Too Late for Sorry...
Author :
.
Deer Luvian
.
Main Cast:
.
Byun Baekhyun (GS)
Park Chanyeol
.
Other Cast:
.
Lu Han (GS)
Kim Jongin
Do Kyungsoo (GS)
Kim Joonmyeon
Byun (Jung) Daehyun
Jung Ilhoon
.
Genre:
.
Hurt/Comfort, drama, angst
.
Rated:
.
T-T+
.
Lenght :
.
multi chapter
.
*Disclaimer:
Semua cast yang saya pakai sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa. Dilahirkan oleh kedua orang tua masing-masing dan dibesarkan oleh agensi mereka. SM Ent, maupun yang lainnya. Jalan cerita, ide cerita dan segalanya yang berkaitan dengan cerita sepenuhnya milik author. Kalaupun ada kesamaan cerita saya mohon maaf sebesar-besarnya.
This original stories is mine with pairing before WooGyu and I posted on Asianfanfics so If u feel that u've been read it, please bear it! I just re-make my own stories. Thanks for your attention..
This is genderswitch for several cast.
With pairing ChanBaek slight! KaiBaek, ChanLu, HunHan.
Please don't bash! Don't plagiat!
DLDR
.
AU! OOC! GS!
.
Thanks!
.
Summary:
Baekhyun hanyalah seorang istri yang terlalu lama merasakan gesipitn di hati. Beberapa saat ia tahan dengan sikap Chanyeol yang terus mengumbar kemesraan dengan Lu Han. Awalnya ia sanggup menahan namun lama kelamaan ia memilih mengakhiri semua. Bagaimana dengan Chanyeol? Apa dia akan tetap sama setelah kepergian Baekhyun?
.
.
Happy Reading ^^,
.
.
Chapter 5.
.
.
Kreekkk...
Suara gesekan kayu yang bersentuhan dengan lantai saat pintu kayu itu terbuka perlahan. Dari balik kayu tipis itu menampakkan sosok dengan senyum hangat bertengger di wajah malaikatnya. Baekhyun mendongakkan kepalanya, ia tersenyum melihat sosok itu mendekat dengan tangan membawa nampan.
"Hyemi-ya.. Ayo makan dulu! Kau pasti laparkan setelah tidur?" seru lelaki itu dengan suara ceria khasnya.
Baekhyun membenarkan posisinya. Ia duduk seraya menyender di tembok. Menanti lelaki itu melangkah lebih dekat ke arahnya.
"Ini, aku bawakan kau bubur. Makan yang banyak ya! Biar tambah sehat.."
Baekhyun menerima uluran piring yang diberikan kepadanya. "Terima kasih Joonmyeon oppa.." balas Baekhyun dengan senyum mengembang. Sebelum ia menyendokkan makanan itu ke mulutnya, mata sipit Baekhyun mengedar sebentar. Seolah ia sedang mencari sesuatu. Joonmyeon tampaknya paham dengan arah sorot mata Baekhyun yang terlihat penasaran.
"Ada apa?" tanya Joonmyeon.
"Eoh? Jongin kemana?"
Senyum mengembang di wajah Joonmyeon. "Ahh, kau sedang mencari Jongin ternyata. Dia sudah berangkat bekerja."
"Loh? Katanya kerjanya libur?" tanya Baekhyun kecewa.
"Iya, tapi tadi ada telepon dari bosnya. Jadi dia tidak bisa menolak. Tenang saja! Jongin pasti pulang kok..." ujar Joonmyeon yang sukses membuat pipi Baekhyun merona merah.
Baekhyun menunduk malu, ia menyembunyikan semburat merah yang muncul di pipinya.
"Hey yaa!... Tidak usah malu... Apa kau menyukai Jongin?"
Baekhyun masih menunduk malu. "Eum, aku tidak tahu oppa. Tapi setiap kali aku bersama Jongin, aku merasa tenang, senang dan jantungku berdetak lebih cepat."
"Waahhh! Itu namanya kau mulai jatuh cinta dengannya.. wah..wah...wahh..." Sambut Joonmyeon antusias. Ia tak menyangka ternyata adiknya itu bisa menaklukan hati sosok di depannya ini. Pasalnya, Joonmyeon tahu bahwa Jongin itu jarang sekali menjalin hubungan karena selain Jongin sulit jatuh cinta juga jarang ada yang suka dengannya.
"Apa ini bisa disebut cinta?" Baekhyun membesarkan bola matanya. Wajahnya menggambarkan ia tak begitu paham.
"Eum, aku tanya. Apa kau sering merasa kangen kalau tidak ada Jongin?"
Sebentar Baekhyun tampak berpikir lalu mengangguk pelan.
"Nahh, berarti kau memang menyukai Jongin.. Aku senang kalau kalian bisa bersama-sama.."
"Jongin juga mencintaimu.. Cepat menikah saja Hye..."
"Tapi oppa, aku tidak tahu siapa diriku.. nanti takutnya setelah Jongin tahu siapa aku yang sebenarnya ia akan kecewa.." kata-kata Baekhyun terdengar sedih.
Joonmyeon menepuk pelan pundak Baekhyun, "Hyemi-ya! Kalau yang namanya cinta, mereka akan menerima apapun kekurangan dan kelebihanmu. Apapun itu. dan aku yakin kalau Jongin juga akan menerimanya.."
Baekhyun terdiam, bibirnya mendesah pelan. "Oppa.."
"Hmm, kenapa?"
"Ada sekelebat ingatan yang muncul di pikiranku. Juga di mimpiku. Aku yakin kalau itu memoriku yang aku lupa.." tukas Baekhyun serius.
"Apa?" Joonmyeon penasaran dengan apa yang dikatakan Baekhyun.
"Aku bermimpi kalau aku meminta cerai..."
"Apa kau? cerai? Terus? Ada kah yang kau ingat lainnya?"
"Dan tadi pagi saat aku memekik kesakitan. Sedikit aku mengingat..." Baekhyun menggantungkan kata-katanya..
Joonmyeon menatap penasaran kearah Baekhyun, "Apa Hye?"
"Aku dipaksa menikah dengan orang tuaku.." Baekhyun menundukkan kepalanya. Titik air mata menetes.
Hembusan nafas berat turun dari bibir tipis Joonmyeon. Ini kenyataan yang akan menyulitkan bagi Jongin jika dia tahu. Joonmyeon juga tak menyangka jika sosok di depannya ini sudah menikah. Sedikit berpikir ia heran kenapa Baekhyun bisa sampai di sungai? Apa Baekhyun memiliki masalah yang pelik sehingga membuatnya mendatangi sungai dan berniat untuk bunuh diri?
"Lalu Mi-ya, apa kau sudah mengingat dari mana asalmu?"
Baekhyun menggeleng, "Aku tidak tahu, tapi diingatanku orang yang aku panggil eomma dan appa itu mengatakan bahwa ia akan kembali ke China.."
"Jadi orang tuamu ada di China?"
Baekhyun mengangguk, "Oppa.."
"Iya?"
"Aku mohon kepadamu, jangan katakan ini kepada Jongin.."
Joonmyeon menautkan kedua alis tebalnya, "Kenapa?"
"Aku mohon jangan katakan. Sejujurnya aku tidak ingin meninggalkan tempat ini. Aku takut Jongin akan semakin terbebani jika tahu kenyataannya."
"Ah, baiklah kalau itu maumu.." Joonmyeon sebenarnya masih belum paham dengan alasan Baekhyun menutupi kenyataan itu. Sempat ia berpikir apa karena Baekhyun juga mencintai Jongin dan ia tak ingin membuat Jongin kecewa karena kenyataannya Baekhyun sudah menikah? Namun di balik apapun alasan Baekhyun menyembunyikan ini semua, Joonmyeon hanya menurut saja. Baginya, jika memang itu membuat Baekhyun jauh lebih baik ia tak masalah.
Sedikit demi sedikit potongan-potongan memori Baekhyun muncul di benak Baekhyun. Namun sampai saat ini belum ada potongan yang mengatakan siapa dirinya sebenarnya. Hanya sekelebatan peristiwa-peristiwa pahit yang terkadang mampir di pikirannya. Kepalanya akan terasa pusing jika Baekhyun memaksa untuk mengingat sesuatu yang baru. Jangankan untuk mengingat memperjelas apa yang dia ingat saja sangat menyakitkan. Tetapi samar-samar bayangan wajah tampan muncul beberapa kali di otaknya. Bukan Chanyeol, melainkan Daehyun. Baekhyun mencoba mengingat lebih dalam siapa Daehyun? tetapi otaknya belum memberikan ijin untuk mengetahui lebih dalam.
"Daehyun? Siapa Daehyun? kenapa dia selalu muncul di otak dan mimpiku? Apa dia suamiku?" gumam Baekhyun lirih.
"Tapi, dia terlalu muda untuk jadi suamiku..."
"Tapi kenapa terus masuk ke dalam otakku?"
"Ahhhh..." kepala Baekhyun kembali sakit. Lantas ia memutuskan untuk tidak memikirkan lebih lanjut dan memilih untuk tidur.
.
.
.
.
.
Dokumen-dokumen itu terbuka berserakan di atas meja kayu tanpa ada niat untuk dibereskan. Pemilikinya hanya mendesah perlahan, nafasnya terdengar berat. Sekilas ia melirik ke arah jam dinding. Jarum jam itu menunjuk ke arah angka delapan. Menandakan bahwa dirinya harus segera melangkah keluar ruangan. Sebelum benar-benar ia meninggalkan kantor, kedua bola matanya mengedar sesaat. Pandangannya mencari sosok yang telah ia sakiti. Tetapi pandangannya tak menangkap sosok itu, lantas kakinya melangkah keluar.
Saat hendak menuju mobil yang ia parkir tak jauh dari gedung kantornya, ia menangkap sosok yang tengah duduk termenung sendirian di taman. Lantas ia menghampirinya.
"Luhan-ah.. Maafkan aku.." ucapnya penuh sesal. Tangannya meraih tangan kurus itu lalu menggenggamnya dengan erat.
Luhan tak bergeming, ia masih memandang kosong tanah di bawah.
"Luhan-ah, aku tak pernah bermaksud mengatakan itu kepadamu. Aku sedang emosi dan tidak bisa mengontrol emosiku. Maafkan aku Luhan-ah.." rengek Chanyeol seraya mengecup berulang kali tangan Luhan. Luhan masih terdiam, sekilas ia melirik Chanyeol lalu menunduk kembali.
"Luhan-ah, jangan diam seperti ini..."
Luhan mengangkat kepalanya. Sedetik kemudian ia menatap lembut Chanyeol. "Aku kecewa kepadamu Chanyeol, bagaimana bisa kau menganggapku sebagai wanita yang hanya memikirkan harta?" ucap Luhan lirih.
"A..aku minta maaf. Kau maukan memaafkanku?" Chanyeol memandang kedua mata kucing Luhan.
"Jangan lagi membentakku Chanyeol. Aku sakit saat kau bentak seperti itu. kau tahu? Sebenarnya kau telah menyakiti dua orang Chanyeol-ah! Kau menyakitiku dan menyakiti Baekhyun."
"Maksudmu apa Luhan?"
"Aku hanya menduga saja, Baekhyun pergi karena tidak tahan dengan sikapmu. Memang itu kabar baik untukku awalnya, tapi lama-kelamaan aku juga yang sakit. Kau selalu memikirkannya, saat kau emosi kau meluapkan semua kekesalanmu kepadaku. Kau membentakku! Kau selalu membentakku.." jawab Luhan diiringi dengan isakan dan air mata yang turun.
Chanyeol mengusap air mata Luhan. "Aku minta maaf! Aku minta maaf. Kau mengertikan apa alasanku menjadi seperti itu? Aku janji aku tidak akan membentakmu lagi." Lantas Chanyeol memeluk tubuh Luhan dan mengecup puncak kepalanya. Luhan hanya menangis dalam pelukan itu.
Setelah Chanyeol berhasil membuat Luhan kembali percaya kepadanya, Chanyeol menghidupkan mobilnya untuk pulang ke rumah. Sesampainya ia di depan rumah, seseorang telah menunggunya dengan perasaan gusar.
"Ilhoon-ah! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Chanyeol heran.
"Hyung! aku dapat kabar tentang Baekhyun noona!" jawab Ilhoon dengan suara sedikit terburu-buru.
"Apa kau bilang? Tentang Baekhyun?"
"Eum, temanku mengatakan bahwa ia bertemu dengan Baek noona di Cheongjoo. Tapi katanya dia ragu itu Baek noona atau bukan.."
"Cheongjoo? Oke aku mengerti.." Lantas Chanyeol berlari ke arah mobilnya lagi tanpa mau mendengarkan cerita Ilhoon.
"Hyung! ini sudah malam... hyung..." Ilhoon ikut berlari mengejar Chanyeol dengan tergesa.
"Hyung! Kau mau kemana? Dengarkan aku dulu hyung..." Ilhoon memukul-mukul kaca mobil Chanyeol yang sudah siap untuk meluncur.
Chanyeol membuka kaca mobilnya. "Apa lagi? Kita tinggal cari di Cheongjoo kan?"
"Hyung!" Ilhoon membuka pintu mobil Chanyeol. "Dengar! Sungjae temanku mengatakan kalau dia memang melihat seseorang seperti Baekhyun noona di Cheongjoo. Tapi dia tidak yakin kalau itu Baekhyun noona!"
Kedua alis Chanyeol menaut menjadi satu. "Apa maksudmu?"
"Dia bilang kalau orang itu bersama dengan lelaki lain. Dan yang membuat Sungjae ragu, wajah orang itu penuh dengan luka serta tangannya cidera. Masak iya Baekhyun noona seperti itu?"
"Kau benar, tapi kenapa Sungjae mengira itu Baekhyun noona?"
"Katanya, tubuh dan ciri fisiknya sama persis dengan Baekhyun noona."
"Kalau begitu, itu memang Baekhyun dan kita harus mencarinya sekarang.." Chanyeol menyalakan mobilnya. Namun dengan cepat Ilhoon mengambil kunci mobil itu.
"Hyung! Ini sudah malam! Kau tak berniat nekat kan? Kau sudah capek! Kita bisa mencarinya besok hyung. Nanti takutnya ada apa-apa denganmu."
"Baiklah, kita akan cari besok. Tapi tunggu! Kau tadi bilang Baekhyun bersama lelaki? Apa dia pergi dengan kekasihnya?" tebak Chanyeol yang sontak membuat Ilhoon kaget.
"Maksudmu apa hyung? mana mungkin Baekhyun noona mempunyai kekasih lagi?" bantah Ilhoon.
"Siapa tahu! Aku hanya menebaknya saja."
"Hyung! Dia itu mencintaimu! Tidak mungkin dia memiliki kekasih lain. Aku juga tidak pernah tahu Baekhyun noona dengan orang lain selain denganmu dan Daehyun hyung."
Sesaat Chanyeol membelalakkan matanya mendengar pernyataan Ilhoon.
"Kau bilang apa? Baekhyun?"
"Dia mencintaimu... Tunggu!" Ilhoon merasa ada yang aneh dengan ekspresi Chanyeol. Dia merasa ada sesuatu dengan Chanyeol. "Kenapa kau menanyakan itu? Apa hyung tidak tahu kalau Baek noona mencintaimu?"
Chanyeol terkesiap, ia baru sadar kalau sikapnya membuat Ilhoon merasa janggal. "Ahh..ti.. . Aku tahu kalau Baekhyun mencintaiku. Aku juga mencintainya." Jawab Chanyeol gugup.
"Aku harap begitu. Sudah, aku akan pulang dulu. besok aku akan ikut hyung mencari Baekhyun noona." lantas Ilhoon turun dari mobil Chanyeol dan berlalu begitu saja.
Chanyeol masih berdiam diri di dalam mobilnya. Ia memikirkan kata-kata Ilhoon. Kata-kata bahwa Baekhyun mencintainya. Hatinya sedikit berdesir ketika kata itu mengulang lagi di pikirannya. Sejenak pikirannya kembali kalut, beberapa kejadian saat ia dengan Baekhyun berputar di pikirannya. Kejadian yang seharusnya ia sadari bahwa sikapnya telah menghancurkan Baekhyun.
Sepulang dari kantor, Chanyeol segera masuk kedalam rumah. Ia mendapati Baekhyun duduk sendiri menikmati tayangan yang tengah ia lihat. Mata sipitnya mengikuti gerak yang keluar dari layar datar itu. Sesekali tawanya pecah karena kekonyolan tontonan yang ia lihat.
"Baek, kau sedang lihat apa?" Chanyeol mendekati Baekhyun.
"Eoh? Aku sedang lihat sitcom ini. Lucu sekali Chanyeol, hahahaha." Balasnya dengan tawa.
Chanyeol tersenyum melihat Baekhyun senang, "Baek, ada yang ingin aku katakan kepadamu."
Segera Baekhyun mengecilkan volume televisi sebelum memperhatikan ucapan Chanyeol kembali.
"Aku telah berpacaran dengan Luhan.." Chanyeol menunduk tak mau melihat ekspresi Baekhyun yang ia yakini pasti terkejut.
"Lalu?" tanya Baekhyun tenang. Chanyeol mengangkat wajahnya. Ia tak percaya Baekhyun akan setenang itu. "Apa kau meminta cerai?" tanyanya lagi.
"Aku minta maaf! Aku minta maaf." Tukas Chanyeol pelan. Ia menghela nafas dalam-dalam lalu berucap. "Aku tidak meminta cerai darimu.."
Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol. Kedua alisnya bersatu. Wajahnya mengatakan ia tak mengerti maksud Chanyeol.
"Aku hanya minta persetujuan darimu.."
"Maksudmu apa?"
"Baek! Appa pasti akan marah kepadaku kalau aku menceraikanmu. Aku tidak akan menceraikanmu.."
"Lalu bagaimana kau akan menjalani hubunganmu dengan Luhan? bukankah akan menyulitkanmu kalau kau tak bercerai?"
Chanyeol menatap lekat-lekat kedua kristal Baekhyun. "Benar, tapi aku juga tidak mau appa akan murka denganku. Makanya aku meminta persetujuan darimu."
"Apa?
Hembusan lirih turun dari bibir tebal Chanyeol. "Ijinkan aku dengan Luhan tapi aku minta kau untuk tidak mengatakan apa-apa kepada kedua orantuaku."
"Kau ingin aku berpura-pura tidak tahu ini?" mata sipit Baekhyun terlihat sedikit lebih basah.
"Iya... bersikaplah sewajarnya Baek! anggap saja tidak terjadi apa-apa. Jika nanti di hadapan orangtuaku atau orang lain, kita harus bersikap seolah-olah kita ini pasangan yang harmonis. Bagaimana? apa kau setuju?"
Baekhyun menunduk, ia menggigit bibir bawahnya. "Itu akan membuatku sulit... aku tidak bisa berbohong.."
"Baek! aku mohon Baek. Apa kau tega kalau aku akan dimarahi Appa karena berbuat seperti ini?"
"Baiklah kalau itu maumu.. Aku akan mencobanya.." Sahut Baekhyun dengan nada pasrah.
Chanyeol tersenyum senang, "Terima kasih Baek. Tapi ada satu lagi permintaanku.."
"Apa lagi?"
"Jangan marah kalau seandainya nanti aku membawa Luhan ke rumah. Tidak mungkinkan aku bercinta di luar yang akan orang lain tahu? Tenang saja, aku juga tidak akan melarang ataupun marah kalau seandainya kau mau membawa orang lain ke rumah."
Baekhyun hanya terdiam, Chanyeol memandang sejenak wajah Baekhyun. Ia menebak bahwa Baekhyun sedikit kecewa, namun ia berharap Baekhyun tak akan membencinya setelah itu.
"Iya...aku akan lakukan apa yang kau inginkan.." gumamnya pelan.
"Ahhhh...terima kasih Baek! terima kasih.." tutur Chanyeol sumringah mendapatkan jawaban dari Baekhyun.
Kepalanya diantuk-antukan di atas setir mobil. Pikirannya kembali mengingat sesuatu.
"Chanyeol-ah..." teriak Baekhyun saat melihat Chanyeol akan keluar rumah. Langsung Chanyeol membalik dan menatap penuh tanya Baekhyun.
"Kau mau kemana? Jangan pergi dulu sebelum kau mendengar ini.."
Chanyeol memiringkan kepalanya, "Aku ingin menemui Luhanie! Apa yang akan kau katakan?"
"Ceraikan aku Yeol... aku sudah tidak sanggup berbohong lagi.."
"Apa? Aku tidak bisa menceraikanmu! Aku tidak akan bercerai darimu..."
"Tapi Yeol! Aku lelah terus seperti ini, aku sudah berbohong selama setahun.. Aku lelah Chanyeol..." tangisan Baekhyun yang semula ia tahan mengalir pelan.
Chanyeol memandangnya dengan sedikit kasihan, ia merasa bersalah karena membawa Baekhyun ke dalam kesulitan yang mungkin baginya menyakitkan. Tetapi Chanyeol juga tidak mau menuruti kata-kata Baekhyun yang akan membuatnya menyesal karena amarah sang appa.
"Aku mohon! Bertahanlah demi aku..." rengek Chanyeol seraya bersimpuh dihadapan Baekhyun. Sekilas ia memandang mata sipit Baekhyun, tampak Baekhyun juga tak tega melihat Chanyeol seperti itu.
"Aku tidak mau appa marah kepadaku! Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Luhan... Aku mohon Baek..."
Chanyeol merasakan tangan Baekhyun menyentuh pundaknya, "Apa kau tak tahu kalau aku sakit menahan ini semua?"
"Baek! Akan jauh menyakitkanku kalau appa murka kepadaku. Beliau akan mengusirku... dan aku juga tidak mungkin berpisah dengan Luhan... Aku terlalu mencintainya..."
"Baek... kalau kau merasa sakit denganku, kau boleh mencari seseorang untuk menghilangkan sakitmu. Tapi aku mohon jangan meminta cerai kepadaku.."
"Aku tidak ingin orang lain Chanyeol... aku hanya ingin cerai. Aku lelah..aku sakit..." air matanya kembali turun.
"Aku minta maaf Baek, aku minta maaf. Tapi aku mohon bertahanlah..."
Chanyeol tak mendengar jawaban dari Baekhyun, ia hanya melihat Baekhyun terdiam dalam tangisnya. Tangannya menutupi wajahnya yang telah basah oleh air matanya sendiri.
Setelah kenangan pahit itu berputar, ia kembali mengingat bahwa Ilhoon pernah mengatakan kehidupan Baekhyun itu sulit. Apa semua gara-gara dia? Apa semua karena dia? Apa semua karena keegoisannya? Chanyeol memukul-mukul setir mobil. Dengan bodohnya ia tak tahu jika selama ini Baekhyun tersakiti oleh keegoisannya. Bagaimana bisa ia buta karena rasa cintanya kepada Luhan? Chanyeol merutuki dirinya sendiri. Tak peka dengan perasaan Baekhyun, padahal berulang kali Baekhyun meminta cerai dan berusaha mengatakan bahwa Baekhyun sakit. Tapi ia tetap menulikan telinganya dan menganggap semua baik-baik saja.
Tanpa Chanyeol sadari, pipinya menghangat akibat lelehan air mata yang jatuh. Untuk pertama kalinya Chanyeol menangisi Baekhyun. Benar-benar menangisi Baekhyun. Dadanya sesak ketika mengingat semua kenangan-kenangan pahit yang dialami Baekhyun. Rasanya ribuan bambu runcing menghujamnya saat itu juga. Tak tahan dengan tangisannya, Chanyeol berteriak dan mengeluarkan segala umpatannya.
.
.
.
.
.
Sepagi mungkin Chanyeol telah mengendarai mobilnya bersama dengan Jung Ilhoon membelah jalanan Kota Seoul. Mobilnya terus bergerak menuju satu kota yang diyakini terdapat Baekhyun disana. Kota Cheongjoo seperti kata Ilhoon, mengundang Chanyeol dan Ilhoon untuk diobrak-abrik agar dapat menemukan sosok yang dirindukannya. Siapa yang merindukannya? Chanyeol atau Ilhoon? Keduanya, namun Chanyeol tak menampik jika ditanya apakah ia merindukan Baekhyun? Saat itu juga Chanyeol akan mengatakan bahwa ia merindukan Baekhyun.
Sangat merindukan, lebih tulus dan jauh lebih tulus daripada sebelumnya. Jika dulu hanya mulut saja yang berbicara, sekarang mulut, otak bahkan hati yang ia klaim tak memiliki rasa untuk Baekhyun mengatakan bahwa pemiliknya tengah merindukan sosok itu. Sosok yang telah menghilang dari hadapannya hampir lebih dari tiga bulan. Waktu yang lama membuat Chanyeol merasa kehilangan, merasa rindu dan merasa cinta mungkin? Entahlah..
Kecepatan Chanyeol dalam mengendarai mobilnya saat ini tak tanggung-tanggung cepatnya. Ilhoon merasa ia sedang naik pesawat. Cepat dan tak butuh waktu lama sampai di tempat tujuan. Ada yang aneh dengan hyung satunya ini. Meski ia tak begitu dekat dengan Chanyeol, tapi ia bisa merasakan bahwa Chanyeol benar-benar tak sabar ingin bertemu dengan Baekhyun. Walaupun kemungkinannya kecil Baekhyun ada disana seperti apa yang dikatakan temannya.
Segera Chanyeol dan Ilhoon turun dari mobil. Diedarkan sebentar kedua mata mereka. Memperhatikan tempat yang akan mereka arungi untuk mencari Baekhyun. Semenit berlalu keduanya memutuskan untuk berpisah. Chanyeol mengambil sisi kanan dan Ilhoon mengambil sisi kiri. Tak menyiakan waktu, lantas keduanya berlari dan berteriak nama Baekhyun.
Selama hampir seharian mereka menjelajah kota Cheongjoo namun tak ditemui tanda-tanda bahwa Baekhyun berada di Kota itu. Setiap orang ditanya dan jawabannya pun sama. Tidak pernah melihatnya. Hal itu membuat Chanyeol dan Ilhoon frustasi. Mereka tidak tahu harus mencari kemana lagi. Lantas memutuskan untuk menyewa kamar hotel dan mencari lagi esok hari. Tak mungkin malam ini mereka meneruskan pencarian mereka.
"Hyung, istirahatlah! Kau akan kecapekan kalau tidak istirahat." Suruh Ilhoon ketika melihat Chanyeol hanya memainkan ponsel di tangannya tanpa ada niat memejamkan mata.
Chanyeol lantas melirik Ilhoon sekilas, "Temanmu sungguh melihat Baekhyun disini?"
"Eoh? Iya, tapi aku sudah pernah bilang bukan kalau dia ragu itu benar Baekhyun atau bukan."
Hembusan nafas berat turun dari bibir tebal Chanyeol, "Aku rasa ini memang bukan Baekhyun noona." Chanyeol duduk kembali dan menatap kosong jendela hotel.
"Lalu? Apa kita sudahi saja mencarinya?" tanya Ilhoon ragu.
Chanyeol beranjak dari duduknya dan mendekati jendela. Ia melemparkan pandangan kearah jalanan kota yang cukup ramai saat itu.
"Tidak! Kita harus tetap mencarinya.."
"Tapi, bagaimana kalau kita tetap tak menemukannya?"
"Ilhoon! Apa kau tak merindukan dan tak ingin bertemu dengan Baekhyun?" tanya Chanyeol seraya menatap wajah ragu Ilhoon.
Mendapat tatapan yang kurang mengenakan membuat Ilhoon menundukkan kepalanya.
"Aku tidak mau menyiakan waktu kita disini. Kalau dalam dua hari kita tetap tak menemukannya, baru kita akhiri saja."
"Baiklah, ta-.." belum sempat Ilhoon mengatakan apa yang menjadi unek-uneknya, ponsel Chanyeol lebih dulu berbunyi.
"Eoh, Appa! ada apa?"
"..."
"Aku belum menemukannya appa. Sungguh sulit mencari Baekhyun! Bagaimana dengan anak buahmu?"
"..."
"Yaa! Appa! Apa kau tega akan melakukan itu kepadaku? Aku sudah berusaha mencarinya tiga bulan ini appa!" suara Chanyeol meninggi mengundang kecurigaan Ilhoon. Mengetahui Ilhoon penasaran dengan percakapannya, Chanyeol melangkahkan kaki menjauhi Ilhoon.
"Appa! Apa kau benar-benar akan mengeluarkanku dari daftar keluargamu?" tanya Chanyeol sedikit emosi.
"Iya! appa akan tetap melakukan itu kalau kau tak membawa Baekhyun pulang! Ini semua gara-garamu!"
Chanyeol mendelik, "Apa? Salahku? Ini bukan salahku! Ini murni keinginan Baekhyun untuk pergi appa!"
"Sama saja! kau tahu? Orang tua Baekhyun di China masih belum tahu berita ini. Cepat kau bawa Baekhyun kalau kau memang masih appa anggap sebagai anak appa dan mendapatkan semua warisan appa. Kau tak mau appa memberikannya ke panti asuhan kan?"
"Appa...appa...ap..."
Tuuut...tuuttt...tuuuttt...
"Ahhh! Sial! Selalu saja appa seperti ini..." gerutu Chanyeol penuh emosi.
Dengan emosi yang masih menguasai dirinya, Chanyeol kembali ke dalam kamar dan membanting tubuhnya ke atas tempat tidur. Ilhoon hanya memandang heran ke arah Chanyeol. Ia tak tahu apa yang terjadi membiarkan Chanyeol meluapkan kekesalannya. Tak lama kemudian segala umpatan Chanyeol berganti dengan deruan nafas teratur yang menandakan bahwa Chanyeol telah terlelap dan siap menjelajahi alam mimpi.
Malam berlalu seiring dengan terlelapnya dua lelaki yang telah lelah menjalani hari ini untuk mencari Baekhyun. Kesunyian segera menghampiri kamar mereka. Tak ada suara, hanya deruan nafas dan sesekali igauan keluar dari salah satu dari mereka.
.
.
.
.
.
Di bawah terik mentari yang siap membakar siapa saja, Chanyeol dan Ilhoon melanjutkan aktivitasnya seperti kemarin. Mereka pergi ke salah satu taman kota yang dikatakan bahwa Baekhyun pernah pergi kesana. Tak mau menghilangkan waktu dengan sia-sia, lantas keduanya mengitari taman itu. Namun sosok Baekhyun masih belum tertangkap oleh kedua indra penglihatan mereka. Tak menemukan Baekhyun ditaman, keduanya mengalihkan tujuan ke pusat perbelanjaan kota. Berharap sosok itu ada di antara ribuan pengunjung yang kebetulan tumpah ruah disana.
Kali ini mereka tak hanya berdua mencari Baekhyun. Setelah menyerah mencari Baekhyun ditaman kota, Ilhoon menelpon temannya Yook Sungjae untuk ikut membantu. Karena Sungjae lah orang yang telah memberikan informasi kepada mereka. Ketiganya masuk ke sebuah pusat perbelanjaan dengan tangan membawa foto Baekhyun. Berlari ke satu tempat ke tempat lain, menanyai satu persatu pengunjung. Namun masih belum ada informasi tentang keberadaan Baekhyun.
"Ki..kita harus.. ke..kemana lagi..?" tanya Sungjae dengan suara terpisah-pisah karena nafas yang tak teratur.
Chanyeol mengatur hembusan nafasnya sejenak. "Kita keluar saja! Aku ragu akan menemukan Baekhyun hyung ditempat seramai ini."
"Benar... lebih baik kita istirahat dan makan siang dulu. Aku terlalu lapar untuk terus mencari." Sahut Ilhoon seraya memegangi perutnya yang memang membutuhkan nutrisi. Mengingat ia belum makan sama sekali sejak pencarian itu dilakukan.
Segera keduanya keluar dari pusat perbelanjaan itu dan memilih mencari makan di luar gedung. Mereka memutuskan untuk makan di sebuah tempat ramen yang menurut Sungjae lumayan enak.
Tak sengaja Chanyeol menjatuhkan dompetnya, saat hendak mengambil dompet itu seseorang menabraknya dari belakang.
"Ahh...maaf...maaf...aku tidak melihat..maaf..." Ucapnya bersalah dengan suara yang terdengar sedang terburu-buru.
Chanyeol mendengus kesal, "Yaa! Kalau jalan lihat-lihat dong!"
Seseorang itu membungkuk dalam-dalam, "Maaf...maaf...maaf...aku tidak sengaja. Aku sedang buru-buru..." sesalnya lagi masih dalam keadaan membungkuk.
"Sudahlah... tidak apa-apa.." Jawab Chanyeol walaupun sebenarnya ia masih marah.
"Ahh, terima kasih.." lantas seseorang itu berlari dari tempat itu yang terlihat sedang mengejar seseorang dan berteriak.. "Jongin-ah... Hyemi-ya... Tunggu aku..."
Chanyeol mendengus berulang kali. Ia kesal, di saat seperti ini ada saja orang yang membuat emosinya semakin memuncak. Kedua bocah lainnya berusaha untuk menenangkan Chanyeol. Beberapa saat berlalu, Chanyeol telah berada dalam taraf normal dan berjalan ke arah kedai ramen. Mereka memesan untuk mengisi perut yang memanggilnya sedari tadi.
Seharian mencari Baekhyun namun dengan hasil yang sama seperti kemarin, memutuskan Chanyeol untuk menghentikan pencariannya. Chanyeol memilih untuk mengajak Ilhoon kembali ke Seoul. Ia hanya berpesan kepada Yook Sungjae agar menghubunginya jika sewaktu-waktu ia bertemu dengan Baekhyun. Sungjae menurut, karena bagaimanapun Baekhyun juga ia anggap sebagai hyungnya sama seperti Ilhoon menganggap Baekhyun.
Keduanya segera mengendarai mobil dan menjalankannya membelah jalanan Kota Cheongjoo menuju ke kota asal, Seoul. Sedikit berat hati namun harus, Chanyeol meninggalkan kota itu. Didalam hati Chanyeol, ia berharap akan bertemu dengan Baekhyun dan melepaskan rasa rindunya. Sungguh, Chanyeol kali ini benar-benar sangat merindukan Baekhyun. Ia sangat merindukan Baekhyun bahkan kerinduannya kepada Baekhyun membuatnya lupa sejenak kepada Luhan.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Wanna give a review?
Thanks alot before..
Sory for typos
.
.
.
Best regards
.
.
~DeerLuvian~
