Suara derap langkah kaki yang penuh semangat memecah keheningan pagi. Sosok anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun berlari menembus angin pagi, membiarkan kulitnya terpapar udara segar. Manik crimson itu berbinar semangat, menemani lekuk bibirnya yang tertarik ke atas.
"Yo, Sei-chan"
Seijuurou menghentikan laju larinya dan menoleh ke bangku taman, dimana seorang pemuda berponi belah tengah duduk berselonjor kaki dan tangan tersandar di sandaran kursi.
"Yo, Kazu-nii, matiin AC-nya gih, bau." Ledek Seijuurou sambil menghempaskan pantatnya ke sebelah Kazunari.
"Mou, Sei-chan kejam." Kazunari menggembungkan pipi.
"Sudahlah, Kazu-nii, kau mirip cewek PMS nih jadinya."
"Hei!"
Seijuurou tertawa kecil, "Jadi, sejak kapan Kazu-nii ada disini? Aku tidak melihatmu keluar tadi."
"Aku kan keluar lebih dulu, soalnya," Kazunari menatap langit yang mulai terang, "aku sedikit tegang sih."
Seijuurou tetap diam dan mendengarkan, "Hari ini aku akan berhadapan dengan kakakku sendiri, jujur saja, rasanya agak…er…aneh? Mungkin? Aku merasa segan melawannya." Jelas Kazunari.
"Kazu-nii, aku yakin Shin-nii juga sangat menantikan waktu untuk melawanmu di pertandingan resmi. Dari semalam dia terus-terusan mengigau 'aku tak akan kalah, Kazu!' atau 'kemenangan milikku' dan semacamnya. Aku sampai kurang tidur nih, apalagi semalam saat aku hampir tertidur, Shin-nii malah kentut."
Tawa keduanya pecah, Kazunari memegangi perutnya yang sakit karena kebanyakan tertawa begitu ingat suara kentut kakaknya yang bernada lagu 'Nerai Doori no Destiny'nya Oni Daisuke dan wangi kentut yang-oh-semerbak-sekali.
"Cih, kalian berisik banget pagi-pagi."
Seijuurou dan Kazunari menoleh ke sumber suara, "Yo, Makoto/Makoto-nii." Sapa keduanya.
Hanamiya Makoto berdiri di depan mereka dengan kedua tangan saling bersilangan di depan dada, "Kalian mengganggu acara lari pagiku."
"Makoto, apa kau akan menonton nanti?" Tanya Kazunari, mengabaikan sindiran Makoto.
"Tentu saja baka," Makoto menjulurkan lidahnya, "aku tuh paling suka kalau ada kakak beradik yang kukenal bertarung untuk pihak yang berbeda, jadi susah menentukan siapa yang menang." Jelasnya sambil mengelap keringat dengan handuk abu-abu yang dikalungkan di lehernya.
"Oh, begitu ya? Kalau begitu aku akan mencarimu dulu sebelum pertandingan dimulai." Ucap Kazunari senang.
"Ga dicari juga dong!" Amuk Makoto, "cih, kau membuatku pusing saja, aku duluan ya Kazu, Sei." Ucapnya sembari berlalu.
"Kita pulang juga?" Tanya Kazunari.
"Un."
Disclaimer: Kurobas punya Fujimaki-sensei. Akakuro punya Fei #plakk.
Rate: T+
Pair: Father!Kuroko X Son!Akashi.
Warning: Violence, bully, children abuse, blood, typo(?).
Selamat membaca ^^
Seijuurou mengikat tali sepatunya dengan kuat, memastikan talinya takkan lepas ketika ia bermain nanti.
"Haaah, tak kusangka hari ini tiba juga…" Desah Shintarou.
"Maa maa, Kau kan akan menghadapi adikmu sendiri, masa kau mau menunjukkan wajah kusutmu?" Ledek Hideyoshi.
"Mukaku ngga kusut-nodayo!"
Ogiwara meregangkan tubuhnya dan duduk di samping Seijuurou, "ada apa, Sei?" Tanyanya melihat Seijuurou bengong.
"Ngga, aku cuma berpikir, kalau kita memenangkan pertandingan ini, apa pelatih mau meminjamkan pialanya?" gumam Seijuurou.
"Mau buat apa?" tanya Taiga.
"Ngga ada, aku cuma mau menunjukkannya ke Tou-san." Jawabnya pelan.
"Tenang saja, Akashi, aku akan membantumu meminta izin ke pelatih!" Seru Usui.
"Ya, kita harus biarkan ayah Sei-chan melihatnya." Tambah Agata.
"Arigatou Yoshi-nii, Tatsuo-nii." Seijuurou tersenyum senang.
"Ayo, apa kalian sudah siap?" Tanya Kozo Shirogane begitu membuka pintu ruang ganti.
" 'Osu!" Seru semua orang.
"Ayo!"
Sorakan penonton memenuhi gedung tempat final Inter-High digelar ketika kedua tim memasuki lapangan dan mulai berbaris. Ya, kedua bintang hari ini adalah SMA Teiko dan SMA Shuutoku.
"Katanya ada pemain Teiko yang baru berusia 10 tahun." Bisik seorang gadis kepada temannya.
"Ah, yang bener?" Tanya temannya.
"Iya, dia siswa dan pemain termuda di Teiko."
"Cih, berisik." Gumam Makoto yang berada di dekat gadis-gadis itu kesal.
"Ne, Makoto, siapa yang kau dukung?" Tanya Miwa.
"Hm?" Makoto menatap Seijuurou yang berjaga di dekat garis, "Entahlah. Kedua tim sama-sama kuat, aku bahkan tak bisa memprediksi siapa yang akan menang."
"Hee?" Miwa menatap adiknya heran.
"Sei-chan," Kazunari menatap bocah kecil yang sedang menjaganya, "ayo bertanding dengan adil."
"Oke," Jawab Seijuurou.
.
.
.
(karena Fei lagi malas mau ngetik jalan pertandingan, jadi kita skip aja ya… #dibegalreaders)
.
.
.
"Kita menang!"
Seijuurou berjalan pulang bersama teman-teman setimnya dan Kazunari, piala kemenangan winter cup bergulir dari satu tangan ke tangan lain, sama-sama mengagumi kilauan piala yang diperebutkan seluruh sekolah di Jepang.
"Kali ini aku memang kalah, niichan, tapi kali berikutnya aku pasti menang!" gerutu Kazunari.
"Hmph, aku tak akan kalah dari orang yang tak mempercayai nasib sepertimu-nodayo."
"Aku bukan penggila Aho-asa sepertimu.."
"OHA-ASA! ITU OHA-ASA, BAKAZUNARI!"
"Aaah, seandainya ayahku masih hidup, dia pasti akan bangga sekali padaku…" Taiga tersenyum senang sambil menggenggam kalungnya.
"Yah, kurasa aku juga." Sahut Ogiwara.
"Eh?" Seijuurou menunduk, "Yah, tali sepatuku lepas lagi," bisik Seijuurou sambil sweatdrop, kemudian menunduk untuk mengikat tali sepatunya. Setelah memastikan tali sepatunya terikat dengan aman, Seijuurou berdiri untuk menyusul teman-temannya, namun sejenak, perhatiannya teralihkan ke jalan.
"Buzzer beater pertama Sei tadi-"
"TOU-SAAAAAN!"
Semuanya menoleh, mereka terkejut setengah mati melihat Seijuurou berlari menyebrang jalan tanpa pikir panjang, sementara sebuah truk melaju kencang kearahnya.
"SEI/SEIJUUROU/SEI-CHIN/SEICCHI AWAS!"
CKIIIIT
BRAKK
"SEI/SEIJUUROU/SEI-CHIN/SEICCHI!"
"MOBILKUUUUUU!"
Eh? Apa yang terjadi? Ayo kita lihat versi lelet(?)nya.
.
.
.
Seijuurou berdiri untuk menyusul teman-temannya, dan ketika dia menoleh ke jalan, dia melihat sosok pria bersurai biru langit yang familiar berjalan keluar dari toko buah-buahan. Wajahnya tampak datar. Seijuurou tak perlu diberitahu lagi, itu sudah pasti ayahnya.
"TOU-SAAAAAN!"
Tanpa pikir panjang, Seijuurou berlari mengejar Tetsuya. Dia hanya ingin memastikan kalau ayahnya sudah melupakan traumanya, dadanya berdegup senang melihat Tetsuya menoleh kearahnya, namun rasa senang itu lenyap melihat ayahnya membelalak ketakutan.
"SEI/SEIJUUROU/SEI-CHIN/SEICCHI AWAS!"
"Are?" Seijuurou melirik ke kiri, dia terkejut bukan main mendapati dirinya berada diambang kematian, sebuah truk akan menabraknya. Supir truk itu mabuk dan lepas kendali. Seijuurou tau dia harus segera melarikan diri, namun entah kenapa tubuhnya tak mau bergerak.
"Ahaha, aku akan mati sebelum mencapai Tou-san…" kekeh Seijuurou pasrah. Tiba-tiba dia merasa tangannya ditarik seseorang hingga dirinya menubruk orang itu hingga terjatuh. Pada saat yang sama truk itu oleng ke kiri dan berakhir menabrak tiang listrik.
.
.
.
"Ariga-" Seijuurou terbelalak.
Tetsuya mendekapnya erat, begitu erat sampai rusuknya terasa akan patah, mata Tetsuya terbelalak dalam kengerian, bahkan Seijuurou bisa merasakan tubuh sang ayah bergetar hebat.
"Yokatta…" bisiknya gemetar.
"T-Tou-san…" Panggil Seijuurou. Dia benar-benar senang sampai rasanya ingin melompat setinggi-tingginya, berapa lama dia tidak didekap seperti ini?
Tetsuya melepaskan dekapannya dan menatap Seijuurou, "Seijuurou-kun, daijobu? Apa kau terluka?" Tanyanya khawatir, Tetsuya meraba dan meneliti setiap inci tubuh bocah itu, memastikan tak ada luka di tubuh anaknya.
"Un. Daijobu desu." Jawab Seijuurou, "Tou-san, bagaimana kabarmu?"
"Tou-san baik-baik saja, terima kasih sudah menyelamatkan Tou-san, Seijuurou-kun." Jawab Tetsuya sembari tersenyum tipis, "Ngomong-ngomong, kau dari mana?"
"Baru pulang dari pertandingan basket. Oh ya, Tou-san, coba tebak!" Seru Seijuurou.
"Apa?" Tanya Tetsuya bingung.
"Kami menang, kami memenangkan Inter High! Aku berhasil mencetak buzzer beater pertamaku, Tou-san!" Serunya semangat.
Tetsuya tersenyum dan mengelus kepala Seijuurou dengan sayang, "Kau hebat, Seijuurou-kun, Tou-san bangga padamu."
Dada Seijuurou serasa meluap. Dia melesat masuk ke dalam dekapan Tetsuya dan memeluk Tetsuya erat, Tetsuya pun balas memeluk Seijuurou, mengelus kepala merah yang bersandar di dadanya.
Murasakibara dan Taiga yang baru saja menyebrang jalan berdiri tak jauh dari mereka, tersenyum melihat pemandangan itu, mereka tak tau Tetsuya melihat mereka, pria itu melepaskan pelukannya dan menatap Seijuurou sedih, "Selamat tinggal."
"Chot-", Seijuurou terbelalak, "Tou-san, apa maksudmu 'selamat tinggal'? aku akan ikut pulang!"
Tetsuya menggeleng sedih, "Seijuurou-kun, kau tak bisa pulang ke rumah lagi. Tou-san takut semuanya akan kembali seperti kemarin, dengan dirimu yang selalu jadi korban. Tou-san sudah melukaimu 2 tahun belakangan ini, Tou-san tak mau membuatmu tambah terluka."
"Tapi-"
"Ini keputusan terbaik yang dapat Tou-san ambil," Tetsuya menunduk, "Maafkan Tou-san, Seijuurou-kun. Tapi ini semua demi kebaikanmu."
"Tou-san…" Ucap Seijuurou lirih.
Tetsuya mengecup dahi Seijuurou dan tersenyum lembut, "Tou-san akan sering-sering mengunjungimu di rumah Shintarou-kun, Tou-san janji." Ucapnya sebelum berlalu, membalikkan tubuhnya dan melambai kepada Seijuurou.
Ogiwara dan lainnya menyusul Taiga, "hey, bagaimana-"
"Tou-san, tunggu!" Seru Seijuurou sambil mengejar Tetsuya, tak peduli berapa orang yang sudah dia tabrak, dia hanya ingin mengejar ayahnya dan ikut pulang ke rumahnya, rumah yang dia tinggali selama sepuluh tahun ini…
Tentu saja Tetsuya melihatnya, jujur saja, Tetsuya tak mau melakukan ini, dia ingin memulai semuanya dari awal lagi, bersama putranya, tapi jika Seijuurou tetap tinggal dengannya, bahaya yang mengintai Tetsuya akan mengintai putranya juga.
"Maafkan Tou-san, Seijuurou-kun." Gumamnya.
Tetsuya berhenti, Seijuurou tak membuang-buang waktu lagi dan segera mengejar ayahnya, "Tou-san, aku-"
"Diam."
Seijuurou tersentak.
Tetsuya menatapnya dingin, "Anak macam apa kau ini, bisa-bisanya kau meninggalkanku saat aku sekarat. Untung saja aku masih hidup."
"Aku hanya-"
"Jangan mendekatiku lagi, lebih baik aku tak punya anak daripada punya anak tak tau diri sepertimu."
Dengan kata-kata itu, Tetsuya berlalu, meninggalkan Seijuurou yang terpaku.
"Iya, iya, aku pulang sekarang." Aomine mematikan telepon genggamnya dan melemparnya sembarang ke kursi belakang mobilnya. Ibunya memang bawel, melarangnya ini itu dan menyuruhnya ini itu, emang dia itu pembantu apa?!
"Eh? Ada apa tuh rame-rame?" Gumam Aomine begitu melihat kerumunan orang memenuhi jalan, "Cih, bikin macet aja."
Aomine memarkirkan mobilnya ke tepi jalan dan keluar untuk melihat apa yang dikerumuni itu ketika manik obsidiannya menangkap warna biru muda di tepi jalan.
"Tetsu?" Aomine menatap sosok itu, yang tengah bicara dengan sosok bocah bersurai scarlet di depan toko buku. Aomine bisa melihat Tetsuya mengelus kepala anak itu, lalu pergi, dikejar oleh si bocah, dan akhirnya kembali bicara, hanya dengan ekspresi berbeda, seperti…benci? Ada apa dengan mereka? Dengan cepat Aomine menyelip ke gang terdekat untuk menguping pembicaraan itu.
"Jangan mendekatiku lagi, lebih baik aku tak punya anak daripada punya anak tak tau diri sepertimu."
Aomine terkejut, ada apa dengan mereka? Kenapa tiba-tiba Tetsuya bicara seperti itu? Oh tidak, dia mendekat!
Tap. Tap. Tap.
"Sei, kau tak apa?" Aomine bisa mendengar suara Taiga.
"Hiks…"
"S-Sei?"
"Hwaaa…"
"Sei? Kenapa?"
"Taiga-nii, kenapa…hiks…kenapa Tou-san benci padaku? Aku kan hanya mencoba menyelamatkannya…aku hanya ingin…hiks…bersama Tou-san…hiks…lagi…" Isakan Seijuurou terdengar sangat kuat. Aomine memberanikan diri untuk mengintip.
Seijuurou memeluk Taiga erat, menangis, sementara teman-temannya berusaha menghiburnya. Taiga tampak pasrah menjadi sasaran ingus Seijuurou, ya, dia tak keberatan sih. Taiga hanya bisa menatap Tetsuya dengan tatapan tak mengerti, kenapa? Kenapa Tetsuya lagi-lagi membuang anaknya? Apa Tetsuya ingin melindungi Seijuurou seperti dia melindungi Ogiwara saat itu?
Ogiwara juga tak mengerti, mungkin Tetsuya ingin melindungi Seijuurou, tapi jika memang Tetsuya ingin melindungi Seijuurou, kenapa dia harus menggunakan kata-kata itu? Tidakkah dia tahu, kata-kata itu sama seperti membunuh Seijuurou secara tak langsung?
Nijimura, Shintarou, Kazunari, Ryouta, dan Murasakibara tak bisa berbuat apa-apa, untuk pertama kalinya, mereka melihat sisi lain Seijuurou. Anak yang selalu tersenyum walaupun penuh luka, yang tetap semangat walaupun sakit, yang tetap tegar ketika seseorang menjelek-jelekkan ayahnya, kini tampak putus asa dan begitu hancur. Seijuurou berada di titik terendahnya, benar-benar hancur, air matanya bahkan tak cukup untuk menunjukkan seberapa hancurnya Seijuurou.
Aomine sangat ingin pergi dan meninju Tetsuya yang berdiri tak jauh dari tempat persembunyiannya dan memeluk bocah itu, Aomine tau, seumur hidup, tak pernah sekalipun Seijuurou mendengar kata-kata itu, bahkan ketika dihajar pun, Tetsuya tak pernah berkata seperti itu. Anak manapun pasti akan hancur jika orangtuanya berkata seperti itu padanya, kan?
"Hiks…"
Aomine tertegun.
Tetsuya menunduk, tangan kanannya mencengkeram dadanya, dan bisa dilihatnya air mata menetes membasahi tempatnya berpijak. Aomine semakin tak mengerti.
"Maafkan Tou-san, Seijuurou-kun…" isaknya. Dadanya terasa sesak mendengar tangisan Seijuurou yang satu ini. Godaan yang sangat kuat memaksanya untuk berbalik dan mendekap Seijuurou, meminta maaf atas perkataannya tadi, dan membawa Seijuurou pulang. Dia sangat ingin melakukannya, tapi dia terpaksa, dia tau seberapa keras kepalanya Seijuurou, kalau Tetsuya tak bertindak, bisa-bisa bahaya itu akan menghantui Seijuurou juga.
Aomine hanya bisa berdiam di tempatnya, bolak balik menatap Seijuurou dan Tetsuya yang sudah berlari pergi. Dia ingin melakukan sesuatu, namun dia tak tau apa yang harus dilakukannya. Dia hanya bisa diam dan merenung.
"Tadaima~"
"Okaeri-lho?" Shiina menatap bingung keempat pemuda yang baru masuk itu. Mereka semua tampak sedih, terutama Seijuurou. Tanpa banyak bicara, bocah itu melepaskan sepatunya dan langsung berjalan ke kamar.
"Bagaimana pertandingannya? Siapa yang menang?" Tanya Shiina.
"Kami menang." Jawab Taiga lesu.
"Lalu kenapa kalian tampak lesu?" Tanyanya.
"Ini masalah Seijuurou," Shintarou menghempaskan diri di sofa ruang tamu. Shiina membawakan tiga gelas air dingin untuk ketiganya, "Tadi Seijuurou bertemu Tetsuya-san, semula tampak baik-baik saja, tapi tiba-tiba saja Tetsuya-san mengatakan sesuatu yang membuat Seijuurou terpuruk."
Terdengar suara ketukan pintu. Shiina beranjak dan membuka pintu depan.
"Konnichiwa, Midorima-san." Sapa Ogiwara.
"Ah, kamu pasti Shigehiro-kun, kakaknya Sei-chan, kan?" Shiina tersenyum, mempersilahkan Ogiwara masuk, "Ada keperluan apa?"
"Aku hanya ingin mengunjungi Sei, bisa aku bertemu dengannya? Yo." Ogiwara menyapa ketiga pemuda itu sekilas.
"Dia ada di kamar, masuk saja. Tapi kurasa dia masih terpuruk." ujar Taiga sembari beranjak berdiri, "Ayo."
Setelah membungkuk sedikit, Ogiwara segera menyusul Taiga.
"Oy, apa yang mau kau lakukan?" Tanya Taiga.
"Aku tak yakin," Ogiwara menunduk menatap kenop pintu, "Aku tak tau seperti apa moodnya sekarang, tapi aku mengenalnya sejak kecil, aku akan mencoba menghadapinya."
"Dengar," Taiga menatap Ogiwara, "kau kakaknya, dia pasti mau mendengarkanmu."
"Hahaha, bicara apa kau ini, Shige?" Kekeh Ogiwara, "kaulah kakaknya, kau bersama dia lebih lama dariku."
"Aku serius, mungkin saat ini dia hanya ingin mendengarkanmu." Kata Taiga.
"Aku tau," Jawab Ogiwara.
Kenop pintu berputar pelan, derit pintu yang terbuka mengisi kesunyian di ruangan itu. Ogiwara melangkah masuk ke kamar. Matanya melirik kesana kemari, mencari sosok bocah kecil bersurai scarlet yang manis itu.
"Sei?" Panggilnya.
Tak ada sahutan. Ogiwara mengernyitkan dahi, seberapa terpuruknya hati anak itu, sampai-sampai panggilannya diabaikan. Perlahan-lahan, disibaknya selimut yang menutupi sebuah gundukan, namun yang didapatinya hanya sekumpulan bantal dan guling.
"SEI-CHAN! JANGAN!"
Mendengar seruan itu, ogiwara langsung bergegas menuju dapur, sumber suara itu. Tampak tumpahan sup berceceran di lantai dan kompor, mengotori dapur. Shinya berdiri di depan pintu belakang.
"Ada apa, Shinya?!" Tanya Shintarou yang baru saja memasuki dapur bersama Kazunari, Taiga dan Shiina, mereka terpaku pada tumpahan sup di lantai dan mangkuk yang dipegang Shinya.
"S-Sei kabur, Hahaoya!" Seru Shinya, "Dia menampik sup yang kuberikan dan langsung pergi dari sini," Shinya menunjuk pintu belakang.
"Ap-sejak kapan?!" Seru Taiga, "Kalau dia memang keluar, harusnya kami melihatnya, kan?!" Taiga menoleh ke arah Ogiwara, langsung terdiam melihat Ogiwara menunduk.
"Aku pergi dulu," Ogiwara beranjak pergi.
"Tunggu!" seru Taiga, "Kau mau kemana?"
"Pulang." Jawab Ogiwara.
"Kau tak mau mencari adikmu?!"
"Tak perlu dicari." Jawab Ogiwara.
Sebuah bogem mentah mendarat mulus di pipinya. Ogiwara mengelus pipinya dalam diam, sementara Shintarou dan Kazunari harus berjuang keras menahan Taiga yang mengamuk.
"KAKAK MACAM APA KAU INI?!" Teriaknya, "ADIKMU HILANG BUKANNYA DICARI, KAU BIARKAN BEGITU SAJA?!"
Ogiwara menatap Taiga datar, "Aku tidak membiarkannya begitu saja kok."
"LALU APA? KAU MALAH MAU PULANG DAN TIDAK MAU MENCARINYA!" Taiga melotot.
"Bukannya sudah kubilang, kita tak perlu mencarinya-"
"TUH KAN?!"
Ogiwara memukul kepala Taiga, "Tenang dan jangan potong pembicaraan orang." Ucapnya.
Taiga langsung diam. Shintarou dan Kazunari akhirnya melepaskan pegangan mereka, "Jadi, apa yang mau kau katakan?"
Ogiwara memejamkan matanya sejenak, "Kita tak perlu mencarinya," ditatapnya Taiga dengan serius, "Kalau kita tau kemana dia akan pergi."
"Eh? Kau tau kemana dia pergi?" tanya Kazunari.
"Aku tidak yakin," Jawab Ogiwara, "Tapi, seperti yang kukatakan pada Taiga tadi, aku mengenalnya sejak kecil. Hanya perlu sedikit data dan logika, kita bisa menebak peluang kemungkinan tempat kemana Sei akan pergi."
Semuanya terdiam mendengar penjelasan tersebut, "S-Shige, kau ini sebenarnya apa?" tanya Taiga.
Ogiwara nyengir, "Aku? Hanya seorang anak SMA yang suka dengan film detektif dan kriminalitas, dan punya cita-cita untuk mengikuti jejak Sherlock Holmes."
"Sebenarnya kalimat dia sudah keren." Gumam Taiga sweatdrop.
"Tapi karena kalimat terakhir itu…" Midorima memasang tampang =_=
"Dan apa-apaan baju Sherlock Holmes yang kelonggaran itu?" Kazunari menepuk wajahnya.
"Sudahlah, itu tidak penting," Shiina menatap Ogiwara, "Kira-kira, kemana dia akan pergi?"
Ogiwara menempelkan jari telunjuk dan jempolnya di dagu, "Kurasa, ada tiga kemungkinan. Pertama, rumahku, peluangnya 10%. Kedua, makam Kaa-san, 20%, 70% lagi…"
"Di mana?"
Tetsuya menatap bingung pintu rumahnya.
"Lho? Tadi aku tidak lupa menutup pintu kan? Kok terbuka?" tanyanya pada diri sendiri. Tetsuya melangkah masuk ke dalam rumah, lagi-lagi kebingungan melihat ruang tamu yang sudah rapi dan bersih, tidak seperti saat dia meninggalkan rumah itu.
Indera penciumannya menangkap bau harum yang sukses membuatnya lapar, Tetsuya mulai mengira-ngira, siapa yang sedang memasak di dapur? Kedua kakinya melangkah menuju dapur, Tetsuya sangat terkejut melihat orang yang berada di sana.
Seijuurou tengah berjinjit di depan lemari piring. Tangan mungilnya terulur, hendak mengambil piring yang sejengkal lebih tinggi darinya. Diatas meja, ada semangkuk sup yang masih mengepulkan asap, bau harum yang dicium Tetsuya tadi ternyata berasal dari sini.
"Uh…sedikit…lagi…" gumamnya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Tetsuya serak.
Seijuurou terkejut, dia menoleh, "Tou-san." Panggilnya. Dengan segera, Seijuurou menghampiri Tetsuya dan memeluknya.
"Aku tak mau mengulangi pertanyaanku, Seijuurou-kun."
Seijuurou menatap Tetsuya, "Aku membawakan makanan untukmu, Tou-san. Kau belum makan, kan?"
"Hanya itu?" Tanya Tetsuya.
"Aku akan menunggu sampai kau selesai makan," Seijuurou menggigit bibirnya ragu.
"Aku tak perlu ditunggui olehmu." Tetsuya mendorong Seijuurou pelan agar pelukannya terlepas, walau hatinya tidak rela.
Kesunyian memenuhi ruang diantara mereka, Tetsuya menatap Seijuurou penuh kerinduan, namun menahan diri untuk tidak lepas kendali dan justru menahan Seijuurou pergi.
"Kenapa kau kemari? Bukankah aku sudah mengharamkan rumah ini darimu?"
Seijuurou menunduk, tangannya dikepalkan, "Tou-san, aku minta maaf kalau aku tidak berguna, dan hanya bisa merepotkanmu."
"Kau salah, Seijuurou-kun, kau sama sekali tidak merepotkanku, kau sudah banyak menolongku, justru aku yang harus minta maaf atas perbuatanku selama ini. Kemarilah nak, Tousan ingin memelukmu..." Itulah yang ingin Tetsuya katakan, namun kalimat itu harus ditelan kembali.
"Tapi," bisik Seijuurou, "Apa kita tak bisa mengulangi semuanya dari awal? Apa kita benar-benar tak bisa kembali seperti dulu?"
Tetsuya terperangah.
"Aku…aku selalu rindu semua hal yang kita lakukan waktu Kaa-san masih ada," giginya bergeletuk, tubuhnya gemetar menahan air mata, "aku rindu senyum Tou-san, aku rindu tangan Tou-san yang selalu mendekapku, aku rindu punggung lebarmu yang selalu menggendongku, aku rindu dada yang selalu menjadi tempatku menangis, aku rindu semuanya."
Sakit.
Hatinya terasa diiris pisau tak kasat mata.
"Tou-san…" Seijuurou memeluknya dan membenamkan wajah ke perut Tetsuya, meredam isakannya, "apa kita…memang tak bisa bersama lagi? Aku…aku tak keberatan kalau Tou-san akan menghajarku sampai mati, asal aku bisa tetap bersama Tou-san, apa memang tak bisa?"
"Tentu saja bisa, Seijuurou-kun, Tou-san selalu ingin melakukannya, tanpa kau yang menangis tiap malam karena kuhajar, jangan tinggalkan Tou-san lagi, nak, kumohon…" itulah yang dipikirkan Tetsuya, namun di tengah perjalanan menuju mulutnya, kalimat itu berubah.
"Tidak. Aku tak mau melihat mukamu lagi, bocah sialah."
Tetsuya sendiri terkejut dengan kalimat yang keluar dari mulutnya. Seijuurou tersentak, bibir bagian bawah digigit hingga berdarah.
"B…begitu ya…"
Pelukan pada pinggang Tetsuya terlepas. Seijuurou berjalan mundur tiga langkah, "k-kalau begitu, apa aku boleh berdoa di altar Kaa-san? Aku ingin pamit sebelum pergi."
Masih dalam keadaan terkejut, Tetsuya menjawab, "Cepatlah."
Seijuurou tersenyum kecil kemudian menoleh, menatap altar dengan foto Satsuki diatasnya. Bocah itu berlutut, kedua tangannya dikatupkan, berdoa untuk sang ibu, sebelum tangan mungilnya mengelus foto itu.
"Kaa-san," sapanya lembut, "mungkin ini akan menjadi terakhir kalinya aku menemuimu di rumah ini."
Tetsuya terus menatap Seijuurou sendu, mati-matian menahan diri untuk tidak lepas kendali.
"A-aku dan Tou-san akan berpisah." Kekehan kecil keluar dari mulutnya, "Aku akan tinggal di rumah Shin-nii, tidak bersama Tou-san lagi. Tapi Kaa-san jangan khawatir, aku akan tetap mengunjungi makammu, bersama An-chan, dan lainnya."
Setiap kalimat yang Seijuurou ucapkan terdengar suram.
"Kaa-san, jangan menyalahkan Tou-san. Ini semua bukan salahnya, ini semua salahku. Ini keputusan terbaik yang Tou-san ambil, aku percaya kalau ada maksud tersembunyi dibalik tindakannya."
Bibir bergetar menahan isakan, tangan kanan diam-diam menarik rambut biru.
"Pada dasarnya, akulah yang lancang karena telah masuk ke dalam kehidupan kalian, menghancurkan kebahagiaan dan kedamaian kalian. Seandainya aku tak dilahirkan sepuluh tahun lalu, mungkin kalian akan tetap bahagia."
Tidak, itu semua salah, kamilah yang memulainya, Seijuurou-kun tidak bersalah…
"Aku benar-benar minta maaf karena telah memisahkan kalian."
Seijuurou-kun tak pernah meminta untuk dilahirkan sebagai anak kami…
"Seandainya waktu bisa diputar ulang…"
Seandainya waktu bisa diputar ulang…
"…Aku akan memilih untuk dilahirkan oleh keluarga lain..."
…aku ingin menebus dosaku…
"…atau lebih baik kalau aku tidak dilahirkan…"
…dan hidup bahagia bersama keluarga kecilku, tanpa harus terpisah-pisah, walau hanya ada aku dan Seijuurou-kun…
"Maafkan aku, Kaa-san, aku benar-benar minta maaf." Seijuurou menghapus air matanya, kemudian menoleh, "Tou-san, aku-"
WHUUUSH.
BANG.
Sesuatu berwarna metal terbang melintas kearahnya. Untung saja Seijuurou berhasil menghindar, kalau tidak, kepalanya sudah pecah sekarang.
Seperti dinding yang berada di belakangnya.
"Kau…" Seijuurou tak dapat melihat mata ayahnya, Tetsuya menunduk hingga poninya menutupi mata, "kau tidak mengerti…"
"T-Tou-san.." Seijuurou menatap Tetsuya ketakutan.
"Kau tak mengerti!" Raung Tetsuya. Kepala Seijuurou ditinju hingga mencium dinding, "Kau bicara seolah kau tau segalanya! Padahal kau tak mengerti apa-apa!"
"A-aku-" kalimat Seijuurou terpotong karena Tetsuya mendadak mencengkeram kepalanya. Seijuurou hanya bisa berteriak tanpa suara, dia percaya rambutnya pasti sudah tercabut beberapa helai.
"Kau bicara seolah kau tau posisiku, kau bicara seolah kau tau perasaanku, padahal kau tau apa? Tak ada!"
Tubuh mungilnya terhempas ke dinding. Kepalanya terbentur palu yang tergeletak di lantai, benda yang telah membuat dinding dibelakangnya retak. Rasa pusing merambah di kepalanya, Seijuurou hanya mampu menangkupkan tangan di kepala untuk melindungi anggota tubuh utamanya.
"Kau tau apa, hah?! Kau tau apa tentang kami?! Kau bahkan bukan anak kami satu-satunya! Ada yang lebih tua darimu, tapi dia diam saja! Tak mencampuri urusanku! Kenapa kau malah sok pintar dan ikut campur?!"
Perutnya ditendang dengan kuat, Seijuurou muntah-muntah di lantai. Belum sempat beranjak bangun, kepalanya sudah diinjak dengan kuat ke lantai.
"Ne, Seijuurou-kun…kau mau tau bagaimana perasaanku?" tanya Tetsuya sadis.
"T-Tou-san…" Seijuurou mengerang.
"Kalau begitu, biar kutunjukkan padamu,"
Seijuurou merasa tubuhnya terangkat dari lantai, dibawa Tetsuya seperti membawa guling, entah kemana mereka akan pergi. Otaknya tak mampu berpikir jernih lagi, pandangannya sudah berkunang-kunang dan kepalanya terasa sangat ringan. Peduli amat Tetsuya mau membawanya kemana, dia hanya ingin menutup mata dan melayang ke ruang mimpi. Sebentar, kenapa dia tak bisa bernafas?
Seijuurou meronta-ronta, Tetsuya tertawa sadis sementara tangannya menahan tubuh Seijuurou agar tetap berada di bawah air. Baju yang dikenakannya basah karena air yang terciprat dari rontaan Seijuurou dan juga air yang meluap dari bak mandi.
"Bagaimana? Enak?" tanyanya dingin. Ditariknya kerah baju Seijuurou ketika rontaannya berhenti, Seijuurou hanya terbatuk-batuk sebentar lalu kepalanya kembali terkulai lemah.
Tetsuya kembali menghempaskan tubuh Seijuurou yang sudah tak berdaya ke bawah shower, air dinyalakan dan mengguyur wajah Seijuurou yang sudah pucat. Seijuurou sendiri tak banyak bergerak, tubuhnya sudah lelah karena pertandingan pagi tadi, dan semakin lemah karena siksaan ayahnya.
Pukulan rotan mendarat di tubuhnya. Seijuurou hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit, tak ada tenaga lagi untuk menjerit ataupun mengerang. Sedikit bau amis memasuki indera penciumannya, mungkin beberapa bagian tubuhnya sudah berdarah.
"Ini. Bagaimana. Perasaanku. Setiap. Kali. Tua. Bangka. Itu. Melakukannya." Ucap Tetsuya penuh penekanan sembari melayangkan satu pukulan pada setiap kata.
"Tou…san…" panggil Seijuurou lemah.
Tetsuya berhenti memukul. Matanya menatap Seijuurou yang masih terbaring lemah dengan nafas putus-putus dan hidung yang mengeluarkan air.
"Aku…masih tak mengerti…apa…yang terjadi…padamu…sebelum aku lahir…tapi...aku tak keberatan…jika Tou-san…mau berbagi…denganku…aku…takkan melawan…" ucapnya pelan.
"Kalau…memang ini…bisa membuatmu…merasa lebih…baik…" Susah payah Seijuurou memuntahkan air dari perutnya, "Aku rela…Tou-san…menghajarku…sampai mati…"
Tetsuya yang tadinya lepas kendali langsung tersadar, rotan yang dipegangnya jatuh ke lantai ketika dirinya berlutut disamping Seijuurou, "A-apa…yang kulakukan…?" Bisiknya pelan sembari memangku tubuh lemas Seijuurou.
"Tou-san…aku…tak minta banyak…aku hanya meminta…satu hal…darimu…" ucap Seijuurou lemah.
"Apa itu? Katakan saja, Seijuurou-kun!" Tetsuya sudah mulai panik. Tak tau harus melakukan apa, takut salah bertindak dan justru membahayakan nyawa anaknya.
"Aku-"
"SEIJUUROU!"
Teriakan itu sontak menarik perhatian Tetsuya, betapa terkejutnya dia melihat Taiga dan Ogiwara berdiri di depan pintu kamar mandi, kedua mata mereka bergantian menatap Tetsuya dan Seijuurou yang berada di pangkuannya, kemudian beralih ke rotan di kaki Tetsuya, shower yang masih menyala dan menyiram tubuh Tetsuya dan Seijuurou, sedikit bercak darah di lantai, dan kembali pada Seijuurou.
"Astaga, Sei-chan!" Seru Shiina yang baru saja tiba dengan Kazuya. Tanpa membuang waktu, wanita itu segera menggendong Seijuurou dari tangan Tetsuya.
"Shiina, cepat bawa Seijuurou ke mobil!" Perintah Kazuya yang langsung dituruti oleh sang istri. Kedua manik onyxnya melirik Tetsuya dengan tatapan jijik.
"Ayah macam apa kau ini?" sindirnya.
Tetsuya membeku di tempat.
"Kau pikir anak itu apa? Sesuatu yang bisa kau mainkan sesuka hati?"
Kata-kata dari pria berambut klorofil ini terasa menusuk.
"Kau kira Seijuurou meminta untuk dilahirkan? Tidak. Dia bisa ada karena kau dan istrimu berkolaborasi diatas ranjang. Kalau kau memang tak mau punya anak, seharusnya kau menahan nafsumu."
Pria itu berlutut di depan Tetsuya yang tertunduk.
"Anak ada karena anugerah Tuhan. Anak ada untuk dilindungi, untuk diberikan kasih sayang, bukan disiksa seperti ini. Kau sudah keterlaluan, Seijuurou tak pantas memiliki ayah sepertimu."
Kazuya berdiri dan melangkah keluar, tak menatap Tetsuya sedikitpun, "Orang sepertimu tak layak menjadi orangtua. Aku akan membawanya."
Setelah kepergian Kazuya, Taiga dan Ogiwara masih berdiri disana, keduanya tampak begitu shock mengetahui fakta di hadapan mereka, menatap orang yang sama sekali tidak mereka sangka telah melakukan perbuatan keji ini.
"Aku tak mengerti…" bisik Taiga, "Kemana paman yang kukenal? Kemana Ojisan yang berhati lembut dan baik? Kau bilang kau menyayangi Sei, tapi kenapa kau melakukan semua ini?"
Tetsuya hanya terdiam di tempat, menunduk dan menangis dalam diam. Tak peduli Taiga yang meninggalkannya atau Ogiwara yang berada di sampingnya. Tetsuya hanya ingin mengubur diri di tanah sedalam mungkin, tak perlu muncul lagi, kalau perlu.
"Tou-san…"
Tetsuya merasakan tubuhnya direngkuh dengan lembut. Diangkatnya wajahnya untuk melihat siapa yang melakukannya, "Shige...kun…?"
Ogiwara tetap berada disana, tersenyum lembut dan menenangkan kepadanya, tidak pergi meninggalkannya seperti yang lainnya…
"Tadaima…" Ucapnya, "Sudah 5 tahun ya,"
"Shige-kun…" Tetsuya menggigit bibir bawahnya dan menunduk, begitu Ogiwara memeluknya lebih erat, Tetsuya kembali menangis, entah karena bahagia , menyesal, atau apa. Yang dilakukannya hanya mengeluarkan semua emosi yang selama ini ditahannya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Tetsuya menangis, setelah tangisannya tak terdengar selama 2 tahun.
.
.
.
TBC
Hai hai ^^ /keluar dari dalam gua yang lumutan
Masih ingat fic ini ga? /kamu kemana aja feiiiiii
Maaf lama ga apdet cerita ini X' selain karena banyak tugas, fei juga kena wb :' malah ini fic hampir fei hapus kalau ga ingat sama reader-tachi X3
*Fei dilempar gergaji sama reader*
Oke, ini chapter kesepuluh dari fic ini #yaiyalah, kemungkinan masih ada 1 atau 2 chapter sebelum mencapai end. Tapi fei ga janji ya pastinya ada berapa chapter lagi sebelum tamat, soalnya fei sedang menyiapkan kejutan untuk kalian, hehehe…. #ketawaevil #dibegal
Terima kasih untuk kalian yang selalu menunggu fic ini diupdate XD fei usahakan untuk chapter berikutnya fei update secepat mungkin.
Akhir kata, review please… #siapakamu
