Taiga menganga.

"Gila! Besar banget!" Seru Taiga. "Serius, ini rumah Ogiwara?"

Bangunan yang berada di hadapan mereka memang sangat besar, menyerupai gedung parlemen, mungkin lebih luas. Sebuah taman bunga menghiasi halamannya, kebanyakan sudah mekar dan menebarkan bau yang harum di seluruh rumah itu.

"Selamat datang di Mansion Ogiwara. Saya Yamada, kepala pelayan disini. Anda pasti Kagami Taiga, bukan?" Sambut salah satu pelayan.

"A-ah, iya." Jawab Taiga.

"Kalau begitu, silahkan ikuti saya, tuan muda sudah menunggu di belakang." Yamada membungkuk dan berjalan mendahuluinya. Taiga pun mengikuti Yamada. Taman bunga itu cukup luas, bermacam-macam bunga diatur sedemikian rupa. Yamada membawa Taiga ke belakang rumah, yang justru membuatnya lebih kagum lagi.

Taman tradisional Jepang yang tampak begitu tenang dan asri berdampingan dengan sebuah taman buah yang rindang. Sekelompok ikan koi asyik berkejar-kejaran di dalam kolam dibawah kakinya, dengan sebuah jembatan dari kayu sebagai tempat berpijaknya, ah, benar-benar indah.

"Ah, kau sudah datang," sapa Ogiwara, "Ayo ikut aku."

Yamada membungkuk dan pergi, sementara Taiga ikut Ogiwara naik ke rumah pohon. Begitu sampa di atas, Taiga menoleh ke belakang dan berdecak kagum. Kumpulan bunga yang dilihatnya di taman depan tadi ternyata membentuk kanji 'Ogiwara'.

"Dari atas sini kau bisa melihat seluruh rumah ini." Ujar Ogiwara sembari memetik apel dari pohon di sebelahnya, "Mau apel?"

Taiga mengambil apel itu dari tangan Ogiwara, "Sugoi yo, Ogiwara," Puji Taiga sambil menggigit apelnya, "Siapa yang mendesain semua taman ini? Pasti orang ahli kan?"

"Tidak," Ogiwara menggeleng pelan, "Ibuku yang mendesain dan membuat semua taman ini."

Taiga tercengang, "Ibumu…hebat ya."

"Terima kasih."

"Oh iya, mana Sei?" Tanya Taiga.

"Dia tidur siang. Kau datang kesiangan sih. Apa perlu kubangunin?" Tanya Ogiwara. Bohong sebenarnya, karena Seijuurou belum bangun sama sekali dari kemarin.

"Tidak usah, biarkan dia tidur." Jawab Taiga. "Aku kemari bukan untuk mencari Sei, tapi untuk mendengar ceritamu."

"Sejujurnya aku heran, kenapa kau tak nanya sendiri sama orangnya?" Tanya Ogiwara.

"Sei sama sekali tak maumenceritakan masa lalunya." Jawab Taiga, "Aku ingin mendengar apa yang membuatmu begitu panik malam itu. Dan apa hubungannya dengan kejadian 10 tahun lalu? apa yang terjadi saat itu?"

Ogiwara menunduk, "Baiklah, akan kuceritakan, apa yang terjadi pada malam ketika Akashi Seijuurou lahir."

Angin membelai rambut keduanya, Ogiwara memulai ceritanya, "Semuanya dimulai pada pukul 11 malam tanggal 19 Desember."


~19 Desember~

Malam yang indah.

Fujiro Kobayashi mengendarai mobil jeep tuanya menuju biara. Senyumnya terkembang begitu matanya menatap langit, menikmati indahnya bintang-bintang yang bertaburan di langit. Jalanan sudah tertutup salju sepenuhnya dan ornamen-ornamen natal terpasang di sepanjang jalan. Benar-benar damai.

Yah, sampai ketika dia mendengar suara gaduh dari dalam satu rumah dalam gang kecil.

PRANGG.

"Tetsu-kuAAARGH!"

"Kaa-san!"

"Diamlah, Shige-kun!"

Fujiro mulai waswas, apa mungkin keluarga ini mengalami KDRT? Tapi, kalau dilihat, sang kepala keluarga kan bukan orang yang suka melakukan kekerasan.

"Aku akan cari mobil!"

"Ikut!"

Fujiro bingung, cari mobil? Untuk apa?

Pintu menjeblak terbuka, menampilkan sosok pria bersurai biru langit yang tampak panik sekaligus…senang? Anak laki-laki berambut oranye kecoklatan ikut mengintip dari pintu, dan kebetulan melihat dirinya, "Tou-san, ada Fujiro-jiichan!" serunya.

Pria itu, Akashi Tetsuya, langsung menemukannya dan menghampirinya dengan tergesa-gesa, "F-Fujiro-san…yokatta…" ucapnya dengan nafas tersengal-sengal.

"A-ada apa, Tetsuya?" Tanya Fujiro sedikit khawatir.

"T-tolong…"

"Apa yang terjadi?"

"S-Satsuki-san…" Tetsuya tersenyum bahagia, "Satsuki-san mau melahirkan!"


Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.

Rate: Khusus chapter ini T

Character: Father!Kuroko X Son!Ogiwara (Special chap ini).

Selamat membaca ^^


Tolong ganti kata 'damai' tadi menjadi 'kalang kabut'.

Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja Akashi Tetsuya memintanya mengantarkan istrinya ke rumah sakit, niatnya untuk bersantai jadi batal.

"Tetsu-kun…" Desah Satsuki dengan wajah memerah.

"Bertahanlah, Satsuki." Ucap Fujiro. Dia berusaha untuk tetap tenang dalam situasi serba panik, mana tadi Ogiwara kecil malah mendadak muntah, jadi hanya dia yang mengantarkan Satsuki, sedangkan Tetsuya dan Ogiwara akan menyusul belakangan.

"Fujiro-san…maaf merepotkanmu…" Gumam Satsuki.

"Satsuki, jangan sampai tertidur! Sadarlah! Kita hampir sampai!" seru Fujiro.

"Aku-AAAH!"

"Satsuki!"


"Shige-kun, ayo cepat!" Seru Tetsuya.

"A…hah..hah…aku…capek…" gumam Ogiwara sambil menopang tubuhnya ke pagar rumah terdekat.

Tetsuya membungkuk dan menyamakan tinggi dengan putra angkatnya, "Kontrol nafasmu, sudah? Apa kau mau muntah lagi?"

Ogiwara menggeleng.

Kejadian itu sebenarnya terjadi pada jam 11 tadi, Ogiwara terbangun dan mengeluh lapar. Bocah itu memang belum makan apa-apa sejak pulang sekolah, kecuali sepotong roti dan segelas susu. Satsuki pun memutuskan untuk membuatkan semangkuk ramen instan untuk anak 5 tahun itu.

Tiba-tiba saja, saat sedang bersiap untuk kembali tidur, Satsuki berteriak kesakitan, tentu saja Tetsuya panik, bagaimana tidak, tak ada orang yang masih berkeliaran jam segini, bahkan Tetsuya sampai memecahkan beberapa barang saking paniknya. Tepat saat ia membuka pintu, Fujiro Kobayashi melintas di depan rumahnya.

Ogiwara muntah tepat sebelum masuk ke mobil, bagaimana tidak, dia baru selesai makan langsung lari-lari, maka Tetsuya meminta Fujiro untuk membawa istrinya dahulu, sementara dia membersihkan rumah.

"Maaf, Tou-san membuatmu ikut panik." Katanya sambil menepuk kepala Ogiwara.

"Tak apa, aku kan ingin membantu Tou-san dan Kaa-san." Jawab Ogiwara.

"Wah wah wah, apa yang kau lakukan malam-malam begini, botchan?"

Tetsuya tersentak kaget dan menoleh ke belakang, dia terkejut bukan main mendapati Kensuke Fukui, butler kepercayaan ayahnya, tengah duduk diatas pagar dengan seringainya yang menyeramkan.

"Fukui!" Serunya.

"Ada apa, botchan? Kau tampak ketakutan." Tanya Fukui. Nada suaranya tampak dibuat-buat.

"A-apa maumu?" Tanya Tetsuya, dengan cepat melindungi Ogiwara dibalik tubuhnya.

"Aku? Aku hanya melaksanakan perintah tuanku." Jawabnya santai.

"Apa yang dia inginkan?!" Tanya Tetsuya, kali ini lebih keras, Ogiwara bahkan tak tau Tetsuya bisa berteriak sekuat itu.

"Etto, apa ya?" Fukui mengeluarkan sebuah Ipad dan menunjukkannya pada Tetsuya.

"Tetsuya."

Tetsuya terbelalak, "O-Otou-sama?!"

Hideki menyalakan video call, membuat Tetsuya bisa menatapnya, "siapa anak itu?" Tanya Hideki begitu melihat Ogiwara.

"Bukan urusanmu." Ucap Tetsuya dingin, Ogiwara menggigit bibirnya menahan sakit ketika Tetsuya mencengkeram tangannya lebih keras.

"Jangan terlalu dingin pada ayahmu, Tetsuya, sopanlah sedikit."

"Kau bukan ayahku." Desis Tetsuya.

"Ya ampun, kau semakin kurang ajar saja." desah Hideki.

"Apa maumu?" Tanya Tetsuya.

"Oh iya, aku hanya ingin menunjukkanmu ini." Hideki mengambil smartphonenya yang lain dan menunjukkan sesuatu pada Tetsuya.

"Satsuki-san!"


"Jangan coba-coba bergerak!"

Fujiro menahan nafas.

Entah ada apa, tiba-tiba saja sekelompok orang asing mengepung mobilnya, bahkan dua orang sudah menodong dirinya dan Satsuki.

"Maaf, tuan, apa mau kalian? Kalau kalian mau merampok kami, dengan senang hati kami berikan, tapi kumohon jangan celakai wanita itu." Ucap Fujiro.

"Cih, apa peduliku? Kami tak mau merampok kalian, kami hanya menunggu perintah dari bos kami." Ucap salah satu perampok.

Satsuki hanya bisa diam, tangannya mengelus perutnya yang besar, "Tetsu-kun, Shige-chan, kalian harus selamat!" batinnya.


"Otou-sama! Lepaskan mereka!" seru Tetsuya.

"Tidak sampai kau mendengarkanku." Ucap Hideki santai.

"Cih."

"Aku mau kau kembali ke rumah," lagi-lagi Tetsuya mendecih, "Tentu saja, kau boleh membawa putramu yang ini maupun anak yang akan lahir itu."

Tetsuya terbelalak, "Benarkah?!" Serunya.

"Tentu saja," Tetsuya menghela nafas lega, "Tapi, istrimu itu, kau tak boleh membawanya."

"Ap-kenapa?!" Tanya Tetsuya.

"Yah, aku akan mengakuimu dan juga anak-anakmu, tapi tidak untuk istrimu, aku tak pernah merestuimu dengannya. Tenang saja, aku sudah menyiapkan gadis lain untukmu, dan untuk bayimu, aku bisa meminta istri Fukui untuk menyusuinya. Jika kau menolak, aku takkan sungkan menghabisi nyawa kalian."

Tetsuya menggigit bibir bawahnya. Ini pilihan yang sulit, jika dia menerima tawaran ayahnya, dia harus meninggalkan Satsuki, tapi jika dia menolak, bukan hanya Satsuki, bahkan nyawa Ogiwara dan Fujiro akan terancam.

Tepat saat itu, Tetsuya melirik ke layar smartphone sang ayah yang memang sengaja dihadapkan kepadanya, dia melihat semua orang disana sudah tepar, seseorang berpakaian hitam berdiri di dekat kamera, membuatnya terlihat di depan layar. Orang asing berambut kuning itu menatap Tetsuya dan mengangkat sebuah papan.

"Tetsuya, jangan khawatir, istrimu baik-baik saja."

Tetsuya terkejut, orang itu mengangkat satu papan lagi.

"Fujiro sudah membawanya ke rumah sakit, dia akan segera melahirkan."

Papan itu diganti dengan papan lain.

"Cepatlah! Mereka menunggumu!"

Orang asing itu mengedip dan mematikan kamera, membuat layar smartphone itu hitam semua.

"Otou-sama, aku sudah menemukan jawabannya." Ucap Tetsuya.

"Hoo? Apa jawabanmu?" Tanya Hideki.

Tetsuya menarik nafas, menggenggam tangan Ogiwara kuat, "aku menolak!"

Hideki tampak cukup terkejut, namun dengan cepat memasang tampang datarnya, "Hhh…kuserahkan dia padamu, Fukui."

"Yes, my lord."Fukui mematikan video call dan menyimpannya, "Ne, botchan, kurasa aku harus berterima kasih," Tetsuya terbelalak melihat Fukui mengeluarkan sebilah pisau dari balik seragam butlernya, "Sudah lama aku tidak membunuh, fufufufufu."

Tetsuya langsung menggendong Ogiwara dan segera berlari, sementara Fukui mengejarnya, "Botchan, jangan lari, aku akan kesusahan membunuhmu."

"Tou-san, kiri!" Seru Ogiwara, Tetsuya bergeser ke kiri, tepat ketika satu pisau melintas di tempat tadi dia berada. Tetsuya melirik kanan kiri, mencoba mencari tempat bersembunyi. Bingo! ada hutan di depan matanya, Tetsuya segera berlari masuk dan bersembunyi dibalik sebuah pohon besar.

"Shige-kun, jangan takut, Tou-san akan melindungimu." Bisik Tetsuya di telinga Ogiwara.

"Ya, aku juga akan membantu Tou-san." Balas Ogiwara.

Tetsuya mengangguk. Pelukannya pada Ogiwara semakin kuat. Deru nafas Tetsuya yang memburu terdengar jelas di telinga Ogiwara, detak jantung yang begitu cepat seperti sedang lomba marathon cukup untuk memberitahukan Ogiwara seberapa besar ketakutan yang dirasakan sosok yang biasanya sangat berani ini.

Tetsuya, di sisi lain, sama sekali tidak takut. Dia tidak takut mati, tapi yang dia takutkan adalah kalau anak ini, anak yang bukan darah dagingnya, juga mati. Mungkin kalian heran, kenapa Tetsuya takut kalau anak itu mati? Alasannya sederhana. Anak ini bukan anaknya, yang berarti Tetsuya bertanggung jawab penuh pada orangtua anak ini. Bagaimana kalau orangtuanya tiba-tiba mencarinya dan menanyakan soal anaknya pada Tetsuya?

Srek. Srek. Srek.

Tetsuya menegang. Ogiwara mencengkeram kaos Tetsuya.

"Botchan, dimanakah dirimu~" terdengar suara Fukui dari kejauhan.

Tetsuya menutup mulut Ogiwara. Pelan-pelan, dia memakai hoodienya dan berusaha untuk berkamuflase dengan sekitarnya. Untung saja Tetsuya memakai jaket berwarna hitam.

Krak.

Sial! Batin Tetsuya panik.

"Ah, mitsuketa (Ketemu)," Fukui menyeringai. Tetsuya segera berlari, semakin lama semakin masuk ke hutan. Fukui terus mengejarnya, matanya melotot dan berputar liar. Tetsuya tau, Fukui dulunya adalah seorang assassin berdarah dingin, dalam sehari dia bisa membunuh 20 orang lebih. Pria yang dulu dikenal sebagai 'harimau lapar' itu memang ahli dalam serangan jarak jauh. Seandainya tak ada Ogiwara yang memberitahukan arah pisau sang butler, Tetsuya pasti sudah mati sekarang.

Tetsuya menoleh ke belakang, memastikan jaraknya sudah cukup jauh dari Fukui. Namun yang dilihatnya hanyalah betis kirinya yang tertancap pisau dan mengucurkan darah segar. Hey, sejak kapan?! Kakinya langsung gemetar dan rasa sakit yang hebat langsung menyetrum tubuhnya, keseimbangannya mulai goyah.

"Tou-san, awas!"

Tetsuya benar-benar lengah, sebuah pisau lagi-lagi menancap ke betis kanannya. Cih, dia lupa kalau Fukui mempunyai gaya membunuh yang berbeda dari kebanyakan pembunuh. Jika pembunuh kebanyakan memilih untuk membunuh korbannya dengan cepat, Fukui lebih memilih untuk melukai anggota gerak korbannya dahulu. Setelah tak bisa bergerak, barulah pelan-pelan dibunuhnya dengan cara yang sadis. Tak jarang ditemukan mayat-mayat yang anggota tubuhnya tak lengkap.

"Tou-san, turunkan aku!" seru Ogiwara. Dia tak tega kalau Tetsuya harus berlari sambil menggendongnya, apalagi dengan kedua kaki yang terluka, bisa-bisa lukanya malah semakin parah.

"Tidak, Shige-kun," Tetsuya terus berlari, "Tou-san tak mau kau muntah lagi…" bisiknya.

Ogiwara hanya terdiam, ah, dia lupa, dia kan hanya pengganti, dia hanya bisa mengikuti apa yang Tetsuya lakukan. Tapi, bisakah dia berharap Tetsuya mau mendengarkannya, kali ini saja, sebagai Ogiwara Shigehiro?

"Tapi, kalau kau terus memaksakan diri, kau bisa mati!"

Mati ya? Hahaha, apa ini yang disebut mati? Tetsuya merasakan pandangannya mulai mengabur, rasa sakit yang tak tertahankan di kedua betisnya juga mulai tak terasa lagi. Menurut apa yang didengarnya dari teman lamanya, kondisi seperti itu biasa dialami oleh orang sekarat, berarti, Tetsuya akan mati?

Detak jantung Ogiwara terasa sangat kuat di dadanya, Tetsuya menunduk, Ogiwara memeluknya erat, kedua matanya terpejam, dan ada setitik air mata di sudut matanya. Tetsuya mendekap Ogiwara semakin kuat. Tidak, kalau memang harus mati, Tetsuya ingin mati setelah melihat putranya yang akan lahir, dan setidaknya, dia harus memastikan anak yang digendongnya ini selamat. Rasanya, Tetsuya perlu berterima kasih pada didikan ayahnya, akibat didikannya, fisiknya jauh lebih kuat daripada kelihatannya.

Tetsuya mempercepat langkahnya, ada belokan di depan, ini kesempatannya! Tetsuya akan berpura-pura berlari lurus, ke arah sungai, lalu berbelok secara tiba-tiba, dan Fukui takkan sempat untuk berbelok.

Tetapi, rencana Tetsuya yang cerdik itu kalah dengan sebuah batu kecil. Tepat sebelum berbelok, Tetsuya menginjak sebuah batu kecil. Keseimbangannya goyah, dan Tetsuya jatuh terperosok menuju sungai.

Tetsuya langsung memeluk Ogiwara erat dan menggunakan tubuhnya untuk melindungi Ogiwara dari bebatuan, Ogiwara sendiri tak tau harus bagaimana, dia masih terkejut.

"Tou-san!" Seru Ogiwara ketika punggung Tetsuya menghantam batu dalam perjalanan turun. Tetsuya menggigit bibirnya, matanya melirik ke sungai, tiba-tiba dia mendapat ide.

"Ogiwara-kun, apa kau…uhuk…percaya pada Tou-san?" Tanya Tetsuya.

Ogiwara menatap Tetsuya. Darah sudah mulai mengalir dari mulut dan kepalanya, sekujur tubuhnya sudah terluka dan memar, keadaan Tetsuya sudah cukup parah saat ini, apa lagi yang direncanakannya?

"Aku percaya." Jawab Ogiwara mantap. Ya, dia selalu percaya pada Tetsuya.

"Bagus," Tetsuya tersenyum, "Kalau begitu, dengarkan instruksiku dan patuhlah, oke?"

"Un!"


Fukui menatap kearah tempat Tetsuya jatuh. Diatas rumput, tampak jejak darah yang membentuk sebuah garis lurus. Dia melompat ke bawah dan mengikuti jejak itu ke sungai, namun begitu menemukan objek yang dicarinya, Fukui harus rela mendesah kecewa.

Tetsuya dan Ogiwara terbaring di sungai itu, setengah tubuh mereka terbenam dalam sungai, tampak darah memenuhi tubuh mereka. Mata keduanya tertutup dan mulut Tetsuya sedikit terbuka. Keduanya sama sekali tak bergerak, bahkan ketika seekor ikan berenang masuk ke dalam baju Tetsuya.

Fukui mendekati kedua tubuh itu. Pisau yang tertancap di betis Tetsuya dicabutnya dan ditusuk kembali ke tangannya. Tak ada reaksi. Tetsuya sama sekali tak bergerak, Fukui mendekati Ogiwara, dicubitnya lengan anak itu dengan kuat, tak ada gerakan pula. Kesal, Fukui menendang Ogiwara.

"Cih, mereka sudah mati." Geramnya, "Setidaknya pekerjaan yang diberikan bos sudah selesai."

Fukui mengambil smartphonenya dan menekan tombol cepat.

"Moshi-moshi?"

"Moshi-moshi, bos."

"Bagaimana?"

"Mati," Fukui menginjak kepala Ogiwara, "mereka terjatuh ke jurang dan berakhir di sungai."

"Kau yakin mereka sudah mati? Tetsuya itu seperti kancil, Fukui. Dia punya seribu ide untuk menyelamatkan diri."

"Tenang saja bos, botchan tidak bergerak sama sekali ketika aku menusuk tangannya. Bahkan bocah itu tak bereaksi saat kucubit tangannya. Anak kecil, walau sepintar apapun dia berpura-pura mati, pasti akan langsung bangun saat merasa sakit. Mereka benar-benar mati, bos, kepalaku taruhannya."

Terdengar helaan nafas dari lawan bicaranya, "Baiklah, kalau mereka tidak mati, aku akan memancungmu. Kau tak boleh lari, mengerti?"

"Tentu saja. Aku ini pembunuh yang tak pernah ingkar janji, dan tak pernah gagal membunuh target." Fukui mematikan teleponnya. Dia berlutut di depan tubuh Tetsuya, dijambaknya rambut Tetsuya dan mendekatkan wajah sang bluenette ke wajahnya. Ikan yang tadi menyelinap masuk ke baju Tetsuya terjatuh dan berenang pergi.

"Sayang sekali kalian sudah mati," bisiknya, "Padahal aku sudah merencanakan pembantaian kalian."

Kepala Tetsuya didorongnya, Fukui berdiri dan berlalu dari sana.

Lima menit kemudian, permukaan air mulai beriak, Ogiwara bangun dari posisi berbaringnya dan segera membangunkan Tetsuya, "Tou-san, Tou-san!"

Tetsuya membuka matanya, terbatuk-batuk sebentar, kemudian tangannya segera meraih tangan Ogiwara yang membiru, "Sakit?" Tanyanya.

"Sakit, tapi jauh lebih sakit kalau ditusuk." Jawab Ogiwara. Dia berdiri dan menarik mayat rusa dari balik batu, "Darimana kau dapat ide ini, Tou-san?"

Tetsuya menunjuk kepalanya sambil tersenyum kecil. Apa yang sebenarnya terjadi adalah, Tetsuya dan Ogiwara tidak mati. Mereka menangkap seekor rusa dan menuangkan darahnya ke sekujur tubuh mereka, membuat mereka seolah-olah terluka parah, kemudian kembali ke posisi dimana mereka terjatuh dan tak bergerak, apapun yang terjadi.

Tetsuya tersenyum dan berdiri, "Sepertinya Fukui sudah pergi, ayo kita ke rumah sakit. Ibumu sudah menunggu."

"Tou-san!" Ogiwara segera menahan Tetsuya yang hampir terjatuh, astaga, tubuhnya memang sangat berat!

"Maaf," Bisik Tetsuya.

"Tou-san, kau tak apa?" Tanya Ogiwara khawatir.

"Tou-san tak apa," Tetsuya mengernyit menahan sakit di betisnya, "Shige-kun, tolong bantu Tou-san, bisakah? Rumah sakit di seberang hutan ini."

Ogiwara mengerti maksud Tetsuya. Tak banya bicara lagi, Ogiwara membantu Tetsuya berjalan, walau tingginya hanya mencapai pinggang Tetsuya, walau tenaganya tidak sebesar orang dewasa, setidaknya dia harus bisa membawa Tetsuya sampai ke rumah sakit.


Para suster heboh.

Bagaimana kau tidak heboh kalau ada seorang pria dan anak kecil tiba-tiba masuk ke rumah sakit dengan darah di sekujur tubuh mereka? Mereka lebih mirip zombie daripada korban kecelakaan.

Tanpa mempedulikan suster yang menjerit-jerit, keduanya menuju meja resepsionis, sang resepsionis membeku di tempat saking takutnya.

"Neesan," Seru Ogiwara, "Dimana pasien bernama Akashi Satsuki dirawat?!"

Dengan tangan gemetar, sang resepsionis menjawab, "A-Akashi Satsuki-san masih menjalani operasi di lantai tiga-"

Tanpa menunggu sang resepsionis selesai bicara, Ogiwara membantu Tetsuya menuju lift ke lantai tiga. Tak perlu repot-repot mencari, lantai tiga adalah lantai yang berisi ruang operasi. Dan hari itu, hanya Satsuki yang menjalani operasi. Cukup dengan menemukan Fujiro-

"Tetsuya! Shigehiro!"

Tuh, ketemu.

Fujiro segera menyongsong kedua orang itu, "Apa yang terjadi?" Tanyanya sembari membantu Tetsuya berdiri.

"Nanti saja ceritanya, kita harus mengobati Tou-san!" ujar Shigehiro.

"Ada satu ruang kosong lima pintu dari ruang operasi ibumu, kita bawa ayahmu kesana." Ujar Fujiro.

"Uh…Satsuki…" gumam Tetsuya sembari melirik Fujiro.

"Satsuki masih menjalani operasi caesar, dia kesulitan melahirkan normal." Jelas Fujiro.

"Sou…ka?" Tetsuya pingsan.

"Tou-san!" Seru Ogiwara.

"Ayo, kita harus cepat!"


Tetsuya membuka matanya.

"Ah, Tou-san, kau sudah sadar?"

Tetsuya mengangkat kepalanya, Fujiro tengah membebat tangan Ogiwara, sementara anak itu duduk di sampingnya.

"Kau beruntung lukamu tidak parah, hanya kaki dan tanganmu yang dijahit, Shigehiro hanya memar dan lecet sedikit." Jelas Fujiro, "Apa yang terjadi?"

"Ceritanya panjang," Jawab Tetsuya, dia menceritakan semuanya yang terjadi, dari awal hingga akhir, tanpa menyembunyikan apapun.

Fujiro hanya bisa menggelengkan kepala. Dia tak menyangka ada orangtua yang tega membunuh anak sendiri, untung saja otaknya cerdas, kalau tidak, mungkin bayi yang dilahirkan Satsuki akan terlahir sebagai anak yatim.

"Fujiro-san," Tetsuya bangun dan duduk di samping tempat tidur, "Aku mau melihat Satsuki-san. Kumohon."

Fujiro menatap Tetsuya sejenak, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu, "Aku mengerti, aku akan mencari kursi roda."

"Tak bisakah aku berjalan saja?" Tanya Tetsuya.

"Tidak, jahitannya bisa terbuka nanti." Jawab Fujiro.

Ogiwara menatap pintu yang telah tertutup rapat, kemudian melirik Tetsuya yang duduk di sampingnya. Kedua tangannya yang berpegangan pada tepi tempat tidur mencengkeram ranjang dengan kuat, berkali-kali Ogiwara menoleh kepada Tetsuya dan membuka mulutnya, namun batal dan kembali menutup mulut. Tetsuya bisa melihat kegundahan di hati anak angkatnya.

"Ada apa, Shige-kun? Kau tampak gelisah."

Ogiwara tersentak, dia melirik Tetsuya ragu, kemudian membuka mulut dan bertanya, "Tou-san, sebenarnya, siapa aku ini bagimu?"

Tetsuya terkejut, ini kedua kalinya Ogiwara menanyakan hal yang sama, "Siapa kau bagiku? Tentu saja anakku. Bukankah aku pernah menjawab pertanyaan ini beberapa bulan yang lalu?"

"Kalau begitu, bolehkah aku meminta sesuatu?" Tanya Ogiwara.

"Tentu saja, apa itu?"

"Bisakah," Ogiwara menggigit bibir bawahnya dan menunduk, "Bisakah kau memandangku sebagai Ogiwara Shigehiro, bukan Akashi Shigehiro?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari hati Ogiwara yang paling dalam. Tetsuya tak menyangka permintaan seperti itu akan keluar dari mulut anak berusia lima tahun.

"Aku hanya meminta, bukan menuntut. Kalau memang tak bisa, ya, tak masalah." Ucap Ogiwara.

Tetsuya menatap sosok anak kecil yang duduk di sampingnya dengan tatapan sendu, permintaan itu tidak salah, dia memang telah berlaku egois, menganggap Ogiwara sebagai Akashi Shigehiro, walaupun anak itu sudah menolaknya. Tetsuya mengerti, bocah itu lelah, lelah menjalani dua peran, sebagai Ogiwara Shigehiro, si anak hilang yang numpang tinggal di rumahnya, dan sebagai Akashi Shigehiro, anak keluarga Akashi.

Ogiwara terkejut ketika Tetsuya menarik tubuh mungilnya ke dalam pelukan hangat, padahal dia kira Tetsuya akan marah dan mengusirnya. Ogiwara menatap kedua mata Tetsuya, hangat.

"Maafkan Tou-san, Shige-kun," Ini pertama kalinya dia mendengar orang dewasa berkata 'maaf' kepada anak kecil, "Tou-san memang egois, tak pernah memikirkan perasaanmu. Tentu saja bisa, toh baik Ogiwara Shigehiro ataupun Akashi Shigehiro, kalian berdua sama saja, kalian sama-sama putraku."

Senyum lega terukir di wajah Ogiwara, "Arigatou, Tou-san."

Fujiro masuk dengan sebuah kursi roda. Bersama Ogiwara, keduanya membantu Tetsuya untuk duduk ke kursi roda. Ogiwara ngotot ingin mendorong Tetsuya (Setengah tulus, setengahnya lagi berharap bisa meluncur diatas kursi bersama Tetsuya), namun Fujiro melarangnya. Maka, dengan perasaan sedikit kecewa, Ogiwara berjalan di samping Tetsuya sambil menyeret langkah (dia menolak ketika Tetsuya menawarkan diri untuk memangkunya).

"Bagaimana keadaan Satsuki-san?" Tanya Tetsuya.

"Operasinya berhasil," Jawab Fujiro.

"Anakku.."

Fujiro tersenyum dan mengacak rambut Tetsuya, kursi roda didorong ke depan ruang ICU, "Selamat ya, anakmu laki-laki."

Tetsuya terdiam sejenak, dia menunduk, "Laki-laki…"

"Doushta, Tetsuya?" Tanya Fujiro.

Tetsuya menggeleng, "Aku…aku terlalu bahagia. Akhirnya, aku menjadi ayah lagi." Bisiknya sembari menatap Ogiwara. Ogiwara nyengir. Kedua tangan mungilnya melingkar ke leher Tetsuya, "Selamat ya, Tou-san."

"Lalu, dimana mereka?" Tanya Tetsuya.

"Mereka ada di ICU, Satsuki sempat kritis tadi, dan bayimu masuk inkubator." Fujiro duduk di kursi ruang tunggu, "Dokter masih ada disana, jadi kita harus menunggu."

Ogiwara mengucek matanya dan menguap, Tetsuya mengangkat Ogiwara ke pangkuannya, "Sudah ngantuk?"

Tak ada jawaban. Ogiwara hanya mengangguk sambil menguap kecil. Tetsuya mendekap tubuh mungil itu, kepala Ogiwara disandarkan ke bahunya, tangannya menepuk-nepuk lembut paha bocah berambut oranye itu, "Tidurlah," bisiknya.

Ogiwara menggeleng, "Ngga mau, aku mau menunggu Kaa-san dan dede bayi." Jawabnya.

"Nanti Tou-san bangunkan, oke?"

Menguap lagi, Ogiwara pun menyerah pada rasa kantuknya. Dalam waktu 5 menit, bocah itu sudah tertidur dalam pelukan Tetsuya.

"Kau juga," Fujiro menepuk bahu Tetsuya, "Kau pasti lelah, beristirahalah."

Tetsuya tersenyum kecil. Dia mengangguk. Fujiro melepaskan jaketnya dan menyelimuti Ogiwara dan Tetsuya, "Tidurlah dengan nyenyak. Besok, kau bisa bertemu anakmu."


"…ya…Tetsuya…bangunlah."

Tepukan lembut di bahu cukup untuk membangunkan pemuda bersurai biru langit itu. Ogiwara duduk di pangkuannya, jaket merah berhoodie hitam dengan gambar singa yang lucu di punggungnya terikat di pinggang, menyisakan selembar kemeja berwarna biru muda membungkus tubuh mungil itu.

"Sudah pagi ya?" gumam Tetsuya.

"Satsuki sudah menantimu, kau mau masuk?" Tanya Fujiro.

Tetsuya mengangguk, Fujiro mendorong kursi rodanya menuju salah satu kamar inap di lorong itu. Ogiwara setia membututinya dari belakang (Lagi-lagi menolak ketika Tetsuya hendak memangkunya).

Begitu pintu terbuka, Tetsuya bisa melihat Satsuki yang terbaring lemah diatas ranjang, "T-Tetsu-kun, kau…" Satsuki tampak terkejut melihat keadaan Tetsuya.

Tetsuya mendorong sendiri kursi rodanya menuju ranjang, digenggamnya tangan Satsuki yang tidak terpasang infus, "Aku baik-baik saja, Satsuki-san, tak perlu khawatir."

"Kaa-san, Kaa-san," Ogiwara memanjat ranjang dan menatap Satsuki dengan mata berbinar-binar, "Mana dede bayinya?" Tanya anak itu.

Satsuki mengelus kepala Ogiwara dengan lembut, kemudian menoleh ke sampingnya, sisi yang berlawanan dengan Tetsuya dan Ogiwara berada. Ogiwara langsung turun dari ranjang, mendorong kursi Tetsuya pelan-pelan ke arah boks bayi yang berada di sana. Tetsuya mengulurkan tangannya dan menggendong bayi tersebut.

Bayi mungil itu menggeliat, menyamankan diri dalam pelukan Tetsuya. Mata Tetsuya berbinar melihat rupa bayinya. Rambutnya berwarna merah menyala, kulitnya putih dan halus, seperti bulu domba. Dan ketika bayi mungil itu membuka matanya, Tetsuya langsung terpana, mengagumi kedua iris rubi yang dianugerahkan kepada bayi mungilnya.

"Mirip…" Bisik Tetsuya.

"Ya, aku tau." Satsuki menunduk.

Ogiwara memperhatikan wajah si bayi. Si bayi menguap, mulut mungilnya terbuka, dengan usil, Ogiwara mengarahkan jari telunjuknya ke mulut adiknya.

"Shige-kun." Tetsuya memperingatkan.

"Hehehe, gomen, dedenya lucu sih." Jawab Ogiwara.

"Ne, Tetsu-kun, kau sudah menentukan nama untuknya?" Tanya Satsuki.

"Nama ya?" Tetsuya menatap paras si mungil. Wajah bayi mungil itu benar-benar mengingatkannya pada anaknya, begitu pula keseluruhan fisiknya. Mirip dengan ayahnya? Cih, untuk apa dia memikirkan pria tua sinting itu?

"Karena dia lahir menjelang natal, kuberi dia nama Noel." Jawab Tetsuya.

Satsuki cengo, Fujiro memasang poker face, Ogiwara bingung.

"Akashi…Noel?" Tanya Fujiro.

"Ngga cocok, Tetsu-kun." Protes Satsuki. Maunya sih melempar bantal ke wajah Tetsuya, tapi pemuda itu kan sedang menggendong anaknya.

"Aku bercanda." Jawab Tetsuya.

"Ngga lucu." Satsuki ngambek.

"Baiklah," Ogiwara mendorong kursi roda Tetsuya lebih dekat ke ranjang sesuai permintaan sang ayah, Tetsuya tersenyum kepada Satsuki, "Kuberi dia nama Seijuurou."

"Akashi Seijuurou?" Tanya Satsuki.

"Ya," Tetsuya menatap jemari sang bayi yang menggenggam jarinya, "Sei berarti imperial perintah, Juu berarti senapan, dan Rou berarti berjuang. Aku harap, anak ini kelak akan menjadi seorang pria yang berjuang dengan senapannya diatas sebuah imperial perintah."

"Seijuurou-kun…Sei-chan…" bisik Satsuki.

"Eh?"

"Panggilan Sei-chan sangat cocok untuknya." Satsuki menatap bayi yang dinamai 'Seijuurou' itu, tangannya mengelus pipi sang bayi dengan lembut, "Sei-chan, cepat besar ya."

"Yey! Aku dapat adik!" Seru Ogiwara senang.

Tetsuya dan Satsuki tertawa kecil. Dengan tangan yang tidak menggendong Seijuurou, Tetsuya mengelus kepala Ogiwara dengan lembut, "Shige-kun harus jadi kakak yang baik buat Seijuurou-kun, ya?"

"Tentu saja! Aku akan mengajarkan basket pada Sei, biar aku punya teman main nantinya." Ogiwara menempelkan kepalan tangannya ke dada.

Fujiro tersenyum kecil, dalam hati dia merasa lega, karena berhasil membawa Satsuki ke rumah sakit dengan selamat. Dan sekarang, Seijuurou telah lahir.

"Satsuki-san," Tetsuya menggenggam tangan Satsuki dan mencium kening istrinya, "Terima kasih karena telah melahirkan Seijuurou-kun." Bisiknya.

"Sama-sama, Tetsu-kun," Satsuki menatap Seijuurou, "Terima kasih karena bersedia untuk dilahirkan, Sei-chan."

Bayi Seijuurou bersin, seisi ruangan kembali tertawa.


"Apa?" Hideki membanting vas bunga di sebelahnya, "Tetsuya masih hidup?!"

Orang yang berada di seberang sana menjawab dengan suara gemetar, "I-Iya, tuan, saya baru saja kembali dari rumah sakit, dan saya melihat Tetsuya-san tampak sehat."

Hideki mematikan panggilannya, dia berbalik dan menatap Fukui yang tampak tenang, dia baru mau membuka mulut ketika Fukui mengangkat tangannya, mengambil pisau buah dari atas meja, dan menusukkan pisau itu ke lehernya. Hideki menatap tajam tubuh Fukui yang kini terbaring tak bernyawa di kakinya.

"Buang mayat orang ini ke laut. Ikat dengan batu kalau perlu, agar mayatnya tidak mengambang ke permukaan." Perintah Hideki. Pelayan yang ada di sana membungkuk dan menyeret mayat Fukui keluar ruangan.

"Tetsuya," Hideki memajukan salah satu bidak shogi diatas papan, "Kali ini kau menang, tapi lain kali," bidak 'raja' men-skak raja lawan, "Kau yang akan kalah."


"Begitu rupanya?" Taiga menggigit apel ke-15 nya, "Jadi, ayah Ojisan berusaha untuk membawa Ojisan, atau paling tidak, Sei, kembali ke rumahnya?"

Ogiwara mengangguk, "Walaupun dia sudah mengangkat Chihiro-Ojichan menjadi penerusnya, dia tetap tak berhenti. Dia ingin penerus yang lahir dari darahnya sendiri, bukan orang lain."

Keheningan panjang mengisi ruang diantara mereka. Taiga sibuk memikirkan cerita Ogiwara, benar-benar tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Dia pikir, kelahiran sepupunya itu sama saja dengan anak-anak biasa, ternyata ada sebuah kejadian yang bahkan melibatkan Ogiwara juga. Otaknya berputar, apa yang dipikirkan Hideki? Kenapa dia tega melakukannya?

Taiga berdiri dari duduknya, "Kurasa sudah waktunya aku pulang, bisa-bisa Oyaji mendampratku kalau pulang terlalu malam. Titip salam buat Sei ya"

"Ya, tak masalah."

Ogiwara mengantar Taiga hingga ke depan gerbang, "Sampai jumpa besok."

"Ough, jaa~" Taiga tersenyum kepada Ogiwara dan berlari menyusuri jalan. Ogiwara menatap kepergian Taiga, kemudian kembali masuk ke dalam gerbang,

"Selamat tinggal, Shigehiro."


Catatan kecil: arti nama Seijuurou itu hanya terjemahan (maksa), jadi itu bukan arti nama Akashi di dunia aslinya, ya.


Halo ^^

Maaf kelamaan update X3 kemarin Fei sibuk ngerjain fic buat challenge, jadi yang ini terbengkalai :v /ya trus?

Ini adalah special chapter yang dijanjikan, maaf kalau ga jelas, tapi emang gitu kok ceritanya =,=

kenapa di sini ada adegan berdarah? karena Fei mau menonjolkan sifat kejam Hideki, jadi ga sekedar jahat aja, dia itu lebih dari jahat :D /dibegal

Terima kasih untuk sorahime345, Renka Sukina, kapten Pelangi, RedBlack Shippers, Kurotori Rei, raralulu, ShizukiArista, SkipperChen, dan Kojima Miharu.

Jaa, review please...