Too Late for Sorry...

Author :

.

Deer Luvian

.

Main Cast:

.

Byun Baekhyun (GS)

Park Chanyeol

.

Other Cast:

.

Lu Han (GS)

Kim Jongin

Do Kyungsoo (GS)

Kim Joonmyeon

Byun (Jung) Daehyun

Jung Ilhoon

.

Genre:

.

Hurt/Comfort, drama, angst

.

Rated:

.

T-T+

.

Lenght :

.

multi chapter

.

*Disclaimer:

Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.

This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..

This is genderswitch for several cast.

With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.

Please don't bash! Don't plagiat!

DLDR

.

AU! OOC! GS!

.

Thanks!

.

Summary:

Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gesipitn di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?

.

.

Happy Reading ^^,

.

.

Sedikit cuap-cuap meluruskan.

Luhan bukan saudara dari Baekhyun, maaf yang chapter kemarin itu murni kurang teliti saya dalam mengedit. Karena awalnya tokoh Luhan *yang awalnya Kibum* itu saya find replace pake Byun Baekhyun baru saya rubah ke Luhan, jadi yaa ketinggalan Byun-nya dan saya lupa ndak neliti lagi.. Maaf yaa...

Silahkan melanjutkan membacanyaa..

.

Chapter 3

.

"Yoeliee... bangun...ini sudah pagi Yeolie..." Luhan menggoyang-goyang tubuh Chanyeol. Berusaha membangunkan Chanyeol yang masih bergumul dengan mimpi di tidur yang lelap.

"Ayolahh Chanyeol... bangun, apa kau tidak akan ke kantor? Chanyeol...ayo bangun..." Tak mendapat respon dari Chanyeol, Luhan membelai pipi Chanyeol lalu mengecup kilat. Seperti yang ia pikirkan, Chanyeol menggeliat kecil saat merasakan kecupan itu.

"Chanyeol sayaaang, ayo bangun. Ini sudah pagi.. kau tidak berencana akan tidur sampai siang kan?" Luhan berbisik di telinga Chanyeol. Sontak membuat Chanyeol sedikit terpancing dan menarik Luhan kedalam pelukannya. Chanyeol memang tak sepenuhnya sadar saat itu, namun ia juga tak sepenuhnya tidur. Jadi ia masih mampu melakukan itu.

"Chanyeooooollll.." protes Luhan seraya memukul-mukul tubuh Chanyeol. Lelaki tampan itu tak bergeming, ia masih memeluk erat Luhan. seakan tak mau terpelas walaupun hanya sedetik saja. Begitu cintanya kah Chanyeol kepada Luhan? Iya, Chanyeol memang sangat mencintai Luhan yang menemaninya selama beberapa tahun terakhir ini.

Lu Han, wanita seumuran Park Chanyeol adalah teman sekolah Chanyeol saat masih di high school. Setiap hari selalu dilewati dengan kebersamaan. Saat itu, Chanyeol dan Luhan tak memiliki hubungan apa-apa selain teman dekat atau yang lebih sering orang bilang sahabat. Keduanya adalah sahabat yang tak bisa dipisahkan hingga Chanyeol diminta orangtuanya untuk menikah di usia yang masih sangat muda, 21 tahun. Sebelum menikahpun, Chanyeol meminta persetujuan Luhan, bukan meminta persetujuan, ia meminta pendapat Luhan dan Luhan hanya mengikuti saja apa yang menjadi keputusan Chanyeol.

"Luhanie, kita tidur lagi eoh? Aku masih mengantuk.." Chanyeol menarik tubuh Luhan lagi saat Luhan akan beranjak dari tempat tidur.

Luhan mendengus kesal, "Chanyeol, jangan banyak tidur... Aku lapar... ayo buatkan aku makan.. apa kau juga tidak lapar?" sungut Luhan yang mulai kesal dengan Chanyeol.

Chanyeol tak menyahut. Matanya masih memejam dengan bibir tebal yang mengatup sempurna. Kekesalan semakin membuat Luhan memukul-mukul tubuh Chanyeol agar lelaki satu itu bangun dari tidurnya.

"Chanyeol, kalau kau tak bangun. Aku akan pulang sekarang." Ancam Luhan dan benar saja, Chanyeol langsung membuka mata lalu terduduk dihadapan Luhan..

Bibirnya mengerucut, ekspresinya mengatakan bahwa ia kesal harus diancam seperti itu.

"Yaa, Luhanie..."

Luhan terkekeh pelan. "Tidak..tidak..aku tidak akan pulang cepat. Sekarang kau bangun, mandi dan ayo kita makan. Aku lapar.."

"Baiklah, tapi.. mana morning kiss-ku?" Chanyeol memanyunkan bibir tebalnya tepat di depan wajah Luhan. Detik berikutnya Luhan mengecup kilat bibir itu.

Chanyeol berjalan menuju dapur, sedikit terhuyung-huyung karena dipaksa bangun. Perasaannya mengatakan sesuatu yang aneh, ada yang berbeda dipagi ini. Otaknya berpikir sekejap lalu teringat. 'Oh mungkin Baekhyun sedang lelah, makanya ia tak memasak.' Iya, yang berbeda adalah tidak ada makanan yang tersaji di atas meja makan seperti biasa saat matanya membuka dan melangkah ke dapur.

Tak perlu berpikir aneh-aneh, Chanyeol mulai mengambil beberapa potong sayur dari lemari dan membuatkan sarapan untuk Luhan. Ia masih belum sadar bahwa Baekhyun telah pergi dari rumah itu. Perasaannya hanya mengatakan, mungkin Baekhyun masih tidur karena kelelahan atau lainnya yang sejenis itu.

Sama seperti Baekhyun, Chanyeol juga memiliki bakat dalam memasak. Walaupun kelezatan tetap milik Baekhyun, tetapi masakan Chanyeol juga tak begitu buruk. Mungkin karena ia jarang memasak. Selama ini hanya Baekhyun yang membuat makanan untuknya setiap hari.

Butuh waktu beberapa menit sampai Chanyeol membawa dua piring berisikan makanan di hadapan Luhan. Bibirnya mengukir senyum melihat Luhan dengan wajah lapar menantinya untuk memberikan makanan. Segera saja makanan itu tersedia didepan Luhan.

"Jja, makan yang banyak My Honey Hanie..."

Luhan mengangguk senang. "Suapin aku Yeol..." Pintanya manja.

Chanyeol menerimanya dengan senang hati dan mulai menyuapkan makanan kepada Luhan dengan sangat sayang. Sesekali ia menggoda Luhan, memasukkan suapan itu ke mulutnya sendiri bukan kepada Luhan. Hal itu membuat Luhan menggerutu dan sebal namun bagi Chanyeol dia sangat menggemaskan.

Lama mereka bercengkrama di ruang makan masih belum membuat Chanyeol tersadar akan perginya Baekhyun. Ia juga tak ada niat sedikitpun untuk membangunkan Baekhyun di kamarnya. Pikirannya masih terisi penuh oleh Luhan di sebelahnya. Hingga Luhan lah yang menyadari ada yang aneh dengan Baekhyun.

"Baekhyun dimana? Kok aku tidak melihatnya sama sekali?"

"Eoh?" Chanyeol terhenyak sesaat. "Aku juga tidak tahu, mungkin dia masih tidur. Biarkan saja.." Jawabnya lalu melanjutkan menyuapi Luhan.

"Yeolie, kemarin malam ada telepon waktu kau tidur. Aku tidak tahu dari siapa, mungkin ada lima kali telepon.." Luhan sepertinya teringat sesuatu saat mereka tengah tertidur.

"Benarkah?" Chanyeol membulatkan matanya.

"Eum, aku sangat yakin itu Chanyeol.."

"Hanya klien mungkin."

"Loh, Chanyeol! Justru itu, kalau itu klien mungkin saja itu sangat penting. Kalau tiba-tiba partner kerjamu memutuskan kontrak kerja bagaimana?"

"Benar juga.. Tunggu sebentar aku akan mengambil ponsel."

Chanyeol beranjak dari kursi lalu berlari ke dalam kamar. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja kerjanya. Benar saja, memang ia mendapat banyak panggilan. Tetapi itu bukan dari partner kerjanya melainkan dari Baekhyun.

Sesaat ia mendelik dan memutar bola matanya. Kenapa Baekhyun memanggilnya? Lantas ia membuka satu pesan yang ia terima setelah beberapa panggilan itu tak terjawab. Pesan itu datang dari Baekhyun, Luhan istrinya.

Chanyeol,

aku hanya ingin bilang kalau aku akan pergi beberapa hari..

Kau tak usah khawatir, aku baik-baik saja..

Selamat menikmati harimu dengan Luhan.. ^^,

"Ahh, Baekhyun sedang pergi. Pantas sepi sekali rumah ini. Biar saja, dia juga butuh liburan.." gumamnya santai tanpa ada sedikit kegelisahan di hatinya.

"Yeolie... bagaimana? siapa yang menelponmu?" tanya Luhan setelah Chanyeol duduk kembali dihadapannya.

"Ah itu Baekhyun, dia sedang pergi tapi aku tidak tahu kemana.."

"Eoh, baiklah. Sekarang kau siap-siap. Kita akan berangkat kerja.." Luhan membersihkan beberapa piring di atas meja.

Seharian ini Chanyeol gunakan untuk bekerja dan menghabiskan waktu bersama Luhan. Berangkat kerja bersama, di kantor makan siang bersama bahkan saat rapat pun Luhan menemani Chanyeol. Kedekatan mereka semakin menggila hingga selentingan kabar miring kembali menyeruak di kantor Chanyeol. Tapi Chanyeol hanya menanggapinya biasa. Setiap kali ditanya jawabnya hanya 'Dia itu sekertarisku, wajar dong kalau dia ada disekitarku setiap waktu.' Luhan pun tak mempermasalahkan hal ini. Tak masalah sekarang Chanyeol belum mengakuinya asal nanti saat Chanyeol telah menikahinya, Luhan ingin dikenalkan sebagai kekasih dan istri Chanyeol seutuhnya.

.

.

.

~DeerLuvian~

.

.

.

"Chanyeol-ah, sepertinya hubunganmu dengan Luhan semakin mesra saja..." celetuk Sungyeol sambil membuka-buka dokumen di hadapannya.

Chanyeol menoleh sesaat, tangannya meletakkan bolpoin yang ia pegang. "Apa terlihat seperti itu?"

"Menurutmu?" Sungyeol balik bertanya.

"Yaa! Aku tanya.."

Dokumen-dokumen yang ia pegang ditutupnya pelan lalu berjalan mendekati Chanyeol. "Sangat mesra, bahkan jauh lebih mesra saat kau bersama istrimu."

Kedua bola mata Chanyeol membesar. "Separah itukah yang kau lihat?"

"Ya! Kau ini bagaimana sih? Sebenarnya apa hubunganmu dengan Luhan?"

Chanyeol tersenyum, "Dia hanya sekertarisku."

"Tidak mungkin..."

"Kau tak percaya?" lelaki bersurai hitam kecoklatan itu bertampang bodoh.

Sungyeol berdecih, "Mana mungkin hanya seorang sekertaris tapi sikapnya seperti layaknya kekasih?"

Lantas ia duduk di meja Chanyeol, "Bahkan sikapnya jauh lebih berani daripada Baekhyun."

"Baekhyun saja jarang datang kemari." Lanjutnya.

Chanyeol mendengus mendengar kata-kata Sungyeol. Ia berdiri dan duduk di sebelah Sungyeol. "Aku memang ada hubungan dengan Luhan.."

"Sudah kuduga.." balas Sungyeol santai.

"Apa terlalu jelas?" Chanyeol mencoba mengkonfirmasi sikapnya selama ini.

"Eum, sangat jelas malah. Kalau kau memang ada affair dengannya jangan kau lakukan di kantor. Sebenarnya aku juga tidak setuju dengan kelakuanmu."

"Eoh?" mata Chanyeol memandang tajam Sungyeol meminta untuk dijelaskan.

"Chanyeol-ah! Kau ini direktur utama disini dan perusahaan ini bukan sembarang perusahaan. Ini milik keluarga Baekhyun. kalau kau berani mengumbar kemesraanmu disini. Kau akan mati Chanyeol!"

"Kau tak menentangku?"

"Buat apa? Aku tak tahu sebenarnya apa yang terjadi dengan rumah tanggamu. Terserah kau mau lakukan apa dan kau tahu, aku rasa kau memang tak cocok dengan Baekhyun."

"Apa yang kau bilang? Kita tidak cocok? Ya! Omongan macam apa ini.."

Hembusan nafas frustasi lolos dari bibir Sungyeol. "Baekhyun terlalu baik untuk disandingkan denganmu. Apalagi setelah aku tahu kau seperti ini."

"Aku juga merasa bersalah. Tapi aku bisa apa coba kalau memang aku tidak mencintainya?"

"Sama sekali?"

"Eum, aku hanya simpati saja dengannya."

"Waahh, Chanyeol! Kenapa kau sanggup bertahan selama ini kalau memang kau tidak mencintainya?"

"Hahaha, kau lucu Sungyeol. Mana mungkin aku akan menceraikan Baekhyun? Bisa dikeluarkan aku dari daftar keluarga ini dan pastinya, aku tidak akan mendapatkan sepeserpun harta warisan.."

Sungyeol menggeleng-geleng tak percaya, gila! Sungguh gila rekan kerjanya yang satu ini..

"Tenanglah Sungyeol, aku melakukan ini juga atas restu Baekhyun.."

"A-apa? Restu Baekhyun? maksudmu?"

Sejenak Chanyeol melangkah ke arah pintu memastikan bahwa pintu terkunci. Ia sedikit khawatir kalau tiba-tiba seseorang datang keruangannya saat ia menceritakan masalah keluarganya.

"Baekhyun menyetujui ini semua. Kita sudah buat kesepakatan bahwa kita tetap bersama namun bisa memilih hidup masing-masing. Aku juga tidak melarang Baekhyun berkencan dengan orang lain."

"Aku tidak habis pikir, sebenarnya apa sih yang kau harapkan dari semua ini? Apa kau tak takut kalau Baekhyun tersakiti dengan sikapmu?"

Kepala Chanyeol memiring sekejap, ia mencoba mencerna kata-kata Sungyeol.

"Sakit hati? aku tidak pernah bertanya kepadanya. Kelihatan ia baik-baik saja. yahh, walaupun sering sih Baekhyun meminta bercerai.."

"Itu namanya dia sakit hati, dia tidak bisa lama-lama hidup seperti itu."

"Tapi Sungyeol.. ah entahlah!" Chanyeol menghentakkan kakinya dan meninggalkan Sungyeol yang sepertinya akan melayangkan nasehat.

"Chanyeol-ah! Kau tidak bisa sepenuhnya membohongi dirimu. Kau sayang kan sama Baekhyun?" Sungyeol bermonolog karena Chanyeol telah keluar dari ruangannya.

.

.

.

~DeerLuvian~

.

.

.

Rintik hujan turun di kota Seoul malam ini, dingin menyerbu kulit Chanyeol yang berusaha menerjang jalanan itu. Bibirnya sedikit menggigil, meski ia naik mobil pribadi namun terjangan angin mampu mengoyakan tubuhnya.

Butuh waktu kurang lebih setengah jam ia sampai di rumahnya. Segera ia masuk ke dalam rumah yang terlihat gelap. Tak ada satupun lampu penerangan yang menyala, karena di dalam rumah itu tidak ada penghuninya selain Chanyeol yang baru saja pulang dari bekerja. Otomatis, rumah mewah dan besar itu gelap gulita. Perlahan ia membuka pintu rumah dan menyalakan satu persatu lampu yang menggantung.

"Huhh, repot juga ternyata kalau tidak ada Baekhyun.." keluhnya seraya melepas dasi dan kemejanya dengan kasar. Lalu ia meletakkan di atas sofa.

"Mana aku lapar lagi, tidak ada makanan.. Ahh, Baekhyun, kau pergi kemana sih?" Chanyeol merogoh ponselnya dan mencoba menelpon seseorang. Menelpon Baekhyun? Mungkin..

"Eoh, Luhanie, kau dimana? Datanglah ke rumah. Aku kesepian. Atau mau aku jemput? Baiklah aku akan menunggumu." Chanyeol menutup telponnya yang ternyata ia tujukan kepada Luhan bukan Baekhyun.

Tubuh Chanyeol dihempaskan pada sofa depan televisi. Ia menikmati kue kering sambil menunggu kedatangan Luhan ke rumahnya. Baru kali ini Chanyeol ditinggal sendiri oleh Baekhyun. Rasanya ada yang berbeda, sepi sekali rumah sebesar ini. Kalau setiap ada Baekhyun, ia tak perlu repot-repot menyiapkan keperluannya sendiri. Baekhyun dengan sangat cekatan akan menyiapkan semua kebutuhan Chanyeol. Mulai dari makan, pakaian dan segala keperluan lainnya.

Meski baru sehari Baekhyun tak ada di rumah, Chanyeol tampaknya sudah merasa kewalahan. Ia harus memasak sendiri, menyiapkan air mandi sendiri. Semuanya serba sendiri.

Tapi Chanyeol tak merasakan masalah lagi setelah kekasihnya datang ke rumah. Kesepian yang menyerangnya saat itu dengan sekejap sirna tak berbekas. Luhan pun tahu bahwa kekasihnya membutuhkan teman, ia lantas pergi ke dapur membuatkan makanan dan melakukan apa yang biasa Baekhyun lakukan. Dari tempat semula, Chanyeol hanya mengangguk-angguk bangga melihat kekasihnya ternyata tak selalu manja kepadanya.

Lelaki berbibir tebal itu mengunyah sisa-sisa kue kering yang masih bersemayam di toplesnya. Bibir tebalnya terkadang menggumam tak jelas mengomentari tayangan yang tengah ia lihat. Sedang Luhan hanya menggeleng-geleng kepala melihat Chanyeol yang sangat imut baginya bersikap kekanak-kanakan.

"Chanyeolie, kau tak ingin tidur? Aku ngantuk." Keluh Luhan setelah ia melihat jam yang menunjukkan pukul sebelas malam.

"Pergi tidur kalau kau mengantuk." Balas Chanyeol santai.

Luhan mendengus kesal, "Yaa! Aku tidak mau kalau tidak tidur denganmu." Luhan mengalungkan tangannya di leher Chanyeol. Sontak membuat Chanyeol menggeliat kecil.

Chanyeol menatap kedua mata rusa Luhan, tangannya menangkup pipi Luhan lalu mengecup bibir tipis Luhan kilat.

"Ayo kita tidur kalau begitu." Langsung saja Chanyeol menggendong Luhan ke dalam kamar.

Sesampainya di kamar keduanya lantas berbaring di atas tempat tidur dan menyelimuti tubuh keduanya dengan selimut yang tebal. Tangan Chanyeol menepuk-nepuk pelan lengan Luhan, menina bobokkan kekasih tercintanya hingga Luhan benar-benar terlelap dalam mimpinya.

.

.

.

~DeerLuvian~

.

.

.

Dingin bekas hujan kemarin masih terasa di pagi yang tak terlalu cerah ini, sinar mentari tak seutuhnya menyentuh permukaan bumi. Hanya semburat-semburat kuning keemasan tipis yang sampai di bumi. Bahkan semburat itu tak mampu menembus jendela kaca yang tak terlalu tebal itu.

Meski cahaya mentari tak membangunkannya, Luhan telah sadar dari dunia mimpi. Ia bangkit dan melangkah keluar kamar. Tidak seperti kemarin yang lebih dulu membangunkan Chanyeol, ia berinisiatif ingin membuatkan sarapan dan menyiapkan air mandi untuk Chanyeol.

Sedikit bingung akan memasak apa, Luhan memutuskan membuatkan sandwich dan susu saja. Karena itu yang paling mudah menurutnya. Hanya beberapa menit Luhan di dapur, Chanyeol telah memeluknya dari belakang seraya meniup-niup pelan telinga Luhan.

"Kau membuat apa chagi-ya?"

"Ah Chanyeol, geli tahu... aku akan buatkan sandwich dan susu untukmu."

"Baiklah, tapi aku tidak mau susu coklat, aku maunya susu vanilla.."

"Hemmb, oke-oke, aku akan buatkan susu vanila untukmu." Luhan melepas pelukan Chanyeol dan mengambil susu untuk dicampur dengan air. Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi.

"Eoh, siapa yang bertamu sepagi ini? Apa itu Baekhyun?" tanya Chanyeol heran.

"Biar aku saja yang bukakan pintu." Luhan melangkah ke arah pintu dan membukanya perlahan.

Seseorang yang telah menunggu itu terperanjat saat melihat sosok yang membukakan pintu. Sosok itu bukanlah yang diharapkannya, lantas ia melayangkan pertanyaan untuknya.

"Siapa kau? Baekhyun noona mana?"

Luhan memiringkan kepalanya, "Aku teman Chanyeol, Baekhyun sedang tidak ada di rumah. Kau siapa?" tanya Luhan balik.

"Aku Jung Ilhoon, kalau begitu panggilkan Chanyeol hyung." pinta tamu itu yang tak lain adalah Ilhoon.

"Chanyeol-ah! Ada yang ingin bertemu denganmu." Teriak Luhan. "Masuklah.." perintah Luhan yang langsung diikuti oleh Ilhoon.

Menit berikutnya, Chanyeol sudah berdiri di depan Ilhoon.

"Eoh, Ilhoonie. Ada apa?"

"Baekhyun noona kemana?"

"Baekhyun sedang liburan mungkin, dia tidak ada di rumah sejak kemarin. Kenapa kau mencarinya?"

Ilhoon tampak merasa ada yang aneh, kenapa tiba-tiba Baekhyun liburan tanpa bilang kepadanya?

"Kenapa Ilhoon?"

"Tidak, terus itu siapa hyung?"

"Ah itu temanku, Luhan. Kau mencari Baekhyun untuk apa? Mungkin aku bisa menyampaikannya nanti."

"Aku hanya ingin memberikan bunga ini. Baekhyun menyukai bunga-bunga dan ia sedang menanam bunga. Jadi aku membelikan bunga yang memberikan arti ketegaran untuknya." Ilhoon menyodorkan sebuah bunga chrysanthemum cantik kepada Chanyeol.

"Ketegaran?" gumam Chanyeol heran.

"Eum, aku melihat Baekhyun noona sangat tegar sekali. Ia tidak pernah mengeluh atas hidupnya yang sulit."

"Maksudmu apa?" Tanya Chanyeol yang tak mengerti perkataan Ilhoon.

Ilhoon hanya tersenyum membalas pertanyaan Chanyeol. "Nanti kau akan tahu hyung. sudah ya, aku pulang.." Ilhoon membalikkan badannya lalu pergi dari hadapan Chanyeol yang masih terbengong bingung.

"Apa maksud dari Ilhoon? Baekhyun mengalami hidup yang sulit?" gumam Chanyeol yang masih belum mengerti.

.

.

~DeerLuvian~

.

.

Ruangan putih itu berbau obat-obatan sangat menyengat hidung. Kain-kain panjang membentang memberikan sekatan antara ranjang satu dengan ranjang lainnya. Seseorang berwajah malaikat dengan bibir tipis tengah duduk di sebelah ranjang itu menatap bingung wanita yang terbaring lemah di atasnya. Sosok berwajah putih pucat dengan beberapa gores luka mendominasi. Matanya menutup sempurna, mulutnya setengah terbuka dengan bibir membiru pucat.

Seseorang itu memperhatikan seksama wanita lemah itu, tangannya sesekali mengusap peluh yang terkadang mengalir dari dahinya. Sedikit lama ia memperhatikannya, tiba-tiba sosok itu membuka perlahan mata sipitnya. Mengerjap-ngerjap pelan sebelum terbuka sepenuhnya. Seseorang di sebelahnya berteriak kegirangan.

"Kau sudah sadar? Kau sudah sadar?"

Sosok lemah itu menggerakkan kepalanya.

"Ahh.." rintihnya seraya memegang kepala yang terasa sakit dan pusing.

"Jangan bergerak! Kau terluka parah!" ucapnya lagi. "Tunggu sebentar aku akan panggilkan dokter." Lanjutnya lalu pergi memanggil dokter.

Sosok itu masih linglung, wajah pucatnya semakin pucat kebingungan. Dengan sedikit kesakitan di sekujur tubuhnya, matanya mengedar sekeliling. Ia tak tahu sedang berada dimana. Kepalanya pusing untuk berpikir, goresan-goresan luka di pipinya memaksanya untuk menghentikan pandangannya beredar. Lantas ia kembali memejamkan matanya.

Seseorang itu datang kembali dengan seorang dokter. Sang dokter segera memeriksa wanita itu.

"Apa kau ingat siapa namamu?" tanya dokter kepada sosok itu. Seseorang lainnya yang pergi memanggil dokter itu tertegun bingung.

Sosok itu menggeleng pelan. "Aku tidak tahu siapa aku. Aku ada dimana ini?"

"Kau ada dirumah sakit. Kau benar tidak ingat apa-apa tentangmu?" tanya dokter lagi.

"Tidak.." jawabnya datar. "A..aku tidak tahu.. ahh.." ia merintih lagi saat mencoba mengingat tentangnya.

"Istirahatlah lagi. Jangan kau paksa untuk mengingatnya!" ujar dokter seraya membaringkan kembali tubuhnya setelah memeriksa kesehatan sosok itu.

Sosok itu kembali berbaring dan memejamkan matanya. Mencoba merilekskan tubuhnya yang terasa bagaikan ditumbuk runcingnya batu karam. Dokter mengajak seseorang yang menemaninya untuk menjauh dari sana.

"Saudara Joonmyeon-sshi. Teman anda mengalami amnesia untuk jangka waktu yang panjang. Karena benturan yang terjadi kepadanya bukanlah main-main. Tetapi dengan bantuan medis dan sedikit terapi bisa mengembalikan ingatannya. Untuk saat ini jangan paksa dia mengingat terlebih dahulu. Biarkan saja ingatannya pulih dengan sendirinya." Pesan dokter panjang lebar.

"Jadi dia amnesia? Apa dia sama sekali tidak bisa mengingat tentangnya?"

"Eum, untuk beberapa waktu ke depan kemungkinan ia belum bisa mengingat tentangnya, lama kelamaan ia akan kembali mengingatnya setelah gegar otak sepenuhnya sembuh. Tetapi akan ada beberapa memori yang tidak bisa kembali." Jelas dokter lagi.

"Begitu ya dok? Heemmm, baiklah terima kasih dok..." ia membungkukkan badannya.

Sang dokter tersenyum lalu pergi meninggalkannya. Seseorang yang sempat disebut namanya Joonmyeon itu mendekati tubuh ringkuk itu lagi. Tatapannya menjadi semakin sendu mengingat tubuh ringkuk itu akan mengalami hal sulit. Ia sudah kesakitan dengan beberapa goresan luka, tangan yang cidera dan sekarang ia tidak bisa mengingat keluarganya. Sesaat memperhatikan tubuh lemah itu, seseorang datang menghampiri mereka.

"Hyung! Bagaimana keadaannya? Katamu dia sadar?" tanyanya dengan nada tersengal-sengal. Tampak sekali ia berjalan dengan terburu-buru.

"Tenangkan dirimu dulu Jong! dia baik-baik saja kok. Tapi, dia tidak bisa mengingat siapa dia untuk saat ini.."

Pemuda yang baru saja datang itu membesarkan bola matanya. "Apa? Tidak bisa mengingat? Jadi kita tidak tahu siapa dia? Dari mana asalnya?"

Joonmyeon mengangguk pasti. "Eum, kita belum bisa tahu. Apa yang akan kita lakuakan dengan wanita ini?"

"Emmmm..." ia berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita bawa saja dia kerumah."

"Wait, kita bawa kerumah? Yaa! Bagaimana mungkin kita membawanya ke rumah?" tanya Joonmyeon dengan nada yang tidak bisa dipahami. Apakah ia setuju ataukah tidak setuju.

"Kenapa? Apa hyung keberatan?

"Bukan... Siapa yang akan merawatnya kalau kita bawa ke rumah? Kau mau?"

Jongin, pemuda itu tampak berpikir. Ia menimang perkataan Joonmyeon. Memang benar, tapi kalau wanita ini tak dibawa ke rumah? Mau bagaimana lagi? Meninggalkannya disini? Itu tidak mungkin.

"Kita bisa bergantian menjaganya.." Jawab Jongin.

Joonmyeon mendesah. "Baiklah.. Kita bisa membawanya pulang."

"Terima kasih hyung!" Jongin tersenyum senang. "Dia terlalu sayang kita biarkan seperti ini."

"Eh? Kening Joonmyeon mengerut. "Kau menyukainya? Jangan bilang kau suka pada pandangan pertama."

Jongin hanya mengulas senyum tipis. "Ini bukan kali pertama aku memperhatikan wajahnya hyung! Dia memang menarik."

"Ya..ya...yaa.. Terserah kau saja lah.."

Dalam hati Jongin tak menampik wajah cantik dari sosok ini. Begitu manis. Bahkan tanpa melihat bola matanya Jongin bisa merasakan kecantikan itu. Lalu bagaimana ketika kedua kelopak itu terbuka? Pasti akan jauh lebih sempurna. Walaupun banyak gores yang menghias di wajah itu.

Beberapa saat berlalu, sosok yang terbaring lemah itu membuka lagi matanya. Kepalanya tak sepusing tadi. Sedikit hati-hati ia mencoba bangkit dari tidur. Diedarkan sebentar pandangannya ke sekililing dan mendapati bahwa waktu telah menjelang malam. Beberapa penerangan dimatikan agar tidak terlalu mengganggu tidur yang lain. Ia meraba-raba dengan tangan kanannya. Tangan kirinya diperban karena cidera. Saat meraba-raba ia merasakan ada orang lain tengah tertidur dengan posisi yang diyakini tidaklah nyaman.

Beberapa kali menyentuhnya, orang itu terbangun dan melihat kearahanya. Lantas sosok itu menunduk takut.

"Kau bangun? Ada yang kau inginkan?" tanyanya ramah. Ia menduga bahwa sosok itu memerlukan sesuatu.

Wanita itu hanya mengangguk pelan. "Eum, aku haus." Jawabnya lirih.

"Ahh, aku ambilkan minum dulu.." ujarnya seraya mengambilkan segelas air minum yang tersedia di atas meja sebelah. Sebenarnya jika tangannya tak cidera, mungkin ia bisa mengambil sendiri. Namun karena cidera yang ia rasakan ia tak mampu mengambil yang hanya berjarak tak lebih dari satu meter darinya.

"Ini minumlah.." uluran gelas itu diterima baik oleh sosok itu. Lantas ia segera menghabiskan minumannya dengan sedikit cepat. Membuat orang itu terkejut.

"Waahh, kau sangat haus yaa? Mau aku ambilkan lagi?"

Wanita itu menggeleng.

"Baiklah, sekarang kau tidur lagi ne. Kau masih perlu banyak istirahat."

Ia mengangguk lalu membaringkan tubuhnya kembali. Orang itu menyelimuti tubuhnya dan memberikan usapan lembut di kepalanya. Tak lama kemudian, sosok itu kembali terpejam.

Sosok yang terbaring lemah itu tak lain adalah Byun Baekhyun. Meski ia tak mengetahui siapa dirinya sesungguhnya. Namun hatinya tak bisa menolak bahwa kelembutan yang ia terima seolah baru kali ini ia rasakan. Ia merasa tenang, ia merasa damai, ia merasa nyaman dan ia merasa sangat disayangi. Sedikit memori teringat sepertinya dulu memang tak pernah ia merasakannya.

Bahkan dirinya pun tak mengingat mengapa ia sampai ditempat seperti ini. Yang ia ingat dalam sayup-sayup mimpinya, ia hanya terjun kedalam sungai yang seolah memanggilnya. Ia tak tahu jika melompat ke dalam sungai akan berakhir disini. Memorinya mengatakan bahwa sebenarnya ia ingin pergi ke suatu tempat yang semua orang katakan adalah tempat terbaik, tempat yang menyenangkan, tempat yang tidak akan ada luka di dalamnya, tempat yang akan memberikan kebahagiaan, tempat yang tidak akan membiarkanmu menangis kesakitan. Dan tempat itu adalah surga.

Sekali lagi dalam mimpinya saat ini, ia merasa bahwa tempat ini bukan tempat yang ia inginkan. Namun, hati kecilnya mengatakan hal lain. Meski bukan surga, setidaknya ia mendapatkan sesuatu yang selama ini ia tak dapatkan. Perhatian yang tulus dengan kasih sayang di dalamnya. Apa ia bisa mengingat masa-masa lalu? Tidak, ia hanya merasakan saja.

Malam berlalu dengan tenang, Baekhyun tertidur dengan pulas ditemani orang itu. Nafasnya terdengar teratur dan wajahnya terlihat damai meski terkadang ekspresi kesakitan karena luka-luka itu muncul tiba-tiba.

.

.

~DeerLuvian~

.

.

"Pagiii... apa tidurmu nyenyak?" tanya Joonmyeon saat pertama kali Baekhyun membuka kedua mata sipitnya.

Baekhyun mengerjap pelan lalu mengangguk.

"Apa kau lapar?"

Baekhyun menggeleng lalu berkata, "Aku haus.."

Joonmyeon tersenyum lebar. "Ahh, kau haus? Ini minumlah.."

Tangan Baekhyun mengambil gelas dari Joonmyeon lalu meminumnya dengan perasaan lega.

"Kau tidak tahu siapa namamu?"

Baekhyun menggeleng.

"Lalu aku harus memanggilmu apa?" Joonmyeon tampak berpikir dengan menepuk-nepuk dagunya menggunakan jari telunjuk. Detik berikutnya Jongin datang mendekat.

"Ahh, kau sudah bangun?" ucapnya sesampai di dekat mereka.

"Jongin! kita harus memberikannya nama. Kita akan panggil dia apa?"

Jongin menengok Joonmyeon dengan sorot mata bingung. Begitu juga Baekhyun ia tampak tak mengerti.

"Nama?" Jongin mengulang kata-kata Joonmyeon.

"Eum.."

"Kalau begitu aku akan menamakan dia Kim Hyemi..." ujarnya semangat.

"Apa? Kim Hyemi? Nama apa itu?" Joonmyeon mendelikkan matanya.

"Itu berarti wanita yang memiliki kecantikan abadi bagaikan emas.." jelas Jongin dengan senyum mengukir sempurna di wajah manisnya. "Kau suka?" tanya Juhyung kepada Baekhyun.

"Ahh? Iya, aku suka.." jawab Baekhyun sedikit bingung.

Jongin tersenyum. "Nah, dia saja suka.. Jadi mulai sekarang kita akan memanggilnya Kim Hyemi!"

Baekhyun tersenyum menanggapi nama barunya itu. Tak masalah baginya karena dia sendiri juga tidak tahu siapa dirinya.

"Aku minta maaf.." gumam Baekhyun lirih.

"Kenapa?" Joonmyeon merasa heran dengan permintamaafan Baekhyun.

"Aku minta maaf merepotkan kalian.."

Jongin tersenyum lalu mengusap dahi Baekhyun. "Tidak apa-apa. Kita tidak repot kok, cepat sembuh yaa biar kau tidak bosan dirumah sakit."

"Terima kasih.." Baekhyun mengulas senyum. "Eum, aku akan cepat sembuh. Kalian siapa?"

Joonmyeon menepuk jidatnya, "Ahhh, iyaa! Kita belum memperkenalkan diri. Kenalkan aku Kim Joonmyeon dan ini adikku Kim Jongin!"

"Senang bertemu dengan kalian. Sekali lagi terima kasih.."

Jongin dan Joonmyeon terkekeh mereka tak menyangka kalau orang yang Joonmyeon temukan di sungai ini sangat ramah dan menggemaskan. Apalagi Jongin merasa bahwa Baekhyun adalah wanita yang baik dan penyayang.

Byun Baekhyun yang berubah nama menjadi Kim Hyemi merasakan keluarga baru di saat ia kesakitan seperti ini. Dalam tidurnya ia sering bermimpi bahwa kehidupannya yang sesungguhnya tak seceria saat ini. Kenapa? Ia juga tak tahu. Kepalanya pusing jika dituntut untuk berpikir lebih.

Masih belum begitu jelas bayangan-bayangan yang terkadang muncul di mimpinya. Hanya beberapa siluet melayang dalam benaknya. Sayup-sayup gambar tak jelas terkadang juga menghiasi pikirannya. Tapi apakah ada salah satu dari sekian banyak bayangan itu menampakkan sosok Chanyeol? Entahlah.. Baekhyun belum yakin sepenuhnya dengan apa yang ia rasakan.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Helloo~

Ah, maaf yaa atas ke salah pahamannya kemarin..

Maaf kalau saya kurang teliti...

*DeepBow*

Jadi Luhan bukan saudara Baekhyun yaa..

Oh yaa, mulai chapter ini ke depan ChanBaek momentnya bisa dibilang hampir gak ada ...

Baru nanti beberapa chapter lagi..

Soalnya ada tokoh baru yang muncul.

Dan akan proses menyesalnya si Chanyeol.

Jadi saya mohon maaf sebelumnya..

.

Ada yang tanya ini remake apa, ini remake ff saya sendiri dengan pairing sebelumnya WooGyu (Woohyun Sunggyu) yang saya post di AFF.

.

Terima kasih yang telah menyempatkan mereview...

Silahkan tinggalkan jejak lagi..

Saya terima segala kritik dan saran..

Saya usahakan update cepat..

.

.

Terima kasih.

.

.

Best Regards

.

.

.

~Deer Luvian~