SMA Teiko masih tampak sepi, belum banyak siswa yang datang, kalaupun ada, mereka mungkin sedang nongkrong dibawah pohon sakura atau main uno bareng. Berjalan menuju tempat duduknya yang di dekat jendela nomor 2 dari belakang, Seijuurou menatap keluar jendela.

Di seberang sana, tampak Kouki dan ayahnya, dari ekspresi Kouki, sepertinya mereka ribut lagi. Jujur, Seijuurou tak mengerti, apa sih yang memalukan dari diantar jemput oleh orangtua sendiri?

Kepalanya berdenyut lagi. Menyerah pada rasa lelahnya, Seijuurou memutuskan untuk tidur sebentar.


Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.

Rate: T+

Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.

Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?).

Selamat membaca ^^


"Syukurlah kita ga terlambat…" Kise menghela nafas lega.

"Sial, kok aku bisa lupa rumahku ada 4 kamar mandi?" Geram Shintarou.

"Sei mana sih? Aku tak melihatnya." Taiga menjulurkan kepalanya dan mencari keberadaan rambut merah lainnya, yang dia dapati malah Murasakibara yang duduk menghadap jendela di tempat duduk nomor 2 dari belakang. Langsung Taiga mendekati pemuda jangkung tersebut.

"Oy, Mura-"

"Ssst…" Murasakibara menempelkan jarinya di depan bibirnya dan melanjutkan kegiatannya, "Jangan berisik, nanti Sei-chin bangun."

Taiga melirik tangan besar Murasakibara yang sedang menepuk-nepuk punggung Seijuurou, "dia kenapa?" Tanyanya.

"Aku tak tau, tadi pas masuk aku liat Sei-chin tidur, pas mau aku bangunin, aku liat mukanya basah."

Taiga menatap wajah Seijuurou, dia bisa melihat jelas bekas air mata di wajah adiknya, sepertinya Seijuurou tertidur karena lelah menangis.

"Biarkan dia tidur, Murasakibara." Perintah Taiga, "Kembalilah ke tempatmu, nanti sensei bisa curiga."

"Oke~"


"Nggh…" Seijuurou terbangun dari tidurnya, sambil mengucek matanya yang masih terasa berat, kedua manik ruby itu menatap sekelilingnya, "Eh? Niichan-tachi ngga terlambat ya." Ledeknya.

"Salah siapa yang meninggalkan kami, hah?" Geram Taiga.

"Warui." Seijuurou menatap sekeliling, "Kenapa Sensei belum datang juga?"

"Sekarang baru selesai istirahat kedua, Sei. Ini jam keempat." Jelas Taiga.

"Eeeh? berapa lama aku tidur? Sensei tak marah?" Tanya Seijuurou.

"Tidak, kebanyakan sensei tidak masuk."

"Minna!" Sang ketua kelas menarik perhatian mereka semua, "Sensei tidak datang hari ini!"

"YEEEEES!" seru seluruh kelas.

"Tuh kan." Gumam Taiga.

"Tapi sensei menitipkan tugas dan harus dikumpul hari ini juga!"

"Yaaaaah…"desah seluruh kelas.

Sang ketua kelas menyatat soal fisika yang (bagi siswa malas dan bodoh seperti Ryouta dan Taiga) ga masuk akal dan bikin sakit kepala di papan tulis. Ryouta dan Taiga langsung berkutat dengan tumpukan kertas, bahkan Taiga meminjam catatan Seijuurou ("Darimana kau dapat materi ini? Kau kan ngga masuk hari itu!") untuk mencoba semua rumus yang tertulis rapi (Seicchi kau ini cewek apa cowok sih? Rapi banget tulisanmu!") di buku catatan berwarna merah itu.

Bagi siswa yang pintar dan suka fisika (seperti Murasakibara, Shintarou dan tentu saja Seijuurou,) soal yang diberikan sangat mudah, bahkan sekali lihat, mereka sudah tau mereka tinggal menggunakan rumus paling simpel dalam materi getaran.

Seijuurou lah yang paling cepat menyelesaikan pekerjaannya, dalam waktu 10 menit, 10 soal materi yang berbeda dapat diselesaikannya dengan sempurna tanpa melihat catatan atau mencoret kertas. Dan juga orang pertama yang dicecar kedua makhluk idiot (baca: Taiga dan Ryouta.) itu untuk mengajarkan mereka.

"Sei, nomor tiga jawabannya apa sih?!"

"Seicchi, ajarin dong-ssu!"

"Diamlah-nodayo, kalian bisa menarik lengannya sampai lepas aho." Shintarou menarik Seijuurou yang ditarik-tarik oleh kedua idiot itu setelah menitipkan bukunya pada Murasakibara yang juga sudah menyelesaikan pekerjaannya 5 menit lebih lambat dari Seijuurou.

"Ugh…" Seijuurou limbung, namun dengan cepat ditangkap oleh Murasakibara yang kebetulan ditabraknya, "Sei-chin, doushta no?" Tanya Murasakibara, ada nada khawatir di balik nada malasnya.

"Sei, kau tak apa?" Tanya Taiga, "Apa kau merasa pusing karena mengerjakan soal fisika sialan ini?"

Seijuurou menggeleng, "Aku hanya pusing sedikit, aku akan beristirahat di UKS." Jawabnya pelan.

"Perlu kuantar?" Tanya Shintarou.

"Tak usah, Shin-nii, aku bisa sendiri." Jawab Seijuurou sambil berjalan sempoyongan ke pintu, namun karena pusing yang sangat hingga membuat pandangannya berkunang-kunang, pinggang Seijuurou malah menabrak meja si ketua kelas.

"Astaga, Sei-chan, kau tak apa?" Tanya si ketua kelas khawatir melihat Seijuurou terbungkuk sambil memegang pinggangnya yang menjadi korban.

"A-aku tak apa kok, Reiko-nee." Jawab Seijuurou.

"Suman (maaf), Takahashi-san, aku akan mengantarkan Seijuurou ke UKS." Shintarou menggendong Seijuurou dan keluar ruangan.


"Kan sudah kubilang, biar aku yang antar-nodayo, tapi bukan berarti aku peduli-nodayo!"

Seijuurou hanya bisa tersenyum kecut sambil menatap Shintarou yang mengoleskan salep ke pinggangnya, "sudah berkurang sakitnya?" Tanya Shintarou.

"Lumayan." Jawabnya.

"Maksudku, kepalamu, apa sudah berkurang?"

"Sudah, arigatou, Shin-nii."

"Kenapa bisa pusing? Kau sakit?" Tanya Shintarou sambil mengelus kepala Seijuurou.

"Ngga, sepertinya karena aku kurang tidur dan memaksakan mata untuk membaca di tempat remang." Seijuurou menatap keluar jendela.

"Kalau begitu tidurlah, agar pusingmu cepat hilang." Shintarou tersenyum lembut dan menarik selimut hingga ke dagu Seijuurou sebelum kembali ke kelas.

Seijuurou menatap langit-langit, "aku ini…benar-benar membebani semua orang ya…"


Pelajaran terakhir hari itu adalah sejarah, yang diajarkan oleh guru gila bernama Hyuuga Junpei. Kenapa dikatakan gila? Karena guru yang satu ini suka memberikan mereka hukuman yang gila jika siswanya tak mengikuti peraturan sekolah atau telat mengumpulkan tugas. Contohnya, minggu lalu Taiga lupa mengerjakan PR yang diberikan Hyuuga-sensei padanya, mau tau apa hukumannya?

"Tuliskan tentang era sengoku sebanyak 40 rangkap besok harus sudah di meja saya kalau tulisan tangan berubah sedikit aja tugasmu tak diterima!" Perintah Hyuuga-sensei dalam sekali tarikan nafas tanpa titik dan tanda baca kecuali tanda seru, gila kan? Besoknya Taiga izin tidak latihan basket karena tangannya masih gemetaran hasil menulis selama semalaman.

Mungkin Dewi Fortuna sedang berpihak pada para siswa, sehingga mereka tak perlu mengikuti pelajaran ini karena rapat guru, dan mereka bisa pulang atau mengikuti klub masing-masing lebih cepat.

"Oy Kise, ayo cepat!" Teriak Taiga.

"Iya-ssu!" Seru Ryouta sambil menyusul keempat temannya. Dan mereka pun berjalan menuju Gym yang sudah mulai hidup(?).

"Oh ya, Sei mana ya?" Gumam Taiga.

"Ah, aku akan melihat keadaannya di UKS-ssu." Ucap Ryouta yang sudah selesai ganti baju sambil berlari menuju pintu gym.

"Aku juga-nodayo."

"Jangan lama-lama!"


Shintarou hanya bisa terdiam melihat tempat tidur yang tadinya ditempati Seijuurou kini sudah kosong dan rapi.

"Lho, tadi dia ada disini, kemana dia?" Gumam Shintarou.

"Midorimacchi."

"Ada apa, Kise?" Tanya Shintarou sambil menatap Ryouta, betapa herannya dia melihat Ryouta memasang wajah serius.

"Kembalilah duluan, aku akan mencari Seicchi." Perintahnya.

"Baik, pastikan dia baik-baik saja." Ucap Shintarou sambil berjalan kembali ke gym.

"Tentu saja, karena aku tau kemana dia akan pergi." Gumam Ryouta, kedua kakinya pun melangkah keluar ruangan itu.


Kelopak mata itu setengah tertutup, melindungi kedua permata yang bersemayam dibawahnya. Helaian surai scarlet menari-nari dimainkan angin, seolah hendak membuai sang pemilik mahkota untuk segera terlelap. Seijuurou menyandarkan punggung mungilnya pada dinding beton yang berdiri kokoh seolah menawarkan perlindungan. Namun dinding itu terlalu keras, Seijuurou tak bisa menyamankan diri seperti saat di UKS tadi. Kedua tangannya memeluk lutut, separuh wajahnya yang basah terbenam dalam lutut mungil itu, mulutnya komat-kamit, menyenandungkan sebuah lagu. Entah berapa lama waktu berlalu sampai sesuatu menghalangi pandangannya.

"Tebak siapa, Seicchi?" Tanya suara itu.

Seijuurou tersentak sejenak dan menganalisa suara yang didengarnya, "Ryouta-nii?"

Ryouta tersenyum. Tangan kirinya memeluk bahu mungil Seijuurou, sedangkan tangan kanannya menutup kedua mata Seijuurou.

"Ryouta-nii, tolong singkirkan tanganmu." Pinta Seijuurou.

Ryouta menggeleng, malah menarik Seijuurou hingga kepala bocah itu kini bersandar di dadanya, "Aku takkan melepaskan tanganku selama kau masih menangis, Seicchi, karena aku tak pernah suka melihat kedua mata merahmu digenangi air."

"Aku takkan menangis, Ryouta-nii."

Ryouta menyandarkan punggungnya ke dinding beton yang sama, kedua tangannya tetap memeluk bahu Seijuurou, "Punggungmu terasa nyaman, Seicchi?"

Seijuurou mengangguk, "Tidak senyaman tempat tidur, tapi lebih nyaman daripada ketika aku menyandar ke dindingnya langsung."

Ryouta terkekeh kecil mendengar penuturan Seijuurou, "Ne, Ryouta-nii, menurutmu, apa aku adalah beban?"

Ryouta terkejut, "Tentu tidak, Seicchi, apa yang membuatmu berpikir begitu?"

"Tidak, hanya saja, aku merasa aku telah merepotkan banyak orang. Hahaoya, Oyaji, niichan-"

Ryouta menutup mulut Seijuurou dengan telunjuknya, "Kau tau, terkadang kau memang merepotkan."

Seijuurou menunduk, "Demo ne, Seicchi," Ucap Ryouta dan sukses menarik kembali perhatian Seijuurou, "Kau tidak sendirian, kau tau? Masih banyak yang menyayangimu. Lihatlah sekelilingmu, ada Taigacchii, Shincchi, Kazucchi, Shinyacchi, aku, Murasakibaracchi, Nijimura-senpai, dan masih banyak lagi yang selalu ingin melindungimu, Seicchi."

"Seberapa banyak?" Tanya Seijuurou.

"Saking banyaknya sampai aku tak ingat siapa saja orangnya."

Seijuurou tersenyum, "Arigatou ne, Ryouta-nii." Ucapnya tulus.

"Ne ne, ayo kita ke gym, aku baru ingat ada pemain baru yang sepertinya belum kau kenal sama sekali!" Seru Ryouta semangat.

"Pemain baru? Aku mau menantangnya!" Seijuurou ikut semangat.

"Kalau gitu, ayo balapan ke gym!" Ryouta langsung berlari ke gym.

"Curang! Aku kan belom siap!"


Pada akhirnya, tetap saja Seijuurou yang duluan tiba di gym.

"Mattaku kalian ngapain sih?!" Geram Nijimura melihat kedua anak buahnya sekarat(?) di kakinya.

"Ba…la…pan…" Jawab Seijuurou dengan nafas putus-putus.

"Oh iya, dia belum datang ya…" Ryouta menoleh kesana kemari.

"Nyari siapa, Kise?" Tanya Taiga.

"Nyari rookie baru kita, Shi-"

" 'sup!"

"Oh, itu dia," Ryouta menepuk bahu Seijuurou dan menunjuk pintu masuk gym. Seijuurou menoleh dan terbelalak melihat orang yang dimaksud Ryouta, "An-chan (1)!"

Pemuda itu menoleh dan tampak sangat terkejut melihat Seijuurou, "Seijuurou!"

Seijuurou berlari dan memeluk pemuda itu erat, "An-chan, aku kangen!"

"Aku juga," balas pemuda itu.

"O-oy, Sei, kau mengenalnya?" Tanya Taiga.

"Aku tidak tau kalau Sei sekolah disini, kau ikut akselerasi ya?" Seijuurou mengangguk, "makanya aku ga kasih tau kalian. Kenalkan, aku Ogiwara Shigehiro, kakaknya Seijuurou." Pemuda itu membungkuk.

"EEEEEEH?!"

"G-gimana bisa? Seicchi kan anak tunggal! Trus marga kalian beda!" Tanya Ryouta.

"Yah," Ogiwara menggaruk kepalanya, "lebih tepatnya sih, kakak angkat."

"Bohong! Aku sering main sama Sei waktu kecil, kenapa aku tak pernah melihatmu?" TanyaTaiga.

"Aku hanya tinggal bersama keluarga Akashi selama 3 tahun." Jawab Ogiwara, "Waktu umurku 5 tahun, pengasuhku menculikku. Ketika kami menyebrang jalan, sebuah mobil menabraknya sampai tewas. Aku selamat, tapi aku tak tau harus kemana, dia membawaku saat aku tidur dan aku tak ingat jalan pulang, aku hanya berjalan tanpa arah, sampai akhirnya, Tou-san(2) menyelamatkanku."

"Tou-san membawaku ke rumahnya dan membiarkanku tinggal disana. Saat itu Kaa-san(2) belum melahirkan Sei. Tiga tahun kemudian, ayah dan ibu(3) menemukanku. Kebetulan mereka melihatku bermain salju dengan Sei pada hari natal. Akhirnya aku pulang, aku sering mengunjungi keluarga Akashi setiap kali libur. Dan saat aku berusia 10 tahun, aku dikirim untuk sekolah di Amerika."

"Trus, kenapa An-chan pulang ke Jepang? Bukannya sekolah di Amerika lebih bagus?" Tanya Seijuurou.

"Aku mau mengurus perusahaan orangtuaku," Jawab Ogiwara.

"Mereka kemana-nodayo?" Tanya Shintarou.

"Sudah meninggal."

Tak seorangpun bicara mendengar jawaban Ogiwara.

"Pesawat mereka jatuh saat dalam perjalanan ke Amerika."

Semua orang (kecuali Ogiwara) langsung menatap Shintarou dengan tatapan tanggung-jawab-lu.

"Ngomong-ngomong, kapan An-chan sampai di Jepang?" Tanya Seijuurou.

"Kemarin." Jawab Ogiwara.

"Heee? Cepat banget daftarnya." celetuk Taiga.

"Ngga dong, semuanya sudah diurus orangtuaku, mereka memang sengaja mau menjemputku sekolah di Jepang. sayangnya-"

"Oh, kau sudah datang, Akashi-kun," sang pelatih mendekati mereka, otomatis memutuskan kalimat Ogiwara, "Aku mau kau mengetes kemampuan pemain baru kita, Ogiwara Shigehiro. Oh, kalian sudah siap ya?" tanyanya dan dijawab dengan anggukan keduanya.

"Ne, An-chan, mau one-on-one?" Tantang Seijuurou.

"Hm… aku ga berani melawanmu, Seijuurou-senpai." Ledek Ogiwara.

"Senpai?"

"Sei kan kelas 3, aku kelas 1."

"Mou," Seijuurou menggembungkan pipinya.

"Oke oke, aku bercanda kok. Ayo." Ogiwara merebut bola yang dipegang Seijuurou dan melaju ke ring yang kosong.

"Tunggu!" Seijuurou mengejar Ogiwara dan merebut balik bolanya.


"Sei udah makin kuat ya sekarang." Puji Ogiwara.

"An-chan juga." Balas Seijuurou.

Keduanya tepar di lapangan setelah one-on-one selama 20 menit. Seijuurou unggul dua angka diatas Ogiwara yang mendapat 40 angka.

"Oy, kalian berdua, mau sampai kapan kalian disana? Pulang sana!" Usir Nijimura.

"Hidoi yo, Shuu-nii," Gumam Seijuurou sembari lari ke kamar mandi.


"Sei, Shige, ayo cepat!" Seru Taiga pada dua orang yang masih sibuk berdebat soal rumput laut ("Rumput laut itu enak tau!" "Ngga! Rumput laut itu menjijikkan!").

Seijuurou terdiam sejenak, "An-chan, Taiga-nii, pulanglah duluan, aku mau ke suatu tempat." Jawab Seijuurou.

"Kalau begitu aku ikut." Ucap Taiga.

"Ngga usah, aku hanya sebentar kok, An-chan sekalian mampir ke rumah Shin-nii ya, aku nginap disana."

"Lho, ken-" Ogiwara langsung dibekap oleh Taiga yang langsung menyeretnya, "Tenang aja Sei, 'An-chan'mu bakal kuseret ke rumah Shin kalau masih ga mau."

"Oke, makasih, Taiga-nii!" Seijurou menatap Taiga yang baru saja berbelok di tikungan sebelum akhirnya berjalan ke arah yang berlawanan.


"Oy, apa-"

"Ssst," Taiga membekap mulut Ogiwara, "Dengar, jangan pernah bertanya soal Ojisan atau Obasan di depan Sei, atau dia akan hancur."

"Hancur? Kenapa?" Tanya Ogiwara.

Taiga terdiam, mampus, keceplosan!

"Banyak hal terjadi selama aku meninggalkan mereka, bukan?" Tanya Ogiwara.

"Ya, terlalu banyak, dan selalu dia yang menjadi korban." Jawab Taiga sambil menunduk.

"Beritahu aku." Perintah Ogiwara.

"Eh?"

"Beritahu aku, sekarang!"

"Tak usah," Taiga mengayunkan tangannya, "aku tak tau bagaimana perasaanmu ketika mendengar hal ini."

Ogiwara menarik kerah kemeja Taiga yang lebih tinggi darinya, "Dengar, aku tau aku tak punya hubungan darah dengan Sei, tapi aku kakaknya, aku lebih dekat dengannya ketimbang orang lain. Dan walaupun aku bukan kakak kandungnya, aku berhak tau, karena aku pernah menjadi bagian dalam keluarga itu dan aku harus melindungi keluargaku!"

"Kau bukan lagi bagian dari keluarganya, Shige." Jawab Taiga sedih.

"Sekali keluarga selamanya keluarga." Jawab Ogiwara, "beritahu aku, sekarang!"

Taiga menghela nafas, "baik, kalau itu maumu, tapi aku takkan bertanggung jawab kalau kau frustasi mendengarnya. Kita bicara di tempat lain."


Seijuurou tak tau angin apa yang menyerangnya, atau apa dia menelan obat yang salah, dia tak tau apa yang dia pikirkan hingga datang ke tempat ini. Tapi ketika mengetahui kakaknya telah kembali, dia jadi ingin ke tempat ini.

Makam Satsuki, ibunya.

Seijuurou berlutut dihadapan makam itu, diusapnya kanji yang tertera diatas nisan. Takut? Seijuurou bukan orang bodoh yang percaya kalau kuburan adalah tempat angker yang sering didatangi oleh hantu di malam hari. Dia sama sekali tidak takut, dia senang bisa berada disini,

"Konbanwa, Kaa-san." Ucapnya, "Sudah berapa hari ya aku tidak kesini? Aku merindukanmu. Ne, Kaa-san, kemarin Tou-san mencoba bunuh diri, untung aku cepat pulang. Sekarang Tou-san masih di rumah sakit. Aku tak tau kapan dia akan bangun." Seijuurou mengulum senyum, "Kaa-san, hari ini aku bertemu An-chan lagi lho, dia sudah pulang dari Amerika, karena orangtuanya meninggal. Apa kau sudah bertemu mereka, Kaa-san?"

Angin berhembus menerbangkan dedaunan kering, menemani bocah bersurai scarlet itu di depan nisan.

"Oh, lihatlah, ada anak manis nongkrong di kuburan."

Seijuurou menoleh ke belakang, kedua iris rubinya membelalak dalam ketakutan, "K-kalian?!" Serunya. Dengan cepat Seijuurou berusaha melarikan diri, sayangnya, salah satu dari kedua preman itu lebih cepat menangkapnya.

"Kita ketemu lagi," Sapa preman itu, Hayama dan Mibuchi, preman yang dulu menghajarnya (baca chap 2)

"A-apa mau kalian?!" Seru Seijuurou.

"Tenang," Mibuchi mengangkat dagu Seijuurou, "Jadilah anak manis dan dengarkan kami."

"Untuk apa aku mendengar kalian, sampah busuk?!"

"Sialan kau!" Hayama meninju perut Seijuurou.

"Ko-chan! Ingat pesan bos!" Seru Mibuchi sambil mendekati Seijuurou yang masih membungkuk, "kami hanya ingin memberimu penawaran dari bos kami."

"P-penawaran? Bos?" Tanya Seijuurou.

"Ya, bos kami adalah kakekmu, Akashi Hideki."

Seijuurou terkejut, kakeknya? Mau apa orang itu? Setelah kakeknya mengusir ayah dan ibunya yang juga berarti mengusir dirinya, kenapa tiba-tiba dia memberi penawaran?

"Penawaran apa?" Tanya Seijuurou.

"Begini, Hideki-sama selalu memperhatikanmu, dia kagum dengan kecerdasanmu yang melebihi anak-anak seusiamu. Hideki-sama ingin kau kembali ke mansion Akashi dan-"

"Tidak."

"Eh?" Mibuchi terkejut mendengar Seijuurou dengan cepat menolak tawaran yang diinginkan semua orang.

"Tidak, aku tak mau."

"T-tapi kenapa? Disana sangat nyaman, tau. Kau akan memiliki kamar yang luas dengan perpustakaan mini di dalamnya, baju yang bagus, kendaraan pribadi, pelayan, dan banyak lagi! Hideki-sama juga akan mendidikmu menjadi penerus bisnisnya, kau bisa menjadi orang besar! Sayang lho kalau ditolak." Bujuk Mibuchi.

"Apa Tou-san juga diberikan penawaran ini?" Tanya Sejuurou.

"Er…tidak…"

"Aku tak mau! Mending aku tinggal di rumah bobrok bersama Tou-san daripada di istana tapi ga ada Tou-san!"

"Tapi-"

"Aku tak peduli! Aku menolak, titik!"

Mibuchi mendecih kesal, "gimana nih, bos?" bisiknya, tampak ada sebuah earphone di telinganya, "anak itu menolak."

"Aku benci anak pembangkang," Jawab Hideki dari seberang sana, "terserah mau kalian apakan dia, oh, jangan lupa, ayahnya."

"Siap."

Mibuchi menatap Seijuurou dengan tatapan predator melihat mangsanya, "Ko-chan, tahan dia."

Seijuurou tak sempat berkedip, tiba-tiba saja kedua tangannya ditahan oleh Hayama dan wajah Mibuchi mendekati wajahnya, bahkan hidung mereka hampir bersentuhan.

"Baiklah, karena kau menolak, aku akan 'bermain' denganmu."


"Entah kenapa, perasaanku tak enak." Gumam Ogiwara.

Kedua pemuda itu duduk di bangku taman, Taiga baru saja menceritakan segalanya, tentang kematian Satsuki, perubahan sikap Tetsuya, hingga apa yang baru saja terjadi, percobaan bunuh diri Tetsuya. Ogiwara sama sekali tak menyangka keluarga yang dulu dikenalnya kini telah berubah total.

"Doushta?" Tanya Taiga.

"Iie, nande monai," Jawab Ogiwara,

"Aku mau melihat keadaan Ojisan di rumah sakit sebelum pulang, kau mau ikut?" Tanya Taiga.

"Dimana makam Kaa-san? Aku mau berkunjung kesana dulu, nanti aku akan ke rumah sakit." Jawab Ogiwara.

"Er…di belakang katedral tua, dekat halte bis terdekat." Jawab Taiga, "Ojisan dirawat di rumah sakit Sasaki, kamar 305."

"Oke, kau duluan saja, aku akan menyusul nanti." Jawab Ogiwara.

"Yaudah, aku duluan ya."

"Ya." Ogiwara terdiam sejenak, "Boleh kuminta nomor hapemu?"

"Ha? buat apa?" tanya Taiga.

"Siapa tau aku nyasar. Sudah 5 tahun aku meninggalkan Jepang, lho." cengiran lebar terlukis di wajah si oranye.

"Haah, baiklah." Desah Taiga.


Ogiwara berjalan menyusuri jalan, mencari bangunan yang dimaksud Taiga, entah sudah berapa kali dia muter-muter disana, namun bangunan yang dimaksud belum juga tampak.

"Apa bangunan itu ya?" Gumamnya sambil menatap bangunan yang sudah hancur di beberapa tempat, dengan lumut dan tanaman liar menghiasi pagarnya, membuat tempat itu kelihatan angker. Ogiwara berjalan ke belakang bangunan yang dia duga sebagai katedral yang dimaksud Taiga.

"Aku menolak, titik!"

Ogiwara berhenti sejenak. Suara itu, kalau kedengarannya sih, sepertinya yang punya suara masih anak-anak, mungkin seumuran Seijuurou? Ngapain anak kecil main di kuburan (dia sudah di depan pagar, ngomong-ngomong,) semalam ini? Bukannya anak-anak takut ke kuburan saat malam hari?

"Baiklah, karena kau menolak, aku akan bermain denganmu(4)."

Ingin rasanya Ogiwara tertawa terbahak-bahak, astaga, apa itu tren baru untuk mengancam anak-anak? Sepertinya ayah (begitulah yang dia pikirkan) anak itu tak tau kalau anaknya bisa saja bermain dengan orang lain, seperti temannya atau apalah. Lagian anak melawan kok malah diajak main? Main apa? Petak umpet? Atau mungkin Hitori Kakurenbo(5)?

"Singkirkan tanganmu dari wajahku!"

"Aduh!"

"Diam kau tikus kecil! Cih, kuhajar saja kau dulu!"

Terdengar suara tinjuan yang cukup keras berkali-kali, Ogiwara mengerutkan dahi, dua orang dewasa? Pasti keduanya bukan orangtua sang anak, mana mungkin ada orangtua yang tega menyuruh orang memukul anaknya sendiri tepat di depan matanya? Dan dari suara tinjuan yang tidak beraturan itu, Ogiwara yakin keduanya sama-sama memukul objek yang sama. Hatinya bimbang, haruskah dia menolong anak itu? Dia bukanlah orang yang suka ikut campur, tapi jika hal itu berhubungan dengan kekerasan, apalagi bully, dia tak bisa tinggal diam.

Refleks kakinya melangkah masuk ke area pekuburan, Ogiwara bertekad, walaupun ini urusan keluarga orang, Ogiwara akan menyelamatkan anak itu dan membawanya pergi, sekali berbelok di belokan pertama, Ogiwara menemukan sumber suara yang didengarnya tadi.

Betapa terkejutnya ia melihat sosok dalam gelap itu, anak kecil yang sudah luka-luka di beberapa bagian tubuh dan wajah yang babak belur itu terbaring menyandar ke pundak pria kecil yang menahannya. Tampaknya tenaga anak itu sudah habis, karena berontakannya lemah sekali. Sedangkan pria berambut panjang di depan si anak sudah bersiap untuk menarik lepas celana si anak.

Satu kata yang terlintas di kepala Ogiwara: pemerkosaan.

"Hey! Apa yang kalian lakukan?!"

Hayama dan Mibuchi tampak terkejut melihat kemunculan Ogiwara, dan tanpa basa-basi, Ogiwara menyerang kedua preman itu hingga babak belur.

"Apa yang kalian lakukan?!" Bentaknya.

"K-kami tak melakukan apa-apa!" Bantah Hayama.

"I-iya, kami cuma main kok." Mibuchi ikut menambahkan.

"Bohong! Jelas-jelas kalian mau menarik lepas celana anak itu! Katakan yang sebenarnya! Apa yang kalian lakukan?!"

Tiba-tiba, Hayama meninju perut Ogiwara dan kabur, sebelum itu, dia menendang juga perut Seijuurou yang baru saja berdiri hingga tersungkur ke tanah.

"Hey!" Ogiwara hendak mengejar kedua preman itu, namun langkahnya tertahan begitu matanya melihat siapa anak yang terbaring itu.

"Sei!"

Dengan perlahan diangkat dan didekapnya erat tubuh lemah Seijuurou, bisa dia rasakan betapa ketakutannya anak itu, bajunya robek dimana-mana, tubuhnya bergetar hebat, isakan kecil lolos dari kedua bibirnya, dalam waktu singkat, baju Ogiwara sudah basah oleh air mata Seijuurou.

"Jangan takut, An-chan disini, kau aman sekarang." Bisiknya di telinga Seijuurou. Perlahan, tubuh Seijuurou melemah, dia pingsan dalam dekapan Ogiwara.

"Sebaiknya kubawa dia ke rumahku dulu. Untung saja dekat." Batin Ogiwara sembari melangkah pergi, membawa Seijuurou ke rumahnya. Tiba-tiba dia teringat sesuatu, "ah! Shimatta!"


~Taiga, waktu yang sama, tempat yang berbeda.~

Taiga berjalan menuju meja resepsionis rumah sakit, "ano, Mizuno-san,"

Mizuno menengadah dan tersenyum manis, "Ah, Taiga-kun, konbanwa." (Jangan salah ya, seluruh staff rumah sakit mengenal kerabat keluarga Midorima.)

"Apa Oyaji ada disini?" Tanyanya.

"Dia sedang di ruang operasi," Mizuno mencondongkan diri ke arah Taiga dan merendahkan suaranya, "ada korban tabrak lari, dia terluka parah."

Taiga merinding ketika pikirannya menayangkan seorang pria dengan isi perut terburai dan kepala pecah juga darah yang berceceran. Dia menggeleng untuk menyingkirkan bayangan itu, "K-kalau Ryousuke-ji?"

"Tadi Kise-sensei bilang dia ada panggilan, jadi dia keluar sebentar." Jawab Mizuno.

"Begitu ya?" Gumam Taiga, "Kalau begitu, aku duluan ya." Ucapnya sembari melenggang pergi dari meja resepsionis. Taiga terus berjalan menuju kamar tempat Tetsuya dirawat, tangannya memutar kenop pintu dan mendorongnya perlahan, "Konni-HEY!"

Pria tinggi kekar itu terkejut melihat kedatangan Taiga, buru-buru, dilepaskannya bantal yang tadi digunakannya untuk membekap wajah Tetsuya ke lantai.

"TEME APA YANG KAU LAKUKAN HAH?!" Seru Taiga, pria besar itu terkejut bukan main, dalam kepanikannya pria berkulit gelap itu melayangkan tinjunya ke wajah Taiga, namun dengan lincah Taiga menangkap dan memelintir tangan pria asing itu ke belakang punggungnya. Pria itu mencoba untuk melepaskan diri, namun tidak bisa, kuncian Taiga begitu kuat. Sekuriti langsung datang begitu mendengar keributan, "Taiga, ada apa?" Tanya salah satu sekuriti.

"Ringkus orang ini, dia mencoba membunuh pasien." Perintah Taiga. Dia sangat terkejut melihat pria itu berusaha membunuh Tetsuya yang tak berdaya dengan membekapnya sampai mati. Setelah sekuriti dan pria asing itu pergi, Taiga buru-buru menempelkan kedua jarinya pada leher Tetsuya, menghela nafas karena dia masih hidup, dan memasang selang oksigen ke hidung Tetsuya, karena nafasnya putus-putus.

"Ada apa dengan orang itu?" gumamnya. Taiga terkejut ketika handphonenya bergetar, diraihnya smartphone merah tua itu dan matanya menatap layar.

"Shige? Ngapain dia menelponku?" Batinnya, namun tetap mengangkat telepon itu, "Moshi moshi, ada apa, Shige?"

"Taiga, apa kau sudah tiba di rumah sakit?!" suara Shige terdengar panik.

"Er…ya, kenapa?" Tanyanya.

"Tou-san baik-baik saja?!"

Taiga mulai merasa ada yang aneh, "Tidak juga, tadi ada orang yang mencoba membunuhnya."

Tak ada jawaban dari seberang sana.

"Memangnya ada apa, Shige? Kau mencurigakan." Tanyanya.

"Ah, aku mau bilang, Sei mau menginap di rumahku malam ini. Tolong beritahu Midorima-senpai ya."

"Tunggu, kenapa tiba-tiba?"

"Yah," Ogiwara tertawa canggung di seberang sana, "Kami kan sudah lama berpisah, jadi dia ingin melepas rindu denganku-"


"Jangan bohong." Ancam Taiga.

"Eh?" Ogiwara menatap layar smartphonenya bingung, "A-apa maksudmu? Aku tidak bohong!"

"Jelas-jelas kau menyembunyikan sesuatu. Kau bahkan meneleponku dengan suara panik. Pasti terjadi sesuatu."

"Aku tak menyembunyikan apapun dan aku tak panik! Aku hanya takut kejadian 10 tahun lalu terulang lagi!"

Taiga terdiam, "Apa ini ada hubungannya dengan hal yang pernah kau alami saat kelahiran Sei?"

"Ap-"

"Kau sempat menyebutkannya secara tersirat tadi."

Ogiwara menepuk jidatnya, "Ah, tolong lupakan-"

"Aku tak mau, beritahukan segalanya padaku!"

Ogiwara menghela nafas, "Kurasa kau memang tak bisa dibohongi. Baiklah, mumpung besok hari minggu, aku akan memberitahukan segalanya kepadamu, besok, di rumahku."

"Baiklah, aku izinkan dia."

"Oke, terima kasih, jaa."

Ogiwara memutuskan telepon mereka dan menatap Seijuurou yang terbaring dengan balutan perban nyaris di sekujur tubuhnya, tentu saja dia sudah meminta dokter pribadinya untuk mengobati Seijuurou. Dielusnya surai scarlet itu dengan lembut,

"Seijuurou yang malang, pasti banyak hal yang terjadi selama aku pergi, ya kan?" Ogiwara berbaring di samping Seijuurou dan menarik Seijuurou masuk dalam dekapannya, "Jangan takut lagi, Sei, sekarang An-chan ada disini, dan An-chan akan melindungimu." Bisiknya.

"Oyasumi, Sei-otoutou."

.

.

.

.

.

TBC


(1) An-chan: Aniki-chan alias abang.

(2) Yang dimaksud Ogiwara disini adalah Tetsuya dan Satsuki.

(3) Yang dimaksud Ogiwara disini adalah orangtua kandungnya.

(4) Ogiwara mengartikan kata bermain itu secara harafiah.

(5) Petak umpet sendirian, permainan memanggil hantu yang terkenal dari Jepang.


Preview.

"Ceria dikit dong, kita kan ada pertandingan final lusa."

"An-chan, ada nasi di pipimu."

"Maafkan aku, Seicchi, aku melakukan ini demi kau juga."

"Bolehkah kita seperti ini sedikit lebih lama?"

"Ayahmu sudah sadar."

"Konnichiwa, Kaa-san."


Oke, plis jangan bunuh Fei karena membuat Sei-chan hampir di 'anu' ama preman-preman kacrut itu DX /dibegal para readers.

Jangan bingung sama previewnya ya, itu preview buat chapter 9. Preview buat special chapter sengaja ga dimunculkan biar surprise untuk kalian ^^

yap, chapter depan adalah special chapter, menceritakan kisah di hari kelahiran Seijuurou. Hadiah buat reader yang sudah ikut kuis tempoe doeloe /dibakar.

jadi, ditunggu aja ya ^^

Terima kasih untuk Renka Sukina, raralulu, fifurere, Kurotori Rei, Sorahime345, Hirani SagitariusRed, ffureiya, Akaba Shinra, SkipperChen, dan ShizukiArista. Tanpa review kalian mungkin ini fic ga bakal update :v /dibegal.

Ja, RnR please…