Too Late for Sorry...
Author :
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Hurt/Comfort, drama, angst
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gesipitn di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?
.
.
Happy Reading ^^,
.
.
Chapter 4.
.
..
Berhari-hari sudah Baekhyun menghabiskan waktu di rumah sakit. Hampir ada dua minggu ia berbaring di ranjang yang terasa menyiksanya. Ia tidak bisa bergerak bebas, menghirup udara segar dan melihat pemandangan yang indah di luar sana. Perasaannya suntuk sekali, bosan dan menjenuhkan. Berulang kali tangannya memainkan benda yang ada di sekitarnya. Diputar-putar tak jelas dengan sedikit gumaman yang keluar dari bibir tipis itu.
Kali ini ia harus ditinggal sendiri oleh Joonmyeon maupun Jongin. Keduanya tengah sibuk dengan pekerjaan mereka. Baekhyun juga tak merasa keberatan ditinggalkan sendiri walaupun ia tahu bahwa ia akan sangat jenuh sendirian. Tetapi ia tak mau egois, ia sudah berterima kasih dan merasa bersalah merepotkan keluarga Joonmyeon. Sehingga ia menurut saja ketika Jongin dan Joonmyeon pamit untuk bekerja.
Kim Jongin merupakan seorang lelaki yang giat bekerja di sebuah perusahaan. Dia bukan direktur utama ataupun seseorang yang memiliki kedudukan yang tinggi di kantor. Ia hanya seorang Ketua Tim. Namun sikapnya dalam bekerja itu patut diacungi jempol, sama sekali ia tak pernah terlambat, selalu bekerja keras dan itu semua membuat bosnya menyukai Jongin. Sebelum kedatangan Baekhyun, Jongin jarang sekali dirumah. Ia memilih untuk berlembur, pulang ke rumah tengah malam dan kembali bekerja pagi harinya. Sekarang ia jarang sekali lembur. Waktu sisa bekerjanya ia gunakan untuk menunggu Baekhyun di rumah sakit, ia juga berangkat sedikit lebih siang dari biasanya. Alasannya apa? Ia tidak mau meninggalkan Baekhyun sendiri.
Sedangkan Kim Joonmyeon, seorang pekerja kantoran yang memiliki sifat sama dengan Jongin. Joonmyeon dan Jongin memiliki sifat yang rajin bekerja. Ia bekerja di sebuah perusahaan swasta yang lebih maju dibandingkan tempat bekerja Jongin. Joonmyeon salah satu pegawai yang diperhitungkan atas kelihaiannya bekerja. Walaupun ia senang bekerja. Ia tak sebegitu maniaknya dengan bekerja. Jauh berbeda dari sosok Jongin.
Byun Baekhyun, ditemukan di tepi sungai oleh Joonmyeon saat Joonmyeon berniat membuang sesuatu. Ia sedikit ragu ketika melihat sesuatu yang mengambang ditepi sungai. Langkah kakinya membawa mendekati objek itu, sontak ia terlonjak kaget ketika wajah Baekhyun terlihat oleh Joonmyeon. Awalnya Joonmyeon mengira bahwa Baekhyun telah meninggal namun ia ada keyakinan jika Baekhyun masih hidup, ragu-ragu ia menarik tubuh Baekhyun dan menempelkan pendengarannya kedada Baekhyun. Mencari detak jantung Baekhyun dan benar saja jantung itu masih berdetak meski dengan ritme yang sangat pelan. Lantas Joonmyeon membawa tubuh Baekhyun kerumah sakit setelah meminta bantuan dari orang-orang sekitar.
Tangan mulus Baekhyun meraih sebuah boneka di sebelahnya. Mata sipitnya menyorot sendu boneka itu, dielusnya pelan lalu dipeluknya. Boneka beruang besar pemberian Jongin sebagai teman Baekhyun saat sendirian. Aneh memang, seorang wanita yang usianya juga tidak tergolong muda diberikan sebuah boneka beruang besar layaknya anak kecil. Jongin beranggapan bahwa beruang adalah hewan yang kuat dan tegar, sehingga ia mendeskripisikan Baekhyun seperti itu.
"Aku akan menamaimu Kim Jongin.." gumam Baekhyun pelan dengan senyum melengkung di wajahnya.
"Kau lucu seperti Jongin. Wajahmu mirip sekali dengannya." Baekhyun memeluk erat boneka itu dan bercanda sendiri dengannya. Tak lama, Joonmyeon masuk kedalam kamar itu..
"Waahh, Hyemi-ya! kau sedang bermain dengan beruang itu?" seru Joonmyeon setelah kakinya menginjak ubin kamar.
Baekhyun tersenyum ceria, "Eum, panggil saja ini Kim Jongin."
"Apa? Jongin? Hahaha..." Joonmyeon tertawa keras sekali. Baekhyun menampakkan wajah bodoh.
"Kenapa tertawa?" tanya Baekhyun bingung.
"Jongin? Boneka itu bernama Jongin? Kenapa bisa bernama Jongin? Hahahahaha." Joonmyeon masih belum bisa berhenti tertawa.
"Ini lucu, wajahnya mirip sekali dengan Jongin. Oh ya, kau tidak bekerja?"
Joonmyeon duduk ditepi tempat tidur, "Sudah pulang. Hyemi sudah makan?"
"Eum, suster baru saja membawakanku makan. Ah iya, apa Jongin akan pulang cepat juga?" Entah mengapa tiba-tiba Baekhyun ingin bertemu dengan Jongin.
Joonmyeon mengerutkan keningnya heran. Jarang sekali Baekhyun akan menanyakan Jongin seperti ini. Mungkin..
"Iya, Jongin sudah mengirimkan pesan untukku.
Senyum Baekhyun mengembang. "Ah iyaa.." Pekiknya senang.
"Emm, apa kau tidak merindukan sebuah keluarga?" tanya Joonmyeon ragu.
Sekejap raut muka Baekhyun berubah aneh, "Aku tidak tahu keluargaku Joonmyeon oppa. Aku tidak tahu apakah aku merindukannya atau tidak.."
"Sama sekali kau tidak mengingatnya?" Joonmyeon tampak memastikan.
Baekhyun menggeleng pelan. "Tidak, aku hanya merasa bahwa kalian adalah keluarga yang aku punya saat ini."
"Memang! Kita adalah keluarga dan kau Hyemi adalah adik wanita pertamaku..." tawa Joonmyeon lepas kembali. Langsung Joonmyeon memeluk Baekhyun dengan sayang.
"Tak usah sungkan untuk meminta sesuatu kepada kami nanti. Kita adalah keluargamu. Kita sangat senang atas kehadiranmu.." ucap Joonmyeon dengan hangat.
Baekhyun tersenyum dalam. "Terima kasih, kalian memang sangat baik sekali.." Baekhyun membenamkan pelukannya di dada Joonmyeon.
Keluarga, apa yang saat ini ada di benak Baekhyun tentang keluarga? Sebuah keluarga utuh? Kedua orang tua? Saudara? Suami atau istri? Apa keluarga bagi Baekhyun? Baekhyun memang tak mengetahui siapa keluarganya yang sebenarnya. Ia tak tahu siapa kedua orang tuanya. Bahkan ia tak tahu statusnya saat ini yang merupakan istri Chanyeol. Ia tak tahu dan tak mau tahu. Untuk saat ini ia hanya merasa bahwa Joonmyeon dan Jongin adalah keluarganya. Keluarga barunya, yang selalu membuat hari Baekhyun terasa berbeda, setidaknya ia merasa nyaman dan tenang bersama keluarganya. Ia tak memaksa dirinya untuk mencari tahu siapa keluarganya. Ia tak memaksa karena ia merasa ada yang mengganjal dihati tentang keluarga Baekhyun yang sebenarnya. Apa Baekhyun masih mampu merasakan sakit karena keluarga kecil yang ia bangun dengan Chanyeol? Entahlah..
.
.
.
.
Hari demi hari berganti, mentari berganti bulan dan bintang lalu kembali lagi berganti dengan mentari. Beberapa hari terlewati dengan segudang cerita di dalamnya. Cerita-cerita yang terukir di setiap harinya memberikan hal yang berbeda kepada pelakunya. Tak ada yang sama antara satu orang dengan lainnya. Hari yang dilewati memang akan membekaskan cerita, kenangan dan memori yang siap disimpan ataupun dibuang. Kesedihan, kebahagiaan, tangis, gelak tawa dan cinta akan tercipta seiring berjalannya waktu.
Waktu yang berjalan dengan sangat pelan ini memberikan kesan yang mendalam bagi Baekhyun. Harinya dihabiskan dengan keluarga barunya. Keluar dari rumah sakit dan tinggal bertiga di sebuah rumah sederhana namun sangat nyaman dan menenangkan. Hampir tak pernah air mata ataupun kesedihan menghampiri Baekhyun. Senyum, wajah cerita bahkan gelak tawa selalu menampak dari Baekhyun. Meskipun luka disekujur tubuhnya belum seutuhnya menghilang.
Semua perhatian yang diberikan Joonmyeon ataupun Jongin melebihi ekspetasi Baekhyun. Ia tak menyangka kalau mereka akan terbuka kepadanya yang notabene adalah orang asing di keluarga itu. Apa mereka tak akan khawatir kalau seandainya ia akan membuat masalah? Atau akan menambah beban? Baekhyun selalu mendapat jawaban bahwa itu semua bukan apa-apa. Yang terpenting bagi mereka adalah kehadiran Baekhyun memberikan suasana baru di keluarga Joonmyoen yang selalu diselimuti kesepian.
Bila dicermati hanya alasan itu akan terasa konyol. Mana mungkin orang akan menerimanya dengan terbuka tanpa ada imbalan atau lainnya? Memang ada yang lain. Alasan lain yang mungkin mendominasi alasan lainnya mempertahankan Baekhyun di keluarga itu. CINTA. Ya! Kim Jongin jatuh cinta kepada Baekhyun, bukan hanya sekedar suka tapi ia mencintai Baekhyun! Mencintai Byun Baekhyun yang ia kenal sebagai Kim Hyemi. Ia mencintainya dengan tulus, sangat tulus hingga berpikir akan menikahi Baekhyun. Tapi bagaimana dengan Baekhyun? Apa ia juga memiliki perasaan yang sama dengannya?
"Hyemi-ya! Apa kau mau ikut denganku?" Jongin berteriak ketika Baekhyun keluar dari rumah itu.
Baekhyun mendekat, "Kau mau kemana Jongin-ah?"
"Ini hari libur, aku ingin jalan-jalan. Kau mau ikut?"
"Mau..mau..mau..tapi aku belum siap-siap.." ujar Baekhyun sedikit sedih.
Jongin lantas tersenyum, "Gantilah bajumu, aku akan menunggu.."
"Sungguh? Baiklah, aku akan ganti baju dulu.." Baekhyun berlari ke dalam rumah kembali. Senyum memancar dari wajah Jongin ketika melihat Baekhyun seperti itu. Benar-benar menggemaskan baginya.
Tak butuh waktu lama Baekhyun kembali di hadapan Jongin dengan pakaian yang berbeda. Sangat manis sekali hingga Jongin tak berkedip sedetikpun. Baekhyun menatap bingung wajah manis itu sambil sesekali memperhatikan dirinya sendiri. Apa ada yang salah dengannya? Jongin tersenyum lalu menggandeng tangan Baekhyun untuk naik ke atas motor yang akan membawa mereka membelah jalanan.
Beberapa menit berjalan, Baekhyun menikmati jalanan dengan hati yang senang. Ia berulang kali menghirup udara yang menghempas wajahnya. Hatinya begitu tenang sekali. Ia bahagia, sangat bahagia apalagi ia bersama dengan orang yang sangat perhatian dengannya. Baekhyun memang lupa ingatan namun ia tidak mati rasa. Hatinya masih bisa merasakan segala bentuk perhatian yang diberikan Jongin tanpa henti. Semuanya mengalir bak hujan membasahi tubuh orang-orang yang tak memakai pelindung. Sama halnya dengan Baekhyun, ia basah akan perhatian Jongin yang sama sekali tak ia tolak.
Masih lama Jongin membawa Baekhyun menjelajahi jalanan. Kecepatan motor Jongin semakin bertambah membuat Baekhyun mau tak mau melingkarkan tangannya ke pinggang Jongin agar tak terjatuh. Lengkungan hangat tercetak dari bibir Jongin. Sedang ekspresi takut menghiasi wajah manis Baekhyun. Kepalanya menempel punggung Jongin erat. Jongin menyadari bahwa Baekhyun tengah takut.
"Apa kau takut Hyemi-ya?" Jongin memelankan kembali laju motornya.
Baekhyun tak merespon, ia masih memeluk tubuh Jongin erat.
"Apa kau baik-baik saja?" nada bicara Jongin berubah khawatir ketika tak ada jawaban dari Baekhyun. Lalu Jongin menghentikan motornya di tepi jalan.
"Kau baik-baik saja?" Jongin mengangkat wajah Baekhyun yang ketakutan. Ia tampak khawatir melihat ekpresi Baekhyun yang tak bisa dibilang baik. Baekhyun hanya mengangguk menanggapi Jongin. Kemudian Jongin tersenyum hangat.
"Kita turun disini saja yaa, kita ke taman itu. Apa kau suka?" tanya Jongin meminta pendapat Baekhyun.
Baekhyun melihat sekitar sekilas lalu mengulas senyum tipis. "Eum, aku suka.." jawabannya disertai anggukan antusias. Mengingat ia sangat menyukai bunga-bunga. Dalam sekejap air muka Baekhyun berubah senang.
"Ayo.." Jongin mengunci motornya lalu menggandeng Baekhyun ke taman itu.
Raut bahagia jelas terpancar di wajah Baekhyun. Bibir tipisnya tak henti menggumam kekaguman atas apa yang ia lihat. Hamparan bunga yang membentang luas sungguh menyihirnya untuk tidak melepaskan penglihatannya. Baru kali ini setelah ia keluar dari rumah sakit melihat pemandangan yang sangat indah.
Bibir tipis Jongin pun tak berhenti mengulas senyum ketika tatapan matanya menangkap raut bahagia itu. Hatinya bersyukur, sosok yang telah mengisi kekosongannya terlihat senang ketika bersamanya. Namun ia ragu jika Baekhyun memiliki rasa yang sama sepertinya, Baekhyun belum mengenalnya lebih dalam dan ini terlalu dini untuk memulai suatu hubungan. Hubungan? Iya, Jongin berharap lebih kepada Baekhyun, tetapi saat ini ia akan membiarkan segala sesuatunya mengalir pelan dan rasa itu akan datang dengan sendirinya.
"Lihat Hye, ini ada bunga cantik sekali. Sepertimu.." seru Jongin penuh semangat ketika memetik bunga itu.
Baekhyun menoleh kearah Jongin dengan penasaran. "Eoh? Ini indah.. Tapi kenapa sepertiku?" tanya Baekhyun bingung.
Jongin terkekeh pelan. "Kau itu cantik dan manis seperti bunga ini."
"Yaa! Kau bisa saja!?" Semburat malu tampak di kedua pipi Baekhyun. Melihat Baekhyun seperti itu rasa gemas Jongin menyeruak kepermukaan.
"Ahh... sakit Jongin..." keluh Baekhyun seraya mengusap pipi chubbynya. Jelas saja Baekhyun kesakitan karena Jongin sangat bernafsu mencubit pipi tembam itu.
"Kau menggemaskan Hyemi." Jongin mengusap puncak kepala Baekhyun.
Baekhyun membulatkan mata sipitnya. Sesaat darah mendesir pelan di tubuhnya. Sesaat jantung berdetak tidak karuan. Pipinya memanas sesaat. Semburat merah menghias pipi tembamnya. Baekhyun tertegun sesaat. Ia mencoba menganalisis apa yang ia rasakan saat ini. Apa yang membuatnya seperti ini di saat tangan halus Jongin membelai lembut surai cokelat tua miliknya, saat suara lembut Jongin menyentuh pendengarannya, saat bibir penuh itu. Bibir penuh Jongin mengecup hangat dahinya.
Perasaan apa yang terjadi pada Baekhyun? Apa yang terjadi kepadanya? Masih tertegun tak bergeming, Baekhyun mencoba mencari tahu..
"Kenapa kau diam? Ma..maaf.. aku lancang menciummu." Sesal Jongin dengan menundukkan kepalanya.
"Ti..ti..tidak apa-apa. tak salah." Balas Baekhyun gugup. Lantas Baekhyun mengangkat kepala Jongin yang menunduk. "Terima kasih..." ucapnya lirih.
"Untuk apa?" tanya Jongin bingung.
"Terima kasih untuk semua yang kau lakukan padaku.."
Jongin tersenyum lembut, tangannya menangkup kedua pipi Baekhyun, menatapnya lekat-lekat.
"Eum, apa kau tak keberatan aku berlebihan seperti ini?"
Baekhyun memiringkan kepalanya, sorot matanya mengatakan ia tak mengerti.
"Lupakan saja, sekarang kau senyum ne. Jangan bengong seperti tadi.." titah Jongin.
Bak anak anjing yang mengikuti tuannya, Baekhyun tersenyum sangat tulus. Bukan hanya bibirnya namun juga mata dan hatinya.
Kembali Jongin mengajak Baekhyun menikmati hari ini dengan semangat. Setelah berlama-lama ditaman kota. Motor Jongin melaju pelan namun pasti. Beberapa menit berlalu, tampak gedung-gedung tinggi menjulang berubah dengan hamparan laut yang membentang luas. Angin-angin yang membawa wangi laut menyerbu penciuman Baekhyun, hirupan nafas Baekhyun terasa tenang ketika angin-angin itu memasuki hidungnya.
Pandangan mata Baekhyun tak pernah beralih dari puluhan gelombang yang menggulung teratur itu. Deburannya membawa ketenangan saat mata sipit itu menyorot lurus ke depan. Sesekali lirih suaranya mengudara, menyebutkan kata-kata kekaguman atau lainnya. Tak jarang pula tangannya mengusap sendiri lengannya dengan kasar. Berusaha mengurangi dingin dari sentuhan sang angin.
Melihat Baekhyun kedinginan, lantas Jongin melepaskan jaket yang ia pakai dan menggantungkan di pundak Baekhyun. Baekhyun tak menolak, malah menyenderkan kepalanya di pundak Jongin dan kembali menikmati keindahan pantai yang menentramkan hatinya. Perlahan, mata sipitnya menutup merasakan angin yang menerpa wajahnya dan sayup-sayup suara deburan yang mengetuk telinganya.
.
.
.
.
.
Kepergian Baekhyun yang berhari-hari membuat Chanyeol kalang kabut. Sudah hampir sebulan Baekhyun tak menginjakkan kaki dirumah mewah yang selama ini ia tinggali. Chanyeol tak pernah membayangkan jika Baekhyun akan pergi selama ini tanpa ada kabar lebih lanjut. Semula Chanyeol tak menghawatirkannya, namun semakin berjalannya waktu Chanyeol mulai tak tenang. Apalagi semenjak keluarganya selalu menanyakan dimana keberadaan Baekhyun sekarang. Chanyeol bingung harus menjawab apa, untungnya pesan yang ia terima dari Baekhyun belum dihapus sehingga dapat menghindarkannya dari berbagai tuduhan yang mungkin saja akan dilayangkan kepadanya.
Lelaki berusia 24 tahun ini bingung, pikirannya kacau sekali. Ia tak paham dengan maksud kepergian Baekhyun. Apa alasan Baekhyun hingga meninggalkan rumah mereka selama ini? Berulang kali Chanyeol mencoba menghubungi ponsel Baekhyun namun hasilnya nihil. Ponselnya tidak aktif, dilacakpun percuma tidak dapat ditemukan.
Bukan hanya Chanyeol yang bingung, keluarga Baekhyun yang berada di Korea juga bingung. Semuanya mengerahkan beberapa orang untuk mencari Baekhyun di pelosok Korea, tapi seminggu mereka mencari, Baekhyun belum juga ditemukan. Semakin membuat Chanyeol tak tenang, kepikiran dan sering mengumpat.
Tak habis akal, Chanyeol mencoba menghubungi teman-teman Baekhyun. Barangkali salah satu diantara mereka mengetahui dimana Baekhyun. Tapi hasilnya? Sama. Nihil. Tidak ada satupun teman Baekhyun yang tahu dimana Baekhyun sekarang.
"Baek... kau kemana sih? Kenapa tak mengabariku?" ucap Chanyeol putus asa. Lantas ia membanting ponselnya. Detik-detik berlalu, bel rumahnya berbunyi.
"Chanyeol hyung! bagaimana? apa kau bisa menghubungi Baekhyun noona?" suara khawatir itu mencekam Chanyeol seketika pintu kayu itu terbuka.
Chanyeol memandang dengan pandangan sayu, ia menggeleng pelan. Wajah frustasinya sangat terlihat.
"Terus kita harus bagaimana?" tanyanya lagi semakin gelisah.
"Masuklah dulu!" Chanyeol mendudukkan tubuhnya di sofa dengan kasar. Hembusan frustasi lolos dari bibir tebalnya.
"Kami sudah menghubungi polisi juga. Tapi masih belum ada kabar.."
Sosok tamu itu ikut menghembuskan nafas berat, lalu ia duduk di sebelah Chanyeol.
"Hyung, yang sabar ya.. aku juga tidak menyangka kalau Baekhyun noona akan pergi dan tak kembali selama ini. Aku takut kalau ada terjadi apa-apa dengannya.."
Chanyeol mengangguk pelan. "Hmm..."
.
Memikirkan Baekhyun yang menghilang tanpa jejak membuat Chanyeol benar-benar memecahkan fokusnya. Ia tak sanggup memperhatikan rapat dengan tenang, bekerja dengan benar dan bahkan ia juga berulang kali hampir menabrak orang saat melajukan mobil hendak mencari Baekhyun. Apa Chanyeol mulai merasa kehilangan? Apa Chanyeol mulai mencintai Baekhyun? Apa Chanyeol mulai menyesal atas kehilangan Baekhyun dari sisinya? Apa mungkin?
"Chanyeol-ah... wajahmu pucat sekali! Apa kau tak istirahat cukup?" tanya Sungyeol saat melihat wajah Chanyeol sudah tak karuan.
"Hhhh..." Chanyeol menghela nafas panjang. Lalu mengangguk. "Aku masih mencari Baekhyun."
"Apa kau mulai merasa kehilangan dia?"
Chanyeol mendelikkan matanya, "Iyalah.. aku kehilangan dia.."
"Kau mulai mencintainya?"
"Hehh?" Chanyeol tersenyum miring. "Aku tidak mencintainya.."
"Lalu?"
"Kau ini lucu sekali Sungyeol! Kalau Baekhyun hilang dan tak kembali aku juga akan kehilangan hartaku.."
Jawaban Chanyeol sontak membuat Sungyeol terkejut. Ia tak menyangka temannya akan seperti ini. Separah itukah Chanyeol terhadap harta?
"Hanya karena harta kau seperti ini? Bukankah ini sudah menjadi milikmu?"
"Belum... orangtuaku mengancam tak akan memberikan hartanya jika Baekhyun belum kembali."
Sungyeol menghembuskan nafasnya pelan, "Apa kau benar-benar tak mencintai Baekhyun? apa semua yang kau pikirkan hanya harta?"
"Aku tidak mencintai Baekhyun! Aku hanya simpati kepadanya. Aku juga tidak tega kalau misal ia menghilang dan tak memiliki tempat di luar sana. Daripada dia harus menderita di sana lebih baik aku cari dia dan bawa pulang.."
"Chanyeol! Jaga ucapanmu! Jangan pernah kau bilang seperti itu.." bentak Sungyeol geram. Ia sudah tak tahan kelakuan temannya ini.
"Apa yang salah? Bukankah benar apa yang ku katakan?"
"Terserah kau saja! aku hanya berharap semoga Baekhyun tak akan kembali kesini dan menjadi objek yang kau sakiti.." Sungyeol melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Yaa! Maksudmu apa Lee Sungyeol?" Teriak Chanyeol kesal seiring menghilangnya Sungyeol dari hadapannya.
Chanyeol menggeretakkan giginya geram lalu menghempaskan tubuh lelahnya diatas kursi dan lama kelamaan matanya menutup disertai hembusan nafas yang lebih tenang.
.
.
.
.
.
Dingin malam memaksa tubuhnya meringkuk di bawah tebal selimut yang menyelimutinya. Sesekali gesekan-gesekan kasar ditimbulkan dari kulit tangan dan kakinya. Mengharapkan kehangatan yang mampu mengalahkan dinginnya yang terasa tak santai itu.
Bibirnya bergumam sesekali, mata sipitnya menutup erat. Nyawanya telah melayang dalam mimpi. Ia terlelap dalam tidurnya.
"Aku ingin memberitahumu...aku punya kekasih baru.."
"Aku hanya minta persetujuan darimu.."
"Aku mohon, ceraikan aku... ceraikan aku agar kau juga bisa bahagia dengannya.."
"Tidak bisa..."
"Kenapa aku harus tersakiti? Kenapa?"
"Ahhhhhh..." teriaknya tiba-tiba. Nafasnya tersengal-sengal. Dadanya bergetar. Detak jantungnya berpacu tak karuan. Peluh keringat menetes dari dahinya. Kepalanya pusing. Lantas ia memeganginya dengan kuat.
Siluet-siluet random ingatan muncul tiba-tiba dalam mipinya. Sekejap membuatnya terlonjak kaget. Bayangan yang tak begitu jelas muncul dan terasa sangat menyakitkan untuknya. Ia mencoba menenangkan dirinya. Mengapa harus mimpi buruk lagi yang muncul mengapa? Sedetik berlalu, lelehan air hangat mengalir lembut dari sudut mata sipitnya.
"Jangan marah kalau aku membawanya ke rumah..." lagi, siluet itu muncul di kepalanya, bahkan saat ia tersadar. Kepalanya semakin pusing, semakin kuat pula ia memegangnya.
"Ahhh, noona... aku merindukanmu, kenapa kau tak pernah kembali ke Jeonju?" kali ini siluet itu berbeda dengan sebelumnya. Wajahnya samar-samar dapat ia lihat. Wajah tampan itu sedikit terngiang di pikirannya.
"Daehyun-ah... maafkan noona yang belum sempat mengunjungimu..." ia mulai menyadari siluet terakhir adalah suaranya. Ia sadar ada satu nama terucap. Daehyun? siapa Daehyun? apa sosok tampan yang muncul dalam mimpinya?
Air matanya masih turun perlahan. Dadanya bergemuruh tak teratur, nafasnya masih memburu kasar di bibirnya. Detak jantungnya pun tak tenang. Berulang kali ia menenangkan dirinya sendiri, namun sama sekali tak ada hasil. Hingga sesenggukan mendominasi sepi ruang yang ia tempati saat ini. Beberapa kali siluet itu muncul kembali membuatnya semakin ketakutan dalam sepi.
Ingin ia berteriak nama Jongin, namun ia tak mau merepotkannya. Sudah terlalu lelah Jongin menemaninya seharian. Akhirnya ia hanya sendirian dalam sepi, sesenggukan mencoba mengurangi beban yang ia rasakan. Sesaat ia menolak kembali terpejam. Ia takut jika siluet menyakitkan itu kembali berputar didalam mimpinya. Ia takut..
"Jongin-ah... aku takut... aku takut..." gumamnya lirih.
.
.
.
.
Pernikahan? Sesaat kepala Baekhyun pusing ketika kata-kata itu terdengar di telinganya. Sekelebatan bayangan berlalu lalang di pikirannya.
Baekhyun mengekspresikan kekesalannya kepada dua orang paruh baya yang tengah berbicara kepadanya.
"Apa? Kenapa aku harus menikah secepat ini?"
Salah satu dari keduanya berkata kepadanya, "Ini yang terbaik untukmu. Kau tak akan kerepotan mengurus perusahaan. Calon suamimu akan mengurusnya."
Baekhyun mendengus. "Baiklah, tapi kenapa harus seseorang yang tidak aku ketahui orangnya? Apa tidak ada yang lain? Aku tidak mau..."
"Tapi Baek-..."
"Ahhh..." pekiknya kesakitan. Baekhyun memegangi kepalanya yang terasa berputar ketika potongan-potongan memori kembali berterbangan di kepalanya. Kata-kata pernikahan yang diucapkan Jongin melalui sambungan telepon itu begitu menyiksanya hingga menimbulkan bayangan yang entah apa maksudnya.
Joonmyeon panik melihat Baekhyun tiba-tiba memekik kesakitan. Lantas ia mendekat ke arah Baekhyun. "Hyemi-ya! kau baik-baik saja?"
"Ahh...sakit.." Baekhyun masih memegangi kepalanya erat.
"Kau harus menikah secepatnya. Appa dan eomma akan kembali ke China bulan depan. Jadi menikahlah bulan ini."
Potongan dialog dari masa lalu muncul lagi di kepala Baekhyun. Baekhyun semakin kesakitan ketika harus memperjelas ingatannya.
"Aku calon suamimu... Senang bertemu denganmu. Kau manis dan cantik.."
Lagi, potongan itu terngiang di kepala Baekhyun membuatnya memekik begitu keras.
Mendengar pekikan Baekhyun, Jongin yang semula menerima telpon dari relasinya berbalik dari tempatnya lalu memegang Baekhyun dengan sangat khawatir.
"Hyemi-ya, kau kenapa? Apa kau pusing lagi?" Tanya Jongin cemas. Tangan Jongin memegangi tubuh Baekhyun lalu mengarahkan kepalanya ke dalam pelukannya.
"Joonmyeon hyung! Tolong ambilkan obatnya cepat.."
Dengan cepat, Joonmyeon segera melesat ke kamar Baekhyun untuk mengambil obat pereda sakit kepala. Tak lama Joonmyeon kembali dengan beberapa butir obat di tangannya. Jongin langsung menerima obat itu lalu meminumkannya kepada Baekhyun.
Tangan kiri Jongin tak henti-hentinya mengusap punggung Baekhyun sedang tangan kanannya mengusap kening Baekhyun yang berpeluh. Sorot mata Jongin melemah ketika melihat Baekhyun kesakitan seperti ini. Lantas ia memeluk kembali tubuh Baekhyun agar sedikit tenang.
Rasa sakit yang ia rasakan perlahan menghilang, kerja obat itu cukup cepat. Ditambah kehangatan yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya merasa jauh lebih baik. Baekhyun merasakan lagi, detak jantungnya berpacu lebih cepat. Dadanya seakan memanas, bahkan pipinya pun terasa tegang. Baekhyun merasa ada sesuatu yang aneh saat berada dipelukan Jongin. Ada yang berbeda. Ada yang mengganjal. Ada yang membuatnya tak ingin melepas pelukan itu. Baekhyun benar-benar merasa ia tak mau terlepas dari pelukan itu lantas mengeratkan pelukan Jongin.
Tiba-tiba saja air mata Baekhyun jatuh saat itu juga. Baekhyun menangis? Iya Baekhyun menangis tapi ia tak mengetahui apa alasannya menitikkan air mata itu. Jongin merasakan kaos depannya terasa basah karena air mata Baekhyun lantas melonggarkan pelukannya. Ditatapnya kedua mata sipit Baekhyun yang telah sembab itu.
"Kau kenapa menangis Mi-ya?" tanya Jongin semakin khawatir melihat air mata itu tak berhenti.
"Apa masih begitu sakit?" tanyanya lagi.
Baekhyun tak menjawab, ia menuduk dalam seiring lelehan air mata yang tak sanggup ia hentikan.
"Hyemi-ya.. Jangan menangis! Mana yang sakit? Apa kau masih pusing?" Jongin menangkup pipi Baekhyun. Pandangan matanya seolah meminta Baekhyun untuk menjawabnya.
"A.. baik-baik saja.." jawab Baekhyun lirih.
"Kau yakin? Mana yang sakit? Katakan padaku! Apa kau mau aku antar ke rumah sakit?" Jongin tak percaya dengan jawaban Baekhyun.
Baekhyun menggeleng, "Aku baik-baik saja. aku ingin istirahat.."
"Sungguh? Baiklah, aku akan mengantarmu ke kamar.."
Kemudian Jongin membantu Baekhyun pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar Jongin membaringkan tubuh Baekhyun dan menyelimutinya. Saat Jongin hendak meninggalkan Baekhyun, tangan Baekhyun menarik tangan Jongin. Jongin menatap bingung, Baekhyun menggelengkan kepalanya. Ekspresi wajahnya mengatakan bahwa jangan pergi dan temani disini.
Mengerti maksud Baekhyun, ia kembali duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam tangan Baekhyun. Bibir penuhnya mengalunkan sebuah lagu untuk meninabobokkan Baekhyun. Beberapa menit berlalu, dengkuran teratur keluar dari bibir tipis Baekhyun. Menandakan bahwa Baekhyun telah terlelap dalam tidurnya.
"Hyemi-ya! Kuatkan dirimu.. Aku akan selalu disini menemanimu menghilangkan kesakitan yang kau rasakan. Aku memang tak tahu siapa kau sebenarnya, tetapi aku percaya bahwa kau orang yang baik dan kau adalah orang yang pantas aku cintai.." gumam Jongin lirih kemudian ia mengecup dahi Baekhyun sebelum meninggalkan Baekhyun.
.
.
.
.
.
"Park Chanyeol! Kenapa kau membentakku?" suara itu ikut meninggi setelah sebuah bentakan mengudara.
Chanyeol hanya mendengus sesaat lalu kembali membanting dokumen yang ada di sekitarnya.
"Jangan bilang kau marah lagi gara-gara Baekhyun yang belum kembali sampai saat ini?!"
"Iyalaah, bagaimana aku tidak marah? Baekhyun pergi dan belum kembali. Ini membuatku gila... sungguh! Aku bisa gila.. Ahhhhh..." teriaknya kesetanan. Chanyeol benar-benar kehilangan akal, sampai saat ini ia sama sekali belum mengetahui dimana Baekhyun berada.
"Chanyeol! Bukannya lebih baik kalau Baekhyun tak kembali? Dia tidak akan merusak hubungan kita.."
Chanyeol menatap tajam kedua mata rusa lawan bicaranya. Bibirnya tersenyum miring. "Baik kau bilang? Baik? Yaa! Kau tahu? Kau tak akan mendapatkan uang dariku kalau Baekhyun tak kembali.."
"Chanyeol!" teriaknya kesal.
"Kenapa?"
"Apa kau bilang? Maksudmu aku hanya memburu hartamu saja? Yaa! Aku bukan sepertimu yang menikahi seseorang karena harta! Aku mencintaimu dengan tulus Chanyeol! Aku sudah mengenalmu lama... Tapi kau tega menganggapku bahwa aku mau bersamamu karena harta? Aku tak menyangka ternyata kau akan berpikiran seperti ini.." Jawabnya disertai buliran air mata yang menetes pelan di kedua pipinya. Lantas ia melangkah pergi keluar.
Emosi Chanyeol semakin tak kendali kala memikirkan Baekhyun. Baru kali ini ia menghabiskan waktunya untuk memikirkan Baekhyun. Ia bingung, ia kehabisan akal. Harus dengan cara apalagi untuk menemukan Baekhyun dan membawanya pulang ke rumah. Hari-hari Chanyeol hanya diisi teriakan kekesalan dan bentakkan-bentakkan yang ia alamatkan kepada siapa saja yang ada disekitarnya. Tak terkecuali Luhan, Luhan pun mendapatkan bentakkan dari Chanyeol. Padahal sebelumnya ia sama sekali tak pernah mendengar suara Chanyeol meninggi ketika memanggilnya. Namun apa? Sekarang jangankan memanggilnya dengan manja, dengan nada biasa saja jarang sekali ia dengar.
Sesaat Chanyeol memijat keningnya yang terasa sangat sakit. Matanya memandang nanar pintu yang baru saja dibanting kekasihnya. Ingin ia mengejar Luhan, namun pening kepalanya memaksa Chanyeol untuk tetap tinggal. Deruan nafas yang tersengal dan terdengar tak tenang mengalun dari bibirnya. Desahan-desahan kekesalan lolos begitu saja.
"Byun Baekhyun! kau sebenarnya dimana? Kenapa kau tak menghubungiku? Baekhyun..." gumam Chanyeol lirih. Sesaat kemudian air matanya meleleh dari sudut matanya. Chanyeol menangis, kali pertama dalam hidupnya ia menangisi Baekhyun. Tapi, benarkah ia menangis gara-gara Baekhyun?
Pikirannya mulai menerawang lagi, ia mencoba memutar otaknya. Berpikir apa yang membuat Baekhyun pergi dari rumah. Sejenak ia teringat, Baekhyun pergi setelah kedatangannya dari Jepang.
"Apa kau marah kepadaku karena aku liburan ke Jepang?"
"Apa kau marah karena aku membawa Luhan ke rumah?" Chanyeol mengusap air matanya kasar.
"Tapi bukannya kau sudah terbiasa dengan kehadiran Luhan di sisiku? Kenapa kau harus marah lalu pergi? Kenapa? Ha? Kenapa? Ahhh..." teriak Chanyeol dengan geram. Tangannya mengepal lalu menghantam meja kayu di depannya.
"Kau merepotkanku Baek! Kau merepotkanku..."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Wanna review?
Silahkan tinggalkan komentar.
.
.
.
Terima kasih.
.
.
.
Best Regard
.
.
.
~DeerLuvian~
