanya merasakan sesuatu mampir di punggungnya. Ryouta berbalik untuk melihat apa yang menempel di punggungnya, "Jangan menggangguku dong…"

Pemuda berambut hijau dengan manik cokelat itu tersenyum lima jari kepada Ryouta, "Hei, kenapa adik kecilku menangis, heh?"

"Urusai na, Yuu-nii," Ryouta memanyunkan bibirnya, "aku bukan anak kecil lagi, tau?"

"Wakatta yo (aku tahu), Ryouta," Pemuda itu tertawa kencang.

"Yuu-nii, kau bisa menarik perhatian-ssu." Bisik Ryouta.

"Kenapa? Aku hanya ingin menemani adik kecilku," Ucap Yuusuke.

Ryouta mendengus, mengalihkan pandangannya kembali ke langit malam.

"Ada apa? Tampaknya kau banyak pikiran?" Tanya Yuusuke.

"Aku hanya memikirkan sesuatu." Gumam Ryouta. Yuusuke tau Ryouta belum selesai bicara, maka dia tetap diam, "ini tentang Seicchi."

"Oh, anak yang kau bilang bernasib sama denganku?" tanya Yuusuke.

"Ya, tapi kau masih lebih baik." Jawab Ryouta, "papa melakukannya saat usiamu 15 tahun, bukan? Seicchi baru 8 tahun saat semua tragedi ini dimulai."

"Oh, begitu?" Yuusuke memandang lengan kanannya, dimana terdapat bekas pukulan kayu yang tampak jelas di sana. "Kau sudah tau rasanya kan? Bantulah dia." Tambah Yuusuke.

"Aku memang mau menolongnya. Tapi," Ryouta berbalik, "Seicchi terlalu rapuh, dia bagaikan barang antik, yang kalau tak kau jaga dengan baik, salah sedikit saja bisa menghancurkannya. Apalagi kejadian tadi malam, bisa kukatakan, ada retakan di hatinya, kalau aku tidak hati-hati, dia bisa hancur begitu saja."

"Kalau begitu, tugasmu adalah mengapuri retakan itu,kan?" tanya Yuusuke, "lakukanlah apa yang menurutmu harus dilakukan. Lindungi anak itu seperti aku melindungimu. Lagipula…" Yuusuke menatap ke dalam ruangan dimana Shintarou dan lainnya tidur, "omae wa hitori janai, desu ne (Kau tidak sendirian, kan)?" Tanya Yuusuke.

"Yuu-nii," gumam Ryouta.

"Banyak yang peduli padanya, kan?" Tanya Yuusuke dengan tatapan sendu, diangkatnya wajah Ryouta, cokelat bertemu emas, "Ryouta, berjanjilah padaku, kau akan melindungi Seicchi yang kau maksud, ne? jangan sampai anak itu bernasib sama denganku." Ucapnya getir, senyum lebar diberikan untuk Ryouta, "berjanjilah padaku, oke?"

"Aku janji, Yuu-nii. Aku akan melindungi Seicchi."


Taiga terbangun dari tidurnya, sambil mengucek matanya yang masih mengantuk, pemuda berusia 15 tahun itu berjalan menyebrangi kamar, menuju sebuah tempat tidur.

"Se, bangun." Ucapnya sembari menepuk ranjang kosong itu.

"Sei?" Taiga terbangun sepenuhnya dan menyadari keadaan ranjang yang rapi dan kosong.

"SEI GA ADA!"


Mendadak, pagi itu menjadi hari rusuh di kediaman Midorima.

Mereka semua sudah mencari bocah itu hingga ke seluruh penjuru rumah, mulai dari kamar mandi, dapur, ruang tengah, sampai tempat sampah di dapur(?) sudah mereka jelajahi. Namun hasilnya nihil, tak ada tanda-tanda keberadaan Seijuurou di manapun.

"Apa sih ribut-ribut?" Tanya Shiina yang baru bangun.

"Hahaoya, Sei hilang lagi!" Seru Kazunari.

"Oh." Jawaban singkat, padat dan menyakitkan dari Midorima Shiina.

"Apa-apaan jawaban itu?! Hahaoya tak peduli lagi sama Sei?!" Tanya Shinya.

"Bukan begitu," Jawab Shiina, "Sei-chan sudah berangkat jam setengah 7 pagi tadi."

Seketika kelima anak itu terdiam, "Jam setengah 7? Ngapain?"

"Dia bilang dia ingin menjenguk ayahnya dulu sebelum sekolah." Jawab Shiina.

"Begitu ya?"

"Sekarang, kalian semua antri mandi atau kalian akan terlambat!" Perintah Shiina sambil menunjuk jam.

"WUANJIRRR!" Seru mereka begitu melihat jam menunjukkan pukul 7.30. Dan dalam waktu singkat, kelimanya langsung rebutan kamar mandi.

"Shinya-chan," Shiina membisikkan sesuatu pada Shinya yang langsung tersenyum senang dan mengikuti Shiina.

"Gua duluan!" Seru Taiga.

"Gua yang punya rumah jadi gua duluan-nodayo!" Seru Shintarou.

"Aku juga yang punya rumah, niichan!" Seru Kazunari.

"Tapi aku yang lebih tua-nodayo!"

"Lagian siapa bilang ini rumahmu, Shincchi? Emangnya kau yang membeli rumah ini?" Tanya Ryouta.

"Gamau tau pokoknya gue duluan-nodayo!"

"Ittekimasu, Hahaoya."

Keempat kepala berbeda warna itu menoleh ke arah genkan, dimana Shinya sudah siap dan rapi dengan seragamnya.

"EEEEEH?!"

"Ja, aku duluan ya!" Seru Shinya sembari berlari menyusuri jalan.

"Kenapa kalian masih bengong? Kapan mau mandi?" Tanya Shiina.

Pertarungan pun dilanjutkan, tanpa seorangpun ingat kalau rumah ini memiliki empat kamar mandi, satu yang sedang diperebutkan, satu di dekat dapur, satu di kamar Shiina dan Kazuya, dan satu lagi di kamar yang mereka tempati.


~sementara Seijuurou, di pagi itu~

Seijuurou terbangun pukul dua pagi, entah apa yang membuatnya terbangun jam segini, namun matanya menolak untuk kembali terpejam walaupun dia merasa lelah. Bosan berbaring, akhirnya Seijuurou memutuskan untuk membaca buku hingga pukul 5 baru mandi dan berkunjung ke rumah sakit untuk melihat keadaan Tetsuya.

"Eh? cepat banget udah jam 5?" gumamnya ketika melihat jam. sebegitu larutnya kah dia dalam bacaannya? Seijuurou pun beranjak bangun.

"Ugh..." Seijuurou mencengkeram kepalanya, rasa sakit yang hebat menyerang kepalanya sejenak hingga pandangannya berkunang-kunang, Seijuurou mencengkeram tangga tempat tidur untuk menjaga keseimbangannya sampai pusingnya hilang. Setelah rasa sakit itu hilang, barulah dia beranjak dan bersiap-siap.

"Sei-chan, mau kemana?" Tanya Shiina yang baru keluar kamar.

"Hahaoya, ohayou," Sapa Seijuurou, "Aku terbangun tiba-tiba, karena tak bisa tidur lagi, aku memutuskan untuk menjenguk Tou-san."

"Sepagi ini?" Tanya Shiina.

"Ya, begitulah." Jawab Seijuurou.

"Untuk apa?"

"Hanya ingin melihat keadaan Tou-san sebelum ke sekolah."

Shiina menghela nafas menghadapi kekeras kepalaan bocah dihadapannya, "Kalau begitu, sebaiknya kau sarapan dulu. Mau makan apa?" Tanya Shiina sambil menepuk bahu Seijuurou dan menuntunnya duduk di kursi dapur.

"Apa saja, Hahaoya." Jawab Seijuurou.

Shiina membuat sepiring nasi goreng dan segelas susu untuk Seijuurou, sambil menemani Seijuurou menghabiskan makanannya, Shiina merapikan rambut Seijuurou yang berantakan karena habis bangun tidur.

"Apa rambutmu selalu seperti ini setiap kali bangun tidur?" Tanya Shiina.

"Ya, sama seperti Tou-san. Bahkan gaya berantakannya sama." Jawab Seijuurou sambil tersenyum, "Dulu Kaa-san selalu memanggil kami 'Duo bed hair' setiap pagi."

"Duo bed hair?" Shiina terkikik, "Hahaoya jadi penasaran dengan bed hair Tou-sanmu."

Seijuurou ikut terkekeh, "Gochisousama deshita." Ucap Seijuurou sambil mengatupkan kedua tangannya dan beranjak menuju genkan, "Ittekimasu, Hahaoya."

"Hai, itterashai. Hati-hati di jalan ya, Sei-chan." Jawab Shiina.

"Hai!"


Disinilah dia, berhadapan dengan seorang suster yang mencegatnya di depan pintu, melarangnya masuk.

"sekarang bukan jam berkunjung, dik." Ucap suster itu.

"Tapi aku mau mengucapkan selamat pagi untuk Tou-san!" Balas Seijuurou.

"Maaf dik, tapi saya bukan pemilik rumah sakit ini, saya tak bisa mengizinkanmu begitu saja, seandainya saya yang mempunyai rumah sakit ini, saya pasti akan mengizinkanmu." Suster itu tersenyum manis.

"Kalau begitu aku ingin menemui pemiliknya! Aku mau melihat keadaan Tou-san, masa seorang anak tak boleh menemui ayahnya sendiri hanya karena jam berkunjung belum dibuka?!" Tanyanya sedikit tegas.

"Bukan-"

"Ada apa, Mizuno?"

Keduanya menoleh ke belakang sang suster, "Midorima-sensei." Sapa sang suster, Mizuno, "anu, anak ini ngotot ingin mengunjungi salah satu pasien, padahal jam berkunjung belum dibuka." Jawabnya.

"Oyaji, aku mau menemui pemilik rumah sakit ini." Pinta Seijuurou.

"O-oyaji?" Gumam Mizuno kaget. "Ano, Midorima-sensei, apa anak ini putramu?"

"Bisa dibilang, aku ayah angkatnya." Jawab Kazuya sambil tertawa, "Kau sudah menemuinya, anak muda*."

"Mie putih*?" Seijuurou menelengkan kepalanya bingung, "Lupakan itu, dimana pemilik rumah sakit ini?" Tanya Seijuurou sambil menoleh ke kanan dan kiri, mencari orang yang dimaksud Kazuya.

"Dia orangnya." Jawab Mizuno sambil menunjuk Kazuya.

"O-oyaji?" Tanya Seijuurou.

"Meremehkanku?" Tanya Kazuya, "kau mau menemui Tetsuya, eh? Ayo ikut aku, oh ya, Mizuno," Kazuya menatap suster muda itu, "kalau dia datang, biarkan dia masuk, walaupun jam 3 pagi, sampaikan kepada semua staff, mengerti?"

"Hai," Jawab Mizuno.

"Ayo, Seijuurou," ajak Kazuya sambil merangkul bahu anak itu dan menuntunnya menuju kamar Tetsuya.


Seijuurou menggenggam telapak tangan yang tergolek lemah itu, diusapnya punggung tangan Tetsuya ke pipinya, kedua iris crimsonnya menatap sendu pria di hadapannya.

"Ohayou, Tou-san," Sapa Seijuurou, "apa kabar? Bagaimana perasaanmu?" Tanyanya.

Kata Kazuya, Tetsuya masih tertidur sejak kemarin, bahkan tak ada tanda-tanda kalau dia akan bangun dalam waktu dekat. Pikiran Seijuurou mulai dipenuhi hal-hal negatif, bagaimana jika Tetsuya koma sampai Seijuurou tua? Bagaimana jika Tetsuya tidak bangun-bangun lagi?

"Tidak," Seijuurou menggeleng, "Tou-san pasti akan bangun. Tou-san hanya beristirahat untuk memulihkan tenaganya." Ucapnya sambil mempererat genggamannya, "Tou-san kan kuat." Ucapnya lirih.

"Ne, Tou-san, apa kau melakukan ini karena kau takut pada apa yang kau perbuat padaku? Kau tau, aku tak pernah menyalahkanmu, aku yang memutuskan untuk melakukan ini, aku yang memilih untuk membiarkanmu menghajarku, karena aku sangat terpana dengan senyummu, Tou-san. Aku merindukan senyummu, tolong, jangan tidur terlalu lama, aku ingin segera melihat senyummu lagi." Seijuurou menangis, "Kau lihat? Aku menangis, hahaha, bukankah kau selalu memukulku kalau aku menangis? Bangunlah dan pukul aku lagi, Tou-san, kau tidur begini aku malah tambah khawatir."

Tiba-tiba kepalanya terasa pusing lagi, Seijuurou mengangkat tangannya dan mengurut kepalanya ketika dia merasa seseorang menepuk bahunya, dia berbalik dan mendapati rambut pirang dan mata cokelat yang baru dikenalnya, "Ryousuke-ji?"

Ryousuke tersenyum lembut dan duduk di sampingnya, "selamat pagi, Seijuurou."

"P-pagi." Jawab Seijuurou.

"Kau sudah mau berangkat sekolah? Sudah jam tujuh nih." Tanya Ryousuke.

"Baiklah," Seijuurou berdiri, diciumnya pipi Tetsuya dengan lembut, "Tou-san, aku sekolah dulu, ittekimasu."

"Seijuurou, ayo cepat, aku akan mengantarkanmu ke sekolah."

"Hai." Seru Seijuurou sambil berlari keluar kamar, dia tak tau, tepat setelah pintu kamarnya tertutup, Tetsuya yang belum sadar mengigaukan sesuatu.

"Seijuurou-kun…"


~Bandara Narita~

"Uwah, akhirnya aku kembali," Seru seorang pemuda berambut oranye, matanya melirik kesana-kemari.

"Tuan muda, mobil sudah siap." Ucap seorang pria berpakaian pelayan kepada si pemuda.

"Oh, oke." Jawabnya, senyum kecil terukir di wajahnya, "Tou-san, Kaa-san, Seijuurou, tadaima."


TBC.

*Yang Kazuya katakan itu anak muda (Shounen), tapi Sei-chan menangkapnya mie putih (Shiro umen) XD


Preview.

"Jangan berisik, nanti Sei-chin bangun."

"aku ini…benar-benar membebani semua orang ya…"

"Tebak siapa, Seicchi?"

"An-chan!"

"kami hanya ingin memberimu penawaran dari bos kami."

"Seijuurou yang malang, pasti banyak hal yang terjadi selama aku pergi, ya kan?"


Er... soal golongan darah, anggap aja golongan darah Satsuki itu B :v

dan soal kuis kemarin, setelah pertimbangan matang yang mengharuskan Fei semedi di puncak gunung tertinggi di kutub utara dan di dasar laut paling rendah di dunia sampai demam 7 hari lamanya(?) (Jangan percaya ya, boong itu.), akhirnya Fei memutuskan untuk mengupload chapter hadiah itu yey ^^ #dibantai. maaf kalau ada yang kurang puas dengan keputusan Fei.

Chapter spesial itu akan diupload setelah chapter depan, jadi, ditunggu ya ^^

dan untuk Fic 'Kiseki no Sedai goes to Singkawang', rencananya bakal Fei upload secepatnya di bulan ini.

Terima kasih untuk RedBlackShipper, ShizukiArista, VandQ, sorahime345, Akashi lina, raralulu, fifurere, Kurotori Rei, SkipperChen dan Akaba Shinra yang udah mereview :3

Jaa, RnR please…